Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian
ISSN : 14100029     EISSN : 25496786
Agrin provides facilities for publishing articles or quality papers in the form of research results in various aspects of agriculture and agricultural commodities widely including ; agronomy, agroecology, plant breeding, horticulture, soil science, plant protection, agribusiness, agroforestry, food science and technology , agricultural techniques, agricultural innovations, agricultural models and agricultural biotechnology. This journal is published twice a year, ie the April and October. The Agrin Journal invites researchers, academics and intellectuals to contribute critical writing and contribute to the development of agricultural science.
Articles 176 Documents
PENINGKATAN PRODUKSI PADI SAWAH VARIETAS INPARI 18 DENGAN PEMBERIAN PUPUK NPK KUJANG DAN JERAMI PADI INSITU

Permadi, Karsidi, Sunandar, Bambang, Sunandar, Nandang

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 18, No 1 (2014): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2014.18.1.211

Abstract

Pada saat ini  luas lahan produktif sawah irigasi teknis semakin berkurang, padahal sawah irigasi teknis memberikan sumbangan terbesar dalam penyediaan produksi beras nasional. Perkembangan penduduk terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2020 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 280 juta jiwa. Kebutuhan pangan terutama  beras tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Dalam kecukupan beras ini diperlukan peningkatan produksi padi sawah irigasi teknis yang masih tersedia.  Salah satunya  dengan inovasi teknologi pemupukan yang efesien, efektif, dan ramah lingkungan tidak mencemari lingkungan.  Penggunaan pupuk anorganik disertai dengan penambahan jerami padi secara insitu  agar diperoleh hasil padi lebih tinggi dan produktivitas lahan meningkat. Pengkajian bertujuan untuk mengetahui pemupukan berdasarkan rekomendasi yang dapat meningkatkan pertumbuhan, komponen hasil dan hasil padi varietas Inpari 18. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK), tiga perlakuan dengan 5 ulangan. Susunan perlakuan adalah a). Pemupukan berdasarkan rekomendasi hasil analisis PUTS (perangkat uji tanah sawah) + jerami padi insitu, b). Pemupukan berdasarkan rekomendasi PT Pupuk Kujang + jerami padi insitu, dan c). Pemupukan berdasarkan rekomendasai Katam (kalender tanam) + jerami padi insitu. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pemupukan berpengaruh nyata terhadap peubah pertumbuhan tinggi tanaman saat panen, jumlah gabah isi/malai, jumlah gabah hampa/malai, bobot 10 malai gabah isi dan hasil gabah kering panen. Pemupukan berdasarkan rekomendasi hasil PUTS + jerami padi insitu mendapatkan hasil gabah padi tertinggi sebesar 7,92 t ha-1 GKP dengan kenaikkan hasil gabah mencapai 1,12 t ha-1 GKP. Hasil gabah terendah dicapai oleh pemupukan berdasarkan rekomendasi Katam + jerami padi insitu  sebesar 6,80 t ha-1 GKP. Kata kunci: Varietas Inpari 18, pupuk NPK Kujang, jerami padi insitu ABSTRACTTRecentyhe productive land area of technical irrigation rice field became decreased, whereas technical irrigation field rice contributes the most provision of national rice production. The development of the population continues to increase every year. In 2020 the population of Indonesia is estimated to reach 280 million people. The needs of food, especially rice cannot keep pace with population growth. Thus, it is necessary to increase the production of rice in available technically irrigated rice field. It could be done one of with the innovation technology of efficient, effective, and environmentally friendly fertilization. The use of inorganic fertilizers with rice straw in situ added in order to obtain higher rice yields and to increase the land productivity. The assessment aimed to determine fertilization based on recommendations which could improve the growth, yield and yield components of Inpari 18 rice. The design used was randomized block design (RBD), three treatments with five replications. The compositions of the treatment were a). Fertilization based on the results of the PUTS (paddy soil testing device) analysis + rice straw in situ, b). Fertilization based on PT Pupuk Kujang recommendation + rice straw in situ, and c). Fertilization by Katam (planting calendar) recommendation + rice straw in situ. The study showed that fertilization significantly affected the height plant growth variables at maturity, number of filled grain / panicle, number of empty grains / panicle, weight of 10 filled grain panicle and dry grain yield harvest. Fertilization based on the PUTS results of + rice straw  in situ achieved the highest rice grain yield of 7.92 t ha-1 GKP with increasing grain yield reached 1.12 t ha-1 GKP. Lowest grain yield achieved by fertilizing based on Katam + rice straw in situ of 6.80 t ha-1 GKP. Key words: Inpari 18 Varieties, Kujang NPK fertilizer, rice straw in situ

PENDUGAAN DAYA GABUNG DAN HETEROSIS KARAKTER HORTIKULTURA CABAI (Capsicum annuum L.)

Riyanto, Agus, Sujiprihati, Sriani, H, Sri Hendrastuti

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 12, No 2 (2008): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2008.12.2.87

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk informasi tentang nilai Daya Gabung Umum (DGU), nilai Daya GabungKhusus (DGK) dan nilai heterosis karakter hotikultura Capsicum annuum.. Percobaan ini menggunakan 21genotip yang terdiri atas 6 tetua dan 15 hibridanya. Rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga ulangandigunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pendugaan daya gabungkhusus, nilai heterosis dan nilai tengah karakter maka 12 hibrida berpotensi untuk dijadikan varietas hibridaberdaya hasil tinggi. Kedua belas hibrida tersebut adalah IPB C2 x IPB C14, IPB C2 x IPB C4, IPB C2 x IPBC9, IPB C2 x IPB C10, IPB C14 x IPB C9, IPB C14 x IPB C10, IPB C14 x IPB C1, IPB C4 x IPB C9, IPB C4x IPB C10, IPB C4 x IPB C1, IPB C9 x IPB C10 dan IPB C10 x IPB C1.Kata kunci: Capsicum annuum, DGU, DGK, heterosisABSTRACTThe objectives of this research were to estimate general combining ability (GCA), specific combiningability (SCA) and heterosis of horticulture character. One set of population from half diallel mating, involving 6parents and 15 hybrids were used in this research. Randomized Completely Block Design was used in thisresearch with there replication. It was evidence that showed based on GCA, SCA heterosis and mean, 12 hybridi.e. IPB C2 x IPB C14, IPB C2 x IPB C4, IPB C2 x IPB C9, IPB C2 x IPB C10, IPB C14 x IPB C9, IPB C14 xIPB C10, IPB C14 x IPB C1, IPB C4 x IPB C9, IPB C4 x IPB C10, IPB C4 x IPB C1, IPB C9 x IPB C10 danIPB C10 x IPB C1 are potential to be made high yielding hybrid varieties.Key words: Capsicum annuum, GCA, SCA, heterosis

KERONTOKAN BUAH DAN PEMBUNGAAN PADA POSISI DOMPOL BERBEDA DUA VARIETAS DURIAN

Suparto, Slamet Rohadi, Sakhidin, Sakhidin

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 20, No 1 (2016): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2016.20.1.312

Abstract

Fruit drop potentially decreases the yield of durian, so it needs to be controlled. Its control canbe done better when information on pattern of fruit drop is available. This research examined fruit dropof different panicle positions of two durian varieties. Observed panicle positions i.e. bottom, central,and upper of a tree, observed varieties i.e. Kani, Monthong. Observed variables were percentage offlowery branch, number of flower panicle, total number of flowers, number of flowers per panicle, andfruit set. The objective of this research was to know the pattern of fruit drop and flowering of differentpanicle positions of two varieties of durian. The result of research showed that Kani had higher observedvariables than Monthong. Upper position of panicle had higher number of flower panicles and fruit setscompared to the other panicle positions. The highest total number of flowers was showed by panicle atupper position of Kani treeKey words: durian, panicle, fruit drop, Kani, Monthong ABSTRAKKerontokan buah berpotensi mengurangi hasil buah durian sehingga perlu dikendalikan.Pengendaliannyadapat dilakukan dengan baik apabila terlebih dulu diketahui pola kerontokan buahnya.Penelitian ini mengkajikerontokan buah pada dompol yang berbeda posisinya pada suatu pohon dari dua varietas durian. Posisi dompolyang diteliti yaitu bawah, tengah, dan atas pada suatu pohon, sedangkan varietas yang diteliti adalah Kani danMonthong. Variabel yang diamati meliputi persentase cabang berbunga, jumlah dompol bunga, jumlah bunga total,jumlah bunga per dompol, dan jumlah buah terbentuk.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola kerontokanbuah dan pembungaandari dompol yang berada pada posisi berbeda dua varietas durian. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Kani menghasilkan variabel pengamatan yang lebih tinggi dibandingkan Monthong.Dompolyang berada padaposisi atas dari suatu pohon menghasilkan jumlah dompol bunga dan jumlah buah terbentuk yanglebih tinggi dibandingkan posisi dompol lainnya. Jumlah bunga total tertinggi ditunjukkan oleh dompol yangberada pada posisi atas varietas Kani.Kata kunci: durian, dompol, kerontokan buah, Kani, Monthong

KERAGAMAN GENETIK KEDELAI BERDASARKAN POLA PITA DNA HASIL RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA)

D. Arisetianingsih, R. E., D. H., Totok A., Prakoso, B.

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 14, No 1 (2010): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2010.14.1.99

Abstract

Informasi keragaman genetik plasma nutfah kedelai sangat diperlukan dalam program pemuliaantanaman. Cara termudah untuk mempelajari keragaman genetik adalah dengan mengamati karakter morfologi.Akan tetapi, beberapa karakter morfologi dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sebaliknya, mempelajarikeragaman genetik dengan pengamatan molekul, yaitu berdasar penanda DNA, dapat memberikan hasil yanglebih baik, konsisten, dan tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan maupun tahap perkembangan tanaman.RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) merupakan salah satu penanda DNA yang dapat digunakan untukmenganalisis keragaman genetik dan hubungan kekerabatan antargenotip. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui keragaman genetik dan kekerabatan 50 genotip kedelai berdasarkan pola pita DNA hasil RAPD.DNA diekstrak dari daun muda dengan metode CTAB. Penentuan kuantitas dan kualitas DNA hasilpengekstrakan dilakukan dengan elektroforesis pada gel agarose. Hasil menunjukkan bahwa RAPD denganprimer OPA 244 konsentrasi primer 60 pmol dan 2 μl DNA template hasil pengenceran 10 kali dapatmembedakan 50 genotip kedelai. Berdasarkan ketidakmiripan 15% dari persamaan Sneath and Sokal simplematching coeffisient (1973), kekerabatan 50 genotip kedelai terbagi menjadi sembilan kelompok.Kata kunci: kedelai, RAPD, keragaman genetik ABSTRACTInformation of genetic diversity on soybean germplasms is essential in breeding program. The easiestway for studying genetic diversity is by examining morphological characters. However, some morphologicalcharacters are influenced by environmental factors. In contrast, studying genetic diversity by molecularevaluation, i.e. based on DNA markers, gives better result, is more consistent, and is not influenced byenvironmental factors or growth phases. RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) is one of DNA markers,that can be used for analysing genetic diversity and genetic relationship. This research aimed for studyinggenetic diversity and genetic relationship among 50 soybean genotypes based on the DNA pattern of RAPD.DNA was extracted from young leaves with CTAB method. The quantity and quality of extracted DNA wasdetermined by agarose gel electrophoresis. Result showed that RAPD with 60 pmol of primer OPA 244 and 2 μlof diluted DNA could be used for differentiating 50 soybean genotypes tested. Based on 15% dissimilarity fromSneath and Sokal simple matching coefficient (1973) 50 soybean genotypes tested could be classified into ninegroups.Key words : soybean, RAPD, genetic diversity

PENGUJIAN KEMAMPUAN MIKROBA ANTAGONIS UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT HAWAR DAUN DAN LAYU BAKTERI PADA TANAMAN KENTANG DI DAERAH ENDEMIS

Wachjadi, Muljo, Soesanto, Loekas, Manan, Abdul, Mugiastuti, Endang

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 17, No 2 (2013): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2013.17.2.202

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan beberapa mikroba antagonis untuk mengendalikanpenyakit hawar daun dan layu bakteri pada tanaman kentang di daerah endemik. Penelitian ini dilaksanakan dilahan kentang Desa Kejajar, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, pada bulan Juni sampai Agustus 2013.Mikroba antagonis yang digunakan hasil isolasi dari pertanaman kentang dan telah diuji di rumah kaca danlapangan terbatas, yaitu dengan Bacillus sp. B2 dan B4, serta Pseudomonas sp. P19 dan P21. Berdasarkan hasilpenelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa mikroba antagonis belum mampu mengendalikanpenyakit hawar daun dan layu bakteri, serta belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanamankentang. Akan tetapi, mikroba antagonis mampu mengimbas senyawa tanin pada tanaman kentang.Kata kunci: mikroba antagonis, penyakit hawar daun, layu bakteri, kentangABSTRACTThe research aimed at knowing ability of some antagonistic microbes to control leaf blight and bacterialwilt on potato at endemic field. This research was carried out at Kejajar Village, Kejajar Subdistrict, WonosoboRegency from June up to August 2013. The antagonists used were isolated from potato field and had been testedin the screen house and the limited field, i.e., Bacillus sp. B2 and B4, and Pseudomonas sp. P19 and P20. Basedon the research result, the antagonists could not control leaf blight and bacterial wilt, and could not increasegrowth and yield of potato. However, the antagonists could induce tannin content of the crop.Key words: antagonistic microbes, leaf blight, bacterial wilt, potato.

PENGARUH PEMBENAH TANAH TERHADAP SIFAT FISIKA TANAH DAN HASIL BAWANG MERAH PADA LAHAN PASIR PANTAI BUGEL KABUPATEN KULON PROGO

Rajiman, Rajiman, Yudono, Prapto, Sulistyaningsih, Endang, Hanudin, Eko

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 12, No 1 (2008): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2008.12.1.80

Abstract

Penelitian bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh pembenah tanah terhadap perubahan sifatfisika tanah dan hasil bawang merah di lahan pasir pantai; dan 2) mencari bahan alternatif pembenahtanah di tanah pasir pantai. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorialterdiri atas 3 faktor. Faktor pertama adalah jenis tanah dengan takaran 30 t/ha (T) yaitu Grumusol (T1)dan Lumpur (T2). Faktor kedua adalah jenis bahan organik dengan takaran 20 t/ha (B) yaitu pupukkandang sapi (B1) dan blotong tebu (B2). Faktor ketiga berupa dosis limbah karbit (A) yangdibedakan menjadi 3 aras yaitu 0 t/ha (A0), 1 t/ha (A1) dan 2 t/ha (A2). Sebagai kontrol digunakantanah pasir tanpa pembenah tanah. Parameter yang diamati meliputi tekstur, berat volume, berat jenis,porositas total, kadar lengas pF 2,54, pF 4,2, kapasitas air tersedia, berat segar, berat kering, beratkering oven dan diameter umbi bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tanah,bahan organik dan limbah karbit di tanah pasir pantai nyata meningkatkan jumlah fraksi lempung,debu, porositas, kadar lengas, menurunkan BV, BJ dan meningkatkan berat segar, berat kering, beratkering oven dan diameter umbi bawang merah dibanding kontrol. Penggunaan jenis tanah, bahanorganik dan limbah karbit tidak nyata mempengaruhi hasil bawang merah. Lumpur, blotong danlimbah karbit dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pengganti grumusol dan pupuk kandangdi tanah pasir.Kata kunci : bawang merah, lahan pasir, pembenah tanah ABSTRACTThe objectives of study were to 1) study the effect of soil conditioner on soil physics and shallotyield in coastal sandy land, 2) find out soil conditioner alternative in coastal sandy land. The researchwas conducted by complete randomized design, which consists of three factors. First factor was soiltypes at level of 30 t/ha (T) : grumusol (T1) and mud (T2). Second factor was organic matter types atlevel of 20 t/ha: manure (B1) and sugarcane (B2). Third factor was waste of carbida (A), 0 t/ha (A0),1 t/ha (A1), 2 t/ha (A2) and control. The observation of parameters was texture, bulk density, particledensity, porosity, water contents of pF 2,54; pF 4,2; available water capasity, fresh weight, dry weight,oven dry weight and diameters of bulbs. The result showed that the soil types, organic matter typesand waste of carbida in coastal sandy land significantly increased on clay and silt fraction total,porosity, water contents, fresh weight, dry weight, oven dry weight and diameters bulbs and reducedto bulk density, particle density, sand fraction. The effect of the soil types, organic matter and waste ofcarbida were not significant on the shallots yield. Mud, sugarcane “blotong” and waste of carbide canbe used as alternative substittution of grumusol and litter of livestock in coastal sandy land.Key words: shallot, sandy land, soil conditioner

PENGARUH BERBAGAI CAHAYA DALAM SUNGKUP MIKA DAN MACAM NUTRISI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KANGKUNG (Ipomoea reptans) SECARA HIDROPONIK RAKIT APUNG

Randi, Mohammad Jusuf, Saparso, Saparso, Ismangil, Ismangil

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 19, No 2 (2015): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2015.19.2.242

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis larutan nutrien terhadap pertumbuhan dan hasilkangkung dan mengetahui pengaruh cahaya yang dibangkitkan oleh warna sungkup terhadap pertumbuhan danhasil kangkung. Metode analisis menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Perlakuan yangdicoba yaitu gabungan antara jenis larutan nutrien dan warna sungkup. Jenis larutan nutrien terdiri atas larutanAB Mix (N1), larutan fermentasi kotoran ayam disebut larutan koyam (N2) dan larutan air kolam ikan lele disebutlarutan AL (N3). Cahaya yang dibangkitkan oleh warna sungkup terdiri atas 3 macam, yaitu cahaya sungkup mikamerah (S1), cahaya sungkup mika biru (S2), dan cahaya sungkup mika bening (S3). Gabungan antara 3 jenis larutannutrien dan 3 cahaya sungkup diperoleh 9 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisiskeragamannya menggunakan uji F dan apabila terdapat keragaman antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncanpada taraf kesalahan 5%. Intensitas cahaya tertinggi pada sungkup bening pukul 12.00 WIB sebesar 4.14 μmol/m-2/s-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan nutrien koyam meningkatkan hasil sehingga memberikanpengaruh yang sama dengan larutan AB mix pada variabel tinggi tanaman sebesar 453 cm, jumlah daun 10.4 helai,bobot akar kering 0.71 g, rasio tajuk akar 10.98, bobot tajuk segar 34.1 g, bobot tajuk kering 2.74 g, bobot tanamansegar 37.23 g, bobot tanaman kering 3.46 g, indeks panen 0.909. Cahaya dari sungkup biru meningkatkan hasilsehingga memberikan respon dan pengaruh yang sama baiknya dengan warna sungkup bening pada variabeljumlah daun sebesar 10.4 helai, volume akar 4.7 ml, bobot akar segar 3.52 g, bobot akar kering 0.62 g, bobot tajuksegar 34.32 g, bobot tajuk kering 2.84 g, bobot tanaman segar 37.84 g, bobot tanaman kering 3.47 g.Kata kunci: cahaya , nutrisi, hidroponik rakit apung, kangkungABSTRACTThis research aims to determine the effect of the types of solution nutrient solution on growth and yield ofkangkung and determine the effect of the color of light generated by the lid on the growth and yield of kangkung.The method of analysis using Randomized Completelly Block Design (RCBD) with three replications. Treatmentwas attempted that is a combination of the type of nutrient solution and lid color. Type of nutrient solutionconsisted of a solution of AB Mix (N1), chicken manure fermentation solution is called solution koyam (N2) andwater solution called catfish ponds AL solution (N3). The light generated by the color of the hood consists of threekinds of light red mica shield (S1), light blue mica shield (S2), and the light lid transparent mica (S3). Thecombination of 3 types of nutrient solutions and 3 light hoods obtained 9 treatments with 3 replications. The datawere analyzed using the F test variability and if there is diversity among treatments followed by Duncans test at5% error level. The results showed that the nutrient solution koyam improve outcomes so as to provide the sameeffect with a solution of AB mix in variable plant height of 45.3 cm, the number of leaf blade 10.4, weights of 0.71g of dried root, root crown ratio of 10.98, canopy fresh weight of 34.1 g, canopy dry weight of 2.74 g, plant freshweight of 37.23 g, a weight of 3.46 g of dried plants, harvest index of 0.909. The light from the blue lid improvesthe results so as to provide a response and effect as well as the color of the clear lid on a variable number of leavesat 10.4 strands, volume of 4.7 ml root, fresh root weight of 3.52 g, dried root weight of 0.62 g, 34.32 g fresh weightof the canopy, canopy dry weight of 2.84 g, a weight of 37.84 g of fresh plants, plant dry weight of 3.47 g.Key words: light, nutrients, hydroponic floating raft, kangkung

EVALUASI SEPULUH KULTIVAR LOKAL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI KERSANA BREBES

Kurniawan, Helmi, Kusmana, Kusmana, Basuki, R. S.

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 12, No 2 (2008): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2008.12.2.90

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan kultivar bawang merah lokal yang cocok ditanam diKersana Brebes. Jumlah kultivar yang diuji sebanyak 10 buah ditambah 2 kultivar pembanding yaitutanduyung dan ilokos. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok denganpopulasi tanaman per plot sebanyak 500 tanaman. Penelitian diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tidak ada kultivar lokal yang menampilkan hasil yang lebih baik dari varietas impor,kultivar lokal yang menampilkan daya hasil tinggi di Kersana Brebes adalah kultivar Kuning Tablet dan kultivarBima Curut memiliki persentase ukuran umbi besar yang cukup tinggi.Kata kunci: Allium ascalonicum L, kultivar lokal, hasil  ABSTRACTEvaluation of 10 local cultivars of shallot (Allium ascalonicum L.) in Kersana Brebes. The objective ofthe research was selected shallot cultivar with high yielding in Kersana Brebes. Number of cultivars planted were10 included 2 of import popular varieties checks namely tanduyung and ilokos. Experimental designused was Randomized Complete Block Design, an experiment unit consisted of 500 hills. Number ofreplication was 3 times. The result finding that there is no any local cultivars showed better than import varieties.The highest yielding local cultivars were obtained from cultivar Kuning Tablet, whereas the highest percentagetuber size was cultivar Bima Curut.Key words: Allium ascalonicum L., local cultivar, yield  

DAYA HASIL GALUR-GALUR PADI SAWAH GENERASI LANJUT PADA KONDISI TERCEKAM KEKERINGAN

Pramudyawardani, Estria F., Wening, Rina H., Susanto, Untung

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 21, No 2 (2017): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2017.21.2.370

Abstract

Kekeringan pada lahan sawah merupakan masalah yang kerap kali menjadi ancaman pada budidaya padi.Penggunaan varietas yang tepat dapat mengurangi resiko kehilangan hasil yang terlalu besar. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui keragaan hasil 220 galur padi sawah generasi lanjut di lahan kering dibandingkandengan lahan optimal. Percobaan dilaksanakan pada musim kemarau di kebun percobaan BB Padi Sukamandi,menggunakan rancangan augmented 5 blok dengan 4 varietas pembanding (INPARI 10, INPARI 13, SituBagendit, dan Limboto). Perlakuan lahan optimal sesuai dengan cara budidaya yang disarankan, sedangkan lahankering hanya diairi hingga 4 minggu setelah tanam. Luas plot yang digunakan 1 m x 5 m per galur. Pengamatandilakukan terhadap umur berbunga 10% dan 50% (hss), tinggi tanaman (cm), jumlah anakan dan malai per rumpun,bobot seribu butir (gram), dan hasil per plot (kg) dikonversikan menjadi t/ha GKG. Pengamatan terhadap kondisiair tanah, kelengasan tanah, serta skoring gejala kekeringan ditambahkan untuk lahan kering. Sebanyak 23 galurmemperoleh hasil lebih baik dari Situ Bagendit (2,32 t/ha GKG) di lahan optimal dan 17 galur lebih baik dariLimboto (1,05 t/ha GKG) di lahan kering. Galur BP15704b-14 dan A 62-1 (BP10764f-10-2) teridentifikasi tumbuhbaik di kedua lahan. Tujuh galur dengan produktivitas setara Limboto mempunyai mekanisme ketahanan terhadapkekeringan. Kondisi kekeringan menurunkan tinggi tanaman, bobot seribu butir, dan hasil.Kata kunci: daya hasil, galur padi, lahan kering, kekeringanABSTRACTDrought often pose a threat to rice cultivation because water is an essential requirement in rice growth.Drought tolerant varieties are expected to mitigate the risks of drought stress. This study aims to determine theperformance of 220 advance lines in the dry land as compared with the optimum land. Experiment conducted atSukamandi esperimental station during dry season. Experiment was arranged in augmented 5 blocks with 4 checkvarieties (INPARI 10, INPARI 13, Bagendit, and Limboto). The optimum land treatment irrigated based on therecommended cultivation, while the dry land treatment irrigated until 4 weeks after planting only. The plot areawas 1 m x 5 m per lines. Observations was done for: days to 10% and 50% flowering (DAS), plant height (cm),number of tillers and panicles per hill, thousand grain weight (g), and yield per plot (kg) converted to t/ha. Additionobservations on dry land treatment was done for groundwater, soil moisture, and scoring drought symptom. Theresult showed 23 lines had higher yield than Situ Bagendit (2.32 t/ha) in optimum land, while 17 lines had higheryield than Limboto (1.05 t/ha) in dry land. BP15704b-14 and A 62-1 (BP10764f-10-2) was identified had stableyield on both treatment. Seven lines which similar with Limboto productivity was estimated to have resistancemechanisms for drought stress. Drought stress decline plant height, grain weight, and yield.Key words: potential yield, dry land, drought

PENGGUNAAN MULSA ALANG - ALANG PADA TUMPANGSARI CABAI DENGAN KUBIS BUNGA UNTUK MENINGKATKAN PENGENDALIAN GULMA, PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN

Pujisiswanto, Hidayat

Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 15, No 2 (2011): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.20884/1.agrin.2011.15.2.122

Abstract

Percobaan lapangan untuk mengetahui pengaruh ketebalan mulsa alang-alang dan pola tanamtumpangsari terhadap pertumbuhan gulma dan produksi tanaman. Waktu pelaksanaan percobaan dimulai daribulan Juli sampai dengan November 2010. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Jalur dengandua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah mulsa alang-alang, yaitu M0: Tanpa mulsa ; M1: Mulsaketebalan 5 cm M2: Mulsa ketebalan 10 cm, Faktor kedua adalah pola tanam tumpangsari yaitu: P1: 100% cabai+ 25% kubis bunga ; P2: 100% cabai + 50% kubis bunga ; P2: 100% cabai + 75% kubis bunga. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa (1) Penggunaan mulsa alang-alang 5 dan 10 cm dengan tumpangsari cabai 100% + kubisbunga 50% dan 75% mampu menekan pertumbuhan gulma dan menghasilkan pertumbuhan tanaman tertinggi.(2) Perlakuan ketebalan mulsa alang-alang 10 cm dan tumpangsari cabai 100% + kubis bunga 50%menghasilkan produksi buah cabai dan kubis bunga tertinggi.Kata kunci: cabai, gulma, kubis bunga, mulsa alang-alang, tumpangsari.ABSTRACTThe field experiment to find out the effect thickness of reed mulch and the planting pattern intercroppingon the growth of weed and crop production. The experiment was conducted from July until November 2010. TheStrip Plot Design was used with two factors and three replications. The first factor was reed mulch, i.e : withoutmulch, mulch thickness of 5 cm and mulch thickness of 10 cm. The second factor was Intercropping croppingpattern, i.e.: chili 100% + Cabbage Flowers 25%, chili 100% + Cabbage Flowers 50%, chili 100% + CabbageFlowers 75%. Experimental results showed that; (1 ) treatment reed thickness mulch treatment 5 and 10 cm withintercropping 100% chili + 50% and 75% Cabbage Flowers able to suppressed of total weeds growth andproduce the highest crop growth . (2) treatment reed thickness mulch of the 10 cm with intercropping 100%chili + 50% Cabbage Flowers yield of chili and cabbage Flowers production of highest interest.Key words: chili, weed, cabbage flowers, reed mulch, intercropping.

Page 1 of 18 | Total Record : 176