JURNAL INFO KESEHATAN
ISSN : 0216504X     EISSN : -
Health Information Journal is a periodical issue that contains research articles or research results equivalent to the results of research and thought results in the field of health, is original and has never been published before. Journal of Health Info is expected to be a medium for delivering scientific findings and innovations in the field of dental nursing, medical analysts, pharmaceutical, environmental health, nursing, midwifery and nutrition engaged in the field of hospital services and health centers, as well as health practitioners and other institutions. The Health Information Journal is published 2 times a year (June and November) by the Kupang Polytechnic Health Research and Community Services Unit of the Ministry of Health of Kupang. Health Information Journal is a peer-reviewed journal and open access journal focusing on health sciences. This focus includes areas and scope related to aspects, dental care, pharmaceuticals, health analysts, environmental health, nursing, midwifery, nutrition services and management.
Articles 17 Documents
Search results for , issue " Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN" : 17 Documents clear
Analisis Faktor Faktor Terhadap Kejadian Filariasis Type Wuchereria Bancrofti, Dan Brugia Malayi Di Wilayah Kabupaten Manggarai Timur Tahun 2016

Onggang, Fransiskus Salesius

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.871 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.165

Abstract

Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres. Mikrofilariah hidup disaluran dan kelenjar getah bening dan mengakibatkan peradangan saluran kelenjar getah bening.Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Hampir seluruh wilayah Indonesia adalah daerah endemis filariasis, terutama wilayah Indonesia Timur yang memiliki prevalensi lebih tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian filariasis di Kecamatan Pota Kabupaten Manggarai Timur Tahun 2016. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pota Kabupaten Manggarai Timur yang dengan pengambilan sampel pada 4 Kelurahan yang dilakukan selama kurang lebih 2 bulan yaitu pada September sampai Oktober 2016. Penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif dan survey darah jari dimana untuk melihat gambaran faktor lingkungan fisik dan perilaku Kepala Keluarga pada Penyakit Filariasis dan Jenis mikrofilarias. Variabel independen (bebas), yang termasuk dalam variabel ini adalah faktor lingkungan dan perilaku kepala keluarga dengan indikato lingkungan fisik (suhu, kelembaban, tempat perindukan nyamuk keluarga dan tempat peristirahatan nyamuk) dan perilaku kepala keluarga yang terdiri dari pengetahuan dan sikap (pengetahuan tentang penyakit Filariasis. Variabel dependen (terikat) atau variabel Y yang diduga akan mengalami perubahan akibat dari pengaruh variabel independen. Yang termasuk dalam variabel ini adalah Kejadian Penyakit Filariasis. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang ada di Kecamatan Pota yang berjumlah 4570 populasi, dengan tehnik pengamnilan Sampel secara proposional 154 orang. Data diolah dan dianalisis secara deskriptif disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi masing-masing variabel independen dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keempat faktor antara lain Lingkungan, pekerjaan, Kelembaban udara, perilaku pada malam hari secara signifikan memilki resiko terjadinya insidens penularan filariasis (p>0,05). Dari berbagai spesies ditemukan dua jenis spesies filariasis yakni Wuchereria Bancrofti dan Brugia Malayi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kejadian Filariasis di Kecamaatn Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur disebabkan oleh faktor Lingkungan, pekerjaan, Kelembaban udara, perilaku manusia dan semua sampel survey darah ditemukan (100%) positif filariasis Wuchereria Bancrofti dan Brugia Malayi.

Perbandingan Waktu Erupsi Gigi Susu Incisivus Pertama Pada Bayi Usia Yang Diberi Susu Asi Dan Yang Diberi Susu Fomula

Variani, Ratih

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.955 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.166

Abstract

Background: Exclusive breastfeeding coverage in East Nusa Tenggara was 42,8% according to Riskesdas 2013. Most mothers gave formula feeding or partial to their babies accounting for 57,2%. Nutrition is one of the factors that correlate with tooth eruption. A baby gains nutrition through breastfeeding or formula. Formula feeding has low nutrition compared with breastfeeding. Aims: Knowing the eruption comparison of primary central incisors of babies with breastfeeding compared with formula. Method: Observational research was applied to gain the information needs. The samples were divided into two groups: the first group had breastfeeding while the second group with formula. Each group accounted for 30 babies. The research locations were Posyandu of Pasir Panjang and Oebobo’s public health center. Data were analyzed by using Man Whitney test. Results: Average tooth eruptions of babies with breastfeeding and formula accounting for 7 months and 9 months, consecutively. Babies with breastfeeding had primary central incisors eruption two months earlier compared with babies with formula. Man Whitney statistic analyzed indicated there is no significant difference in tooth eruption between babies with breastfeeding and formula. Conclusion: Eruption of Primary central incisors in babies with breastfeeding compare with formula is the same.

Hubungan Tingkat Kejadian Karies Gigi Dengan Status Gizi Anak Usia 6 -7 Tahun Di SD Inpres Kaniti Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang

Fankari, Ferdinan

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.486 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.167

Abstract

Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut pada sebagian besar penduduk Indonesia. Karies gigi paling banyak menyerang anak-anak. Karies yang terjadi pada anak-anak sering tidak dirawat atau diobati sehingga mengakibatkan sakit gigi. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan umum anak dimana frekuensi makan akan berkurang sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang akan mempengaruhi status gizi anak. Masalah gizi disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dipengaruhi oleh penyakit infeksi dan tidak cukupnya asupan gizi secara kuantitas dan kualitas, sedangkan secara tidak langsung dipengaruhi oleh jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, pola asuh anak yang kurang memadai, kurang baiknya kondisi sanitasi lingkungan serta rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui  hubungan tingkat kejadian karies gigi anak dengan status gizi anak usia 6-7 tahun SDI Kaniti Kabupaten Kupang tahun 2016. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pemeriksaan gigi dan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Tingkat kejadian karies gigi  anak usia 6-7 tahun SDI Kaniti Kabupaten Kupang tahun 2016 pada kategori tinggi (30,76%) dan sangat tinggi (37,17%) dengan rata-rata 3- 6 gigi berlubang dan Status gizi anak usia 6-7 tahun SDI Kaniti Kabupaten Kupang tahun 2016 pada kategori gemuk (26.92%) dan normal (67.94%), sehingga Tidak ada hubungan tingkat kejadian karies gigi terhadap status gizi anak usia 6-7 tahun SDN Kaniti Kabupaten Kupang tahun 2016 karena anak yang memiliki tingkat kejadian karies tinggi dan sangat tinggi memilki status gizi gemuk dan normal. Disarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat kejadian karies gigi pada anak usia 6-7 tahun di SDN Kaniti Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang.

Hubungan Asupan Makanan Berisiko Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe II Di Kota Kupang

Sambriong, Maria

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.289 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.168

Abstract

Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan ancaman serius bagi pembangunan kesehatan dan menduduki peringkat ke-6 sebagai penyebab kematian. Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat diabetes dan 4% meninggal sebelum usia 70 tahun (Infodatin, 2014). Di propinsi Nusa Tenggara Timur, penyakit ini menduduki peringkat ke 19 telah meningkat menjadi 3 kali lipat dibanding tahun 2007. Kasus diabetes mellitus di Kota Kupang sangat bervariasi pada setiap golongan umur dimana pada tahun 2014 proporsi kasus tertinggi adalah pada usia 65-75 tahun berjumlah 780 orang (Profil Kesehatan Kota Kupang, 2014). Asupan energi yang tinggi yang bersumber dari karbohidrat murni akan memacu sekresi insulin oleh sel beta pankreas sebagai kompensasi meningkatkan kadar gula darah. Pada batas tertentu, usaha kompensasi tidak akan dapat mengimbangi resistensi insulin sehingga akan timbul insufisiensi insulin dengan adanya intoleransi glukosa (Waspadji et al.,2003). Polikandrioti dan Dokoutsidou (2009), mengatakan obesitas dan kurangnya aktifitas fisik juga secara langsung berkaitan erat dengan resistensi insulin sebagaimana ciri dari diabetes mellitus tipe 2. Penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara asupan makan berisiko dan aktivitas fisik dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2. Jenis penelitian studi observasional dengan rancangan case-control. Populasi sebanyak 52.965 orang berdomisili di wilayah Kota Kupang. Jumlah sampel seluruhnya adalah 234 orang yang memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari kelompok kasus sebanyak 117 orang yang menderita diabetes mellitus tipe 2 dan kelompok kontrol sebanyak 117 orang yang tidak menderita diabetes mellitus tipe 2 diambil melalui 2 tahap yaitu tahap pertama menetapkan kluster wilayah penelitian, dan kedua pengambilan sampel secara consecutive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner International Physical Activityuestionnaire (IPAQ), formatFood Recall 24 jam dan semi Quantitative Food Frequency Questioner (FFQ), Food Model, Waist ruller/pita ukur. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara; asupan makanan berisiko dengan obesitas visceral, obesitas visceral dengan diabetes mellitus tipe 2, asupan makanan berisiko dengan diabetes mellitus tipe 2. Untuk melihat hubungan aktivitas tubuh dengan obesitas visceral dan aktivitas tubuh dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2 menggunakan Pearson Chi Square. Hasil analisis uji bivariat asupan energy terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2, memiliki OR sebesar 2,543 dengan 95% CI= 1,4-4,3 dan (p-value 0,001). Asupan lemak terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2 memiliki OR 1,530 dengan 95% CI= 0,9-2,5 dan (p value 0,142). Asupan serat terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2 memiliki OR 0,760 dengan 95% CI= 0,4-1,2 dan (p-value 0,370). Obesitas visceral terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2 memiliki OR 2,510 dengan 95% CI= 1,4-4,2 dan (p value 0,001). Asupan energy terhadap kejadian obesitas viseral memiliki OR 28,292 dengan 95% CI= 13,3-59,8 dan (p value 0,000). Asupan lemak terhadap kejadian obesitas viseral memiliki OR 23,435 dengan 95% CI 11,4-47, 8 dan (p value 0,000). Asupan serat terhadap kejadian obesitas viseral memiliki OR 4,959 dengan 95% CI= 2,7-8,8) dan (p-value 0,000). Pada kelompok kasus hasil uji statistik aktivitas terhadap obesitas visceral didapatkan p value 0,246 artinya aktivitas fisik tidak berhubungan dengan kejadian obesitas visceral. Sedangkan kelompok control hasil uji statistic didapatkan p-value 0.000 artinya bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik dan kejadian diabetes mellitus tipe 2.

Hubungan Kesadaran Individu Dengan Penerapan Patient Safety di Rumah Sakit Umum Daerah S. K. Lerik Kupang

Limbong, Kori

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.736 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.169

Abstract

Keselamatan pasien (patient safety) merupakan salah satu dimensi mutu yang saat ini menjadi pusat perhatian para praktisi pelayanan kesehatan dalam skala nasional maupun internasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan patient safety di ruang rawat inap RSUD S.K.Lerik Kupang. Penelitian ini menggunanakan metode cross sectional dengan rancangan deskriptif korelasi. Populasi adalah semua perawat di ruang rawat inap RSUD S.K.Lerik sejumlah 40 orang dengan sampel adalah total populasi yang memenuhi kriteria inklusi yakni 34 orang. Analisis yang digunakan adalah presentase untuk analisis univariat dan chi square untuk melihat hubungan antara kesadaran individu dengan penerapan patient safety oleh perawat di ruang rawat inap RSUD S.K. Lerik Kupang. Hasil penelitian menunjukkan 20 responden (59%) mempunyai kesadaran individu kurang baik dan sisanya 13 (38%) mempunyai kesadaran individu baik dalam menerapkan patient safety, 20 (59%) mengatakan penerapan patient safety di ruang rawat inap kurang baik dan sisanya 13 (38%) mengatakan bahwa penerapan patient safety baik. Dari hasil analisis chi square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kesadaran individu dengan penerapan patient safety di RSUD S.K. Lerik Kota Kupang dengan p-value 0,003.

Kandungan Bakteri Escherichia Coli Pada Air Rendaman Tahu Pedagang Kaki Lima Di Pasar Kasih Naikoten 1 Kota Kupang Tahun 2017

Agustina, Agustina, Telan, Albina Bare, Mboro, Frengki

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.341 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.170

Abstract

Salah satu kontaminan yang paling sering dijumpai pada makanan adalah salah satunya bakteri Escherichia coli. Bakteri ini berasal dari tinja manusia dan hewan, tertular ke dalam makanan karena perilaku penjamah yang tidak higienis, pencucian peralatan yang tidak bersih, kesehatan para pengolah dan penjamah makanan serta penggunaan air pencuci yang mengandung Escherichia coli. Tujuan dari penelitian ini adalah menilai kualitas fisik air baku rendaman tahu, menilai sanitasi wadah perendaman tahu dan menghitung jumlah kandungan bakteri E. coli air rendaman tahu pada pedagang kaki lima di Pasar Kasih Naikoten 1 Kota Kupang Tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan survey dengan besarnya sampel yakni 23 pedagang tahu yang ada di Pasar Kasih Naikoten Kota Kupang. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kualitas fisik air baku rendaman tahu 70 % memenuhi syarat, dan 30 % tidak memenuhi syarat, sanitasi wadah perendaman tahun 66 % kategori cukup baik, 17 % kategori baik dan 17% masuk kategori kurang baik, kandungan bakteri E. coli yang diperiksa 4 % kategori memenuhi syarat dan 96 % kategori tidak memenuhi syarat. Simpulkan bahwa kualitas fisik air baku merendam tahu sudah memenuhi syarat, sanitasi wadah yang digunakan untuk merendam tahu cukup baik dan kandungan bakteri E. coli tidak memenuhi syarat. Saran yang diberikan adalah memperhatikan kebersihan diri dalam menjamah makanan, kebersihan tangan dan selalu menutup wadah setiap saat.

Hubungan Antara Motivasi, Dukungan Keluarga Dan Kecemasan Mahasiswa Dalam Menghadapi Ujian Proposal Di Prodi Keperawatan Waingapu

Gunawan, Yosephina Elizabeth Sumartini, Landi, Melkisedek, Anthasari, Diane

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.8 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.173

Abstract

Introduction: students are vulnerable to anxiety due to various demands, especially in facing the exam of a proposal or a final assignment at a college. The motivation and family support are the factors that affect students anxiety in facing the exam proposal or final project. The purpose of this study is to know the relationship between motivation and family support with the anxiety of third-grade students in facing the exam proposal in Nursing Program Study of Waingapu. Methods: This study was a pre-experimental study with the cross-sectional design. The sample was 44 respondents with a sampling technique using consecutive sampling method. Instruments used in the form of questionnaires and research variables consisted of motivation, family support and anxiety using Spearmans rho analysis technique. Result: the research conducted on 44 respondents shows that there is no correlation between motivation (P= 0,254) and family support (P= 0,674) with student level anxiety in facing exams of the proposal of Nursing Program Study of Waingapu. Conclusion: The researcher concludes that there is no correlation between motivation and family support with students anxiety level III in facing the exam proposal in Nursing Program Study of Waingapu.

Pengaruh Beberapa Kombinasi Media Tanam Organik Arang Sekam, Pupuk Kandang Kotoran Sapi, Arang Serbuk Sabut Kelapa Dan Tanah Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terung (Solanum Melongena L.)

Hali, Antonus Suban, Telan, Albina Bare

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.106 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.174

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan kombinasi beberapa media tanam organik seperti arang sekam, pupuk kandang kotoran sapi, arang sabut kelapadan tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung serta untuk mengetahui perlakuan kombinasi antar media tanam manakah yang dapat memberikan hasil tanaman terung terbaik. Penelitian ini dirancang dengan rancangan lingkungan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 8 perlakuan dan 3 ulangan. Variabel yang diamati meliputi pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun dan bobot buah. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan uji lanjut Duncan pada taraf 5%. Hasil analisis menunjukan bahwa perlakuan kombinasi media tanam organikmampu memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman terung pada 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST, dan jumlah daun serta berpengaruh nyata terhadap jumlah buah. Perlakuan kombinasi media tanam organik yang memberikan capaian pertumbuhan dan hasil tanaman terung terbaik adalah pada perlakuan P8 dengan perlakuan kombinasi tanah:arang sekam padi:pupuk kandang sapi:arang sabut kelapa dengan perbandingan 1:1:1:1; pada perlakuan P7 dengan perlakuan kombinasi tanah:pupuk kandang sapi:arang sabut kelapa 1:1:1; dan perlakuan P3 dengan kombinasi perlakuan antara tanah:pupuk kandang sapi 1:1.

Peningkatan Polymorphonuclear (PMN) Dalam Cairan Nasal Lavage Operator Penggilingan Padi Yang Terpajan Endotoksin Lipopolisakarida (LPS)

Lamawuran, William Wilfridus

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.445 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.175

Abstract

Latar Belakang: Paparan endotoksin lipopolisakarida (LPS) pada debu padi menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peningkatan Neutrofil atau Polymorphonuclear (PMN) pada cairan nasal lavage operator penggilingan padi. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh endotoksin LPS terhadap peningkatan kadar Polymorphonuclear (PMN) operator penggilingan padi. Metode: rancangan penelitian ini adalah longitudinal studi. Pengambilan sampel debu dilakukan selama 8 jam sedangkan sampel nasal lavage dilakukan sebelum dan setelah bekerja (cross shift). Kadar PMN dan LPS Endotoksin dianalisis menggunakan metode ELISA kemudian Endotoksin LPS dianalisis menggunakan LAL. Hasil: Rerata kadar endotoksin LPS dalam debu padi adalah 56,36 ± 5.83 EU/m3. Terjadi peningkatan PMN setelah kerja (Pired sample-t test: p = 0.000) pada semua operator penggilingan padi. Kadar endotoksin LPS berkorelasi dengan peningkatan PMN pada cairan nasal lavage operator penggilingan padi (uji regresi linear berganda: p= 0.000). Kesimpulan: Endotoksin LPS merupakan faktor yang mempengaruhi peningkatan kadar PMN dalam cairan nasal lavage yang mengindikasikan terjadinya inflamasi pada operator penggilingan padi. Saran: Gunakan mesin penggilingan padi yang dilengkapi dengan pengumpul debu. Perlu pemeriksaan kesehatan secara berkala dan bagi pekerja yang mengalami gangguan pernapasan agar diberikan pengobatan dan waktu untuk istirahat dari pekerjaan nya. Pekerja disarankan untuk selalu menggunakan masker saat bekerja.

Penyerapan Air Dan Kelarutan Bahan Semen Ionomer Kaca Sebagai Penutup Pit Dan Fisur Gigi

Krisyudhanti, Emma

JURNAL INFO KESEHATAN Vol 16 No 1 (2018): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.931 KB) | DOI: 10.31965/infokes.Vol16.Iss1.176

Abstract

LATAR BELAKANG: Pit dan fissure sealant merupakan bahan yang sering digunakan untuk perawatan pencegahan, khususnya pada permukaan oklusal gigi yang rentan karies. Semua bahan restorasi yang berkontak dengan air akan mengalami 2 mekanisme, yaitu penyerapan air, yang menyebabkan pembengkakan matriks serta meningkatnya massa dan kelarutan air, yaitu terlepasnya komponen dari monomer yang tidak bereaksi dan menyebabkan berkurangnya massa. TUJUAN: mengukur nilai penyerapan air dan kelarutan bahan semen ionomer kaca sebagai penutup pit dan fisur gigi. METODE: Sebanyak 18 spesimen material sealant semen ionomer kaca dimanipulasi sesuai petunjuk pabrik terdiri dari masing-masing enam spesimen berukuran diameter 15 mm dan tebal 1 mm dibuat untuk setiap waktu perendaman. Spesimen tersebut dimasukkan ke dalam desikator bersuhu 37°C selama 22 jam dan kemudian dimasukkan ke desikator lainnya yang bersuhu 23°C selama 2 jam. Spesimen ditimbang dengan timbangan presisi 0,1 mg. Pengukuran dilakukan berulangkali sampai massa konstan didapatkan (M1). Berikutnya spesimen dimasukkan ke dalam 40 ml aquabides dan disimpan pada desikator bersuhu 37°C selama 1 hari, 2 hari dan 7 hari. Pada akhir setiap waktu perendaman, spesimen dipindahkan dari aquabides, dikeringkan dengan kertas penghisap dan digetarkan di udara selama 15 detik. Spesimen ditimbang untuk mendapatkan M2. Spesimen direkondisi dengan dimasukkan ke dalam desikator bersuhu 37°C selama 22 jam dan kemudian dimasukkan ke dalam desikator lainnya yang bersuhu 23°C selama 2 jam dan prosedur ini diulang pada satu hari berikutnya, kemudian massa ditimbang berulangkali sampai massa konstan didapatkan (M3). HASIL PENELITIAN: Uji statistic Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari nilai rata-rata penyerapan air dan kelarutan bahan untuk perendaman selam 1 hari, 2 hari dan 7 hari. KESIMPULAN DAN SARAN: Nilai penyerapan air semen ionomer kaca sebagai penutup pit & fisur gigi mengalami penurunan hingga hari kedua lalu meningkat hingga hari ketujuh, dengan rata-rata penyerapan air untuk perendaman selama 1 hari sebesar 42,68mg/mm³, 2 hari 40,53mg/mm³ dan 7 hari 42,99mg/mm³. Nilai kelarutan dalam air semen ionomer kaca sebagai penutup pit & fisur gigi mengalami penurunan hingga hari kedua lalu meningkat hingga hari ketujuh, dengan rata-rata kelarutan bahan untuk perendaman selama 1 hari sebesar 41,46mg/mm³, 2 hari 39,39mg/mm³ dan 7 hari 41,91mg/mm³. dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan untuk nilai penyerapan air dan kelarutan bahan selama masa perendaman 1, 2 dan 7 hari. Disarankan agar dalam pengaplikasian semen ionomer kaca sebagai penutup pit dan fisur gigi harap diperhatikan dalam pemberian varnish atau pelindung agar mengurangi terjadinya penyerapan air dan kelarutan bahan. Selain itu, pit dan fisur gigi yang sudah diberi penutup, hendaknya dikontrol 3 bulan kemudian untuk mengetahui apakah penutupnya masih utuh atau sudah rusak maupun lepas. Disarankan pula agar ada penelitian lanjutan untuk mengetahui nilai penyerapan air dan kelarutan bahan jika direndam di dalam saliva buatan selama lebih dari 7 hari.

Page 1 of 2 | Total Record : 17