cover
Filter by Year
Buletin Sumber Daya Geologi
uletin Sumber Daya Geologi merupakan Makalah berkala ilmiah terakreditasi LIPI bidang mineral, energi fosil, dan panas bumi. Makalah ini terbit tiga nomor dalam satu tahun pada bulan Mei, Agustus dan November. Pada Tahun 2010, Buletin Sumber Daya Geologi mendapat Akreditasi B sebagai majalah Berkala Ilmiah, kemudian akreditasi ulang Tahun 2012, dan akreditasi terbaru di Tahun 2015 untuk tiga tahun kedepan dengan nomor ISSN (print) : 1907-5367. Tahun 2017 Buletin Sumber Daya Geologi mendapatkan nomor eISSN : 2580 - 1023 untuk versi onlinenya.
Articles
181
Articles
PEMODELAN RESEVOIR PANAS BUMI DAERAH DUA SAUDARA, KOTA BITUNG, PROVINSI SULAWESI UTARA, DENGAN MENGGUNAKAN INVERSI 2-D DATA MAGNETOTELURIK

Zarkasyi, Ahmad, Wahyuningsih, Rina

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1474.23 KB)

Abstract

Hasil survei geologi, geokimia dan geofisika gaya berat dan TDEM, di daerah panas bumi Dua Saudara, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara belum dapat secara akurat mendelineasi area dan dimensi prospek panas bumi di daerah ini. Sistem panas bumi di daerah ini berasosiasi dengan aktivitas vulkanik Gunung Tangkoko-Batuangus berumur Kuarter. Litologi daerah ini didominasi oleh endapan vulkanik berupa piroklastik dan lava. Selain batuan teralterasi, mata air panas muncul dengan temperatur 34°C -61°C, dari fluida air panas didapat penghitungan temperatur bawah permukaan mencapai 150°C. Pemodelan 2D inversi dilakukan pada data survei Magnetotelurik di 35 titik ukur dengan spasi 1000 hingga 1500 m yang difokuskan di lokasi manifestasi mata air panas. Hasil inversi menggunakan perangkat lunak WinGLink menunjukkan adanya lapisan resistivitas rendah (<10 ohm-m) yang ditafsirkan sebagai lapisan penudung dari system panas bumi Dua Saudara. Lapisan ini berasosiasi dengan lapisan konduktif yang terletak pada kedalaman sekitar 750 meter hingga 1000 meter. Zona resistivitas tinggi (25-100 ohm-m) ditafsirkan sebagai batuan panas yang kemungkinan adalah reservoir dari sistem tersebut. Dari model ini disimpulkan bahwa daerah survei masih merupakan zona outflow, sedangkan zona upflow diduga ke arah tenggara menuju Gunung Dua Saudara dan Gunung Tangkoko.

KARAKTERISTIK GAMBUT BERDASARKAN ANALISIS GEOKIMIA DAN PETROGRAFI ORGANIK DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR, PROVINSI RIAU

Priyono, Priyono, Wibisono, Sigit A.

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1490.06 KB)

Abstract

Gambut merupakan salah satu sumber energi alternatif. Luas lahan gambut Indonesia menempati peringkat keempat di dunia, yaitu sekitar 26 juta hektar. Pemanfaatan dan pengelolaan lahan gambut di Indonesia masih sebatas untuk lahan pertanian dan perkebunan saja, sedangkan pemanfaatan gambut sebagai sumber energi masih belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kualitas gambut sebagai salah satu sumber energi di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Analisis geokimia dan petrografi organik dilakukan terhadap 17 perconto gambut di daerah penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa gambut di daerah penelitian mempunyai nilai kalori 3.098 kal/g s.d. 5.178 kal/g dan termasuk dalam tipe gambut ombrogenus serta diendapkan pada lingkungan yang dipengaruhi pasang surut air (telmatik). Pembentuk gambut didominasi oleh tetumbuhan berbatang lunak (marginal aquatic/herbaceous).

KARAKTERISTIK DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI ORGANIK, DAERAH JONGGON, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Maryono, Agus, Wibisono, Sigit A.

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.847 KB)

Abstract

Karakteristik (peringkat dan tipe) serta lingkungan pengendapan batubara di daerah Jonggon dan sekitarnya diteliti dengan menggunakan metode petrografi batubara (analisis reflektansi vitrinit dan komposisi maseral). Analisis dilakulan terhadap 13 conto batubara formasi Balikpapan. Secara megaskopis batubara berwarna hitam, keras, goresan hitam, agak kusam, pecahan blocky, terdapat getah damar, ketebalan berkisar 0,40 m s.d. 3,30 m. Analisis reflektansi vitrinit (Rv) menunjukkan bahwa batubara di daerah penelitian memiliki nilai Rv berkisar antara 0,25% s.d. 0,45% sehingga dapat diklasifikasikan pada peringkat lignit - subbituminous. Secara mikroskopis, analisis komposisi maseral menunjukan bahwa tipe batubara di daerah penelitian didominasi oleh kelompok maseral huminit (67,60% s.d. 95,80%), diikuti oleh maseral inertinit (1,20 s.d. 26,40%) serta  sebagian kecil maseral liptinit (0,20% s.d. 5,60%). Lebih jauh, hasil analisis komposisi maseral melalui nilai Tissue Preservation Index (TPI), Gelification Index (GI), dan Ground Water Index (GWI) mengindikasikan bahwa material organik pembentuk batubara di daerah penelitian didominasi oleh tumbuhan berkayu yang mengalami tingkat oksidasi rendah serta terendapkan pada lingkungan telmatik.

PROFIL ENDAPAN LATERIT NIKEL DI POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Kamaruddin, Hashari, Indrakususma, Riko Ardiansyah, Rosana, Mega Fatimah, Sulaksana, Nana, Yuningsih, Euis Tintin

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2527.858 KB)

Abstract

Geologi daerah Pomalaa merupakan bagian dari batuan ultramafik Ofiolit Sulawesi Timur di lengan tenggara Sulawesi. Di daerah tersebut endapan laterit nikel Pomalaa terbentuk dari pelapukan batuan asal ultramafik yang didominasi oleh harzburgit terserpentinisasikan dan memiliki karakteristik tipe endapan laterit nikel hydrous Mg silicate. Lateritisasi terbentuk pada morfologi perbukitan bergelombang rendah dengan sudut kelerengan berkisar 10° sampai dengan 25°. Proses lateritisasi berlangsung dengan baik terutama pada topografi yang cenderung lebih landai yaitu 10° sampai dengan 15°, yang memungkinkan terbentuknya lateritisasi yang cukup dalam dengan zona saprolit yang tebal.

ALTERASI DAN MINERALISASI DI PULAU MERAH, KECAMATAN PESANGGARAN, KABUPATEN BANYUWANGI, PROVINSI JAWA TIMUR

Suprapto, Sabtanto Joko, Murdohardono, Dodid, Suparno, Suparno, Abdurahman, Oman, Subekti, Agung Tri

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2151.123 KB)

Abstract

Pulau Merah berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai Desa Sumberagung, memiliki indikasi mineralisasi logam. Penelitian di Pulau Merah bertujuan untuk mendapatkan tipe mineralisasi dan alterasi, serta sebaran tubuh bijih. Metodologi penelitian yang digunakan terdiri dari pengamatan litologi, alterasi, mineralisasi, dan pengambilan conto batuan untuk analisis kandungan mineral dan kimia. Morfologi Pulau Merah berbentuk bukit kecil. Pada tebing bagian timur menghadap laut dangkal yang dapat diseberangi saat laut surut, terdapat singkapan luas batuan teralterasi dan mineralisasi. Pada bagian tenggara sampai bagian tengah terdapat singkapan cebakan tembaga porfiri, di bagian utara terdapat singkapan cebakan emas epitermal tipe high sulphidation. Cebakan tembaga porfiri mempunyai kadar 0,32% s.d. 2,14% Cu, 285 ppb s.d. 1.502 ppb Au, 1,4 ppm s.d. 9,4 ppm Ag dan 2 ppm s.d. 4 ppm Mo. Cebakan emas epitermal high sulphidation mempunyai kadar 189 ppb s.d. 1.843 ppb Au, 1 ppm s.d. 21,4 ppm Ag dan 24 ppm s.d. 123 ppm As. Pulau Merah sesuai dengan Undang-undang Nomor 1 tahun 2014 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, termasuk ke dalam kriteria Pulau Kecil, oleh karena itu tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tambang. Obyek langka Pulau Merah berupa cebakan tembaga dan cebakan emas yang mudah dijangkau dan merupakan bagian dari tujuan wisata maka layak untuk dapat  dijadikan cagar alam geologi.

STRUKTUR SISTEM PANAS BUMI DAERAH CUBADAK BERDASARKAN PEMODELAN INVERSI 3-D DATA MAGNETOTELURIK

Joni, Wiwid, Rahadinata, Tony

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4047.818 KB)

Abstract

Daerah panas bumi Cubadak terletak di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Keberadaan sistem panas bumi di daerah Cubadak ditandai oleh munculnya mata air panas berupa mata air panas Cubadak, Sawah Mudik, dan Talu dengan temperatur antara 37,1oC dan 74,8oC. Survei magnetotelurik (MT) telah dilakukan oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi, Badan Geologi, di daerah tersebut pada Tahun 2012, yang bertujuan untuk mengidentifikasi sistem panas bumi Cubadak. Penggunaan pemodelan inversi 3-D terhadap data MT diharapkan dapat mendelineasi dengan baik struktur sistem panas bumi Cubadak.Berdasarkan pemodelan 3-D dihasilkan suatu struktur tahanan jenis, yang memiliki zona rendah (lebih kecil dari 11 Ohm-m) di sekitar manifestasi panas bumi Cubadak dan Sawah Mudik, diinterpretasikan sebagai zona alterasi argilik, masing-masing mulai pada kedalaman 100 meter dan 250 meter, serta bertindak sebagai batuan penudung bagi sistem panas bumi Cubadak. Sementara itu, keberadaan top reservoir dari sistem tersebut diidentifikasi berada di bawah manifestasi Cubadak pada kedalaman 1.000 meter, sedangkan di bawah manifestasi Sawah Mudik pada kedalaman 1.250 meter.

KARAKTERISTIK GEOKIMIA BATUAN INDUK FORMASI WALAT, SUKABUMI, JAWA BARAT

Ilmi, Nisa Nurul, Ramadian, Aldrin

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.501 KB)

Abstract

Kajian karakteristik geokimia batuan induk Formasi Walat di Sukabumi, Jawa Barat merupakan suatu langkah untuk mendapatkan informasi mengenai sistem minyak dan gas bumi yang ada. Lebih lanjut lagi, kajian ini juga diharapkan dapat mengungkap kesamaan sistem minyak dan gas bumi di daerah studi, dengan potensi hidrokarbon terbukti di Cekungan Jawabarat Utara. Kekayaan material organik, tingkat kematangan, serta tipe hidrokarbon yang dihasilkan merupakan parameter penting yang menunjukkan karakter batuan induk secara geokimia. Sistematika  pemercontohan singkapan Formasi Walat yang diyakini berpotensi sebagai batuan induk, dianalisis ke laboratorium untuk penyelidikan karakteristik geokimia. Sebanyak tujuh belas percontoh terpilih, dan selanjutnya dianalisis karakter geokimianya melalui parameter Total Organic Carbon dan Rock Eval Pyrolysis (nilai S1, S2, dan S3 beserta turunannya).Berdasarkan tingkat kematangan, semua percontoh berada pada tingkatan matang hingga matang akhir dengan kualitas kerogen tipe III yang menghasilkan gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Formasi Walat memiliki karakter batuan induk dengan kekayaan sedang hingga sangat baik, dan memiliki potensi untuk menghasilkan hidrokarbon jenis gas. Berdasarkan penemuan sumber batuan induk potensial di formasi ini, maka dapat dikatakan bahwa di daerah studi terdapat sistem minyak dan gas bumi yang setara dengan Cekungan Jawabarat Utara, sehingga eksplorasi migas pada wilayah selatan Jawa Barat menjadi menarik.    

LIMBAH PENCUCIAN BAUKSIT SEBAGAI SUMBER UNSUR TANAH JARANG POTENSIAL; STUDI KASUS PULAU SELAYAR, PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Irzon, Ronaldo

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.608 KB)

Abstract

Bauksit dihasilkan dari proses pelapukan batuan kaya mineral alkali, telah mulai dieksploitasi di Pulau Selayar, wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau yang menjadi lokasi penelitian ini. Sumber daya aluminium di daerah ini tergolong ke dalam kelompok laterit-bauksit, karena terbentuk akibat proses pelapukan dan belum pernah ditemukan keterdapatan karst. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar dan karakter unsur tanah jarang pada beberapa jenis conto dari lokasi tambang bauksit di Sembuang, Pulau Selayar. Selain itu, juga bertujuan untuk mengetahui jenis mineral dan jenis bijih bauksit. Perangkat analisis pada studi ini adalah ICP-MS, XRF, dan XRD dari Laoratorium Geologi – Pusat Survei Geologi yang secara berturut-turut dimanfaatkan untuk mengetahui kelimpahan unsur tanah jarang, kadar oksida utama, dan jenis mineral lempung pada contoh. Gibsit terdeteksi sebagai mineral alumina utama dan menjadi petunjuk bahwa proses bauksitisasi berlangsung pada kondisi tropis. Walaupun batuan yang berada di stockpile dapat dikategorikan sebagai bauksit, namun belum memiliki kadar alumina ekonomis. Meski terindikasi lebih tinggi dari pada lima conto lainnya, kadar UTJ pada bauksit hasil pencucian berada dalam tingkat menengah. Namun, karakteristik konsentrasi Cerium (Ce) yang tinggi, sebagai bahan buangan di atas permukaan, dengan tekstur yang lunak, dan luas bidang permukaan yang besar dapat dijadikan pijakan bahwa sisa pencucian layak diproses dalam pemurnian unsur Cerium menjadi material ekonomis. Berdasarkan data anomali positif unsur Ce, hampir seluruh conto telah mengalami proses oksidasi. Komposisi plagioklas terhadap mineral lain pada conto bauksit di stockpile, sangat mungkin telah menurun kibat proses pencucian dan penyaringan berdasarkan pada anomali negatif unsur Europium (Eu), sedangkan conto lain justru menunjukkan anomali positif.

PEMBUATAN BAHAN ACUAN BAKU UNTUK ANALISIS CONTO MANGAN

Widaningsih, Nining, Eddy, Herry Rodiana

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.914 KB)

Abstract

Pembuatan bahan acuan baku untuk analisis conto mangan dilakukan guna mencari alternatif lain dari penggunaan Certified Reference Material produksi lembaga asing yang harganya relatif mahal serta jumlahnya yang terbatas. Conto mangan yang digunakan untuk bahan acuan baku diperoleh dari wilayah konsesi PT Arumbai Mangabekti, di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan di Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan International Manganese Institute, conto mangan yang memiliki kandungan Mn total berkisar antara 35% s.d. 48% dikategorikan sedang, dan yang lebih besar dari 50%, tinggi. Kegiatan pemercontoan di Kabupaten Manggarai Timur dengan kode conto BWN, SATARNANI dan STN-2, sedangkan di Kabupaten Jember dengan kode conto SDG-1. Preparasi conto mangan dilakukan di Laboratorium Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi, untuk mendapatkan conto yang homogen dengan ukuran 150 mesh. Analisis kimia dilakukan untuk menentukan major dan minor elements yang terkandung di dalam conto mangan. Data hasil analisis kimia yang dilakukan di delapan laboratorium termasuk Laboratorium Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi, kemudian dilakukan pengolahan data dengan beberapa metoda statistik. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa ke empat conto tersebut memenuhi kriteria kandungan Mn total kadar sedang dan tinggi. Conto bahan acuan baku dengan kriteria kandungan Mn total kadar sedang terdapat pada kode conto BWN (Mn total 35,01%), kode conto SATARNANI (Mn total 44,24%) dan SDG-1 (Mn total 48,90%), sedangkan kandungan Mn total kadar tinggi terdapat pada kode conto STN-2 (Mn total 55,85%).

POTENSI ZONA URAT KUARSA BERDASARKAN ANALISIS GEOFISIKA DENGAN METODE POLARISASI TERINDUKSI DI DAERAH OLAT TANAH MERAH - PLAMPANG, KABUPATEN SUMBAWA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Gautama, Ignatius Forza Yoga, Heditama, Dzil Mulki, Muttaqin, Yudi Aziz

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3689.787 KB)

Abstract

Penelitian dengan menggunakan metode polarisasi terinduksi telah dilakukan di daerah Olat Tanah Merah - Plampang, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran dan potensi zona urat kuarsa yang diduga mengandung mineralisasi emas di bawah permukaan. Pengukuran metode polarisasi terinduksi dilakukan dalam kawasan waktu menggunakan konfigurasi dipol-dipol dengan jarak antar elektroda 50 m. Data polarisasi terinduksi yang terukur sebanyak 14 lintasan dengan panjang tiap lintasan 1000 m dan jarak antar lintasan 100 m s.d. 200 m. Pemodelan 2D dilakukan untuk mendapatkan penampang dengan nilai resistivitas dan chargeability dari tiap lintasan, sedangkan pemodelan 3D dilakukan untuk mengetahui arah kemenerusan zona mineralisasi emas dan memperkirakan potensi volume zona urat kuarsa. Berdasarkan hasil penampang 2D resistivitas dan chargeability, diketahui bahwa zona mineralisasi emas memiliki nilai resistivitas >250 Ωm dan chargeability >300 ms yang diinterpretasikan sebagai mineral-mineral sulfida yang berasosiasi dengan bijih emas dan alterasi argilik - silisik pada batuan tuf dan diorit. Berdasarkan hasil model 3D diketahui adanya kemenerusan zona mineralisasi emas utama yang memanjang dengan arah utara-selatan dan volume zona urat  kuarsa yang mengandung mineralisasi emas diperkirakan sebesar 519.000 m3.

Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 3 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 1 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11, No 3 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11, No 2 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11, No 1 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 2 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 1 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 3 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 2 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 1 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 3 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 2 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 1 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7, No 3 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7, No 2 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7, No 1 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 3 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 2 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 1 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4, No 3 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4, No 2 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4, No 1 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3, No 3 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3, No 2 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3, No 1 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 3 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 2 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 1 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 1, No 1 (2006): Buletin Sumber Daya Geologi