cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
TOTOBUANG
Published by Kantor Bahasa Maluku
ISSN : 23391154     EISSN : 25976184     DOI : -
Totobuang is a journal that publish results of research or conceptual idea in linguistics and literary studies, also aspects of teaching. Totobuang is published twice a year, on June and December. Totobuang editors accept article submission from researchers, experts, academician, and teachers of language and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 82 Documents
NILAI PEMBENTUK KARAKTER MASYARAKAT WAKATOBI MELALUI KABHANTI WA LEJA [Values for The Formation of The Character of The Wakatobi Community Through Kabhanti Wa Leja] susiati, Susiati
TOTOBUANG Vol 7, No 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.136

Abstract

This study aims to describe the value of forming the character of the wakatobi community through Wa Leja kabhanti. This research is a qualitative research. Data is collected using the refer method. Meanwhile, data collection techniques use note-taking techniques. The results showed that there were twenty-nine values forming the character of the wakatobi community through Wa Leja kabhanti which included (1) social care; (2) love / affection and love; (3) submission; (4) praise; (5) humility: (6) breadwinner; (7) surrender; (8) attention; (9) find out; (10) firm stand; (11) optimistic; (12) advice; (13) loyal friends; (14) keep promises; (15) sincerity; (16) disappointed; (17) hurt; (18) sadness; (19) shame; (20) confidence; (21) confused; (22) convincing; (23) loyal to lovers; (24) regret; (25) pity; (26) hope; (27) forgive each other; (28) application; and (29) reprimand.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai pembentuk karakter masyarakat Wakatobi melalui Kabhanti Wa Leja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan metode simak. Sementara, teknik pengumpulan data menggunakan teknik catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua puluh sembilan nilai pembentuk karakter masyarakat wakatobi melalui Kabhanti Wa Leja meliputi (1) peduli sosial; (2) rasa kasih/sayang dan cinta; (3) kepasrahan; (4)  pujian; (5) kerendahan hati: (6) pencari nafkah; (7) berserah diri; (8) perhatian; (9) mencari tahu; (10) teguh pendirian; (11) optimis; (12) nasihat; (13) setia kawan; (14) tepati janji; (15) ikhlas; (16) kecewa; (17) sakit hati; (18) kesedihan; (19) rasa malu; (20) percaya diri; (21) bingung; (22) meyakinkan; (23) setia pada kekasih; (24) penyesalan; (25) rasa kasihan; (26) pengharapan; (27) saling memaafkan; (28) permohonan; dan (29) teguran.
REPRESENTASI MANUSIA DAN ALAM DALAM PUISI AKU, HUTAN JATI, DAN INDONESIA KARYA YACINTA KURNIASIH [Human and Nature Representation in “Aku, Hutan Jati, and Indonesia” by Yacinta Kurniasih] Darman, Faradika
TOTOBUANG Vol 5, No 2 (2017): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v5i2.43

Abstract

Environmental issues are important to talk about. Talking about the environment is talking about human, because it sustains of human life. If the environment damaged, human life will be disturbed and being extinct. Many things can be done to reduce the damage that occurs in the environment. One of them is  changing the humans view through the literary works. Aku, Hutan Jati, dan Indoensia is an example of green literature tries to reflect the love of the environment and show the problems in it. The poetry is important to review because literary work with ecocriticism is limited. This study was a part of literary utilization and real step for ecological crises solving through the formation of human ecological morals and ethics. The poem was reviewed by the theory of literary ecology. The research method used hermeneutic. The results show that Aku, Hutan Jati, dan Indonesiawas a reflection of human caring for the environment, especially teak forests with ecology’s words highlighted by the love of the environment and expressed anxiety in responding to the environmental damage was the logging of teak forests. Ecological poetry is expected to provide awareness and enlightenment that can make people aware of the importance of preserving nature and the environment.Permasalahan lingkungan menjadi hal yang penting untuk dibicarakan. Jika berbicara tentang lingkungan berarti berbicara tentang manusia karena lingkungan yang menopang kehidupan manusia. Jika lingkungan rusak, maka kehidupan manusia akan terganggu bahkan dapat menyebabkan kepunahan umat manusia. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi kerusakan yang terjadi pada lingkungan. Salah satunya adalah mengubah pandangan kepada manusia melalui karya sastra. Puisi Aku, Hutan Jati, dan Indonesia adalah satu contoh sastra hijau yang merefleksikan kecintaan terhadap lingkungan dan memperlihatkan berbagai persoalan di dalamnya. Puisi ini penting dikaji mengingat terbatasnya kajian dan karya sastra berperspektif ekologi. Kajian ini sebagai bentuk pemanfaatan karya sastra dan langka untuk penanganan krisis ekologi melalui pembentukan moral dan mengubah pola pikir manusia. Puisi tersebut ditelaah dengan memanfaatkan teori ekologi sastra. Metode penelitian yang digunakan adalah metode hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi Aku, Hutan Jati, dan Indonesia adalah refleksi kecintaan manusia terhadap lingkungan khususnya hutan jati dengan menonjolkan diksi ekologi yang berlandaskan rasa cinta terhadap lingkungan dan mengungkapkan kegelisahan dalam menyikapi adanya kerusakan lingkungan yaitu penebangan hutan jati. Puisi-puisi bernuansa ekologi diharapkan dapat memberikan penyadaran dan pencerahan yang dapat menyadarkan manusia akan pentingnya menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan.
MODUS TINDAK TUTUR EKPRESIF DALAM TRANSAKSI JUAL-BELI DI PASAR TRADISIONAL KOTA BAUBAU: TINJAUAN PRAGMATIK [Modus Speech Act in The Interaction of Selling-Buying in Traditional Market of Baubau City: A Pragmatic Study] Harziko, Harziko
TOTOBUANG Vol 7, No 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.124

Abstract

This research aims to describe the uses of speech modus of the vendor and buyers. The research was descriptive and qualitative. The samples were chosen using the purposive sampling technique. The linguistic phenomena was analyzed using the pragmatic approach. The data camprised the oral data obtained from the conversation between the vendors and the buyers in the selling-buying interaction. The data were collected using the method of observation through the techniques of recording and noting. The classified data were then analyzed descriptively and qualitatively. The results showed that (1) the use of the seller speech mode consists of modes declarative, interrogative mode, and the imperative mood. Interrogative mode is used to ask the seller as well invite shoppers to browse and select items they need. Seller declarative mode is used to maintain prices (reject) the buyer's bid by way of mentioning the source and price of goods. Seller imperative mood used to persuade buyers to try every item offered by a seller. Furthermore, the use of speech mode consists of modes buyer declarative, interrogative mode, and the imperative mood. Declarative mode is used buyers in an attempt to bargain the price of goods in a way to convey that he is a subscription often buy goods sold sellers. Modus interrogative used buyers to ask at once aimed at bargain prices, while the imperative mood used buyers who aimed ask the seller to reduce the price of goods according to buyer demand.              Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan modus tindak tutur penjual dan pembeli di pasar tradisional Kota Baubau. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Fenomena kebahasaan dikaji dengan pendekatan pragmatik. Data penelitian berupa data lisan yang bersumber dari percakapan penjual dan pembeli dalam transaksi jual-beli. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak melalui teknik rekam dan catat. Data yang telah diklasifikasi, dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan modus tuturan penjual terdiri atas modus deklaratif, modus interogatif, dan modus imperatif. Modus interogatif penjual digunakan untuk menanyakan sekaligus mempersilakan pembeli untuk mencari dan memilih barang yang dibutuhkannya. Modus deklaratif penjual digunakan untuk mempertahankan harga (menolak) tawaran pembeli dengan cara menyebutkan sumber dan harga barang. Modus imperatif penjual digunakan untuk membujuk pembeli agar mencoba tiap-tiap barang yang ditawarkan oleh penjual. Selanjutnya, penggunaan modus tuturan pembeli terdiri atas modus deklaratif, modus interogatif, dan modus imperatif. Modus deklaratif digunakan pembeli sebagai upaya menawar harga barang dengan cara menyampaikan bahwa dirinya merupakan langganan yang sering membeli barang yang dijajakan penjual. Modus interogatif digunakan pembeli untuk bertanya sekaligus bertujuan menawar harga, sedangkan modus imperatif digunakan pembeli yang bertujuan meminta penjual agar mengurangi harga barang sesuai permintaan pembeli.
PENGGUNAAN CAMPUR KODE DAN ALIH KODE DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SMPN UBUNG PULAU BURU [The Use of Mixing Code and Switching Code in Learning Process at SMPN Ubung Buru Island] Indrayani, Nanik
TOTOBUANG Vol 5, No 2 (2017): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v5i2.40

Abstract

Mixing code and  switching code are always become strategy in learning process. The aim of the research were  describing the form of  mixing code and  switching code as well as factors that caused  them at SMPN Ubung, Lilialy District, Buru Regency, Maluku. This  was qualitative descriptive research that studied the phenomenon of linguistic by sociolinguistic approach. The source of data in this research were all the speeches ofof the teachers, as well as all the students who involved in learning process that used mixing code and  switching code. Method of data collection was conducted by non-participant observation. Meanwhile, technique of collecting data was done by free conversation, recording, and noting technique. The data was analyzed by qualitative descriptive analysis technique. The results of this study revealed that the forms of  mixing code were the insertion of word, repeated word, personal pronoun, and phrase, while  switching code were independent clause, coordinative clause, and sentence. The other finding were the factors that lead to  mixing code was the influence of first language, no other equivalent, and practical. The factors that led to  switching code were  considered prestige, offsetting the students’ language skill, and teacher emotion.  mixing code and  switching code occurred in learning process at SMPN Ubung, Lilialy District, Buru Regency, Maluku, by the teachers and students from Indonesian to Ambon Malay dialect or vice versaCampur kode dan alih kode selalu dijadikan strategi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode dan alih kode serta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa campur kode dan alih kode di SMPN Ubung, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Maluku. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mengkaji fenomena kebahasaan dengan pendekatan Sosiolinguistik. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan yang digunakan guru serta semua tuturan siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran yang mengandung campur kode dan alih kode. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipasi. Sementara teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Data yang sudah diklasifikasi kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk campur kode yang berupa wujud penyisipan kata, kata ulang, kata ganti orang, dan frasa, sedangkan alih kode berwujud klausa mandiri, klausa koordinatif, dan kalimat. Temuan berikutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode yaitu pengaruh bahasa pertama, tidak ada padanan lain, dan praktis. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode yaitu dianggap prestise atau bergengsi, mengimbangi kemampuan berbahasa siswa, dan emosi guru. Campur kode dan alih kode tersebut terjadi dalam proses pembelajaran di SMPN Ubung, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Maluku, yang dilakukan guru dan siswa dari bahasa Indonesia ke dialek Melayu Ambon atau sebaliknya.
FORMASI DAN NEGOSIASI IDEOLOGI: KAJIAN HEGEMONI GRAMSCI DALAM CERPEN “SARMAN” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA ANGGREINI, HENY
TOTOBUANG Vol 7, No 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.139

Abstract

The community has the right to obtain his will - his view of life, but the situation cannot be obtained because the community is trapped by the great ideologies that are in power (dominating). Therefore, the author as a recorder - intellectuals who contested his ideology through literary works. Literary works as a unifying tool of social forces and the struggle of subordinate groups to fight political actions that offer certain ideologies. Thus, the purpose of this research is to explain the ideologies that live in society, including the dominant ideologies, which are related to the mindset and patterns of people’s behavior in literary works. This study uses a qualitative descriptive method that focuses on content analysis using the Gramsci hegemony theory. The results of this study are that Sarman figures are not counter-hegemonic over the ideology of capitalism, but through Sarman, Seno tries to negotiate that the ideology of capitalism becomes a socialist and humanist capitalist ideology, namely capitalists who view humans as dignified beings and social beings, entitled to rights which should be obtained. The relationship between the characters of Sarman and Seno, were  clearly described by the author Gumira Ajidarma, the author contests ideologies to the readers and wants to negotiate his ideologies. However, like Sarman, Seno is still trapped in the dominant group (rulers) whose ideology is capitalism. Masyarakat memiliki hak untuk memperoleh kehendaknya—pandangan hidupnya, namun situasi tersebut tidak dapat diperoleh karena masyarakat terperangkap oleh ideologi-ideologi besar yang berkuasa (mendominasi). Oleh karena itu, pengarang sebagai perekam—kaum intelektual yang mengkontestasikan ideologinya melalui karya sastra. Karya sastra sebagai alat pemersatu kekuatan-kekuatan sosial dan pertarungan kelompok subordinat untuk melakukan perlawanan terhadap tindakan politik yang menawarkan ideologi-ideologi tertentu. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah terjelaskannya ideologi-ideologi yang hidup di masyarakat, termasuk ideologi dominan, yang berkaitan dengan pola pikir dan pola perilaku masyarakat dalam karya sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berfokus pada analisis isi dengan menggunakan teori hegemoni Gramsci. Hasil penelitian ini adalah tokoh Sarman bukan counter-hegemonik atas ideologi kapitalisme, tetapi melalui Sarman, Seno mencoba untuk menegosiasikan agar ideologi kapitalisme menjadi ideologi kapitalisme yang sosialis dan humanis, yaitu kapitalis yang memandang manusia sebagai makhluk bermartabat dan makhluk sosial, berhak mendapatkan hak-hak yang seharusnya diperoleh. Keterkaitan tokoh Sarman dengan Seno Gumira Ajidarma sebagai pengarang, sangat jelas terlihat bahwa pengarang mengkontestasikan ideologi-ideologi kepada pembaca dan ingin menegosiasikan ideologi-ideologinya. Namun, seperti Sarman, Seno masih terjebak dalam kelompok dominan (penguasa) yang berideologi kapitalisme.
PERBANDINGAN POLA KONSTRUKSI POSESIF DIALEK AMBON DENGAN BAHASA INDONESIA BAKU [Comparison of Construction Possessive Pattern of Ambon Dialect with Indonesian Standard] Salamun, Taufik
TOTOBUANG Vol 7, No 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.123

Abstract

This study aims to reconstruct the possessive pattern of the Indonesian language in Ambon dialect with Indonesian standards. This research is descriptive qualitative. The data of this study were derived from the speech of the people of Ambon and surrounding cities who communicate using Ambonese dialect in Indonesian. Indonesian data was obtained from the translation of Ambonese dialects of Indonesian. This research was located in all areas of Ambon City and its surroundings. The time needed by researchers to collect data is for two weeks. The data collection method used is non-participant observation. There are two techniques used to support non-participant observation methods, namely recording and recording techniques. This study uses two ways in the process of data analysis, namely the equivalent method and the method of religion. The results of the study show that there are differences in possessive construction patterns (ownership) between Indonesian Ambon dialect and Indonesian standard. The difference is the location of the possessor and the different possessed. In the Indonesian language, Ambonese dialect, whatever the possessor category, both pronima persona, self-name, and not human, always precedes possessum. That is different from standard Indonesian, which is in the possessum construction pattern that precedes the possessor. Another difference is that the possessive construction pattern in the Ambonese dialect Indonesian language had the addition of the word pung between the possessor and possessed, whereas in standard Indonesian there is no addition. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi pola posesif bahasa Indonesia dialek Ambon dengan Indonesia baku. Penelitian ini merupakan kualitatif deskriptif. Data penelitian ini bersumber dari tuturan masyarakat Kota Ambon dan sekitarnya yang berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dialek Ambon. Data bahasa Indonesia diperoleh dari hasil terjemahan tuturan bahasa Indonesia dialek Ambon. Penelitan ini berlokasi di seluruh wilayah Kota Ambon dan sekitarnya. Waktu yang diperlukan oleh peneliti dalam mengumpulkan data adalah selama dua minggu. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi non-partisipan. Ada dua teknik yang digunakan untuk mendukung metode obeservasi non-partisipan, yaitu teknik rekam dan catat. Penelitian ini menggunakan dua metode dalam proses analisis data, yaitu metode padan dan metode agih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pola konstruksi posesif (kepemilikan) antara bahasa Indonesia dialek Ambon dengan bahasa Indonesia baku. Perbedaan tersebut adalah letak possessor dan possessum yang berbeda. Pada bahasa Indonesia dialek Ambon, apapun kategori possessor baik pronima persona, nama diri, maupun bukan manusia selalu mendahului possessum. Hal itu berbeda dengan bahasa Indonesia baku, yaitu pada pola konstruksinya possessum-lah yang mendahului possessor. Perbedaan lain adalah pola konstruksi posesif pada bahasa Indonesia dialek Ambon mendapat penambahan kata pung di antara possessor dan possessum, sedangkan pada bahasa Indonesia baku tidak mengalami penambahan.
FUNGSI PERTUTURAN DALAM TAWAR MENAWAR PAKASAM DI PASAR TRADISIONAL [The Function of the Interests Offering Pakasam in Traditional Markets] Hestiyana, -
TOTOBUANG Vol 5, No 2 (2017): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v5i2.35

Abstract

This research discussed the functions of substitution in bargaining pakasam at traditional markets   which aimed to describe its fucntions The method used  descriptive qualitative method. The data was  the speeches between sellers pakasam with buyers. In collecting the data, it used some techniques, such as: (1) observation, (2) interview, (3) simak libat cakap dan simak bebas libat cakap technique, and (4) noted technique . The results of the analysis indicated that there were five substitution functions  in bargaining pakasam at traditional markets, they were: (1)  declared information; (2) asked for an excuse ands opinion; (3) commanded , prohibited, approved and rejected; (4) apologized ; And (5) critized. In this study, the mostly found was the function of ordering. it included three categories of functions there were: (1)  commanded by ordering, (2) commanded by prohibiting, and (3) commanded by agreeing and rejecting. whilethe asking function includes two categories, : (1)  asking for reasons and (2)  asking for an opinion. Then, the declaring functiononly has one category, that was, declaring the information and  followed by appolizing and the criticizing  function. Penelitian ini membahas fungsi pertuturan dalam tawar menawar pakasam di pasar tradisional dengan tujuan untuk mendeskripsikan fungsi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data  penelitian ini merupakan tuturan-tuturan antara penjual pakasam dengan pembeli. Dalam mengumpulkan data digunakan teknik, yaitu: (1) observasi,(2) wawancara, (3) teknik simak libat cakap dan simak bebas libat cakap, dan(4) teknik catat. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat lima fungsi pertuturan dalam tawar menawar pakasam di pasar tradisional, yaitu: (1) fungsi pertuturan menyatakan informasi; (2) fungsi pertuturan menanyakan alasan dan meminta pendapat; (3) fungsi pertuturan , menyuruh, melarang, menyetujui dan menolak; (4) fungsi meminta maaf; dan (5) fungsi mengeritik. Dalam penelitian ini yang paling banyak ditemukan adalah fungsi pertuturan memerintah, yakni mencakup tiga kategori fungsi pertuturan: (1) fungsi pertuturan memerintah dengan menyuruh, (2) fungsi pertuturan memerintah dengan melarang, dan (3) fungsi pertuturan memerintah dengan menyetujui dan menolak. Diikuti fungsi pertuturan menanyakan yang mencakup dua kategori, yaitu: (1) fungsi pertuturan menanyakan dengan meminta alasan dan (2) fungsi pertuturan menanyakan dengan meminta pendapat. Kemudian, fungsi pertuturan menyatakan hanya mencakup satu kategori, yakni fungsi pertuturan menyatakan informasi serta diikuti dengan fungsi pertuturan meminta maaf dan fungsi pertuturan mengeritik.
FUNGSI MITOS DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PULAUTEMIANG, JAMBI [The Function of Myth in Pulautemiang Society’s Life, Jambi] yusanti, elva
TOTOBUANG Vol 7, No 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.141

Abstract

Myth is one of the references of the Pulautemiang society, Jambi, in their activities and socialization. The myths believed by the society generally are related to the traditions of pregnancy, birth, community, and religion. This study aims to describe the function of myth for the people of Pulautemiang, Jambi. This research used qualitative method and also myth theory proposed by Bastian and Mitchell. According to Bastian and Mitchell, the function of myth consists of primary function which is related to social and cultural system and secondary function which is related to unlogical things.  The result of the study shows that myth functions as social and ritual means, as well as healing and renewal. Mitos menjadi salah satu acuan masyarakat Pulautemiang, Jambi, dalam beraktivitas dan bersosialisasi. Mitos yang diyakini umumnya berkaitan dengan tradisi kehamilan, kelahiran, kemasyarakatan, dan keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi mitos bagi masyarakat Pulautemiang, Jambi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta memanfaatkan teori mitos yang dikemukakan Bastian dan Mitchell. Menurut Bastian dan Mitchell, fungsi mitos terdiri atas fungsi primer yang berkaitan dengan sistem sosial dan budaya, serta fungsi sekunder yang berkaitan dengan hal-hal di luar logika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos berfungsi sebagai sarana sosial dan ritual, serta sarana penyembuhan dan pembaruan.  
ANALISIS STRUKTUR KAMUS DWIBAHASA LAMPUNG—INDONESIA [Structural Analysis of The Lampung—Indonesian Bilingual Dictionary] zawarnis, yulfi
TOTOBUANG Vol 7, No 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.121

Abstract

This paper is the result of an analysis of the structure of the Lampung-Indonesian bilingual dictionary. The data is examined by a number of entries in the Bilingual Lampung Dictionary - Indonesia. The method used is a descriptive analytical qualitative method with an objective approach that aims to provide an overview of reality in the object studied. Data were analyzed based on groups of data adjusted for type and type of error. The results of the analysis show that the Lampung-Indonesian Bilingual Dictionary published by the Lampung Province Language Office in 2009 still needs to be revised. Things that must be present, not yet appropriate, or need to be omitted in the dictionary are the inclusion of word classes, phonetic symbol omissions, uniformity of defining systems, and uniformity of writing symbols of sound / kh / and / gh / to / r /. In addition, the entries contained in the dictionary are still very limited in number. Based on the results of the analysis, it can be concluded that the Lampung Bilingual Dictionary - Indonesia still requires revisions so that benefits can be felt. Makalah ini merupakan hasil analisis terhadap struktur Kamus Dwibahasa Lampung—Indonesia. Data yang dikaji sejumlah lema yang terdapat dalam Kamus Dwibahasa Lampung—Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif analitik dengan pendekatan objektif yang bertujuan memberikan gambaran tentang realitas pada objek yag diteliti. Data dianalisis berdasarkan kelompok data yang disesuaikan dengan tipe dan jenis kesalahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kamus Dwibahasa Lampung—Indonesia yang diterbitkan oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung pada tahun 2009 masih perlu direvisi. Hal-hal yang harus harus ada, belum sesuai, atau perlu dihilangkan dalam kamus tersebut adalah pencantuman kelas kata, penghilangan lambang fonetik, penyeragaman sistem pendefinisian, dan penyeragaman penulisan lambang bunyi /kh/ dan /gh/ menjadi /r/. Selain itu, lema yang terdapat dalam kamus tersebut masih sangat terbatas jumlahnya. Berdasarkan hasil analisis tersebut disimpulkan bahwa Kamus Dwibahasa Lampung—Indonesia masih memerlukan revisi agar dapat lebih dirasakan manfaatnya
KEEFEKTIFAN MODEL EXPERIENTIAL LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI NARATIF SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 DUA PITUE KABUPATEN SIDRAP [The Effectiveness of The Experiential Learning Model in Writing Learning The Narrative Point of The VIII Class Student of The 2 Dua Pitue Kabupaten Sidrap] Irmawati, A.
TOTOBUANG Vol 7, No 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.113

Abstract

The Effectiveness of the Experiential Learning Model in Narrative Poetry Writing Learning in Second Pitue State Middle School 2 Sidrap Regency. This study aims to find out (1) the results of applying the model Experiential Learning in learning to write narrative poetry, (2) the results of application without using the model Experiential Learning in learning to write narrative poetry, (3) the effectiveness of the Experiential Learning model in writing narrative poetry of SMP Negeri 2 Dua Pitue, Sidrap Regency. The research design used is experimental. The population of this study was all eighth grade students of State Middle School 2 Dua Pitue Kabupaten Sidrap. The study sample consisted of two groups, namely grade students as a class experiment VIII.2 and VIII.3 class as a class kontrol. Sampling in this study using purposive sampling, meaning that the determination of the sample is done intentionally with the amount determined in accordance with the needs of the analysis. The technique used to determine this research data is a written test. Data analysis techniques use descriptive statistical techniques and inferential statistics. The results showed that (1) the application of the model   had a significant effect seen from the pretest to posttest, namely the average value of the pretest was 64 to 80.74 after the posttest, ie an average value of 16.74, (2) the results of the application without using the model Experiential Learning shows the results of the average value pretest of 61.63 and becomes 71.59 after the posttest with an increase of 9.96, (3) the test of data analysis using Independent Sample T-tes shows the acquisition of p= 0,000 because p α α = 0.05 in degrees of freedom 44, then H which states the effectiveness of the application of models Experiential Learning in learning to write student narrative poetry is accepted. The results of this study conclude that the use of the Experiential Learning model is effective in learning to write narrative poetry in SMP Negeri 2 Dua Pitue, Sidrap Regency.  Keefektifan Model Experiential Learning dalam Pembelajaran Menulis Puisi Naratif SMP Negeri 2 Dua Pitue Kabupaten Sidrap. Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) hasil penerapan model Experiential Learning dalam pembelajaran menulis puisi naratif, (2) hasil penerapan tanpa menggunakan model Experiential Learning dalam pembelajaran menulis puisi naratif, (3) keefektifan model Experiential Learning dalam menulis puisi naratif siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Dua Pitue Kabupaten Sidrap. Desain penelitian yang digunakan bersifat eksperimen. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Dua Pitue Kabupaten Sidrap. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok, yaitu siswa kelas VIII.2 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII.3 sebagai kelas control. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, artinya penentuan sampel dilakukan secara sengaja dengan jumlah yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan analisis. Teknik yang digunakan untuk menentukan data penelitian ini adalah tes tertulis. Teknik analisis data menggunakan teknik statistika deskriptif dan statistika inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan model Experiential Learning berpengaruh signifikan dilihat dari nilai tes awal ke tes akhir yakni nilai rata-rata tes awal sebesar 64 menjadi 80,74 setelah dilakukan tes akhir, yakni nilai rata-rata sebesar 16,74, (2) hasil penerapan tanpa menggunakan model Experiential Learning menunjukkan hasil nilai rata-rata tes awal sebesar 61,63 dan menjadi 71,59 setelah dilakukan tes akhir dengan peningkatan sebesar 9,96, (3) uji analisis data dengan menggunakan Independent Sample T-tes menunjukkan perolehan nilai p=0,000 karena p ≤ α =0,05 pada derajat kebebasan 44, maka H yang menyatakan keefektifan terhadap penerapan model Experiential Learning dalam pembelajaran menulis puisi naratif siswa diterima. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan model Experiential Learning efektif dalam pembelajaran menulis puisi naratif SMP Negeri 2 Dua Pitue Kabupaten Sidrap.