TOTOBUANG
Published by Kantor Bahasa Maluku
Totobuang is a journal that publish results of research or conceptual idea in linguistics and literary studies, also aspects of teaching. Totobuang is published twice a year, on June and December. Totobuang editors accept article submission from researchers, experts, academician, and teachers of language and literature.
Articles
55
Articles
REMAJA KERING DALAM PEMBACAAN DURUM [Lonely Teenagers in “Durum” Reading]

Nurfaidah, Resti

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.409 KB)

Abstract

This article entitled "The exhaustic Adolescent on Durum Reading". Durum is one of the compulsary scripts in Festival Drama Sunda Basa 2017. Durum is a massive script - solid in  characters  and content of the story-. The script conveys factors that cause conflict in teenagers life and the impact that occurs due the losing thefamily’s ideality  . The identification problem in this artical was just focused on adolencent’s conflict and family along its impact against himself/herself and their surroundings. The purpose of this study  revealed the background of their conflict through the symbolof each sceneand their psychological aspects This artical used semiotics of John Fiske and developmental psychology of Hurlock as its theoretical concepts.  Anyway, the research method used qualitative with descriptive analysis. The results showed that there were intergenerational gap among adolescents with all their contemporary values with the older generation and social values that wer considered as an old-fashioned; lossing of closeness and harmonious communication between parent and adolescent, as well as between parents themselves; the high pressure of hedonistic and materialistic life; also an individualist lifestyle that no longer understood the meaning of understanding and caring among people. The exhaustic adolescent represented family and environtmental disharmony.Artikel ini berjudul “Remaja Kering dalam Pembacaan Durum”. Durum merupakan salah satu naskah unggulan dalam Festival Drama Basa Sunda 2017. Durum merupakan naskah yang masif (padat dalam pemeranan dan muatan cerita). Naskah tersebut menyampaikan faktor-faktor penyebab timbulnya konflik dalam kehidupan remaja dan dampak yang terjadi akibat kehilangan idealitas di dalam lingkungan keluarga. Identifikasi masalah dalam artikel ini dibatasi pada konflik remaja dan lingkungan keluarganya serta dampaknya terhadap diri si remaja maupun lingkungan di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan latar terjadinya konflik remaja melalui telaah pada simbol adegan serta aspek psikologis remaja. Konsep teoretis yang digunakan dalam artikel ini adalah semiotika John Fiske dan psikologi perkembangan Hurlock. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan analisis deskriptif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian tersebut adalah adanya kesenjangan antargenerasi: antara remaja dengan segala nilai kontemporernya dengan generasi tua dan nilai-nilai sosial yang dianggap kolot; hilangnya kedekatan dan komunikasi harmonis antara orangtua dan remaja, serta antarorang tua sendiri; tekanan kehidupan hedonistis dan materialistis yang cukup tinggi; pola hidup individualis yang tidak lagi memahami arti pengertian dan kepedulian antarsesama manusia. Remaja kering merupakan bukti atas ketidakharmonisan keluarga dan lingkungan setempat.

STRATEGI PENANGANAN SOAL UKBI MENURUT DIMENSI SOAL FAKTUAL [Strategies of UKBI Question Management Based on Dimension of Factual Question]

Sumarsih, Nanik

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.264 KB)

Abstract

This study discussed about the  skill level of junior and senior high school teachers at Yogyakarta in answering the factually UKBI and  handled question strategy according to  factual question dimension.This research used descriptive quantitative approach.The research aimed to determine the good or poor language-level of the educators  which had been measured by UKBI. Therefore, the result of this study wa  originally presented by considering its productivity.The research  followed several steps, they were: (1) collecting and classifying of data, (2) analysing data, (3) presenting analysis result.The ability of junior and senior high school teachers at DIY in answeingr factual question was  81%. Based on the character of factual question,the strategy that should be used was that  applying 5W 1H strategy (who, what, where, when, why, and how)_. This strategy can be described as follows: Who is asking about a person as doer. What is asking about an event that happens. Where is asking about where an event takes place. When is asking time when an event happens. Why is asking about reason why it happens. How is asking how an event happens.Kajian ini membahas tingkat kemahiran guru SLTP dan SLTA di Yogyakarta dalam menjawab soal UKBI yang bersifat faktual beserta strategi penanganan soal menurut dimensi soal faktual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan baik buruk kemampuan berbahasa pendidik yang diukur berdasarkan UKBI. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memaparkan apa adanya dengan mempertimbangkan produktivitasnya. Langkah penelitian mengikuti tahapan sebagai berikut. Pertama, pencarian dan klasifikasi data. Kedua, analisis data. Ketiga, penyampaian hasil analisis. Kemampuan  guru SLTP dan SLTA di DIY dalam menjawab soal yang bersifat faktual masing-masing adalah 81%. Berdasarkan sifat soal faktual, strategi yang dapat digunakan untuk menjawab bentuk penyoalan ini adalah  5W 1H (who, what, where, when, why, dan how)_ Strategi ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Who ialah tentang siapa? What, apa yang terjadi? Where, di mana peristiwa itu terjadi, when, kapan hal itu terjadi? Why, mengapa hal itu terjadi? How, bagaimana hal itu terjadi?

KONSTRUKSI SOSIAL PEPATAH TRADISIONAL DAN ATURAN ADAT UNTUK KESEIMBANGAN EKOLOGI [Social Construction of Traditional Proverb and Customary Law For Balancing Ecology]

Susamto, Dina Amalia

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.019 KB)

Abstract

Traditional proverb is a language expression that is used as a tool to legitimize knowledge in a society. Lombok people have local knowledge that came from proverb and customary law that solved the  ecology’s problem that increase today. Language ass traditional proverbs and customary law are used as the tools to construct people’s thought toward social awareness through internalization . The study aimed to analyze the proverb and costumary law which has used as the tools to construct social awareness. The study also  discussed  about kinds of traditional proverbs and customary law and their appearance, how the social contruction which related to ecology could construct people’s  awareness in west  Nusa Tenggara through proverbs and customary law, and how individual and society practiced their culture, such as keeping ecology, after internalizing the values. . The results showed that  the change of social structure that caused by the change of dinamical power  had contributed to knowledge and   people’s awareness of the environment. Language was the representative of  the symbolical legitimation of the law  which was expressed in  traditional proverbs and custamry law. These proverbs and customary law are used to construct  people’s awareness from generation to generation through internalizing the values.Pepatah tradisional merupakan ekspresi berbahasa yang menjadi sarana dalam legitimasi pengetahuan  masyarakat.  Masyarakat Lombok memiliki pengetahuan lokal yang berasal dari pepatah tradisional dan hukum adat yang dapat mengatasi masalah-masalah ekologi yang kini semakin meningkat . Bahasa dalam ungkapan tradisional dan hukum adat digunakan sebagai alat untuk mengonstruksi pola pikir masyarakat terhadap kesadaran sosial melalui  proses internalisasi . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pepatah tradisional dan hukum adat yang digunakan sebagai  alat untuk mengonstruksi  kesadaran sosial. Permasalahan yang dibahas adalah pepatah tradisional dan hukum adat apa saja yang muncul dan bagaimana konteks kelahirannya, bagaimana konstruksi sosial yang berhubungan dengan ekologi bekerja   melalui ungkapan tradisional dan  hukum adat untuk membentuk kesadaran masyarakat Nusa Tenggara Barat, dan bagaimana  praktek budaya, dalam diri individu dan masyarakat, seperti menjaga ekologi di Nusa Tenggara Barat,  setelah  nilai-nilai itu terinternalisasi. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa struktur sosial yang berubah di masyarakat sebagai akibat dari dinamika kekuasaan yang berubah telah berkontribusi terhadap  pengetahuan dan membentuk kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup. Bahasa merupakan representasi simbol legitimasi aturan masyarakat yang muncul dalam pepatah tradisional dan hukum adat. Pepatah tradisional dan hukum adat digunakan untuk mengonstruksi kesadaran masyarakat  dari generasi ke generasi melalui proses internalisasi nilai.

TUTURAN EMOSI MAHASISWA KOTA BAUBAU DALAM RANAH DEMONSTRASI [Emotional Speech of The Students in Baubau City in The Demonstration]

iye, risman

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.378 KB)

Abstract

The variation of emotional utterances of the demonstrators  rose the negative public attachments to the demonstration. This study aimed to explain: the form and type of emotional speech of Baubau City students in the realdemonstration. This research wa  qualitative research. The Sampling were taken purposively. Oral data was collected by using the free-of-cognate method, documentation techniques, and notes. Data were analyzed with Searles speech-actg theory and Golemans theory. The result of the research showed that the form and type of emotional speech of Baubau city students in demonstration were four: words, phrases, sentences and idoms. Meanwhile, the types of emotional speech of Baubau City students in demonstration were anger, sadness, fearlessness, pleasure, and annoyance. Variasi tuturan emosi para demonstran memunculkan prasangka negatif masyarakat terhadap demonstrasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan:  bentuk dan jenis tuturan emosi mahasiswa Kota Baubau dalam ranah demonstrasi; Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif. Data lisan dikumpullkan menggunakan metode simak bebas cakap, teknik dokumentasi, dan catat. Data dianalisis dengan teori tindak tutur Searle dan teori Goleman. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk  tuturan emosi mahasiswa kota Baubau dalam ranah demonstrasi ada empat, yaitu kata, frasa, kalimat dan ungkapan Selanjutnya, jenis tuturan emosi mahasiswa Kota Baubau dalam ranah demonstrasi, yakni kemarahan, kesedihan, ketakutan, kenikmatan, dan kejengkelan.

HOMONIM BAHASA KEPULAUAN TUKANG BESI DIALEK KALEDUPA DI KABUPATEN WAKATOBI [The Homonymon of Tukang Besi Island languange in Kaledupa Dialect at Wakatobi Regency]

susiati, Susiati

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.473 KB)

Abstract

This study aimed to describe the form of word classes that was deeply conformed in the  Tukang Besi Island languange, Kaledupa dialect at Wakatobi Regency. This research method was qualitative descriptive method. The data source was taken from the native speakers  of Tukang Besi Island language, Kaledupa dialect and it was in oral data. Methods and techniques of data collection were observation methods with participantive observation techniques, recording , and noting techniques. Data analysis techniques were data selection, data classification, meaning, and data analysis. The results proved that the form ofhomonimic word class in  Tukang Besi Island languange, Kaledupan dialect were adjectives with nouns, nouns with nouns, verbs with adjectives, verbs with nouns, nouns with numerals, verbs with verbs, verbs with adverbs, particles with nouns. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud kelas kata yang berhomonim dalam Bahasa Kepulauan Tukang Besi Dialek Kaledupa di Kabupaten Wakatobi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber datanya diambil dari para penutur asli bahasa Kepulauan Tukang Besi Dialek Kaledupa dan jenis datanya berupa data lisan. Metode dan teknik pengumpulan data, yaitu metode observasi dengan teknik observasi partisipatif, teknik rekam, dan teknik catat. Teknik analisis data, yaitu penyeleksian data, pengklasifikasian data, pemaknaan, dan penganalisisan data. Hasil penelitian membuktikan bahwa wujud kelas kata yang berhomonim dalam bahasa Kelupauan Tukang Besi Dialek Kaledupa, yaitu adjektiva dengan nomina, nomina dengan nomina, verba dengan adjektiva, verba dengan nomina, nomina dengan numeralia, verba dengan verba, verba dengan adverbia, dan partikel dengan nomina.

STRATEGI RESPONS PUJIAN YANG DIGUNAKAN ORANG AMERIKA DAN ORANG BUGIS [Strategies Used by Americans and Buginese in a Complimentary Respondent]

Hasyari, Mutmainnah

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.054 KB)

Abstract

Americans and Buginese have the strategies to respond the compliment which are different from the theory that proposed by linguists. The aims of this research were (1)  addressing types of strategies used by the Americans and Buginese to respond the compliments based on gender; and (2)  disclosing the effect of complimentary responses in American and Buginese culture. The research data consist of English and Buginese language. Data on English language were taken from the you tube that contained the  strategies used by Americans to respond the compliment, while Buginese data were gathered from the field by  recording  DCT questionnaire. Both types of data were analyzed by using descriptive qualitative. The result of research showed that (1) complimentary responded strategies used by American and Buginese were applying the complimentary responded category of Holmes (1988, 1993). Other wise, the types of the complimetary respond that used by Buginese, such as joke and social norm did not  appeart in this theory. Both American males and females tended to respond the compliments by acceptance, while females Buginese tended to accept the compliments by showing solidarity between interlocutor and reject the compliment to avoid self-praise. Males Buginese tended to accept jokes not  compliments in. (2) the exsistance of Culture played important roles to respond the compliments to nor the Americans orBuginese. The Americans responded the compliments with simple answers and accepted them as the princip of informality and equality. Buginese prefered to respond the compliments with other compliment or  inferiority  because they were leaning on the  principle known as ‘sipakatau’, sipakalebbi’, and ‘sipakainge’. Dalam merespons pujian, orang Amerika dan orang Bugis memiliki strategi yang berbeda dengan teori yang telah diusulkan para ahli. Penelitian ini bertujuan (1) menunjukkan jenis strategi yang digunakan oleh orang Amerika dan orang Bugis dalam merespons pujian berdasarkan jenis kelamin dan (2) mengungkapkan  pengaruh budaya  orang Amerika dan orang Bugis ketika merespons pujian. Data penelitian terdiri atas bahasa Inggris dan bahasa Bugis. Data bahasa Inggris diambil dari video youtube yang mengandung kalimat respons pujian oleh orang Amerika.  Sementara data bahasa Bugis diambil dari lapangan melalui proses rekaman dan kuesioner DCT. Kedua data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) respons pujian  oleh orang Amerika dan orang Bugis masih mengaplikasikan kategori respons pujian dari Holmes (1988, 1993) Namun, di sisi lain terdapat tipe respons pujian bahasa Bugis yang tidak dijelaskan dalam teori, yaitu tipe bergurau dan norma sosial. Baik laki- laki maupun perempuan Amerika lebih cenderung  merespons pujian dengan tipe menerima, sedangkan perempuan Bugis lebih cenderung menerima untuk menunjukan solidaritas terhadap mitra tutur dan menolak pujian untuk menghindari sikap meninggikan diri. Sementara laki- laki Bugis cenderung bergurau daripada menerima pujian. Laki- laki Bugis juga cenderung menolak pujian. (2) Kehadiran budaya sangat berpengaruh dalam merespons pujian, baik oleh orang Amerika maupun orang Bugis. Orang Amerika merepons pujian dengan jawaban sederhana dan cenderung menerima pujian karena mereka berpegang pada prinsip informal dan kesetaraan, tetapi orang Bugis cenderung merespons pujian dengan kembali memuji atau dengan merendah diri karena mereka bersandar pada prinsip yang mereka sebut sipakatau, sipakalebbi,dan sipakainge.

KEMAMPUAN MENULIS TEKS PIDATO BERBAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 3 WAEAPO [The Ability of Writing Indonesian Speech at SMA Negeri 3 Waeapo]

Indrayani, Nanik

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.452 KB)

Abstract

Writing speech is one of the students’favorite subjects at SMA Negeri 3 Waeapo, Pulau Buru. This study aimed to describe the students’ capability in writing Indonesia speech. This research was classified as Classroom Action Research. The population of this study were 44 students of two classes of Class XII. Obtaining the  accurated data,  this research used written test suchas writting the speech text by using ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar’ with theme that had been determined by the researcher. Then, the collected data would be analyzed by using descriptive quantitative. The results showed that only one of 44 students got less then 65. Thus, it can be concluded that students of Class XII of SMA Negeri 3 Waeapo Pulau Buru had capability to write the speech texts by using ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar’ and achieving the completeness criteria by reaching more than 67 percent. This also could be seen in the score of other 43 students who got more than 65.Penulisan  pidato merupakan salah satu mata pelajaran yang digemari  sebagian siswa di SMA Negeri 3 Waeapo, Pulau Buru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa kelas XII dalam menulis pidato berbahasa Indonesia. Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Populasi penelitian ini adalah siswa Kelas XII SMA Negeri 3 Waeapo Buru, yang terdiri atas dua kelas dan berjumlah 44 siswa. Untuk mendapatkan data yang akurat, penelitian ini menggunakan tes tertulis berupa teks pidato, dengan tema yang ditetapkan oleh peneliti, dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa hanya 1 di antara 44 siswa yang dijadikan sampel penelitian memperoleh nilai di bawah 65. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa Kelas XII SMA Negeri 3 Waeapo Pulau Buru telah mampu menulis pidato dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan sebanyak 67 persen. Hal ini juga dibuktikan dengan perolehan nilai yang mencapai 65 ke atas yang diperoleh 43 siswa.

ANALISIS STILISTIKA SENO GUMIRA AJIDARMA DALAM CERPEN REMBULAN DALAM CAPUCINO: KAJIAN POSTMODERNISME JEAN FRANCOIS LYOTARD [Seno Gumira Ajidarma’s Literary Stylistics in “A Short Story Rembulan dalam Capucino”: A Study of Jean Francois Lyotard Postmodernism]

Prihantono, Kahar Dwi

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.291 KB)

Abstract

The research analyzes literary stylistics of Seno Gumira Ajidarma’s short story, "Rembulan dalam Capucino ",by taking advantages of Lyotard’s postmodernismperspectives. By applying andescriptive method, the writer found postmodern storytelling stylistics involving at least seven postmodern styles, namely  fragmentation, sublim language play, pastiche, parody, kitsch, camp, and schizophrenia. Fragmentation wasfound in the style of merging separate fragments of rembulan and creating its new meanings.Sublime language play was seen on SGA trials to change something impossible to be possible. Pastiche style was seen in the quotation of Pablo Nerudas poem which expressed it took a glance to love someone and it took a very long time to forget someone. Parodic style was seen inthe exchange of “moon” for “soto Betawi” in Italian restaurant. Camp appeared in the elimination of characters’ names as in common short stories. Schizophrenia arose at SGAs story about a“moon”(rembulan) that could serve as a sign or symbol of shifted meaning between the marker and the mark. When the established meaning of the “moon”(rembulan) referred to the celestial bodies which surround the earth, shine at night by the reflection of the sun and night beauty, SGA shifted its meaning as a burden of forgetting someone.Penelitian ini menganalisis stilistika sastra Seno Gumira Ajidarma (SGA) dalam cerita pendek “Rembulan dalam Capucino” dari sudut pandang postmodern Lyotard. Dengan menggunakan metode deskriptif, penulis menemukan kepostmodernan gaya SGA yang melibatkan sekurang-kurangnya tujuh gaya postmodernisme, yakni fragmentasi, permainan bahasa yang sublim, pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia. Gaya fragmentasi terlihat pada gaya penggabungan sejumlah fragmen terpisah tentang rembulan sehingga menciptakan makna baru. Permainan bahasa yang sublim tampak pada permainan SGA mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Gaya pastiche terlihat pada pengutipan puisi Pablo Neruda yang menceritakan singkatnya mencintai seseorang dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melupakan seseorang. Gaya parodi terlihat pada penukaran rembulan dengan soto Betawi di restoran Italia. Gaya kitsch, Gaya camp muncul pada peniadaan nama-nama tokoh selayaknya cerpen kebanyakan. Gaya skizofrenia muncul pada pengisahan SGA mengenai rembulan yang dapat dijadikansebagai tanda atau simbol makna yangbergeser antara penanda danpetandanya. Ketika makna rembulan yang telah mapan mengacu pada ‘benda langit yg mengitari bumi, bersinar pada malam hari karena pantulan sinar matahari’ dan ‘kecantikan malam’, SGA menggeser maknanya sebagai sebuah beban melupakan seseorang.

KAJIAN LATAR FISIK DAN LATAR SOSIAL YANG TERCERMIN DALAM NOVEL PERTEMUAN DUA HATI KARYA NH. DINI [A review of the physical background and social setting that is reflected in the novel of "Pertemuan Dua Hati" by NH. DINI]

Sakila, -, Sakila, -

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.575 KB)

Abstract

The purpose of this study commonly   described about the background of the  Pertemuan Dua Hati novel and specifically interpreted its  physical background and social setting . The research used descriptive method with qualitative research model. The research approach was using structural approach. The source of the data was taken  from a novel entitled Pertemuan Dua Hati by Nh. Dini which had been published by PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, in 1992, the sixth printing, and consists of 85 pages. Based on the analysis, it concluded that the physical setting that  presented by the author was quite well. This can be seen from the description of the house and the area. Furthermore, the social background that presented by the author  was good enough. It has been explanated from the conditional   economy, the views of life and the attitude of the character.Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mendeskripsikan latar dalam novel Pertemuan Dua Hati, sedangkan secara khusus untuk menginterpretasikan latar fisik dan latar sosial novel tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan model penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan struktural. Sumber datanya berasal dari novel yang berjudul Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 1992, cetakan keenam, dan terdiri dari 85 halaman. Berdasarkan hasil analisis terhadap novel tersebut, latar fisik yang disajikan pengarang cukup baik. Hal ini terlihat dari keterangan mengenai rumah dan daerah. Selanjutnya, latar sosial yang disajikan pengarang cukup baik. Hal ini terlihat dari pemaparan tentang keadaan ekonomi, pandangan hidup, dan sikap hidup tokoh.

RELASI KEKERABATAN BAHASA HITU, WAKAL, MORELA, MAMALA, DAN HILA DI PROVINSI MALUKU [The Family Relationship Language Hitu, Wakal, Morela, Mamala, and Hila in Maluku Province]

Salamun, Taufik

TOTOBUANG Vol 6, No 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : TOTOBUANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.08 KB)

Abstract

This study aimed to describe the   cognate words based on the determined criterion of  relative word and determine the percentage of kinship towords Hitu, Wakal, Morela, Mamala, and Hila language. This study used descriptive qualitative and quantitative approach. The data were collected through interview techniques and field note method. The data that had been obtained were classified and described qualitatively and quantitatively by using calculational lexicostatistic  formula. The results showed that the pair of relative word  in the language of Hitu, Wakal, Morela, Mamala, and Hila could  be reviewed by the pairs of identical, correspondences phonemic, phonetic resemblance, a different phoneme, and deleted phonemes. Based on the calculational lexicostatistic , the percentage of Hitu-Hila language kinship was in the highest level of kinship, which wa 90% and had been categorized as a dialect . While the lowest percentage of kinship wasWakal-Morela with the percentage of kinship about 77% and had been categorized as sub-family language.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata-kata kognat berdasarkan kriteria penentuan kata kerabat dan menentukan tingkat persentase kekerabatan bahasa Hitu, Wakal, Morela, Mamala, dan Hila. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui metode pupuan lapangan dengan teknik wawancara dan catat. Data yang telah diperoleh kemudian diklasifikasi dan selanjutnya dideskripsikan secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan rumus perhitungan leksikostatistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan kata kerabat pada bahasa Hitu, Wakal, Morela, Mamala, dan Hila dapat ditinjau berdasarkan pasangan kata identik, korespondensi fonemis, kemiripan secara fonetis, satu fonem beda, dan pelesapan fonem. Berdasarkan perhitungan leksikostatistik, persentase kekerabatan bahasa Hitu-Hila menduduki tingkat kekerabatan tertinggi, yaitu 90% dan dikategorikan sebagai satu bahasa dialek. Sedangkan persentase kekerabatan terendah, yaitu bahasa Wakal-Morela dengan persentase kekerabatan sebesar 77% dan dikategorikan sebagai subkeluarga bahasa.