cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan
ISSN : 19799187     EISSN : 25282751     DOI : -
Core Subject : Economy,
First published in 2007, Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan (BILP) is a scientific journal published by the Trade Analysis dan Development Agency (Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan - BPPP), Ministry of Trade, Republic of Indonesia. This bulletin is expected to be a media of dissemination and analysis of research results to be used as references for academics, practitioners, policy-makers, and the general public. In collaboration with professional associations, The Indonesian Society of Agricultural Economics (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - PERHEPI), BILP publishes research reports and analysis of trade sector and/or sector-related trade which have not been published in any other journals/scholarly publications, either in Bahasa Indonesia or English. Publishing twice a year in July and December, this Bulletin is directly disseminated to stakeholders both in print and online.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 1 (2012)" : 7 Documents clear
DAMPAK KEBIJAKAN BEA KELUAR TERHADAP EKSPOR DAN INDUSTRI PENGOLAHAN KAKAO Syadullah, Makmun
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v6i1.138

Abstract

Analisis ekspor kakao dan perkembangan industri kakao sebelum dan sesudah diterapkannya pajak ekspor dilakukan dengan pendekatan analisis deskriptif. Data yang digunakan dalam analisis adalah data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik. Dalam rangka mendorong perkembangan industri pengolahan kakao, pada tahun 2010 pemerintah memberlakukan kebijakan pajak ekspor biji kakao. Kebijakan ini bertujuan untuk menghambat ekspor biji kakao dan untuk meningkatkan pasokan biji kakao industri dalam negeri. Data menunjukkan bahwa setelah pemberlakuan bea keluar, ekspor biji kakao mengalami penurunan dan jumlah perusahaan pengolahan kakao mengalami peningkatan. Namun demikian, industri pengolahan kakao belum beroperasi dalam kapasitas penuh. Rendahnya kualitas biji kakao yang diproduksi di Indonesia merupakan faktor utamanya. Untuk itu direkomendasikan agar pendapatan pemerintah dari bea keluar ekspor biji kakao dimanfaatkan kembali untuk pembinaan petani dalam meningkatkan kualitas biji kakao. The study uses a descriptive analysis in comparing cocoa exports and development of the cocoa industry before and after the imposition of export duty. The analysis is based on the secondary data taken from the Central Agency of Statistics.To foster the development of the cocoa processing industry, in 2010 the government has issued a policy to impose export duties on the export of cocoa beans. This policy is aimed to hamper cocoa beans export and to boost cocoa beans supply to domestic industry. The available information shows that after its imposition there has been a decline in cocoa export and an increase the number of cocoa processing companies. However, the cocoa processing industry has not yet operated in its full capacity. This is caused by the low quality of cocoa beans produced in Indonesia. It is then recommended that the government’s revenue from cocoa beans export should be returned back to farmers in improving the quality of cocoa beans. By doing so, the farmer will be compensated by the government in the form of improved and adequate infrastructure in the production center of cocoa beans, as well as provision of higher quality seeds and better counseling.
KINERJA DAYA SAING PRODUK PERIKANAN INDONESIA DI PASAR GLOBAL Natalia, Deasi; Nurozy, .
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v6i1.139

Abstract

Di pasar perikanan dunia, Indonesia merupakan salah satu negara eksportir utama. Selama tahun 2005-2009, volume ekspor ikan dan udang dari Indonesia menurun masing-masing sebesar 1,9% dan 3,7% per tahun. Kajian ini bertujuan untuk melihat apakah penurunan tersebut disebabkan oleh daya saing yang rendah atau faktor lain. Penelitian ini menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA), yang merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif komoditas di pasar tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 2007-2009 ada 46 komoditas perikanan dalam HS 6-digit yang memiliki indeks RCA lebih besar dari satu, yang menunjukkan daya saing kuat di pasar internasional. Beberapa diantaranya bahkan mengalami peningkatan daya saing. Sementara itu, beberapa komoditas memiliki daya saing yang cenderung menurun dan berfluktuasi. Sisanya sekitar 71 komoditas memiliki daya saing lemah (RCA indeks lebih kecil dari satu). Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing yang ada, perlu beberapa usaha seperti promosi di pasar domestik maupun pasar internasional; meningkatkan kualitas; mendorong dunia perbankan untuk meningkatkan akses ke modal kerja; memperbaiki infrastruktur; menciptakan nilai tambah dalam pengembangan produk; serta mengurangi tarif bahan baku untuk industri pengolahan ikan dalam negeri. In the global fisheries market, Indonesia is one of the main exporters. During 2005-2009, the export volumes of fish and shrimp of Indonesia declined by 1.9% and 3.7% per year respectively. It is necessary to investigate if the unexpected performance was caused by low and decreasing competitiveness or by other factors. This study uses the RCA Method, which is one of the methods that can be used to measure the comparative advantage of a commodity in a particular market. The results indicate that during 2007-2009 there are 46 commodities in the 6-digit HS of fisheries having the RCA index larger than one, showing their strong competitiveness in the international market. Some of them even have an increasing level of competitiveness, while some have a declining competitiveness and other commodities experienced fluctuating RCAs. The remaining 71 commodities experienced weak competitiveness (RCA index smaller than one) during 2007-2009. To improve the existing competitiveness, it is required to increase promotional campaigns, not only in domestic market but also in foreign market, improve the quality, encourage banks to increase access to working capital, improve infrastructure, encourage value-added products development, and reduce tariffs of raw material for the domestic fish processing industry.
ANALISIS DAMPAK KEBIJAKAN TARIF IMPOR SERAT KAPAS TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI SERAT KAPAS DI INDONESIA Hermawan, Iwan
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v6i1.140

Abstract

Serat kapas sebagai bahan baku utama turut mendorong perkembangan industri TPT, namun hampir seluruhnya justru diimpor. Di sisi lain Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan tanaman serat kapas. Berdasarkan fenomena tersebut, serat kapas merupakan bagian dari sistem industri nasional dan intervensi Pemerintah diharapkan dapat mengamankan penerimaan negara dan meningkatkan kemandirian terhadap serat kapas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan tarif impor terhadap kesejahteraan petani kapas di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data runtut waktu dan pendekatan persamaan simultan yang dikonstruksikan dalam model ekonomi. Hasil analisis menunjukkan (1) kebijakan menaikkan tarif impor serat kapas belum mampu meningkatkan dan mencapai target produksi yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian meskipun kebijakan ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani serat kapas di dalam negeri, (2) kombinasi kebijakan tarif impor dengan ekstensifikasi luas lahan tanaman kapas berdampak positif terhadap peningkatan produksi serat kapas di dalam negeri, meskipun memiliki dampak positif yang relatif kecil terhadap kesejahteraan petani dibanding kebijakan lainnya pada masa mendatang. Kombinasi kebijakan ini memiliki arti penting untuk mendorong poduksi serat kapas di dalam negeri, dan (3) tanpa adanya kebijakan tarif impor serat kapas, kenaikan harga dunia serat kapas mampu memberikan dampak positif yang terbesar terhadap kesejahteraan petani serat kapas di dalam negeri. Cotton is a raw material behind the rapidly expanding textile and product textile industry, which most of cotton is imported. On the other side Indonesia’a area is potential for cotton cultivation. Due to that phenomenon, cotton is part of the national industrial system and government intervention is expected to ensure budget revenues and self sufficiency. This research is to analyze the impact of impor tariff policies on cotton farmer welfare. This research uses time series data, with simultaneous model. Based on the results showed that (1) policy of raising import tariff will not increase cotton production yet that set by the Ministry of Agriculture in 2014, although it can still improve cotton farmers welfare, (2) import tariffs policy combination with an area extension of cotton give positive impact on production, despite having positive impact on farmers welfare relatively small compared to other policy in the future. Combination of this policy has significant meaning in order to encourage cotton production in the country, and (3) without any policy of import tariff which followed by incerasing of world price cotton is able to give the higest positive impacts to welfare of cotton farmers.
DEKOMPOSISI PERTUMBUHAN DAN DIVERSIFIKASI EKSPOR NON MIGAS INDONESIA Alhayat, Aditya Paramitha
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v6i1.135

Abstract

Studi ini ditujukan untuk mengetahui peran komponen pertumbuhan ekspor non migas Indonesia yang pada tahun 2010 mencatatkan pertumbuhan signifikan, sekaligus untuk menganalisis struktur ekspor. Pada dasarnya, studi ini mengikuti kajian yang dilakukan oleh Amiti dan Freud (2007) untuk mengetahui kontribusi produk baru terhadap pertumbuhan ekspor dengan menggunakan dua metode yang saling melengkapi. Metode pertama adalah dekomposisi pertumbuhan ekspor menjadi produk baru, produk menghilang, dan produk bertahan yang menyediakan informasi mengenai besarnya penciptaan dan pengurangan ekspor. Metode kedua adalah Indeks Feenstra atas varietas pertumbuhan ekspor netto yang menyediakan suatu indikasi pentingnya varietas baru dalam perdagangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor non migas Indonesia lebih ditopang oleh tingginya pertumbuhan ekspor untuk produk-produk yang telah ada sebelumnya (margin intensif) daripada produk-produk baru (margin ekstensif), terutama selama pemulihan ekonomi di tahun 2010. Selain itu, kecilnya pertumbuhan varietas netto menunjukkan kurang berpengaruhnya margin ekstensif pada pertumbuhan ekspor Indonesia. Berdasarkan wilayah, Asia masih menjadi tujuan ekspor utama yang paling tinggi menyumbang margin intensif maupun margin ekstensif. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menjaga stabilitas produk-produk ekspor yang telah ada serta memelihara pasar produk ekspor di kawasan Asia. This study aims to determine the role of export growth components of the Indonesian non oil and gas which experienced significant growth in 2010 as well as to analyze the recent export structure. Basically, the study follows the paper of Amiti and Freud (2007) which examined the contribution of new varieties to export growth using two complementary methods. The first is a decomposition of export growth into new, disappearing, and existing varieties and offers more information on the magnitude of export creation and destruction. The second is the Feenstra Index of net export variety growth which provides an indication of the importance of new varieties in trade. The results of analysis showed that the growth of Indonesian export of non oil and gas was mainly driven by high export growth of existing products (the intensive margin) rather than in new varieties (the extensive margin), particularly during the economic recovery in 2010. In addition, the small net variety growth indicates the less importance of extensive margin on Indonesian export growth. According to the region, Asia is still a major export destination contributing for the highest intensive and extensive margin. Therefore, the government is expected to maintain the sustainability of the existing export products and the Asia market.
POTENSI PERDAGANGAN DAN INVESTASI SERAT RAYON DI INDONESIA Ningsih, Rahayu
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v6i1.141

Abstract

Indonesia masih menghadapi kelangkaan serat rayon sebagai bahan baku industri tekstil meskipun saat ini Indonesia merupakan salah satu produsen utama serat rayon. Kelangkaan serat rayon diperkirakan disebabkan oleh kecenderungan produsen domestik yang mengekspor sehingga pasokan serat rayon untuk pasar domestik menurun. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan perdagangan dan investasi serat rayon di Indonesia. Disimpulkan bahwa permasalahan kelangkaan serat rayon disebabkan oleh masih rendahnya kapasitas produksi industri serat rayon sehingga produksinya belum mampu memasok kebutuhan domestik. Untuk itu diperlukan kebijakan yang lebih kondusif terutama di sektor kehutanan sehingga dapat mendorong pengembangan investasi industri serat rayon di Indonesia. Indonesia has been facing the shortage of rayon fiber eventhough Indonesia is one of main producers. The shortage of rayon fiber is due to the tendency of producers to export rather than supply the domestic markets; so the supply of rayon fiber is then decreased. This study aims to analyze the problems of rayon fiber related to trade and investment policy of rayon industry in Indonesia. It concludes that the scarcity of rayon was caused by the low of production capacity. So, it needs to develop the investment of rayon industry. Meanwhile, there is still a bottleneck problem of investment in rayon industry. Then, the condussive policy especially in forestry sector is necessary to support the development of investment of rayon industry in Indonesia.
IJ-EPA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KINERJA PERDAGANGAN INDONESIA - JEPANG Salam, Aziza Rahmaniar; Rayadiani, Sefiani; Lingga, Immanuel
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v6i1.136

Abstract

Indonesia dan Jepang telah menandatangani perjanjian kerjasama Indonesia Jepang Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) pada tahun 2007. Untuk mewujudkan kesepakatan perdagangan bebas tersebut dan untuk menghindari adanya trade diversion sebagai dampak dari tarif preferensi, maka kedua negara mempersyaratkan Surat Keterangan Asal (SKA) untuk mensertifikasi asal barang yang diperdagangkan. Berdasarkan hasil analisa data statistik dan survey diperoleh kesimpulan bahwa pemanfaatan SKA Form IJEPA ternyata relatif lebih rendah dibandingkan dengan kesepakatan perdagangan bebas lainnya yang telah ditandatangani dan diimpelementasikan di Indonesia. Ketidakoptimalan yang terjadi dikarenakan beberapa faktor antara lain: masih adanya penggunaan Form A dalam ekspor ke Jepang, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang terdapat di berbagai IPSKA, keengganan pencantuman struktur biaya dalam SKA Form IJ-EPA, dan kurangnya sosialisasi mengenai fasilitas IJ-EPA. Dari segi perdagangan bilateral, kesepakatan perdagangan bebas IJ-EPA berdampak pada perubahan pola impor Indonesia dari Jepang dimana terdapat beberapa produk yang mengalami lonjakan, seperti produk Kendaraan Bermotor dan Mesin Disel. Sebaliknya, implementasi IJ-EPA tidak memiliki dampak yang berarti terhadap pola ekspor Indonesia ke Jepang. In 2007 Indonesia and Japan signed a partnership agreement of Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA). In order to implement the IJ-EPA and to prevent trade diversion as an impact of tariff preferences, both governments required the Certificate of Origin (COO) scheme. This study elaborates the use of COO-IJ-EPA and the impact of IJ-EPA on bilateral trade performances between the two countries. According to data analysis and survey, it was found that the number of COO-IJ-EPA was the lowest compared to other free trade agreements. The low share of the COO-IJ-EPA was caused by the following factors: the use of Form A as an alternative choice in export activity, inadequate human resources at the institutions issuing COO, reluctance to disclose the production cost structure and the lack of socialization in regards with trade facilitation under IJ-EPA scheme. Bilateral agreement under IJ-EPA has also brought impact to the Indonesia’s import pattern with Japan. After the implementation of the agreement, Indonesia’s import for certain products increased significantly, such as importation of automotive products and diesel machines. On the contrary, the agreement did not have significant impact to Indonesia’s export pattern.
ANALISIS FAKTOR DAN PROYEKSI KONSUMSI PANGAN NASIONAL: KASUS PADA KOMODITAS: BERAS, KEDELAI DAN DAGING SAPI Nur, Yudha Hadian; Nuryati, Yati; Resnia, Ranni; Santoso, Ahmad Sigit
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v6i1.137

Abstract

Ketahanan pangan merupakan isu yang selalu menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Hal ini terbukti dengan tingginya intensitas kebijakan pada pasar bahan pangan pokok. Studi ini bertujuan: 1) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi beras, kedelai dan daging sapi secara nasional; 2) mengestimasi elastisitas permintaan dan penawaran beras, kedelai, dan daging sapi; 3) mengestimasi konsumsi beras, kedelai, dan daging sapi untuk periode 2011 – 2013; 4) merekomendasikan kebijakan terkait produksi dan konsumsi beras, kedelai dan daging sapi. Analisis ini menggunakan metode OLS untuk mengestimasi elastisitas penawaran dan permintaan, serta LA/AIDS model untuk mengestimasi konsumsi komoditi tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi beras dan kedelai inelastis terhadap harga, sedangkan konsumsi daging sapi elastis terhadap harga daging sapi itu sendiri. Analisis proyeksi konsumsi menunjukkan bahwa konsumsi beras, kedelai dan daging sapi diperkirakan akan meningkat 2,2 %, 0,8%, dan 4% per tahun. Perlu dilakukan upaya-upaya dalam rangka peningkatan produksi, produktivitas dan upaya stabilisasi pasokan dan harga untuk menjamin keterjangkauan konsumsi pangan. Food security has always been an imperative issue for any ruling Indonesian government. Highly-regulated staple foods market indicates their strategic roles in the Indonesian economy. The objectives of this paper are 1) to identify factors affecting the level of national consumption on rice, soybeans and beef; 2) to estimate supply and demand elasticity of rice, soybeans and beef; 3) to project the consumption of rice, soybeans and beef for 20112013; 4) to formulate a policy recommendation to sustain production and consumption of rice, soybeans and beef. This paper uses Ordinary Least Square (OLS) method to estimate supply and demand elasticity and Linear Approximation from Almost Ideal Demand System (LA/AIDS) method to estimate the consumption of respective food commodities. The result shows that consumption of rice and soybeans are inelastic to their own prices while the consumption of beef is elastic to its own price. Consumption projection of the commodities shows that by 2013, consumption of rice, soybeans and beef will increase annually by 2.2%, 0.8% and 4%, respectively. It is necessary to issue the policies to increase production, productivity, and to have the stability of supply and price of respective commodities.

Page 1 of 1 | Total Record : 7