cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan
ISSN : 19799187     EISSN : 25282751     DOI : -
Core Subject : Economy,
First published in 2007, Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan (BILP) is a scientific journal published by the Trade Analysis dan Development Agency (Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan - BPPP), Ministry of Trade, Republic of Indonesia. This bulletin is expected to be a media of dissemination and analysis of research results to be used as references for academics, practitioners, policy-makers, and the general public. In collaboration with professional associations, The Indonesian Society of Agricultural Economics (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - PERHEPI), BILP publishes research reports and analysis of trade sector and/or sector-related trade which have not been published in any other journals/scholarly publications, either in Bahasa Indonesia or English. Publishing twice a year in July and December, this Bulletin is directly disseminated to stakeholders both in print and online.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 12 No 1 (2018)" : 6 Documents clear
THE IMPACT OF ZERO IMPORT TARIFF POLICY AND AIR POLLUTION PREVENTION AND CONTROL ACTION PLAN ON INDONESIAN COAL EXPORT TO CHINA Rahmawan, Nanda Bagus; Oktora, Siskarossa Ika
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.406 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i1.263

Abstract

Indonesia dan Tiongkok merupakan pelaku utama perdagangan batu bara dunia. Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar dan pemasok utama kebutuhan batu bara Tiongkok, sedangkan Tiongkok adalah importir batu bara terbesar di dunia. Kebijakan tarif impor nol persen pada komoditas batu bara yang diterapkan Tiongkok pada Januari 2008, berdampak pada meningkatnya ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Namun, setelah Tiongkok mengeluarkan kebijakan Air Pollution Prevention and Control Action Plan, ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok mulai menurun pada tahun 2014. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kebijakan tarif impor nol persen dan Air Pollution Prevention and Control Action Plan terhadap ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis intervensi multi input. Data yang digunakan berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kebijakan tarif impor nol persen yang diterapkan oleh Tiongkok memiliki pengaruh yang signifikan positif dan permanen terhadap ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Sementara itu, kebijakan Air Pollution Prevention and Control Action Plan memiliki pengaruh yang signifikan negatif dan permanen. Rekomendasi kebijakan adalah implementasi kebijakan tentang standar minimum kualitas batu bara yang dihasilkan. Dengan demikian, kualitas ekspor batu bara Indonesia dapat menyesuaikan spesifikasi permintaan pasar dari negara pengimpor yang menerapkan kebijakan pengendalian pencemaran udara. Indonesia and China are the main actors of world coal trading. Indonesia is the largest coal exporter and the main supplier of Chinese coal needs, while China is the world's largest coal importer. The zero import tariff policy on coal commodities applied by China in January 2008, has an impact on increasing Indonesian coal exports to China. However, after China issued its policy of Air Pollution Prevention and Control Action Plan, Indonesian coal exports to China began to decline in 2014. The objective of this research is to study the influence of zero import tariff policy and Air Pollution Prevention and Control Action Plan to the Indonesian coal exports to China. The method used in this research is the multi-input intervention analysis. Data used are developed from BPS. The results show that the zero import tariff policy applied by China has significantly positive and permanent effect on Indonesian coal exports to China. Meanwhile, the policy of Air Pollution Prevention and Control Action Plan has significantly negative and permanent effect. Policy recommendation is the implementation of policy about minimum standards of coal quality that may be produced. Thus, Indonesian coal exports quality will able to adjust market demand specification from importing countries that implement policies about pollution control.
MAIZE SUPPLY RESPONSE IN INDONESIA Magfiroh, Illia Seldon; Zainuddin, Ahmad; Setyawati, Intan Kartika
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.114 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i1.309

Abstract

Permintaan terhadap komoditas jagung di Indonesia terus meningkat karena produksi jagung tidak memadai untuk mencukupi konsumsi jagung yang terus meningkat. Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya kelangkaan komoditas jagung dan meningkatnya harga jagung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon penawaran petani jagung terhadap perubahan harga input dan output. Dalam penelitian ini, juga dilakukan upaya untuk menguji respon penawaran petani jagung di Indonesia dengan menggunakan metode Error Correction Model (ECM). Penelitian ini menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penawaran petani terhadap jagung dipengaruhi oleh harga kedelai, upah tenaga kerja, harga benih, harga pupuk urea, harga pakan, dan harga jagung impor. Petani jagung juga responsif terhadap harga jagung, oleh karena itu, kebijakan stabilitas harga dan kebijakan harga dasar dapat diberlakukan kembali untuk mendukung swasembada jagung. Penelitian ini juga merekomendasikan bahwa masih perlu kebijakan subsidi input dan perluasan lahan untuk meningkatkan penawaran jagung. Demand for maize in Indonesia keeps growing due to low maize production, while consumption keep increasing (excess demand). The situation creates scarcity in maize and leads to the commodity’s high price. This study aims to analyze the supply response of maize farmers on the changes of input and output prices. This study also examines the supply response of maize farmers in Indonesia by using Error Correction Model (ECM). The study uses secondary data. Results of the study shows  that supply of maize farmers is influenced by price of soybeans, wages of labor, prices of seed, of urea fertilizer, of feed, and of imported maize. Maize farmers are also responsive to changes in maize prices and therefore the policy of maize floor price can be re-applied to support the national food self-sufficiency. In addition the input subsidy and land expansion policies are still necessary to increase maize supply.
TRADE COMPLEMENTARITY DAN EXPORT SIMILARITY SERTA PENGARUHNYA TERHADAP EKSPOR INDONESIA KE NEGARA-NEGARA ANGGOTA OKI Retnosari, Lili; ., Nasrudin
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1939.246 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i1.281

Abstract

Pada tahun 2014, total ekspor Indonesia ke negara anggota OKI sekitar 14% dari total ekspor Indonesia sejak bergabung dengan OKI 1969. Kajian ini bertujuan untuk meneliti apakah produk ekspor Indonesia sesuai dengan produk impor yang diminta oleh negara OKI. Metode analisis yang digunakan adalah trade complementarity dan export similarity index. Kedua indeks tersebut kemudian diuji pengaruhnya terhadap ekspor Indonesia dengan menggunakan model regresi panel untuk mengidentifikasi pasar ekspor potensial. Hasil kajian menunjukkan bahwa negara anggota OKI adalah pasar ekspor yang potensial karena kesesuaian produk yang diimpor. Hal ini didukung oleh nilai trade complementarity indek yang tinggi dan cenderung meningkat serta nilai export similarity indek yang cenderung menurun selama periode 2000-2014. Hal itu diperkuat dengan hasil regresi panel yang menunjukkan bahwa kedua indeks memberikan dampak positif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia. Negara negara anggota OKI yang merupakan pasar ekspor potensial adalah Turki, Mesir, Yordania, Djibouti, Uni Emirat Arab, Bangladesh, Pakistan, dan Nigeria. Oleh karena itu, penting bagi Pemerintah untuk lebih meningkatkan ekspor ke negara-negara potensial melalui promosi dan pameran dagang secara lebih intensif. In 2014, total Indonesian export to the Organization of Islamic Cooperation (OIC) member countries reached 14% of its total exports since the country joined the OIC in 1969. This study examines whether Indonesia’s export products complement with the OIC member countries’s import products. This study uses trade complementarity and export similarity index. Furthermore, those indexes tested the impact on Indonesia’s export to the OIC member countries by using panel regression to identify the potential market. The results show that the OIC member countries are the potential export market because their import products match with the Indonesia’s export products. It is indicated by high trade complementarity index that tends to rise and export similarity index which tends to decrease from 2000-2014. This is reinforced by panel regression results that conclude that both indexes give a significant positive effect to boost Indonesia’s export. The OIC member countries that are potential export markets according to the model are Turkey, Egypt, Jordan, Djibouti, United Arab Emirates, Bangladesh, Pakistan, and Nigeria. Therefore, the government needs to increase export to potential countries through more intensive trade promotion and exhibition.
POLICY OPTIONS TO LOWER RICE PRICES IN INDONESIA Respatiadi, Hizkia; Nabila, Hana
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1351.14 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i1.262

Abstract

Di Indonesia, harga beras membuat 28 juta masyarakat pra-sejahtera menghabiskan nyaris separuh penghasilannya. Menanggapi hal ini, pemerintah menerapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan menugaskan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menstabilkan harga beras. Sebagai salah satu perwujudan tugasnya, Bulog ditunjuk menjadi importir tunggal beras. Kajian ini menganalisis efektiitas HET, kinerja Bulog sebagai importir beras, dan korelasi antara harga beras di Indonesia dan pasar internasional. Makalah ini mengusulkan opsi kebijakan untuk menurunkan harga beras dengan menggarisbawahi potensi perdagangan internasional. Makalah ini menggunakan Error Correction Model (ECM) dan hasil wawancara. Hasilnya: (1) HET menekan para pedagang eceran, sementara para tengkulak, pemilik penggilingan, dan pedagang grosir yang mengambil laba terbesar dari sistem distribusi beras dalam negeri; (2) Akibat kendala birokrasi, Bulog kerap mengimpor beras ketika harga internasional sudah telanjur meningkat; (3) Harga beras di Indonesia terdeviasi dan lebih mahal dibandingkan pasar internasional. Makalah ini merekomendasikan agar pemerintah mengkaji HET, memberikan kebebasan kepada Bulog untuk menentukan waktu maupun kuantitas beras yang perlu diimpornya dengan berdasarkan pada analisis pasar, dan membentuk forum konsultasi dengan sektor swasta yang memenuhi syarat. Hal ini akan menjaga harga beras senantiasa kompetitif baik bagi konsumen maupun pedagang eceran, serta akan membawa Indonesia lebih dekat dengan rantai nilai regional. In Indonesia, rice prices cost around 28 million poor nearly half of their income. In response, the government implements price ceiling (HET) and assigns National Logistics Agency (Bulog) to stabilize rice prices. As part of its duties, Bulog was appointed as the sole rice importer. This study analyzed the effectiveness of HET, Bulog’s performance as rice importer, and the correlation between rice prices in Indonesia and in international market. This paper explores policy options to lower rice prices by highlighting the potential of international trade. This study used Error Correction Models (ECM) and semi-structured interviews. The results: (1) HET pressures retailers, while middlemen, rice millers, and wholesalers benefit the most from domestic rice distribution; (2) Due to bureaucratic constraints, Bulog frequently imported rice when international prices were already rising; (3) Rice prices in Indonesia deviate away from and higher than the international market. This paper recommends the government to review HET, to give freedom to Bulog to determine the timing and quantity of rice importation based on its market analysis, and to organize consultative forums with qualified private sector. This will keep the prices competitive for both consumers and retailers and bring Indonesia closer to the regional value chain.
DAMPAK NON TARIFF MEASURES (NTMs) TERHADAP EKSPOR UDANG INDONESIA Ardiyanti, Septika Tri; Saputri, Ayu Sinta
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1019.477 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i1.244

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan non tarif terhadap ekspor udang dan olahannya dari Indonesia. Untuk mengetahui dampak NTM terhadap ekspor, studi ini menggunakan gravity model dengan panel data. Variabel yang digunakan antara lain volume ekspor udang dan olahannya, PDB negara tujuan ekspor, nilai tukar riil, jarak ekonomi, tarif bea masuk dan variabel NTM berupa SPS dan TBT. Kajian ini menunjukkan bahwa NTM memiliki pengaruh negatif terhadap ekspor udang dan olahan udang nasional. Pengenaan TBT di negara tujuan ekspor memiliki dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan SPS. Volume ekspor udang dan olahan ke negara mitra yang menerapkan TBT 30,2% lebih rendah dibandingkan dengan negara yang tidak menerapkan TBT, sementara ekspor ke negara dengan SPS 21,3% lebih rendah dibandingkan dengan negara yang tidak menerapkan SPS. Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu untuk memenuhi standar dan persyaratan impor yang diterapkan di negara tujuan ekspor. Dengan demikian, pemerintah diharapkan dapat memberikan bantuan bagi para eksportir udang dengan memberikan bantuan informasi pasar serta regulasi yang berlaku di negara tujuan ekspor. Selain itu, pemerintah juga perlu untuk memberikan dukungan sehingga eksportir dapat memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku di negara tujuan ekspor. This study aims to analyze the impact of non-tariff policy on shrimp and processed shrimp in Indonesia. To analyze the impact of NTM on Indonesia's shrimp export, this study uses gravity model with panel data. Variables used are export volume of Indonesia’s shrimp and processed shrimp, GDP of export destination countries, real exchange rate, economic distance, import duty and NTM variables (SPS and TBT). This study shows that NTM has  negative impact on shrimp exports. The imposition of TBT in export destination countries has a greater negative impact  on shrimp export c than SPS. The shrimp export volume to the partner countries appliying TBT is 30,2% lower than countries that not applying TBT, while exports to cpuntries imposing SPs is 21,3% lower than countries without SPS. This fact indicates that Indonesia’s exporters has not been able to meet standards and requirements applied by export destination countries. Therefore, the government is expected to provide assistance to the exporters by providing market information, regulation and requirements in export destination country. In addition, the government also needs to provide support so that exporters could meet the standards and requirements applied by export destination countries.
DAMPAK DEVALUASI YUAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA PENDEKATAN MODEL PERSAMAAN SIMULTAN Ramana, Febria; Nasrudin, Nasrudin
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1174.636 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i1.234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak devaluasi yuan terhadap perekonomian Indonesia. Penelitian ini menggunakan skenario simulasi model persamaan simultan dengan metode estimasi Two Stage Least Square (2SLS). Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa devaluasi yuan berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia melalui jalur perdagangan dan investasi. Pada blok perdagangan, devaluasi yuan menyebabkan ekspor Indonesia ke negara lain mengalami penurunan, terutama ekspor ke China karena devaluasi yuan lebih besar dibandingkan rupiah. Hal ini membuat produk China relatif lebih murah dibandingkan Indonesia. Pada blok investasi, total investasi meningkat karena investor beralih dari China ke Indonesia yang didorong tingkat pengembalian modal di China menurun. Sementara itu, pada blok moneter, nilai rupiah dan PDB Indonesia menurun akibat penurunan net ekspor lebih besar dibandingkan peningkatan FDI. Devaluasi rupiah pun memicu imported inflation. Secara keseluruhan, devaluasi yuan berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap China, terutama dalam perdagangan. Hal ini dapat dilakukan dengan diversifikasi pasar dan peningkatan kualitas produk ekspor. This paper examines and provides an analysis regarding the impact of an economic shock, yuan devaluation, on the Indonesian economy. We analyze a simulation scenario by using simultaneous equation model with two-stage least square (2SLS) method. Empirical findings exhibit that shock has the significant impact on Indonesian economy through both of trade and investment transmissions. In trade block, Indonesian export to China has the most decreasing rather than others countries because of yuan more decrease than rupiah. In investment block, a total of investment gets the impact to rise, particularly in Foreign Direct Investment (FDI) from China, caused by decreasing wealth of foreign investors in China.   Meanwhile, in the monetary block, the value of rupiah and Indonesian GDP simultaneously get the impact to decline, whereas yuan devalution leads Indonesian inflation to rise. Therefore, it is essential for the government to decrease Indonesian dependence on China, particularly in trade block. Some options which government should implement are market diversification and increasing export products quality.

Page 1 of 1 | Total Record : 6