cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan
ISSN : 19799187     EISSN : 25282751     DOI : -
Core Subject : Economy,
First published in 2007, Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan (BILP) is a scientific journal published by the Trade Analysis dan Development Agency (Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan - BPPP), Ministry of Trade, Republic of Indonesia. This bulletin is expected to be a media of dissemination and analysis of research results to be used as references for academics, practitioners, policy-makers, and the general public. In collaboration with professional associations, The Indonesian Society of Agricultural Economics (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - PERHEPI), BILP publishes research reports and analysis of trade sector and/or sector-related trade which have not been published in any other journals/scholarly publications, either in Bahasa Indonesia or English. Publishing twice a year in July and December, this Bulletin is directly disseminated to stakeholders both in print and online.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2007)" : 5 Documents clear
ANALISIS DAYA SAING PRODUK EKSPOR INDONESIA Samah, Asnur Elly
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2013.618 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v1i1.292

Abstract

Ekspor non migas memberikan sumbangan sekitar 78,8% terhadap total ekspor tahun 2006, dengan dominasi oleh ekspor hasil industry olahan yang mencapai rata-rata sekitar 70% tiap tahun. Sejalan dengan berbagai perkembangan eksternal dan internal, serta munculnya negara pesaing baru untuk komoditi tertentu, mengakibatkan produk Indonesia mengalami pergeseran pangsa pasar baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pergeseran pangsa pasar ini ditenggarai oleh adanya penurunan daya saing beberapa produk ekspor non migas.Berkaitan dengan hal diatas, maka tulisan ini menganalisis kinerja daya saing beberapa produk non migas beberapa tahun terakhir. Analisis daya saing menggunakan instrument (tools) seperti RCA (Revealed Comparatif Advantage), AR (Acceleration Ratio) dan ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan).
DEVELOPING STRATEGY TO IMPROVE MARKET ACCESS: INDONESIA-US FTA Listiyadi, Imbang
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2152.524 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v1i1.293

Abstract

Prinsip-prinsip dasar kepentingan didalam merangkai hubungan perdagangan bilateral antara dua negara yaitu Indonesia dan Amerika Serikat adalah lebih ditujukan kepada landasan kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan. Tawaran serta permintaan yang dapat diintegrasikan bersama secara spesifik dan dapat menunjang pertumbuhan ekonomi masing-masing.Free Trade Agreement (FTA) Indonesia-Amerika Serikat diharapkan dapat menciptakan susasana kesepakatan yang disebut sebagai kebebasan dalam perdagangan atau Free Trade, keadilan didalam perdagangan atau Fair Trade. Landasan Filosofi “Free Trade” dan “Fair Trade” perlu dicarikan formulasi/rumusan jbersama terlebih dahulu guna mencari jawaban bahwa perdagangan bilateral yang dituangkan di dalam agreement nantinya tidak menjadi hambatan baru bahkan sengketa perdagangan didalam kerangka perdagangan bebas, sehingga perlu adanya pembicaraan bersama atau kajian bersama (Joint Study).FTA Indonesia Amerika Serikat akan memberikan fungsi penting sebagai alat penjamin manakala secara tiba-tiba terjadi perubahan kebijakan perdagangan kedua belah pihak FTA Indonesia Amerika Serikat juga berfungsi sebagai kepastian “Market Access” masing masing sebagai mitra dagang, serta bagi dunia usaha yang akan membangun komitmen untuk berbagai investasi baru.FTA Indonesia AS diharapkan akan memperkecil ketimpangan yang selama ini dirasakan oleh pihak Indonesia sebagai negara berkembang. Anggapan adanya ketimpangan antara negara maju dan negara berkembang yang secara tradisi ditandai dengan tingkat ekonomi maupun teknologi yang berbeda menyolok. Tingkat ketergantungan (dependence) Indonesia terhadap AS akan sangat mempengaruhi posisi tawar.Perdebatan di forum Kongress Amerika Serikat yang menganggendakan Free Trade Agreement seri9ng dikaitkan dengan permasalahan lain seperti: lingkungan hidup, pelanggaran hak asasi manusia, pelanggaran hak cipta, patent, ppolitik dan lain-lain dan sering bersifat sepihak atau unilateral. Tak urung masalah ini akan menjadi beban berat bagi negara-negara mitra dagang yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan masalah bisnis. Di wilayah yang lebih bersifat teknis banyak hal yang sulit dpenuhi oleh negara-negara berkembang untuk mengimbangi perilaku negara-negara maju. Amerika Serikat telah banyak menguasai masalah-masalah Ïntellectual Property Right” yang mana hal paradox tergambar atau mewakili ketertinggalan negara-negara berkembang/miskin.
KAJIAN HARMONISASI TARIF BEA MASUK DALAM KAITANNYA DENGAN PENGEMBANGAN INDUSTRI ORIENTASI EKSPOR Salam, Aziza Rahmaniar; Sumarjono, Bambang
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3312.777 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v1i1.294

Abstract

Dalam rangka untuk mendorong pengembangan industry dalam negeri , pemerintah telah menerbitkan berbagai kebijakan antara lain kebijakan tariff bea masuk. Kebijakan tariff bea masuk ini mengacu pada komitmen internasional (WTO, APEC, AFTA, ASEAN-CHINA) maupun nasional . Pada saat ini Indonesia menerapkan program Harmonisasi Tarif Bea Masuk yang dimulai sejak 1 Januari 2005. Program ini diharapkan dapat mendorong peningkatan daya saing produk dalam negeri, Untuk itu perlu dilakukan kajian harmonisasi tariff bea masuk dalam kaitannya dengan pengembangan industry orientasi ekspor, khususnya industry keramik yang dalam beberapa tahun terakhir mendapat tantangan yang cukup besar dalam meningkatkan daya saingnya.Data yang digunakan dalam kajian ini adalah data primer dan data sekunder. Selanjutnya data-data tersebut diolah dan dianalisis untuk melihat tingkat daya saingnya berdasarkan trend ekspor, ISP, RCA, dan AR. Selain itu juga dilihat dampak harmonisasi tariff bea masuk terhadap kinerja industry, trade creation, trade diversion, penerimaan pemerintah dari tariff, dan welfare.Hasil analisis menunjukkan bahwa Program Harmonisasi tariff bea masuk ini ternyata cukup efektif untuk mengendalikan impor produk keramik saniter dan tableware yang diindikasikan dengan adanya penurunan volume impor masing-masing sebesar-12,7% dan-20,8%. Namun demikian, harmonisasi tariff bea masuk tahun 2005 berdampak pada trade creation effect sebesar –US$ 8,4 juta, bertambahnya penerimaan negara sebesar US$ 2,7 juta, namun menimbulkan dampak berkurangnya welfare sebesar US$ 1 juta.
REVIEW KEBIJAKAN PERPAJAKAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN EKSPOR HASIL INDUSTRI PERHIASAN Sihaloho, Tumpal; Christoffel, Leo Mualdy
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4360.076 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v1i1.295

Abstract

Industri perhiasan baik yang terbuat dari emas perak maupun dari batuan mulia memiliki kontribusi terhadap total industry nasional yaitu sekitar 4,76% dari total output produksi nasional dan dari sisi penyerapan tenaga kerja nasional dapat menyerap sekitar 0,44%. Perkembangan ekspor produk perhiasan dalam waktu lima tahun terakhir menunjukkan tren nilai ekspor yang cenderung menurun. Pada tahun 2001 nilai ekspor mencapai US$ 491 juta dan pada tahun 2005 hanya sekitar US$ 263 juta. Pangsa Ekspor Indonesia dipasar dunia masih relative kecil yaitu sekitar 0,3% dari total ekspor dunia yang mencapai US$ 20,9 miliar.Menurunnya nilai ekspor perhiasan lima tahun terakhir diindikasikan akibat menurunnya daya saing komoditas tersebut yang antara lain diakibatkan mutu yang rendah, desain yang tidak mengikuti tren pasar dunia serta harga yang tidak kompetitif. Kurangnya kegiatan promosi dan pameran serta iklim usaha yang tidak mendukung turut serta menurunkan market share komoditas ini di pasar dunia. Potensi berupa tenaga kerja yang banyak, sumber bahan baku yang tersedia serta pasar yang masih terbuka lebar memungkinkan untuk lebih mengembangkan sektor ini melalui peningkatan comparative advantage serta meningkatkan efisiensi serta spesialisasi produksi disamping meningkatkan frekuensi event promosi dengan mengundang pelaku usaha dari manca negara. Hal tersebut pada gilirannya dapat melihat posisi negara-negara pesaing, terutama produsen utama produk perhiasan untuk dapat mengetahui tingkat daya saing produk perhiasan Indonesia di pasar global.
IKLIM USAHA INDUSTRI PENGOLAHAN BIJI KAKAO Mutakin, Firman; Sihaloho, Tumpal
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2699.689 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v1i1.291

Abstract

Indonesia is one among three major producers of cocoa beans. Nevertheless, industrial performance of cocoa beans industrial process bearish for the past few years. The purposes of this research are to analyse policies related to development the cocoa processing industry as well as analizing factor which cause low quality of cocoa beans. Factors that caused an uncondusif business climate on cocoa beans industry ar among of hers; high administrative fee in form of tax and entry charges for raw material that caused and increase in production cost structure of the industrial process of the cocoa beans, The low quality of the cocoa benas itself resulted from the un willingness of the farmers to ferment their products, ages of plantswhich more that its productive age and caused small beans producted, mixture between high quality and low quality beans and bugs infection of cocoa plants.

Page 1 of 1 | Total Record : 5