cover
Filter by Year
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan
First published in 2007, Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan (BILP) is a scientific journal published by the Trade Analysis dan Development Agency (Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan - BPPP), Ministry of Trade, Republic of Indonesia. This bulletin is expected to be a media of dissemination and analysis of research results to be used as references for academics, practitioners, policy-makers, and the general public. In collaboration with professional associations, The Indonesian Society of Agricultural Economics (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - PERHEPI), BILP publishes research reports and analysis of trade sector and/or sector-related trade which have not been published in any other journals/scholarly publications, either in Bahasa Indonesia or English. Publishing twice a year in July and December, this Bulletin is directly disseminated to stakeholders both in print and online.
Articles
155
Articles
​
DAMPAK KERJA SAMA PERDAGANGAN INDONESIA DENGAN EURASIAN ECONOMIC UNION (EAEU) TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

Paryadi, Deky ( Kementerian Perdagangan ) , Salam, Aziza Rahmaniar ( Kementerian Perdagangan )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

 Abstrak Kawasan Eurasia merupakan wilayah yang penting secara geopolitik dan geostrategi bagi perdagangan Indonesia. Melihat potensi yang dimiliki oleh negara-negara yang tergabung dalam Eurasian Economic Union (EAEU), Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan peluang yang terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi daya saing komoditas serta dampak kerja sama perdagangan Indonesia-EAEU. Metode analisis yang digunakan adalah Trade Complementary Index (TCI), Revealed Symetric Comparative Advantages (RSCA) dan Computable General Equilibrium (CGE) model dengan data dasar GTAP versi 9 menggunakan enam simulasi. Berdasarkan analisis TCI, tingkat kesesuaian ekspor EAEU terhadap struktur impor Indonesia lebih tinggi dibandingkan ekspor Indonesia terhadap struktur impor EAEU. Dengan melihat dampak kerja sama perdagangan Indonesia-EAEU terhadap makroekonomi Indonesia, penurunan tarif bea masuk sebesar 50% untuk seluruh produk Indonesia dan EAEU merupakan alternatif kebijakan terbaik. Indonesia perlu menjajaki kemungkinan kerja sama dengan EAEU dengan pendekatan berupa eliminasi 50% pada seluruh pos tarif secara bertahap. Selain itu, disarankan Indonesia fokus pada komoditas yang memiliki daya saing di pasar EAEU yaitu sektor animal; vegetable; foodstuffs; plastics/ rubber; raw hides; woods; textile; stone/glass; machinery; dan transportation.AbstractThe Eurasian region is an important area for Indonesia in term of geopolitic and geostrategy. Due to the economic potential of EAEU countries, Indonesia must take advantage of it. This study aims to determine the potential competitiveness of commodities and the impact of trade cooperation between Indonesia-EAEU. Methods used in this study were Trade Complementary Index (TCI), Revealed Symetric Comparative Advantages (RSCA) and Computable General Equilibrium (CGE) model utilizing basic data of GTAP version 9 of six simulations. By using TCI method it was found that the comformity level of EAEU's export to Indonesia's import structure is higher than Indonesia's exports to the EAEU import structure. Looking at the impact of Indonesia-EAEU trade cooperation on Indonesia’s economy, tariff reduction of 50% for all Indonesian products and EAEU is the best policy alternative for Indonesia. Therefore, It is a must to Indonesia to explore the possibility of cooperation with EAEU with a 50% elimination scheme gradually to all tariff lines. Indonesia should also focus on commodities which have competitiveness in EAEU market i.e. animal; vegetable; foodstuffs; plastics/rubber; raw hides; woods; textile; stone/glass; machinery; and transportation.

DAYA SAING EKSPOR PRODUK MAKANAN OLAHAN INDONESIA KE TIMUR TENGAH

Hasni, . ( Kementerian Perdagangan )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing ekspor produk makanan olahan Indonesia di sepuluh negara Timur Tengah dan rekomendasi kebijakannya. Data yang digunakan adalah data sekunder dan diolah dengan metode RCA dinamis. Hasil penghitungan RCA dinamis menunjukkan bahwa posisi daya saing produk makanan olahan dengan kategori Lagging Opportunity dan Lost Opportunity berpotensi untuk ditingkatkan ekspornya ke Timur Tengah. Produk makanan olahan yang perlu ditingkatkan ekspornya adalah minuman ringan, snack/camilan dan makanan olahan lainnya. Peningkatan ekspor produk makanan olahan ke Timur Tengah dapat dilakukan dengan cara a) meningkatkan peran Atase Perdagangan dan ITPC untuk memperoleh informasi pasar, serta melakukan promosi ekspor, b) melakukan koordinasi di dalam dan luar negeri untuk memperoleh sertifikasi keamanan produk makanan olahan yang berorientasi ekspor, c) mempercepat perjanjian perdagangan untuk memperluas akses pasar melalui penurunan tarif impor makanan olahan dari Indonesia, d) memberikan pelatihan dan pendampingan kepada eksportir UKM termasuk desain dan pengemasan, dan e) merundingkan penyederhanaan dokumen ekspor dengan biaya yang terjangkau.                                                                                  AbstractThe objectives of this study are to analyze the competitiveness of Indonesian processed food exports in the ten Middle East countries and formulate recommendations to increase Indonesia's processed food exports to those countries. The data used in this study was secondary data and estimated by using dynamic RCA method. By using the dynamic RCA method, it was found that the position of the competitiveness of processed food products in the Lagging Opportunity and Lost Opportunity categories have potential to be increased as exports products to the Middle East. These processed products are soft drinks, snacks and other processed foods. The processed food products export to the Middle East can be increased by: a) encouraging Indonesia’s Trade Representatives (Trade Attaches and ITPC) to facilitate doing business between Indonesia and Middle East, b) coordinating domestic and foreign stakeholders to obtain export-oriented food safety certification, c) accelerating the establishment of trade agreements to expand market access through reduced tariffs on imported processed foods from Indonesia, d) increasing competitiveness of export products by providing training and assistance to SME exporters including design and packaging, and e) Negotiating to simplify export documents process at affordable costs.

PENGEMBANGAN PASAR EKSPOR LADA INDONESIA

Nurhayati, Ely ( Institut Pertanian Bogor ) , Hartoyo, Sri ( Institut Pertanian Bogor ) , Mulatsih, Sri ( Institut Pertanian Bogor )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakSalah satu komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia sebagai negara agraris adalah lada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pasar potensial untuk ekspor lada yang bisa dikembangkan, serta mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi ekspor komoditas lada. Penelitian ini menggunakan metode RCA, EPD, X-Model, dan Gravity Model. Hasil analisis dengan menggunakan model RCA, EPD, dan X-model menunjukkan bahwa ‘pasar optimis’ untuk dikembangkan adalah Belanda. Sedangkan ‘pasar potensial’ untuk dikembangkan adalah Malaysia, Vietnam, Korea Selatan, Rusia, Prancis, Belgia, Jerman, dan Amerika Serikat. Sementara itu hasil analisis dengan menggunakan model Gravity menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi ekspor adalah domestik bruto per kapita, populasi, harga ekspor, jarak ekonomi dan tarif. Oleh karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang memengaruhi ekspor lada untuk mengembangkan pasar ekspor. Faktor tersebut diantaranya menjaga stabilitas harga ekspor, memilih pasar dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang tinggi, populasi yang besar dan cenderung meningkat, serta memiliki jarak ekonomi dan tarif yang kecil dan cenderung menurun. AbstractPepper is one of agricultural commodities that has significant export value for Indonesia. The study aims to analyze the potential market for pepper exports that can be developed, and the factors that influence pepper commodity exports. This research used RCA, EPD, X-Model, and Gravity Model methods. Using the RCA, EPD, and X-model the study indicated that ‘the optimistic market’ to be developed was the Netherlands. While ‘the potential markets’ to be developed were Malaysia, Vietnam, South Korea, Russia, France, Belgium, Germany and the United States. Using the Gravity model, it was confirmed factors affected export were gross domestic product per capita, population, export prices, economic distance and tariffs. This study recommends that the Government needs to consider the following factors including the stability of export prices, a market with high Dross Domestic Product (GDP) per capita and a large population which tends to increase, and a small economic distance and tariff that tends to decline.

PEMANFAATAN KERJA SAMA INDONESIA-JEPANG ECONOMIC PARTNERSHIP AGREEMENT (IJEPA) DAN INDONESIA – PAKISTAN PREFERENTIAL TRADE AGREEMENT (IPPTA)

Ningsih, Endah Ayu ( Kementerian Perdagangan ) , Falianty, Telisa Aulia ( Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia ) , Budiarti, Fitri Tri ( Kementerian Perdagangan )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengevaluasi tingkat pemanfaatan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) dan Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IPPTA) dalam ekspor dan impor Indonesia ke Jepang dan Pakistan. Tingkat pemanfaatan FTA untuk ekspor menggunakan rasio nilai perdagangan yang termuat dalam Surat Keterangan Asal (SKA) terhadap nilai ekspor ke negara mitra. Sedangkan tingkat pemanfaatan impor menggunakan rasio nilai impor produk yang memenuhi syarat terhadap total impor Indonesia dari negara mitra. Studi ini menemukan bahwa pemanfaatan IJEPA (2012-2016) cenderung menurun. Pada tahun 2016 tingkat pemanfaatan ekspor sebesar 47,2%. Sementara pemanfaatan IPPTA untuk ekspor ke Pakistan mengalami peningkatan yang signifikan sejak diimplementasi tahun 2013 dengan tingkat pemanfaatan ekspor sebesar 72,0% pada tahun 2016. Di sisi impor pemanfaatan IJEPA mencapai 67,7% sementara IPPTA hanya 18,8% (2016). Pemanfaatan impor IJEPA dan IPPTA relatif stagnan, jumlah perusahaan yang menggunakan SKA IJEPA sudah pada level jenuh, sementara pengguna SKA IPPTA masih tumbuh 18,2% per tahun. Bentuk PTA lebih memberikan dampak positif bagi peningkatan ekspor Indonesia ke negara mitra dibandingkan FTA yang komprehensif. Kebijakan melakukan FTA dalam bentuk Economic Partnership perlu disertai dengan kerja sama yang menjamin peningkatan perdagangan yang seimbang antar negara anggota. AbstractThis study aims to address the utilization level of The Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) and Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IPPTA). The level of FTA utilization for exports was measured by the ratio of trade value recorded in the Certificate of Origin (CoO) to Indonesia’s export value to the related country. While the level of utilization of imports was defined by the ratio of the import value of eligible products to Indonesia's total imports from the related country. The study found IJEPA’s utilization during 2012-2016 tended to decrease. In 2016, the level of utilization was about 47.2%. While IPPTA utilization for exports to Pakistan experienced a significant increase since it was implemented in 2013 with a rate of export utilization was 72.0% in 2016. On the import side, the level of utilization under IJEPA reached 67.7% while IPPTA was only 18.8% at the same period. In terms of the imports utilization level of both IJEPA and IPPTA, it was relatively stagnant, while the number of companies utilize IJEPA’s CoO was saturated. In contrast, IPPTA’s CoO users still grew at 18.2% per year. This study concluded PTA provides more positive impact on increasing Indonesia's exports to related countries than comprehensive FTAs. Thus, establishing an FTA in the form of an Economic Partnership needs to be followed with the cooperation that guarantees trade balance within the parties.

POTENSI PENINGKATAN AKSES PASAR PRODUK INDONESIA KE PEREKONOMIAN APEC UNTUK MENGANTISIPASI REALISASI FTAAP

Nugroho, Rino Adi ( Ministry of Trade of Republic of Indonesia ) , Jati, Kumara ( Ministry of Tradeof Republic of Indonesia )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Tulisan ini mengkaji potensi peningkatan akses pasar produk Indonesia ke kawasan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk mengantisipasi realisasi Free Trade Area of The Asia-Pacific (FTAAP). Penelitian ini menggunakan Export Product Dynamic (EPD), Intra-Industry Trade (IIT), dan analisis Inter-Regional Input-Output (IRIO). Hasil analisis EPD dengan menggunakan klasifikasi 21 sektor diperoleh 15 sektor ekspor Indonesia ke pasar Asia-Pasifik berada pada posisi retreat dan enam sektor lainnya berada pada posisi falling star. Berdasarkan hasil IIT diperoleh lima sektor ekspor Indonesia yang memiliki integrasi dalam kategori integrasi sangat kuat yaitu sektor hasil panen dan hewan, industri pengolahan makanan dan tembakau, industri farmasi, industri karet dan plastik, serta industri perakitan komputer. Sementara itu berdasarkan analisis Inter-Regional Input-Output (IRIO) terhadap 10 ekonomi Asia-Pasifik terlihat bahwa proporsi perdagangan bilateral terhadap total ekspor terbesar yaitu Indonesia terhadap Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Jepang dengan persentase masing-masing sebesar 1,22% diikuti oleh Korea Selatan dan Jepang masing-masing sebesar 0,4% dan 0,32%. Ekspor Indonesia ke  Australia, RRT, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia dan Taiwan  didominasi oleh barang antara dan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dan Kanada didominasi oleh barang konsumsi langsung. Untuk memperoleh nilai tambah, Indonesia perlu meningkatkan daya saing melalui transfer teknologi dan akses pasar yang fokus pada permintaan akhir. AbstractThis paper examines the potential improvement of market access of Indonesian products to the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) region to anticipate the possibility of the Free Trade Area of The Asia-Pacific (FTAAP) realization. The methods used in this research are Export Product Dynamic (EPD), Intra-Industry Trade (IIT), and Inter-Regional Input-Output (IRIO) analysis. Based on the analysis of EPD using  21 sectors classification, it was obtained 15 export sectors of Indonesia to Asia-Pacific market are in retreat position and other six sectors are in falling  star position. While using the IIT method, there are five Indonesian export sectors that have very strong integration, namely and animal sector, food and tobacco processing industry, pharmaceutical industry, rubber and plastics industry, and computer docking industry. In addition, by using IRIO analysis on 10 Asia-Pacific economies, it showed that the largest share of Indonesia bilateral trade was to China and Japan at about 1.22% respectively. This was followed by South Korea and Taiwan with percentage of 0.4% and 0.32%. The exports of Indonesia to Australia, China, Japan, South Korea, Mexico, Russia and Taiwan were dominated by the intermediate goods, while to the United States and Canada are dominated by final goods. Therefore, to obtain added value,  Indonesia’s has to improve competitiveness with technology transfer and market access increase which focuses on the final demand.

DAYA SAING EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL INDONESIA DAN VIETNAM KE AMERIKA SERIKAT DAN REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK

Ragimun, . ( Kementerian Keuangan )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakTekstil dan Produk Tekstil (TPT) adalah produk ekspor utama Indonesia dan Vietnam. Penelitian ini  bertujuan menganalisis daya saing ekspor TPT Indonesia dan Vietnam di pasar AS dan RRT. Metode yang digunakan adalah Constant Market Share Analysis (CMSA), Revealed Comparative Advantage (RCA), dan Model Ekonometrika (Fixed Effect Model). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk TPT Indonesia dan Vietnam tidak mempunyai daya saing kuat di pasar RRT, tetapi keduanya memiliki daya saing kuat di pasar AS. Pengembangan ekspor TPT Vietnam lebih terkonsentrasi di pasar RRT, sedangkan Indonesia lebih terkonsentrasi di pasar AS. TPT Indonesia mampu beradaptasi di pasar RRT dan AS, sedangkan TPT Vietnam hanya mampu beradaptasi di pasar RRT. Daya saing TPT Indonesia dan Vietnam di pasar AS dan RRT sangat dipengaruhi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) manufaktur negara asal. Daya saing TPT Indonesia sangat dipengaruhi Produk Domestik Bruto (PDB) negara tujuan, sedangkan Vietnam sangat dipengaruhi oleh faktor nilai tukar riil, tarif, PDB negara tujuan dan PMA manufaktur Vietnam. Untuk meningkatkan daya saing ekspor TPT, Indonesia perlu memperhatikan PMA manufaktur negara asal dan PDB negara tujuan. AbstractTextile and Textile Product (TPT) are the main export products of Indonesia and Vietnam. This study examined the competitiveness of Indonesian and Vietnamese TPT in the US and PRC markets by using the CMSA, RCA methods and the Fixed Effect Model. The result showed TPT products from Indonesia and Vietnam do not have strong competitiveness in the PRC market, but they are highly competitive in the US market. The TPT export from Vietnam is mostly concentrated in the PRC market, while TPT from Indonesia was in the US market. Indonesian TPT is able to adapt in both PRC and US markets, while the Vietnamese TPT is only able to adapt in the PRC market. The competitiveness of Indonesian and Vietnamese TPT in the US and PRC markets is strongly influenced by the home country's FDI manufacturing. Indonesia's TPT competitiveness is strongly influenced by the GDP of the destination country, while Vietnam is strongly influenced by the factors of real exchange rates, tarrif, GDP of destination countries and Vietnam's FDI manufacturing. To improve the competitiveness of TPT export, Indonesia needs to give a great concern toward FDI manufacture and GDP of US and PRC.

THE IMPACT OF ZERO IMPORT TARIFF POLICY AND AIR POLLUTION PREVENTION AND CONTROL ACTION PLAN ON INDONESIAN COAL EXPORT TO CHINA

Rahmawan, Nanda Bagus ( Sekolah Tinggi Ilmu Statistik ) , Oktora, Siskarossa Ika ( Sekolah Tinggi Ilmu Statistik )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.406 KB)

Abstract

Indonesia dan Tiongkok merupakan pelaku utama perdagangan batu bara dunia. Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar dan pemasok utama kebutuhan batu bara Tiongkok, sedangkan Tiongkok adalah importir batu bara terbesar di dunia. Kebijakan tarif impor nol persen pada komoditas batu bara yang diterapkan Tiongkok pada Januari 2008, berdampak pada meningkatnya ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Namun, setelah Tiongkok mengeluarkan kebijakan Air Pollution Prevention and Control Action Plan, ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok mulai menurun pada tahun 2014. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kebijakan tarif impor nol persen dan Air Pollution Prevention and Control Action Plan terhadap ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis intervensi multi input. Data yang digunakan berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kebijakan tarif impor nol persen yang diterapkan oleh Tiongkok memiliki pengaruh yang signifikan positif dan permanen terhadap ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Sementara itu, kebijakan Air Pollution Prevention and Control Action Plan memiliki pengaruh yang signifikan negatif dan permanen. Rekomendasi kebijakan adalah implementasi kebijakan tentang standar minimum kualitas batu bara yang dihasilkan. Dengan demikian, kualitas ekspor batu bara Indonesia dapat menyesuaikan spesifikasi permintaan pasar dari negara pengimpor yang menerapkan kebijakan pengendalian pencemaran udara. Indonesia and China are the main actors of world coal trading. Indonesia is the largest coal exporter and the main supplier of Chinese coal needs, while China is the worlds largest coal importer. The zero import tariff policy on coal commodities applied by China in January 2008, has an impact on increasing Indonesian coal exports to China. However, after China issued its policy of Air Pollution Prevention and Control Action Plan, Indonesian coal exports to China began to decline in 2014. The objective of this research is to study the influence of zero import tariff policy and Air Pollution Prevention and Control Action Plan to the Indonesian coal exports to China. The method used in this research is the multi-input intervention analysis. Data used are developed from BPS. The results show that the zero import tariff policy applied by China has significantly positive and permanent effect on Indonesian coal exports to China. Meanwhile, the policy of Air Pollution Prevention and Control Action Plan has significantly negative and permanent effect. Policy recommendation is the implementation of policy about minimum standards of coal quality that may be produced. Thus, Indonesian coal exports quality will able to adjust market demand specification from importing countries that implement policies about pollution control.

MAIZE SUPPLY RESPONSE IN INDONESIA

Magfiroh, Illia Seldon ( Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture, University of Jember ) , Zainuddin, Ahmad ( Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture, University of Jember ) , Setyawati, Intan Kartika ( Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture, University of Jember )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.114 KB)

Abstract

Permintaan terhadap komoditas jagung di Indonesia terus meningkat karena produksi jagung tidak memadai untuk mencukupi konsumsi jagung yang terus meningkat. Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya kelangkaan komoditas jagung dan meningkatnya harga jagung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon penawaran petani jagung terhadap perubahan harga input dan output. Dalam penelitian ini, juga dilakukan upaya untuk menguji respon penawaran petani jagung di Indonesia dengan menggunakan metode Error Correction Model (ECM). Penelitian ini menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penawaran petani terhadap jagung dipengaruhi oleh harga kedelai, upah tenaga kerja, harga benih, harga pupuk urea, harga pakan, dan harga jagung impor. Petani jagung juga responsif terhadap harga jagung, oleh karena itu, kebijakan stabilitas harga dan kebijakan harga dasar dapat diberlakukan kembali untuk mendukung swasembada jagung. Penelitian ini juga merekomendasikan bahwa masih perlu kebijakan subsidi input dan perluasan lahan untuk meningkatkan penawaran jagung. Demand for maize in Indonesia keeps growing due to low maize production, while consumption keep increasing (excess demand). The situation creates scarcity in maize and leads to the commodityâ??s high price. This study aims to analyze the supply response of maize farmers on the changes of input and output prices. This study also examines the supply response of maize farmers in Indonesia by using Error Correction Model (ECM). The study uses secondary data. Results of the study shows  that supply of maize farmers is influenced by price of soybeans, wages of labor, prices of seed, of urea fertilizer, of feed, and of imported maize. Maize farmers are also responsive to changes in maize prices and therefore the policy of maize floor price can be re-applied to support the national food self-sufficiency. In addition the input subsidy and land expansion policies are still necessary to increase maize supply.

TRADE COMPLEMENTARITY DAN EXPORT SIMILARITY SERTA PENGARUHNYA TERHADAP EKSPOR INDONESIA KE NEGARA-NEGARA ANGGOTA OKI

Retnosari, Lili ( Statistics of Pulang Pisau Regency ) , ., Nasrudin ( Institute of Statistic )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1939.246 KB)

Abstract

Pada tahun 2014, total ekspor Indonesia ke negara anggota OKI sekitar 14% dari total ekspor Indonesia sejak bergabung dengan OKI 1969. Kajian ini bertujuan untuk meneliti apakah produk ekspor Indonesia sesuai dengan produk impor yang diminta oleh negara OKI. Metode analisis yang digunakan adalah trade complementarity dan export similarity index. Kedua indeks tersebut kemudian diuji pengaruhnya terhadap ekspor Indonesia dengan menggunakan model regresi panel untuk mengidentifikasi pasar ekspor potensial. Hasil kajian menunjukkan bahwa negara anggota OKI adalah pasar ekspor yang potensial karena kesesuaian produk yang diimpor. Hal ini didukung oleh nilai trade complementarity indek yang tinggi dan cenderung meningkat serta nilai export similarity indek yang cenderung menurun selama periode 2000-2014. Hal itu diperkuat dengan hasil regresi panel yang menunjukkan bahwa kedua indeks memberikan dampak positif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia. Negara negara anggota OKI yang merupakan pasar ekspor potensial adalah Turki, Mesir, Yordania, Djibouti, Uni Emirat Arab, Bangladesh, Pakistan, dan Nigeria. Oleh karena itu, penting bagi Pemerintah untuk lebih meningkatkan ekspor ke negara-negara potensial melalui promosi dan pameran dagang secara lebih intensif. In 2014, total Indonesian export to the Organization of Islamic Cooperation (OIC) member countries reached 14% of its total exports since the country joined the OIC in 1969. This study examines whether Indonesiaâ??s export products complement with the OIC member countriesâ??s import products. This study uses trade complementarity and export similarity index. Furthermore, those indexes tested the impact on Indonesiaâ??s export to the OIC member countries by using panel regression to identify the potential market. The results show that the OIC member countries are the potential export market because their import products match with the Indonesiaâ??s export products. It is indicated by high trade complementarity index that tends to rise and export similarity index which tends to decrease from 2000-2014. This is reinforced by panel regression results that conclude that both indexes give a significant positive effect to boost Indonesiaâ??s export. The OIC member countries that are potential export markets according to the model are Turkey, Egypt, Jordan, Djibouti, United Arab Emirates, Bangladesh, Pakistan, and Nigeria. Therefore, the government needs to increase export to potential countries through more intensive trade promotion and exhibition.

POLICY OPTIONS TO LOWER RICE PRICES IN INDONESIA

Respatiadi, Hizkia ( Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) ) , Nabila, Hana ( Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) )

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1351.14 KB)

Abstract

Di Indonesia, harga beras membuat 28 juta masyarakat pra-sejahtera menghabiskan nyaris separuh penghasilannya. Menanggapi hal ini, pemerintah menerapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan menugaskan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menstabilkan harga beras. Sebagai salah satu perwujudan tugasnya, Bulog ditunjuk menjadi importir tunggal beras. Kajian ini menganalisis efektiitas HET, kinerja Bulog sebagai importir beras, dan korelasi antara harga beras di Indonesia dan pasar internasional. Makalah ini mengusulkan opsi kebijakan untuk menurunkan harga beras dengan menggarisbawahi potensi perdagangan internasional. Makalah ini menggunakan Error Correction Model (ECM) dan hasil wawancara. Hasilnya: (1) HET menekan para pedagang eceran, sementara para tengkulak, pemilik penggilingan, dan pedagang grosir yang mengambil laba terbesar dari sistem distribusi beras dalam negeri; (2) Akibat kendala birokrasi, Bulog kerap mengimpor beras ketika harga internasional sudah telanjur meningkat; (3) Harga beras di Indonesia terdeviasi dan lebih mahal dibandingkan pasar internasional. Makalah ini merekomendasikan agar pemerintah mengkaji HET, memberikan kebebasan kepada Bulog untuk menentukan waktu maupun kuantitas beras yang perlu diimpornya dengan berdasarkan pada analisis pasar, dan membentuk forum konsultasi dengan sektor swasta yang memenuhi syarat. Hal ini akan menjaga harga beras senantiasa kompetitif baik bagi konsumen maupun pedagang eceran, serta akan membawa Indonesia lebih dekat dengan rantai nilai regional. In Indonesia, rice prices cost around 28 million poor nearly half of their income. In response, the government implements price ceiling (HET) and assigns National Logistics Agency (Bulog) to stabilize rice prices. As part of its duties, Bulog was appointed as the sole rice importer. This study analyzed the effectiveness of HET, Bulogâ??s performance as rice importer, and the correlation between rice prices in Indonesia and in international market. This paper explores policy options to lower rice prices by highlighting the potential of international trade. This study used Error Correction Models (ECM) and semi-structured interviews. The results: (1) HET pressures retailers, while middlemen, rice millers, and wholesalers benefit the most from domestic rice distribution; (2) Due to bureaucratic constraints, Bulog frequently imported rice when international prices were already rising; (3) Rice prices in Indonesia deviate away from and higher than the international market. This paper recommends the government to review HET, to give freedom to Bulog to determine the timing and quantity of rice importation based on its market analysis, and to organize consultative forums with qualified private sector. This will keep the prices competitive for both consumers and retailers and bring Indonesia closer to the regional value chain.