cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
MUHAMMAD SAW DAN PELETAKAN DASAR PERADABAN ISLAM Wekke, Ismail Suardi; Tamimi, R H; Sugandi, Budy
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.459 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i1.629

Abstract

Abstract. The history of pre and post of Islamic civilization in Arabia is certainly bipolar condition. In one side, pre-Islamic civilization occurred worst behaviors such as hostility, discord, injustice, and the suppression which deconstructed tradition in the Arab nation. Of course, it was different when Muhammad (Arabic descent) was born, there was a very significant changes from the scientific case, social, economic, and other aspects. Overall, all of aspects above has been reconstructed by the miracles of the Prophet, i.e. that is holy Quran as a basic guidelines and in the form of Prophet behaviors, sayings and way of life which accumulated in the Hadith was capable of shifting civilization that backward into a very advanced civilization in any lines. This research tries to construct and compare the Arab civilization, pre-prophets born to Prophets had been born and brought revolutionary mission with the emergence of a new civilization, the Islamic civilization. Keywords: Arabia pre-Islamic, the life of Muhammad, Islamic Civilization Abstrak. Sejarah pra-Islam dan pasca datangnya nabi Muhammad di tengah peradaban bangsa Arab tentunya merupakan suatu kondisi yang sangat bipolar. Di satu sisi, peradaban pra-Islam banyak terjadi perilaku buruk seperti permusuhan, perselisihan, ketidakadilan, penindasan bahkan pembunuhan merupakan suatu tradisi dekonstruktif dalam tatanan bangsa Arab. Tentunya, hal ini sangat berbeda ketika Muhammad saw. (keturunan Arab) lahir, terjadi perubahan tatanan yang sangat signifikan mulai dari konsteks keilmuan, sosial, ekonomi, dan aspek-aspek lainnya. Secara kompeherensif, aspek tersebut di atas direkonstruksi dari mukjizat nabi, yakni Alquran sebagai pedoman dasar dan berupa dari tata cara berperilaku nabi, ucapan dan way of life nabi yang terakumulasi dalam hadits mampu menggeser peradaban yang terbelakang menjadi perabadan yang sangat maju di berbagai lini. Penelitian ini mencoba untuk mengkonstelasikan dan mengkomparasikan peradaban bangsa Arab pra Nabi hingga Nabi dilahirkan dan membawa misi revolusioner dengan munculnya peradaban baru, peradaban Islam.                         Kata Kunci: Arab pra-Islam, kehidupan Muhammad, Peradaban Islam
Sejarah dan Bahasa Figuratif dalam Tradisi Katoba pada Masyarakat Muna Hadirman, Hadirman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1382.817 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v2i1.510

Abstract

Masyarakat Muna memiliki salah satu tradisi, yakni katoba. Secara historis, keberadaan tradisi katoba di Muna terkait dengan awal masuknya Islam di Muna pada 1629-1665 M, yakni masa pemeritahan La Ode Abdul Rahman (bergelar Sangia La Tugho). Sejak masa pemerintahan Sangi La Tugho, hingga saat ini perkembangan tradisi katoba masih cukup kuat karena telah melembaga dalam sistem kebudayaan Muna. Tradisi ini dilaksanakan pada anak yang berusia (7-11 tahun) yang dipandu oleh seorang imamu (imam) desa. Dalam proses pelaksanaan tradisi katoba terjadi interaksi verbal antara imamu dan anak. Interaksi verbal tersebut, selain tercermin melalui bahasa sehari-hari anak, hadir pula kemasan bahasa figuratif (figurative language). Pemakaian bahasa figuratif tersebut, selain untuk memudahkan pemahaman anak terhadap nasihat/pesan katoba yang disampaikan, juga untuk memberikan makna khusus atau efek tertentu.Kata kunci: sejarah, bahasa figuratif, tradisi katoba, masyarakat MunaThe people of Muna has a tradition called Katoba. Historically, the existence of this tradition was related with the earlier penetration of Islam in Muna at 1629-1665 AD, during the ruling period of La Ode Abdul Rahman (titled Sangia La Tugho). Since the ruling period of Sangia La Tungo until today, the Katoba tradition has been growing stronger as it has institutionalised in the Muna Cultural System. The tradition is performed on to children aged 7 to 11 and guided by a village imam (imamu). During the procession, verbal interaction happens between the imamu and the child. The verbal interaction, while reflecting the child‘s everyday language, also shows occurances of figurative language expressions. The reason in using figurative language is to help children to better understand the messages and advices of Katoba and to give special meaning or certain effects.Keywords: history, figurative language, Katoba tradition, the Muna people
Politik Islam Dalam Al-Qur’an (Tafsir Siyasah Surat Ali Imran Ayat 159) Salim, Delmus Puneri
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1713.708 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v1i1.499

Abstract

Islamic politics or political Islam is often defined ranging from Muslim politics through Islamic political parties, institutionalization of Islamic regulations, to politicized Islam for personal and parties’ interests. This paper examines Islamic politics from Al-Qur’an sura Al Imran verse number 159 on consensus (musyawarah). By examining exegesis sura Ali Imran verse number 159 from tafsir al-Maraghi, tafsir al-Misbah and tafsir al-Azhar, this paper argues that musyawarah, having consensus, is one of the value and principles of Islamic politics in the Qur’an. These exegeses even suggest that the Prophet Muhammad as the leader of Islamic community at that time often took a decision promoted by his Companions, rather than based on his own opinion. Therefore, this paper shows that one of principles of Islamic politics from Al-Qur’an is obtaining consensus in taking a decision involving many parties and by involving them in taking the decision. This paper also shows that decision taken based on majority votes, not elites’ ones, is a decision suits principles of Islamic politics from Al-Quran.Keyword: Politics Islam, Tafsir Al Maraghi, Tafsir Al Misbah, Tafsir Al Azhar. Politik Islam dipahami mulai sebagai politik yang dilakukan oleh umat Islam dalam bentuk partai politik, mengagendakan Islam dalam peraturan kenegaraan sampai kepada penggunaan Islam untuk kepentingan pribadi, politik partai dan kelompok. Tulisan ini menggambarkan bahwa politik Islam dalam Al-Qur’an banyak berbicara tentang nilai dan prinsip politik Islam, yang pada kajian ini membahas surat Ali Imran ayat 159 yang berkenaan dengan musyawarah.Dengan menganalisa ayat ini dari tafsir al-Maraghi, tafsir al-Misbah dan tafsir al-Azhar, tulisan ini berargumen bahwa musyawarah merupakan salah satu nilai dan prinsip politik Islam yang dipentingkan dalam Al-Quran. Tafsir-tafsir ini malah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat Islam pada waktu itu sering mengambil keputusan yang berasal dari para sahabat sebagai keputusan bersama, bukan keputusan yang bersumber dari dirinya sendiri.Dengan demikian, tulisan ini menunjukkan bahwa salah satu nilai dan prinsip politik Islam dalam Al-Qur’an adalah anjuran untuk melakukan musyawarah dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan banyak orang dan dengan melibatkan banyak orang. Tulisan ini juga menunjukkan bahwa keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak, bukan suara pemimpin politik saja, adalah keputusan yang sesuai dengan nilai dan prinsip politik Islam dalam Al-Qur’an.Kata Kunci: Politik Islam, Al-Quran, Tafsir Al Maraghi, Tafsir Al Misbah, Tafsir Al Azhar. 
RITUAL BUDAYA MANDI SAFAR DI DESA TANJUNG PUNAK PULAU RUPAT KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU Ashsubli, Muhammad
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.911 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i1.634

Abstract

Abstract. This research aims to show up the local islamic society tradition named ritual mandi safar which get focus from various community of islam itself. Ritual mandi safar represents one of local area ancestor heritage assumed can refuse misfortunes (accident, disaster and disease epidemic). However as the local tradition which is related to islam, it generate pros and contra among the society that support and also refuse it. Relating to that reason, this research aims tofind the meaning of symbol and function of ritual mandi safar for the society that support it. How far their understanding to this rittral and the adtantages for their daily life and also the role of local government to remain this tradition.Keywords : Ritual Mandi Safar, Tradition, Islamic LawAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menampilkan tradisi masyarakat Islam lokal yang dikenal dengan nama ritual mandi safar yang mendapatkan fokus dari berbagai komunitas Islam itu sendiri. Ritual mandi safar merupakan salah satu warisan leluhur yang dianggap dapat menolak kemalangan (kecelakaan, bencana dan wabah penyakit). Namun sebagai tradisi lokal yang terkait dengan Islam, itu menghasilkan pro dan kontra di antara masyarakat yang mendukung dan juga menolaknya. Berkaitan dengan alasan itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbol dan fungsi mandi mandi Ritual bagi masyarakat yang mendukungnya. Seberapa jauh pemahaman mereka terhadap rittral dan kecakapan ini untuk kehidupan sehari-hari mereka dan juga peran pemerintah daerah untuk mempertahankan tradisi ini.Kata Kunci: Ritual Mandi Safar, Tradisi, Hukum Islam
FILM SEBAGAI MEDIA DAKWAH ISLAM Pratiwi, Andi Fikra
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.255 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v2i2.523

Abstract

Abstrak. Dakwah merupakan kewajiban dan tanggung jawab umat Islam dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam sebagaimana termuat dalam al-Quran dan hadis yang bertujuan kepada ‘amar makruf dan nahi mungkar’. Salah satu alternatif dakwah adalah melalui media film, dengan kemajuan teknologi di zaman sekarang pemanfaatan media tersebut dapat diefektifkan. Seiring dengan perkembangan perfilman Indonesia saat ini yang cenderung meningkatkan antusias para movie maker memproduksi karya-karya terbaiknya. Karya yang dihasilkan menjadi media dakwah dalam menyebarkan pesan-pesan agama kepada masyarakat dengan mengemas kisah yang ringan, menghibur, cenderung mengangkat kisah yang dekat dengan keseharian masyarakat tanpa melupakan nilai motivasi yang terkandung dalam kaidah-kaidah Islam. Film merupakan manifestasi perkembangan kehidupan budaya masyarakat pada masanya. Konstruksi sebuah film misalnya, merupakan salah satu esensi menelevisikan kebudayaan tertentu, pada gilirannya merepresentasikan nilai-nilai budaya melalui demonstrasi skenario oleh sutradara-sineas.Kata Kunci : Film, Media, Dakwah Islam Abstract. Da’wah is an obligation and responsibilty of Moslem in spreading the teaching of Islam as stated in al Quran and Hadits toward the ‘Amr ma’ruf nahi munkar. An alternative for da’wah is through film. The advaced technology today benefits into this media effectiveness. Along with the recent development of Indonesian cinematography, movie makers enthusiastically produce their best creations. Those creations become da’wah media to spread the religion teachings to society through simple and entertaining stories that exploit topics closed to everyday events without omitting motivational values of Islam. The construction of a film, for example, is an essence of televisioning a certainculture which is in turn represents cultural values through scenarios created. One the film of this category is Dalam Mihrab Cinta.Key words: Film, Media, Islamic Da’wah
ISLAM NUSANTARA; STRATEGI KEBUDAYAAN NU DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL Bilfagih, Taufik
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.546 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v1i2.505

Abstract

The collapse of Communism in the 1990s, marked the raise of the Global era; the era when nations are liberated from the essence and existence of local ethnics, language, culture and religion. This means local and national identities will be degraded by globalisation processes and replaced by global identity which contains transnational ideas. They consists of views, ideas, suggestions, topics, concepts, and values which are contracted on the basis of new paradigms, dogmas, doctrines for a global community that has no identity, open, and freeto take choices. This community focusses on attitudes that put forward to respect values and idolised money as the center of life dinamies.NU with its archipelagoic Islam tries to protect Islamic communities (ummah) from the globalisation bombardment. NU realizes the extent of responsibility to preserve and mantain the continuity of national culture as heritage from the thread of globalisation. This article aims to discuss the archipelagoc islam which becomes NU’s ultimate weapon in the cultural strategy.Keywords: Archipelagoc Islam, NU, Globalisation.Pasca runtuhnya komunisme pada dasawarsa 1990-an yang ditandai kehadiran era global, yaitu era pembebasan bangsa-bangsa dari esensi dan eksistensi etnis, bahasa, budaya dan agama bersifat lokal dan sektarian. Ini berarti, identitas lokal dan nasional bangsa-bangsa di seluruh dunia akan terhapus oleh proses globalisasi untuk diganti dengan identitas masyarakat global yang bersifat trans-nasional, di mana pandangan-pandangan, gagasan-gagasan, ide-ide, wacana-wacana, konsep-konsep, dan nilai-nilai ditegakkan di atas paradigma, dogma dan doktrin baru masyarakat global yang tanpa identitas, terbuka, bebas, menentukan pilihan, yang kiblat jiwa dan pikirannya terfokus dan berorientasi kepada sikap mengutamakan, menghormati, memuliakan, dan memuja uang sebagai inti dari dinamika kehidupan.NU dengan konsep Islam Nusantaranya, mencoba membentengi umat dari gempuran globalisasi tersebut. NU menyadari beratnya tugas menjaga kelestarian, keterpeliharaan, kontinuitas kebudayaan nasional warisan leluhur dari terjangan gelombang globalisasi. Maka tulisan ini bermaksud untuk membahas tentang Islam Nusantara yang belakangan menjadi “senjata” pamungkas NU sebagai strategi kebudayaan. Kata Kunci; Islam Nusantara, NU, Globalisasi
AHMADIYAH DALAM LINGKAR TEOLOGI ISLAM (Analisis Sosial atas Sejarah Munculnya Ahmadiyah) Muhtador, Moh
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.618 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i1.630

Abstract

Abstrac. This paper specifically discusses the Islamic sects from the social aspect, given the birth of the religious school can not be separated from the social environment. Social behavior has shaped the character in understanding the teachings of religion, thus giving birth to religious streams adapted to the local social context. Therefore, the growth of Islam is part of social interaction and religious teachings that become the repertoire of Islamic theological thought, such as Ahmadiyah. As a religious organization, the birth of Ahmadiyah is not much different from the birth of Shia, Sunni and Khawarij. Given that each sect has a different social character at the beginning of its birth, so does the Ahmadiyya. the sociologically Ahmadiyya is a portrait of the Islamic struggle in India with the surrounding theological character. This study is a research library that aims to analyze the history of Islamic theological thought by using social approach. Hopefully, it can open Islamic discourse related to the birth of sect in Islam, especially Ahmadiyah. Given the birth of a sect is not a religious teaching that comes from God, but part of ones ijtihad in answering social problems in a time. Keywords: Ahmadiyah, Islamic theologi, social Abstrak. Tulisan ini secara khusus mendiskusikan sekte-sekte Islam dari aspek sosial, mengingat lahirnya aliran keagamaan tidak bisa lepas dari lingkungan sosial. Perilaku sosial  telah membentuk karakter dalam memahami ajaran agama, sehingga melahirkan aliran-aliran keagamaan yang disesuaikan dengan konteks sosial setempat. Oleh sebab itu, tumbuhnya aliran Islam adalah bagian dari interaksi sosial dan ajaran agama yang menjadi khazanah pemikiran teologi Islam, seperti Ahmadiyah. Sebagai sebuah organisasi keagamaan, lahirnya Ahmadiyah tidak jauh berbeda dengan lahirnya Syiah, Sunni dan Khawarij. Mengingat masing-masing sekte memiliki karakter sosial berbeda pada awal kelahirannya, begitu juga Ahmadiyah. secara sosiologis Ahmadiyah adalah potret dari pergulatan Islam di India dengan karakter teologis yang melingkupi. Kajian ini merupakan library research yang bertujuan untuk menganalisa sejarah pemikiran teologi Islam dengan menggunakan pendekatan sosial. Diharapkan, dapat membuka wacana keislaman terkait dengan lahirnya sekte dalam Islam, terutama Ahmadiyah. Mengingat lahirnya sekte bukan ajaran agama yang datang dari Tuhan, tetapi bagian dari ijtihad seseorang dalam menjawab problem sosial dalam suatu masa. Kata Kunci: Ahmadiyah, teologi Islam, sosial
Sejarah Farmasi Islam dan Hasil Karya Tokoh-Tokohnya Sudewi, Sri; Nugraha, Sri Mardikani
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1382.701 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v2i1.511

Abstract

Pada zaman global ini, orang menganggap bahwa kemajuan ilmu farmasi berasal dari Barat. Padahal kemajuan yang dicapai Barat tersebut tidak lepas dari zaman sebelumnya, yakni dunia Islam. Para ilmuwan farmasi Muslim selain menguasai riset-riset ilmiah di bidang farmasi, mereka juga berhasil membuat komposisi, dosis, tata cara penggunaan, dan efek dari obat-obatan (baik obat sederhana maupun obat campuran). Masa kejayaan Islam merupakan masa di mana ilmu farmasi mencapai puncaknya. Tokoh-tokoh ilmu farmasi seperti Jabir bin Ibnu Hayyan, Ibnu Masawayh,  Al-Kindi, Sabur Ibnu Sahl, At-Tabari, Ar-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Al-Ghafiqi, Ibnu Zuhr, Ibnu Thufayl, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Al-Baythar menjadi orang-orang di barisan terdepan bahkan beberapa karya mereka masih dijadikan rujukan dalam ilmu farmasi dan kedokteran hingga abad modern baik di negara Timur maupun di negara Barat.Kata kunci: Sejarah, farmasi Islam, hasil karya tokoh-tokoh farmasi Islam.In this global era, people see that development of the Pharmaceutical Science has come from the West. In fact, the progress achieved by the West is closely related to the previous time, that is Islamic world. The Muslim pharmaceutical scientists not only dominated scientific research in the pharmaceutical field but also determined compositions, dosages, ways of administering, and effect of drugs (both the simple and the combination). The glorious era of Islam is the peak of pharmaceutical sciences. Some of the figures known as seperti Jabir bin Ibnu Hayyan, Ibnu Masawayh,  Al-Kindi, Sabur Ibnu Sahl, At-Tabari, Ar-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Al-Ghafiqi, Ibnu Zuhr, Ibnu Thufayl, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Al-Baythar were frontiers and even their research pieces are still being used as references in modern pharmaceutical and medical study both in the Eastern and Western countries.Keywords: History, Islamic pharmacy, research pieces of the Islamic pharmaceutical figures.
LEMBAGA INTERFAITH DI INDONESIA (Studi Kritis Pendekatan Formalistik Negara Terhadap Kerukunan Antarumat Beragama) Mantu, Rahman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.612 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v1i1.500

Abstract

Pembentukan Lembaga Interfaith di Indonesia khususnya yang dinisiasi oleh Negara punya sejarah panjang. Konflik berlatar isu Agama yang terjadi rentang 1960-an hingga memasuki fase 1990-an, menuntut pemerintah mengeluarkan banyak regulasi sebagai upaya untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama. Namun, situasi politik dan keamanan yang tidak menentu membuat usaha ini banyak menemukan kendala. Tulisan ini menggunakan pendekatan Historis-politis terhadap sebab munculnya lembaga dialog antaragama yang dibentuk Negara. Penulis membaginya kedalam beberapa fase, dari Orde lama hingga era reformasi. Pemetaan, model, strategi dialog setiap fase mengalami perubahan-perubahan, hasilnya pun pasang-surut. Hingga kini Lembaga-lembaga dialog tersebut masih tetap eksis, ada yang mampu menjalankan fungsinya, tidak sedikit juga yang gagal. Isu kerukunan antarumat beragama sangat krusial sebab berpengaruh pada stabilitas kehidupan bermasyarakat, karenanya ia menjadi perhatian banyak pihak, termasuk Negara.Kata Kunci: Lembaga Interfaith, Konflik, Kerukunan, Negara, Agama.  There is a long history of the establishment of interfaith Institutions in Indonesia, especially one initiated by the state. Religious issue based conflicts that happened from 1960s through 1990s have pushed government to publish many regulations as an effort to establish interfaith harmony. However, the unstable political and security situation provided many obstacles. This article used historical-political approach to identify the reasons behind the institution for interfaith dialogue formed by the State. The witer put them into several phases, started from the Old Order to the Reformasi Era. The mapping, model, strategy of dialogue changed through phases; therefore, the results show the high and low tides. Until today those institutions still exists although some of them have failed to function. The issue of interfaith harmony is crucial for it influences the stability of society. Thus it attracts interests from various parties, including the State.Keywords: Interfaith institution, Conflict, Harmony, State and Religion. 
REAKTUALISASI DAKWAH WALI SONGO: GERAK DAKWAH KH SAID AQIL SIROJ DALAM MENEBAR ISLAM RAḤMATAL LIL ĀLAMIN Lufaefi, Lufaefi
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.967 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i1.635

Abstract

Abstract. Dakwah in the modern era, not a bit actualized by the ways of force, even up to spread hatred and rudeness. The hoax issues were made into a spear to legalize the dawah which he regarded as a very noble teaching. Because the meaning of such dawah, as a result Islam is often blamed as a religion of terrorism. In the other, there is also a group of people who are afraid of Islam (Islamophobia). This is where the need to reconstruct dawah models that seem radical. KH. Said Aqil Siroj, a national religious figure who now occupies the chair position of the Chairman of PBNU, has a distinctive model and movement of dawah as actualized by Wali Songo when spreading Islam. The re-actualization of Wali Songos teachings is echoed by KH. Said Aqil Siroj through persuasive approach, not force, keep the traditions, persistence of dawah and reconstruct the meaning of Ahlussunah Wal Jamaah as social values. Such a form of dakwah proved to have a devastating effect on the growth of Islamic values rahmatal lil alamin.Keywords: Wali Songo, KH. Said Aqil Siroj, Peace Dawah, Islam Rahmatal Lil AlaminAbstrak. Dakwah di era modern sekarang, tidak sedikit diaktualisasikan dengan cara-cara memaksa, bahkan sampai dengan menebar kebencian dan kekasaran. Isu-isu hoax dijadikan tombak untuk ‘melegalkan’ dakwah yang dianggapnya sebagai ajaran yang sangat mulia. Karena pemaknaan dakwah yang demikian, akibatnya Islam sering dituding sebagai agama terorisme. Selain itu, muncul juga sekelompok orang yang takut akan Islam (Islamophobia). Di sinilah perlunya merekontruksi model-model dakwah yang terkesan radikal. KH. Said Aqil Siroj, tokoh agama Nasional yang kini menduduki kursi jabatan Ketua Umum PBNU, memiliki model dan gerak dakwah yang khas sebagaimana diaktualisasikan oleh Wali Songo ketika menyebarkan agama Islam. Reaktualisasi ajaran Wali Songo digemakan kembali oleh KH. Said Aqil Siroj melalui pendekatan persuasif, tidak memaksa, menjaga tradisi-budaya, kegigihan berdakwah dan merekonstruksi pemaknaan Ahlussunah Wal Jama’ah sebagai nilai-nilai sosial. Wujud dakwah demikian terbukti memberi efek dahsyat terhadap tumbuhnya nilai-nilai Islam rahmatal lil ‘alamin.Kata Kunci: Wali Songo, KH. Said Aqil Siroj, Dakwah Perdamaian, Islam Rahmatal Lil ‘Alamin.

Page 1 of 4 | Total Record : 40