cover
Contact Name
Anisul Fuad
Contact Email
anisulfuad77@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
anisulfuad77@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
EMPOWER: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
ISSN : 2580085X     EISSN : 25800973     DOI : -
The EMPOWER Journal focuses on the theme and topic of Development of Islamic Communities and Social Sciences Paradigms and Theories, including: 1) Management of Islamic Community Welfare. 2) Social History of Indonesian Islamic Society. 3) Development Studies. 4) Culture. 5) Islamic politics. 6) Islamic Geography. 7) Rural and Urban Sociology. 8) Community Development Management. 9) Economic Map of Muslims. 10) Ecology.
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Perlindungan Anak Buruh Migran di Kabupaten Cirebon (Analisis Terhadap Konsep Dampak Anak yang Ditinggalkan) Suryadi, Suryadi
Empower Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.172 KB)

Abstract

Migration is a natural process of human population dynamics that move from place to place for a wide variety of orientations. The phenomenon of international migration is often an overview of the economic situation of a country in equality. Child is the mandate of Almighty God, in their houlders the future of the family, the nation and the state will be handled. Therefore the completion of their optimal growth and development is the duty of the parents and all community elements, including the state to participate in its favor. Child Rights and Protection Act (UUPA) is a manifestation of the seriousness of the state in implementatng the ringhts of the children while protecting them from potential violence that is always threatening. The phenomenon of migrant workers makes children face problem by lack of primary escort their growth process, especially the mother. The role of the father or mother became the sole companion of children and family members assisted potentially unable to meet the data protection and rights of children. Based on the survey results in general the proportion of the fulfillment of 4 (four) children’s fundamental rights, namely the right to life, growng rights, protection rights and the rights of the opinion can be met by one if his parents or both become migrant workers. In the midst of the stuggle to fulfillment of social and economic needs by migrant workers, beside economic pressures and the exsistence of self in community life, international migration is a quick way to meet all needs, most sources person said needs serious attention to the problems of migrant workers children, by optimizing the existence of regulation with the synegy and policies and programs by both government and non-government organizations and community. Keyword: migrant workers, the rights and protection of children. 
POLA KONSUMSI KELUARGA NELAYAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN KELUARGA (Studi Kasus di Desa Citemu Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon) Afifah, Afifah
Empower Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.501 KB)

Abstract

Dalam undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang perikanan mengatakan bahwa nelayan ditunjukkan kepada setiap orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Nelayan merupakan salah satu bagian dari anggota masyarakat yang mempunyai tingkat kesejahteraan paling rendah, hal ini dicirikan dari lingkungan hidup yang kumuh serta rumah sederhana, jika terdapat rumah yang komplit pada umumnya di miliki oleh pemilik kapal dan pemodal. selain itu, masyarakat nelayan ketika mendapat penghasilan tinggi cenderung bergaya hidup boros (konsumtif), seperti di Desa Grajagan Kecamatan Purwaharjo Kabupaten Banyuwangi dan di Sumatera Barat khususnya Kabupaten Pesisir. Secara umum, masayarakat nelayan Desa Citemu terlihat seperti nelayan pada desa lainnya yaitu bergaya hidup boros, seperti banyaknya para pedagang keliling dan toko yang setiap hari selalu ramai pembeli dari masyarakat Desa Citemu, maka peneliti ingin menganalisis lebih mendalam mengenai pola konsumsi masyarakat nelayan Desa Citemu terutama keluarga, bagaimana pengaruh pola konsumsi terhadap kesejahteraan keluarga.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pola konsumsi terhadap kesejahteraan keluarga yang dapat direpresentasikan dari taraf hidup keluarga dan kondisi sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Teknik penarikan informan dengan menggunakan sampling purposive serta menggunakan empat teknik pengumpulan data, yaitu live in, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data di lapangan model Miles and Huberman, yakni dengan melakukan reduksi data, penyajian data serta verifikasi atau penarikan kesimpulan. Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah melakukan triangulasi atau penggabungan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola konsumsi keluarga nelayan diukur dari indikator ekonomi dapat dikatakan sejahtera yakni keluarga bakul dan keluarga juragan. hal ini disebabkan karena, banyaknya pendapatan rajungan yang diperoleh sehingga untuk memenuhi kebutuhan baik kebutuhan primer, sekunder, dan tersier itu terpenuhi. sedangkan bagi keluarga bidak hanya memperoleh pendapatan rajungan lebih sedikit dibanding bakul dan juragan, sehingga keluarga bidak hanya mampu memenuhi kebutuhan primer saja. tetapi ketika pola konsumsi diukur dari kesejahteraan sosial terdapat keluarga nelayan yang belum dikatakan sejahtera seperti keluarga juragan dan bidak, belum dikatakan sejahtera diukur dari tingkat pendidikan, resiko pekerjaan, tenaga kerja yang dikeluarkan, dan ketergantungan ekonomi.Kata kunci: Keluarga nelayan, pola konsumsi, pendapatan, pengeluaran, kesejahteraan.  ABSTRACT In Law No. 1 of 2004 on fisheries said that the fishermen pointed out to every person whose livelihood is fishing. Fisherman is one part of the community members who have the lowest levels of welfare, it is characterized from the slum environment and the house is simple, if there is a complete home are generally owned by ship owners and financiers. in addition, fishing communities when it gets high income tend extravagant lifestyles (consumer), such as in the village Grajagan Purwaharjo subdistrict in Banyuwangi and Coastal District of West Sumatra. In general, the community fishing village Citemu look like fishermen in other villages namely stylish living lavishly, as many traders around and shop every day always crowded with shoppers from the village community Citemu, the researchers wanted to analyze more deeply on consumption patterns fishing village Citemu especially family, how to influence consumption patterns on the welfare of the family. OBJECTIVE: To describe patterns of consumption on the welfare of families that can be represented on the standard of living of the family and social conditions. The method used in this research is descriptive qualitative. Mechanical withdrawal informants using purposive sampling and used four data collection techniques, namely live in, observation, interviews, and documentation. The analysis in this study using data analysis in the field model of Miles and Huberman, namely by performing data reduction, data presentation and verification or conclusion. After the data is collected, the next step is to perform triangulation or merger. The results of this study showed that the consumption patterns of families of fishermen measured prosperous economic indicators can be said that the family and the family basket skipper. it is due, the amount of income earned rajungan so as to meet the needs of both the needs of primary, secondary, and tertiary are met. while for families pawns only earn less than the crab baskets and skipper, so the family pawn only able to meet the primary needs of all. but when measured consumption patterns of social welfare are fishing families have not been prosperous like the family said skipper and pawns, yet say prosperity is measured from the level of education, job risks, labor incurred, and economic dependence. Keywords: Family fishing, consumption patterns, income, expenditure, welfare.
Urgensitas Ulama dan Dakwah Islamiyyah dalam Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat (Ambigu Antara Idealitas Dan Realitas) Kholid, Idham
Empower Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.177 KB)

Abstract

Masyarakat Modern dengan segudang kesibukan yang selalu melilitnya telah berada diujung kehidupan yang “pemisahan yang dalam” antara si kaya dan si miskin. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kemiskinan yang teramat sangat ataupun kekayaan yang berlebihan bisa menempatkan manusia pada kondisi yang tak seimbang. Karena itu perlu diadakan penyadaran lewat dakwah Islamiyyah oleh para ulama. Dengan dakwah Islamiyyah diharapka bai8k si kaya maupun si miskin bisa saling toleran dan saling menimbang rasa. Terutama si miskin perlu dipahamkan bahwa kemiskinan bukan memicu munculnya sikap ketidak berdayaan ataupun bukan akhir dari segalanya dalam hidup ini. Karena masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh si miskin dalam kehidupan ini. Si miskin perlu diberdayakan agar lebih bisa membantu dirinya sendiri. Kata Kunci: Ulama, Dakwah islamiyyah dan Pemberdayaan masyarakat   AbstractModern society with a myriad of activities that always wrapped around it has been at the end of life a "deep separation" between the rich and the poor. The rich get richer and the poor get poorer. Extremely poverty or excessive wealth can put people in an unbalanced state. Therefore it is necessary to establish awareness through Islamiyyah dakwah by the scholars. With Islamiyyah dakwah expected bai8k the rich and the poor can be mutual tolerance and mutual taste. Especially the poor need to be understood that poverty does not trigger the emergence of the attitude of helplessness or not the end of everything in life. Because there are still many things that the poor can do in this life. The poor need to be empowered to be more able to help himself. Keywords: Ulama, Islamiyyah Dawah and Community Empowerment
Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) Melalui Program CSR PT Indocement (Studi Kasus Di Blok Kebon Gedang Desa Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon) Satori, Satori
Empower Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.58 KB)

Abstract

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah ( UMKM) merupakan kelompok yang telah mempunyai usaha meskipun skalanya kecil ataupun mikro. UMKM punya potensi untuk tumbuh besar sehingga mampu menyerap tenaga kerja tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Untuk itu dibutuhkan pemberdayaan pada kelompok usaha ini agar tumbuh dengan baik. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. PT Indocement yang berada di Palimanan-Cirebon adalah suatu perusahaan besar yang bergerak dibidang industri semen, CSR Indocement ada pada tahun 2011.                                Penelitian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana proses, manfaat, dan dampak pemberdayaan UMKM Batik Tulis melaui Program CSR oleh PT.Indocement terhadap ekonomi pengrajin Batik Tulis. Untuk mengidentifikasi masalah tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan metode observasi,wawancara mendalam, dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan yaitu analisis data model Miles dan Huberman yang terdiri atas data reduction, data display, dan conclusion drawing. Validasi data menggunakan triangulasi dan member checking. Trianggulasi adalah proses penguatan bukti dari individu-individu yang berbeda, jenis data, dalam deskripsi dan tema-tema dalam penelitian kualitatif. Member checking adalah suatu proses dimana peneliti menanyakan pada seorang atau lebih partisipan dalam studi untuk mengecek keakuratan dari keteranagn tersebut.        Hasil penelitian menunjukan bahwa pengrajin batik tulis Ciwaringin mendapatan manfaat pemberdayan UMKM melalui permodalan, sarana prasarana, dukungan pemasaran, dukungan non materil,serta selalu mengingatkan pengrajin tentang tujuan utama pada setiap kegiatan yang dilaksanakan, dan dampak pemberdayaan memiliki positif negative. dampak positif yang di proleh pengrajin menpunyai penghasilan, mempunyai ketrampilan lebih, mempunyai koprasi sebagai wadah bagi pengrajin dapat mengembangkan usaha bersama. dan dampak negatif pun tak luput dari antara pengrajin yang dipicu oleh kecemburuan sesame pengrajin. untuk mencegah konflik antar pengrajin sesekali diadakan training motivasi, bertujuan agar pengrajin mendapat pemahaman pentingnya membangun kebersamaan, serta menghindari persaingan antar pengrajin yang tidak sehat. Kata kunci : Pemberdayaan, UMKM, Program CSR
Pemberdayaan Umat Islam Melalui Pemaknaan Kembali Nilai-Nilai Keislaman Suryatna, Yayat
Empower Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.195 KB)

Abstract

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3: 110). Terjemahan ayat Alquran di atas pernah direalisasikan oleh Rasulullah dan umat Islam terdahulu dalam kehidupan nyata. Mereka menjadi umat terbaik dalam artian yang sesungguhnya.Terbaik secara politik, terbaik secara ekonomi, terbaik secara budaya, terbaik secara moral atau akhlak, terbaik dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, terbaik dalam segala aspek kehidupan. Islam dan umat Islam terhebat dan tidak ada yang menandingi kehebatannya, bukan hanya jargon tetapi terbukti dalam realitas kehidupan. Dalam waktu yang amat singkat, mereka berhasil meruntuhkan hegemoni Persia dan Romawi, dua negara adidaya yang ada saat itu, dan melebarkan jangkauan teritorinya hingga mencapai dua pertiga belahan dunia saat itu. Pada zaman keemasannya daulah Islamiyah berperan laksana mercusuar di tengah kegelapan dunia dan menjadi referensi  bagi umat-umat agama lain.Namun saat ini, Dunia Islam secara keseluruhan masih berada dalam kultur pra-industri. yang mustahil dapat bersaing dengan Barat yang telah jauh berada  dalam kultur industri modern. Jargon kebangkitan Islam yang telah dicetuskan pada abad ke-14 Hijriyah masih belum mampu menghasilkan kemajuan yang signifikan. Di antara negara-negara Muslim di dunia, belum satu pun yang dapat dikategorikan ke dalam negara Industri. Paling banter, negara-negara muslim disebut sebagai negara sedang membangun (develoving countries).Di sebagian besar negara-negara Muslim, kemiskinan dan keterbelakangan masih menjadi fenomena yang akut. Negara-negara Muslim yang berhimpun dalam Organization of Islamic Cooperation/OIC yang merupakan asosiasi lintas negara terbesar kedua setelah PBB dengan anggota sebanyak 57 negara dengan penduduk mencapai 22,5% dari total populasi dunia namun secara akumulasi, negara-negara OIC hanya mampu memproduksi 7,2% saja dari total GDP dunia.Mereka hanya berkontribusi 9% dari total nilai perdagangan dunia (world trade) dan 12% dari nilai perdagangan di antara negara anggotanya (intra-trade).  Data di atas menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi umat Islam kontemporer masih sangat marjinal, kurang produktif, tidak kompetitif, dan tidak memiliki kerjasama dan networking yang baik di antara sesamanya maupun dengan negara-negara non-Muslim.Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, setidaknya, ada dua model pembaharuan umat Islam yaitu model Sekulerisme Turki yang memisahkan Islam dari kehidupan berbangsa dan bernegara dan model Islam Arab Saudi yng menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Kedua model pembaharuan dalam Islam tersebut belum menghasilkan kemajuan yang signifikan, karena kedua Negara tersebut sampai saat masih belum masuk kategori Negara industri maju.Berdasarkan realitas tersebut maka diperlukan terobosan-terobosan pemikiran baru guna mengatasi kemandegan ini. Antara lain melalui pemaknaan kembali nilai-nilai dan term-term Islam  sehingga Islam menjadi motivator dan dinamisator peradaban yang progresif revolusioner. Key World: keterbelakangan, kemajuan, pembaharuan, nilai-nilai, Islam.  Abstract "You (Muslims) are the best people born to mankind, (for you) enjoin the goodness, and prevent from the evil, and believe in God" (Surah 3: 110). The translation of the Quranic verse above has been realized by the Prophet and the early Muslims in real life. They become the best people in the true sense. Best in politics, best economically, best culturally, best morally, best in the mastery of science and technology, best in all aspects of life. Islam and the greatest Muslims and no one to match his greatness, not only the jargon but proven in the reality of life. In a very short time, they managed to undermine the Persian and Roman hegemony, the two superpowers that existed at that time, and widened the reach of its territory to two-thirds of the world at that time. In its golden age daulah Islamiyah acts as a lighthouse in the darkness of the world and a reference for the people of other religions.But today, the Islamic World as a whole is still in pre-industrial culture. Which is impossible to compete with the West that has been deep in modern industrial culture. The Islamic revival jargon that had been triggered in the 14th century Hijriyah still has not been able to produce significant progress. Among the Muslim countries of the world, not one can be categorized into the industrialized countries. At best, Muslim countries are called developing countries..In most Muslim countries, poverty and underdevelopment are still an acute phenomenon. Muslim countries comprising the Organization of Islamic Cooperation / OIC which is the second largest cross-border association after the UN with members of 57 countries with a population of 22.5% of the total world population but accumulated, OIC countries are only able to produce 7, Only 2% of the total GDP of the world. They only contribute 9% of the total world trade value and 12% of the trade value among its member countries (intra-trade). The data above show that the economic power of contemporary Muslims is still very marginal, less productive, uncompetitive, and has no good cooperation and networking between neighbors and non-Muslim countries.To catch up, at least, there are two models of Islamic renewal: the Turkish secularism model that separates Islam from the life of the nation and the state and the Islamic model of Saudi Arabia which applies Islam in all aspects of life. Both models of reform in Islam have not produced significant progress, because the two countries until now still not entered the category of industrialized countries developed.Based on the reality of the necessary new breakthroughs to overcome this stagnancy. Among others, through the re-interpretation of Islamic values and terminology so that Islam becomes a revolutionary progressive and revolutionary civilization motivator and dynamist. Key World: underdevelopment, progress, renewal, values, Islam. 
PERMASALAHAN SOSIAL KELOMPOK PETANI JAMBU BIJI TERHADAP PENINGKATAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MASYARAKAT Asih, Siti Sukma
Empower Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.826 KB)

Abstract

Siti Sukma Asih, 14123541358, Permasalahan Sosial Kelompok Petani Jambu Biji Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Desa Pajambon Kecamatan Kramatmulya Kabupaten Kuningan, Skripsi, Cirebon: Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Pertanian jambu biji di Desa Pajambon menjadi mata pencaharian masyarakat setempat. Hal ini sebabkan pertanian jambu biji dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Desa Pajambon. Namun dengan demikian, pertanian jambu biji di Desa Pajambon sudah dikuasai oleh para pengepul (tengkulak). Dalam hal ini, petani jambu mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan jerih payah mereka, sedangkan pengepul mendapatkan hasil yang lebih besar dari petani. Selain dari sistem pengepul, salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan pada jambu biji dan rendahnya pendapatan terjadi akibat adanya hama. Hama menyebabkan jambu biji menjadi kurang produksi karena dengan adanya hama menjadikan hasil jambu sedikit. Adapun Salah satu bentuk upaya masyarakat terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dilakukan dengan cara tumpang sari, menjual sebagian jambu ke Bos luar, dan pembasmian hama secara mandiri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya permasalahan sosial kelompok petani jambu biji terhadap peningkatakan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Desa Pajambon, pada dasarnya tidak disadari oleh banyak kalangan para petani, sehingga petani hanya bisa mengikuti kehendak pengepul (tengkulak) mengenai harga jambu. Adapun peran pemerintah lebih mendukung kepada pengepul (tengkulak)  untuk mengembangkan jambu biji petani Desa Pajambon, tanpa melihat bagaimana kesejahteraan ekonomi para petani jambu biji ketika jambu biji mengalami penurunan.
PERAN INTELEKTUAL MUSLIM DALAM MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT MENUJU MASYARAKAT MADANI (Sebuah Gagasan dan Harapan) kholid, A.R Idham
Empower Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.399 KB)

Abstract

ABSTRAKSecara historis, aktivitas dakwah pada awalnya hanyalah merupakan tugas sederhana yakni kewajiban untuk menyampaikan apa yang diterima dari RasuluIIah SAW., walaupun hanya satu ayat. Terkait dengan persoalam pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat Madani ternyata disamping menjadi tugas para ulama pun menjadi tugas para intelektual Muslim.Peran intelektual Muslim dalam pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat madani mulai terlihat bentuknya secara jelas pada masa rezim Soeharto dan terus menemukan bentuknya pasca runtuhnya kekuasaan rezim Soeharto dan beralih ke masa Reformasi. Kata Kunci: Cendikiawan Muslim, Pemberdayaan, dan Masyarakat Madani.  ABSTRACTHistorically, dawah activity was originally only a simple task, namely the obligation to convey what is received from Rasulullah SAW, although only one verse. Related to the problem of community empowerment to the society Madani was in addition to the duties of the scholars became the duty of Muslim intellectuals.The role of Muslim intellectuals in the empowerment of civil society towards civil society began to be seen clearly in the Soeharto regime and continues to find its form after the collapse of Soeharto regime power and move to the Reformation. Keywords: Muslim Scholars, Empowerment, and Civil Society.
Pengembangan Industri Kreatif Kerajinan Gamelan Kening Dan Upaya Peningkatan Ekonomi Keluarga Wahyudin, Wahyudin
Empower Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.301 KB)

Abstract

Desa Kondangsari adalah salah satu Desa yang berada di Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon yang terkenal dengan salah satu kerajinannya yaitu Gamelan Kening atau Saron. Masyarakat Kondangsari mata pencahariannya sebagian besar sebagi buruh tani. Namun dengan adanya kerajinan Gamelan Kening  masyarakat banyak yang menjadi pedagang, dan karyawan kerajinan Gamelan Kening. Sudah 100 orang lebih yang sudah diberdayakan, baik itu menjadi pedagang keliling maupun menjadi karyawan. Proses pemberdayaannya ialah salah satunya dengan cara memberikan bimbingan dalam hal pembuatan kerajinan kening, dan memberikan modal baik itu modal materi ataupun non materi. Fokus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengembangan Industri Kreatif melalui kerajinan Gamelan Kening  dan upaya peningkatan ekonomi keluarga di Desa Kondangsari Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, pengembangan Industri kreatif  kerajinan Gamelan Kening semakin berkembang dilihat dari tahun ketahun para pedagang banyak permintaan Gamelan Kening untuk di jual, sehingga sampai saat ini kerajinan Gamelan Kening berkembang sampai keluar pulau Jawa penjualannya dan upaya peningkatan ekonomi keluarga semakin meningkat dengan cara bimbingan pembuatan Gamelan Kening. Selain itu juga dampak yang di rasakan oleh masyarakat khususnya Desa Kondangsari ialah menambah perekonomian masyarakat, membuka lowongan pekerjaan dan menetaskan angka kemiskinan. Namun sayang sekali dari aparat kepemerintahan Desa maupun Kecamatan tidak ada bantuan secara materi ataupun non materi sehingga produk kerajinan Gamelan Kening belum menjadi produk unggulan dan hampir kalah saingannya dengan mainan lainnya. Namun ini adalah kerajinan Gamelan warisan yang merupakan aspek penting karena tidak dimiliki oleh setiap Negara.
Forum Warga Peduli Anak Jalanan Solusi Memandirkan Anak Jalanan Badar, Syaeful
Empower Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.11 KB)

Abstract

ABSTRAK(Pemberdayaan Forum Warga Peduli Anak Jalanan Sebagai Model Alternatif Membangun Jejaring Pendampingan Pola Asuh Untuk Meningkatkan Akses Anak Jalanan Memperoleh Kemudahan  Layanan Kesehatan, Layanan  Pendidikan dan Layanan  Hukum. Tulisan ini disusun untuk mengembangkan pemberdayaan peduli pada persoalan anak jalanan yang di lakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat dan Masyarakat dalam Program PNPM Peduli PKBI di Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Kalimantan Selatan). ABSTRACT(Empowerment of Street Children Peduli Peduli Forum as an Alternative Model to Build a Nutrition Assistance Network for Improving Access to Street Children Gaining Ease of Health Services, Education Services and Legal Services This paper is structured to develop the empowerment of caring on street children issues by NGOs and Community in PNPM Peduli PKBI Program in South Sulawesi Province and South Kalimantan Province)
Donor Darah Kampung Siaga sebagai Gerakan Sosial Masyarakat Badar, Syaeful
Empower Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Empower

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.956 KB)

Abstract

Donor darah adalah kegiatan seseorang yang dengan secara sukarela menyumbangkan darahnya untuk kepentingan kemanusiaan, yang secara periodik dilakukan dengan interval waktu per tiga bulan sekali. Kegiatan donor darah  yang dilakukan oleh seseorang diangap sangat penting, karena kebutuhan darah di Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia selanjutnya ditulis UTD PMI di Kota Cirebon, baru terpenuhi sekitar  75% dari kebutuhan yang ada, terutama untuk rujukan dari beberapa Rumah Sakit Umum Swasta dan Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Djati Cirebon. Sehingga kegiatan donor darah yang semula dilakukan oleh seseorang, kemudian dilakukan oleh kelompok masyarakat yang berada di tingkat Rukun Warga atau RW yang tergabung dalam kegiatan Kampung Siaga, donor darah menjadi kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat setiap per tiga bulan sekali.                                                 Kata Kunci:  Donor darah secara kelompok di masyarakat melalui kegiatan Kampung Siaga, berlangsung secara ter-organisir dan tersistem.  AbstractBlood donation is the activity of a person who voluntarily donates his blood for humanitarian purposes, periodically conducted at intervals of once every three months. Blood donor activities conducted by a person is considered very important, because the blood needs in the Blood Transfusion Unit of Indonesia Red Cross then written UTD PMI in Cirebon City, only fulfilled about 75% of the existing needs, especially for referrals from several Private Private Hospitals and Houses General Hospital of Gunung Djati Cirebon. So that the blood donor activity that was originally done by someone, then done by community group which is in level of Rukun Warga or RW which joined in Kampung Siaga activity, blood donor become routine activity implemented by society once every three month. Key Word: Group of blood donation in community through Kampung Siaga activity, organized and systemized.