cover
Filter by Year
Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan, published by the Observatorium Ilmu Falak, University of Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, Indonesia, which includes articles on the scientific research field of Islamic astronomy observatory and others. Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan accepts manuscripts in the field of research includes scientific fields relevant to: Islamic astronomy observatory and others. Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan published Twice a year in June and December.
Articles
35
Articles
Aplikasi Kriteria Kalender Islam Global Muktamar Turki 2016 dan Rekomendasi Jakarta 2017

Hidayat, Muhammad ( Tim Observatorium Ilmu Falak UMSU Bidang Penelitian )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.376 KB)

Abstract

Kalender Islam Global berfungsi untuk mewujudkan kesatuan umat dengan kalender yang unifikatif secara global dan meminimalisasi terjadinya perbedaan antar negara dalam pelaksanaan ibadah berdasarkan penentuan awal bulan hijriyah. Kenyataannya bahwa peradaban Islam yang berusia hampir 1,5 milenium hingga hari ini belum memiliki suatu sistem kalender pemersatu yang akurat. Di dalam perkembangannya ada banyak kriteria kalender yang diusulkan dalam pertemuan tingkat dunia  untuk menjadi Kalender Hijriyah Internasional dan pada penelitian ini akan fokus pada aplikasi dua kriteria yaitu Kriteria Kalender Islam Global Muktamar Turki 2016 dan Rekomendasi Jakarta 2017 didalam penelitian ini menyimpulkan bahwa Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 tidak dapat mewujudkan kesatuan umat dengan kalender yang unifikatif secara global yaitu kalender dengan prinsip satu hari satu tanggal diseluruh dunia sebagaimana yang telah disepakati dalam Kongres Internasional Kesatuan Kalender 2016 di Istanbul Turki dan tidak dapat meminimalisasi terjadinya perbedaan antar negara dalam pelaksanaan ibadah berdasarkan penentuan awal bulan hijriyah.Keyword: Aplikasi, Kriteria, Kalender Islam Global.

Sistem Pengamatan Hilal ISRN UHAMKA

Damanhuri, Adi ( The Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.867 KB)

Abstract

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi dampak yang luar biasa diberbagai sendi kehidupan. Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam, sebagian besar masyarakatnya masih melakukan pengamatan hilal untuk memastikan masuknya awal bulan baru hijriah. Penngamatan yang dilakukan bermacam-macam, dari yang sederhana hanya menggunakan mata telanjang hingga pengamatan yang sudah menggunakan berbagai teknologi penunjang. The Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA teah membangun sistem pengamatan hilal yang menggunakan teknologi terkini yang terdiri dari teleskop William Optic Zenith Star 71ED, kamera CCD Skyris 274M, dudukan teleskop tipe iOptron CEM60, dan filter Baader 685nm. Sebagai instrumen pembantu, sistem teleskop ditambah dengan baffle untuk menapis kuatnya cahaya Matahari pada saat pengamatan.Keyword: Teleskop, Hilal.

Pandangan Ulama Terhadap Image Processing Pada Astrofotografi Di BMKG Untuk Rukyatul Hilal

Afrian Mustaqim, Riza ( Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.174 KB)

Abstract

BMKG develops rukyatul hilal by using Image processing in astrophotography. The process of image processing on the cresent that can not be ascertained its existence. Image processing is able to clarify the vivid image of the cresent becoming more vivid and invisible. This study examines the views of ulama related to the validity of the use of image processing. There is a difference between the scholars. Firstly, the scholars did not allow the use of image processing because of the use of limited tools to aid vision. Secondly, scholars who allow the use of image processing but only limited to clarify the image of the new moon. Thirdly, scholars who allow the use of image processing as a whole, because the step is a scientific process to ensure moon. Keyword: Image Processing, Rukyatul hilal, Ulama

Pengakurasian Arah Kiblat Di Lingkungan Cabang Muhammadiyah Medan Denai

Juli Rakhmadi Butar-Butar, Arwin ( Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ) , Rudi Setiawan, Hasrian ( Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.412 KB)

Abstract

Tujuan dilaksanakannya Program Kemitraan Pengembangan Muhammadiyah (PKPM) ini adalah selain untuk melaksanakan salah satu unsur dari Tri Dharma perguruan tinggi, maka program yang dilakukan ini untuk menjawab permintaan masyarakat terutama warga persarikatan Muhammadiyah, khususnya masyarakat Cabang Muhammadiyah Medan Denai untuk melakukan pelatihan pengakurasian arah kiblat. Metode yang digunakan adalah dengan mengadakan penyuluhan, tanya jawab, diskusi, penugasan dan praktik langsung. Kemudian metode pendekatan lain yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan partisipatif (partisipatory approach). Kegiatan pelatiahan pengakurasian arah kiblat dilakukan dalam bentuk kegiatan yang bersifat dialogis dimana tim menyampaikan pemaparan tentang bagaimana melakukan pengakurasian arah kiblat baik secara teori maupun secara praktik, menggunakan alat-alat yang telah disediakan. Tahap pelaksanaan program ini dimulai dari persiapan program, pelaksanaan program, dan evaluasi program. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pelatihan pengakurasian arah kiblat adalah para peserta dapat mengetahui pentingnya menghadap kiblat ketika salat, dan peserta pelatihan telah mampu dalam menggunakan sebagian alat, seperti kompas kiblat, mizwalah dan theodolite dalam melakukan pengakurasian arah kiblat. Hal ini terlihat dari hasil praktek langsung di lapangan yang dilakukan setelah proses pelatihan berakhir.Keyword: Pengakurasian, Kiblat, Masjid

Pemikiran Thomas Djamaluddin tentang Salat dan Puasa di Daerah Dekat Kutub

,, Rizalludin ( Universitas Islam Negeri Waslisongo Semarang )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.643 KB)

Abstract

With the development of science of hisab today, the time of prayer and fasting can be calculated because the movement of the Sun is relatively fixed. This only applies to areas that have normal day and night turns. However, in extreme areas with latitudes greater than 48° (areas close to the poles), continuous twilight may occur namely continuous twilight and dawn light may even occur at late night so that early dawn and sunset to begin and break the fasting can not be determined. Responding to the issue, some argues that the practice of prayer is worshiped with people who fall asleep while fasting is replaced in other months. Another opinion suggests that to follow the time in the surrounding normal area or follow the areas where the sharia came down, namely Mecca and Medina. Those opinions have imperfect weaknesses in performing Ramadan because it can happen one full month of Ramadan that people can not carry out fasting and the prayer times between different regions vary due to the ever-moving circulation of the Sun. Meanwhile, Thomas Djamaluddin offers a time interpolation solution by taking into account the time before and after the extreme time so that the obligation of five-time prayers can still be held every day and fasting is held in Ramadan. However, this opinion has a weakness that the implementation of isya and subuh prayer and fasting is not appropriate to shariah because it is held in the light of twilight is still visible. Keyword: Prayer, Fasting, Areas Near The Poles.

Kalender Cina dalam Tinjauan Historis dan Astronomis

Imeldatur Rohmah, Elva ( Institut Pesantren Sunan Drajat )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.748 KB)

Abstract

Kalender adalah sistem pengorganisasian satuan-satuan waktu, untuk tujuan penandaan serta perhitungan waktu dalam jangka panjang. Istilah kalender dalam literatur klasik maupun kontemporer biasa disebut tarikh, takwim, almanak dan penanggalan. Bentuk kalender cukup beragam, antara lain kalender sistem matahari (solar system), kalender sistem bulan (lunar system), dan kalender sistem bulan-matahari (lunar-solar system). Kalender Cina adalah salah satu kalender yang menggunakan sistem bulan-matahari (lunar-solar system). Dalam budaya dan pengetahuan bangsa Tiongkok purba, pembuatan kalender telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Penanggalan Cina ini dikenal dengan sebutan kalender rembulan, yin li atau kalender petani (nong liek) karena diperuntukan bagi upaya untuk mengetahui perubahan musim yang terjadi terhadap siklus di bumi. Praktek ini bertujuan agar manusia bisa mengetahui gejala alam yang sedang dan akan terjadi. Perhitungan tersebut didasarkan pada perhitungan ilmu feng shui, yakni dimensi waktu yang didasarkan dari konsep ilmu astronomi tiongkok purba dan mengacu pengaruh peredaran Matahari dan Bulan terhadap Bumi. Kalender Cina dihitung berdasarkan perhitungan lama bulan mengitari bumi yaitu 29,5 hari. Tarikh ini memang bukan tarikh bulan murni karena di samping berdasarkan peredaran bulan dicocokkan pula dengan peredaran musim yang dipengaruhi letak matahari. Keyword: Kalender Cina, Historis, Astronomis.

Benang Merah Penemu Teori Heliosentris: Kajian Pemikiran Ibn Al-Syāṭir

Nur Halimah, Siti ( Pascasarjana Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.599 KB)

Abstract

Para tokoh astronom Muslim telah memainkan peran yang penting dalam peradaban Islam, salah satunya yaitu dalam perkembangan dan kemajuan astronomi, khususnya ilmu Falak. Beberapa dari mereka telah menyumbangkan banyak hal dalam rangka memajukan astronomi; baik dari pemikiran, buku, maupun alat pendukung untuk mempermudah astronomi dan Falak. Teori-teori para astronom Muslim ini digunakan sebagai panduan dan masih dipelajari hingga saat ini. Salah satu tokoh paling menonjol dari para astronom Muslim pada abad keempat belas adalah Ibn Al-Shāṭir. Ibn Al-Syāṭir adalah pelopor pembentukan teori heliosentris yang memecahkan teori Geosentris Ptolemy. Namun demikian, ternyata sejarah lebih akrab dengan Nicholas Copernicus sebagai penemu awal teori heliosentris. Berdasarkan hal itu, penulis ingin membahas tentang pemikiran Ibnu Al-Syāṭir dan kontribusinya terhadap kemajuan astronomi. Penulis menemukan bahwa Ibn Al-Shāṭir adalah seorang tokoh yang mengkritik teori geosentris Ptolemeus, ia memetakan gerakan planet-planet di ruang angkasa sampai teori heliosentris didirikan, sekitar 2 abad sebelum Nicolas Copernicus. Ibnu Al-Syāṭir berhasil menulis beberapa buku seperti Nihāyat al-Sūl Fi Tashih al-Usul serta menciptakan alat pendukung dalam astronomi dan Falak; astrolabe dan sundial (jam matahari).Keyword: Ibn Al-Syāṭir, ilmu falak, teori heliosentris.

Analisis Regresi Non Linier (Polinomial) Dalam Pembentukan Kriteria Visibilitas Hilal Di Indonesia

Musfiroh, Imas ( Institut Agama Islam Bukittinggi ) , ,, Hendri ( Institut Agama Islam Bukittinggi )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.292 KB)

Abstract

Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa koefisien determinasi terbesar diperoleh dari hubungan semidiameter toposentrik dengan fraksi iluminasi bernilai 0,945; disusul kemudian altitude toposentrik dengan lebar hilal bernilai 0,915; lebar hilal-elongasi bernilai 0,912; elongasi-altitude toposentrik bernilai 0,9066 dan nilai koefisien terendah diperoleh dari hubungan selisih azimut dengan altitude toposentrik dan elongasi berturut-berturut bernilai 0,352 dan 0,318. Berdasarkan nilai koefisien determinasi ini juga terlihat bahwa azimut tidak begitu signifikan mempengaruhi altitude toposentrik dan elongasi karena nilai koefisien yang rendah. Namun di sisi lain, lebar hilal, umur hilal elongasi dan ketinggian hilal saling memengaruhi satu sama lain dengan begitu signifikan karena nilai koefisien yang cukup besar mendekati. Kriteria terbaik dibentuk berdasarkan altitude toposentrik dan elongasi atau altitude toposentrik dengan lebar hilal toposentrik. Kriteria Altitude-Elongasi dengan persamaan h ≥ 0,0445 ARCL2 – 0,6065 ARCL+ 4,0165° memiliki titik balik minimum pada 6,815° untuk elongasi dan 1,950° untuk altitude. kriteria Altitude-Lebar Hilal dengan persamaan h ≥ 0,9373W’3 – 3,6892W’2 + 11,596W’ + 1,4057° memiliki titik belok pada 1,312 menit busur untuk lebar hilal dan 12,386° untuk altitude. Keyword: visibilitas hilal, regresi polinomial.

الخطء لخط الطول أولغ بك في الزيج الجديد السلطاني

Kamil Lathif, Ihsan ( UIN Walisanga Semarang )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.503 KB)

Abstract

ملخصأولغ بك (797 - 852 ه) أحد الفلكيين المسلمين المشهورين، وله الزيج تسمى بالزيج الجديد السلطاني، وضمن فيه 252 عدد أطوال المدن من جزائر الخالدات. وهو أحد مبدأ الطول عند المتقمين. فعدد أطوال المدن عند أولغ بك مخالف بعدد طولنا. فهذه المقالة تناقش عن خط طول المدن عند أولغ بك، حيث دقتها والارتباط الذي بين طول المدن أولغ بك والطول الجرينتشية. واستخدمنا في تشريح مناقشة النوعية المكتبية (Library Research) باستفادة المنهج التاريخي (Historical Approach), وفي تحليل البيانات التحليل النوعي. والمضمون (content analisis) والانحدار(regression analysis)  . نتائج البحث في هذه المقالة أن معظم عدد الأطوال في زيج أولغ بك تختلف الواقع، ولم يرتبط تماما بأطوال البلدان من جرينتش، ويكون بسبب عدة عوامل متنوعة محتمالة، ومن عوامل محتملة مخطئ في المقدار للمسافات والتحويل الخاطئ لقياس المسافة إلى الدرجات. ويتحقق واحدا منها، وهو الخطء في قياس محيط الأرض.الكلمة الأساسية: أولغ بك, خط الطول أولغ بك, مقارنة خط الطول

Kalender Hijriah Global Dalam Perspektif Fikih

Angkat, Arbisora ( Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Arafah )

Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.991 KB)

Abstract

AbstrakKalender merupakan sarana pengorganisasian waktu secara tepat dan efektif serta sebagai pencatat sejarah. Sementara bagi umat beragama khususnya umat Islam, kalender merupakan sarana penentuan hari-hari keagamaan atau ibadah secara mudah dan baik. Pada zaman dahulu, kalender berarti pertanda bagi manusia untuk melakukan hal-hal penting berkaitan dengan aktifitas ibadah maupun aktifitas sosial sehari-hari. Kalender juga merupakan pertanda dimulainya sebuah tradisi yang sudah melekat pada individu masyarakat. Dalam sejarahnya, tiap bangsa memiliki tradisi kalender dengan standar dan ciri khasnya masing-masing. Peradaban Sumeria yang muncul 6000 tahun lalu telah memiliki suatu sistem penanggalan yang terstruktur dengan baik. Bahkan di Aberdeenshire, Scotlandia, baru ini ditemukan satu bentuk kalender qamariyah tertua sejauh ini, yakni berusia mencapai hampir 10.000 tahun. Hal yang memilukan bahwa setelah hampir 15 abad usia peradaban Islam, umat Muslim tidak mempunyai satu Kalender Hijriyah Global. Tiadanya Kalender Hijriyah Global ini membawa dampak kekacauan dalam penentuan hari-hari penting keagamaan dan ibadah Islam seperti awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Salah satu pertemuan internasional yang baru saja dilakukan untuk melakukan penyatuan kalender hijriyah adalah sebuah muktamar bertaraf internasional di kota Istanbul, Turki. Kaidah dan rumusan Kalender Hijriyah Global ini terdapat sejumlah problematika dan dialektika, khususnya pada konsep permulaan hari, konsep awal bulan, konsep mathla’. Kalender Hijriyah Global menyisakan problem, yaitu mengenai bagaimana mengakomodir persoalan fiqh yang selama ini telah berjalan, serta mengenai landasan ilmiah, dan landasan dalil syar’inya.Kata kunci : Kalender Hijriyah Global, Perspektif, Fiqh.