cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2019): Anatomica Medical Journal" : 6 Documents clear
Perbedaan Daya Hambat Ekstrak dan Air Perasan Bawang Putih (Allium Sativum) terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli Secara In Vitro. Sarah A, Micheel; Simorangkir, Verawaty; Simaremare, Ade P
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 2, No 1 (2019): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.628 KB)

Abstract

Abstrak: Menurut data WHO, diare merupakan penyebab kedua kematian pada anak balita dan setiap tahun diare membunuh sekitar 525.000 anak balita. Rotavirus dan Escherichia coli adalah dua agen etiologi diare paling umum di negara - negara berkembang. Bawang putih (Allium sativum) telah dikenal sejak dahulu sebagai tanaman yang memiliki khasiat obat dan salah satunya bermanfaat dalam pengobatan diare.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak dan air perasan bawang putih memiliki perbedaan daya hambat  pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara in vitro. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental analitik laboratorik dan dilakukan pada bulan Juli 2017 sampai November 2017 di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen Medan. Sampel dalam penelitian ini adalah bakteri Escherichia coli yang dikultur dalam media agar McConkey. Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah bawang putih (Allium sativum) dalam bentuk ekstrak dan air perasan yang dibuat dalam beberapa konsentrasi (5%, 25%, 50%, 75%, dan 100%). Metode yang digunakan adalah metode disk diffusion. Hasil uji One Way ANOVA terhadap rata-rata daya hambat ekstrak dan perasan bawang putih dengan berbagai konsentrasi didapatkan nilai p < 0,05,yang menunjukan adanya perbedaan yang bermakna antara ekstrak dan perasan bawang putih. Setelah dilakukan uji post hoct di dapatkan konsentrasi ekstrak 5% dengan air perasan 100% (p=0,009), ekstrak 75% dengan air perasan 5% (p=0,002) dan 25% (p=0,009) dan ekstrak 100% dengan air perasan 5% (p=0,013) dan 50% (p=0,046). Tidak terdapat perbedaan daya hambat antara konsentrasi 75% dan 100% baik pada ekstrak maupun perasan bawang putih, ini membuktikan tidak adanya perbedaan daya hambat antara ekstrak dan perasan bawang putih. Namun bila di bandingkan dengan obat standar daya hambat ini masih rendah. Simpulan, Tidak ada perbedaan antara ekstrak dan perasan bawang putih.Kata kunci: ekstrak dan perasan air bawang putih, Escherichia coli, Disk diffusion.
Hubungan antara Kadar Hemoglobin dengan Kelelahan pada Pasien Systemic Lupus Erytematosus pada Komunitas ODAPUS Lampung Ladyani, Festy
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 2, No 1 (2019): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.535 KB)

Abstract

Abstrak: Systemic Lupus Erytematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kompleks yang ditandai dengan adanya autoantibodi terhadap inti sel dan melibatkan banyak sistem organ dalam tubuh. Pada pasien SLE, salah satu gejala yang sering terjadi adalah kelelahan. Salah satu faktor kelelahan adalah rendahnya kadar Hemoglobin (Hb) yang disebut anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar Hb dengan kelelahan pada pasien SLE. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua data penderita SLE di Komunitas ODAPUS Lampung dengan jumlah subjek sebanyak 40 orang. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2018 dengan melakukan pengisian kuesioner Fatigue Severity Scale dan pemeriksaan kadar Hb pada semua subjek. Uji Mann Whitney digunakan untuk menganalisis hubungan antara kadar Hb dengan kelelahan. SLE paling banyak terjadi pada usia 26-45 tahun (82,5%). Semua subjek berjenis kelamin perempuan (100%). Kebanyakan pasien memiliki kadar Hb rendah (62,5%) dan mengalami kelelahan (52,5%). Hasil uji Mann Whitney antara kadar Hb dengan kelelahan diperoleh nilai p=0,001. Simpulan, terdapat hubungan yang bermakna antara kadar Hb dengan kelelahan pada pasien SLE. Kata kunci: Kadar Hb, Kelelahan, Systemic Lupus Erytematosus
Adamantinomatous Craniopharyngioma Harahap, Rini Syahrani; Pane, Jamaluddin
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 2, No 1 (2019): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.417 KB)

Abstract

Abstrak: Adamantinomatous craniopharyngioma adalah salah satu tumor suprasellar yang dikategorikan dalam WHO grade I, berasal dari sisa-sisa Rathke’pouch. Gejala klinis utama craniopharyngioma yaitu peningkatan tekanan intrakranial, disfungsi endokrin dan gangguan penglihatan. Pada kasus ini dilaporkan seorang laki-laki, 11 tahun, datang ke RSUP.H.Adam Malik Medan dengan diagnosa klinis crangiopharyngioma. Hasil pemeriksaan histopathology menunjukkan karakteristik berupa sarang-sarang epitel yang membentuk stellate reticulum, wet keratin, dan basal palisades. Tindakan bedah memegang peranan penting dalam pengobatan tumor ini.Kata Kunci: Adamantinomatous Craniopharyngioma, diagnosis, prognosis.
Probiotik Saccharomyces boulardii sebagai Pencegahan Infeksi Clostridium difficile Akibat Penggunaan Antibiotik Stefani, Arinda; Anggraini, Sonia; Oktofani, Luthfi Aulia
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 2, No 1 (2019): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.12 KB)

Abstract

Abstrak: Infeksi Clostridium difficile akibat penggunaan antibiotik merupakan penyakit infeksi yang akhir-akhir ini menjadi fokus di bidang kesehatan. Infeksi Clostridium difficile akibat penggunaan antibiotik pernah menjadi epidemi di Amerika Utara dan Eropa. Di Indonesia, penggunaan antibiotik yang tidak rasional mencapai hingga 40-62% sehingga dinilai memiliki faktor resiko yang tinggi untuk terjadinya infeksi Clostridium difficile. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional menyebabkan menurunnya kemampuan usus dalam melawan bakteri patogen Clostridium difficile, sehingga akan terjadi pergeseran komposisi mikrobiota pada usus. Pergeseran tersebut menyebabkan ketidakseimbangan antara jumlah flora normal usus dengan bakteri patogen Clostridium difficile. Penurunan jumlah flora normal usus menyebabkan gagalnya metabolisme karbohidrat kompleks dan asam amino menjadi asam lemak rantai pendek (SCFA). Perubahan metabolisme flora normal ditandai dengan meningkatnya garam empedu primer, menurunnya asam empedu sekunder, glukosa, asam lemak bebas, dan dipeptida. Garam empedu primer dan karbohidrat kompleks yang gagal di metabolisme akan mengaktivasi dari petumbuhan spora Clostridium difficile sehingga jumlah Clostridium difficile akan meningkat dan menimbulkan infeksi pada usus akibat enterotoksin yang dihasilkan. Penggunaan probiotik Saccharomyces boulardii efektif untuk mencegah terjadinya infeksi Clostridium difficile akibat penggunaan antibiotik. Saccharomyces boulardii memiliki efek anti toksin terhadap toksin A Clostridium difficile (enterotoksin), efek protektif terhadap bakteri patogen, seperti Clostridium difficile, dan memiliki efek imunoprotektif dengan mensekresi imunoglobulin A (IgA).Kata Kunci: Antibiotik, Clostridium difficile, Saccharomyces boylardii  Saccharomyces boulardii Probiotics as Prevention of Clostridium difficile Infection Due to the Use of Antibiotics Abstract: Clostridium difficile infection due to the use of antibiotics is an infectious disease which has recently become a focus in the health sector. Clostridium difficile infection due to antibiotic use has been an epidemic in North America and Europe. In Indonesia, irrational use of antibiotics reaches up to 40-62% so it is considered to have a high risk factor for the occurrence of Clostridium difficile infection. Irrational use of antibiotics causes a decreased intestinal ability to fight pathogenic bacteria Clostridium difficile, so it will be a shift in the composition of microbiota in the intestine. This shift causes an imbalance between the number of normal intestinal flora and the pathogenic bacterium Clostridium difficile. Decreasing the number of normal intestinal flora causes the failure of metabolizing complex carbohydrates and amino acids into short chain fatty acids (SCFA). Changes in normal flora metabolism are characterized by increased primary bile salts, decreased secondary bile acids, glucose, free fatty acids, and dipeptides. Primary bile salts and complex carbohydrates that fail metabolism will activate the growth of Clostridium difficile spores that can make the amount of Clostridium difficile will increase and cause intestinal infections by the enterotoxin produced. The use of probiotics Saccharomyces boulardii is effective to prevent Clostridium difficile infection due to the use of antibiotics. Saccharomyces boulardii has an anti-toxin effect on Clostridium difficile A toxin (enterotoxin), a protective effect on pathogenic bacteria, such as Clostridium difficile, and has an immunoprotective effect by secreting immunoglobulin A (IgA).Keywords: Antibiotic Clostridium difficile, Saccharomyces boylardii.
Pengobatan Tuberkulosis Paru dan Diabetes Melitus serta Pengaruhnya terhadap Risiko Multi-Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) Aziz, Karimah Khitami
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 2, No 1 (2019): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.112 KB)

Abstract

Abstrak: Negara dengan peningkatan kejadian DM menjadikan prevalensi TB paru semakin meningkat. Tuberkulosis (TB) paru merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin ataupun kedua-duanya. Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang berkaitan dengan gangguan fungsi imunitas tubuh, sehingga penderita lebih rentan terserang infeksi, termasuk TB paru. Efek OAT lini I pada TB akan menurun bila dibarengi dengan pengobatan DM, sehingga akan menimbulkan kasus MDR-TB. Kasus MDR-TB disebabkan oleh berbagai faktor yang pada penulisan ini diakibatkan oleh pengobatan yang tidak adekuat sehingga kuman menjadi kebal dengan OAT, sehingga pasien TB paru yang menderita penyakit DM akan mengalami resistensi.  Kata Kunci : Tuberkulosis, Diabetes Melitus, Multi-Drug Resistant Tuberculosis.
Efektifitas Penyuluhan Metode Lomba Cerdas Cermat dengan Modifikasi Puzzle Dibandingkan dengan Metode Ceramah dalam Peningkatan Pengetahuan Tentang DBD pada Siswa SD Kelas V SDN 060885 dan SDN 060895 Padang Bulan Kota Medan Simanjuntak, Novita Hasiani
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 2, No 1 (2019): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.207 KB)

Abstract

Abstrak: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue, ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina, dapat dicegah dengan cara mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor virus ini. Larva dari nyamuk Aedes aegypti berkembang sangat pesat di daerah perkotaan. Sekolah adalah salah satu sasaran program pencegahan DBD karena aktivitas anak usia sekolah saat kegiatan sekolah bersamaan dengan aktivitas nyamuk menghisap darah. Selain itu, upaya mengentaskan masalah DBD adalah dengan menjadikan anak sekolah sebagai agent of change. Penelitian berupa quasy experimental. Populasi adalah seluruh siswa kelas V di SDN 060885 dan SDN 060895 Padang Bulan Kota Medan. Sampel adalah bagian dari populasi yang hadir pada saat pengukuran dan intervensi dilakukan, melibatkan sebanyak 43 subjek. Pembagian subjek pada 2 subkelompok dalam kelompok perlakuan dilakukan secara acak. Penelitian ini menggunakan metode ceramah, dan metode Lomba Cerdas Cermat dengan modifikasi puzzle sebagai intervensi, untuk mengukur peningkatan pengetahuan digunakan kuesioner. Hasil analisis data menggunakan uji Wilcoxon, didapati pada kelompok kontrol nilai p = 0,113 (p> 0,005), artinya tidak terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang bermakna sebelum dan sesudah penyuluhan, terdapat 8 subjek dengan tingkat pengetahuan yang menurun, 13 subjek meningkat dan 1 tetap. Pada kelompok perlakuan nilai p = 0,000 (p<0,005), artinya terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang bermakna sebelum dan sesudah intervensi, terdapat 1 subjek tingkat pengetahuan menurun, 17 meningkat, dan 3 tetap. Kesimpulan hasil penelitian adalah penyuluhan dengan metode LCC dengan modifikasi puzzle lebih bermakna dalam meningkatkan pengetahuan siswa sekolah dasar tentang DBD dibandingkan dengan metode penyuluhan dengan ceramah.Kata Kunci: DBD, pengetahuan, metode penyuluhan, metode ceramah, lomba cerdas cermat, Puzzle.

Page 1 of 1 | Total Record : 6