cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2018): Anatomica Medical Journal" : 6 Documents clear
Hubungan Penggunaan Tas Jenis Ransel Dengan Kejadian Nyeri Punggung Bawah Pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar Muhammadiyah 08 Medan Tahun 2016 Pinem, Alfi Syahri; Sutysna, Hendra
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 1, No 1 (2018): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.278 KB)

Abstract

Pelajar yang membawa tas ransel paling berat dan lama penggunaan tas ransel mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk menderita nyeri punggung bawah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan penggunaan tas jenis ransel dengan kejadian nyeri punggung bawah pada siswa kelas V sekolah dasar Muhammadiyah 08 Medan tahun 2016. Metode: Penelitian ini bersifat analitik deskriptif dengan design cross-sectional. Penentuan jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan rumus estimasi proporsi.Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling.Hasil: Dari 106 siswa dijumpai sebanyak 62 siswa (58,5%) mengeluhkan nyeri punggung bawah. Siswa terbanyak yang mengalami nyeri punggung bawah adalah siswa perempuan sebanyak 36 orang  (76,5%). Siswa yang mengalami nyeri punggung bawah terbanyak adalah siswa dengan lama penggunaan tas ransel >30 menit sebanyak 18 siswa (69,2%) dan dengan berat beban tas ransel  > 10% sebanyak 45 siswa (67,2%). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara lama penggunaan tas jenis ransel dengan kejadian nyeri punggung bawah pada siswa kelas V  Sekolah Dasar Muhammadiyah 08 Medan dengan nilai signifikansi sebesar 0,031 (p<0,05).Terdapat hubungan antara berat beban tas jenis ransel dengan kejadian nyeri punggung bawah pada siswa kelas V Sekolah Dasar Muhammadiyah 08 Medan dengan nilai signifikansi sebesar 0,018 (p<0,05).Kata Kunci: Nyeri punggung bawah, Berat beban tas ransel, Siswa sekolah dasar.
Stres Imobilisasi Kronik Mengganggu Memori Spasial Mencit Putih (Mus musculus) Galur Swiss Webster Jantan Juananda, Desby; Astari, Riezky Valentina
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 1, No 1 (2018): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.885 KB)

Abstract

Long-term exposure to stress may induce structural and functional alterations in the brain and particularly in hippocampus. Several studies have shown that the hippocampus plays an important role in spatial learning and memory. Certain animals can perceive stressors differently depend on stress durations and paradigms. We have designed an investigation to compare the effect of different chronic stress durations, using immobilization tubes, on mice spatial memory ability. Twenty young-adult (10-12 weeks old; 25-35 g) male Swiss Webster mice were randomly assigned into four groups: control (non-stressed) group and groups were exposed to immobilization stress 2 hours/daily (09.00-11.00 am) for 14, 21 and 28 days, respectively. Spatial memory ability was tested by using Morris Water Maze. Data were analyzed with one-way ANOVA (p<0.05). We found that mean escape latency (s) for control, 2h/14 days, 2h/21 days and 2h/28 days groups were 8.49 ± 0.91, 12.40 ± 3.76, 13.73 ± 4.09, and 41.62 ± 21.84, respectively (p<0.05). Post-hoc analysis showed a statistical difference between control and stressed groups (p<0.05), but there was no statistical difference between 2h/21 days and 2h/14 days group (p>0.05). In conclusion, this study showed that chronic immobilization stress had been proven to impair spatial memory ability in mice. Specifically, our findings support the use of 2h/28 days chronic immobilization paradigm as an efficient method to induce spatial memory deficits in mice. Keywords: immobilization stress, Morris Water Maze, spatial memory
Gambaran Sitologi Large Cell Carcinoma Paru Anggraini, Dwi Rita; Feriyawati, Lita
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 1, No 1 (2018): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.241 KB)

Abstract

AbstrakLarge cell carcinoma (LCC) merupakan suatu udifferentiated non-small cell carcinoma adalah subtipe dari kanker paru yang tidak dijumpai gambaran small cell carcinoma (SCLC), adenocarcinoma (ADC), maupun squamous cell carcinoma (SQC). Aplikasi sitologi paru yang  relevan saat ini adalah dalam mendiagnosa dan penanganan kanker paru. Sekitar 70% kanker paru didiagnosis pada stadium lanjut dan tidak dapat diobati.Pada artikel ini, dilaporkan gambaran sitologi dari LCC. Laporan kasus seorang pria usia 54 tahun yang secara klinis diduga karsinoma bronkus, kemudian dilakukan brushing bronkus. Pemeriksaan sitologi  menunjukkan kelompokan sel-sel tumor yang hiperseluler, membentuk pola syncytia-like sheets, dengan batas antar sel tidak jelas. Sel-sel tumor pleomorfik, dijumpai giant sel, inti bulat sampai irregular, beberapa dijumpai binukleasi, kromatin kasar, anak inti menonjol, sitoplasma eosinofilik. Hasil pemeriksaan sitologi suatu LCC. Prognosa umumnya buruk, reseksi komplet pada stadium I atau II, angka ketahanan hidup diperkirakan berkisar antara 0%-21%. Kata kunci : large cell carcinoma, kanker paru, undifferentiated non-small cell carcinoma,  sitologi.  AbstractLarge cell carcinoma (LCC) as an undifferentiated non-small cell carcinoma is a merely descriptive term indicating a subtype of lung cancer with no specific features of small-cell lung cancer (SCLC), adenocarcinoma (ADC) or squamous cell carcinoma (SQC). The most relevant application of lung cytology today is in the diagnosis and management of lung cancer; approximately 70% of those cancers are diagnosed at a late stage and are unresectable. We investigated the cytology smear of large cell carcinoma. The case report of a  54 years old man, clinically diagnosed with suspected carcinoma bronchus. The cytology features from brushing bronchus showed hypercellularity of cell tumor arranged in cellular aggregates or syncytia-like sheets of large cells with indistinct cell borders. The cells are extreme pleomorphisme, bizarre tumor giant cells,  nuclei round to irregular, sometimes binuclei with vesicular chromatin and prominent nucleoli, with eosinosophilic cytoplasm. The result of cytology evaluated were Large Cell Carcinoma. The prognosis was poorly, completely resection of stage I or II, the survival rate was estimated to range between  0% to 21%.  Key words: large cell carcinoma, lung cancer, undifferentiated non-small cell carcinoma,  cytology.
Minuman Berenergi Mengandung Aspartam Merusak Hepar Tikus Jantan (Rattus Norvegicus L) Rafwiani, Zakiya; Suryani, Des
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 1, No 1 (2018): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.661 KB)

Abstract

Latar Belakang: Minuman berenergi yang mengandung aspartam biasa dikonsumsi oleh masyarakat.Penggunaan aspartam dalam minuman menimbulkan kontroversi mengenai keamanannya terhadap hati.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhminuman berenergi mengandung aspartam sesuai dosis Acceptable Daily IntakeADI dan dosis melebihi ADI terhadap gambaran histopatologi hepar tikus jantan (Rattus norvegicus L.).Metode: Penelitian eksperimental invivo pada tikus dengan posttest only with control group design. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (KN) yang hanya diberi aquades, kontrol positif 1 (KP1) yang diberi aspartam dosis ADI (50mg/kgbb/hari), kontrol positif 2 (KP2) yang diberi aspartam dosis toksik (75mg/kgbb/hari), perlakuan 1(P1) yang diberi minuman berenergi dosis ADI aspartam (50mg/kgbb/hari), dan perlakuan 2(P2) yang diberi minuman berenergi dosis aspartam (75mg/kgbb/hari). dan diberi perlakuan selama 28 hari. Histopatologi hepar dianalisis secara kualitatif. Data derajat degenerasi hepar dianalisis menggunakan uji Kruskal-walis dan uji post Hoc Mann-Whitney.Hasil: Pemberian minuman berenergi mengandung aspartam menimbulkan degenerasi hidrofik sel hepatosit. Ada perbedaan tingkat kerusakan hepar antara tikus yang diberi aspartam dosis ADI dengan tikus yang diberi aspartam melebih dosis ADI (p<0,05).Tidak ada perbedaan tingkat kerusakan hepar antara tikus yang diberi aspartam dosis melebihi ADI dengan tikus yang diberikan minuman berenergi yang mengandung aspartam baik pada dosis ADI maupun dosis melebihi disis ADI(p>0,05). Kesimpulan: , minuman berenergi mengandung aspartam menimbulkan degenerasi hidrofik hepar tikus jantan. Kandungan lain dalam minuman berenergi mungkin memperberat kondisi degenerasi hidrofik pada hepar tikus yang diberi minuman berenergi sesuai dosis ADI,apalagi bila diberikan dalam dosis yang melebihi dosis ADIKata kunci: Minuman berenergi, aspartam, histopatologi, hepar
Gambaran Sanitasi Lingkungan Pada Kejadian Diare Anak Bawah Lima Tahun Yang Dirawat Di Rumah Sakit Haji Medan Pada September-November 2016 Santri, Aina; Isnayanti, Desi
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 1, No 1 (2018): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.648 KB)

Abstract

Latar belakang: Diare masih merupakan masalah kesehatan dan penyebab kematian balita. sanitasi lingkungan yang tidak tepat dapat meningkatkan kasus diare. Jenis lantai, kondisi jamban, sumber air minum, kualitas fisik air bersih, tempat pembuangan sampah dan saluran pembuangan air limbah (SPAL) merupakan faktor dominan penyebab penyakit tersebut.Tujuan: untuk mengetahui gambaran sanitasi lingkungan pada kejadian diare bayi bawah lima tahun di RS Haji Medan Tahun 2016.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling.Hasil: Dari beberapa sanitasi lingkungan yang diteliti, 60% balita yang terkena diare telah memiliki lantai baik, 40% memiliki jamban sehat, 45% memiliki sumber air minum bersyarat, 35% memiliki kualitas air minum baik, 40% memiliki tempat sampah baik dan 65% memiliki SPAL yang memenuhi syarat.Kesimpulan: Keadaan lingkungan balita dengan diare di RS. Haji Medan telah memiliki kondisi lantai dan SPAL yang baik tetapi untuk kualitas jamban, sumber air minum, kualitas air bersih dan tempat sampah masih belum memenuhi syarat.
Identifikasi Tulang Belulang Parinduri, Abdul Gafar
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 1, No 1 (2018): Anatomica Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.447 KB)

Abstract

: Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang.Melalui proses identifikasi tulang belulang, kita dapat memperoleh informasi yang berkaitan dengan identitas seseorang seperti ras, jenis kelamin, umur, dan perkiraan tinggi badan.Pada laporan kasus ini dibahas identifikasi tulang belulang yang ditemukan oleh warga masyarakat di suatu tempat, yang diduga berasal tulang belulang manusia. Penemuan ini dilaporkan ke polisi untuk dilakukan penyidikan. Setelah itu, tulang belulang ini diidentifikasi oleh ahli forensik berdasarkan surat permohonan visum dari polisi. Pada kasus ini diidentifikasi sebanyak 128 potongan tulang belulang manusia yang tidak lengkap. Tulang belulang ini dibedakan berdasarkan penilaian persamaan atau perbedaan bentuk tulang, ukuran tulang, warna tulang, kepadatan (kompak) tulang, jumlah keseluruhan tulang, kiri dan kanan tulang serta penilaian terhadap bagian-bagian dari tulang belulang tersebut. Dari hasil pengamatan ini, maka dapat dinyatakan bahwa tulang belulang tersebut berasal dari tulang manusia.KATA KUNCI: identifikasi tulang belulang, jenis kelamin

Page 1 of 1 | Total Record : 6