Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan
ISSN : 2580863X     EISSN : 25977768
Articles 48 Documents
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) MANDIRI BERSAMA BANK MANDIRI DI MRICAN UMBULHARJO Marwah, Novia
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-06

Abstract

Corporate social responsibility (CSR) is an important part of a company, because in Indonesia there are laws that regulation of CSR. In addition to complying with the Act, CSR is also carried out because of the company’s awareness in assisting the country in alleviating poverty. One of the companies in the banking sector—Bank Mandiri—has a CSR program with empowerment, namely Mandiri Bersama Mandiri (MBM). This study attempts to describe the concept, implementation and results of the MBM program conducted by Bank Mandiri in Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. The results of this study indicate that the concept of Bank Mandiri’s CSR in the MBM program in broad outline is to build community independence through the utilization of local potential. The implementation of CSR carried out by Bank Mandiri through urban agriculture development programs, Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs), and the development of public facilities. Meanwhile, the results of physical empowerment are the creation of a clean and beautiful environment in Mrican, the realization of community meeting halls, increased cooking equipment for PKK mothers, savings in expenditure, and the creation of an increase in the community's economy. Non-physical is the formation of public awareness, increased knowledge of the community, the formation of skilled mothers, and the creation of community independence.
PEMBERDAYAAN LANSIA MELALUI USAHA EKONOMI PRODUKTIF OLEH BINA KELUARGA LANSIA (BKL) MUGI WARAS DI KABUPATEN SLEMAN Febriyati, Febriyati; Suyanto, Suyanto
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.937 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-10

Abstract

Data Susenas 2013 menyebutkan 8,05% penduduk Indonesia adalah lansia. Lansia sering dipandang sebagai beban dalam masyarakat. Hal tersebut membuat para lansia tertekan dari segi fisik, psikis, ekonomi, maupun sosial. Permasalahan ini memerlukan penyelesaian dengan pemberdayaan lansia. Di Dusun Blendung, Desa Sumbersari, Kec. Moyudan, Kab.Sleman terdapat kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Mugi Waras yang melakukan pemberdayaan lansia melalui usaha ekonomi produktif. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengkaji tahapan pemberdayaan dan hasil yang dicapai oleh BKL Mugi Waras melalui program usaha ekonomi produktif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Metode pengambilan sampel adalah snowball sampling. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah (1) tahapan pemberdayaan lansia ada 5, yakni penyadaran, identifikasi kebutuhan dan perencanaan, pemilihan alternatif jenis usaha, pelaksanaan kegiatan, pengembanga, serta evaluasi; (2) hasil dari pemberdayaan lansia adalah terpenuhinya kebutuhan sehari-hari lansia dari segi materi, adanya kepuasan batin, dan meningkatnya partisipasi lansia dalam kegiatan BKL Mugi Waras.
PROGRAM PEMBERDAYAAN ‘SEDEKAH POHON PISANG’: PERAN KARANG TARUNA DI DESA GANDRI, LAMPUNG SELATAN Widodo, Ageng
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.573 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-01

Abstract

Pemberdayaan masyarakat identik dengan kegiatan yang bertujuan untuk membentuk, memandirikan dan meningkatkan kemampuan (life skill) masyarakat baik itu dalam tingkatan mikro, mezo maupun makro. Pemberdayaan difokuskan untuk memandirikan masyarakat misalnya dalam masyarakat pedesaan dengan melihat berbagai potensi yang dimilikinya. Desa Gandri merupakan salah satu desa di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan yang memiliki potensi SDA (Sumber Daya Alam) yang baik hal ini dapat dilihat dengan kondisi tanah dan berbagai tanaman yang tumbuh subur. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan program pemberdayaan masyarakat oleh Karang Taruna di Desa Gandri, Lampung Selatan. Metode penelitian ini dengan menggunakan pendekatan Deskriptif Kualitatif dengan responden direkrut melalui Purposive Sampling, yakni Kepala Karang Taruna, Anggota Karang Taruna dan beberapa Tokoh Masyarakat.Adapun hasil penelitian ini menjelaskan tentang tahapan dalam pelaksanaan “sedekah pohon pisang”yaitu: pertama, karang taruna survei dan mendata pohon pisang. Kedua, karang taruna mengukur batas petak. Ketiga, penanaman dan perawatan dan terakhir tahap controlling dan pemanenan. Setelah dana dari sedekah pohon pisang terkumpul dibentuklah bentuk-bentuk pemberdayaan yang berfokus kepada elemen masyarakat yaitu pelatihan ekonomi kreatif fokus kepada kepala rumahtangga dan ibu-ibu. Program Remaja Sehat Berprestasi (RSH) berfokus kepada remaja Desa Gandri dan pelatihan Publik Speaking berfokus kepada anak-anak.
PESONA KEARIFAN LOKAL SEBAGAI WAHANA PENINGKATAN PRODUKTIFITAS EKONOMI MASYARAKAT Muhammad, Fahmi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.227 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-05

Abstract

This article is about to review related to the form of management, public participation, and the impact of management of tourism potential in Pangandaran beach. This is based on the reason that Pangandaran beach has the potential of exotic tourism that is supported by other nature tourism. The method used in this study is descriptive qualitative. Sources of research data include the community of West Pangandaran Country, a government of Pangandaran Country, Tourism Office of Pangandaran Regional, and investors. The location of this research is West Citizens Association (Rukun Warga-RW) Pangandaran, Pangandaran Country, West Java. The method used in data collection in this research is by observation, documentation, and interview. The data obtained in this study were analyzed by reduced and presented in descriptive data display, then drawn a conclusion. The method used to obtain the validity of data using triangulation of sources, theories, and methods. In the management of this tourism potential, Pangandaran beach has a form of community-based tourism management or Community-Based Tourism (CBT). Where this form of management put forward the concept of harmony between stakeholders, i.e. community, government and private (investors). However, in the management of this community-based tourism, the role of local people is prioritized, because the main objective is the welfare of the local community through economic improvement by utilizing the existing potential. This community engagement process is so long that it creates the ideal form of CBT management.[Artikel ini hendak mengkaji terkait dengan bentuk pengelolaan, partisipasi masyarakat, dan dampak pengelolaan potensi pariwisata di Pantai Pangandaran. Hal ini dilandasi dengan alasan bahwa Pantai Pangandaran memililki potensi pariwisata eksotik yang diitunjang dengan wisata alam lainnya. Adapun metode yang digunakan dalam kajian ini bersifat deskriptif-kualitatif. Sumber data penelitian meliputi masyarakat Dusun Pangandaran Barat, pemerintah Desa Pangandaran, Dinas Pariwisata Kab. Pangandaran, dan para investor. Lokasi penelitian ini adalah Dusun Pangandaran Barat, Desa Pangandaran, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam pengeumpulan data pada penelitian ini, yaitu dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan direduksi dan disajikan dalam display data deskriptif, kemudian ditarik kesimpulan. Metode yang digunakan untuk memperoleh keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teori dan metode. Dalam pengelolaan potensi pariwisata ini, pantai Pangandaran mempunyai bentuk pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT). Di mana bentuk pengelolaan ini mengedepankan konsep keselarasan antara para stakeholder, yaitu masyarakat, pemerintah dan swasta (investor). Namun dalam pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat ini, peran masyarakat lokal lebih dikedepankan, sebab tujuan utamanya adalah kesejahteraan masyarakat lokal melalui peningkatan ekonomi dengan memanfaatkan potensi yang ada. Proses pelibatan masyarakat ini sangat panjang sehingga menghasilkan bentuk pengelolaan CBT yang ideal.]
PEMBERDAYAAN DIFABEL MELALUI ASSET BASED APPROACH: STUDI KASUS DI DUSUN PIRING DESA SRIHARDONO KECAMATAN PUNDONG KABUPATEN BANTUL OLEH REHABILITASI TERPADU PENYANDANG DISABILITAS (RTPD) Sholehah, Iffatus
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.299 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-09

Abstract

Pemberdayaan merupakan salah satu strategi pembangunan yang berkenaan dengan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kreatifitas, termasuk juga pemberdayaan difabel. Strategi dalam pemberdayaan difabel adalah proses di mana difabel diberikan pengetahuan dan pelatihan keterampilan agar lebih mandiri. Penelitian pemberdayaan difabel ini bertujuan untuk menggambarkan pemberdayaan yang diberikan kepada difabel, dalam hal ini di Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (RTPD) yang letaknya di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana pemberdayaan difabel melalui pendekatan berbasis aset (Asset Based Approach) yang dilakukan oleh Rehabilitasi Terpadu Penyandang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif berdasarkan apa yang ada di lapangan. Instrumen pengumpulan data yaitu dengan wawancara dan observasi yang didukung oleh data kepustakaan. Pemberdayaan difabel ini dianalisis melalui Asset Based Approach. Pendekatan berbasis aset ini merupakan salah satu pendekatan untuk melihat aset atau potensi apa saja yang dimiliki oleh difabel. Maka dari itu, temuan di lapangan menghasilkan bahwa pemberdayaan difabel di RTPD sudah cukup baik. Hal ini dilihat dari beberapa bimbingan dan pelatihan yang diberikan oleh RTPD. 
PENDAMPINGAN SOSIAL BERBASIS RESTORATIVE JUSTICE: EKSPLORASI TIGA KASUS ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM Pranitawati, Sri
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.896 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-09

Abstract

This paper aims at how the social mentoring process Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) Special Region of Yogyakarta (DIY) in intervening the protection for children in children faced with a law or juvenile delinquency (Anak yang Berhadapan dengan Hukum-ABH). In addition, also see the extent to which the application of Law No. 11 of 2012 on the Child Criminal Justice System (Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak—SPPA) of 3 cases accompanied. As it is known, the fundamental substance of the birth of the SPPA Act is to promote restorative justice whose point of pressure is diversified. Because this article is the development of a thesis, the research is compiled using a qualitative method approach. Data collection was collected using interview method, observation, and documentation. Based on the facts in the field, it can be found that social mentoring conducted by YLPA DIY consists of an intervention process in litigation advocacy when the child facing the law is faced with the trial process. Meanwhile, the implementation of the SPPA Act in the implementation process has been implemented, but still not in accordance with what is expected, because there is still a difference of perception between law enforcement officers (Aparat Penegak Hukum-APH) in each institution authorized. Among the factors affecting the non-maximization of the implementation of the SPPA Act are: first, the socialization of the SPPA Law is still lacking, as many communities and APH have not understood, considering the applicable law is still new; second, the Government Regulation (Peraturan Pemerintah-PP) which regulates technical guidelines on the handling of ABH, including the diversion order, has not yet been issued by the government.[Tulisan ini hendak mengkaji tentang bagaimana proses pendampingan sosial Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam melakukan intervensi perlindungan bagi anak yang berhadapan dengan hukum. Selain itu, juga melihat sejauh mana penerapan Undang-Undang No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) dari 3 kasus yang didampingi. Seperti yang diketahui bersama, substansi mendasar lahirnya UU SPPA adalah mengedepankan keadilan restoratif yang titik tekannya diversi. Oleh karena artikel ini merupakan pengembangan dari sebuah tesis, maka penelitian yang disusun menggunakan pendekatan metode kualitatif. Pengumpulan data dihimpun menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan fakta di lapangan, dapat ditemukan bahwa pendampingan sosial yang dilakukan oleh YLPA DIY terdiri dari proses intervensi dalam advokasi ligitasi saat anak yang berhadapan dengan hukum dihadapkan pada proses persidangan. Sementara itu, implementasi UU SPPA dalam proses penerapannya sudah dapat terlaksana, namun masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan, karena masih adanya perbedaan persepsi antara Aparat Penegak Hukum (APH) di masing-masing institusi berwenang. Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmaksimalan implementasi UU SPPA tersebut antara lain: pertama, sosialisasi dari UU SPPA masih kurang, karena banyak masyarakat dan Aparat Penegak Hukum (APH) yang belum memahami, mengingat UU penerapannya masih baru; kedua, Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tentang petunjuk teknis penanganan ABH, termasuk didalamnya tata cara diversi, juga belum diterbitkan oleh pemerintah.]
PENDAMPINGAN BANK SAMPAH MELATI BERSIH BERBASIS PEMBERDAYAAN BAGI MASYARAKAT URBAN Muhtadi, Muhtadi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.14 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-01

Abstract

Problems of waste management in urban areas requires the participation of public awareness. Community or residents can participate in managing the garbage, especially in their respective environments. Citizens can change the behavior of earlier indifference turns to participate in managing the waste problem. The waste problem is not only the responsibility of governments, and but requires the participation of the broadest community to also find solutions to manage waste from the source of the problem into something more beneficial both economically and environmentally the type of research is descriptive research with quantitative approach. This research was conducted at the Bank Sampah Melati Bersih (an organization community) in South Tangerang City. This study population is a member of the Bank Sampah Melati Bersih in South Tangerang City. The sample in this research were 30 people who manage trash in housing. Processing data using Spearman correlation test analysis. The results of the research are (1) characteristics of individuals relate to real behavioral changes in trash management in a residential neighborhood. (2) Trash companion role of Bank Sampah Melati Bersih tangible associated with behavioral changes in waste management in a residential neighborhood. [Problematika tentang pengelolaan sampah di perkotaan memerlukan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi. Masyarakat atau warga dapat ikut mengelola sampah terutama di lingkungan masing-masing. Warga masyarakat dapat mengubah perilakunya dari tadi masa bodoh berubah untuk ikut mengelola permasalahan sampah. Permasalahan sampah tidak hanya tanggung jawab pemerintah dan tetapi menuntut partisipasi masyarakat seluas-luasnya untuk juga mencari solusi dalam mengelola sampah dari sumber masalah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat baik secara ekonomis maupun lingkungan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.. Penelitian ini dilakukan pada Bank Sampah Melati Bersih di Kota Tangerang Selatan.  Populasi penelitian ini adalah anggota Bank Sampah Melati Bersih di Kota Tangerang Selatan. Sampel penelitian adalah 30 warga yang mengelola sampah di perumahan. Pengolahan data dengan menggunakan analisis uji korelasi Spearman. Hasil penelitiannya: (1) karakteristik individu berhubungan nyata dengan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah di lingkungan perumahan. (2) peran pendamping dari Bank Sampah Melati Bersih berhubungan nyata dengan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah di lingkungan perumahan.]
WARUNG BERES SEBAGAI MODAL SOSIAL MENINGKATKANAN PRODUKTIFITAS EKONOMI UMAT: STUDI PEMBERDAYAAN KOMUNITAS OLEH LEMBAGA AMIL ZAKAT DOMPET DHUAFA JOGJA DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Sriharini, Sriharini; Abu Suhud, Moh
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.549 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-06

Abstract

Kemiskinan merupakan masalah sosial yang bersifat global yang dihadapi dan menjadi perhatian dunia. Dalam ajaran Islam, untuk mengatasi kemiskinan dan dianggap jitu adalah zakat. Apabila zakat dikelola dengan baik dan pendistribusiannya tepat sasaran maka dapat meningkatkan kesejahteraan umat sehingga bisa mengatasi kemiskinan. Misalkan, salah satu lembaga pengelola dana zakat yang memiliki program pemberdayaan masyarakat adalah Dompet Dhuafa Yogyakarta. Pada lembaga ini telah memiliki bidang yang secara khusus melakukan pengembangan ekonomi dengan konsep Warung Beres—singkatan dari Bersih Enak Sehat. Dengan begitu, artikel ini mendeskripsikan bagaimana konsep, strategi, dan dampak program Warung Beres bagi masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Kerja di Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul. Artikel ini yang ditulis merupakan pengembangan dari metode penelitian kualitatif-studi kasus. Hasil simpulan dalam artikel ini terbagi ke dalam tiga kontens, yaitu (1) konsep Warung Beres adalah upaya pemberdayaan ekonomi bagi para pedagang kali lima khususnya pedagang angkringan melalui pendekatan penerapan prinsip hidup bersih sehat; (2) implementasi program dalam pemberdayaan masyarakat melalui Warung Beres melalui beberapa tahapan kegiatan yang dilalui antara lain: pelatihan usaha angkringan, bantuan modal peralatan usaha, membentuk paguyuban pedagang angkringan “Warung Beres Gunungkidul”; (3) dampak program bagi peningkatan  perekonomian adalah terbangun sikap dan perilaku bisnis angkringan yang berorientasi pada bersih, enak dan sehat, memiliki peralatan usaha yang lebih meningkat, memiliki paguyuban para pedagang angkringan, mendapat kemudahan dalam meminjam modal usaha, dan peningkatan pendapatan. Dari hasil simpulan ini, diharapkan memiliki kontribusi nyata dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan pemberdayaan masyarakat dan menjadi output pengembangan kebijakan pemerintah dalam menyusun program anti-kemiskinan.
ISLAM PROGRESIF DALAM GERAKAN SOSIAL DAWAM RAHARDJO (1942-2016) Dafit, Ahmad
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.336 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-03

Abstract

Fenomena kemiskinan dan ketidakadilan yang masih berlanjut hingga saat ini, membuat banyak tokoh muslim berpikir ulang mengenai pemikiran keislaman. Tokoh Islam Indonesia, salah satu yang serius membincang persoalan ini adalah M. Dawam Rahardjo—selanjutnya Dawam. Berdasarkan soal tersebut, kajian ini fokus pada konsep pemikiran dan implementasi Islam Progresif Dawam dengan menelaah, mengkaji, dan membahas karyanya dengan pendekatan historis-sosiologis. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan metode kualitatif yang diperkuat melalui wawancara mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa pemikiran Dawam bagian dari Islam Progresif. Ia menerima kenyataan dunia modern, seperti pluralisme, liberalisme, dan sekularisme, kemudian merengkuh ketiganya dalam penguatan keberagamaan di masyarakat. Dawam adalah salah satu tokoh Islam yang memiliki andil dalam perubahan sosial. Implementasinya bisa dilihat dari berbagai karya yang concern pada pembaharuan Islam dan pemberdayaan masyarakat. Sikap dan perilakunya, dapat dilihat dalam lembaga yang ia pimpin—LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) dan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial). Kritiknya atas tatanan ekonomi politik yang tidak adil, diiringi dengan berbagai solusi yang ditawarkan. Gagasan Dawam dalam membendung sistem ekonomi yang merugikan rakyat kecil adalah konsep pembangunan koperasi. Dawam milih jalur civil society, dan menghindari pragmatisme politik. Menurutnya, perjuangan keislaman di jalur politik hanya cenderung mengeksploitasi agama untuk kepentingan sektarian.
EVALUASI PELAYANAN KESEHATAN DAN PENDIDIKAN PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) Restianti, Ayu
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.84 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-10

Abstract

This study seeks to a description the evaluation of health and education service of conditional cash transfers (Program Keluarga Harapan-PKH) based on an input, process, and output. It’s programme between 2016 until 2017 has been implemented in District of Jetis, Bantul. This paper demonstrates the results of the evaluation, though this results hoped input for the decision to programme repaired. This article, however, it seeks programme make good from health and education service component. Thus, I found Conditional Cash Transfers (CCT) or Progam Keluarga Harapan (PKH) programme have signed for even distribution of education and accessibility for health services on simply, particularly of pregnant wife and suckle. The importance of indicators at programme successfully, data validity has been doing of maximal. So, the candidate of participant didn’t perfunctorily in this programme. Hence, participatory of people (non-candidate) in this programme, also make good of indicators, which can be interdependent of control form another side. Eventually, the candidate of their programme, if not meet a demand just like the rule of manual books on 2016, they are can the punishment of exhortation, greeting, and defeasance of the programme. I also, however, found the weakness of tease enough, i.e. the beneficiary still considers that conditional cash transfer is only for a moment’s need, not thinking about long-term interests. In turn, the process of alleviating poverty is only 'patching the wound' rather than treating it to its problem needs.[Studi ini berupaya mengkaji tentang evaluasi layanan kesehatan dan pendidikan Program Keluarga Harapan (PKH) berbasis input, proses pelaksanaan, dan output pada program yang sudah berjalan di Kec. Jetis, Bantul, dari tahun 2016 hingga 2017. Tujuan evaluasi yang telah dikaji, harapannya menjadi masukan bagi penentu kebijakan (decission) untuk memperbaiki program. Tulisan ini juga melihat keberhasilan program dari komponen layanan pendidikan dan kesehatan. Saya menemukan bahwa program Conditional Cash Transfers (CTT) atau PKH memiliki signifikansi nyata dalam pemerataan pendidikan dan akses yang mudah pada layanan kesehatan, terutama bagi ibu hamil dan menyusui. Indikator penting dalam keberhasilan program ini, validitas data berjalan secara maksimal, sehingga tidak asal dalam menentukan peserta penerima bantuan. Bukti keterlibatan masyarakat (non-peserta) dalam program juga menjadi indikator keberhasilan, sehingga bisa saling mengawasi antara satu sama lain. Alhasil, peserta yang tidak memenuhi kewajiban seperti aturan dalam buku pedoman 2016, mereka akan mendapat punishment mulai dari peringatan, teguran hingga pembatalan program bantuan. Namun saya juga menemukan kelemahan yang cukup mengusik, yaitu penerima manfaat masih menganggap bahwa bantuan langsung tunai bersyarat ini hanya untuk keperluan sesaat, tidak berpikir untuk kepentingan jangka panjang. Pada gilirannya, proses pengentasan kemiskinan hanya bersifat ‘menambal luka’ bukan mengobati hingga ke akar masalahnya (based needs).]