ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan)
ISSN : 25022938     EISSN : 25022938
ARGIPA (Nutrition and Food Archives) is a Scientific Journal that contains research articles, carried out in the field of Clinical Nutrition, Community Nutrition, Management of Food and Food Technology Management Systems.
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 1 No 1 (2016)" : 6 Documents clear
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera) VARIETAS NUSA TENGGARA TIMUR TERHADAP KADAR ALBUMIN DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus Strain Wistar) YANG DIBERI DIET NON PROTEIN Dewanti, Lintang Purwara; Widodo, Aris; Fadhilah, Eriza
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1572.845 KB)

Abstract

ABSTRAKKurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu bentuk malnutrisi yang merupakan faktor utama (60%) penyebab kematian bayi di bawah lima tahun(balita) di daerah tropis dan subtropis. KEP disebabkan oleh kekurangan makanansumber energi dan protein. Pada kondisi KEP konsentrasi albumin darah berkurangdan tekanan onkotik dalam plasma terganggu sehingga dapat menyebabkan edema.Daun kelor memiliki kandungan protein tinggi yang memiliki potensi terapisuplementasi untuk anak-anak KEP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh pemberian tepung daun kelor varietas Nusa Tenggara Timur terhadapkadar albumin darah tikus putih yang diberi diet non protein. Desain penelitianyang digunakan adalah Post Test Only Control Group. Penelitian dilakukan selama93 hari dengan menggunakan 6 kelompok, yaitu K(-) (diet normal), K(+) (diet nonprotein dilanjutkan diet normal), P1, P2, P3, dan P4 (diet non protein dilanjutkandiet normal + tepung daun kelor 180 mg, 360 mg, 720 mg, 1440 mg). Variabel yangdiukur adalah kadar albumin darah dengan menggunakan metode enzimatikcolorimetri. Analisis data menggunakan Oneway ANOVA dilanjutkan dengan PostHoc Duncan. Pemberian suplementasi tepung daun kelor per oral (Moringa oleifera)varietas Nusa Tenggara Timur dapat meningkatkan kadar albumin darah tikusRattus novergicus strain wistar yang diberi diet non protein. Nilai albumin darahnormal diperoleh dari kelompok K(-) (tidak dikondisikan KEP dan tetap menerimadiet normal) sebesar 3,30±0,08 mg/dl. Nilai albumin darah kelompok K(+)(dikondisikan KEP lalu menerima diet normal tanpa penambahan tepung daunkelor) adalah yang paling rendah, yaitu sebesar 2,75±0,30 mg/dl. Hasil penelitianmenunjukkan penambahan tepung daun kelor varietas NTT per oral sebesar 720 mg(P3) pada diet normal tikus yang KEP memberikan pengaruh terbaik bagi kadar albumin darah tikus (3,25±0,17 mg/dl) sebab mendekati kadar albumin darahkelompok tikus non KEP/ kontrol negatif (3,30±0,08 mg/dl). Saran untuk penelitianke depan adalah penggunaan sonde agar dosis kelor yang diasup dapat diketahui secara akurat.Kata kunci: tepung daun kelor, kadar albumin darah, diet non protein.
PENGARUH KONSUMSI NASI IR-36 DAN NASI MERAH TERHADAP PROFIL KADAR GULA DARAH PASIEN DIABETES TIPE 2 DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR REBO JAKARTA TIMUR Rensiansi, Lutfi; Iwaningsih, Sri
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.515 KB)

Abstract

ABSTRAK Diabetes merupakan penyakit kronik yang dikarakteristikkan denganhiperglikemia sebagai akibat dari gangguan sekresi insulin, kerja insulin ataukeduanya. Seseorang yang sudah terkena diabetes tipe 2 harus dapat melakukankontrol glikemik untuk mencegah timbulnya berbagai komplikasi serius yang dapatberakhir dengan kematian. Kontrol glikemik dapat dilakukan melalui pengaturanmakan. Nasi IR-36 dan nasi merah memiliki nilai indeks glikemik lebih rendahsehingga dapat membantu dalam mencapai kontrol glikemik, namun sayangnyabelum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut. Penelitian ini dilakukanuntuk mengetahui pengaruh konsumsi nasi IR-36 dan nasi merah terhadap profilgula darah penyandang penyakit diabetes. Penelitian ini merupakan penelitianeksperimen dengan dua kelompok perlakuan yaitu kelompok nasi IR36 dan nasimerah yang masing-masing kelompok terdapat 16 orang responden. Perekrutanresponden dilakukan secara accidental saat diadakan Prolanis di PuskesmasKecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur. Uji statistik McNemar pada keseluruhanresponden menunjukkan terdapat perbedaan gula darah puasa dan gula darah 2 jampost-prandial. Uji-T tidak berpasangan menunjukkan tidak ada perbedaan guladarah puasa dan gula darah 2 jam post-prandial pada kelompok nasi IR-36 dan nasimerah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini nasi IR-36 dan nasimerah tidak memengaruhi profil kadar gula darah pasien diabetes tipe 2 diPuskesmas Kecamatan Pasar Rebo.Kata kunci: Diabetes, Kontrol glikemik, Profil glikemik, Nasi merah, IR-36 ABSTRACT Diabetes seen as chronical disease which characterised by hyperglicemia as theconsequent of insulin secretional disruption, work of insulin, even both. Suspect of type 2was emphasized to had glycemical contol as to prevented more serious disease which possiblyended up on mortality. Glicemical control could be conducted through meal control. IR-36 and red rice posessing potential as assistance to approached glicemical control, but yet therewas no recent research in showcasing the issue. Therefore, the goal of this research was tofind out the influenced by consuming IR-36 and red rice on sugar blood’s profile of diabetes suspect. This was an experimental study that consisted of two different treatments on IR-36group and red rice group. Each group consisting of 16 respondents. Respondent’srecruitment conducted accidentally at Prolanis event in Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo.McNemar statistical test to all respondents showed that there was difference between fastingsugarbloodand2hourpostprandial-sugarblood.Onotherside,impairableT-testshowedthattherewasnodifferencebetweenfasting-sugarbloodand2hourpostprandial-sugarbloodonIR-36subjectandredricesubject.ConclusionofthisstudywasnoassociationbetweenconsumedbothIR-36andredricewithglycemicprofileofpatientwithtype2diabetes.Keywords: Diabetes, Glycemic control, Glycemic profile, Red rice, IR-36
PEMANFAATAN AMPAS SARI KACANG HIJAU SEBAGAI SUMBER SERAT PADA PEMBUATAN BROWNIES BERBAHAN DASAR TEPUNG MOCAF Kusumaningrum, Indah; Sofyaningsih, Mira; Rahayu, Leni Sri
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1480.391 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ampas sari kacang hijau sebagai sumber serat pada produk brownies berbahan dasar tepung mocaf. Pada penelitianpendahuluan dilakukan pengujian kadar air, protein, dan serat pada ampas sarikacang hijau, dengan hasil berturut-turut 80,1%, 5,25% dan 1,06%. Pada penelitianutama dilakukan formulasi brownies dengan faktor A berupa perbandingan tepungmocaf dengan terigu, terdiri atas 3 taraf: 3:1, 1:1, dan 1:0. Faktor II adalah jumlahampas sari kacang hijau (per 100 gram tepung) sebanyak 2 taraf: 50% dan 100%. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah RAL (rancanganacak lengkap) faktorial sehingga diperoleh 6 formula cookies. Formulasi browniesyang paling disukai adalah formula A (perbandingan mocaf dan tepung terigu 3:1,dan ampas sari kacang hijau 50%) baik secara aroma, tekstur, dan rasa. Skor ratarataaromabrowniesberkisarantara3,7–5,9(beradapadapenilaianaromanetralsampaisuka).Skorrata-ratamututeksturbrowniesberkisarantara3,4 –5,3(beradapadapenilaianaromanetralsampaiagaksuka).Rataannilaikesukaanterhadaprasaprodukberkisarantara3,7-5,4(beradapadapenilaiannetralsampaiagaksuka).Kandungangiziyangterdapatpadabrowniesyangdihasilkansangattinggi. Dalam100grambahanterkandungkalorisekitar504kkal,karbohidrat47,69gram,protein10,39gram,lemak27,55 gram,danserat3,66 gramsehinggadapatdiklaimsebagaipangansumberserat. Katakunci:brownies,ampassarikacanghijau,seratABSTRACT This study aims to utilize the dregs of mung bean extract as a source of fiber in the production brownies with mocaf flour-based products. In the preliminary research wasconducted testing of moisture, protein, and fiber in the dregs of mung bean extract, with theresults respectively 80,1%, 5,25% and 1,06%. In the main study was done browniesformulation with factor I: mocaf comparison with wheat flour, consisting of 3 levels: 3:1, 1:1and 1:0. Factor II is the number of dregs of mung bean extract added (per 100 grams of flour),there are two levels: 50% and 100%. The experimental design used in this study is theCompletely Randomized Design with two factors of treatments, totally obtained 6 cookies. The most preferred formulation was formula A (comparison mocaf and flour 3:1, and the dregs of mung bean extract 50%) both in aroma, texture, and taste. The average of aromascore ranged from 3,7 to 5,9 (neutral untill like). The average score of brownies textureranged from 3,4 to 5,3 (neutral to slightly prefer). The mean value of preference for the tasteof products ranging from 3,7 to 5,4 (neutral to slightly prefer). The nutrients contained inthe brownies are produced very high. In 100 grams of material contained approximately 504kcal calories, carbohydrates 47,69 grams, 10,39 grams protein, 27,55 grams of fat and 3,66grams of fiber slightly, so it can be claimed as a source of dietary fiber.Keywords: Brownies, The dregs of mung bean extract, Dietary fiber
HUBUNGAN ASUPAN MULTIVITAMIN DAN SINDROM PRAMENSTRUASI PADA MAHASISWI GIZI FKM UI Rahayu, Nur Setiawati; Safitri, Debby Endayani
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.374 KB)

Abstract

ABSTRAKSindrom pramenstruasi (PMS) dapat sangat mengganggu aktivitas serta produktivitas harian dan diketahui terjadi pada 90% Mahasiswi Gizi FKM UI.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan berbagai vitamindengan kejadian PMS pada Mahasisiwi Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Indonesia. Desain studi dalam penelitian ini adalah cross sectional danteknik sampling yang digunakan adalah sensus, sehingga responden dari penelitianini adalah seluruh mahasiswi yang terdaftar di program studi gizi dari angkatan2011–2013. Dari penelitian ini, dapat dilihat bahwa sebagian besar Mahasiswi GiziFKM UI mengalami defisiensi zat gizi mikro, sedangkan hasil uji hubungan antaraasupan zat gizi dengan sindrom pramenstruasi menyatakan beberapa asupan zatgizi memiliki hasil yang signifikan dengan PMS yaitu Vitamin A (p = 0,014), VitaminB1 (p = 0,000), Vitamin B2 (p = 0,002), dan Vitamin B6 (p = 0,000). Zat gizi yang palingdominan berhubungan dengan PMS adalah Vitamin B1, mahasiswi yang memilikiasupan Vitamin B1 yang cukup memiliki risiko 61,80 kali lebih kecil mengalami PMSdibandingkan dengan mahasiswi yang mengalami defisiensi.Kata kunci: Sindrom pramenstruasi, asupan zat gizi, Vitamin B1 ABSTRACTPremenstrual syndrome could be annoyed and decreased productivity and it’s experienced by 90% students of Nutrition Department of University of Indonesia. Designstudy in this research used cross sectional with sampling technique used was the census, so the respondents of this study were all female students enrolled in the course nutrition of forcefrom 2011 to 2013. It can be seen that most of the FKM UI student Nutritional deficiency ofmicronutrients, while the test results the relationship between nutrient intake with premenstrual syndrome revealed some nutrient intake had significant results withpremenstrual syndrome, namely, Vitamin A (p = 0,014), Vitamin B1 (p = 0,000), VitaminB2 (p = 0,002), Vitamin B6 (p = 0,000). As for the nutrient intake of the most dominantinfluence of premenstrual syndrome was Vitamin B1, a student who had a sufficient intakeof Vitamin B1 has a 61,80 times lower risk of experienced premenstrual syndrome comparedwith students who were deficient.Keywords: Premenstrual syndrome, Nutrient intake, Vitamin B1
JARAK KEHAMILAN BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI IBU HAMIL DI DESA MULYASARI KABUPATEN CIANJUR Safitri, Debby Endayani; Innaddinnulillah, Innaddinnulillah
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.879 KB)

Abstract

ABSTRAK Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi lahirprematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Usia ibu, usia kehamilan, paritasdan jarak kehamilan merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi status giziibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yangmemengaruhi status gizi ibu hamil di Desa Mulyasari, Kecamatan Mande,Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan secara cross sectionaldengan accidental sampling. Jumlah responden pada penelitian ini adalah 46 orangibu hamil. Sebanyak 42,9% ibu hamil di Desa Mulyasari yang mengalami status giziKEK. Jarak kehamilan merupakan faktor yang secara signifikan (p<0,05)berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Desa Mulyasari, KecamatanMande, Cianjur. Kata kunci : Kehamilan, KEK, Jarak kehamilan ABSTRACTMaternal Chronic Energy Deficiency (CED) lead to preterm labor and Low Birth Weight (LBW). Maternal age, gestational age, parity, and pregnancy spacing were factorswhich influenced maternal nutritional status. This study aimed to observed factors whichinfluenced maternal nutritional status in Mulyasari, Mande district, Cianjur, West Java.Study was done with cross sectional method used accidental sampling. The number ofsubjects in this study were 46. Of 42,9% pregnant mothers in Mulyasari were CED.Pregnancy spacing was significantly (p<0,05) contributed to maternal CED in Mulyasari,Mande district, Cianjur. Keywords: Pregnancy, CED, Pregnancy spacing  
HUBUNGAN PENGELUARAN, SKOR POLA PANGAN HARAPAN (PPH) KELUARGA, DAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI-PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 2-5 TAHUN Faridi, Ahmad; Sagita, Rezanov
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.284 KB)

Abstract

ABSTRAKMasalah gizi merupakan masalah kompleks yang dapat dilihat dari berbagai faktor penyebab langsung dan tidak langsung terjadinya masalah gizi kurang yangdigambarkan dalam kerangka pikir UNICEF (1998). Penelitian ini merupakanpenelitian Cross Sectional. Persentase terbesar ada pada tingkat pendapatan lebihatau sama dengan Rp1.236.991,00/bulan sebesar 92,1% dan sebesar 7,9% dengantingkat pendapatan kurang dari Rp1.236.991,00/bulan. Berdasarkan indeks BB/U,sebesar 85,5% responden mempunyai status gizi baik, status gizi buruk sebesar 3,9%,status gizi kurang sebesar 9,2%, dan status gizi lebih sebesar 1,3%. Berdasarkanindeks TB/U, balita yang mempunyai tinggi badan normal lebih banyakdibandingkan yang tidak normal (72,4%), sangat pendek (13,2%), pendek (11,8%),dan tinggi (2,6%). Sebagian besar responden mempunyai asupan energi yang kurang(53,9%). Sebesar 36,8% mempunyai asupan protein lebih, asupan protein baiksebesar 28,9%, dan asupan protein kurang sebesar 34,2%. Sebagian besar (93,4%)responden hidup dalam keluarga dengan tingkat sosial ekonomi mampu. Hampirseluruh (97,4%) responden memiliki skor pola pangan harapan tidak ideal. Umur,jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pekerjaanibu, asupan energi, dan asupan protein tidak berhubungan dengan status gizi balita(BB/U). Tidak ada hubungan antara total sosial ekonomi dan skor PPH denganstatus gizi balita (TB/U). Pendidikan ibu dan pendapatan keluarga berhubungandengan status gizi balita (BB/U).Kata kunci: Status gizi, PPH, Tingkat konsumsi energi protein ABSTRACTNutritional problem was a complex problem that could be viewed from a variety of factors directly and indirectly causes the problem of malnutrition is described in the frame ofUNICEF (1998). The objective of study was to determine the relationship of foodexpenditure, score of Food Pattern Expectancy (PPH), and the level of energy proteinconsumption and nutritional status of children aged 2-5/year. This research used crosssectional study. Percentages on income level was greater than or equal toRp1.236.991,00/month amounted to 92,1% and 7,9% with income of less than Rp 1,236,991/month. Based on index of W/A, 85,5% of respondents had a good nutritionalstatus, poor nutritional status of 3,9%, moderate status of 9,2%, and 1,3% overweight.Children under 5 years old had normal height more than stunting. Most of the respondentshad less energy intake (53,9%), 36,8% had more protein intake, protein intake adequate of28,9%, and protein intake was less by 34,2%. Most of the respondents (93,4%) had a goodsocio-economic level. The family that had ideally food pattern expectancy were 2,6% and97,4% not ideal which is the ideal PPH score> 100%. There was no relationship between age,sex, number of family members, father's education, father's occupation, mother's occupation,energy intake, and protein intake with nutritional status (W/A). There was no correlationbetween the total score of PPH, socioeconomic, and nutritional status (H/A). The statisticaltest found that there was a relationship between maternal education and family income withinfant nutritional status (W/A).Keywords: Nutritional status, Food Pattern Expectancy, Energy protein consumption level

Page 1 of 1 | Total Record : 6