cover
Filter by Year
AcTion: Aceh Nutrition Journal
AcTion: Aceh Nutrition Journal merupakan jurnal gizi dan kesehatan dengan E-ISSN 2548-5741 dan ISSN 2527-3310. Jurnal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam penyampaian hasil penelitian sebagai media yang dapat digunakan untuk meregistrasi, mendiseminasi, dan mengarsipkan karya peneliti tenaga gizi dan kesehatan di Indonesia, Aceh pada khususnya.
Articles
60
Articles
Pengaruh perilaku ibu tentang program STBM terhadap kejadian diare pada balita

Syahrizal, Syahrizal

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kebijakan Strategi Nasional STBM merupakan suatu strategi percepatan untuk mencapai target MDGs ke-7. STBM sebagai  aksi terpadu untuk menurunkan angka kejadian diare dan meningkatkan higienitas dan kualitas kehidupan masyarakat yang optimal. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain Case-control Study dilakukan secara deskriptif analitik, dilakukan pada wilayah Puskesmas Darul Imarah dengan sampel yaitu balita sebanyak 66 orang dan terbagi dalam kelompok kasus dan kontrol. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi meliputi perilaku STBM dan kejadian diare. Analisis statisik yaitu chi-square dengan CI:95%. Hasil penelitian menunjukan hubungan signifikan antara tindakan ibu tentang STBM dengan kejadian diare pada balita (p-value = 0,021), dimana balita yang mengalami diare sebesar 3,6 kali disebabkan oleh tindakan ibu yang kurang baik dibandingkan ibu yang mempunyai tindakan yang baik tentang STBM. Kesimpulan, bahwa kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Darul Imarah disebakan kurang baiknya tindakan tentang STBM. Saran, sosialisasi dan penyuluhan mengenai program STBM yang diadakan oleh instansi pemerintah dan menerapkannya.Kata kunci:   Perilaku, STBM, diare Diarrheal disease is still a health problem worldwide, especially in developing countries, including Indonesia. The national strategy of community-based sanitation is an acceleration strategy to achieve the 7th MDG targets. Its an integrated action to reduce the incidence of diarrhea and improve hygiene and quality of community life is optimal. This quantitative research using Case-control Study design is done by analytical descriptive, conducted at Darul Imarah Puskesmas area with a sample of toddler counted 66 people and divided into case and control group. Data collection through interviews and observations included it behavior and diarrhea events. Static analysis is chi-square with CI: 95%. The result of the study showed a significant correlation between mothers action on community-based sanitation and diarrhea incidence in under-five children (p-value = 0,021), where children under five years experienced diarrhea 3.6 times due to poor mothers activity compared to mothers who had good actions about sanitation. The conclusion, that the incidence of diarrhea in under-five children in the work area of Puskesmas Darul Imarah caused less good action about STBM. Suggestion, socialization, and counseling about community-based sanitation program held by the government institution and apply it.Keywords: Behavior, community-based sanitation, diarrhea

Efektivitas penyuluhan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang pencegahan pneumonia pada balita

Sidiq, Rapitos

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kejadian Pneumonia pada balita masih menjadi permasalahan di dunia termasuk Indonesia. Banyak faktor yang melatarbelakangi kejadian penyakit ini, baik faktor lingkungan maupun perilaku manusia. Salah satu uapaya yang dilakukan untuk pencegahan penyakit ini adalah dengan peningkatan peran kader posyandu untuk kegiatan promotif dan preventif termasuk mempromosikan perilaku pencarian pertolongan kesehatan dan perawatan balita di rumah, sehingga setiap kader dituntut mengetahui tentang pencegahan pneumonia tersebut. Secara umu penelitian ini ingin melihat efektivitas penyuluhan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang pencegahan penyakit pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Darul Kamal Tahun 2017. Penelitian menggunakan metode quasi eksperimental dengan rancangan one group pretest-postest design. Jumlah sampel penelitian 30 orang. Uji statistic yang digunakan paired t-tes tingkat kemaknaan (α) 0,05 (5%). Penelitian ini menghasilkan nilai pengetahuan kader sebelum dan sesudah intervensi adalah 27,17:29,00 dengan p-value 0,003 (< 0,05). Penyuluhan kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang pencegahan penyakit pneumoniaKata kunci:   Penyuluhan kesehatan, pengetahuan, kader posyandu, pneumonia, balita  ABSTRACTThe incidence of pneumonia in a toddler is still a problem in the world including Indonesia. Many factors caused the incidence of this disease, both environmental factors, and human behavior. One of the efforts undertaken for the prevention of this disease is by increasing the role of Health Post cadres for promotive and preventive activities including promoting health-seeking behavior and home toddler care so that each cadre is required to know about the prevention of pneumonia. In general, this research would like to see the effectiveness of health counseling in increasing the knowledge of health pos cadres on prevention of pneumonia disease in under-five children in the work area of Puskesmas Darul Kamal 2017. The study used quasi-experimental method with one group pretest-posttest design. The sample size is 30 people. Test statistic used paired t-test significance level (α) 0.05 (5%). This study yields cadre knowledge value before and after intervention is 27,17: 29,00 with p-value 0,003 (<0,05). Health counseling is effective in increasing knowledge of cadres about prevention of pneumonia disease.Keywords: Health counseling, knowledge, cadres, pneumonia, toddler

Faktor yang berhubungan dengan perilaku lansia dalam mengendalikan hipertensi

Masyudi, Masyudi

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Jumlah kunjungan pasien hipertensi pada tahun 2017 sebanyak 2089 kunjungan dari semua jenis usia, sedangkan kunjungan hipertensi bagi lansia sebanyak 940 kunjungan dari usia 60 sampai dengan 75 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku lansia dalam mengendalikan hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar Tahun 2017. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross sectional studi. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 91 orang pasien hipertensi. Analisis yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat. Tempat penelitian ini dilakukan di Puskesmas Darul Imarah Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 11 s/d 17 Januari 2018. Dari hasil uji statistik chi-square dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku lansia (P-value  0,002 < 0,05), ada hubungan antara sikap dengan perilaku lansia (P-value  0,009 < 0,05),  ada hubungan antara pola makan, dengan perilaku lansia  (P-value  0,027 < 0,05), dan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan perilaku lansia (P-value  0,044 < 0,05) dalam mengendalikan hipertensi di Puskesmas Darul Imarah Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar Tahun 2018. Kepada pihak Pukesmas, khususnya kepada petugas kesehatan lebih memberikan sosialisasi kepada pasien dengan hipertensi untuk meningkatkan pola makan dari pasien menjadi lebih baik lagi.Kata kunci:  Hipertensi, lansia, perilaku The number of hypertension visit at Puskesmas Darul Imarah Aceh Besar in 2017 was 2089 visits from all age groups, while hypertension visit for elderly was 940  visits from age 60 to 75 years. The purpose of this study is to determine the factors associated with elderly behavior in controlling hypertension in the Work Area Puskesmas Darul Imarah District of Aceh Besar Year 2018. This study is analytical descriptive with cross-sectional design study. The sample in this study were 91 patients with hypertension. The analysis used in a univariate and bivariate analysis. The location of this research was conducted at Puskesmas Darul Imarah, Darul Imarah Sub-district, Regency of Aceh Besar during  11 until 17 January 2018. From the result of chi-square statistic test it can be concluded that there is correlation between knowledge with elderly behavior (P-value 0,002 <0,05 ), there is correlation between attitude and behavior of elderly (P-value 0,009 <0,05), there is relation between diet, with elderly behavior (P-value 0,027 <0,05), and there is relation between physical activity and elderly behavior P-value 0.044 <0.05) in controlling hypertension in Darul Imarah Community Health Center Darul Imarah Sub-district, Aceh Besar District, 2018. To Pukesmas, especially to health officer to give more socialization to patients with hypertension to improve the patients diet for the better.Keywords: Hypertension, elderly, and behavior

Hubungan lama terdiagnosa diabetes dan kadar glukosa darah dengan fungsi kognitif penderita diabetes tipe 2 di Jawa Timur

Tsalissavrina, Iva, Tritisari, Kanthi Permaningtyas, Handayani, Dian, Kusumastuty, Inggita, Ariestiningsih, Ayuningtyas Dian

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Diabetes Melitus merupakan penyakit yang bisa menyebabkan resiko gangguan kognitif melalui gangguan pada pembuluh darah termasuk diantaranya pembuluh darah di otak. Lama menderita DM dan kadar glukosa darah akan mempengaruhi fungsi kognitif penderita DM. Skrining fungsi kognitif diperlukan untuk pencegahan komplikasi seperti penyakit alzheimer. Tujuan penelitian ini menganalisis  hubungan lama terdiagnosa DM, Kadar Glukosa Darah dengan fungsi kognitif penderita DM Tipe 2 di Jawa Timur. Metode penelitian ini deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Skrining fungsi kognitif dengan Montreal Cognitive Assessment – versi Indonesia (MoCA – INA) dan glukometer untuk pengukuran kadar glukosa darah puasa (GDP) dan glukosa darah 2 jam PP(GD2JPP). Hasil uji chi square pada skor uji kognitif menggunakan MoCA dengan lama terdiagnosa DM tidak mempunyai hubungan (p=0,858). Demikian juga nilai chi square pada  skor uji kognitif  dengan kadar GDP  dan GD2JPP menunjukkan tidak ada hubungan (p=0,376 dan p=0,144). Sedangkan uji korelasi menunjukkan nilai yang signifikan untuk GDP2JPP ( p=0,015) dan adanya nilai koefisien korelasi negatif (-0,191).. Kesimpulan terdapat korelasi antara GD2JPP dengan penurunan fungsi kognitif. Semakin tinggi nilai GD2JPP maka semakin terganggu fungsi kognitif penderita DM tipe 2.Kata kunci:  Lama terdiagnosa DM, Kadar glukosa darah, fungsi kognitif, MoCA Diabetes Mellitus is a disease that can cause the risk of cognitive impairment through disorders of the blood vessels including blood vessels in the brain. Long-suffering from DM and blood glucose levels affect the cognitive function of patients with DM. Cognitive function screening is necessary for the prevention of complications such as Alzheimers disease. The purpose of this study to analyze the relationship diagnosed DM, Blood Glucose Level with cognitive function of Type 2 DM patients in East Java. This research method is descriptive observational with a cross-sectional approach. Screening for cognitive function with the Montreal Cognitive Assessment - Indonesian version (MoCA - INA) and glucometer for fasting glucose (GDP) and blood glucose 2 hours PP (GD2JPP). Chi-square test results in cognitive test scores using MoCA with long diagnosed DM did not have a relationship (p = 0.858). Likewise, the chi-square value in the cognitive test scores with GDP and GD2JPP levels showed no relationship (p = 0.376 and p = 0.144). While the correlation test showed a significant value for GDP2JPP (p = 0.015) and the value of negative correlation coefficient (-0.191). Conclusion there is a correlation between GD2JPP with decreased cognitive function. The higher the GD2JPP value the more disturbed the cognitive function of patients with type 2 diabetes mellitus.Keywords: Duration of diabetes, glucose level, cognitive function, MoCA

Efektifitas pendidikan gizi mengunakan KMS dinding indeks tb/u terhadap tindakan guru PAUD dalam pemantauan pertumbuhan anak usia 4 – 5 tahun pada anak sekolah PAUD

Hadi, Abdul, Affan, Ichsan, Alfridsyah, Alfridsyah, Al Rahmad, Agus Hendra

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Indikator status gizi berdasarkan tinggi badan menurut umur sangat bermanfaat untuk mengevaluasi status gizi dan mengambarkan pertumbuhan linier dan dapat mengambarkan status gizi masa lampau (kronis). Kajian ini  bertujuan untuk menilai efektifitas media Kartu Menuju Sehat (KMS) Dinding dalam meningkatkan perilaku gizi guru PAUD khususnya dalam melakukan pemantauan pertumbuhan. Rancangan penelitian ini Quasi Eksperimental study dengan rancangan non randomized one group pre-post test design dimana subjek penelitian ini adalah guru-guru sekolah PAUD. dilaksanakan pada 40 sekolah PAUD di Kabupaten Aceh Besar yang memenuhi criteria selama 5 (lima) bulan. Hasil penelitian menunjukan perbedaan atau dampak efektifitas yang ditimbulkan dari pelatihan KMS Dinding TB/U terhadap peningkatan pengetahuan dan  terdapat  dampak efektifitas pengunaan KMS Dinding TB/U terhadap peningkatan Pengetahuan dan Tindakan  Guru PAUD  sedangkan untuk sikap tidak Ada perbedaan atau dampak efektifitas pengunaan KMS Dinding TB/U terhadap peningkatan Sikap guru PAUD dengan p value sebesar 0,294. Kesimpulan, KMS dinding berdampak signifikan terhadap pengetahuan dan tindakan guru dalam mendeteksi anak pendek di PAUD. Kata kunci: KMS dinding, pendidikan gizi The nutritional status indicator based on height according to age is very useful for evaluating nutritional status and represents linear growth and can describe nutritional status of the past (chronic). This study aims to assess the effectiveness of wall growth chart media in improving the nutritional behavior of teachers, especially in monitoring growth. Method: This research design Quasi-Experimental study with non-randomized one group pre-post test design where the subject of this research is teachers of pre-school. Was held at 40 pre-schools in Aceh Besar district that met the criteria for 5 (five) months. The result was are differences or impacts of effectiveness resulting from the training of wall growth chart Height for Age (HFA) index on the improvement of knowledge and there is impact of effective use of it to increase knowledge and action of early childhood teacher while for attitude no difference or effectiveness impact of usage of it’s toward the improvement of teachers attitude with p-value of 0,294. Keywords: Wall growth chart, nutrition education

Tidak ada korelasi antara asupan karbohidrat sederhana, lemak jenuh, dan tingkat aktivitas fisik dengan status gizi pada remaja dengan kegemukan dan obesitas

Anggraini, Olivia

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Remaja yang memiliki status gizi kegemukan dan obesitas memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami obesitas di usia dewasa. Asupan karbohidrat sederhana dan lemak jenuh yang tinggi serta aktivitas fisik yang rendah merupakan beberapa faktor yang sering disebut sebagai penyebab terjadinya kegemukan dan obesitas. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan tujuan untuk menguji korelasi asupan karbohidrat sederhana, lemak jenuh dan aktivitas fisik dengan status gizi pada remaja yang memiliki status gizi gemuk atau obesitas. Sebanyak 69 orang siswa/i di SMA 3 kota Malang yang berusia 15-17 tahun dan berstatus gizi gemuk atau obesitas menjadi subjek dalam penelitian ini. Asupan karbohidrat sederhana dan lemak jenuh diukur menggunakan form Semi Qualitative Food Frequency (SQ-FFQ) dan Aktivitas fisik melalui wawancara dengan menggunakan form Physical Activity Questionaire for Adolescent (PAQ-A). Uji statistik Gamma and Somers’d dengan SPSS 16 digunakan untuk menguji korelasi antar variabel. Ditemukan bahwa status gizi tidak berhubungan secara bermakna dengan karbohidrat sederhana (p =0,873), asupan lemak jenuh (p=0,343), dan aktivitas fisik (p=0,487). Identifikasi faktor lain pada remaja yang kemungkinan berpengaruh seperti tingkat pengetahuan gizi, durasi waktu tidur, waktu menstruasi pertamakali, tingkat ekonomi keluarga, diperlukan untuk menganalisis faktor resiko yang lebih berhubungan dengan kejadian kegemukan dan obesitas pada remaja.Kata Kunci:  Karbohidrat sederhana, lemak jenuh, aktivitas fisik, obesitasAdolescents with overweight and obesity are at higher risk for obesity in adulthood. Simple carbohydrate intake, high saturated fat intake, and low physical activity are some factors that are often referred to as the cause of overweight and obesity. This study is a cross-sectional research design with the aim to identify the correlation of simple carbohydrate intake, saturated fat and physical activity with nutritional status in overweight and obesity adolescents. Sixty-nine students in SMA 3 Malang city aged 15-17 years were involved in this study. Simple carbohydrate and saturated fat intake were measured using Semi-Qualitative Food Frequency (SQ-FFQ) form and Physical Activity through interview using Physical Activity Questionaire for Adolescent (PAQ-A) form. Gamma and Somersd statistical test with SPSS 16 were used to test the correlation. Nutritional status did not correlate significantly with simple carbohydrates (p = 0.873), saturated fat intake (p = 0.343), and physical activity (p = 0.487). Identification of other factors in adolescents that may be influential such as the level of nutritional knowledge, sleep duration, first-time menstruation, family economic level, is needed to analyze risk factors more related to overweight and obesity in adolescents.Keywords: Simple carbohydrate, saturated fat, physical activity, obesity

Implementasi kebijakan penyediaan ruang laktasi di Kota Malang

Rini, Rini, Sasmito, Cahyo, Gunawan, Cakti Indra

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pemberian ASI Eksklusif harus didukung bukan hanya dari pemerintah dan tenaga kesehatan saja namun oleh semua pihak. Salah satu bentuk dukungan yang bisa diberikan adalah dengan menyediakan ruang laktasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan penyediaan fasilitas Ruang Laktasi dengan mengacu pada empat variabel teori Edward III yaitu (1) Komunikasi, (2) Sumberdaya, (3) Kecenderungan, dan (4) Struktur Birokrasi. Metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyediaan fasilitas ruang laktasi ini didasarkan atas kebijakan khusus. Terkait dengan proses komunikasi para pelaksana kebijakan melakukan sosialisasi dan rapat koordinasi. Pada Sumberdayanya Dinas Kesehatan Kota Malang bertanggungjawab untuk merealisasikan Ruang Laktasi dengn dukungan Sumber daya Dana, sumber daya fasilitas dan informasi serta wewenang. Selanjutnya kecenderungan para pembuat kebijakan dan pelaksana menunjukkan komitmen yang bagus (positif). Namun untuk struktur birokrasi belum maksimal karena belum ada SOP khusus yang disediakan dalam penyediaan ruang laktasi. Sebagian besar ruang laktasi telah memenuhi standar sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2013. Namun beberapa ruang laktasi yang disediakan belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Untuk itu diharapkan kepada pelaksana kebijakan melakukan sosialisasi secara konsisten tentang penyediaan dan pemanfaatan ruang laktasi serta memberikan sanksi tegas bukan sekedar teguran saja bagi instansi yang belum menyediakan ruang laktasi.Kata kunci:  Implementasi kebijakan, ruang laktasi Giving ASI exclusive or breastfeeding not only need supporting from government or medic association but also from all of society. One kind of supporting that could be given in providing lactation room. This study purposes to analyze and implement of policy in providing lactation room based on 4 variables by Edward theory; communication, resources, preference, and bureaucratic structural. The research methodology is using in this study is the qualitative method. Taking sampling by purposive sampling. The result of the study of providing lactation room is based on special policy. Due to government and making policy by giving socializing and meeting coordination. In resources Department of Health in Malang City responsibilities in providing lactation room by supporting in financially, give facilities, information and policy. Then the commitment in preference by providing policy shows the positive commitment. But in bureaucratic structural shows, the bad result because there is no Special SOP for supporting this program in quality also quantity. In a massive part of lactase room now have the good standard from Minister of Health no 15(2013). But the poor of this program lactase room not useful for all women who need it, may some of them dont give Exclusive ASI (breastfeeding). The writer hopes that the government gives good socialization and make a hard policy in all department who dont provide and give good facilities in lactase roomKeywords: Implement of policy, lactation room

Hubungan lama kerja menjadi kader, pengetahuan, pendidikan, pelatihan dengan presisi dan akurasi hasil penimbangan berat badan balita oleh kader Posyandu

Hardiyanti, Rosliana, Jus’at, Idrus, Angkasa, Dudung

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, data pemantauan pertumbuhan yang tidak tepat menyebabkan interpretasi status gizi yang salah sehingga terjadi kesalahan dalam perencanaan program selanjutnya. Penelitian ini bersifat Cross Sectional yaitu variabel dependen (presisi akurasi) dan variabel independen (faktor-faktor yang berhubungan). Besar sampel yang dibutuhkan dihitung dengan menggunakan aplikasi g power dengan uji Odds Ratio. Sampel yang didapat berjumlah 46 dengan tingkat kepercayaan 95% dan α = 0,05. Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan yaitu dengan menggunakan simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan kader yang bekerja lebih dari tiga tahun memiliki persentase lebih besar dibandingkan yang bekerja kurang dari tiga tahun yaitu sebesar 82,6%, kader yang berpengetahuan kurang sebesar 43,5%, kader yang tingkat pendidikannya SD sebesar 10,9%, kader yang tidak pernah mengikuti pelatihan sebesar 10,9%, kader yang tingkat presisinya tidak baik sebesar 32,6% dan kader yang akurasinya tidak baik sebesar 65,2%. Kesimpulan, bahwa lama bekerja sebagai kader, tingkat pendidikan dan jumlah pelatihan tidak berhubungan dengan presisi dan akurasi hasil penimbangan berat badan balita, namun dari segi pengetahuan berhubungan dengan presisi dan akurasi hasil penimbangan berat badan balita.Kata kunci: Akurasi, penimbangan berat badan, presisi The nutritional problem is essentially a public health problem, improper growth monitoring data causes the wrong interpretation of nutritional status resulting in errors in subsequent program planning. This research is Cross-Sectional that is dependent variable (precision accuracy) and independent variable (related factors). The required sample size is calculated by applying g power with Odds Ratio test. The samples obtained amounted to 46 with a confidence level of 95% and α = 0,05. Sampling technique that will be used is by using simple random sampling. The results showed that cadres who worked for more than three years had a greater percentage than those who worked less than three years ie 82,6%, less knowledge cadres of 43,5%, cadres whose primary education level was 10,9%, cadres who had never attended training of 10,9%, cadres whose precision was not good at 32,6% and cadres of poor accuracy of 65,2%. The conclusion, that long working as a cadre, the level of education and the number of training is not related to the precision and accuracy of weighing weight results, but in terms of knowledge related to the precision and accuracy of weighing results. Keywords: Accuracy, weighing, precision

Pemberian snack bar meningkatkan kadar hemoglobin (Hb) pada remaja putri

Syahwal, Sajiman, Dewi, Zulfiana

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Program Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Gizi Besi tidak selalu berhasil karena prevalensi anemia tidak banyak menurun, hal tersebut disebabkan antara lain penerimaan (compliance) suplemen yang rendah. Tujuan penelitian mempelajari perbedaan Hb remaja putri yang mendapatkan Snack Bar (SB) dan Suplemen Fe (SF). Penelitian ini adalah eksperimen dengan sampel remaja putri dengan Hb < 12 g/dl yang terbagi dalam 3 kelompok : kontrol (SF), P1 (SB dan SF) dan P2 (SB), dengan anggota kelompok minimal 15 orang, analisis menggunakan uji t-test. Hasil penelitan rerata Hb sebelum intervensi (Ob0) ; Kontrol = 11.74±0.62 g/dl,  P1 = 11.12±0.53 g/dl dan P2 = 11.65±0.59 g/dl, sedangkan sesudah intervensi (Ob1) ; Kontrol = 12.81±0.54 g/dl, P1 = 12.88±0.56 g/dl dan P2 = 12.69±0.69 g/dl. Ada perbedaan Hb Ob0 dan Ob1  pada semua kelompok (p = 0.000). Terjadi peningkatan Hb Ob0 dan Ob1 pada semua kelompok, dengan rerata  Kontrol = 1.08±0.66 g/dl, P1 = 1.75±0.61 g/dl dan P2 = 1.04±0.78 g/dl. Terdapat perbedaan rerata perubahan Hb  diantara P1 dengan Kontrol dan P2 (p = 0.016), antara Kontrol dengan P2 tidak berbeda (p=0.986). Rerata Hb 1 bulan pasca intevensi (Ob2) mengalami kenaikan dibandingkan Ob1. Kenaikan tertinggi pada P1 ;  0.29±0.36 g/dl, sementara P2 ; 0.25±0.33 g/dl dan kontrol; 0.18±0.18 g/dl. Tidak berbeda kenaikan Hb diantara kelompok penelitian setelah Ob2. Kombinasi SB dan SF mampu meningkatkan Hb lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Sementara pemberian SB tidak berbeda dengan SF dalam meningkatkan Hb remaja yang anemia.Kata kunci:    Hemoglobin, snack bar, suplemen fe, remaja putri  Prevention and Control Program Iron Deficiency Anemia is not always successful because of the prevalence of anemia did not decline significantly, it is caused, among others, acceptance (compliance) supplement low. The research objective studies the differences in Hb girls who get Snack Bar (SB) and iron Supplements (SF). This study is an experiment with a sample of young women with Hb <12 g / dl were divided into 3 groups: control (SF), P1 (SB and SF) and P2 (SB), with group members at least 15 people, analysis using t-test, research results the mean Hb before intervention (Ob0)) ;Control = 11.74 ± 0.62 g / dl, P1 = 11:12 ± 0:53 g / dl and P2 = 11.65 ± 0:59 g / dl, while after intervention (Ob1) Control = 12.81 ± 0:54 g / dl, P1 = 12.88 ± 0:56 g / dl and P2 = 12.69 ± 0.69 g / dl. There is a difference Hb Ob0 and Ob1, in all groups (p = 0.000). An increase in Hb Ob0 and Ob1 0 in all groups, with a mean control = 1.08 ± 0.66 g / dl, P1 = 1.75 ± 0.61 g / dl and P2 = 1.04 The ± 0.78 g / dl. There are differences between the mean change in Hb between P1 and P2 with controls (p = 0.016), between the control with P2 no different (p = 0.986). The mean Hb 1 month post-intervention (Ob2)2) increased compared Ob1 1.The highest increase in P1; 0:29 ± 0:36 g / dl, while P2; 0:25 ± 0:33 g / dl and control; 0:18 ± 0:18 g / dl. Did not differ between the study group Hb rise after Ob2 2. The combination SB and SF are able to increase Hb higher than other groups. While the administration is no different from SF SB in improving adolescent anemia Hb.Keywords: Hemoglobin, snack bar, iron supplements, adolescent

Modul pendamping KMS sebagai sarana ibu untuk memantau pertumbuhan balita

Al Rahmad, Agus Hendra

AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2018): VOLUME 3 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Rendahnya pemahaman masyarakat terutama ibu-ibu balita dalam melihat KMS, termasuk dalam pemantauan pertumbuhan balita mereka berdampak terhadap rendahnya kunjungan atau partisipasi masyarakat. Pemahaman yang kurang baik tentang pemantauan pertumbuhan balita akan berpengaruh terhadap kunjungan ke posyandu, dan memungkinkan balita tidak terpantau status gizi. Penelitian bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang pemantauan pertumbuhan balita. Desain kuasi-eksperimen melalui pendekatan analitik pada 50 ibu-ibu yang mempunyai balita dilakukan di Kecamatan Lhoknga sejak Agustus – September 2017. Pengumpulan data secara wawancara menggunakan kuesioner terkait identitas, pengetahuan. Analisis yang digunakan yaitu Kolmogorov Smirnov, uji F (Levene’s Test for Equality of Variances) serta untuk membuktikan hipotesis, maka digunakan statistik dependent t-test dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukan pelatihan modul pendamping KMS bagi ibu signifikan dalam meningkatkan pengetahuan sebesar 13,0% atau mempunyai selisih rerata 2,6 (CI 95%: 1,17 – 3,93) dengan nilai p= 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan, untuk meningkatkan pengetahuan ibu dalam memantau pertumbuhan balita maka sangat baik digunakan modul pendamping KMS. Saran, perlu tindak lanjut berupa penyuluhan maupun pelatihan secara kontinu dalam meningkatkan angka pemantauan pertumbuhan kepada ibu-ibu balita, yang dapat dilakukan secara intensif dengan melibatkan tenaga penyuluh yang profesional.Kata kunci :  KMS, pemantauan pertumbuhan, pengetahuan, ibu balita   The low understanding of the community, especially mothers of under-five children in seeing Growth Chart, including in monitoring the growth of their toddlers, has an impact on low visits or public participation. Inadequate understanding of infant growth monitoring will affect visitation to Health Center, and allow child not to be monitored nutritional status. The aim of this research is to improve mothers knowledge about infant growth monitoring. Quasi-experimental design through an analytic approach in 50 mothers with toddlers was conducted in Lhoknga Sub-District from August to September 2017. Data collection was interviewed using questionnaires related to identity, knowledge. The analysis used is Kolmogorov Smirnov, F-test (Levenes Test for Equality of Variances) and to prove hypothesis, hence statistic dependent t-test and independent t-test. The results showed that the training of growth chart is an assistant module for the mother was significant in increasing the knowledge of 13,0% or had a difference of 2,6 (95% CI: 1,17 – 3,93) with p = 0,001 (p <0,05). In conclusion, to improve mothers knowledge in monitoring the growth of toddler hence very good used growth chart companion module. Suggestion, need follow-up in the form of counseling and training continuously in increasing growth monitoring number to mother of a toddler, which can be done intensively by involving professional extension workers.Keywords: Growth Chart, growth monitoring, knowledge, mother of a toddler