cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue " VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015" : 4 Documents clear
Faktor risiko kejadian stunting pada anak umur 6-36 bulan di Wilayah Pedalaman Kecamatan Silat Hulu, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Wahdah, Siti; Juffrie, M; Huriyati, Emy
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.367 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(2).119-130

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting in children under five is an indicator of nutritional status that can reflect problem of overall social economic condition in the past. Stunting that occurs in childhood is a risk factor of increasing in mortality rate, low cognitive capability and motoric development, and improper physical function. The incidence of stunting is associated with many factors such as family environment (education, occupation, income, rearing pattern, eating pattern, and number of family members), nutritional factors (exclusivebreastfeeding and duration of breastfeeding), genetic factor, infection disease, and the incidence of low birth weight. The scope of stunting in 2010 were 35,6% and 39,7% in Indonesia and Province of Kalimantan Barat.Objectives: To identify the risk factors associated with the incidence of stunting in children of 6-36 months in Silat Hulu District of Kapuas Hulu, Province of Kalimantan Barat.Methods: This was an analytic observational study with cross sectional design. Population of the study were all of underfi ves children at remote area of Subdistrict of Silat Hulu, District of Kapuas Hulu, Province of Kalimantan Barat. Data analysis used chi-square test and logistic regression analysis to identify themost dominantly determinant stunting variable.Results: The incidence of stunting was significantly associated with occupation of mother, height of father, height of mother, income, number of family members, rearing pattern, and exclusive breastfeeding supplementation (p<0.05). The incidence of stunting was not associated with occupation of father, eating pattern, duration of breastfeeding, infection disease, and education of mother (p>0.05).Conclusions: Factors associated with the incidence of stunting were the work of mothers, rearing pattern, family income, number of household members, father’s height, maternal height, and exclusive breastfeeding. The most dominant determinant of risk factors on the incidence of stunting were exclusivebreastfeeding, number of household members, maternal height, income, and father’s height.KEYWORDS: exclusive breastfeeding, height of father, height of mother, income, stuntingABSTRAKLatar belakang: Stunting pada anak balita merupakan indikator status gizi yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masa lampau. Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif dan perkembangan motorik yang rendah, dan fungsi tubuh yang tidak seimbang. Kejadian stunting berhubungan dengan berbagai macam faktor antara lain lingkungan keluarga (pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pola asuh, pola makan dan jumlah anggota rumah tangga), faktor gizi (ASI eksklusif danlama pemberian ASI), faktor genetik, penyakit infeksi, dan kejadian BBLR. Menurut hasil riset kesehatan dasar, prevalensi anak balita yang menderita stunting di Indonesia pada tahun 2010 masih tinggi sebesar 35,6%, dan 39,7% di Provinsi Kalimantan Barat.Tujuan: Mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak umur 6-36 bulan di pedalaman Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasinya adalah seluruh balita yang ada di wilayah pedalaman Kecamatan Silat Hulu Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Analisis data menggunakan uji chi-square dan untuk mengetahui variabel paling determinan terhadap stunting dilakukan analisis regresi logistik.Hasil: Kejadian stunting berhubungan signifi kan dengan pekerjaan ibu, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, pola asuh, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Kejadian stunting tidak berhubungan dengan, pekerjaan ayah, pola makan, lama pemberian ASI, penyakit infeksi, dan pendidikan ibu (p>0,05).Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah pekerjaan ibu, pola asuh, pendapatan keluarga, jumlah anggota rumah tangga, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, dan pemberian ASI eksklusif. Faktor risiko determinan terhadap kejadian stunting adalah pendapatan, jumlah anggotarumah tangga, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, dan pemberian ASI eksklusif.KATA KUNCI: stunting, pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, tinggi badan, ayah, tinggi badan ibu, pemberian ASI eksklusif
Status gizi berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskemas Wonosari I Kabupaten Gunungkidul 2014 Febriyanto, Wahyu; Mahfoedz, Ircham; Mulyanti, Mulyanti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.081 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(2).113-118

Abstract

ABSTRACTBackground: The health of children still become a serious concern because child health status reflects the health of the nation. Acute respiratory infections (ARIs) is one of the problem that often occurred in toddler. Healthy life style such as dietary adequacy can support the prevention of the ARIs.Objectives: To know the association between nutritional status with ARIs incidence of toddler in Wonosari I Health Centers Working Area of Gunungkidul 2014.Methods: This was an analytical (inductive) method with cross sectional design. The study was conducted in May-June 2014. Samples were selected by used purposive sampling with total sample 43 respondents. Subject were toddler who visit in health centre. Data were taken from secondary datas in Wonosari I Health Centers Working Area of Gunungkidul. Data were analyzed by chi-square formula.Results: As many as 1 toddler (2,4%) had severe malnutrition and 7 toddlers (16,7%) had undernutrition. While, as many as 10 toddlers (23,8%) have ARIs. Chi-square analyzed showed that there was association between nutritional status with ARIs incidence (r=222,41, p=0,000).Conclusions: There was an association between nutritional status with ARIs incidence in Wonosari I Health Centers Working Area of Gunungkidul.KEYWORDS: acute respiratory incidence (ARIs), nutritional status, toddlerABSTRAKLatar belakang: Kesehatan anak masih menjadi perhatian serius dikarenakan derajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan bangsa. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak. Pola hidup sehat pada anak mendukung pencegahan penyakitISPA, salah satunya dengan terpenuhinya nutrisi.Tujuan: Mengetahui hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Puskesmas Wonosari I Kabupaten GunungkidulMetode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik (induktif) dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2014. Lokasi penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Wonosari I Kabupaten Gunungkidul. Subjek adalah balita yang berkunjung ke Puskesmas Wonosari I Kabupaten Gunungkidul. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling berjumlah 43 responden. Data yang digunakan adalah data sekunder yang didapatkan dari data Puskesmas Wonosari I.Hasil: Sebanyak 1 balita (2,4%) mengalami gizi buruk dan 7 balita (16,7%) dengan gizi kurang. Sebanyak 10 balita (23,8%) mengalami ISPA. Hasil analisis chi-square menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA (r=22,241, p=0,000).Kesimpulan: Ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Puskesmas Wonosari I Kabupaten Gunungkidul.KATA KUNCI: kejadian ISPA, status gizi, balita
Kecemasan dan status gizi berhubungan dengan lama rawat inap pada pasien jantung di RSUD Jenderal Ahmad Yani, Metro, Lampung Nurlindayanti, Eva; Susetyowati, Susetyowati; Probosuseno, Probosuseno; Pangastuti, Retno
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.99 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(2).98-104

Abstract

ABSTRACTBackground: Anxiety is one of the most common psychological problem occured in hospitality patient. The prevalence of anxiety in chronic heart failure patients was 11-45%. Anxiety in heart failure patients could worsening patient’s condition that lead to increased ischemic event, morbidity, negative effects onquality of life, and mortality. Despite anxiety, nutritional status is also one of the most important thing in mantaining patient’s health. Malnutrition has association with increased morbidity, complication, length of stay (LOS), medical therapy, and hospital fees.Objectives: To know the impact of nutritional status and anxiety on LOS in chronic heart failure patients at Jenderal Ahmad Yani General Hospital, Metro, Lampung.Methods: This was an observational quantitative study with cohort prospective design. The research was conducted on July 2014. Subjects were 70 patients who full fi lled the inclusive requirement, patients with anxiety as exposed group and patients without anxiety as non-exposed group. Anxiety was assessedwith Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS), while nutritional status was assessed by upper-arm circumference. Data were analyzed with chi-square and logistic regression test.Results: Bivariate test showed that there was significant association between anxiety with LOS (p<0.05). Subjects without anxiety tended to have shorter LOS than that of with anxiety (RR=5.5). There was significant association between nutritional status and LOS (p<0.05). Subjects with normal nutritionalstatus tended to have shorter LOS than that of with undernutrition (RR=2.28). Multivariate test showed that there was an association between anxiety and LOS (p<0.05) with OR=11.22.Conclusions: There was an association between anxiety and LOS. Patients without anxiety had shorter LOS than that of with anxiety. There was association between nutritional status and LOS. Patients with normal nutritional status had shorter LOS than undernutrition patients.KEYWORDS: anxiety, heart failure patients, length of stay, nutritional statusABSTRAKLatar belakang: Kecemasan merupakan salah satu masalah psikologi yang banyak dialami oleh pasien di rumah sakit. Prevalensi kecemasan pada pasien gagal jantung sekitar 11-45%. Kecemasan pada penyakit jantung yang tidak teratasi dapat berakibat pada penurunan kualitas hidup pasien, peningkataniskemik, dan kejadian masuk rumah sakit berulang yang pada akhirnya akan meningkatkan mortalitas. Selain kecemasan, status gizi juga menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang kesehatan pasien. Malnutrisi berhubungan dengan peningkatan kesakitan, komplikasi, lama rawat inap, terapi medis, danbiaya perawatan rumah sakit. Tujuan: Mengetahui pengaruh status kecemasan dan status gizi saat masuk terhadap lama rawat inap pada pasien jantung di RSUD Jenderal Ahmad Yani, Metro, Lampung.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional kuantitatif dengan rancangan cohort prospective. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2014. Subjek penelitian adalah 70 pasien jantung di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro yang memenuhi kriteria inklusi, dengan kelompok terpapar adalah pasien jantung dengan kecemasan dan pasien jantung tanpa kecemasan sebagai kelompok tidak terpapar. Status kecemasan diukur dengan kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS), sedangkan status gizi diukur dengan lingkar lengan atas. Data dianalisis dengan uji chi-square dan uji regresi logistik.Hasil: Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status kecemasan dengan lama rawat inap (p<0,05). Subjek tanpa kecemasan cenderung memiliki lama rawat yang lebih pendek (RR=5,5). Ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan lama rawat inap (p<0,05). Subjekdengan status gizi baik cenderung memiliki lama rawat yang lebih pendek daripada subjek dengan status gizi kurang (RR=2,28). Hasil uji multivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status kecemasan dengan lama rawat inap (p<0,05) dengan nilai OR=11,22.Kesimpulan: Ada hubungan bermakna antara tingkat kecemasan dengan lama rawat inap. Pasien tanpa kecemasan memiliki lama rawat yang lebih pendek dari pada pasien jantung dengan kecemasan. Ada hubungan bermakna antara status gizi dengan lama rawat inap. Pasien jantung berstatus gizi baik memiliki lama rawat yang lebih pendek daripada pasien jantung berstatus gizi kurang.KATA KUNCI: kecemasan, pasien jantung, lama rawat, status gizi
Tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga tidak berhubungan dengan kepatuhan menjalani terapi diet penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta Astuti, Sri; Paratmanitya, Yhona; Wahyuningsih, Wahyuningsih
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.066 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(2).105-112

Abstract

ABSTRACTBackground: Diabetes mellitus (DM) can cause various chronic complications on the eyes, kidney, neuronal, and blood vessel. Family support is very important to motivate the patient in performing the treatment of diabetes mellitus or diet. Therefore, knowledge and family support can influence the undergoing treat mentor therapy of diabetes mellitus. Having the knowledge, patient can know impact of the disease and in the treatment of therapy that must be done. Good knowledge and family supports can improve patient compliance in undergoing diet.Objectives: To know the association between the knowledge level and family support with compliance in the diet therapy among the patients with diabetes mellitus type 2 in Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta.Methods: This was a quantitative descriptive research with cross sectional design. Sampling technique used was quota sampling, where sample were gained in accordance with research criteria of 68 people. Initially, data analysis used was Kolmogorov-Smirnov. Multivariate analysis used was multiple linier regression.Results: The research showed that the most of respondents had good knowledge level (82.4%) and also family support of the respondent towards compliance in the diet therapy of DM type 2 (51.5%). The compliance level of the respondents in the diet therapy of DM type 2 that was in the sufficient category as many as76.5%. Knowledge and family support did not relate with compliance in the diet of diabetes mellitus type 2 with p-value consecutively was 0.537 and 0.937. Knowledge level and family support had influence as many 11.5% toward diet pursuance. Knowledge level influenced more toward diet compliance (p=0.041).Conclusions: There was no association between knowledge level and family support with compliance in the diet therapy on the patient with diabetes mellitus type 2 in Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta.KEYWORDS: knowledge, family support, diabetes mellitusABSTRAKLatar belakang: Diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah. Dukungan keluarga sangat penting untuk memotivasi pasien dalam menjalankanpengobatan ataupun diet diabetes mellitus. Oleh karena itu pengetahuan dan dukungan keluarga sangat mempengaruhi dalam menjalankan pengobatan maupun terapi diabetes mellitus, karena dengan pengetahuan yang dimiliki pasien bisa mengetahui tentang penyakitnya, dampak-dampak dari penyakitnya, serta berpengaruh dalam pengobatan maupun terapi yang harus dilakukan, salah satunya adalah diet diabetes mellitus dan pengetahuan yang baik serta adanya dukungan dari keluarga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani diet.Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dalam menjalani terapi diet di Puskemas Kasihan II Bantul Yogyakarta.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu quota sampling dan diperoleh 68 orang. Teknik analisis data yang digunakan yaitu uji Kolmogorov-Smirnov. Analisis multivariat menggunakan regresi linear.Hasil: Penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan responden sebagian besar tergolong baik yaitu sebanyak 82,4% (56 orang), dukungan keluarga responden terhadap kepatuhan dalam menjalani terapi diet DM tipe 2 yaitu sebagian besar dengan kategori baik sebanyak 51,5% (35 orang), tingkat kepatuhan responden dalam menjalani terapi diet DM tipe 2 yaitu dalam kategori cukup yaitu sebanyak 76,5% (52 orang). Untuk pengetahuan dan dukungan keluarga tidak ada hubungan dengan kepatuhan dalam menjalani diet diabetes mellitus tipe 2 dengan menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov didapatkan nilai p=0,537;>0,05, nilai p=0,937; >0,05. Koefi sien determinasi variabel bebas mempengaruhi variabel terikat sebesar 11,5 % oleh variabel tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga.Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan dalam menjalani diet diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta.KATA KUNCI: pengetahuan, dukungan keluarga, diabetes mellitus

Page 1 of 1 | Total Record : 4