cover
Filter by Year
Manuskripta
MANUSKRIPTA is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) in collaboration with National Library of Indonesia. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts. MANUSKRIPTA aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts, and communicate their localities to the global academic discourse. The journal spirit is to provide students, researchers, scholars, librarians, collectors, and everyone who is interested in Nusantara manuscripts, information of current research on Nusantara manuscripts. We welcome contributions both in Bahasa and English relating to manuscript preservation or philological, codicological, and paleographical studies. All papers will be peer-reviewed to meet a highest standard of scholarship.
Articles
79
Articles
Persahabatan Ulama Sunda

Gunawan, Aditia

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Book Review: Jajang A. Rohmana, Informan Sunda Masa Kolonial: Surat-Surat Haji Hasan Mustapa untuk Snouck Hurgronje dalam Kurun 1894-1923, Yogyakarta: Penerbit Octopus. 2018.   

Azimat dan Rajah dalam Catatan Pengikut Tarekat Naqsabandiyah di Desa Lebak Ayu Kabupaten Madiun Pertengahan Abad Ke-20

Dwiatmojo, Ghis Nggar

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The text Catatan Pengikut Tarekat Naqsabandiyah (CPTN) has been copied on 1958 AD in Javanese language (Javanese script, Arabic Pegon, Arabic and Latin). The text contains religious doctrines, Walisongo, Naqsabandiyah, several Azimats and Rajahs, genealogy of Lebak Ayu village chronicles, massage treatment, various kinds of prayer, ritual of Rebo Wekasan and miscellaneous. The copiest of CPTN has intellectual intelligence and  spiritual superiority like poets traditions who copied Javanese manuscripts. There is influences of tarekat in copying this manuscript. Azimat and Rajah motives has containing of three social apsects, six aspects of health, ten aspects of hosehold life; like marital relationship and childcare, six aspects of economy, five aspects of security, and three aspects of magic. The ritual of Rebo Wekasan also has influence in copying this text. Knowledge is not enough to get benefits from praying, mantra, jimat, and rajah. Seomeone should do ngelmu. At a high stage, someone can use magical benefits without reading prayer, mantra, jimat, and writing rajah. --- Teks Catatan Pengikut Tarekat Naqsabandiyah (selanjutnya disebut CPTN) disalin pada tahun 1958 dalam bahasa Jawa (aksara Jawa, aksara Arab pégon, aksara Arab, dan aksara Latin). Naskah berisi ajaran agama, Walisongo, Tarekat Naqsabandiyah, macam-macam zimat dan rajah, laku prihatin, silsilah babad Desa Lebak Ayu, pijat pengobatan, macam-macam doa dan shalat, ritual Rebo Wekasan, dan lain-lain. Penyalin naskah CPTN memiliki kecerdasan intelektual dan kelebihan secara spiritual sebagaimana tradisi para pujangga penyalin naskah-naskah Jawa. Ada pengaruh tarekat dalam penyalinan naskah ini. Motif-motif zimat dan rajah dalam naskah CPTN ini mengandung tiga unsur sosial kemasyarakatan, enam kesehatan, sepuluh kehidupan rumah tangga; hubungan suami istri; dan pengasuhan anak, enam ekonomi, lima keamanan, dan tiga aspek kesaktian. Ritual Rebo Wekasan juga menyumbang pengaruh dalam penyalinan naskah CPTN ini. Untuk merasakan tuah doa, mantra, jimat, dan rajah pengetahuan saja tidak cukup, bahkan ilmu saja tidak cukup, seseorang harus menjalankan ngelmu. Pada tahap yang tinggi hanya dengan diam seseorang bisa melakukan ??keajaiban-keajaiban? tanpa perlu merapal doa, mantra, jimat, dan menulis rajah.    

Elit Lokal Palembang dan Polemik Kebangkitan Kesultanan Palembang: Menggali Sumber Sejarah melalui Manuskrip

Rochmiatun, Endang

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The State of Sultan Mahmud Badaruddin IIs descendant (zuriat) after the Sultanate of Palembang was controlled by Dutch Colonials in the XVIII AD century, Palembang Sultanate was the center of Islamic studies in Indonesian Archipelago and was the continuity of the development of Islam in Aceh which declined in the XVII AD. In  XVIII AD ulema and intellectuals received great encouragement and attention from the Sultanate which causes the emergence of ulema writers whose works still can be read and taught in the society til now. The development of Islamic intellectuals at that time is inseparable from the role of the rulers (sultan) who ruled. The Sultan highly encouraged the ulema and intellectuals in conducting Islamic studies, especially during the reign of Sultan Mahmud Badaruddin II both nationally and internationally. --- Keadaan zuriat (keturunan) Sultan Mahmud Badaruddin II setelah Kesultanan Palembang dikuasai Kolonial Belanda pada Pada abad XVIII M, Kesultanan Palembang  merupakan pusat kajian Islam di Nusantara dan merupakan kontinuitas dari perkembangan Islam di Aceh yang megalami kemunduran pada abad XVII M. Pada abad XVIII M tersebut para ulama dan cendekiawan mendapat dorongan serta perhatian yang besar  dari  pihak Kesultanan, sehingga muncul ulama-ulama penulis yang karya-karyanya masih tetap dapat dibaca dan diajarkan di masyarakat hingga sekarang. Berkembangnya bidang intelektual Islam pada masa itu tak lepas dari peran para penguasa (sultan) yang meme-rintah. Para Sultan sangat mendorong para ulama dan cendekiawan dalam melakukan kajian keislaman, terutama pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II baik nasional maupun internasional.     

Ajaran Budi Pekerti dalam Iluminasi Naskah Babad Kartasura - Sukawati

Ekowati, Venny Indria, Wulan, Sri Hertanti, Handoko, Aran, Insani, Nur Hanifah

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research aims to identify and anylize character building that include in the illumination the text of Babad Kartasura-Sokawati. The data collected through content anylisis and photography. Overall, illuminations picture that include in the text of Babad Kartasura-Sokawati contain character building of Javanese people. There are six character buildings that appear from the illumination, there are: 1) leadership value that appeared from the pictures of eagle, peacock, deer, kingdom??s flag, weapons, bridge fence, star, sun, mountain, river, forest, khandhil (oil lantern), leaf lined, lotus, and sunflower; 2) respect and honorable value that appeared from the pictures of eagle, peacock, kingdom??s flag, dhampar (the king??s seat), leaf lined, and sunflower; 3) value of the perfection of life that appeared from the pictures of khandhil (oil lantern), sunflower, and vines; 4) devotion value that appeared from the pictures of the star and the moon; 5) value to achieve peacefully of the inner and outer that appeared from the pictures of water waves; and 6) noble character value that appeared from the pictures of songsong (gold umbrella), leaf lined, rose, and sunflower.   --- Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ajaran budi pekerti di dalam iluminasi teks Babad Kartasura-Sokawati. Data dikumpulkan dengan analisis isi dan dokumentasi. Secara keseluruhan gambar iluminasi yang terdapat dalam teks Babad Kartasura-Sokawati memuat ajaran budi pekerti yang selaras dengan kehidupan masyarakat Jawa. Terdapat enam ajaran budi pekerti yang terdapat dalam gambar iluminasi,  yaitu: 1) ajaran tentang kepemimpinan yang tersurat dari gambar burung garuda, burung merak, kijang, umbul-umbul, senjata, pagar jembatan, bintang, matahari, gunung, sungai, hutan, khandhil (lentera minyak), daun yang berjajar, bunga teratai, dan bunga matahari; 2) ajaran saling menghormati dan menghargai yang tersurat dari gambar burung garuda, burung merak, umbul-umbul, pagar jembatan, dhampar (kursi raja), daun yang berjajar, serta bunga mawar; 3) ajaran tentang kesempurnaan hidup yang tersurat dari gambar khandhil (lentera minyak), bunga matahari, dan tumbuhan sulur; 4) ajaran ketaqwaan yang terdapat dalam gambar bintang dan bulan sabit; 5) ajaran untuk meraih ketentraman lahir dan batin yang tampak pada gambar gelombang air; serta 6) ajaran berpekerti luhur yang tampak dari gambar songsong (payung emas), daun yang berjajar, bunga mawar, dan bunga matahari.  

Kyai Sêstradilaras: Sebuah Dokumentasi Teks Tarian Langen Risang Arjuna Kadipaten Pakualaman

Febriyanto, Muhammad Bagus

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kyai Sêstradilaras is one of Pura Pakualaman Librarys collections with code 0148/PP/73. This manuscript is included in the category of miscellaneous manuscripts. The text written in Javanese letter and language. This text contains a text about the dance of Langên Risang Arjuna by S.D.K.G.P.A.A. Paku Alam IV. The disclosure of the text is presented in the form of prose or tembang which is bound by gending form. Gending which Each gending plays a role in telling the contents of the text. this manuscript writen on K.G.P.A.A. Paku Alam IVs period after his coronation as Pakualamans regent. Sêstradilaras means teachings of inner processing through real means that promotes tolerance and mutual respect to aim living harmony. The purpose of this writing as a form of preliminary review of the text Kyai Sêstradilaras by presenting the description of text and text description relation with the story of Langên Risang Arjuna. --- Kyai Sêstradilaras merupakan naskah koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman dengan kode koleksi 0148/PP/73. Naskah ini termasuk dalam kategori naskah lain-lain. Teks Kyai Sêstradilaras ditulis dalam aksara Jawa, berbahasa Jawa. Naskah ini memuat teks tentang tarian Langên Risang Arjuna karya S.D.K.G.P.A.A. Paku Alam IV. Pengungkapan teks disajikan dalam bentuk prosa maupun tembang yang terikat oleh sajian gending. Gending yang digunakan sebanyak duapuluh tiga gending. Masing-masing gending berperan menceritakan isi teks. Naskah ditulis pada masa K.G.P.A.A. Paku Alam IV setelah dirinya diangkat menjadi adipati Pakualaman. Sêstradilaras bermakna ajaran olah rasa melalui sarana nyata yang mengedepankan sikap toleransi saling menghargai guna mencapai keharmonisan hidup. Selain tentunya kata laras dapat mengacu pula pada bentuk sajian teks yang berupa gending. Tujuan penulisan ini sebagai bentuk tinjauan awal teks Kyai Sêstradilaras dengan menyajikan deskripsi naskah serta deskripsi teks kaitannya dengan cerita Langên Risang Arjuna.     

Kisah Putra Rama dan Rawana Abad XV Masehi Rekonstruksi Teks yang Terserak

Ruhimat, Mamat, Sopian, Rahmat

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This paper describes the research and reconstruction of Kisah Putra Rama and Rawana text in the XV Century. The research was conducted toward three manuscripts of Kisah Putra Rama and Rawana (PRR), which are collections of West Java State Museum ??Sri Baduga? and Kabuyutan Ciburuy, Garut Regency. PRR is one of Old Sundanese literature which were written in the sixteenth century AD. The story tells the war between the son of Rama, King of Lengkawati and the son of Rawana, the king of Lengkapura which took place after Rawana passed away and Rama attained moksha. The PRR manuscripts of Kabuyutan Ciburuy are scattered in six kropaks which leaves (lempir) are mixed with leaves from other texts. The first groups, which are consisted of Kropak 17, Kropak 18, Kropak 22, the fourth leaf, and Kropak 26, is called Manuscript A. The second groups, which are consisted of Kropak 24, the third leaf of Kropak 26, and the fifth leaf of Kropak 29, is called Manuscript C. Moreover, the PRR text which has been initially published is called Manuscript B.   --- Makalah ini menguraikan penelitian dan rekonstruksi terhadap teks Kisah Putra Rama dan Rawana Abad XVI Masehi. Penelitian dilakukan terhadap tiga naskah Kisah Putra Rama dan Rawana (PRR) dari koleksi Museum Negeri Jawa Barat ??Sri Baduga? dan koleksi Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut. PRR merupakan salah satu karya sastra Sunda Kuno yang ditulis pada abad ke-16 Masehi. Isinya mengisahkan peperangan antara putra Rama Raja Lengkawati dengan putra Rawana Raja Lengkapura setelah Rawana gugur dan Rama moksa. Naskah koleksi Kabuyutan Ciburuy tercecer dalam enam kropak yang sebagian lempirannya bercampur dengan lempiran dari teks lain. Keenam naskah PRR yang tercecer dan berbeda bacaan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari Kropak 17, Kropak 18, Kropak 22, lempir keempat dan kelima Kropak 26  disebut Naskah A. Kelompok kedua yaitu lempir kedua Kropak 24, lempir ketiga Kropak 26, dan lempir kelima Kropak 29  disebut Naskah C. Sedangkan teks PRR yang sudah diterbitkan lebih dahulu disebut Naskah B.  

Idu Tawa Lam Jampi: Mantra-mantra dalam Naskah Surat Incung Kerinci

Sunliensyar, Hafiful Hadi

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Surat Incung is one of script which used by People of Kerinci in writing old manuscripts both on horn, bark, daluang, bone, and bamboo media. This script is also part of ulu letter which used by several ethnic in southern Sumatera. The results of this research indicate that Surat Incung manuscript contains not only pedigree or ancestral history of a Kerinci group (tembo) and lament prose, but also contain spells. There are about nine copies of the letter containing the known spells to date. The spells in the letter manuscripts include the spell of praise to the spirits of the ancestors, the spell for the protector or personal apparel and the spell for ceremonies or rituals such as for the ritual of rice cultivation. In addition, spells in the letter are influenced by Animism, Hindu-Buddhist and Islam elements. --- Surat Incung merupakan salah satu aksara Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Suku Kerinci dalam menulis naskah-naskah kuno baik pada media tanduk, kulit kayu, daluang, tulang, dan bambu. Aksara ini merupakan bagian dari surat ulu yang digunakan oleh beberapa etnis di Sumatera bagian Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa naskah Surat Incung tidak hanya berisi silsilah atau riwayat nenek moyang suatu kelompok masyarakat Kerinci (tembo) dan prosa ratapan, tetapi juga berisi mantra-mantra. Terdapat sekitar sembilan naskah surat incung berisi mantra-mantra yang diketahui hingga kini. Mantra-mantra dalam naskah Surat Incung berupa mantra pujian terhadap arwah leluhur, mantra untuk pelindung atau pakaian diri serta mantra untuk upacara atau ritual seperti untuk ritual penanaman padi. Selain itu, mantra-mantra dalam Surat Incung dipengaruhi oleh unsur animisme, Hindu-Buddha dan Islam.    

Memahami Kompleksitas Transformasi Agama-agama di Jawa melalui Teks

Iswanto, Agus

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Book Review: Yumi Sugahara dan Willem van der Molen (editor), Transformation of Religions as Reflected in Javanese Texts, Tokyo: Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa Tokyo University of Foreign Studies. 2018.   

Titik Singgung Islam dan Kepercayaan Tradisi dalam S?rat Dahor Palak

Wijanarko, Fajar

Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Islam Java is being an accommodation between Islam Santri and the traditional faith of Javanese. Geertz stands for these condition with classifying typologies of Javanese community which consists of abangan, santri and priyayi. The classification of Javanese communities is affected by literature produced in the beginning of 17th century, such as S?rat Dahor Palak. On the text of Dahor Palak, the emergence of element syncretism seen from selection diction used to figure Allah as the lord of. The story of prophets recorded in the text and illumination with Arabic alphabet on the manuscript are strengthened Islamic image. Philology approach by exposure to descriptive be a proved the point of tangency between Islam and the traditional faith of Javanese community in the text. In the end, this articles provides a syncretism in the Islamic literature produced in the 17th century from language aspect. --- Islam Jawa menjadi bentuk akomodasi antara ??Islam Santri?? dengan sistem kepercayaan masyarakat Jawa. Geertz mengamini kondisi demikian dengan mengklasifikasi tipologi masyarakat Jawa yang terdiri atas abangan, santri, dan priyayi. Pola masyarakat Jawa tersebut selanjutnya mempengaruhi pula produksi karya sastra di awal abad XVII, salah satunya S?rat Dahor Palak. Pada teks Dahor Palak, munculnya unsur sinkretis terlihat dari pemilihan diksi yang digunakan untuk melukiskan Allah sebagai sang pencipta. Cerita para nabi yang direkam dalam teks serta iluminasi beraksara Arab pada lembaran-lembaran naskah Dahor Palak turut memperkuat citra Islam. Pendekatan filologi dengan pemaparan deskriptif menjadi upaya membuktikan titik singgung antara Islam dengan sistem kepercayaan tradisi dalam teks Dahor Palak. Pada akhirnya, artikel ini memberi gambaran tentang sikretisme dalam produksi sastra Islam abad ke XVII yang dibentuk dari aspek kebahasaannya.  

Unsur Fotografis dalam Digitalisasi Naskah Klasik: Pengalaman Puslitbang Lektur Keagamaan

Firmanto, Alfan

Manuskripta Vol 7 No 2 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

People manuscript consevation should be proirity if we look at their condition now. If everlasting manuscripts happened, it will opens all resources for researching and increasing knownledge. Digital manuscript photography is one of easier things to help manuscript conservation. It will use digital camera and computer to re-construct manuscripts text. This method gives more benefits and eminents than analog manuscript conservation, such as it will be easier to use, cheaper to do, and it doesnt need big space to save it. This paper aims to explain digital manuscript conservation approach based on Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Balitbang dan Diklat Ministry of Religious Affair Republic Indonesias experiences. by means of sharing this our experiences in digital manuscript conservation around Indonesia, it will be a sharing information and finally digital manuscript conservation will have an guidelines to digitize manuscripts all around Indonesia. --- Konservasi naskah klasik yang ada di masyarakat sangat mendesak untuk segera dilakukan mengingat kondisinya saat ini. Jika kelestarian naskah terjadi akan dapat membuka akses bagi penelitian dan pengkajian. salah satu hal yang paling mudah dan murah dilakukan dalam konservasi naskah klasik adalah melalui digital. Konservasi naskah klasik melalui foto digital dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informatika, melalui komputer dan kamera digital. metode konservasi seperti ini memberikan beberapa keuntungan dan kelebihan dibandingkan dengan konservasi non digital (analog), antara lain dari segi alat dan pemanfaatan, lebih mudah dan murah, dari sisi penyimpanan tidak memerlukan ruang yang besar. Makalah ini bermaksud menjelaskan metode konservasi naskah klasik yang yang paling mudah melalui teknologi fotografi digital, berdasar pengalaman Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Dengan membagi pengalaman dalam hal digitalisasi naskah-naskah di seluruh Indonesia, diharapkan dapat membagi pengetahuan yang pada akhirnya dapat dibuat sebuah standar dan pedoman yang seragam dalam kegiatan digitalisasi naskah-naskah klasik di seluruh Indonesia. --- Konservasi naskah klasik yang ada di masyarakat sangat mendesak untuk segera dilakukan mengingat kondisinya saat ini. Jika kelestarian naskah terjadi akan dapat membuka akses bagi penelitian dan pengkajian. salah satu hal yang paling mudah dan murah dilakukan dalam konservasi naskah klasik adalah melalui digital. Konservasi naskah klasik melalui foto digital dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informatika, melalui komputer dan kamera digital. metode konservasi seperti ini memberikan beberapa keuntungan dan kelebihan dibandingkan dengan konservasi non digital (analog), antara lain dari segi alat dan pemanfaatan, lebih mudah dan murah, dari sisi penyimpanan tidak memerlukan ruang yang besar. Makalah ini bermaksud menjelaskan metode konservasi naskah klasik yang yang paling mudah melalui teknologi fotografi digital, berdasar pengalaman Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Dengan membagi pengalaman dalam hal digitalisasi naskah-naskah di seluruh Indonesia, diharapkan dapat membagi pengetahuan yang pada akhirnya dapat dibuat sebuah standar dan pedoman yang seragam dalam kegiatan digitalisasi naskah-naskah klasik di seluruh Indonesia.