Momentum: Physics Education Journal
ISSN : -     EISSN : -
Articles
23
Articles
Pengembangan bahan ajar media pembelajaran fisika dengan pendekatan multi representasi untuk meningkatkan kemampuan pembuatan alat-alat praktikum calon guru fisika

Sundaygara, Chandra, Pratiwi, Hestiningtyas Yuli, Hudha, Muhammad Nur

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.7 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh bahan ajar media pembelajaran fisika berbasis multi representasi untuk mengembangkan kemampuan membuat dan merangkai alat-alat percobaan fisika dan mengetahui kelayakan serta respon siswa terhadap bahan ajar ini pada materi listrik dan magnet. Metode penelitian ini adalah penelitian  dan pengembangan (R&D). Desain penelitian menggunakan desain Four-D yaitu Define, Desain, Develop, Disseminate oleh Thiagarajan, dkk., 1974. Instrumen penelitian adalah angket. Data penelitian terdiri dari data uji kelayakan oleh validator dan data ujicoba terbatas yang diberikan kepada mahasiswa yang diperoleh melalui pemberian angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Uji kelayakan yang didasarkan validasi ahli media dan ahli materi diperoleh nilai rata-rata uji kelayakan sebesar 3,51 yang dikategorikan baik/valid  sehingga bahan ajar layak digunakan, (2) Respon siswa terhadap bahan ajar media pembelajaran fisika berbasis multi representasi melalui ujicoba terbatas diperoleh nilai rata-rata ujicoba terbatas sebesar 3,58 yang dikategorikan baik/valid   Kata Kunci: Bahan Ajar,  Multi Representasi, Media pembelajaran Fisika

Investigasi keterampilan proses sains terintegrasi mahasiswa pendidikan fisika Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Sujarwanto, Eko, Putra, Ino Angga

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.731 KB)

Abstract

Abstract: Science arises and develops by including roles between theory and experiment. Physics, as part of science, is seen as a process, product, and attitude that is called the nature of science (Nature of Science / NOS). Learners obtain and construct science products in physics learning should pay attention to the NOS through Science Process Skills (SPS). This study aims to determine the level of students' understanding of integrated SPS, namely identifying and controlling variables, hypothesizing, operationally defining, graphing and interpreting data, and designing experiments. The research conducted was descriptive quantitative research with survey methods. The research subjects were students of physics teacher candidates at the University of KH. A. Wahab Hasbullah. The results showed that the integrated SPS student physics teacher candidates were still low with an average of 60.20. This shows that students have not yet reached the level of formal operational cognitive development and have not been strong in basic SPS. Students have the highest ability in the aspect of formulating hypotheses while the lowest aspects are operationally defined. An integrated effort needs to be made to increase SPS for students.   Abstrak: Sains muncul dan berkembang dengan menyertakan peran antara teori dan eksperimen. Fisika, sebagai bagian dari sains, dipandang sebagai proses, produk, dan sikap yang disebut sebagai hakikat sains (Nature of Science/NOS). Peserta didik memperoleh dan mengkonstruk produk sains di pembelajaran fisika seharusnya memperhatikan NOS melalui Keterampilan Proses Sains (KPS). Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa terhadap KPS terintegrasi yaitu mengidentifikasi dan mengontrol variabel, berhipotesis, mendefinisikan secara operasional, membuat grafik dan menginterpretasikan data, serta mendesain eksperimen. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Subjek penelitian adalah mahasiswa calon guru fisika di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah. Hasil penelitian menunjukkan KPS terintegrasi mahasiswa calon guru fisika masih rendah dengan rata-rata 60,20. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa belum sampai pada tingkat perkembangan kognitif operasional formal dan belum kuat pada KPS dasar. Mahasiswa memiliki kemampuan paling tinggi pada aspek merumuskan hipotesis sedangkan paling rendah aspek mendefinisikan secara operasional. Usaha terpadu perlu dilakukan untuk meningkatkan KPS pada mahasiswa.  

Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa pada materi mekanika

Hafizah, Ellyna, Misbah, Misbah, Annur, Syubahn

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.572 KB)

Abstract

Abstract: Mechanicss is a part of learning in the basic physics course. Mechanics covers kinematics particle and dynamics particle. The materials in mechanics are the topics/ discussion which are related to human being life. Considering the characteristics of the materials in the mechanics, the problem solving ability is urgently needed to coprehend the materials. Based on this consideration, students’ problem solving ability needs to be analyzed to see the extend of the ability posses by the students to ease the learning. The subjects of the research were the natural science students of Teacher Training and Education Faculty, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. The instrument used were a test which was analyzed using the problem solving ability scoring rubric. The results showed that the students’ ability in solving mechanics material in general is good. However, the students commonly missed to check and evaluate the solution so that this step is categorized as less good.   Abstrak: Mekanika merupakan bagian dari pembelajaran dalam mata kuliah fisika dasar. Mekanika mencakup kinematika partikel dan dinamika partikel. Pokok bahasan dalam mekanika merupakan suatu bahasan yang sering bersinggungan dengan kehidupan mahasiswa. Melihat karakteristik materi pada mekanika ini maka kemampuan pemecahan masalah sangat diperlukan untuk memahami materi tersebut. Berdasarkan hal tersebut, kemampuan pemecahan masalah mahasiswa perlu untuk dianalisis sejauh mana kemampuan yang sudah dimiliki untuk lebih memudahkan suatu pembelajran. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan IPA FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Instrumen yang digunakan berupa tes yang kemudian dianalisis menggunakan rubrik penilaian kemampuan pemecahan masalah. Hasil data kemampuan pemecahan masalah berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah mahasiswa termasuk kategori baik. Namun mahasiswa sering melewatkan tahapan uji konsistensi dan koherensi serta mengevaluasi solusi sehingga pada tahap tersebut masih tergolong cukup baik. Adanya beberapa tahap yang masih tergolong cukup baik ini dapat terus ditingkatkan dengan membiasakan suatu proses pembelajaran yang berorientasi pada masalah terutama masalah nyata.  

Cara siswa menyelesaikan masalah suhu dan kalor dari sudut pandang keterampilan metakognisi

Rahayu, Susanti

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.27 KB)

Abstract

Abstract: The ways students solve problems become one of the main target of physics learning. Investigation about how students solve problems is explored in the context of metacognition skills.  The steps of metacognition skills in physics problem solving include: planning, monitoring, evaluation, and controlling. This is a preliminary exploration study that aims to: 1.) mapping the metacognition skills that are used in physics problem solving of temperature and heat, 2.)  exhibiting students’ self evaluation of his/her metacognition skills in problem solving, and 3.) identifying the relationship between students answer and their self evaluation. This is a descriptive qualitative study. The data were obtained by test and questionnaire. The physics problem solving test was given to 35 students of 11th grader. After doing test, they filled the 22 items of questionnaire adapted from Physics Metacognition Inventory (PMI). The result shows that none of the students solved all the problems optimally. The result of questionnaire showed that the average of metacognitive skills 64%, with the maximum and the minimum scores is 87% and 35% respectively. The correlation between the analyses of students’ answer and their self evaluation shows a negative value that indicates no relationship. Specifically, students pass the planning and controlling phase quite well, even though they tend to be poor in monitoring and evaluation. This findings must become a particular attention for the researchers and teachers in providing the learning strategy to habit the phases of metacognition skills in order to improve students’ metacognitive skills.   Abstrak: Cara siswa dalam menyelesaikan masalah menjadi salah satu sasaran utama dalam pembelajaran fisika. Penelusuran mengenai bagaimana cara siswa menyelesaikan masalah dieksplorasi dalam konteks keterampilan metakognisi. Tahapan keterampilan metakognisi dalam menyelesaikan masalah fisika meliputi: planning, monitoring, evaluation, dan controlling. Penelitian ini merupakan studi eksplorasi awal bertujuan untuk: 1.) memetakan keterampilan metakognisi yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah fisika pada materi Suhu dan Kalor, 2.) menunjukkan penilaian diri siswa terhadap keterampilan metakognisi yang dimiliki dalam menyelesaikan masalah, dan 3.) mengidentifikasi hubungan antara analisis jawaban siswa dan penilaian diri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui tes dan angket. Tes yang digunakan merupakan soal problem solving, yang diberikan kepada 35 siswa kelas XI. Setelah mengerjakan soal, siswa mengisi angket yang terdiri dari 22 item yang diadaptasi dari Physics Metacognition Inventory (PMI). Hasil penelitian menunjukkan belum ada siswa yang optimal menyelesaikan seluruh soal. Angket penilaian diri menunjukkan skor rerata 64%, dengan skor maksimum dan minimum masing-masing 87% dan 35%. Hubungan antara analisis jawaban siswa dan hasil penilaian diri menunjukkan nilai korelasi negatif yang mengindikasikan tidak sinkronnya hasil jawaban dan penilaian diri siswa. Secara spesifik, tahapan planning dan controlling dilakukan siswa dengan cukup baik, akan tetapi siswa cenderung lemah dalam memonitoring dan mengevaluasi ketika menyelesaikan masalah. Temuan ini menjadikan perhatian khusus untuk peneliti dan guru dalam menyajikan strategi belajar untuk membiasakan tahapan dalam keterampilan metakognisi dengan target peningkatan keterampilan metakognisi siswa.

Identifikasi pemahaman konsep dan penalaran ilmiah siswa SMA pada materi fluida statis

Prastiwi, Vicki Dian, Parno, Parno, Wisodo, Hari

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.046 KB)

Abstract

Abstract: Understanding of concepts and scientific reasoning are an important components of the Physics learning process. One of the importance of understanding the concept and scientific reasoning is facilitating students in understanding and applying concepts obtained for everyday life. This article aims to describe students' understanding of concept and scientific reasoning on Static Fluid topic. This research used mixed methods explanatory design with 31 students of class XII IPA who have obtained Fluid Static topic. The instruments used are 10 items of essay for conceptual comprehension and 20 multiple choice items justified for scientific reasoning with substantial reliability in order, ie 0.702 and 0.745. The results show that students still have difficulty in understanding the concept of Fluid Static and still have a low scientific reasoning. Students' understanding of hydrostatic pressure sub topic is 18%, Pascal's Law of 21%, and Law Archimedes of 2.2%. Scientific reasoning aspects used in this research are mass conservation reasoning, proportional reasoning, variable control, reasoning probability, correlation reasoning, and hypotetical deductive reasoning. Sequentially, the low level of students' scientific reasoning on Static Fluid material in each criterion is indicated by the following percentages: 24%, 40%, 34%, 25%, 48%, and 20%. Based on the results obtained, that the difficulties of students in general exist on the determination of factors that affect the phenomenon of each sub-material. Abstrak: Pemahaman konsep dan penalaran ilmiah merupakan komponen penting dalam proses pembelajaran Fisika. Salah satu pentingnya dari pemahaman konsep dan penalaran ilmiah adalah dapat memberikan kemudahan siswa dalam memahami dan mengaplikasikan konsep yang diperoleh untuk kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman konsep dan penalaran ilmiah siswa pada materi Fluida Statis. Jenis penelitian ini menggunakan mixed methods explanatory design dengan subyek penelitian 31 siswa di kelas XII IPA yang telah memperoleh materi Fluida Statis. Instrumen yang digunakan dengan 10 butir soal esai untuk pemahaman konsep dan 20 butir soal pilihan ganda beralasan untuk penalaran ilmiah dengan besar reliabilitas secara berurutan, yaitu 0,702 dan 0,745. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep Fluida Statis dan masih memiliki penalaran ilmiah yang rendah. Pemahaman konsep siswa pada sub materi tekanan hidrostatis sebesar 18%, Hukum Pascal sebesar 21%, dan Hukum Archimedes sebesar 2,2%. Aspek penalaran ilmiah yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu penalaran konservasi massa, penalaran proporsional, kontrol variabel, penalaran probabilitas, penalaran korelasi, dan hypotetical deductive reasoning. Secara berurutan rendahnya tingkat penalaran ilmiah siswa pada materi Fluida Statis di masing-masing kriteria, ditunjukkan dengan persentase sebagai berikut: 24%, 40%, 34%, 25%, 48%, dan 20%. Berdasarkan hasil yang diperoleh, bahwa kesulitan siswa secara umum terdapat pada penentuan faktor-faktor yang berpengaruh pada fenomena masing-masing sub materi.

Kesalahan siswa SMA dalam memecahkan masalah pada materi Hukum Newton

Januarifin, Dheka, Parno, Parno, Hidayat, Arif

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.017 KB)

Abstract

Abstract: This study described students mistake on solving newton’s law problems. The subjects were 60 students of high school in 11th grade. This study used survey method with data collection technique was test. Test consisted of 10 items about the description of Newton's law (cronbach alpha 0.638). The results showed that many students mistake on solving problems about 1st Newton’s Law, 2nd Newton’s law, 3rd Newton’s law and concept of friction. Students just rememberred the mathematical equations of Newton's law without understanding the physical meaning. It was advisable to conduct further research as an effort to reduce students' mistakes, one of them is through learning that involves students participating on problem solving and given assistance so that students can do problem solving independently. Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan kesalahan siswa dalam memecahkan masalah hukum newton. Subyek penelitian siswa kelas XI SMA berjumlah 60. Penelitian menggunakan meteode survey dengan teknik pengumpulan data yaitu tes. Tes terdiri atas 10 butir soal uraian materi hukum Newton (cronbach alpha 0,638). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa banyak mengalami kesalahan dalam memecahkan masalah hukum I Newton, hukum II Newton, hukum III Newton dan konsep gaya gesek. Faktor penyebab kesalahan tersebut adalah karena siswa kurang memahami hukum I Newton, hukum II Newton, hukum III Newton dan konsep gaya gesek. Siswa hanya hanya menghafal persamaan matematis hukum Newton tanpa memahami makna fisis. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut sebagai upaya mengurangi kesalahan siswa, salah satunya melaui pembelajaran yang melibatkan siswa ikut serta dalam pemecahan masalah dan diberi bantuan agar siswa dapat melakukan pemecahan masalah secara mandiri.

Pendekatan Saintifik di Sekolah Dasar

Ain, Nurul, Huda, Choirul

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.542 KB)

Abstract

Abstract: One of the features of the 2013 Curriculum is a scientific-based learning approach. The purpose of this study was to describe the understanding, implementation, and barriers of elementary school teachers towards a scientific approach. This research method is descriptive qualitative. Respondents were 50 teachers of SDN at Kecamatan Sukun Malang. Data were obtained through open questionnaire techniques and document Teachers' learning plan. The data are described and analyzed to get an overview of elementary school teacher's understanding of the scientific approach. The results show that the scientific approach can serve as a science process skill and a scientific method. Teachers at the SDN in Kecamatan Sukun Malang understand the scientific approach as a science process skill, not yet understanding the scientific approach as a scientific method. These results can be used as a reference to train elementary school teachers in implementing a scientific approach. Abstrak: Salah satu ciri Kurikulum 2013 adalah pembelajaran berbasis pendekatan saintifik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman, pelaksanaan, dan hambatan guru sekolah dasar terhadap pendekatan saintifik. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Responden sejumlah 50 guru SDN di Kecamatan Sukun Kota Malang. Data diperoleh melalui penyebaran angket terbuka dan dokumen rencana pembelajaran. Data yang diperoleh dideskrpsikan dan dianalisis sehingga didapatkan gambaran umum tentang pemahaman guru Sekolah Dasar terhadap pendekatan saintifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan saintifik dapat berfungsi sebagai keterampilan proses sains dan metode ilmiah. Guru-guru Sekolah Dasar di Kecamatan Sukun Kota Malang memahami pendekatan saintifik sebagai keterampilan proses sains, belum memahami pendekatan saintifik sebagai metode ilmiah. Hasil penelitian dapat dijadikan referensi untuk melatih guru sekolah dasar dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik.

Pembelajaran fisika menggunakan inkuiri terbimbing dengan metode eksperimen dan proyek ditinjau dari kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa

Purwandari, Purwandari, Yusro, Andista Candra

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.704 KB)

Abstract

Tujuan penelitian: 1). Mengetahui adakah perbedaan hasil belajar antara siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek. 2). Mengetahui adakah perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi dan kemampuan berpikir kritis rendah. 3). Mengetahui adakah perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki kreativitas tinggi dan kreativitas rendah. 4). Mengetahui adakah interaksi antara pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar siswa. 5). Mengetahui adakah interaksi antara pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kreativitas terhadap hasil belajar siswa. 6). Mengetahui adakah interaksi antara kemampuan berpikir kritis dan kreativitas terhadap hasil belajar siswa. 7). Mengetahui adakah interaksi antara pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain faktorial 2x2x2. Hasil dari penelitian :1) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan Fobs = 12.208 > Fα = 4,02, 2) Ada perbedaan hasil belajar siswa antara kemampuan berpikir kritis tinggi dan rendah dengan Fobs = 7.826 > Fα = 4,02 3) Ada perbedaan hasil belajar siswa antara kreativitas tinggi dan rendah dengan Fobs = 7.600 > Fα = 4,02 4) Ada interaksi antara inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kemampuan berpikir kritis dengan Fobs = 4.564 > Fα = 4,02. 5) Ada interaksi antara inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kreativitas dengan Fobs = 8.061 > Fα = 4,02. 6) Ada interaksi antara kemampuan berpikir kritis dan kreativitas dengan Fobs = 8.910 > Fα = 4,02. 7) Ada interaksi antara inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas dengan Fobs = 5.122 > Fα = 4,02.

Strategi Mind Map dalam Pembelajaran Group Investigation terhadap Keterampilan Proses Sains dan Prestasi Belajar Siswa

Handayani, Ari

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.293 KB)

Abstract

Abstract: Physics Learning is a learn that is not only emphasized on the concept as a product, but also need to consider the scientific process in learning. Integrated science process skills and learning achievements are two important learning outcomes in learning Newton's legal concepts. Integrating Mind Map strategy in Group Investigation learning will help students in learning. This study aims to assess empirically the influence of Mind Map strategy in Group Investigation study able to improve the skills of science process and student achievement.This research is an experimental research with pretest posttest control group design. This study used three research samples divided into experiment class 1, experiment 2 class and control class. The determination of the three classes was done by cluster sampling sampling technique from population in SMAN 1 Singosari. Research instruments used in the form of multiple choice test instruments and questionnaires. Analysis of hypotesis using one-way MANOVA. The results of this study obtained 0.000 significance less than 0.05 which means there are differences in the science process skills and student achievement learning with mind mapping strategies in Group Investigation learning, students who learn with Group Invesigation learning and students learning with conventional learning. Abstrak: Pelajaran Fisika merupakan pelajaran yang tidak hanya ditekankan pada konsep sebagai produk, namun perlu juga mempertimbangkan proses ilmiah dalam pembelajaran. Keterampilan proses sains terintegrasi dan prestasi belajar merupakan dua hasil belajar yang penting dalam mempelajari konsep hukum Newton. Memadukan strategi Mind Map dalam pembelajaran Group Investigation akan membantu siswa dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara empirik pengaruh strategi Mind Map dalam pembelajaran Group Investigation mampu meningkatkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain pretest posttest control group. Penelitian ini menggunakan sampel penelitian sebanyak 3 kelas yang terbagi dalam kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol. Penentuan ketiga kelas dilakukan dengan teknik cluster sampling dari populasi di SMAN 1 Singosari. Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen tes pilihan ganda dan angket. Analisis uji hipotesis menggunakan uji MANOVA satu jalur. Hasil penelitian ini diperoleh signifikansi 0,000 kurang dari 0,05 yang berarti terdapat perbedaan keterampilan proses sains dan prestasi belajar siswa yang belajar dengan strategi mind map dalam pembelajaran Group Investigation, siswa yang belajar dengan pembelajaran Group Invesigation dan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional.

Keterampilan berpikir kritis pada Bounded Inquiry Lab: analisis kuantitatif dan kualitatif

Prani, Anisak Intan Eka, Parno, Parno, Hidayat, Arif

Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.306 KB)

Abstract

Abstract: Critical thinking skills as an important skill in the 21st century is a major goal of science education. Therefore the researchers develop various learning strategies to enhance and develop students critical thinking skills. They develop learning materials that integrated with ability to think critically. However, the strategy makes students less understand to the concept of the material. Learning strategy as bounded inquiry lab model can improve both critical thinking skill and students comprehension of the material. This study aims to determine effectiveness of bounded inquiry lab to critical thinking skills in high school students. This study focuses on hydrostatic pressure, Pascals law, and Archimedes’ law. Mixed methods of embedded model design were used during the study. A total of 30 students in major natural science program undergo pre test, followed by learning using bounded inquiry lab, doing post test and then interview. The results showed that students critical thinking skills on hydrostatic pressure, Pascals law, and Archimedes’ law increased from an average of 20.00 in pretest to 80.67 in post test. In addition, students said that they can improve their understand concepts of matter, determine the variables, how to create and test hypotheses through scientific work, and make good conclusion through classroom learning. So, bounded inquiry lab should be used as an alternative learning to enhance critical thinking skills in static fluids. Abstrak: Keterampilan berpikir kritis sebagai keterampilan penting di abad 21 merupakan tujuan utama pendidikan sains. Hal tersebut membuat para peneliti mengembangkan berbagai strategi pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Sebagian besar peneliti mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang terintegrasi dengan materi pembelajaran. Namun, strategi tersebut membuat siswa kurang memahami konsep dari materi. Strategi pembelajaran berupa model bounded inquiry lab merupakan salah satu model yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis sekaligus meningkatkan pemahaman siswa pada materi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas bounded inquiry lab terhadap keterampilan berpikir kritis siswa SMA. Penelitian ini berfokus pada materi tekanan hidrostatis, hukum Pascal, dan hukum Archimedes. Mixed methods desain embedded model digunakan selama penelitian. Sebanyak 30 siswa kelas XI IPA SMA menjalani pre test, dilanjutkan dengan pembelajaran menggunakan bounded inquiry lab, mengerjakan soal post test kemudian wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa pada materi tekanan hidrostatis, hukum Pascal, dan hukum Archimedes meningkat dari rata-rata nilai pre test sebesar 20,00 ke nilai post test sebesar 80,67. Di samping itu, menurut siswa, pembelajaran di kelas membuat mereka lebih memahami konsep materi, menentukan variabel, cara membuat dan menguji hipotesis melalui kerja ilmiah, serta membuat kesimpulan dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian, bounded inquiry lab dapat digunakan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi fluida statis.