cover
Filter by Year
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
Langkau Betang (LANTANG): Jurnal Arsitektur (Journal of Architecture), is a national peer-reviewed journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal are to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies such as architecture theory, design and planning, building technology, urban and settlement. LANTANG is published twice a year in mid and end of the year. We accept manuscript with Indonesian or English language.
Articles
57
Articles
KARAKTERISTIK VISUAL GAPURA WRINGIN LAWANG PADA GAPURA DI PERBATASAN KOTA MALANG

Widisono, Adrian, Yusran, Yusfan Adeputera, Antariksa, Antariksa

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Zaman Kerajaan Majapahit merupakan cikal bakal munculnya Gapura. Pada zaman tersebut gapura memiliki fungsi sebagai pintu masuk menuju kerajaan. Pergeseran masa menunjukkan pergeseran fungsi terhadap gapura yang saat ini menjadi penanda menuju masuknya suatu kota termasuk Kota Malang. Gapura perbatasan pintu masuk di Kota Malang teridentifikasi memiliki karakter yang mirip dengan salah satu candi peninggalan Majapahit yaitu Gapura Wringin Lawang yang terletak di Mojokerto, Jawa Timur. Studi ini bertujuan untuk memvisualisasikan kesesuaian karakter visual gapura perbatasan di Kota Malang dengan Gapura Wringin Lawang. Penyandingan empat gapura perbatasan dengan Gapura Wringin Lawang dianalisis dengan mengidentifikasi elemen desain, prinsip desain, dan ciri fisik gapura. Hasil penelitian ini menunjukkan kesesuaian secara visual pada gapura pintu masuk di Kota Malang dengan Gapura Wringin Lawang. Kesesuaian elemen desain meliputi: garis, bentuk, massa, ruang, dan tekstur. Pada prinsip desain persamaan terdapat pada keseimbangan, kontras dan penekanan, bentuk, koneksi, makna, simbol, dan citra, pola, skala dan proporsi, ritme dan variasi. Pada bagian ciri fisik terdapat pula kesamaan yaitu bagian kepala, badan, dan kaki gapura.Kata-Kata Kunci: karakteristik, visual, gapura, penanda, batas kota VISUAL CHARACTERISTIC OF GAPURA WRINGIN LAWANG ON THE GATES OF MALANG CITY??S BOUNDARY AbstractThe era of the Majapahit Kingdom was the forerunner to the appearance of the Gapura (gate). At that time, the Gapura was built as the entrance to the kingdom. Over time, the function has shifted as a signifier of a city boundary, as found in Malang City. The boundary gate of Malang City identified has a character similar to the Majapahit heritage temples, namely the Wringin Lawang Gate located in Mojokerto, East Java. This study aims to visualize the suitability of the visual characteristics of the border gate in the northern, eastern, western and southern of Malang City with the Wringin Lawang Gate. The comparison of the four gates with Wringin Lawang Gate was analyzed by identifying its elements, principles, and physical characteristics. The results of this study indicate the visual suitability. The suitability of elements found in lines, shapes, mass, space, and textures. On the principle of design, equality identified in balance, contrast and emphasis, form, connection, meaning, symbol, and image, pattern, scale and proportion, rhythm and variation. While in the physical characteristics, there are also similarities in the part of the head, body, and leg of the gate.Keywords: characteristics, visual, gate, signifier, city??s boundary REFERENCESAlston, W. (1964). Psychoanalytic Theory and Theistic Belief?? in J. Hick (ed.) Faith and the Philosophers. New York: St. Martin??s Press.Adenan, K., Budi, B. S., & Wibowo, A. S. (2012). Karakter Visual Arsitektur Karya A.F. Aalbers di Bandung ( 1930-1946 )-Studi Kasus?: Kompleks Villa??s dan Woonhuizen. Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia, 1(1).Berry, W. (1980). Building Next to History. State: Historical society of Colorado: Good Neighbors.Dietrich, K. (2006). Raic Syllabus Thesis Submission A Design for Architectural Education. Canada: Raic Syllabus Royal Architectural Institute of Canada.Mohan, G. M. S. (2006). Principles of Architecture. india: Oxford University Press.Prasodjo, T., & Degroot, V. (2013). Magical Prambanan. PT (Persero) Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko.Rahadian, P. (2018). Eksistensi Candi Sebagai Karya Agung Arsitektur Indonesia di Asia tenggara. (R. Emmy, Ed.). D.I Yogyakarta: PT. Kaniskus.Rapoport, A. (1978). House Form and Culture. Milwaukee: University of Winconsin.Sosial, K., Kholisya, U., Maya, S., & Purnengsih, I. (2017). Karakteristik Gapura Di Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah (Kajian Sosial Budaya dan Ekonomi). Jurnal Desain, 04 No.02,(1957).Suwarna. (1987). Tinjauan Selintas berbagai Jenis gapura Di Daerah Istimewa Yogyakarta (0.2 Volume). D.I Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan.Yudoseputro, W. (2008). Jejak-Jejak Tradisi Bahasa Rupa Indonesia Lama. Seni Visual Indonesia, 192.

ESTIMASI PARAMETRIK MATERIAL KONSTRUKSI BETON BERTULANG PADA BANTUAN PASKA BENCANA DI ACEH. (STUDI KASUS: PERHITUNGAN MATERIAL PONDASI)

Atthaillah, Atthaillah, Saputra, Eri

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini merupakan pengembangan dari studi oleh penulis sendiri untuk menciptakan alur kerja yang efektif dan efisien untuk perhitungan kebutuhan material konstruksi pada kasus paska bencana di Aceh.  Pada artikel ini penulis fokus pada perhitungan kebutuhan material pondasi.  Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang lebih baik tentang bagaimana sistem yang menjadi proposal kami bekerja.  Selain itu, pengembangan kemampuan dari framework sebelumnya juga salah satu hal yang ingin kami dapatkan pada studi ini.  Penelitian ini menggunakan metode parametrik dengan Rhinoceros Educational versi 6, Grasshopper3D versi 1 serta GHPython.  Rhinoceros digunakan untuk membuat desain.  Grasshopper3D digunakan untuk membuat algoritma serta GHPyhton untuk membuat komponen-komponen Grasshopper yang lebih efisien sesuai dengan studi kasus.  Pada artikel ini kami juga menggunakan spreadsheet yaitu Microsoft Excel untuk tabulasi data perhitungan.  Hasil penelitian ini menunjukkan kemampuan framework berhasil dikembangkan untuk perbandingan alternatif komponen bangunan.  Pada kasus ini perbandingan harga material kota Lhokseumawe antara pondasi menerus dan pondasi tapak pada tiga luas bangunan yaitu 55 m2, 16 m2 dan 36 m2.  Perbandingan tersebut menunjukkan pondasi tapak lebih murah dalam hal material dibandingkan dengan pondasi menerus.  Kemampuan ini dinilai penting untuk efektifitas pengambilan keputusan yang relevan dengan konteks paska bencana di daerah tertentu.  Kemampuan membandingkan ini juga memberikan peluang untuk peningkatan kondisi psikologis dari penerima atau masyarakat yang terdampak oleh bencana.  Hal ini disebabkan oleh adaptabilitas yang tinggi dari framework sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi yang diinginkan.  Selain itu, kami telah berhasil mengintegrasikan secara efisien pengembangan pada tahap ini ke framework yang sudah dikembangkan sebelumnya.Kata-kata Kunci:  parametrik, beton, pasca-bencana, pondasi PARAMETRIC ESTIMATION FOR REINFORCED CONCRETE CONSTRUCTION MATERIAL IN ACEH POST DISASTER RELIEF (CASE STUDY: ESTIMATION OF FOUNDATION MATERIAL)This research was the development of authors?? previous work to invent a framework that capable of performing estimation for construction materials effectively and efficiently in Aceh post-disaster cases.  In this paper, the writers focus on estimating substructure construction materials.  It was aimed at giving a better overview of the proposed framework system.  Besides, the improvement of the ability of the previous framework was something that we opted to within this study.  This paper employed a parametric method using Rhinoceros Educational version 6, Grasshopper3D version 1 and GHPython.  Rhinoceros was used for design making.  Grasshopper3D was used to construct algorithms and GHPython was utilized for optimized Grasshopper3D components for efficient workflow.  Further, this work utilized spreadsheet, which was Microsoft Excel, for estimation data tabulation.  The result showed the abilities of the framework was succeeded to be developed for a new feature, which was comparison capability for building components alternative.  In this study, the material price comparison for Lhokseumawe between a continuous rock (rubble stone) and footplate foundations for 55 m2, 16 m2, and 36 m2 building area.  It was discovered that the footplate foundation cheaper compared to the rubble stone.  This capability was significant for an effective decision making in a relevant post-disaster context.  The comparison ability had open opportunity to improve the psychological condition for users or societies affected by a disaster.  It was due to the high adaptability of the framework to suit specific situations.  Besides, we had efficiently integrated the development at this stage successfully to the previous work.Keywords: parametric, concrete, post-disaster, foundationREFERENCESAshmore, J., Fowler, J., & Kennedy, J. (2008). IASC Emergency Shelter Cluster Shelter Projects. Un-Specified: UN-HABITAT.Atthaillah. (2014). Arsitektur parametrik dengan Rhinoceros dan Grasshopper: Kajian workflow dari desain, fabrikasi hingga hitungan kebutuhan material. Arsitekno, 3, 10??23.Atthaillah, E., Saputra, & Iqbal, M. (2018). Parametric Estimation for Reinforced Concrete Relief Shelter for Aceh Cases. In IOP Conf. Series: Materials Science and Engineering 352 (p. 012061). IOP Science. https://doi.org/10.1088/1757-899X/352/1/012061Benros D, G., Duarte, J. P., & Knight, T. (2011). Automated design and delivery of relief housing: the case of post-earthquake Haiti. In Proceeding of the 14th International Conference on Computer Aided Architectural Design (pp. 247??264). Liege.da Silva, J. (2010). Lessons from Aceh: Key Considerations in Post-Disaster Reconstruction. Warwickshire: Practical Action Publishing.Daher, E., Kubicki, S., & Halin, G. (2015). parametric process for shelters and refugees?? camps design. In Proceedings of the 33rd International eCAADe (pp. 541??548). Vienna.Dunn, N. (2012). Digital Fabrication in Architecture. London: Laurence King Publishing.Goncalves, A. M. d C. F. A. (2014). A Grammar for Shelter: An exploration of ruled based designs n prefabricated and modular shelters. In Proceeding of the 32nd International eCAADe (pp. 327??336). Newcastle.Khabazi, Z. (2012). Generative Algorithm using Grasshopper. Morphogenesism.?ener, S. M., & Torus, B. (2009). Container Post Disaster Shelter-CPoDS (pp. 599??604). Proceedings of eCAADe 27.SNI 2836, A. (2008). Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pondasi untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.SNI 7394, A. (2008). Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.Yeung, W. K., & Harkins, J. (2010). Digital architecture for humanitarian design in post-disaster reconstruction. International Journal of Architectural Computing, 9, 17??31.

KAJIAN RUANG PUBLIK KOTA ANTARA AKTIVITAS DAN KETERBATASAN

Hantono, Dedi, Sidabutar, Yuanita F D, Hanafiah, Ully I M

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ruang esensinya adalah tempat manusia hidup dan beraktivitas. Namun tidak semua aktivitas dapat terakomodir karena setiap ruang dibatasi dengan fungsinya masing-masing. Bagi ruang pribadi keterbatasan ruang tersebut merupakan karakteristik utama bagi ruang itu sendiri sedangkan pada ruang publik yang memiliki berbagai macam aktivitas harus dapat menampung berbagai aktivitas di dalamnya. Untuk itulah perlu dilakukan kajian mengenai ruang publik terhadap permasalahan keterbatasan ruang yang sering ditemui. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pendekatan kajian literatur. Ada beberapa literatur yang diambil dari beberapa ahli serta beberapa hasil penelitian dalam artikel jurnal untuk mendukung teori dan melihat kenyataan di lapangan. Pada akhir tulisan diambil suatu kesimpulan bahwa keterbatasan ruang publik terhadap berbagai macam aktivitas yang berlangsung di dalamnya dengan terbentuknya ruang bersama baik secara permanen maupun bergantian (waktu tertentu).Kata-kata Kunci: arsitektur, ruang publik, aktivitas, ruang bersamaURBAN PUBLIC SPACE STUDIES BETWEEN ACTIVITIES AND LIMITATIONSThe essence of space is a place where humans live and doing their activities. But not all activities can be accommodated because space is limited by their functions. For private space, space limitations are the main characteristics for space itself, while in public spaces that have various kinds of activities must be able to accommodate multiple activities in it. For this reason, a study of public space needs to be done on the problems of space limitations that are often encountered. This paper uses qualitative methods by conducting a literature review approach. There is some literature taken from several experts and several research results in the journal for support the theory and see the reality in the field. At the end of the writing, it was concluded that the limitations of the public space for various kinds of activities take place in it with the formation of shared spaces both permanently and alternately (certain times).Keywords: architecture, public space, activity, share spaceREFERENCESAgustapraja, H. R. (2018). Studi Pemetaan Perilaku (Behavioral Mapping) Pejalan Kaki Pada Pedesterian Alun-Alun Kota Lamongan. Civilla, 3(1), 134??139. https://doi.org/https://doi.org/10.30736/cvl.v3i1.220Athanassiou, E. (2017). The Hybrid Landscape Of Public Space In Thessaloniki In The Context Of Crisis. Landscape Research, 42(7), 782??794. https://doi.org/10.1080/01426397.2017.1372399Carr, J., & Dionisio, M. R. (2017). Flexible Spaces as a Third Way Forward for Planning Urban Shared Spaces. In Cities (pp. 73??82). Elsevier. https://doi.org/10.1016/j.cities.2017.06.009Carr, S., Francis, M., Rivlin, L. G., & Stone, A. M. (1992). Public Space. New York: Cambridge University Press.Farida, N. (2013). Effect of Outdoor Shared Spaces on Social Interraction in a Housing Estate in Algeria. Frontiers of Architectural Research, 2, 457??467. https://doi.org/10.1016/j.foar.2013.09.002Hakim, R., & Utomo, H. (2003). Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap: Prinsip-Unsur dan Aplikasi Desain. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.Hanafiah, U. I. M., & Asharsinyo, D. F. (2017). Redefenisi Ruang Publik Pada Kampung Kreatif Pasundan. Studi Kasus: Koridor Tepian Sungai Cikapundung, RT 02 RW 04, Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Jawa Barat. Idealog, 2(2), 124??137. https://doi.org/10.25124/idealog.v2i2.1220Hantono, D. (2017). Pengaruh Ruang Publik Terhadap Kualitas Visual Jalan Kali Besar Jakarta. Arsitektura, 15(2), 532??540. https://doi.org/10.20961/arst.v15i2.15114Krier, R. (1979). Urban Space. New York: Rizzoli.Liem, Y., & Lake, R. C. (2018). Pemaknaan Ruang Terbuka Publik Taman Nostalgia Kota Kupang. Arteks, 2(2), 149??158. https://doi.org/10.30822/artk.v2i2.150Mulyandari, H. (2011). Pengantar Arsitektur Kota. (Oktaviani HS, Ed.) (1st ed.). Yogyakarta: Penerbit Andi.Murtini, T. W., & Wahyuningrum, S. H. (2017). Penggunaan Ruas Jalan Sebagai Pasar Tradisional Di Gang Baru Pecinan, Semarang. Modul, 17(1), 17??21. Retrieved from https://ejournal.undip.ac.id/index.php/modul/article/view/17246/12396Olesen, M., & Lassen, C. (2012). Restricted Mobilities: Access to, and Activities in, Public and Private Spaces. International Planning Studies, 17(3), 215??232. https://doi.org/10.1080/13563475.2012.704755Rapoport, A. (1990). The Meaning of the Built Environment: A Nonverbal Communication Approach (1st ed.). Arizona: University of Arizona Press.Rochimah, E., & Asriningpuri, H. (2018). Adaptasi Perilaku Pedagang Bazar Dalam Teritori Ruang Dagang. Nalars, 17(1), 21??28. https://doi.org/10.24853/nalars.17.1.21-28Salomon-Ayeh, B. E., King, R. S., & Decardi-Nelson, I. (2011). Street Vending and The Use of Urban Public Space in Kumasi, Ghana. Surveyor, 4(1), 20??31. Retrieved from http://dspace.knust.edu.gh/bitstream/123456789/3423/1/Surveyor Journal 3.pdfSantoso, J. T., Mustikawati, T., Suryasari, N., & Titisari, E. Y. (2016). Pola Aktivitas Wisata Belanja dI Kampung Wisata Keramik Dinoyo, Malang. Tesa Arsitektur, 14(1), 1. https://doi.org/10.24167/tes.v14i1.560Simpson, P. (2011). Street Performance And The City: Public Space, Sociality, And Intervening In The Everyday. Space and Culture, XX(X), 1??16. https://doi.org/10.1177/1206331211412270Sudarisman, I. (2017). Kajian Pedagang Kaki Lima Di Taman Tegalega, Bandung, Jawa Barat. Arsir , 1(2), 161??174. Retrieved from http://jurnal.um-palembang.ac.id/arsir/article/view/867/769

DESAIN LANSKAP JALAN K.H. ABDULLAH BIN NUH BERBASIS GREEN STREET

Fadhillah, Mauldy Ahmad, Nuryanti, Pingkan

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Green Street is a very important innovation in managing water run-off from paving or pavement. Green street is basically one that can clean and absorb the results of rainwater runoff or its own through a balanced combination of the same technique. Landscape design for Yasmin area aims to provide innovative K.H. Abdullah Bin Nuh street design as Green Street-based green path with existing problems on tread such as drainage channel obstruction and by applying green street system, including green infrastructure, complete street and placemaking tools. Complete street is a comfortable and safe road design with clear division of motor vehicle and bicycle circulation paths. The placemaking principle is the principle where by the resulting design should provide an identity to the area.The result of the research is the design of road landscape consisting of service space, identity, vehicle, pedestrian, buffer and conservation. The research site located at K.H. Abdullah Bin Nuh street is divided into five segments with various kinds of concepts and designs applied in accordance with green street concept. The main green street concept applied to this site is a rain garden that serves to absorb rainwater runoff. This research produces site plan, planting plan, detail construction and illustration design.Kata-kata Kunci: desain jalan, green street, green infrastructure, lanskap jalan LANDSCAPE DESIGN IN K.H. ABDULLAH BIN NUH STREET BASED ON GREEN STREETGreen Street is a critical innovation in managing water run-off from paving or pavement. Green street is one that can clean and absorb the results of rainwater runoff or its own through a balanced combination of the same technique. Landscape design for Yasmin area aims to provide innovative K.H. Abdullah Bin Nuh street design as Green Street-based green path with existing problems on tread such as drainage channel obstruction and by applying green street system, including green infrastructure, complete street, and placemaking tools. A complete street is a comfortable and safe road design with clear division of motor vehicle and bicycle circulation paths. The placemaking principle is the principle where the resulting design should provide an identity to the area. The result of the research is the design of the road landscape consisting of service space, character, vehicle, pedestrian, buffer, and conservation. The research site located at K.H. Abdullah Bin Nuh street is divided into five segments with various kinds of concepts and designs applied following green street concept. The main green street concept applied to this site is a rain garden that serves to absorb rainwater runoff. This research produces site plan, planting plan, detail construction, and illustration design.Keywords: design street, green street, green infrastructure, landscape street REFERENCES[BAPPEDA] Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah. (2014). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Bogor Tahun 2015-2019. Bogor (ID): Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Bogor.Austin G. (2014). Green Infrastructue for Landscape Planning. Glasgow: Bell and Bain Ltd.Booth N K. (1983). Basic Elements of Landscape Architectural Design. Illinois (US): Waveland Press.Carlson et al. (2014). Green Streets Guidebook for the City of Holyoke, Massachusetts. Winter: The Conway SchoolDepartemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga. (2008). Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI). Jakarta (ID) : Departemen Pekerjaan Umum.Laurie. 1986. Pengantar kepada Arsitektur Pertamanan. Bandung: IntermatraSimonds JO and Starke BW. (2006). Landscape Architecture. New York (US): McGraw Hill-Book Co.

PERSEPSI MASYARAKAT TEPIAN SUNGAI TERHADAP PEMANFAATAN RUANG SIRKULASI DAN RUANG TERBUKA SEBAGAI RESPON MITIGASI BENCANA BERBASIS BENCANA AIR DI SINTANG

Br. Gultom, Bontor Jumaylinda, Caesariadi, Tri Wibowo

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sintang merupakan salah satu kota di Kalimantan Barat yang berada di pertemuan dua sungai, yaitu sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Kelurahan Kapuas Kiri Hilir, Kelurahan Menyumbung Tengah dan Kelurahan Ulak Jaya merupakan kawasan permukiman padat yang sudah ada sejak lama di Sintang, dekat dengan pusat historis Kota Sintang yaitu Keraton Sintang dan tetap eksis sampai sekarang. Sedangkan kondisi dunia yang sedang mengalami pemanasan global mengakibatkan kawasan-kawasan yang berhubungan langsung dengan air rentan mengalami kenaikan permukaan air sungai (pasang air). Mengingat mahalnya harga nyawa manusia maka diperlukan penelitian pada pemanfaatan ruang sirkulasi dan ruang terbuka untuk mitigasi bencana berbasis bencana air ketiga kelurahan tersebut.Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengilustrasikan model mitigasi bencana berbasis bencana air (hydrometeorological disaster), dilihat dari persepsi masyarakat dan pemanfaatan ruang sirkulasi dan ruang terbuka.Penelitian ini dilakukan menggunakan pola pikir induktif yaitu berpikir berlandaskan pandangan khusus ke umum. Teknik pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis dilakukan dengan membandingkan metode kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif digunakan untuk mengukur persepsi masyarakat akan bencana berbasis bencana air. Sedangkan metode kualitatif mendeskripsikan dalam bentuk ilustrasi pemanfaatan ruang terbuka dan sirkulasi.Hasil penelitian persepsi masyarakat disimpulkan bahwa bencana yang sering terjadi adalah bencana kenaikan permukaan air (banjir/pasang). Masyarakat juga berpendapat walaupun mereka menghadapi kemarau, namun dampaknya tidak terlalu terasa karena mereka sudah mengantisipasi dengan menyediakan tempat penampungan air. Dan berdasarkan kondisi fisik lapangan, model mitigasi bencana berupa jalur sirkulasi berupa titian (papan kayu).Kata-kata Kunci: mitigasi, bencana, persepsi, ruang, sirkulasiTHE PERCEPTION OF RIVERBANK COMMUNITY ON UTILIZATION OF CIRCULATION AND OPEN SPACE AS DISASTER MITIGATION RESPONSE BASED ON WATER DISASTER IN SINTANGSintang is one of the cities in West Kalimantan which lies in the confluence of two rivers, i.e. Kapuas River and Melawi River. Kapuas Kiri Hilir Village, Menyumbung Tengah Village and Ulak Jaya Village have been densely populated residential areas in Sintang for a long time, located close to the historical centre of Sintang i.e. Sintang Palace and still exists today. While the condition of the world that is experiencing global warming has resulted in areas that are directly related to water susceptible to rising water levels (tidal water). Given the value of human life, research is needed on the use of the circulation space and open space for disaster mitigation based on water in the three villages.This study aims to identify and illustrate a model of water disaster-based mitigation (hydrometeorological disaster), seen from the public perception and utilization of circulation and open space.This research was conducted using an inductive mindset, which is thinking based from specific detail to general truth. Data collection techniques, data processing, and analysis were carried out by comparing quantitative and qualitative data. Quantitative was used to measure peoples perceptions of disaster based on water-disaster. Whereas qualitative method described the illustration of open space and circulation.The results of the research on community perceptions concluded that disaster that often occurs is disaster of rising water levels (flood / tide). The community also believes that even though they face droughts, the impact is not too pronounced because they have anticipated it by providing water reservoirs. And based on the physical field condition, the suitable disaster mitigation model is circulation paths in the form of wooden board.Keywords: mitigation, disaster, percention, space, circulation REFERENCESHaifani, Akhmad Muktaf. (2008). Manajemen Resiko Bencana Gempa Bumi (Studi Kasus Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006). Seminar Nasional IV Sdm Teknologi Nuklir Yogyakarta, 25-26 Agustus 2008 ISSN 1978-0176Haryanti, Dini Tri. (2008). Kajian Pola Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik Kawasan Bundaran Simpang Lima Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro, TesisJokowinarno, Dwi. (2011). Mitigasi Bencana Tsunami Di Wilayah Pesisir Lampung. Lampung: Jurnal Rekayasa Vol. 15 No. 1, April  2011Krier, Rob. (1979). Urban Space. New York: Rizzoli.Nugroho, Erik Kado, Endang Pudjihartati, Bistok Hasiholan Simanjuntak. (2014). Redesain Sistem Sirkulasi, Parkir Dan Rambu-Rambu Lanskap Kampus 1 Universitas Kristen Satya Wacana. AGRIC Vol.26, No. 1 & 2, Juli - Desember 2014: 61 - 74Nurdiyana. (2017). Persepsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Terhadap Tayangan Stand Up Comedy KompasTV Sebagai Program Komedi Populer Di Indonesia. Makassar: Universitas HasanuddinRachmatullah, Michael, Octavianus H.A. Rogi, Sonny Tilaar. (2016). Evaluasi Kebijakan Pola Ruang Dan Struktur Ruang Berbasis Mitigasi Bencana Banjir (Studi Kasus : Kota Palu). Manado: Universitas Sam RatulangiRahmat, Jalalludin. (2004). Psikologi Komunikasi. Bandung, Remaja RosdakaryaSubiyantoro, I. (2010). Selayang Pandang tentang Bencana. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana, 1, 43-46Walgito, Bimo. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi OfsetWardhana, W. A. (2010). Dampak Pemanasan Global. Yogyakarta: Penerbit AndiWikantiyoso, Respati. (2010). Mitigasi Bencana Di Perkotaan; Adaptasi Atau Antisipasi Perencanaan Dan Perancangan Kota ? (Potensi Kearifan Lokal Dalam Perencanaan Dan Perancangan Kota Untuk Upaya Mitigasi Bencana). Malang: Volume:II,  Nomor: 1. Halaman:  18 - 29

NON-LINEAR ANALYSIS OF HOLLOW REINFORCED CONCRETE COLUMN QUARE CROSS-SECTION WITH VARIOUS LOAD ECCENTRICITY AND CONCRETE STRENGTH

Nuryanti, Pingkan, Sulityo, Djoko, Suhendro, Bambang

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.931 KB)

Abstract

Hollow due to plumbing system has an effect to the buildings visual and the aesthetic quality in terms of architecture. To overcome this, the pipe is planted in a construction structure such as a column. However, this will affect on the strength degradation and modes of failure of structural elements such as a column. The objective of this research is to study the strength, stiffness, ductility, cracking patterns, and modes of failure of hollow RC columns with square cross-section with various load eccentricity and concrete strength. In this research, 13 reinforced concrete columns with square cross section were made. Two of them were massive columns (C1E1, C1E2) with cross-sectional dimension of 150 x 150 mm2 and 800 mm long, six of them were hollow with the same size (C2E1, C3E1, C4E1, C2E2, C3E2, C4E2). Concrete strength fc=34.52 MPa with eccentricity=60mm  and fc=35.72 MPa with eccentricity 100 mm. Models were analyzed by nonlinear finite element method using ATENA v.2.1.10 software. The FE model is calibrated against recent experimental results from Zacoeb (2003). Once validated, the model is used to examine stiffness, ductility, cracking patterns, and modes of failure of hollow RC columns with a square cross-section with various load eccentricity. The numerical results show that the different ultimate load strength of C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are  0,32%, 2,22%, 1,61%, 7,74%, 1,25%, 0,65%, 2,63%, 1,94%, while the differents stiffnes are 18,30%, 21,30%, 23,79%, 31,57%, 15,22%, 22,67%, 21,39%, 14,41%, and the differents ductility are 48,71%, 33,64%, 3,39%, 41,04%, 52,30%, 22,99%, 18,11%, 7,76%. Crack pattern occurred in C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are flexural crack and shear cracks. Exhibit modes of failure of C1E1, C2E1, C3E1, C4E1 are compression failure and C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are tension failure.Keywords: ATENA, columns, eccentricity, failure, hollow, nonlinearANALISIS NON-LINEAR KOLOM BETON BERTULANG PENAMPANG SEGIEMPAT BERONGGA DENGAN VARIASI EKSENTRISITAS BEBAN DAN MUTU BETONLubang akibat pemasangan pipa pada konstruksi untuk keperluan instalasi (air hujan, sanitasi, listrik dan lain-lain) dapat berpengaruh pada visualitas bangunan dan akan mempengaruhi kualitas estetika dari segi arsitektur. Untuk mengatasi hal tersebut pipa ditanam didalam struktur konstruksi seperti kolom. Akan tetapi hal ini akan  menyebabkan  degradasi kekuatan beton dan  pola keruntuhan struktur pada kolom. Selain secara eksperimental, penelitian  ini dapat juga dilakukan secara numeris menggunakan  metode elemen hingga nonlinier. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan, kekakuan, daktilitas, pola retak dan model keruntuhan kolom beton bertulang penampang persegi berongga dengan variasi eksentrisitas beban dan variasi mutu beton. Dalam penelitian ini dimodelkan 8 jenis kolom beton bertulang penampang segiempat yang terdiri dari 2 kolom masif (C1E1 dan C1E2) dan 6 kolom berongga (C2E1, C3E1, C4E1, C2E2, C3E2, C4E2) dengan ukuran 150 x 150 mm2, panjang 800 mm. Mutu beton fc=34.52 MPa dengan eksentrisitas =60mm dan mtu beton fc=35.72 MPa dengan eksentrisitas =100mm. Kolom dianalisis menggunakan software elemen hingga nonlinier ATENA V.2.1.10 dan hasilnya dibandingkan dengan hasil eksperimen sebelumnya  dari Zacoeb (2003). Setelah  model divalidasi, dilakukan perhitungan kekakuan, daktilitas, pengamatan pola retak dan jenis keruntuhan yang terjadi pada kolom penampang segiempat berongga dengan variasi eksentrisitas beban . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolom beton bertulang  berongga yang dimodelkan dengan ATENA yaitu untuk model kolom validasi C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 mempunyai perbedaan beban maksimum dengan hasil eksperimen secara berturut-turut sebesar 0,32%, 2,22%, 1,61%, 7,74%, 1,25%, 0,65%, 2,63% dan 1,94%, dengan perbedaan kekakuan secara berturut-turut sebesar 18,30%, 21,30%, 23,79%, 31,57%, 15,22%, 22,67%, 21,39% dan 14,41%, dan perbedaan daktilitas  secara berturut-turut sebesar 48,71%, 33,64%, 3,39%, 41,04%, 52,30%, 22,99%, 18,11% dan 7,76%. Pola retak yang terjadi adalah pola retak lentur dan retak geser.  Pola keruntuhan pada C1E1, C2E1, C3E1, C4E1 merupakan keruntuhan tekan, sedangkan C1E2, C2E2, C3E2, C4E2  merupakan keruntuhan tarik.Kata-Kata kunci: ATENA, berlubang, eksentrisitas, keruntuhan, kolom, nonlinear.REFERENCESCervenka et al. (2007). Superior Material Models for Numerical Simulation of Concrete Cracking under Severe Conditions. Cervenka Consulting. Czech Republic.Public Work Ministry. (2007). SNI 03-2847-2007, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang untuk Bangunan Gedung. Bandung.Poston et al. (1985). Numerical Models for Non-prismatic Solid Cross-Section Behavior and Rectangular Cross-Section on Biaxially-Bred ColumnsSuprabowo, S. (1996). Analysis of Reinforced Concrete Column Capacity Perforated. Thesis. Department of Civil Engineering, Gadjah Mada University. Yogyakarta.Supriyadi. (1997). The Effect of Holes on Strongly Reinforced Concrete Column Boundaries. Thesis. Graduate Program. Gadjah Mada University. Yogyakarta.Zacoeb. A. (2003). Flexural Capacity of Reinforced Concrete Short Column with Variations Hole, Thesis. Graduate Program. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

NILAI DAN MAKNA KEARIFAN LOKAL RUMAH TRADISIONAL LIMAS PALEMBANG SEBAGAI KRITERIA MASYARAKAT MELAYU

Tondi, Muhammad Lufika, Iryani, Sakura Yulia

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.941 KB)

Abstract

Rumah Tradisional Limas Palembang sebagai salah satu  kearifan lokal (Genius Loci) yang ada di Palembang memiliki nilai dan makna sebagai salah satu pembentuk  kehidupan masyarakat  Palembang. Keberadaan nilai dan makna dalam kearifan lokal  Rumah Trdisional Limas Palembang telah menjadi ciri khas peradaban kehidupan masyarakat Palembang sebagai bagian dari masyarakat Melayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bahwa masyarakat Palembang sebagai bagian dari masyarakat Melayu jika dilihat dalam makna dan nilai yang ada dalam rumah tradisional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk melihat apa saja makna makna Local wisdom (Genius Loci) dirumah tradisional Palembang dan melihat keterikaitannya dengan adab dan kriteria masyarakat Melayu. Peneliti mendeskripsikan beberapa bagian dari rumah tersebut dan mencoba menggali makna dan nilainya dan di kaitkan dengan adab dan kriteria Masyarakat Melayu. Pada penelitian ini didapat kesimpulan beberapa unsur dan lingkup rumah Tradisional sesuai dengan kriteria masyarakat Melayu. Penelitian ini kedapannya diharapkan sebagai bukti bahwa adanya kaitan antara kebudayaan Palembang dengan kehidupan masyarakat MelayuKata-Kata Kunci: Local Wisdom, Nilai dan Makna, Limas, MelayuVALUE AND MEANING OF TRADITIONAL HOUSE LIMAS PALEMBANG LOCAL WISDOM AS CRITERIA OF MALAY COMMUNITYTraditional House Limas Palembang as one of Local wisdom (Genius Loci) in Palembang has value as one of the forming community of Palembang. The existence of value and meaning in local wisdom from Traditional Limas house of Palembang has become the hallmark of a civilization of Palembang society life as part of Malay society. The purpose of this study is to see that Palembang community as part of Malay society when viewed in the meaning and value that exist in the traditional house. This research used a descriptive qualitative method to see what meaning Local Wisdom (Genius Loci) in traditional house of Palembang and saw its attitudes with culture and criteria of Malay society. The researcher describes some parts of the house and tries to explore the meaning and value. It is associated with the existence and principles of the Malay Society. In this study, it can be concluded that some elements and scope of Traditional House are following with the criteria of Malay society. This research is expected as evidence that the link between Palembang culture with the life of the Malay communityKeywords: Local Wisdom, value and meaning, Limas, MelayuREFERENCESM. Chabib Thoha, M,C. (1996). Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka PelajarAmanati, R. (2010). Kearifan Arsitektur Melayu Dalam Menanggapi Lingkungan Tropis, Seminar Nasional Fakultas Teknik, Universitas Riau.Amanati, R. (2010). Kearifan Arsitektur Melayu Dalam Menanggapi Lingkungan Tropis, Seminar Nasional Fakultas Teknik, Universitas Riau.Ayatrohaedi. (1986). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Jakarta: Pustaka JayaDahliyani, S. (2015). Local Wisdom In Built Environment In Globalization Era, International Journal Of Education And Research Vol. 3 No. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia.Darussamin, Z. (2014). Integrasi Kewarisan Adat Melayu-Riau Dengan Islam, Sosial Budaya : Media Komunikasi Il M U - Ilmu Sosial Dan B U D A Y A , Vol . 1 1 , No . 2 Juli - Desember  2014, Uin Sultan Syarif Kasim RiauEffendi, Tennas. (2009). ?Bangunan Tradisional Melayu Dan Nilai Budaya Melayu? Masyarakat Melayu Riau Dan Kebudayaannya, Tanjung Pinang, Riau.Faisal, G., (2013). Selembayung Sebagai Identitas Kota Pekanbaru : Kajian Langgam Arsitektur Melayu, Indonesian Jurnal Of Conservation Vol 2.Ihsan, M. (2008). Analisa Ketahanan Gempa Pada Rumah Tradisional Sumatera, Skripsi, Universitas Indonesia.Ismail Husein. (1984). Antara Dunia Melayu Dengan Dunia Indonesia. Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan MalaysiaKhairi. (2010). Islam Dan Budaya Masyarakat. Fajar Pustaka. Yogyakarta.Mudara, M. A . (2004), Rumah Melayu: Memangku Adat Menjemput Zaman, Balai Kajian Dan Pengembangan Budaya Melayu, Bekerja Sama Dengan Penerbit Adicita, Yogyakarta.Norberg-Schultz, Christian. (1979). Genius Loci. New York: Collier Books.Rakhman , A. (2015). Arti Simbolis Di Balik Ornamen Rumah Limas Palembang , Jurnal Kriya Volume 12Ricoeur, Paul. (2013). Filsafat Wacana, Penerbit Ircisod. Yogyakarta.Rumiawati, A. (2013). Identifikasi Tipologi Arsitektur Rumah Tradisional Melayu Di Kabupaten Langkat Dan Perubahannya. Jurnal Permukiman. Pusat Litbang Perumahan Dan Permukiman, Badan Litbang, Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat.Sinar, T. L. (1993). Motif dan Ornamen Melayu. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Melayu. MedanSiswanto, A. (2009). Kearifan Lokal Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan Bagi Pembangunan Lingkungan Binaan, Jurnal Local Wisdom Volume: I, Nomor: 1,Soedigdo, D. (2014). Elemen-Elemen Pendorong Kearifan Lokal Pada Arsitektur Nusantara, Jurnal Perspektif Arsitektur  Volume 9 / No.1, Juli 2014.Sturgess, L B. (2005). The Green: Building A Viable Program For Forgotten Public Space In Uptown Dallas The University Of Texas At Arlington.Sumaryono. (1999). Hermeneutiks : Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta ; Kansius.Suryana. (2008). Upacara Adat Perkawinan Palembang, Skripsi, Uin Sunan Kalijaga Jogjakarta.Susanti, M. (2014). Budaya Malu Cerminan Bagi Perempuan Melayu, Sosial Budaya: Media Komunikasi Ilmu-Ilmu Sosial Dan Budaya, Vol.11, Uin Sultan Syarif Kasim Riau.Syarofie, Yudhy. (2012). Songket Palembang, Nilai Filosofis, Jejak Sejarah, Dantradisi. PalembangTakari, M. (2015). Adat Dalam Peradaban Melayu, Laporan Peneitian, Universitas Sumatera UtaraTengku Muhammad Lah Husni. (1986). Butir-Butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan KebudayaanUlfah Fajarini. (2014). Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Karakter, Sosio Didaktika: Vol. 1, No. 2, Universitas Islam Negeri (Uin) Syarif Hidayatullah JakartaW.J.S. Purwadaminta. (1999). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta; Balai PustakaZalika, I. (2010). Rumah Bari Dalam Kehidupan Masyarakat Adat Palembang (Sumatera Selatan), Skripsi, Universitas Lampung.

ANALISIS PRODUK WISATA SITUS BAWAH AIR SEBAGAI SALAH SATU WISATA MINAT KHUSUS DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

Ariadi, Adyanti Putri, Prayitno, Budi, Wihardyanto, Dimas

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.419 KB)

Abstract

Kepulauan Karimunjawa merupakan salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Indonesia yang sedang dikembangkan. Keunggulan dari pariwisata di Karimunjawa adalah daya tarik wisata alamnya yang berupa wisata bahari, ekowisata, dan wisata petualangan. Potensi kekayaan bahari di Karimunjawa yang tidak kalah menarik salah satunya berupa peninggalan budaya bawah air. Tempat tenggelamnya kapal dan peninggalan bawah air yang berada di Karimunjawa membuat situs-situs ini berpotensi menjadi alternatif tujuan wisata bawah air khususnya daya tarik wisata minat khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan profil produk wisata situs-situs bawah air di Karimunjawa. Secara administratif penelitian ini akan difokuskan berdasarkan batas geografis dari situs-situs bawah air yang berada di Perairan Pulau Karimunjawa (Situs Kapal Genteng dan Kapal Indonoor) dan Perairan Pulau Genting (Situs Seruni dan Situs Genting). Penelitian ini akan mengunakan metode deskriptif kualitatif. Pengamatan fisik akan dilakukan pada produk wisata (atraksi, aksesibilitas, akomodasi, fasilitas, service) serta lingkungan pada kawasan situs-situs peninggalan bawah air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs-situs bawah air di Perairan Karimunjawa yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata minat khusus adalah Situs Kapal Indonoor dan Situs  Kapal Genteng. Sedangkan untuk Situs Seruni dan Situs Genting masih harus dilakukan studi lebih lanjut karena dengan kondisi produk wisata saat ini kedua situs tersebut belum memungkinkan untuk dijadikan obyek wisata minat khusus.Kata-Kata Kunci: produk wisata, wisata minat khusus, situs bawah air, ANALYSIS OF TOURISM PRODUCTS OF UNDERWATER SITES AS ONE OF SPECIAL INTEREST TOURISM IN KARIMUNJAWA NATIONAL PARKKarimunjawa Islands are one of the National Tourism Strategic Areas in Indonesia and development of these areas are already underway. Sinking ships and underwater heritage in Karimunjawa make the sites in these areas a potential alternative to underwater tourist destinations, especially for special interest tourism. The purpose of this research is to explain the profile of tourism products underwater sites in Karimunjawa. The research focus was divided based on the geographical boundaries of the underwater sites in the waters of Karimunjawa Island (Genteng and Indonoor Shipwreck Sites) and the waters of Genting Island (Seruni and Genting Sites). This research used a qualitative descriptive method grounded in relevant theories. The physical observation was made on tourism products (attractions, accessibility, accommodation, facilities, and service) and the environment around the sites of underwater relics. Findings of the research suggest that underwater sites which are potential for development as special interest tourism objects are Genteng and Indonoor Shipwreck Sites. As for Seruni and Genting Sites, further research needs to be undertaken because considering the current condition of the tourism products; it does not seem feasible to make both of these sites special interest tourism objectsKeywords: tourism products, special interest tourism, underwater sites, Karimunjawa REFERENCESAdhityatama, S. (2012) Pemodelan Jalur Aktivitas Penyelaman Di Situs USAT Liberty, Tulamben, Bali : Studi Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi. Skripsi Sarjana. Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.Anonim. (2006). Pedoman Pengelolaan Peninggalan Bawah Air. Direktorat Peninggalan Bawah Air. Jakarta.Dillenia, I, et.al. (2010). Sumberdaya Arkeologi Laut Untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Indonesia : Tinjauan Konsep dan Studi Kasus. Pertemuan Ilmiah Tahunan VI ISOI 2009. Jakarta.Helmi, S. (2009). Potensi Peninggalan Arkeologi Bawah Air di Perairan Pulau Sumatera. Buletin Arkeologi Amoghapasa Edisi 13 Thn. XV/Juni 2009. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). Batusangkar.Jaksic, S, et.al. (2013). Impacts of Artificial Reefs and Diving Tourism. Turizam Journal Vol. 7, Issue 4, 155-165. Department of Geography, Tourism, and Hotel Management, Faculty of Science, University of Novi Sad. Serbia.Laporan Penelitian Arkeologi. (2009). Melacak Budaya Bahari di Kepulauan Karimunjawa Tahap II. Balai Arkeologi Yogyakarta. Yogyakarta.Noviandra, G, P. (2014). Strategi Pelestarian Situs Kapal Tenggelam Indonor di Kepulauan Karimunjawa. Skripsi Sarjana. Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.Rahmat, K, D. (2015). Potensi Aktivitas Arkeologi Sebagai Daya Tarik Wisata Minat Khusus Untuk Meningkatkan Kualitas Pengalaman Wisatawan di Kawasan Prambanan. Tesis, MPAR, Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.Ramadhan, Ahmad Surya. (2011). Dokumentasi Pribadi. Yogyakarta.Tanudirjo, D, A. (2001). Wisata Arkeologi, antara Ilmu dan Hiburan. Jurnal Penelitian ??Memediasi Masa Lalu : Spektrum Arkeologi dan Pariwisata?. Lephasi. Makassar.Yoeti, O, A. (1997). Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Pradnya Paramita : Jakarta.Yussubrasta, D, et.al. (2012). Himpunan Data Cagar Budaya Bawah Air Indonesia. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Jakarta.

IDENTIFIKASI AKTIVITAS MENDIRIKAN BANGUNAN DALAM PEMANFAATAN RUANG DI KORIDOR JALAN KOM. YOS SUDARSO PONTIANAK

Zain, Zairin, Fahmie, Azwar

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.968 KB)

Abstract

Setiap kota tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan dinamika yang ada di dalamnya. Agar perkembangan kota tersebut dapat terarah dan teratur diperlukan suatu pedoman bagi kegiatan pembangunan dan pemanfaatan ruang. Pedoman bagi kegiatan pembangunan dan pemanfaatan ruang kota tersebut adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRW) serta peraturan yang terkait dengan aktivitas pemanfaatan ruangnya.Dalam RTRW Kota Pontianak, masing-masing wilayah merupakan bagian wilayah kota yang menjadi fokus perencanaan. Perkembangan wilayah akan membawa pengaruh terhadap pemanfaatan ruang yang ada. Hal ini dapat dilihat dari beberapa fenomena yang terjadi, yaitu adanya penyimpangan terhadap pemanfaatan ruang yang sudah ditetapkan dalam rencana tata ruang. Kondisi ini dapat dilihat dengan mudah pada ruas-ruas jalan utama yang menjadi cerminan wajah Kota Pontianak. Pada ruas jalan utama  masih banyak terdapat bangunan yang  berdiri tidak sesuai dengan aturan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Akibat lebih jauh dari kondisi ini adalah penataan bangunan sebagai inti fisik kota terkesan kurang teratur dan berkembang tidak sesuai harapan.Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi terhadap pemanfaatan ruang bagi aktivitas  mendirikan bangunan di sepanjang koridor Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak yang merupakan salah satu jalan utama di Kota Pontianak untuk melihat kesesuaiannya dengan peraturan tata ruang dan bangunan yang berlaku khususnya peraturan yang berkaitan dengan perencanaan RMJ dan GSB pada kawasan tersebut.Penelitian ini menggunakan desain riset deskriftif dengan survei sebagai instrumen penelitian, yaitu dengan melakukan obsevasi dan pengamatan langsung dilapangan untuk memperoleh data primer berkaitan dengan jumlah dan karakteristik bangunan di sepanjang koridor Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriftif untuk melihat frekuensi dan pola sebaran data yang dimati. Dari analisis tersebut maka dapat diketahui gambaran  tentang frekuensi, kecenderungan serta pola sebaran aktivitas mendirikan bangunan di sepanjang koridor jalan Kom Yos Sudarso Pontianakterhadap penerapan peraturan tata ruang dan bangunan pada wilayah penelitian.Hasil identifikasi didapat 216 unit bangunan atau 17,2 % terkena perencanaan RMJ dan sebagian besar adalah bangunan dengan fungsi usaha. Sementara itu, bangunan yang tidak sesuai dengan penataan GSB pada wilayah penelitian ini sebesar 825 unit bangunan atau mencapai 65,6 % dari seluruh bangunan yang diamati. Fungsi bangunan yang paling banyak melanggar aturan penataan GSB adalah bangunan dengan fungsi usaha serta bangunan yang berfungsi sebagai hunian dan usaha yang mencapai 41,9 % dan 14,3 % dari total bangunan yang di amati.Kata-Kata Kunci:  Pemanfaatan Ruang, Aktivitas Mendirikan Bangunan, Koridor JalanIDENTIFICATION ON THE ACTIVITIES OF  BUILDING CONSTRUCTION  WITH REGARD TO SPATIAL USE AT KOM YOS SUDARSO??S STREET CORRIDORS PONTIANAKEvery city grows and develops according to the potential and dynamics the city has in itself. For the development of the city to be orderly and well directed, a guideline is needed for development activities and spatial utilization. Such a guideline for the development and utilization of urban space is known as Urban Spatial Plans (RTRW) as well as regulations related to the activities of spatial utilization. In the RTRW of Pontianak City, each region is a part of the city that becomes the focus of planning. The development of a region will obviously affect the utilization of existing space. This can be seen from several phenomena that occur, namely deviation against space utilization that has been defined in the spatial plan. This condition can easily be seen on the sections of main roads that constitute as reflection of the face of Pontianak City. On the main road, sections there are still found many buildings that are not in accordance with the existing spatial plan and building layout. A further consequence of such a condition is that the arrangement of buildings as the physical core of the city seems to be less organized and develops not as it had been expected to be.The purpose of this study is to identify the use of space for the activity of building constructions along the corridor of Kom Yos Sudarso Pontianak street which is one of the main roads in Pontianak City and to see if they are in compliance with the existing spatial and building regulations, particularly the regulations relating to the RMJ plans (Street Owned Space) and GSB (Building Border Line) on the area in question. This research uses descriptive research design with a survey as its main research instrument by conducting observation and direct field observation to get the primary data related to the numbers and characteristics of the buildings along the corridor of Kom Yos Sudarso Street, Pontianak. The analysis used is descriptive analysis to see the frequency and pattern of data distribution being observed. From the analysis, it could be seen that the description of the frequency, tendency and patterns of building activity distribution along the corridor of Kom Yos Sudarso Street Pontianak with regard to the implementation of spatial and building regulations in the researched area.Identification results obtained 216 building units or 17.2% exposed to planning RMJ and as large is a building with business functions. Meanwhile, buildings that are inconsistent with the GSB structuring in this research area are 825 units of buildings or 65.6% of all buildings observed. Building functions that most violate GSB structuring rules are buildings with business functions as well as buildings that serve as occupancy and businesses that reach 41.9% and 14.3% of the total buildings observed.Keywords: Space Utilization, Building Activity, Road CorridorREFERENCESIrawati, H.,Haryanto, R. (2015).  Perubahan Fungsi Lahan Koridor Jalan Selokan Mataram Kabupaten Sleman. Jurnal Teknik PWK  Vol.  4 No. 2    (2015)Kementerian Hukum dan HAM RI. (2007). Undang - Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Kementerian Hukum dan HAM RI. JakartaKementerian Hukum dan HAM RI. (2002). Undang ?? Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan GedungKementerian Pekerjaan Umum RI. (2007). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 06/PRT/M/2007 Tanggal 16 Maret 2007 Tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan. Kementerian Pekerjaan Umum RI. JakartaNurmandi, A. (1999), Manajemen Perkotaan. Lingkaran Bangsa. YogyakartaSekretariat Daerah Kota Pontianak. (2008).  Peraturan Daerah Kota Pontianak No. 3 Tahun 2008 tentang Bangunan Gedung. Sekretariat Daerah Kota Pontianak. PontianakSekretariat Daerah Kota Pontianak. (2013). Peraturan Daerah Kota Pontianak No. 2 Tahun 2013 tentang RTRW Kota Pontianak. Sekretariat Daerah Kota Pontianak. PontianakWardhana, I, W., Haryanto, R. (2016).  Kajian Pemanfaatan Ruang Kegiatan Komersial Koridor Jalan Taman Siswa Kota Semarang . Jurnal Pengembangan Kota Volume 4 No. 1 : 49??57 (2016)Yahya, M. (2015). Kajian Tata Bangunan dan Lingkungan pada Koridor Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Makassar. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015. B.033-B.038

EKSPLORASI KONDISI FISIK DAN NON FISIK PADA PERMUKIMAN PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN TRADISIONAL DI KAMPUNG NELAYAN PENGASINAN, MUARA ANGKE

Anisa, Anisa, Septiawan, Thoriq, Nur Rahmah, Gita Laela, Kadeli, Kadeli, Adi Putro, Syaid, Kurnia, Tedi

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.394 KB)

Abstract

Definisi permukiman dalam UU No.1 tahun 2011 adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang memiliki prasarana, sarana, utilitas umum, serta memiliki penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau kawasan pedesaan. Banyak kita temui permukiman yang mempunyai karakteristik khusus, misalnya berkaitan dengan lokasi, kesukuan, pekerjaan, dll.Salah satunya adalah permukiman nelayan yang ada di Muara Angke. Permukiman ini diberi nama kampung Pengasinan, karena di kampung ini mayoritas penduduknya adalah nelayan yang juga mempunyai aktivitas lain yaitu pengawetan ikan tradisional menggunakan pengasinan (penggaraman). Penelitian ini bertujuan untuk menggali kondisi permukiman nelayan tradisional Kampung Pengasinan Muara Angke.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.Deskriptif  kualitatif yang dimaksud adalah mengidentifikasi, mendeskripsikan serta menginterpretasikan kondisi fisik permukiman nelayan tersebut dengan dibantu menggunakan data nonfisik. Analisis dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah pemilahan data atau sering disebut reduksi data. Tahap kedua adalah tahap klasifikasi. Tahapan ketiga adalah deskripsi dan  interpretasi data sampai ditemukan kesimpulan.Kesimpulan dari penelitian ini adalah, proses terbentuknya sebuah permukiman dan aktivitas yang terjadi di dalamnya akan berpengaruh terhadap bentuk fisik yang dapat diamati. Pemukiman di pengasinan Muara Angke ditata secara terencana oleh badan pengelola hasil perikanan tradisional. Walaupun pola permukiman mereka tertata secara teratur namun, bentuk rumah di pemukiman ini terbentuk menyesuaikan dengan aktivitas atau kegiatan warganya yaitu sebagai  pengolah ikan asin. Dapat dilihat bahwa di tengah permukiman terdapat area yang digunakan untuk menjemur ikan yang telah di asinkan, walaupun tempat khusus telah di sediakan.Kata-Kata Kunci: permukiman, pengolahan hasil perikanan, eksplorasi EXPLORATION OF PHYSICAL AND NON-PHYSICAL CONDITION ON TRADITIONAL FISHERY PRODUCTS PROCESSING SETTLEMENTS IN FISHERMENS PENGASINAN VILLAGE, MUARA ANGKEThe definition of settlements in Law No. 1 of 2011 is part of a residential environment consisting of more than one housing unit that has infrastructure, facilities, public utilities, and has supporting other functional activities in urban or rural areas. Many of us encounter settlements that have special characteristics, such as relating to location, ethnicity, work, etc. One of them is fishermens settlement in Muara Angke. This settlement was given the name of Kampung Pengasinan, because in this village the majority of the population are fishermen who also have other activities that are preservation of traditional fish using marinating (salting). This study aims to explore the condition of traditional fishermans settlement of Kampung Mengasinan Muara Angke.This study used a descriptive qualitative method. Descriptive qualitative in question is to identify, describe and interpret the physical condition of fishing settlements are assisted using nonphysical data. The analysis is done in three stages. The first stage is the sorting of data or often called data reduction. The second stage is the classification stage. The third stage is the description and interpretation of data until found conclusions.The conclusion of this study is, the process of formation of a settlement and the activities that occur in it will affect the physical form that can be observed. Settlements in Muara Angke salting are laid out in a planned manner by the traditional fisheries management agency. Although the pattern of their settlements arranged regularly, however, the form of houses in these settlements formed to adjust to the activities or activities of its citizens as a salted fish processor. It can be seen that in the middle of the settlement there is an area used to dry the fish that has been in asinkan, although a special place has been provided.Keywords: settlement, processing of fishery products, explorationREFERENCESBPS. 1990. Data Statistik Muara AngkeBPS. 2000. Data Statistik Muara AngkeBPS. 2010. Data Statistik Muara AngkeJulaikah, Nurul dan Farid Hidayat. (2017). Menelisik Pengrajin Ikan Asin di Muara Angke. http://m.infonitas.com/pluit-kapuk/usaha/menelisik-pengrajin-ikan-asin-di-muara-angke/51017. 3 Juni 2018.Travel Around Indonesia. (2016). Muara Angke, Sebuah Pemukiman Nelayan yang Terlupakan. http://seetheworldonamonitor.blogspot.com/2016/12/muara-angke-sebuah -pemukiman-nelayan.html.3 Juni 2018Undang-undang No.1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan PermukimanUndang-Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman