cover
Filter by Year
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
Langkau Betang (LANTANG): Jurnal Arsitektur (Journal of Architecture), is a national peer-reviewed journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal are to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies such as architecture theory, design and planning, building technology, urban and settlement. LANTANG is published twice a year in mid and end of the year. We accept manuscript with Indonesian or English language.
Articles
53
Articles
NON-LINEAR ANALYSIS OF HOLLOW REINFORCED CONCRETE COLUMN QUARE CROSS-SECTION WITH VARIOUS LOAD ECCENTRICITY AND CONCRETE STRENGTH

Nuryanti, Pingkan, Sulityo, Djoko, Suhendro, Bambang

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hollow due to plumbing system has an effect to the buildings visual and the aesthetic quality in terms of architecture. To overcome this, the pipe is planted in a construction structure such as a column. However, this will affect on the strength degradation and modes of failure of structural elements such as a column. The objective of this research is to study the strength, stiffness, ductility, cracking patterns, and modes of failure of hollow RC columns with square cross-section with various load eccentricity and concrete strength. In this research, 13 reinforced concrete columns with square cross section were made. Two of them were massive columns (C1E1, C1E2) with cross-sectional dimension of 150 x 150 mm2 and 800 mm long, six of them were hollow with the same size (C2E1, C3E1, C4E1, C2E2, C3E2, C4E2). Concrete strength fc=34.52 MPa with eccentricity=60mm  and fc=35.72 MPa with eccentricity 100 mm. Models were analyzed by nonlinear finite element method using ATENA v.2.1.10 software. The FE model is calibrated against recent experimental results from Zacoeb (2003). Once validated, the model is used to examine stiffness, ductility, cracking patterns, and modes of failure of hollow RC columns with a square cross-section with various load eccentricity. The numerical results show that the different ultimate load strength of C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are  0,32%, 2,22%, 1,61%, 7,74%, 1,25%, 0,65%, 2,63%, 1,94%, while the differents stiffnes are 18,30%, 21,30%, 23,79%, 31,57%, 15,22%, 22,67%, 21,39%, 14,41%, and the differents ductility are 48,71%, 33,64%, 3,39%, 41,04%, 52,30%, 22,99%, 18,11%, 7,76%. Crack pattern occurred in C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are flexural crack and shear cracks. Exhibit modes of failure of C1E1, C2E1, C3E1, C4E1 are compression failure and C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are tension failure.Keywords: ATENA, columns, eccentricity, failure, hollow, nonlinearANALISIS NON-LINEAR KOLOM BETON BERTULANG PENAMPANG SEGIEMPAT BERONGGA DENGAN VARIASI EKSENTRISITAS BEBAN DAN MUTU BETONLubang akibat pemasangan pipa pada konstruksi untuk keperluan instalasi (air hujan, sanitasi, listrik dan lain-lain) dapat berpengaruh pada visualitas bangunan dan akan mempengaruhi kualitas estetika dari segi arsitektur. Untuk mengatasi hal tersebut pipa ditanam didalam struktur konstruksi seperti kolom. Akan tetapi hal ini akan  menyebabkan  degradasi kekuatan beton dan  pola keruntuhan struktur pada kolom. Selain secara eksperimental, penelitian  ini dapat juga dilakukan secara numeris menggunakan  metode elemen hingga nonlinier. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan, kekakuan, daktilitas, pola retak dan model keruntuhan kolom beton bertulang penampang persegi berongga dengan variasi eksentrisitas beban dan variasi mutu beton. Dalam penelitian ini dimodelkan 8 jenis kolom beton bertulang penampang segiempat yang terdiri dari 2 kolom masif (C1E1 dan C1E2) dan 6 kolom berongga (C2E1, C3E1, C4E1, C2E2, C3E2, C4E2) dengan ukuran 150 x 150 mm2, panjang 800 mm. Mutu beton fc=34.52 MPa dengan eksentrisitas =60mm dan mtu beton fc=35.72 MPa dengan eksentrisitas =100mm. Kolom dianalisis menggunakan software elemen hingga nonlinier ATENA V.2.1.10 dan hasilnya dibandingkan dengan hasil eksperimen sebelumnya  dari Zacoeb (2003). Setelah  model divalidasi, dilakukan perhitungan kekakuan, daktilitas, pengamatan pola retak dan jenis keruntuhan yang terjadi pada kolom penampang segiempat berongga dengan variasi eksentrisitas beban . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolom beton bertulang  berongga yang dimodelkan dengan ATENA yaitu untuk model kolom validasi C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 mempunyai perbedaan beban maksimum dengan hasil eksperimen secara berturut-turut sebesar 0,32%, 2,22%, 1,61%, 7,74%, 1,25%, 0,65%, 2,63% dan 1,94%, dengan perbedaan kekakuan secara berturut-turut sebesar 18,30%, 21,30%, 23,79%, 31,57%, 15,22%, 22,67%, 21,39% dan 14,41%, dan perbedaan daktilitas  secara berturut-turut sebesar 48,71%, 33,64%, 3,39%, 41,04%, 52,30%, 22,99%, 18,11% dan 7,76%. Pola retak yang terjadi adalah pola retak lentur dan retak geser.  Pola keruntuhan pada C1E1, C2E1, C3E1, C4E1 merupakan keruntuhan tekan, sedangkan C1E2, C2E2, C3E2, C4E2  merupakan keruntuhan tarik.Kata-Kata kunci: ATENA, berlubang, eksentrisitas, keruntuhan, kolom, nonlinear.REFERENCESCervenka et al. (2007). Superior Material Models for Numerical Simulation of Concrete Cracking under Severe Conditions. Cervenka Consulting. Czech Republic.Public Work Ministry. (2007). SNI 03-2847-2007, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang untuk Bangunan Gedung. Bandung.Poston et al. (1985). Numerical Models for Non-prismatic Solid Cross-Section Behavior and Rectangular Cross-Section on Biaxially-Bred ColumnsSuprabowo, S. (1996). Analysis of Reinforced Concrete Column Capacity Perforated. Thesis. Department of Civil Engineering, Gadjah Mada University. Yogyakarta.Supriyadi. (1997). The Effect of Holes on Strongly Reinforced Concrete Column Boundaries. Thesis. Graduate Program. Gadjah Mada University. Yogyakarta.Zacoeb. A. (2003). Flexural Capacity of Reinforced Concrete Short Column with Variations Hole, Thesis. Graduate Program. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

NILAI DAN MAKNA KEARIFAN LOKAL RUMAH TRADISIONAL LIMAS PALEMBANG SEBAGAI KRITERIA MASYARAKAT MELAYU

Tondi, Muhammad Lufika, Iryani, Sakura Yulia

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Rumah Tradisional Limas Palembang sebagai salah satu  kearifan lokal (Genius Loci) yang ada di Palembang memiliki nilai dan makna sebagai salah satu pembentuk  kehidupan masyarakat  Palembang. Keberadaan nilai dan makna dalam kearifan lokal  Rumah Trdisional Limas Palembang telah menjadi ciri khas peradaban kehidupan masyarakat Palembang sebagai bagian dari masyarakat Melayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bahwa masyarakat Palembang sebagai bagian dari masyarakat Melayu jika dilihat dalam makna dan nilai yang ada dalam rumah tradisional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk melihat apa saja makna makna Local wisdom (Genius Loci) dirumah tradisional Palembang dan melihat keterikaitannya dengan adab dan kriteria masyarakat Melayu. Peneliti mendeskripsikan beberapa bagian dari rumah tersebut dan mencoba menggali makna dan nilainya dan di kaitkan dengan adab dan kriteria Masyarakat Melayu. Pada penelitian ini didapat kesimpulan beberapa unsur dan lingkup rumah Tradisional sesuai dengan kriteria masyarakat Melayu. Penelitian ini kedapannya diharapkan sebagai bukti bahwa adanya kaitan antara kebudayaan Palembang dengan kehidupan masyarakat MelayuKata-Kata Kunci: Local Wisdom, Nilai dan Makna, Limas, MelayuVALUE AND MEANING OF TRADITIONAL HOUSE LIMAS PALEMBANG LOCAL WISDOM AS CRITERIA OF MALAY COMMUNITYTraditional House Limas Palembang as one of Local wisdom (Genius Loci) in Palembang has value as one of the forming community of Palembang. The existence of value and meaning in local wisdom from Traditional Limas house of Palembang has become the hallmark of a civilization of Palembang society life as part of Malay society. The purpose of this study is to see that Palembang community as part of Malay society when viewed in the meaning and value that exist in the traditional house. This research used a descriptive qualitative method to see what meaning Local Wisdom (Genius Loci) in traditional house of Palembang and saw its attitudes with culture and criteria of Malay society. The researcher describes some parts of the house and tries to explore the meaning and value. It is associated with the existence and principles of the Malay Society. In this study, it can be concluded that some elements and scope of Traditional House are following with the criteria of Malay society. This research is expected as evidence that the link between Palembang culture with the life of the Malay communityKeywords: Local Wisdom, value and meaning, Limas, MelayuREFERENCESM. Chabib Thoha, M,C. (1996). Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka PelajarAmanati, R. (2010). Kearifan Arsitektur Melayu Dalam Menanggapi Lingkungan Tropis, Seminar Nasional Fakultas Teknik, Universitas Riau.Amanati, R. (2010). Kearifan Arsitektur Melayu Dalam Menanggapi Lingkungan Tropis, Seminar Nasional Fakultas Teknik, Universitas Riau.Ayatrohaedi. (1986). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Jakarta: Pustaka JayaDahliyani, S. (2015). Local Wisdom In Built Environment In Globalization Era, International Journal Of Education And Research Vol. 3 No. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia.Darussamin, Z. (2014). Integrasi Kewarisan Adat Melayu-Riau Dengan Islam, Sosial Budaya : Media Komunikasi Il M U - Ilmu Sosial Dan B U D A Y A , Vol . 1 1 , No . 2 Juli - Desember  2014, Uin Sultan Syarif Kasim RiauEffendi, Tennas. (2009). ”Bangunan Tradisional Melayu Dan Nilai Budaya Melayu” Masyarakat Melayu Riau Dan Kebudayaannya, Tanjung Pinang, Riau.Faisal, G., (2013). Selembayung Sebagai Identitas Kota Pekanbaru : Kajian Langgam Arsitektur Melayu, Indonesian Jurnal Of Conservation Vol 2.Ihsan, M. (2008). Analisa Ketahanan Gempa Pada Rumah Tradisional Sumatera, Skripsi, Universitas Indonesia.Ismail Husein. (1984). Antara Dunia Melayu Dengan Dunia Indonesia. Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan MalaysiaKhairi. (2010). Islam Dan Budaya Masyarakat. Fajar Pustaka. Yogyakarta.Mudara, M. A . (2004), Rumah Melayu: Memangku Adat Menjemput Zaman, Balai Kajian Dan Pengembangan Budaya Melayu, Bekerja Sama Dengan Penerbit Adicita, Yogyakarta.Norberg-Schultz, Christian. (1979). Genius Loci. New York: Collier Books.Rakhman , A. (2015). Arti Simbolis Di Balik Ornamen Rumah Limas Palembang , Jurnal Kriya Volume 12Ricoeur, Paul. (2013). Filsafat Wacana, Penerbit Ircisod. Yogyakarta.Rumiawati, A. (2013). Identifikasi Tipologi Arsitektur Rumah Tradisional Melayu Di Kabupaten Langkat Dan Perubahannya. Jurnal Permukiman. Pusat Litbang Perumahan Dan Permukiman, Badan Litbang, Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat.Sinar, T. L. (1993). Motif dan Ornamen Melayu. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Melayu. MedanSiswanto, A. (2009). Kearifan Lokal Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan Bagi Pembangunan Lingkungan Binaan, Jurnal Local Wisdom Volume: I, Nomor: 1,Soedigdo, D. (2014). Elemen-Elemen Pendorong Kearifan Lokal Pada Arsitektur Nusantara, Jurnal Perspektif Arsitektur  Volume 9 / No.1, Juli 2014.Sturgess, L B. (2005). The Green: Building A Viable Program For Forgotten Public Space In Uptown Dallas The University Of Texas At Arlington.Sumaryono. (1999). Hermeneutiks : Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta ; Kansius.Suryana. (2008). Upacara Adat Perkawinan Palembang, Skripsi, Uin Sunan Kalijaga Jogjakarta.Susanti, M. (2014). Budaya Malu Cerminan Bagi Perempuan Melayu, Sosial Budaya: Media Komunikasi Ilmu-Ilmu Sosial Dan Budaya, Vol.11, Uin Sultan Syarif Kasim Riau.Syarofie, Yudhy. (2012). Songket Palembang, Nilai Filosofis, Jejak Sejarah, Dantradisi. PalembangTakari, M. (2015). Adat Dalam Peradaban Melayu, Laporan Peneitian, Universitas Sumatera UtaraTengku Muhammad Lah Husni. (1986). Butir-Butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan KebudayaanUlfah Fajarini. (2014). Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Karakter, Sosio Didaktika: Vol. 1, No. 2, Universitas Islam Negeri (Uin) Syarif Hidayatullah JakartaW.J.S. Purwadaminta. (1999). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta; Balai PustakaZalika, I. (2010). Rumah Bari Dalam Kehidupan Masyarakat Adat Palembang (Sumatera Selatan), Skripsi, Universitas Lampung.

ANALISIS PRODUK WISATA SITUS BAWAH AIR SEBAGAI SALAH SATU WISATA MINAT KHUSUS DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

Ariadi, Adyanti Putri, Prayitno, Budi, Wihardyanto, Dimas

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kepulauan Karimunjawa merupakan salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Indonesia yang sedang dikembangkan. Keunggulan dari pariwisata di Karimunjawa adalah daya tarik wisata alamnya yang berupa wisata bahari, ekowisata, dan wisata petualangan. Potensi kekayaan bahari di Karimunjawa yang tidak kalah menarik salah satunya berupa peninggalan budaya bawah air. Tempat tenggelamnya kapal dan peninggalan bawah air yang berada di Karimunjawa membuat situs-situs ini berpotensi menjadi alternatif tujuan wisata bawah air khususnya daya tarik wisata minat khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan profil produk wisata situs-situs bawah air di Karimunjawa. Secara administratif penelitian ini akan difokuskan berdasarkan batas geografis dari situs-situs bawah air yang berada di Perairan Pulau Karimunjawa (Situs Kapal Genteng dan Kapal Indonoor) dan Perairan Pulau Genting (Situs Seruni dan Situs Genting). Penelitian ini akan mengunakan metode deskriptif kualitatif. Pengamatan fisik akan dilakukan pada produk wisata (atraksi, aksesibilitas, akomodasi, fasilitas, service) serta lingkungan pada kawasan situs-situs peninggalan bawah air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs-situs bawah air di Perairan Karimunjawa yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata minat khusus adalah Situs Kapal Indonoor dan Situs  Kapal Genteng. Sedangkan untuk Situs Seruni dan Situs Genting masih harus dilakukan studi lebih lanjut karena dengan kondisi produk wisata saat ini kedua situs tersebut belum memungkinkan untuk dijadikan obyek wisata minat khusus.Kata-Kata Kunci: produk wisata, wisata minat khusus, situs bawah air, ANALYSIS OF TOURISM PRODUCTS OF UNDERWATER SITES AS ONE OF SPECIAL INTEREST TOURISM IN KARIMUNJAWA NATIONAL PARKKarimunjawa Islands are one of the National Tourism Strategic Areas in Indonesia and development of these areas are already underway. Sinking ships and underwater heritage in Karimunjawa make the sites in these areas a potential alternative to underwater tourist destinations, especially for special interest tourism. The purpose of this research is to explain the profile of tourism products underwater sites in Karimunjawa. The research focus was divided based on the geographical boundaries of the underwater sites in the waters of Karimunjawa Island (Genteng and Indonoor Shipwreck Sites) and the waters of Genting Island (Seruni and Genting Sites). This research used a qualitative descriptive method grounded in relevant theories. The physical observation was made on tourism products (attractions, accessibility, accommodation, facilities, and service) and the environment around the sites of underwater relics. Findings of the research suggest that underwater sites which are potential for development as special interest tourism objects are Genteng and Indonoor Shipwreck Sites. As for Seruni and Genting Sites, further research needs to be undertaken because considering the current condition of the tourism products; it does not seem feasible to make both of these sites special interest tourism objectsKeywords: tourism products, special interest tourism, underwater sites, Karimunjawa REFERENCESAdhityatama, S. (2012) Pemodelan Jalur Aktivitas Penyelaman Di Situs USAT Liberty, Tulamben, Bali : Studi Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi. Skripsi Sarjana. Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.Anonim. (2006). Pedoman Pengelolaan Peninggalan Bawah Air. Direktorat Peninggalan Bawah Air. Jakarta.Dillenia, I, et.al. (2010). Sumberdaya Arkeologi Laut Untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Indonesia : Tinjauan Konsep dan Studi Kasus. Pertemuan Ilmiah Tahunan VI ISOI 2009. Jakarta.Helmi, S. (2009). Potensi Peninggalan Arkeologi Bawah Air di Perairan Pulau Sumatera. Buletin Arkeologi Amoghapasa Edisi 13 Thn. XV/Juni 2009. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). Batusangkar.Jaksic, S, et.al. (2013). Impacts of Artificial Reefs and Diving Tourism. Turizam Journal Vol. 7, Issue 4, 155-165. Department of Geography, Tourism, and Hotel Management, Faculty of Science, University of Novi Sad. Serbia.Laporan Penelitian Arkeologi. (2009). Melacak Budaya Bahari di Kepulauan Karimunjawa Tahap II. Balai Arkeologi Yogyakarta. Yogyakarta.Noviandra, G, P. (2014). Strategi Pelestarian Situs Kapal Tenggelam Indonor di Kepulauan Karimunjawa. Skripsi Sarjana. Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.Rahmat, K, D. (2015). Potensi Aktivitas Arkeologi Sebagai Daya Tarik Wisata Minat Khusus Untuk Meningkatkan Kualitas Pengalaman Wisatawan di Kawasan Prambanan. Tesis, MPAR, Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.Ramadhan, Ahmad Surya. (2011). Dokumentasi Pribadi. Yogyakarta.Tanudirjo, D, A. (2001). Wisata Arkeologi, antara Ilmu dan Hiburan. Jurnal Penelitian “Memediasi Masa Lalu : Spektrum Arkeologi dan Pariwisata”. Lephasi. Makassar.Yoeti, O, A. (1997). Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Pradnya Paramita : Jakarta.Yussubrasta, D, et.al. (2012). Himpunan Data Cagar Budaya Bawah Air Indonesia. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Jakarta.

IDENTIFIKASI AKTIVITAS MENDIRIKAN BANGUNAN DALAM PEMANFAATAN RUANG DI KORIDOR JALAN KOM. YOS SUDARSO PONTIANAK

Zain, Zairin, Fahmie, Azwar

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Setiap kota tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan dinamika yang ada di dalamnya. Agar perkembangan kota tersebut dapat terarah dan teratur diperlukan suatu pedoman bagi kegiatan pembangunan dan pemanfaatan ruang. Pedoman bagi kegiatan pembangunan dan pemanfaatan ruang kota tersebut adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRW) serta peraturan yang terkait dengan aktivitas pemanfaatan ruangnya.Dalam RTRW Kota Pontianak, masing-masing wilayah merupakan bagian wilayah kota yang menjadi fokus perencanaan. Perkembangan wilayah akan membawa pengaruh terhadap pemanfaatan ruang yang ada. Hal ini dapat dilihat dari beberapa fenomena yang terjadi, yaitu adanya penyimpangan terhadap pemanfaatan ruang yang sudah ditetapkan dalam rencana tata ruang. Kondisi ini dapat dilihat dengan mudah pada ruas-ruas jalan utama yang menjadi cerminan wajah Kota Pontianak. Pada ruas jalan utama  masih banyak terdapat bangunan yang  berdiri tidak sesuai dengan aturan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Akibat lebih jauh dari kondisi ini adalah penataan bangunan sebagai inti fisik kota terkesan kurang teratur dan berkembang tidak sesuai harapan.Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi terhadap pemanfaatan ruang bagi aktivitas  mendirikan bangunan di sepanjang koridor Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak yang merupakan salah satu jalan utama di Kota Pontianak untuk melihat kesesuaiannya dengan peraturan tata ruang dan bangunan yang berlaku khususnya peraturan yang berkaitan dengan perencanaan RMJ dan GSB pada kawasan tersebut.Penelitian ini menggunakan desain riset deskriftif dengan survei sebagai instrumen penelitian, yaitu dengan melakukan obsevasi dan pengamatan langsung dilapangan untuk memperoleh data primer berkaitan dengan jumlah dan karakteristik bangunan di sepanjang koridor Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriftif untuk melihat frekuensi dan pola sebaran data yang dimati. Dari analisis tersebut maka dapat diketahui gambaran  tentang frekuensi, kecenderungan serta pola sebaran aktivitas mendirikan bangunan di sepanjang koridor jalan Kom Yos Sudarso Pontianakterhadap penerapan peraturan tata ruang dan bangunan pada wilayah penelitian.Hasil identifikasi didapat 216 unit bangunan atau 17,2 % terkena perencanaan RMJ dan sebagian besar adalah bangunan dengan fungsi usaha. Sementara itu, bangunan yang tidak sesuai dengan penataan GSB pada wilayah penelitian ini sebesar 825 unit bangunan atau mencapai 65,6 % dari seluruh bangunan yang diamati. Fungsi bangunan yang paling banyak melanggar aturan penataan GSB adalah bangunan dengan fungsi usaha serta bangunan yang berfungsi sebagai hunian dan usaha yang mencapai 41,9 % dan 14,3 % dari total bangunan yang di amati.Kata-Kata Kunci:  Pemanfaatan Ruang, Aktivitas Mendirikan Bangunan, Koridor JalanIDENTIFICATION ON THE ACTIVITIES OF  BUILDING CONSTRUCTION  WITH REGARD TO SPATIAL USE AT KOM YOS SUDARSO’S STREET CORRIDORS PONTIANAKEvery city grows and develops according to the potential and dynamics the city has in itself. For the development of the city to be orderly and well directed, a guideline is needed for development activities and spatial utilization. Such a guideline for the development and utilization of urban space is known as Urban Spatial Plans (RTRW) as well as regulations related to the activities of spatial utilization. In the RTRW of Pontianak City, each region is a part of the city that becomes the focus of planning. The development of a region will obviously affect the utilization of existing space. This can be seen from several phenomena that occur, namely deviation against space utilization that has been defined in the spatial plan. This condition can easily be seen on the sections of main roads that constitute as reflection of the face of Pontianak City. On the main road, sections there are still found many buildings that are not in accordance with the existing spatial plan and building layout. A further consequence of such a condition is that the arrangement of buildings as the physical core of the city seems to be less organized and develops not as it had been expected to be.The purpose of this study is to identify the use of space for the activity of building constructions along the corridor of Kom Yos Sudarso Pontianak street which is one of the main roads in Pontianak City and to see if they are in compliance with the existing spatial and building regulations, particularly the regulations relating to the RMJ plans (Street Owned Space) and GSB (Building Border Line) on the area in question. This research uses descriptive research design with a survey as its main research instrument by conducting observation and direct field observation to get the primary data related to the numbers and characteristics of the buildings along the corridor of Kom Yos Sudarso Street, Pontianak. The analysis used is descriptive analysis to see the frequency and pattern of data distribution being observed. From the analysis, it could be seen that the description of the frequency, tendency and patterns of building activity distribution along the corridor of Kom Yos Sudarso Street Pontianak with regard to the implementation of spatial and building regulations in the researched area.Identification results obtained 216 building units or 17.2% exposed to planning RMJ and as large is a building with business functions. Meanwhile, buildings that are inconsistent with the GSB structuring in this research area are 825 units of buildings or 65.6% of all buildings observed. Building functions that most violate GSB structuring rules are buildings with business functions as well as buildings that serve as occupancy and businesses that reach 41.9% and 14.3% of the total buildings observed.Keywords: Space Utilization, Building Activity, Road CorridorREFERENCESIrawati, H.,Haryanto, R. (2015).  Perubahan Fungsi Lahan Koridor Jalan Selokan Mataram Kabupaten Sleman. Jurnal Teknik PWK  Vol.  4 No. 2    (2015)Kementerian Hukum dan HAM RI. (2007). Undang - Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Kementerian Hukum dan HAM RI. JakartaKementerian Hukum dan HAM RI. (2002). Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan GedungKementerian Pekerjaan Umum RI. (2007). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 06/PRT/M/2007 Tanggal 16 Maret 2007 Tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan. Kementerian Pekerjaan Umum RI. JakartaNurmandi, A. (1999), Manajemen Perkotaan. Lingkaran Bangsa. YogyakartaSekretariat Daerah Kota Pontianak. (2008).  Peraturan Daerah Kota Pontianak No. 3 Tahun 2008 tentang Bangunan Gedung. Sekretariat Daerah Kota Pontianak. PontianakSekretariat Daerah Kota Pontianak. (2013). Peraturan Daerah Kota Pontianak No. 2 Tahun 2013 tentang RTRW Kota Pontianak. Sekretariat Daerah Kota Pontianak. PontianakWardhana, I, W., Haryanto, R. (2016).  Kajian Pemanfaatan Ruang Kegiatan Komersial Koridor Jalan Taman Siswa Kota Semarang . Jurnal Pengembangan Kota Volume 4 No. 1 : 49–57 (2016)Yahya, M. (2015). Kajian Tata Bangunan dan Lingkungan pada Koridor Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Makassar. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015. B.033-B.038

EKSPLORASI KONDISI FISIK DAN NON FISIK PADA PERMUKIMAN PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN TRADISIONAL DI KAMPUNG NELAYAN PENGASINAN, MUARA ANGKE

Anisa, Anisa, Septiawan, Thoriq, Nur Rahmah, Gita Laela, Kadeli, Kadeli, Adi Putro, Syaid, Kurnia, Tedi

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Definisi permukiman dalam UU No.1 tahun 2011 adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang memiliki prasarana, sarana, utilitas umum, serta memiliki penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau kawasan pedesaan. Banyak kita temui permukiman yang mempunyai karakteristik khusus, misalnya berkaitan dengan lokasi, kesukuan, pekerjaan, dll.Salah satunya adalah permukiman nelayan yang ada di Muara Angke. Permukiman ini diberi nama kampung Pengasinan, karena di kampung ini mayoritas penduduknya adalah nelayan yang juga mempunyai aktivitas lain yaitu pengawetan ikan tradisional menggunakan pengasinan (penggaraman). Penelitian ini bertujuan untuk menggali kondisi permukiman nelayan tradisional Kampung Pengasinan Muara Angke.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.Deskriptif  kualitatif yang dimaksud adalah mengidentifikasi, mendeskripsikan serta menginterpretasikan kondisi fisik permukiman nelayan tersebut dengan dibantu menggunakan data nonfisik. Analisis dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah pemilahan data atau sering disebut reduksi data. Tahap kedua adalah tahap klasifikasi. Tahapan ketiga adalah deskripsi dan  interpretasi data sampai ditemukan kesimpulan.Kesimpulan dari penelitian ini adalah, proses terbentuknya sebuah permukiman dan aktivitas yang terjadi di dalamnya akan berpengaruh terhadap bentuk fisik yang dapat diamati. Pemukiman di pengasinan Muara Angke ditata secara terencana oleh badan pengelola hasil perikanan tradisional. Walaupun pola permukiman mereka tertata secara teratur namun, bentuk rumah di pemukiman ini terbentuk menyesuaikan dengan aktivitas atau kegiatan warganya yaitu sebagai  pengolah ikan asin. Dapat dilihat bahwa di tengah permukiman terdapat area yang digunakan untuk menjemur ikan yang telah di asinkan, walaupun tempat khusus telah di sediakan.Kata-Kata Kunci: permukiman, pengolahan hasil perikanan, eksplorasi EXPLORATION OF PHYSICAL AND NON-PHYSICAL CONDITION ON TRADITIONAL FISHERY PRODUCTS PROCESSING SETTLEMENTS IN FISHERMENS PENGASINAN VILLAGE, MUARA ANGKEThe definition of settlements in Law No. 1 of 2011 is part of a residential environment consisting of more than one housing unit that has infrastructure, facilities, public utilities, and has supporting other functional activities in urban or rural areas. Many of us encounter settlements that have special characteristics, such as relating to location, ethnicity, work, etc. One of them is fishermens settlement in Muara Angke. This settlement was given the name of Kampung Pengasinan, because in this village the majority of the population are fishermen who also have other activities that are preservation of traditional fish using marinating (salting). This study aims to explore the condition of traditional fishermans settlement of Kampung Mengasinan Muara Angke.This study used a descriptive qualitative method. Descriptive qualitative in question is to identify, describe and interpret the physical condition of fishing settlements are assisted using nonphysical data. The analysis is done in three stages. The first stage is the sorting of data or often called data reduction. The second stage is the classification stage. The third stage is the description and interpretation of data until found conclusions.The conclusion of this study is, the process of formation of a settlement and the activities that occur in it will affect the physical form that can be observed. Settlements in Muara Angke salting are laid out in a planned manner by the traditional fisheries management agency. Although the pattern of their settlements arranged regularly, however, the form of houses in these settlements formed to adjust to the activities or activities of its citizens as a salted fish processor. It can be seen that in the middle of the settlement there is an area used to dry the fish that has been in asinkan, although a special place has been provided.Keywords: settlement, processing of fishery products, explorationREFERENCESBPS. 1990. Data Statistik Muara AngkeBPS. 2000. Data Statistik Muara AngkeBPS. 2010. Data Statistik Muara AngkeJulaikah, Nurul dan Farid Hidayat. (2017). Menelisik Pengrajin Ikan Asin di Muara Angke. http://m.infonitas.com/pluit-kapuk/usaha/menelisik-pengrajin-ikan-asin-di-muara-angke/51017. 3 Juni 2018.Travel Around Indonesia. (2016). Muara Angke, Sebuah Pemukiman Nelayan yang Terlupakan. http://seetheworldonamonitor.blogspot.com/2016/12/muara-angke-sebuah -pemukiman-nelayan.html.3 Juni 2018Undang-undang No.1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan PermukimanUndang-Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman

IDENTIFIKASI PEMANFAATAN AIR BERSIH DI PERMUKIMAN PERKOTAAN (STUDI KASUS KELURAHAN SUNGAI BANGKONG KOTA PONTIANAK)

Kalsum, Emilya, Purnomo, Yudi, Caesariadi, Tri Wibowo

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hujan merupakan salah satu sumber air bersih yang sangat potensial di wilayah tropis basah. Kelurahan Sungai Bangkong Kota Pontianak merupakan wilayah yang memiliki curah hujan dalam kategori menengah-tinggi. Di wilayah ini, hujan memiliki potensi sebagai sumber air bersih dan juga sekaligus sebagai penyebab genangan. Wilayah ini juga merupakan kawasan permukiman dengan kepadatan yang tinggi yang membutuhkan cukup besar suplai air. Penelitian ini mencoba memberikan gambaran tentang pemanfaatan air bersih di wilayah permukiman perkotaan.Penelitian ini menggunakan pendekatan statistika deskriptif. Beberapa variabel yang akan dijelaskan adalah sumber air, penampungan air, sistem aliran, tinggi, durasi dan penyebab genangan. Penelitian memberikan gambaran tentang perlunya peningkatan penampungan dan pemanfaatan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan permukiman. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah air hujan tetap menjadi sumber air bersih warga, namun pemanfaatannya relatif lebih rendah dibandingkan penggunaan air yang berasal dari PDAM dan air tanah.Kata-kata Kunci: Air hujan,  permukiman, perkotaan, Kota Pontianak IDENTIFICATION OF USE OF CLEAN WATER IN URBAN SETTLEMENT AREA (A CASE STUDY OF KELURAHAN SUNGAI BANGKONG KOTA PONTIANAK)Rain is one of the potential clean water sources in the wet tropics area. Kelurahan Sungai Bangkong, Kota Pontianak, is an area that has rainfall in the middle-high category. In this region, rain has the potential as a source of clean water and also as a cause of runoff. It is also a high density settlement area that requires a substantial supply of water. This research tries to describe the utilization of clean water in urban settlement area.This research uses descriptive statistical approach. Some of the variables to be explained are water source, water reservoir, flow system, height, duration and cause of runoff. The study provides an overview of the need to increase rainwater storage and utilization to meet clean water needs in residential areas. The results obtained in this study is that rainwater remains the main source of clean water for residents, but its utilization is relatively lower than the use of water coming from PDAM and other sources.Keywords: precipitation, rainwater, urban settlement, Kota PontianaREFERENCESBPS Kota Pontianak. (2017). Kota Pontianak dalam Angka 2017. Pontianak: Badan Pusat Statistik Kota Pontianak.Lippsmeier, G. (1997). Bangunan Tropis. Jakarta: Penerbit Erlangga.Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.Noerbambang, S. M., & Morimura, T. (2000). Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.Purnomo, Y., & Wulandari, A. (2015). Infiltrasi sebagai Pendekatan Pengendalian Intensitas Pemanfaatan Ruang di Kota Pontianak. Prosiding Seminar Nasional Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2015 (hal. 259-272). Pontianak: Universitas Tanjungpura.Purnomo, Y., & Wulandari, A. (2017). Presipitasi dalam Perencanaan Arsitektur di Kota Pontianak. Prosiding Seminar Nasional Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2017. Pontianak: Universitas Tanjungpura.Purnomo, Y., Kalsum, E., & Caesariadi, T. W. (2017). Strategi Perencanaan Perumahan terhadap Presipitasi di Kota Pontianak. Pontianak: Tidak dipublikasikan.Santoso, S. (2015). Menguasai Statistik Parametrik : Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.Sujarweni, V. (2015). Statistik untuk Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.Tangoro, D. (2006). Utilitas Bangunan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

PERFORMA PENCAHAYAAN DAN PENGHAWAAN SERTA PERSEPSI PENGGUNA BANGUNAN PASAR DI KOTA PONTIANAK

Lestari, Lestari, Alhamdani, Muhammad Ridha, Khaliesh, Hamdil

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Permasalahan yang ada pada pasar-pasar tradisional termasuk yang terjadi pada pasar Kemuning dan Dahlia Kota Pontianak dapat menggambarkan kualitas performansi bangunan. Pencahayaan, sirkulasi udara, dan temperatur dalam ruang pada bangunan merupakan aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kenyamanan aktivitas pengguna. Tulisan ini memaparkan mengenai hasil penelitian khususnya mengenai tingkat pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang pada dua pasar tradisional di Kota Pontianak tersebut. Performansi kedua pasar tersebut diukur untuk dibandingkan dengan standar untuk aktivitas yang sesuai. Selain itu dikumpulkan pula pendapat dari para pengguna tentang kepuasan terhadap aspek pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang di kedua pasar tersebut. Data-data yang dikumpulkan melalui 2 cara yaitu observasi dan kuesioner. Observasi dilakukan dengan pengukuran pada bangunan. Kuesioner disebarkan kepada 195 responden khususnya penjual dan pembeli pasar untuk melihat tingkat kepuasan berdasarkan persepsi pengguna. Hasil analisis diperoleh bahwa tingkat performansi pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang pada kedua bangunan pasar tersebut termasuk rendah, begitu pula kepuasan pengguna terhadap kedua aspek tersebutKata-kata Kunci: pasar tradisional, performasi bangunan, pencahayaan, penghawaan. THE PERFORMANCE OF LIGHTING, VENTILATION, AND USER PERCEPTION ON MARKET BUILDING IN PONTIANAK CITY Problems that exist on traditional markets including those that occur in the Kemuning and Dahlia market, Pontianak City can represent  the quality of building performance. Lighting, ventilating and air temperature in buildings are aspects that can affect the comfort of occupants. This paper describes the results of research especially regarding the level of lighting, ventilating and air temperature in two traditional markets at Pontianak City. The performance of both markets is compared to the standard for the appropriate activity. The user satisfaction is also identified. The data collected through 2 ways that are observation and questionnaire. Observations were made with measurements of buildings. Questionnaires were distributed among 195 respondents, especially sellers and market buyers to see the level of satisfaction based on user perceptions. The analysis indicates performance levels of both market buildings are low, as are user satisfaction with those aspects.Keywords: traditional market, building performance, lighting, ventilating, temperatureREFERENCESKaryono, Tri Harso. (2001). Penelitian Kenyamanan Termis di Jakarta sebagai Acuan Suhu Nyaman Manusia Indonesia. Dimensi Teknik  Arsitektur Vol. 29, No. 1. Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra. SurabayaKeputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/Menkes/Sk/Xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja  Perkantoran dan IndustriKeputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 519/Menkes/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar SehatKeputusan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko ModernKeputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 23/MPP/KEP/1/1998 tentang Lembaga-Lembaga Usaha PerdaganganPeraturan  Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 29/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan GedungStandar Nasional Indonesia (SNI) 03-6390-2000 tentang Konservasi Energi Sistem Tata Udara pada Bangunan GedungStandar Nasional Indonesia (SNI) 8152 – 2015 Tentang Pasar RakyatSukriswanto, Ucang. (2012). Analisis Kelayakan Revitalisasi Pasar Umum Gubug Kabupaten Grobogan. Tesis tidak diterbitkan, Program Studi magister Teknik Sipil, Universitas Diponegoro Semarang.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan

KAWASAN CIGONDEWAH TERKAIT SARANA PRASARANA LINGKUNGAN TERBANGUN SEBAGAI KAWASAN WISATA TEKSTIL DI KOTA BANDUNG

Wijaya, Karto, Permana, Asep Yudi

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kawasan Cigondewah pada awalnya merupakan kawasan agraris, dan kawasan ini mengalami perkembangan kearah sentra perdagangan kain dan industri tekstil sejak tahun 1960-1976 yang ditandai oleh usaha karung goni oleh masyarakat setempat. Kegiatan ekonomi berbasis home industri ini memberikan kontribusi pendapatan bagi khususnya penduduk setempat, karena tenaga kerja berasal dari sekitar kelurahan Cigondewah sendiri. Mulanya usaha karung goni ini dibeli dari pabrik gula yang kemudian dipasarkan hingga Kawarang dan Banten. Pada tahun 1976 mengalami kejenuhan, yang kemudian masyarakat setempat beralih dari usaha karung goni ke imbah industri (karung plastik dan kain bekas). Pada awal 1997 kawasan cigondewah mampu berperan sebagai sentra perdagangan kain. Sentra ini melayani pembeli-pembeli yang berasal dari Bandung dan sekitasrnya. Bahan baku dari tekstil berasal dari pabrik yang ada di wilayah tersebut, namun sebagian lagi berasal dari Jakarta melalui pelabuhan Tanjung Priok. Kawasan ini dalam RTRW Kota Bandung adalah kawasan industri berwawasan lingkungan. Perkembangan kawasan ini memberikan potensi yang luas terutama dalam pengembangannya sebagai sebuah kawasan yang memiliki produk unggulan/spesialisasi dalam cakupan rencana pengembangan pariwisata Kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, di mana melalui pendekatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai fakta dan fenomena yang terjadi dilapangan. Berdasarkan hasil analisis penelitian ditemukan potensi dan karakteristik kawasan yang mendukung dalam pengembangan Kawasan Cigondewah sebagai Kawasan Wisata Tesktil di Kota Bandung. Terkait dengan prasarana dan sarana lingkungan ditemukan permasalahan, antara lain: ketersediaan sarana parkir dan jalur pedestrian yang kurang memadai, kondisi kawasan yang belum tertata secara maksimal.Kata-kata Kunci: Lingkungan Terbangun, Perkembangan KawasanCIGONDEWAH AREA RELATED TO ENVIRONMENT BUILT INFRASTRUCTURE FACILITIES AS SENTRA CLOTH IN BANDUNG CITY The Cigondewah area was originally an agrarian area, and the region has been progressing towards the trading center of textile fabrics and industry since 1960-1976 which is marked by the burlap sack by the local community. This home industry-based economic activity contributes the income to the locals in particular, since the labor comes from around Cigondewah urban village itself. Initially, this sack business was purchased from a sugar factory which was then marketed to Kawarang and Banten. In 1976 experienced saturation, which then the local community shifted from the business of burlap sack to industrial waste (plastic bags and used cloth). In early 1997 the cigondewah area was able to serve as a fabric trading center. This center serves buyers who come from Bandung and sekitasrnya. Textile raw materials come from existing factories in the area, but some come from Jakarta through the port of Tanjung Priok. This area in RTRW Bandung is environmentally friendly industrial area. The development of this area provides a wide potential especially in its development as an area that has excellent products / specialization in coverage of tourism development plan of Bandung City. This research is a descriptive research study using a qualitative approach, which through this approach aims to provide an overview of the facts and phenomena that occur in the field. Based on the results of research analysis found the potential and characteristics of the area that supports the development of Cigondewah Area as Tourism Area Tesktil in Bandung. Related to infrastructure and environmental facilities found problems, among others: the availability of parking facilities and pedestrian paths are inadequate, the condition of the area that has not been set up optimally. The Cigondewah area was originally an agrarian area, and the region has been progressing towards the trading center of textile fabrics and industry since 1960-1976 which is marked by the burlap sack by the Keywords: Built Environment, Regional DevelopmentREFERENCESCreswell, J. W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mired. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Hadi, S. P. (2001). Manusia dan Lingkungan. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Jaya, I. (2007). Pengelolaan Lingkungan Kawasan Wisata Danau Lebo Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Universitas Diponegoro.Sudjarto, D. (1985). Diktat Kuliah Perencanaan Kota Baru. Bandung: ITB.Sugandhy, A. (1999). Penataan Ruang dalam Pengelolaan Lingkungan hidup. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.Undang-undang No. 9 tahun 1990. (1990). Undang-undang Republik Indonesia Nomo 9 tahun 1990.Wijaya, K., Setioko, B., & Murtini, T. W. (2015). Pengaruh Perubahan Fungsi Lingkungan Binaan terhadap Citra Kawasan Wisata Tekstil Cigondewah Kota Bandung. Jurnal Arsitektur Komposisi, 11(2), 67–75. Retrieved from ojs.uay.ac.id

ANALISIS ALIRAN ANGIN PADA ATAP MIRING MELALUI UJI SIMULASI FLOW DESIGN

Amri, Siti Belinda, Syukur, La Ode Abdul

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bidang penelitian tentang aliran angin pada bangunan sangat penting baik untuk perencanaan bangunan maupun pemukiman. Aliran angin yang mempengaruhi bangunan memiliki dampak pada ketahanan struktural terhadap angin. Penelitian dilakukan untuk mengetahui nilai drag coefficient atau gaya hambat terhadap angin yang dihasilkan pada atap miring dengan nilai sudut yang berbeda. Metode yang digunakan adalah dengan menguji model atap melalui simulasi CFD (Computational Fluid Dynamic) pada software Autodesk Flow Design. Hasil uji lima atap miring dengan nilai 0o, 15o, 30o, 45o, dan 60o menujukkan bahwa semakin besar sudut atap maka semakin besar luas bidang atap yang bersentuhan dengan aliran angin datang, hal ini sejalan dengan nilai average drag coefficient yang dihasilkan. Atap dengan sudut 60o memiliki luas bidang atap dan nilai average drag coefficient yang tertinggi diantara kelima sudut atap yang diuji, dengan nilai luas 72 m2 menghasilkan nilai average drag coefficient sebesar 1,4. Bangunan dengan nilai drag coefficient yang tinggi memiliki resiko kerusakan struktur yang tinggi akibat angin karena memiliki bentuk yang kurang aerodinamis.Kata-kata Kunci: aliran angin, atap miring, Flow Design, drag coefficient.ANALYSIS OF WIND FLOW PATTERN ON SLOPED ROOF USING FLOW DESIGN SIMULATIONThe field of research on wind flow on buildings is important for both building planning and planning a residential areas. Wind flow affecting the building has an impact on structural resistance to the wind. The study was conducted to find out the value of drag coefficient or drag force against the wind generated on the sloped roof with different angle values. The method applied by tested the roof model through CFD (Computational Fluid Dynamic) simulation through Autodesk Flow Design software. The test results of five sloped roofs with angle 0o, 15o, 30o, 45o, and 60o showed that the higher the angle of the roof, the larger the area of the roof in contact with the approaching wind flow. This is in line with the average drag coefficient value generated. The roof with an angle of 60o has a large roof area and the highest average drag coefficient among the five tested roof angles, with an area of 72 m2 yields and average drag coefficient of 1.4. Buildings with high drag coefficient value have a high risk of structural damage due to wind because it has a less aerodynamic shape.Keywords: wind flow, sloped roof, Flow Design, drag coefficient REFERENCESAutodeks Help (2015), Get Started With Autodesk Flow Design,  https://www.autodesk.com/products/flow-design/overview (diakses tanggal 5 November 2017)Bhandari NM, Krishna P. (2011) An Explanatory handbook on proposed IS- 875 (Part 3): Wind loads on buildings and structure. IITK-GSDMA Project on Building Codes.Boutet, T. (1987). Controlling Air Movement. New York: McGraw Hill.Chung, TJ., (2010), Computational Fluid Dynamic. Cambridge: Cambidge University Press.Driss, S., Driss, Z., & Kammoun, I. K. (2014). Impact of Shape of Obstacle Roof on the Turbulent Flow in a Wind Tunnel. American Journal of Energy Research, 90-98.Groat, Linda N., David Wang (2002), Architectural Research Methods, New York: John Wiley and Sons.Guirguis, N., El-Aziz, A. A., & Nassief, M. (2007). Study of wind effects on different buildings of pitched roofs. Desalination, 190–198.Lechner, N. (2007). Heating, Cooling, Lighting: Metode Desain untuk Arsitektur. Jakarta: Rajawali.Lippsmeier, G. (1997). Bangunan Tropis. Jakarta: Erlangga.Mujiasih, S., & Primadi S.T., (2014), Analisis Kejadian Puting Beliung Tanggal 11 Desember 2013 di Wilayah Denpasar Bagian Selatan–Bali, Prosiding Workhop Operasional Radar dan Satelit Cuaca, Jakarta: BMKG.Stathopoulos and B.A. Baskaran, (1996) “Computer simulation of wind environmental conditions around buildings”, Engineering Structures, 18(11), 876-885.Szokolay, N. V. (1980). Environmental Science Handbook. New York: Wiley.Tominaga, Y., Akabayashi, S., Kitahara, T., & Arinami, Y. (2015). Air flow around isolated gable-roof building with different roof pitches: Wind Tunnel experiments and CFD Simulation. Building and Environment, 204-213.

METODOLOGI PENILAIAN KUALITAS HUNIAN PASKA BENCANA SEBAGAI EVALUASI STRATEGI REKONSTRUKSI: ANALISIS FAKTUAL DAN PERSEPTUAL

Dewi Wulansari, Maria Ariadne, Wihardyanto, Dimas

LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Salah satu target utama dalam rekonstruksi paska bencana ialah tersedianya hunian bagi korban bencana yang kehilangan tempat tinggalnya. Dalam pengadaan hunian paska bencana terdapat berbagai macam strategi rekonstruksi. Pada penelitian ini dibahas mengenai kemungkinan menggunakan penilaian kualitas hunian sebagai alat untuk melakukan evaluasi terhadap strategi rekonstruksi. Metode penilaian kualitas hunian baik secara faktual maupun perseptual dipaparkan sebagai pengantar, kemudian disajikan perbandingan dari beberapa penelitian terdahulu mengenai kualitas hunian paska bencana. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa penilaian kualitas hunian paska bencana merupakan cara yang efektif untuk melakukan evaluasi terhadap strategi rekonstruksi. Penilaian kualitas hunian paska bencana itu sendiri dapat menggunakan pendekatan faktual, perseptional, maupun perpaduan keduanya, sesuai dengan obyek pengamatan yang dipilih.Kata-kata Kunci: kualitas hunian, paska bencana, analisis faktual, analisis perseptual SCORING METHOD OF THE QUALITY OF POST DISASTER HOUSING AS RECONSTRUCTION STRATEGY’S EVALUATION : FACTUAL AND PERCEPTUAL ANALYSIS APPROACHOne of post disaster recontruction’s main targets is providing proper housing for the victims who lost their homes. In post-disaster housing procurement there are various reconstruction strategies. This research discusses about ability to rate the quality of housing in evaluating the reconstruction strategy. Scoring method of the quality of housing, factually or perceptually, both are explained as preface. And then comparation of previous study about the quality of post disaster housing is discussed. From this research it learned that scoring of the quality of post disaster housing is an effective way to evaluate the reconstruction strategy. The scoring method of the quality of post disaster housing itself, can be seen from different approaches, the factual analysis approach, the perceptual analysis approach, or both, depends on the chosen study object.Keywords: quality of housing, post disaster, factual analysis, perceptual analysisREFERENCESAl-Hussaini, T. M., Seraj, S. M., Islam, M. K., Safiullah, A. M. M., Choudhury, J. R. (1999). A Methodology For Selection Of Post Disaster Shelter. H&H Dhaka99Batchelor, Victoria. (2011). Tarpaulins, transitional shelter or permanent houses : how does the shelter assistance provide affect the recovery of communities after disaster? Dissertation on Oxford Brookes UniversityCollins, Sam. Corsellis, Tom. Vitale, Antonella. (2010).Transitional Shelter: Understanding Shelter from The Emergency Through Reconstruction and Beyond. ALNAP. Diakses melalui www.sheltercenter.orgDola, K. and Parva, M. (2012). Transformation Of Earthquake Disaster Victims’ Shelter Into Sustainable Home: The Case Of Lar City, Iran. ALAM CIPTA, International Journal of Sustainable Tropical Design Research and Practice. Universiti Putra Malaysia. Volume 5 (2) December 2012Kamel, Nabil M. O. and Loukaitou-Sideris, Anastasia (2003). Residential Assistance and Recovery Following the Northridge Earthquake. Urban Studies, Vol. 41, No. 3, 533–562, March 2004.Kwanda, T., Rahardjo, J., Wardhani, M.K. (2001). Analisis Kepuasan Penghuni Perumahan Sederhana di Denpasar Berdasarkan Faktor Lokasi, Prasarana, Sarana, Kualitas Bangunan, Desain dan Harga. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 29, No. 2, Desember 2001: 117 – 125.Leon, E., Kelman, I., Kennedy, J., and Ashmore,J. (2009). Capacity Building Lessons From A Decade Of Transitional Settlement And Shelter. International Journal Of Strategic Property Management (2009) 13, 247–265Önder, D. E., Köseoğlu, E., Bġlen, Ö. (2010). The Effect Of User Participation In Satisfaction: Beyciler After-Earthquake Houses In Düzce. Itu A|ZPamungkas, H.B.E, Harianto, F. (2012). Analisis Kualitas Perumahan Mutiara Regency Sidoarjo. Jurnal IPTEK Vol 16 No.1 Mei 2012Ratnayake R.M.G.D., Rameezdeen, Raufdeen. (2008).Post Disaster Housing Reconstruction: Comparative Study Of Donor Driven Vs. Owner Driven Approach. International Conference on Building Education and Research (BEAR)Rini, Johanita Anggia. (2012). Evaluasi Penerapan Prinsip Tahan Gempa pada Renovasi atau Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa 2006 di Yogyakarta. Tesis Magister, Institut Teknologi Bandung.Saleh, Sakhrul Dachlan. (2010). Kajian Kualitas Bangunan Rumah Pondokan Terhadap Kenyamanan Huni Berdasarkan Persepsi Penghuni di Permukiman Sekitar Kampus Universitas Hasanuddin. Masters Thesis, Universitas Diponegoro.Samaddar, S., Okada, N. (2006). Participatory Approach for Post-Earthquake Reconstruction in the Villages of Kachchh, India. Annuals of Disas. Prev. Res. Inst., Kyoto Univ., No. 49 B, 2006