cover
Filter by Year
Jurnal Komunikasi
ISSN : 20851979     EISSN : 25282727
Jurnal Komunikasi (P-ISSN: 2085-1979 and E-ISSN: 2528-2727) http://journal.untar.ac.id/index.php/komunikasi/index is a national journal published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Jurnal Komunikasi are result from research and scientific studies conduct by academics and practitioners in communication field. Jurnal Komunikasi published twice a year. First volume will be publish on Juli and second volume on December. Articles published in Jurnal Komunikasi have been trough peer-review process by reviewer. Final decision of articles acceptance will be taken by editor team.
Articles
87
Articles
Petisi Indonesia untuk Dunia: Potret Globalisasi Gerakan Sosial Digital

Sanjaya, Andreas Ryan

Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Internet technology brought out about changes in human life. The apparent changes in this study lied in two respects. First, changes in the way citizens conduct social movements. Second, the internet reinforces the impact of globalization, so the issues raised by citizens are also a global issue. This study revealed a portrait of globalization in the digital social movement in Indonesia. The selected case is an online petition addressed to international parties for genocide in Myanmar. The analytical approach in this study used social semiotics. The three components analyzed were field of discourse, tenor of discourse, and mode of discourse. The result was a petitioner used international criminal issues, as well as provocative terms to reinforce the message in the text. Teknologi Internet membawa perubahan pada kehidupan manusia. Perubahan yang tampak dalam penelitian ini terletak pada dua hal. Pertama, perubahan pada cara warga melakukan pergerakan sosial. Kedua, internet menguatkan pengaruh globalisasi, maka isu-isu yang diangkat oleh warga juga merupakan isu global. Penelitian ini mengungkap potret globalisasi dalam gerakan sosial digital di Indonesia. Kasus yang dipilih adalah petisi online yang ditujukan kepada pihak internasional atas kasus genosida di Myanmar. Pendekatan analisis dalam penelitian ini menggunakan semiotika sosial. Tiga komponen yang dianalisis adalah medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Hasilnya adalah pembuat petisi menggunakan isu-isu kejahatan internasional, serta istilah-istilah provokatif untuk menguatkan pesan dalam teks.

Analisis Industri Kreatif Dalam Memanfaatkan Identitas Kota Melalui Media Baru

Rusdi, Farid, Sukendro, Gregorius Genep

Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Creative industry in Indonesia is growing rapidly cannot be separated from new media support. Utilization of new media by the creative industry attracts potential customers not only from domestic but also from abroad. They can get information about the creative industry through new media. The place where the creative industry is there is also a consideration for potential consumers in determining the choice. In this study aims to find out how the creative industry strategy communicates the attractiveness of the place where they are so that the interest of potential customers. This research will use marketing communication theory and new media. And in analyzing data obtained by researcher will use SOSTAC analysis. In addition to observation and literature study, researchers also conducted interviews with industry parties from two cities that are identical with the creative industries of Bandung and Yogyakarta, which has gained a reputation in overseas markets. From this research found that creative industry players have the potential to attract tourists, especially from abroad.  Industri kreatif di Indonesia berkembang pesat tidak bisa lepas dari dukungan media baru. Pemanfaatan media baru oleh industri kreatif menarik minat calon konsumen tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri. Mereka bisa mendapatkan informasi tentang industri kreatif melalui media baru. Tempat di mana industri kreatif itu ada juga menjadi pertimbangan bagi calon konsumen dalam menentukan pilihannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi industri kreatif mengkomunikasikan daya tarik tempat di mana mereka berada sehingga menjadi daya tarik minat calon konsumen. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi pemasaran dan media baru. Dan dalam menganalisis data yang diperoleh peneliti menggunakan analisis SOSTAC. Selain melakukan observasi dan studi pustaka, peneliti juga melakukan wawancara dengan pihak industri dari dua kota yang identik dengan industri kreatif yakni Bandung dan Yogyakarta yang sudah mendapat reputasi di pasar mancanegara. Dari penelitian ini ditemukan bahwa pelaku industri kreatif memiliki potensi untuk menarik minat wisatawan terutama dari luar negeri. 

Wacana Perbedaan Gender Dalam Artikel Pendidikan Seks Remaja (Analisis Wacana Kritis Artikel Seksualitas Majalah Hai Edisi 1995-2004)

Sokowati, Muria Endah

Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Adolescence is a social category considered as apolitical, hedonist, consumptive, and uncritical. They often become the object of socialization and education of morality from adult. Many social institutions, including the media have subjugated their desire in the name of sex education. Hai magazine-segmented its product for teenage boys-displayed sexual contents for sex education in its articles. In those articles, Hai magazine has presented information relating to dominant sexual norms. This paper focuses on how Hai magazine has built discourse of gender differences in its articles. Using critical discourse analysis, the researcher revealed the attempt of Hai magazine to construct the ideal relationship of teenage boys and girls. The construction cannot be separated from the politics of Hai magazine to accommodate the parents’ interest following sexual normative and conservative discourse. At the same time, Hai also supports sexual liberalism discourse, which becomes the part of media interest as cultural industry. As a result, Hai magazine has performed ambivalence idea of gender differences. The ambivalence is indicated from the idea of sexual attraction, the division of sexual roles, and emphatic strategy.   Remaja adalah kategori sosial yang bersifat apolitis, hedonis, konsumtif dan tidak kritis. Untuk itu remaja kerap menjadi objek sosialisasi dan edukasi soal moralitas oleh orang dewasa. Penundukan hasrat remaja atas nama pendidikan seks banyak dilakukan oleh berbagai institusi sosial, termasuk media. Majalah Hai sebagai majalah yang ditujukan untuk remaja laki-laki menampilkan konten-konten seks dengan tujuan edukasi seks di dalam artikel-artikelnya. Dalam artikel tersebut, majalah Hai menyajikan informasi yang berkaitan dengan norma seks yang dipahami oleh mayoritas masyarakat. Tulisan ini secara khusus memfokuskan pada bagaimana Hai membangun wacana tentang perbedaan gender yang terdapat dalam artikel-artikel seksualitas yang bertemakan relasi laki-laki dan perempuan. Lewat metode analisis wacana kritis, peneliti menyingkap adanya upaya majalah Hai untuk mengkontruksi relasi laki-laki dan perempuan yang dianggap ideal. Konstruksi tersebut tidak dilepaskan dari politik majalah Hai untuk mengakomodasi kepentingan orang tua yang menganut paham seksualitas yang normatif dan konservatif sekaligus mendukung paham liberalisme seksual yang menjadi bagian dari kepentingan media sebagai industri budaya. Akibatnya majalah Hai menampilkan gagasan perbedaan gender yang ambivalen. Ambivalensi tersebut terlihat dalam gagasan majalah Hai tentang daya tarik seksual, pembagian peran secara seksual dan strategi empati. 

Kendala-Kendala BKB (Bina Keluarga Balita) Holistik Integratif di Provinsi Sulawesi Utara

Wijayanti, Urip Tri

Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The development of early childhood needs to be done holistik integrative. The service activities cover the aspects of care, health and nutrition. All Of whice can be obtained through posyandu; Aspects of education through early childhood (early childhood education) and aspects of parenting through Bina Keluarga Balita (BKB) are carried out and applied in an integrated manner. Training and guidance for integrated integrative BKB cadres has been done. The question is, after the cadres get training and coaching whether they can do integration between early childhood and Posyandu or there are obstacles that they face.For that need to be done research, this research is a qualitative research with BKB cadres, PAUD cadres & Posyandu cadres and families who become members of BKB. The results of this study concluded that the obstacles in the implementation Holistik integrative BKB include: (1). Lack of commitment among relevant sectors and partners, so there are not willing to provide integrative services with BKB. (2) Low quality data that is hindering the development of the group BKB Integrative Holistik in the district / city(3). The low quality of cadres and PLKB, so an understanding of Integrative Holistik BKB still less so (4).The low awareness of parents to be active in the activities of BKB.  Pengembangan anak usia dini perlu dilakukan secara holistik integrative Kegiatan pelayanan yang dilakukan mencakup aspek perawatan, kesehatan dan gizi. Kesemuaya itu bisa didapat melalui posyandu; aspek pendidikan melalui PAUD (pendidikan anak usia dini) dan aspek pengasuhan melalui Bina Keluarga Balita (BKB) yang dilakukan dan diterapkan secara terpadu. Pelatihan dan pembinaan bagi kader-kader BKB Holistik integratif sudah dilakukan,menjadi pertanyaan kita, setelah para kader  mendapatkan pelatihan dan pembinaan apakah  mereka sudah bisa melakukan integrasi antara PAUD dan Posyandu atau ada kendala-kendala yang mereka hadapi.Untuk itu perlu dilakukan penelitian, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan informan Kader BKB, Kader PAUD & Kader Posyandu serta keluarga yang menjadi anggota BKB.Hasil penelitiannya antara lain (1).Rendahnya Komitmen antar sector terkait dan mitra kerja, sehingga masih ada yang belum mau memberikan pelayanan secara integrative dengan BKB. (2) Rendahnya Kualitas Data BKB sehingga menghambat pengembangan kelompok BKB Holistik Integratif di kabupaten/kota. (3). Rendahnya kualitas kader & PLKB, sehingga pemahaman tentang BKB Holistik integratif masih kurang sekali (4). Rendahnya kesadaran orangtua untuk aktif dalam kegiatan BKB.

Spotify: Aplikasi Music Streaming untuk Generasi Milenial

Netti, S Yollis Michdon, Irwansyah, Irwansyah

Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The large population in Indonesia has become a huge market for many products, including streaming music-based technology products, to reach the target audience of young people. One of the applications that is becoming a trend at the moment is Spotify. A streaming music platform that has many interesting features, and is widely used by millenial generation around the world, including in Indonesia to listen to music. This paper aims to explain clearly and detail about Spotify as the worlds largest streaming music platform, how the business model used by Spotify, how Spotify helps musicians to maximize their earnings, how Spotify can change the trend of listening to music from millennials and connoisseurs music around the world, what is the millennial reference for listening to music online, how millennial generation consumes music, history and streaming music technology trends, how Spotify prepares its technology to remain number one, how does music streaming in Spotify, what Just about the online advertising services from Spotify For Brands, how to implement Spotify ads for the brand and ad format used, what brand success stories have used Spotifys advertising services, and how Spotify helps the brand to reach millennials in effective, and how Spotify utilizes technology to be at the forefront of the moment. Jumlah penduduk yang besar di Indonesia menjadi pasar yang sangat besar bagi berbagai produk, termasuk di dalamnya produk teknologi berbasis musik streaming, untuk menjangkau target audience anak muda. Salah satu aplikasi yang sedang menjadi tren pada saat ini adalah Spotify. Sebuah platform musik streaming yang memiliki banyak fitur menarik, serta banyak digunakan oleh generasi milenial di seluruh dunia, termasuk di Indonesia untuk mendengarkan musik. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara jelas dan detail tentang Spotify sebagai sebuah platform musik streaming terbesar di dunia, bagaimana model bisnis yang digunakan oleh Spotify, bagaimana Spotify membantu para musisi di dalam memaksimalkan pendapatannya, bagaimana Spotify dapat mengubah trend mendengar musik dari para milenial maupun penikmat musik di seluruh dunia, apa yang menjadi acuan dari generasi milenial untuk mendengarkan musik secara online, bagaimana generasi milenial mengkonsumsi musik, sejarah dan tren teknologi musik streaming, bagaimana Spotify mempersiapkan teknologinya untuk tetap menjadi nomor satu,  bagaimana cara kerja music streaming di Spotify, apa saja layanan-layanan periklanan online dari Spotify For Brands, bagaimana implementasi iklan Spotify untuk brand dan format iklan yang digunakan, apa saja kisah sukses brand yang telah menggunakan layanan iklan dari Spotify, dan bagaimana Spotify membantu brand untuk dapat menjangkau generasi milenial secara efektif, dan bagaimana Spotify memanfaatkan teknologi untuk menjadi yang terdepan pada saat ini.

Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Dayak Dalam Menjaga Kerukunan Hidup Umat Beragama

Tamburian, H.H Daniel

Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research entitled Cross Cultural Communication Dayak Indigenous in Maintaining Harmony Interfaith Religious Life in Sanggau District West Kalimantan. The lives of people from different backgrounds are vulnerable to horizontal conflicts. The presence of immigrants from various tribes and religions in the Sanggau district figure has the potential to create a new conflict if it is not managed by a cultural approach by the local community. This research uses a qualitative approach and uses constructivist paradigm, where the source data obtained from in-depth interviews prioritizing the depth (quality) of the informants The purpose of this study is to describe intercultural communication of indigenous Dayak community with the immigrant community in Sanggau District Sanggau in maintaining the harmony of religious life . Dialogic communication is a factor that forms a harmonious relationship in a relation. The results of this study indicate that the Dayak community is very open to migrants and in solving their problems put forward a dialogical communication with their Dayak customary approach which is represented by the local Dayak Customary Council.  Penelitian ini berjudul Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Adat Dayak dalam Memelihara Kerukunan Hidup Antarumat Beragama di Kota Sosok Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Kehidupan masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda rentan terhadap konflik horizontal. Kehadiran para pendatang dari berbagai suku dan agama di kota Sosok Kabupaten Sanggau berpotensi melahirkan konflik baru bila tidak dikelola dengan pendekatan budaya oleh masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan paradigma konstruktivis, dimana sumber data diperoleh dari wawancara mendalam dengan mengutamakan kedalaman (kualitas) dari para informan Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan komunikasi antarbudaya masyarakat adat Dayak dengan masyarakat pendatang di Kota Sosok Kabupaten Sanggau dalam menjaga kerukunan hidup beragama. Komunikasi dialogis merupakan faktor yang membentuk hubungan yang harmonis dalam sebuah relasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat ada Dayak sangat terbuka dengan pendatang dan dalam menyelesaikan masalah mereka mengedepankan sebuah komunikasi yang dialogis dengan pendekatan adat Dayak mereka yang diwakili oleh Dewan Adat Dayak setempat.  

Perekrutan Praktisi Hubungan Masyarakat dalam Kajian Teori Feminis dan Velvet Ghetto

Simorangkir, Deborah N

Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

One main issue found in gender research studies on public relations is the small number of women who hold a leadership role. However, this fact does not only apply to the public relations inudstry, but almost all industries. The purpose of this article is to analyze the prblem within the recruitment process of PR practitioners from the point of view of the senior practitioners. In order to achieve this, focus group discussions were conducted with senior PR practitioners who are members of a PR professional association. Data gatheredwere analyzed from the perspective of feminist theories and The Velvet Ghetto. Based on the discussions, two conclusions were made. First, That the public relations profession is an ‘open profession’, which means that it should be open for, a) men and women, b) all ages, c) all backgrounds and disciplines. Second, that statistically and universally, a) PR education appears to be more attractive to women compared to men, b) overall, there are more female PR practitioners than males, however, c) at the senior, top management positions in large companies, beit national or international, male practitioners are dominant. The researcher concludes that there needs to be an attempt to increase the status of the PR profession in the society, and strive to achieve gender equity in reaching top management. The researcher suggests for colaborations to be held between three parties, namely: Higher education institutions, professional associations, and industries. Such colaborations can be in the form of mentorships between a beginner and a manager; career counselling; and workshops. Companies are also advised to establish policies, e.g. flextime, and offer facilities, e.g., daycares, that would enable women to pursue a career.    Salah satu pokok permasalahan yang ditemukan dalam studi gender humas adalah sedikitnya perempuan yang memegang peran kepemimpinan. Namun, fakta ini tidak semata-mata terjadi di industri humas, melainkan di hampir semua industri.Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisa permasalahan yang ada pada proses perekrutan praktisi hubungan masyarakat (humas) dalam sudut pandang praktisi senior. Untuk mencapai tujuan ini maka diadakan diskusi kelompok terarah dengan praktisi senior humas yang tergabung dalam sebuah asosiai profesi humas sebagai peserta. Data yang diperoleh dianalisa dari sudut pandang teori feminis dan velvet ghetto. Berdasarkan diskusi tersebut dapat diambil dua kesimpulan. Pertama, Bahwa profesi humas adalah ‘profesi terbuka’, yang berarti, a) baik pria dan perempuan, b) tanpa batasan usia, c) dari latar belakang dan disiplin apapun, tidak hanya komunikasi yang bisa memasuki profesi humas. Kedua, Bahwa secara statistik dan secara universal a) pendidikan humas lebih banyak memikat perempuan daripada laki-laki, b) perempuan praktisi humas jumlahnya melebihi praktisi pria, tetapi c) posisi-posisi senior, pada posisi top pada perusahaan-perusahaan besar, baik itu nasional atau internasional, didominasi oleh praktisi pria. Penulis menyimpulkan bahwa perlu adanya upaya untuk meningkatkan derajat profesi humas di mata masyarakat, dan juga mengupayakan agar adanya keseteraan gender dalam meniti karir humas sampai ke tingkat top management. Penulis mengusulkan adanya kerjasama antara tiga pihak yaitu instansi pendidikan tinggi, asosiasi profesi, dan industri. Kerjasama tersebut dapat berupa mentorship antara praktisi pemula dengan praktisi manager; konseling karir; dan loka karya. Perusahaan juga dihimbau untuk memberlakukan kebijakan yang memudahkan perempuan untuk berkarir, seperti flextime dan pengadaan penitipan anak (daycare).

Konstruksi Makna Kandidat Politik Dalam Pemilu Kepala Daerah Bagi Masyarakat Kota Bandung (Perspektif Komunikasi Politik)

ARIADNE, EVIE

Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bandung is the first city in Indonesia who respond to the decision of the Constitutional Court (MK), which allows candidates for district heads to be submitted individually not proposed by political parties and its implemented already in May 2008 elections. In the next period, candidates from individual lines are increasingly showing their enthusiasm, It can be seen in Bandung Mayor Elections in 2013 where four of the eight candidates who volunteered came from the individual path. The high enthusiasm of the Bandung community towards the nomination of regional heads from individual channels is an interesting phenomenon to be studied, especially from the voters’s point of view.This study aims to investigate how Bandung people interpret and construct the meaning of perseorangant candidates and how they construct the comparison between perseorangant candidates and party representative candidates in the perspective of political communication. Method used in this study is phenomenological method by conducting in-depth interview with 20 active voters from different occupation and education background in Bandung. The result indicates that informants interpret the existence of perseorangant candidates as the manifestation of genuine democracy, which based on the equality of rights and obligations of Indonesian people wherein civil people are able and allowed to nominate themselves as the district leader without have to join a political party. Moreover, being a party representative or an perseorangant one is not the primary consideration for the informants in determining their choice during the election. Informants emphasize that the worthiness of a leader shown by his characters, track record, achievements, and his social approach, not merely a party representative or perseorangant one.  Kota Bandung tercatat sebagai kota pertama di Indonesia yang pada Pemilu Walikota tahun 2008 mengimplementasikan hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membolehkan calon kepala daerah diajukan secara perseorangan (bukan diajukan oleh partai politik). Pada periode berikutnya, calon dari jalur perseorangan makin menunjukkan antusiasmenya, hal ini terlihat pada Pemilu Walikota Bandung tahun 2013 dimana empat dari delapan calon yang mengajukan diri berasal dari jalur perseorangan. Antusiasme masyarakat kota Bandung yang tinggi terhadap pencalonan kepala daerah dari jalur perseorangan merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji, khususnya dari sudut pandang pemilih. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana masyarakat mengkonstruksi makna calon dari jalur perseorangan dan calon dari partai politik dengan menggunakan perspektif komunikasi politik. Penelitian ini menerapkan metode fenomenologi dengan melakukan wawancara mendalam terhadap 10 pemilih aktif di kota Bandung dari berbagai latar belakang pekerjaan dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan memaknai keberadaan calon dari jalur perseorangan sebagai bentuk perwujudan demokrasi yang berlandaskan pada prinsip kesamaan hak dan kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia, dimana seseorang bisa mencalonkan dirinya sebagai calon kepala daerah tanpa harus menjadi bagian atau kader dari partai politik tertentu. Selain itu, informan juga memaknai pencalonan dari jalur perseorangan maupun dari jalur partai bukanlah faktor yang signifikan bagi mereka dalam menentukan pilihan. Informan memandang bahwa faktor utama penentu layak atau tidaknya seseorang dipilih menjadi kepala daerah adalah karakter, prestasi dan pendekatannya terhadap masyarakat, bukan dari soal dari jalur pencalonan mana dia berasal. 

Diseminasi Informasi Terkait Pariwisata Berwawasan Lingkungan dan Budaya Guna Meningkatkan Daya Tarik Wisatawan (Studi pada Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat)

Setyanto, Yugih, Winduwati, Septia

Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tourism is a huge potential owned by the regions in Indonesia. Many areas in Indonesia that actually has an interesting potential to be developed into tourism object. In order for the potential to have a selling power that attracts potential tourists to come should be disseminated information about the object. The process of information dissemination is adjusted to various things such as the intended audience and what potentials need to be known by the audience. Therefore, each local government has the authority in developing and promoting tourism potential that exists. The local government seeks the promotion of regional tourism potentials through dissemination of information to the public. Roles and functions are carried out so that the potential of tourism areas that are environmentally and culturally relevant tourism can be maximally known by the public and increase the attractiveness of tourists, especially domestic and foreign tourists. Penelitian ini merupakan studi terkait upaya diseminasi informasi di bidang komunikasi pariwisata. Pariwisata merupakan potensi yang sangat besar dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia. Banyak daerah di Indonesia yang sebenarnya memiliki potensi yang menarik untuk dikembangkan menjadi objek pariwisata. Agar potensi tersebut memiliki daya jual yang menarik minat calon wisatawan untuk datang harus dilakukan penyebaran informasi mengenai objek tersebut. Proses diseminasi informasi disesuaikan berbagai hal misalnya khalayak yang dituju dan potensi apa yang perlu diketahui oleh khalayak. Oleh sebab itu, masing-masing pemerintah daerah memiliki otoritas dalam mengembangkan serta mempromosikan potensi wisata yang ada. Pemda mengupayakan promosi potensi wisata daerah melalui diseminasi informasi ke publik. Peran dan fungsi tersebut dilakukan sehingga potensi wisata daerah yakni pariwisata yang berwawasan lingkungan dan budaya bisa secara maksimal dikenal oleh masyarakat dan meningkatkan daya tarik wisatawan, khususnya turis dalam dan luar negeri. 

Kendala Struktural dan Kultural Praktek Keterbukaan Informasi Publik di Badan Publik Non-Pemerintah : Studi Kasus PSSI

PRASTYA, NARAYANA MAHENDRA

Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This article discuss about case study on how Indonesian Football Association (Indonesian FA) give their respond to do the Public Information Disclosure. Indonesian FA than express their objection to the demand. Indonesian FA choose as the object in this case, as a representative of non-governmental public organization. This article use Indonesian FA statement related to the Public Information Disclosure, that posted on official website www.pssi.org. Then I use frame analysis Robert N.Entman model as a analytical tool to the statement. The results show that there are two factors that cause Indonesian FA objection. First is structural factor that came from the Indonesian Public Disclosure Act and Act related to the management of football federation. The second is cultural factor that non-governmental public organization in Indonesia, in general, not accustomed to public disclosure obligation.  Tulisan ini mengambil studi kasus bagaimana Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia merespon tuntutan untuk Keterbukaan Informasi Publik. Keputusan Komisi Informasi Pusat (KI Pusat) bahwa PSSI harus menerapkan praktek Keterbukaan Informasi Publik mendapatkan keberatan dari pihak PSSI. Permasalahan pun berbuntut panjang hingga sampai di persidangan tingkat Mahkamah Agung. PSSI dipilih sebagai objek penelitian guna mengkaji bagaimana badan publik non-pemerintah memahami Keterbkaan Informasi Publik. Data dalam tulisan ini menggunakan pernyataan-pernyataan yang disampaikan PSSI melalui website www.pssi.org berkaitan dengan keputusan KI Pusat. Pernyataan tersebut kemudian dianalisis menggunakan framing model Robert N.Entman. Analisis menunjukkan terdapat kendala struktural dan kultural. Faktor struktural datang dari peraturan yang berkaitan dengan PSSI dan peraturan di UU KIP itu sendiri. Sedangkan faktor kultural berkaitan dengan kondisi badan publik non-pemerintah yang tidak terbiasa menghadapi tuntutan keterbukaan informasi.