cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkomunikasi.untar@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Komunikasi
ISSN : 20851979     EISSN : 25282727     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Komunikasi (P-ISSN: 2085-1979 and E-ISSN: 2528-2727) http://journal.untar.ac.id/index.php/komunikasi/index is a national journal published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Jurnal Komunikasi are result from research and scientific studies conduct by academics and practitioners in communication field. Jurnal Komunikasi published twice a year. First volume will be publish on Juli and second volume on December. Articles published in Jurnal Komunikasi have been trough peer-review process by reviewer. Final decision of articles acceptance will be taken by editor team.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi" : 8 Documents clear
Perekrutan Praktisi Hubungan Masyarakat dalam Kajian Teori Feminis dan Velvet Ghetto Simorangkir, Deborah N
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One main issue found in gender research studies on public relations is the small number of women who hold a leadership role. However, this fact does not only apply to the public relations inudstry, but almost all industries. The purpose of this article is to analyze the prblem within the recruitment process of PR practitioners from the point of view of the senior practitioners. In order to achieve this, focus group discussions were conducted with senior PR practitioners who are members of a PR professional association. Data gatheredwere analyzed from the perspective of feminist theories and The Velvet Ghetto. Based on the discussions, two conclusions were made. First, That the public relations profession is an ‘open profession’, which means that it should be open for, a) men and women, b) all ages, c) all backgrounds and disciplines. Second, that statistically and universally, a) PR education appears to be more attractive to women compared to men, b) overall, there are more female PR practitioners than males, however, c) at the senior, top management positions in large companies, beit national or international, male practitioners are dominant. The researcher concludes that there needs to be an attempt to increase the status of the PR profession in the society, and strive to achieve gender equity in reaching top management. The researcher suggests for colaborations to be held between three parties, namely: Higher education institutions, professional associations, and industries. Such colaborations can be in the form of mentorships between a beginner and a manager; career counselling; and workshops. Companies are also advised to establish policies, e.g. flextime, and offer facilities, e.g., daycares, that would enable women to pursue a career.    Salah satu pokok permasalahan yang ditemukan dalam studi gender humas adalah sedikitnya perempuan yang memegang peran kepemimpinan. Namun, fakta ini tidak semata-mata terjadi di industri humas, melainkan di hampir semua industri.Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisa permasalahan yang ada pada proses perekrutan praktisi hubungan masyarakat (humas) dalam sudut pandang praktisi senior. Untuk mencapai tujuan ini maka diadakan diskusi kelompok terarah dengan praktisi senior humas yang tergabung dalam sebuah asosiai profesi humas sebagai peserta. Data yang diperoleh dianalisa dari sudut pandang teori feminis dan velvet ghetto. Berdasarkan diskusi tersebut dapat diambil dua kesimpulan. Pertama, Bahwa profesi humas adalah ‘profesi terbuka’, yang berarti, a) baik pria dan perempuan, b) tanpa batasan usia, c) dari latar belakang dan disiplin apapun, tidak hanya komunikasi yang bisa memasuki profesi humas. Kedua, Bahwa secara statistik dan secara universal a) pendidikan humas lebih banyak memikat perempuan daripada laki-laki, b) perempuan praktisi humas jumlahnya melebihi praktisi pria, tetapi c) posisi-posisi senior, pada posisi top pada perusahaan-perusahaan besar, baik itu nasional atau internasional, didominasi oleh praktisi pria. Penulis menyimpulkan bahwa perlu adanya upaya untuk meningkatkan derajat profesi humas di mata masyarakat, dan juga mengupayakan agar adanya keseteraan gender dalam meniti karir humas sampai ke tingkat top management. Penulis mengusulkan adanya kerjasama antara tiga pihak yaitu instansi pendidikan tinggi, asosiasi profesi, dan industri. Kerjasama tersebut dapat berupa mentorship antara praktisi pemula dengan praktisi manager; konseling karir; dan loka karya. Perusahaan juga dihimbau untuk memberlakukan kebijakan yang memudahkan perempuan untuk berkarir, seperti flextime dan pengadaan penitipan anak (daycare).
Konstruksi Makna Kandidat Politik Dalam Pemilu Kepala Daerah Bagi Masyarakat Kota Bandung (Perspektif Komunikasi Politik) ARIADNE, EVIE
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bandung is the first city in Indonesia who respond to the decision of the Constitutional Court (MK), which allows candidates for district heads to be submitted individually not proposed by political parties and its implemented already in May 2008 elections. In the next period, candidates from individual lines are increasingly showing their enthusiasm, It can be seen in Bandung Mayor Elections in 2013 where four of the eight candidates who volunteered came from the individual path. The high enthusiasm of the Bandung community towards the nomination of regional heads from individual channels is an interesting phenomenon to be studied, especially from the voters’s point of view.This study aims to investigate how Bandung people interpret and construct the meaning of perseorangant candidates and how they construct the comparison between perseorangant candidates and party representative candidates in the perspective of political communication. Method used in this study is phenomenological method by conducting in-depth interview with 20 active voters from different occupation and education background in Bandung. The result indicates that informants interpret the existence of perseorangant candidates as the manifestation of genuine democracy, which based on the equality of rights and obligations of Indonesian people wherein civil people are able and allowed to nominate themselves as the district leader without have to join a political party. Moreover, being a party representative or an perseorangant one is not the primary consideration for the informants in determining their choice during the election. Informants emphasize that the worthiness of a leader shown by his characters, track record, achievements, and his social approach, not merely a party representative or perseorangant one.  Kota Bandung tercatat sebagai kota pertama di Indonesia yang pada Pemilu Walikota tahun 2008 mengimplementasikan hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membolehkan calon kepala daerah diajukan secara perseorangan (bukan diajukan oleh partai politik). Pada periode berikutnya, calon dari jalur perseorangan makin menunjukkan antusiasmenya, hal ini terlihat pada Pemilu Walikota Bandung tahun 2013 dimana empat dari delapan calon yang mengajukan diri berasal dari jalur perseorangan. Antusiasme masyarakat kota Bandung yang tinggi terhadap pencalonan kepala daerah dari jalur perseorangan merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji, khususnya dari sudut pandang pemilih. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana masyarakat mengkonstruksi makna calon dari jalur perseorangan dan calon dari partai politik dengan menggunakan perspektif komunikasi politik. Penelitian ini menerapkan metode fenomenologi dengan melakukan wawancara mendalam terhadap 10 pemilih aktif di kota Bandung dari berbagai latar belakang pekerjaan dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan memaknai keberadaan calon dari jalur perseorangan sebagai bentuk perwujudan demokrasi yang berlandaskan pada prinsip kesamaan hak dan kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia, dimana seseorang bisa mencalonkan dirinya sebagai calon kepala daerah tanpa harus menjadi bagian atau kader dari partai politik tertentu. Selain itu, informan juga memaknai pencalonan dari jalur perseorangan maupun dari jalur partai bukanlah faktor yang signifikan bagi mereka dalam menentukan pilihan. Informan memandang bahwa faktor utama penentu layak atau tidaknya seseorang dipilih menjadi kepala daerah adalah karakter, prestasi dan pendekatannya terhadap masyarakat, bukan dari soal dari jalur pencalonan mana dia berasal. 
Diseminasi Informasi Terkait Pariwisata Berwawasan Lingkungan dan Budaya Guna Meningkatkan Daya Tarik Wisatawan (Studi pada Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat) Setyanto, Yugih; Winduwati, Septia
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tourism is a huge potential owned by the regions in Indonesia. Many areas in Indonesia that actually has an interesting potential to be developed into tourism object. In order for the potential to have a selling power that attracts potential tourists to come should be disseminated information about the object. The process of information dissemination is adjusted to various things such as the intended audience and what potentials need to be known by the audience. Therefore, each local government has the authority in developing and promoting tourism potential that exists. The local government seeks the promotion of regional tourism potentials through dissemination of information to the public. Roles and functions are carried out so that the potential of tourism areas that are environmentally and culturally relevant tourism can be maximally known by the public and increase the attractiveness of tourists, especially domestic and foreign tourists. Penelitian ini merupakan studi terkait upaya diseminasi informasi di bidang komunikasi pariwisata. Pariwisata merupakan potensi yang sangat besar dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia. Banyak daerah di Indonesia yang sebenarnya memiliki potensi yang menarik untuk dikembangkan menjadi objek pariwisata. Agar potensi tersebut memiliki daya jual yang menarik minat calon wisatawan untuk datang harus dilakukan penyebaran informasi mengenai objek tersebut. Proses diseminasi informasi disesuaikan berbagai hal misalnya khalayak yang dituju dan potensi apa yang perlu diketahui oleh khalayak. Oleh sebab itu, masing-masing pemerintah daerah memiliki otoritas dalam mengembangkan serta mempromosikan potensi wisata yang ada. Pemda mengupayakan promosi potensi wisata daerah melalui diseminasi informasi ke publik. Peran dan fungsi tersebut dilakukan sehingga potensi wisata daerah yakni pariwisata yang berwawasan lingkungan dan budaya bisa secara maksimal dikenal oleh masyarakat dan meningkatkan daya tarik wisatawan, khususnya turis dalam dan luar negeri. 
Kendala Struktural dan Kultural Praktek Keterbukaan Informasi Publik di Badan Publik Non-Pemerintah : Studi Kasus PSSI PRASTYA, NARAYANA MAHENDRA
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discuss about case study on how Indonesian Football Association (Indonesian FA) give their respond to do the Public Information Disclosure. Indonesian FA than express their objection to the demand. Indonesian FA choose as the object in this case, as a representative of non-governmental public organization. This article use Indonesian FA statement related to the Public Information Disclosure, that posted on official website www.pssi.org. Then I use frame analysis Robert N.Entman model as a analytical tool to the statement. The results show that there are two factors that cause Indonesian FA objection. First is structural factor that came from the Indonesian Public Disclosure Act and Act related to the management of football federation. The second is cultural factor that non-governmental public organization in Indonesia, in general, not accustomed to public disclosure obligation.  Tulisan ini mengambil studi kasus bagaimana Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia merespon tuntutan untuk Keterbukaan Informasi Publik. Keputusan Komisi Informasi Pusat (KI Pusat) bahwa PSSI harus menerapkan praktek Keterbukaan Informasi Publik mendapatkan keberatan dari pihak PSSI. Permasalahan pun berbuntut panjang hingga sampai di persidangan tingkat Mahkamah Agung. PSSI dipilih sebagai objek penelitian guna mengkaji bagaimana badan publik non-pemerintah memahami Keterbkaan Informasi Publik. Data dalam tulisan ini menggunakan pernyataan-pernyataan yang disampaikan PSSI melalui website www.pssi.org berkaitan dengan keputusan KI Pusat. Pernyataan tersebut kemudian dianalisis menggunakan framing model Robert N.Entman. Analisis menunjukkan terdapat kendala struktural dan kultural. Faktor struktural datang dari peraturan yang berkaitan dengan PSSI dan peraturan di UU KIP itu sendiri. Sedangkan faktor kultural berkaitan dengan kondisi badan publik non-pemerintah yang tidak terbiasa menghadapi tuntutan keterbukaan informasi.
Studi Resepsi Mahasiswa Broadcasting Universitas Mercu Buana Pada Film Journalism “Kill The Messenger” Ahmad Toni, Ahmad; Fajariko, Dwi
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study seeks to reveal receptions university student broadcasting beacon globe on film journalism. The purpose of this study to determine the meaning construction contents journalism-themed films through the movie shows them. The relations of meaning to the theme of movies they watch give you an idea about their opinions on the meanings contained in the movie scene. This study uses analysis reception Stuart Hall stated on the three main elements of meaning that is, the dominant meaning, the opposition of meaning and significance negotiations conducted by the subject studied. Construction of meaning built by the subject of research conducted with data triangulation technique, namely written questionnaires, interviews and discussions after watching the film so we get a more comprehensive picture of signification. The results showed that there are different meanings in one scene to scene ten dominated the meaning opposition to the meanings that awakened nature did the film. Next is the meaning of meaning on meaning construction negotiations in the tenth scene. Meaning become dominant meaning that does not give meaning to the subject of study of journalism movie theme. Penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan resepsi mahasiswa broadcasting universitas mercu buana pada film jurnalistik, tujuan penelitian ini untuk mengetahui konstruksi makna isi film bertema journalism melalui tayangan film yang ditonton mereka, relasi pemaknaan dengan tema film yang mereka tonton memberikan gambaran tentang pendapat mereka pada makna-makna yang terdapat di dalam scene film. Penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi Stuart Hall yang dinyatakan pada tiga elemen utama pemaknaan yakni, dominan makna, oposisi makna dan negosiasi makna yang dilakukan oleh subjek yang diteliti, konstruksi makna yang dibangun oleh subjek penelitian dilakukan dengan teknik triangulasi data, yakni daftar pertanyaan tertulis, wawancara dan diskusi setelah menonton film sehingga didapatkan gambaran pemaknaan yang lebih menyeluruh. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan pemaknaan pada scene satu hingga scene sepuluh yang didominasi pada pemaknaan opisisi terhadap makna-makna yang terbangun did alam film, pemaknaan berikutnya ialah pemaknaan negosiasi terhadap makna yang dibanun di dalam kesepuluh scene, pemaknaan dominan menjadi pemaknaan yang tidak memberikan arti kepada subjek penelitian terhadap tema film journalism.
Nilai Eksklusivitas Dalam Karya Foto Cover Majalah Tempo Edisi 4351 Tentang Kasus Bom Sarinah 2016 Tanjung, Yohanes Christiansen; Marta, Rustono Farady
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Visualization towards a news which is not limited on animation or photographic works in electronic media, online, and printed media has purposively been as additional information and becomes a complement of news. Particularly in spot news of the photojournalism works, every occurrence happens quite quickly. Due to photography, every moment can be recorded and well documented, as well as providing answers to what is actually happening on a rapid occurrence. One example is the use of photographs on a printed media, namely Tempo. This Research aims to observe hidden meaning in the works of photojournalism on the cover of Tempo magazine 4351 edition wether it is objective or subjective meaning that be received by the public after seeing the photo on the cover. The method used is descriptive qualitative method by conducting analysis of Peirce semiotics on the cover photo of Tempo magazine issue of 4351. Based on the research which has been done, it can be concluded that the application of visualization conducted by Tempo referred to the works of photojournalism in the cover of Tempo magazine issue of 4351 created exclusivity both in objective and subjective meaning Visualisasi pada suatu pemberitaan baik itu animasi maupun karya foto dalam media elektronik, online, dan pastinya media cetak, mempunyai tujuan sebagai informasi tambahan serta pemanis suatu berita. Khususnya pada karya foto jurnalistik spot news, setiap peristiwa yang terjadi dengan sangat cepat. Oleh karena fotografi, setiap kejadian dapat direkam dan didokumentasikan dengan baik, serta memberikan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi pada suatu peristiwa yang berlangsung dengan cepat. Salah satu contohnya adalah pemakaian karya foto pada sebuah cover media cetak, yaitu Tempo. Penelitian bertujuan untuk mengetahui makna yang tersembunyi dalam karya foto jurnalistik pada cover majalah Tempo edisi 4351 baik berupa makna obyektif maupun subyektif yang diterima publik setelah melihat foto pada cover tersebut. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif deskriptif dengan melakukan analisis semiotika Peirce pada foto cover majalah Tempo edisi 4351. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan visualisasi yang dilakukan oleh Tempo mengacu pada karya foto jurnalistik dalam cover majalah Tempo edisi 4351 menciptakan nilai eksklusivitas baik itu dalam makna obyektif maupun subyektif.
Kognisi Sosial Melalui Situs Jejaring Youtube Pada Komunitas Online (Studi Kasus pada Komunitas Online LinkPictureID) Ayuningtyas, Fitria; Abdullah, Ahmad Zakki
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Video portal known as Youtube has become one of the alternative broadcasting channels. As the Internet usage is increasing the use of visual form becomes a public space. A YouTuber, a popular slang for video producer on youtube has formed a style of its own, in which there are some interesting research studies, especially in the establishment of reality and social cognition. Videos that teached the perspective and expression of opinion is an example of how the youtuber shapes reality to the audience. This video was varied, ranging from animation, social experiment up to the high-level animation. Social cognition is becoming prominance, that the audience use video logic as a basis for understanding the various things in surrounding environment. However, the capacity and the youtuber background are very wide - range as they have no common standard to their profession as videographer. The aim of this study is an effort to observe how Youtube users see the social situation as a cognitive ability form the use of video. This study used theory about social cognition, social media and youtube. This study used qualitative method. The result of this study is an interaction between users and creators create a whole different kind of dialogue, given in this era of communication technology they are none other than Prosumen (producer-consumer). The rapid reproduction of this message is very dynamic, especially responding to social circumstances. This study focuses on an active online community focusing on the interaction CMC via youtube video portals as the establishment of social cognition.The conclusion this study was social cognition thru youtube give us new perspective that we can get creative as well as possible to be able to work freely. In this study, the community used youtube as reference and benchmark. In this case, LinkPicture ID community well understand about “upgrade” concept that required to speed up in taking a decision based on the dynamics that happened. Portal video Youtube telah menjadi salah satu saluran penyiaran alternatif. Penggunaan internet yang semakin meningkat membentuk sebuah ruang penggunaan visual yang bebas. Youtuber, sebutan untuk para produsen video di youtube telah membentuk sebuah nuansa tersendiri, didalamnya terdapat beberapa kajian kajian menarik terutama di pembentukan realita dan kognisi sosial. Video-video yang mengajarkan cara pandang dan pengungkapan opini maupun pendapat adalah contoh bagaimana para youtuber membentuk realita terhadap penontonnya. Kognisi sosial dalam pandangan ini sangatlah penting mengingat bahwa para penonton menggunakan logika video tersebut sebagai dasar dalam memahami berbagai hal disekitar lingkungannya. Namun demikian kapasitas maupun latar belakang para youtuber ini sangat bermacam–macam mengingat mereka tidak memiliki standard umum terhadap profesi mereka sebagai videografis. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana pengguna youtube melihat keadaan sosial sebagai kemampuan koginitif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kognisi sosial, situs jaringan sosial, dan youtube. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun hasil dari penelitian ini adalah interaksi antar pengguna dan pembuat video merupakan interaksi yang sangat berbeda, mengingat di era teknologi komunikasi ini mereka tidak lain dari produsen-konsumen. Pesatnya reproduksi pesan ini sangatlah dinamis terutama menanggapi keadaan sosial. Penelitian ini memfokuskan diri pada sebuah komunitas online yang aktif dan mengutamakan interaksi CMC lewat portal video youtube sebagai pembentukan kognisi sosial. Kesimpulan kognisi sosial melalui youtube memberikan pandangan bahwa kita bisa berkreasi sebaik mungkin untuk bisa berkarya secara bebas. Adapun penggunaan youtube sebagai sebagai referensi dan pembanding. Dalam hal ini, komunitas LinkPictureID paham dengan konsep “upgrade” dimana diperlukan sebuah kecepatan dalam mengambil keputusan berdasarkan dinamika yang terjadi.
Kontribusi Penggunaan Personal Selling Dalam Kegiatan Komunikasi Pemasaran Pada Era Pemasaran Masa Kini Kusniadji, Suherman
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In today’s marketing era, consumers seem to have known about marketed products and no longer need explanation from a salesperson. The interaction between company and target consumers can be marketed through new media such as email, Facebook, WA, Instagram, and other forms. Such situations need to be in-depth researched in terms of whether personal selling contribution is still needed in marketing communication activities. Considering the uniqueness and personal selling advantages turns out that personal selling is an important partner that can not be replaced by other forms of marketing communications even if there is exposure to new media to promote products. The specialty of personal selling lies in its ability to interact directly to improvise the sales process through person to person communication. Dalam era pemasaran masa kini nampaknya konsumen dianggap sudah mengetahui tentang produk yang dipasarkan dan tidak memerlukan lagi penjelasan dari seorang wiraniaga. Interaksi perusahaan dengan pembeli sasaran dapat dilakukan melalui media baru seperti email, facebook, WA, instagram dan bentuk lainnya. Situasi demikianlah yang memerlukan kajian mendalam dalam kaitannya apakah kontribusi personal selling masih dibutuhkan dalam kegiatan komunikasi pemasaran.  Memperhatikan keunikan dan kelebihan personal selling ternyata personal selling merupakan mitra penting yang tidak dapat tergantikan oleh bentuk komunikasi pemasaran lainnya sekalipun ada terpaan media baru untuk mempromosikan produk. Keistimewaan personal selling terletak pada kemampuan nya untuk berinteraksi secara langsung untuk mengimprovisasi proses penjualan melalui komunikasi person to person.

Page 1 of 1 | Total Record : 8