cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019" : 15 Documents clear
DISCRIMINATION TOWARDS AFRICAN-AMERICAN WOMEN AS PORTRAYED IN HIDDEN FIGURES FILM Haryanti, Regzi Sri; Kuncara, Singgih Daru; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2259

Abstract

This research analyzed the discrimination issue that happened in Hidden Figures film. The discrimination in the film mostly happened to three main characters in the film, Dorothy Vaughan, Mary Jackson and Kathrine Goble. The purposes of this study are to reveal and explain the types of discrimination that happened to these three African-American women and to understand their responses against it. The researcher used mimetic approach and descriptive qualitative method in this research. The data in this research derived from utterances, actions, and explanation of a situation that has relation to the research questions. Based on the analysis, the researcher found that there were only race/color discrimination and gender discrimination that happened in the story. The discrimination in this film was done by white people against African-American people. The analysis also showed that at first, the victims responded to the discrimination by withdrawal, followed by resign acceptance, and ended by verbal confrontation. In the film, the analysis shows that after verbal confrontation, white people no longer discriminated African-American people for their race or gender. Penelitian ini menganalisis masalah diskriminasi yang terjadi di dalam film Hidden Figures. Diskriminasi di dalam film ini, sebagian besar terjadi kepada tiga karakter utama dalam film yaitu, Dorothy Vaughan, Mary Jackson dan Kathrine Goble. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan menjelaskan jenis-jenis diskriminasi apa saja yang terjadi kepada ketiga wanita Afrika-Amerika tersebut dan untuk memahami tanggapan mereka terhadap diskriminasi tersebut. Peneliti menggunakan pendekatan mimetik dan metode deskriptif kualitatif untuk melaksanakan penelitian ini. Data di dalam penelitian ini berasal dari ujaran, tindakan, dan deskripsi akan situasi yang berkaitan dengan rumusan masalah. Berdasarkan hasil analisis, peneliti menemukan bahwa hanya terdapat diskriminasi ras / warna kulit dan diskriminasi jenis kelamin yang terjadi dalam film. Diskriminasi di dalam film ini dilakukan oleh orang kulit putih terhadap orang-orang Afrika-Amerika. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa pada awalnya, para korban menanggapi diskriminasi dengan cara menghindari situasi, lalu diikuti dengan penerimaan terhadap diskriminasi, dan diakhiri dengan konfrontasi secara lisan. Di dalam film tersebut, hasil analisis menunjukkan bahwa setelah konfrontasi secara lisan, orang kulit putih tidak lagi membeda-bedakan orang Afrika-Amerika berdasarkan ras atau jenis kelamin mereka.
APHASIA IN THEORY OF EVERYTHING’S MOVIE Tampubolon, Wahyu Alexander; Natsir, M.; Setyowati, Ririn
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2420

Abstract

Theory of Everything?s Movie was analyzed in this study because it was based on a true story and also lots of lessons in life would be found in it. To support the analysis of the main character?s utterance in this movie, the writer used the theory of language disorder by Vasic. This study aimed to find the type of aphasia experienced by Stephen and how aphasia influence Stephen?s life. The method used by the writer is descriptive qualitative. The data of this study were analyzed by using Vasic?s theory about language disorder and the influence of aphasia by Windsor. In the process of analyzing all of those data, the writer had some procedures that include watching the movie several times, reading the movie script, then analyzing Stephen?s utterances related to aphasia. The result of this study showed that Broca?s aphasia and Wernicke?s aphasia occurred. Stephen has a brain injury in the left hemisphere. So, Stephen has a problem with his speech. Stephen was not able to speak clearly because of the disease, but his intelligence is still well. Aphasia changed Stephen?s life a lot. He cannot move as usual so that, he just sits on his electric wheelchair. Also, Aphasia makes people underestimate him. Aphasia makes Stephen difficult to speak so that, Stephen experienced communication disorder. The writer hoped that this research could help the next researcher to continue the analysis from the same movie with another theory of the linguistic case. The writer wished this research will enrich knowledge about language disorder especially aphasia. Film Theory of Everything dianalisis dalam penelitian ini karena didasarkan pada kisah nyata dan banyak pelajaran dalam kehidupan akan ditemukan di dalamnya. Untuk mendukung analisis ucapan karakter utama dalam film ini, penulis menggunakan teori gangguan bahasa oleh Vasic. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jenis afasia yang dialami oleh Stephen dan bagaimana afasia mempengaruhi kehidupan Stephen. Metode yang digunakan oleh penulis adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori Vasic tentang gangguan bahasa dan pengaruh afasia oleh Windsor. Dalam proses menganalisis semua data itu, penulis memiliki beberapa prosedur yang meliputi menonton film beberapa kali, membaca skrip film, kemudian menganalisis ucapan Stephen terkait dengan afasia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa afasia broca dan afasia wernicke terjadi. Stephen mengalami cedera otak di belahan kiri. Jadi, Stephen punya masalah dengan pidatonya. Stephen tidak dapat berbicara dengan jelas karena penyakitnya, tetapi kecerdasannya masih baik. Aphasia banyak mengubah kehidupan Stephen. Dia tidak bisa bergerak seperti biasa sehingga, dia hanya duduk di kursi roda listriknya. Juga, Afasia membuat orang meremehkannya. Aphasia membuat Stephen sulit berbicara sehingga, Stephen mengalami gangguan komunikasi. Penulis berharap penelitian ini dapat membantu peneliti selanjutnya untuk melanjutkan analisis dari film yang sama dengan teori kasus linguistik lainnya. Penulis berharap penelitian ini akan memperkaya pengetahuan tentang gangguan bahasa terutama afasia
THE REFLECTION OF THE WORKING-CLASS LIFE CONDITIONS DURING THE VICTORIAN ERA FOUND IN OLIVER TWIST IN DICKENS’ OLIVER TWIST Rusmini, Rusmini; Kuncara, Singgih Daru; Muhajir, Fatimah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2352

Abstract

This study examines Oliver Twist novel written by Charles Dickens as the object of the research. The aims of this research are to find out the conditions of working-class life during the Victorian era which are reflected in Oliver Twist novel, and to show the way Dickens reflected the conditions of working-class life during the Victorian era in Oliver?s life. This research uses the sociology of literature theory in analyzing the working-class life conditions in the novel. The method of this research belongs to qualitative research, using mimetic approach. The data of this research are words, phrases, sentences and paragraphs that indicated as the working-class life conditions as reflected in the novel. Then the result of the research shows there are seven characteristics of the working-class life condition as reflected in Dickens? Oliver Twist such as the workhouse, fear and hopelessness, the smallest laborers, a difficult transition, an unsanitary life, crime in the city, and too much convicts; and the way Dickens reflected the working-class life conditions during the Victorian era in the novel through Oliver?s actions, dialogues, speech, thoughts, appearance and the narrations of the story.
RELIGIOSITAS DALAM MITOS UPACARA ADAT HUDOQ DAYAK BAHAU DI UJOH BILANG KECAMATAN LONG BAGUN KABUPATEN MAHULU Asung, Desi Daria; Dahlan, Dahri; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2178

Abstract

Hudoq for the Bahau Dayak tribe was carried out with the aim of inviting the spirits of kindness from heaven to provide fertility to the plants, so as to obtain abundant yields at harvest. This research has the formulation of the problem of how the religious meaning in the myth of the hudoq Dayak Bahau traditional caremony in Ujoh Bilang, Long Bagun Subdistrict, Mahakam Ulu Regency. The aim of the study was to describe the religious meaning in the myth of the Hudoq Dayak Bahau traditional caremony in Ujoh Bilang, Long Bagun Subdistrict, Mahakam Ulu District. This research was carried out in the village of Ujoh Bilang, Long Bagun District, Mahakam Ulu District. The type of research used is a type of qualitative approach method that describes a problem in accordance with the problems in the study. Data collection is done by observation, interviews and documentation. Data analysis is done from recording the results obtained in the field, the clarifying and analyzing the data. Whereas the presentation of data used note taking techniques to clarify data. Based on the data analysis that has been done, the Hudoq traditional caremony contains elements of religios that can be classified 1) View of the universe, 2) Easily sacralize certain objects, 3) a magical attitude of life, 4) live with religiosity from the four points above, it can open the views of the Bahau Dayak community about the universe which can provide a view that in addition to the concrete word, there is also a non-concrete word. This becomes the basis for human beings to respect the environment. Hudoq bagi Suku Dayak Bahau dilakukan dengan tujuan mengundang roh-roh kebaikan dari apau lagaan (kahyangan) agar memberikan kesuburan pada tanaman sehingga mendapat hasil melimpah saat panen. Penelitian ini memiliki rumusan masalah bagaimana makna religiositas dalam mitos upacara adat Hudoq Dayak Bahau di Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan makna religiositas dalam mitos upacara adat Hudoq Dayak Bahau di Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Jenis penelitian yang digunakan berupa jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif yang memaparkan suatu masalah sesuai dengan permasalahan yang ada pada penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dari mencatat hasil yang didapat di lapangan, kemudian mengklarifikasi dan menganalisis data. Sedangkan penyajian data menggunakan teknik catat untuk mengklarifikasi data. Berdasarkan analisis data yang sudah dilakukan maka upacara adat Hudoq mengandung unsur religiositas yang dapat digolongkan 1) pandangan tentang alam semesta, 2) mudah menyakralkan objek tertentu, 3) sikap hidup serba magis, 4) hidup penuh dengan upacara keagamaan. Adapun makna religiositas dari keempat poin di atas mampu membuka pandangan masyarakat Dayak Bahau mengenai alam semesta yang dapat memberikan pandangan bahwa selain dunia yang konkret, terdapat pula dunia yang tidak konkret. Hal ini menjadi salah satu dasar manusia tetap menghargai alam sekitarnya.
PETER’S PSYCHOSOCIAL DEVELOPMENT IN PRODIGAL SON NOVEL BY DANIELLE STEEL Madarita, Madarita; Natsir, M.; Asanti, Chris
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2504

Abstract

The purpose of this research is to find out Peter?s Psychosocial Development stages in the novel Prodigal Son by Danielle Steele. The design of this research is qualitative. The data were taken from the novel itself. After the data were collected, then they were interpreted by using Erikson?s theory. Further, after being analyzed there were three stages of psychosocial development that appeared in Peter, they were, school age, young adulthood, and middle adult as the result of this research. Thus, the researcher concluded that Peter?s psychological development cannot be interpreted as a single entity, yet it is understanding as multiple psychological developments.    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tahapan-tahapan Perkembangan Psikososial Peter dalam novel Prodigal Son karya Danielle Steele. Desain penelitian ini adalah kualitatif. Data diambil dari novel itu sendiri. Setelah data dikumpulkan, kemudian ditafsirkan dengan menggunakan teori Erikson. Selanjutnya, setelah dianalisis ada tiga tahap perkembangan psikososial yang muncul di Peter, yaitu, usia sekolah, dewasa muda, dan dewasa menengah sebagai hasil dari penelitian ini. Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa perkembangan psikologis Peter tidak dapat diartikan sebagai entitas tunggal, namun dipahami sebagai perkembangan psikologis ganda.  
THE INEQUALITY ISSUES OF MALE SUPREMACY TOWARDS ROSE CHARACTER IN TITANIC MOVIE Saidatunnisa, Novia Eka; Sili, Surya; Nasrullah, Nasrullah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2364

Abstract

This study discussed  about the inequality issues experienced by a woman character in Titanic movie, Rose character who lived in a male supremacy society. This study used Beauvoir?s feminist criticism on the ideas of male supremacy and independent woman to find out the types of inequality issues experienced by Rose character and her efforts in overcoming those inequalities. This study also used Mahon?s supporting explanation on Beauvoir?s two ideas to get a thorough understanding of the theory itself. This study was a qualitative research with content analysis as its approach. Words (narrations and dialogues) related to the objectives in this study were taken from Titanic movie script. This study found that Rose character experienced two types of inequality issues and chose to be an independent woman to overcome the two inequalities she experienced in Titanic movie. The two inequalities experienced by Rose character were the burden of marriage and set up expectations. However, these two inequalities were successfully overcome by Rose character when she chose to be an independent woman through two stages: defensive and aggressive. Thus, the conclusions of this study viewed Rose character, regardless coming from the royal class in society, was inevitable to experience the inequality issues due to the fact that her society was a male supremacy one and the way to get one self freed from the inequalities was by becoming an independent woman. Penelitian ini membahas soal isu-isu ketidaksetaraan yang dialami oleh karakter perempuan dalam film Titanic yaitu Rose sebagai seorang yang tinggal dalam lingkungan masyarakat yang berorientasi pada supremasi laki-laki. Penelitian ini menggunakan kritik feminis Beauvoir mengenai supremasi laki-laki dan perempuan mandiri untuk mengetahui tipe-tipe isu ketidaksetaraan yang dialami oleh karakter Rose dan usaha-usaha yang ia lakukan dalam menghadapi bentuk-bentuk ketidaksetaraan tersebut. Penelitian ini juga menggunakan penjelasan tambahan dari Mahon mengenai pemahaman supremasi laki-laki dan perempuan mandiri yang dikemukakan oleh Beauvoir. Penelitian ini berbentuk penelitian kualitatif dengan menggunakan analisa konten sebagai pendekatannya. Kata-kata (dalam bentuk narasi dan dialog) yang berhubungan dengan kedua objektif dalam penelitian ini merupakan data yang dipakai dan diambil dari skrip film Titanic. Penelitian ini menemukan bahwa karakter Rose mengalami dua tipe isu ketidaksetaraan dan memutuskan untuk menjadi seorang perempuan mandiri dalam menghadapi kedua tipe ketidaksetaraan tersebut difilm Titanic. Kedua tipe ketidaksetaraan yang dialami oleh karakter Rose yaitu kewajiban menikah dan ekspektasi-ekspektasi terhadap seorang perempuan dalam masyarakat. Namun, kedua tipe ketidaksetaraan ini dapat dihadapi dengan baik oleh karakter Rose saat ia memutuskan untuk menjadi seorang perempuan mandiri setelah melalui dua tahapan: defensif dan agresif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakter Rose, terlepas dari fakta bahwa ia berasal dari golongan kelas atas, tetap tidak bisa terhindar dari isu-isu ketidaksetaraan yang menimpa kaum perempuan dikarenakan sistem supremasi laki-laki yang digunakan dalam masyarakat yang Rose tinggali dan cara untuk terlepas dari isu-isu ketidaksetaraan tersebut yaitu dengan menjadi perempuan mandiri.
THE HERO CHARACTERS IN A BUG’S LIFE AND CLOUDY WITH A CHANCE OF MEATBALLS MOVIES Setyawan, Lita Febri Rahma Wardani; Sili, Surya; Lubis, Indah Sari
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2488

Abstract

The hero characters, like most people know, are just like Superman, Spider-Man, Wonder Woman, who gain superpower, stronger than ordinary people, and fight monsters to save the world. However, there are also the hero characters that do not gain superpower. This study concerned on finding out the differences between Flik of A Bug?s Life and Flint of Cloudy with a Chance of Meatballs movies as the ordinary hero characters by using Campbell?s hero?s journey theory. This study was a qualitative research with content analysis approach. Data of this study were words including narrations and dialogues taken from A Bug?s Life and Cloudy with a Chance of Meatballs movie scripts. This study showed that Flik was a dependent hero character, while Flint was an independent one. In Flik?s case, he was considered as the dependent hero character due to his natural trait as the ant colony to put the colony above everything else. While, Flint was considered as the independent hero character based on his reasons of doing the adventure: to fulfill his own desire of being acknowledged by his dad and to show his attractive side to the girl that he fell in love with, Sam Sparks. To conclude, regardless the fact that both Flik and Flint were included as the ordinary hero characters, this study had shown they still had their own version of hero characters.
STRUKTUR DAN FUNGSI CERITA RAKYAT BENAYUK VERSI DESA SEPALA DALUNG KABUPATEN TANA TIDUNG: KAJIAN STRUKTURALISME NARATOLOGI Hidayat, Wahyu Al; Sulistyowati, Endang Dwi; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2383

Abstract

This study aimed to describe the structure and function of the Benayuk folklore by Sepala Dalung version. This folklore tells of a King named Benayuk of the Menjelutung Kingdom. The Tidung tribe society believed that Benayuk was their first King and Menjelutung was their oldest Kingdom. In addition, it could be seen the several indications that the folklore affected to the Sepala Dalung society. These make the Benayuk folklore interesting to study. This study uses the descriptive method that aimed to describe the structure and function of the Benayuk folklore for the Sepala Dalung society through the stage of observation, interview, recording and notes, and analysis data through the stages of data identification, classification, and description. The preliminary analysis used Algirdas Julien Greimas's narratological structuralism to describe the structure of the Benayuk folklore by Sepala Dalung version. The results of the study showed 4 acting schemes and functional models in the Benayuk folklore by Sepala Dalung version. The results of the preliminary analysis are used as the basis for continued onto the next analysis, which is the analysis of the function of the Benayuk folklore for the Sepala Dalung community by used the folklore function theory. In this section, the several functions of the Benayuk folklore are found for the Sepala Dalung society. The second one is that the Benayuk folklore could be used for social authorization in the form of the endorsement and recognition for the Menjelutung Kingdom and the social norms in the form of prohibitions and recommendations. The second is that the Benayuk folklore can be used to enforcing the validity of social norms inform the prohibition to be close to the whirlpool, said a bad word, created problem in the society, and the recommendation to said greetings and stayed alert when the Sesayap River recedes. The last one is that the Benayuk folklore could be used to educate the children not to help each other in crime and respect to the social norms that applied in Sepala Dalung society.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan fungsi cerita rakyat Benayuk versi Sepala Dalung. Cerita rakyat ini menceritakan tentang seorang raja bernama Benayuk di Kerajaan Menjelutung. Masyarakat suku Tidung percaya bahwa Benayuk adalah raja pertama mereka dan Menjelutung adalah kerajaan mereka. Di samping itu, terlihat indikasi bahwa cerita tersebut berpengaruh bagi masyarakat Sepala Dalung. Hal tersebut yang membuat cerita rakyat Benayuk menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan fungsi cerita tersebut bagi masyarakat Sepala Dalung melalui tahapan pengamatan, wawancara, rekam dan catat, dan analisis data melalui tahap identifikasi data, klasifikasi, dan deskripsi. Analisis awal menggunakan teori strukturalisme naratologi Algirdas Julien Greimas untuk menggambarkan struktur cerita rakyat Benayuk versi Sepala Dalung. Hasil penelitian menunjukkan empat pola aktan dan model fungsional pada cerita rakyat Benayuk versi Sepala Dalung. Hasil analisis awal tersebut dijadikan dasar untuk melanjutkan ke analisis selanjutnya, yaitu analisis fungsi cerita rakyat Benayuk bagi masyarakat Sepala Dalung menggunakan teori fungsi cerita rakyat. Pada bagian ini, ditemukan beberapa fungsi cerita rakyat Benayuk bagi masyarakat Sepala Dalung. Pertama, alat pengesahan sosial berupa pengesahan atau pengakuan atas eksistensi Kerajaan Menjelutung dan norma-norma sosial berupa larangan serta anjuran. Kedua, pemaksa berlakunya norma-norma sosial berupa larangan mendekati pusaran air, berkata-kata buruk, membuat keributan di masyarakat, serta anjuran mengucap salam, dan tetap waspada saat sungai Sesayap sedang surut. Terakhir, alat pendidikan anak agar tidak melakukan tolong-menolong dalam kejahatan dan pemalsuan, tidak mempermainkan binatang, serta mematuhi norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat Sepala Dalung.  
ANALISIS NOVEL IBUKU TIDAK GILA KARYA ANGGIE D. WIDOWATI: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Pratama, Dentia Hady; Mursalim, Mursalim; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2472

Abstract

This research is a qualitative descriptive study with a sociological literature study design. This study uses an objective approach. The data source in the study is the novel Ibuku Tidak Gila by Anggie D. Widowati. The data collection technique used is the technique of reading, understanding, and taking notes. Data analysis techniques use qualitative analysis consisting of identification, and interpretation. This study aims to describe the facts of social stories and facts in this study as well as analyze the aspects that occur in the novel, which in general this also occurs in the lives of the general public. In this scope, it will analyze with a sociological approach which aims to describe the contents of this novel. Based on the results of the analysis it can be concluded several things. The first fact of the story in the novel Ibuku Tidak Gila by Anggie D. Widowati consists of plot, character, setting, and theme. The flow in this novel is a forward and backward flow. The characters in this novel have good character and help. The character in this novel also has a main character and additional characters. Overall this story is based on the island of Java, namely Sragen, Jogjakarta, and Solo. In this novel there are problems that often occur in the community. The problem presented by the author is family conflict. This novel tells of a young man who experienced a dilemma in his family or love story. In the family problem, the biological mother has a mental disorder that must be treated in a mental hospital. Likewise, with the romance problems faced. Especially about the cause of his mother's madness, which his father had covered up for a long time. Which is where forcing the main character, Dewa, to find out and the reason why his biological mother has a mental disorder. Is the madness of his biological mother caused by his father who remarried or was there another problem with the cause of his mother's madness. The results of this study indicate that the balances related to the aspects of literary sociology in the novel Ibuku tidak Gila are as follows: (1) Facts of the Story, (2) Social Facts, and (3) Family Social Conditions Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan kajian sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Sumber data dalam penelitian adalah novel Ibuku Tidak Gila karya Anggie D. Widowati. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca, memahami, dan mencatat. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif yang terdiri dari identfikasi, dan interpretasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fakta cerita dan fakta sosial dalam penelitian ini juga menganalisa aspek-aspek terjadi dalam novel, yang pada umumnya hal ini juga terjadi pada kehidupan masyarakat umum. Dalam lingkup ini akan menganalisa dengan pendekatan sosiologi yang bertujuan untuk mendeskrpsikan isi novel ini. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama fakta cerita dalam novel Ibuku Tidak Gila karya Anggie D. Widowati terdiri dari alur, karakter, latar, dan tema. Alur dalam novel ini adalah alur maju dan mundur. Karakter dalam novel ini memiliki karakter baik dan penolong. Tokoh dalam novel ini juga memiliki tokoh utama dan tokoh tambahan. Secara keseluruhan cerita ini berlatarkan daerah pulau Jawa, yaitu Sragen, Jogjakarta, dan Solo. Dalam novel ini terdapat problematika yang sering terjadi di lingkungan masyarakat. Problematia yang disajikan pengarang adalah konflik keluarga. Novel ini mengkisahkan seorang pemuda yang mengalami dilema dalam keluarganya ataupun kisah asmaranya. Dalam masalah keluarga ibu kandungnya mengalami gangguan jiwa yang harus di rawat di rumah sakit jiwa. Begitu juga dengan masalah asmara yang di hadapinya. Terlebih tentang penyebab kegilaan ibunya telah ditutup-tutupi oleh ayahnya sejak lama. Yang di mana memaksa tokoh utama yaitu Dewa mencari tahu dan penyebab mengapa ibu kandungnya mengalami gangguan jiwa. Apakah kegilaan ibu kandungnya di sebabkan oleh ayahnya yang menikah lagi ataukah ada masalah lain dari penyebab kegilaan ibunya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek sosiologi sastra dalam novel Ibuku Tidak Gila adalah sebagai berikut: (1) fakta cerita, (2) fakta sosial, dan (3) keadaan sosial keluarga.
THE MASCULINITY AND FEMININITY TRAITS OF FEMALE CHARACTER IN ROTH’S INSURGENT NOVEL Fatimah, Siti; Sili, Surya; Asanti, Chris
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i4.2295

Abstract

Woman and man are often seen as two individuals with different characteristics. Women are labeled with feminine characteristics and men are labeled with masculine characteristics. Women often considered have lower status than men by not having the characteristics of men. However, the existence of masculinity traits in a female character is still possible to happen considering masculinity and femininity are concept created by society. By this research, the researcher aimed to analyze the masculinity and femininity traits of female character in Roth?s Insurgent Novel. This research has two purposes. The first is to analyze the masculine traits of Beatrice Prior, and the second is to analyze the feminine traits of Beatrice Prior. The researcher applied Sandra L Bem theory to answer the research questions. This research is under qualitative paradigm. Content analysis was applied in this research. The findings of this research showed that Beatrice Prior has eighteen masculine traits and five feminine traits. By the result of this research, it can be concluded that female individual can have more masculine traits or vise versa which then gives more understanding to the researcher. In addition, this research strengthens the idea that novel can be used as a tool to raise the awareness of the readers about th phenomena that happen in the society. Wanita dan pria seringkali dipandang sebagai dua individu dengan karakteristik berbeda. Wanita dilabeli dengan karakteristik feminin dan pria dilabeli dengan karakteristik maskulin. Wanita sering dianggap memiliki status lebih rendah daripada pria dengan tidak memiliki karakteristik pria. Namun, keberadaan ciri-ciri maskulinitas dalam karakter perempuan masih mungkin terjadi mengingat maskulinitas dan feminitas adalah konsep yang diciptakan oleh masyarakat. Dengan penelitian ini, peneliti bertujuan untuk menganalisis sifat-sifat maskulinitas dan femininitas karakter perempuan dalam Roth's Insurgent Novel. Penelitian ini memiliki dua tujuan. Yang pertama adalah untuk menganalisis sifat-sifat maskulin dari Beatrice Prior, dan yang kedua adalah untuk menganalisis sifat-sifat feminin dari Beatrice Prior. Peneliti menerapkan teori Sandra L Bem untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini berkaitan dengan teknik analisis konten. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Beatrice Prior memiliki delapan belas ciri maskulin dan lima ciri feminin. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa individu perempuan dapat memiliki lebih banyak sifat maskulin atau sebaliknya yang kemudian memberikan lebih banyak pemahaman kepada peneliti. Selain itu, penelitian ini memperkuat gagasan bahwa novel dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran pembaca tentang fenomena yang terjadi di masyarakat.

Page 1 of 2 | Total Record : 15