cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018" : 10 Documents clear
ANALISIS NOVEL ADA SURGA DI RUMAHMU KARYA OKA AURORA DITINJAU DARI ASPEK SOSIOLOGI KARYA SASTRA Juliansyah, Juliansyah; Arifin, Syaiful; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1430

Abstract

ABSTRAK Novel Ada Surga di Rumahmu karya Oka Aurora merupakan novel yang memilki banyak pesan yang bermanfaat untuk masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan novel Ada Surga di Rumahmu karya Oka Aurora berdasarkan aspek sosiologi karya sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,  memaparkan aspek sosiologi sastra pada novel Ada Surga di Rumahmu karya Oka Aurora berdasarkan amanat pada novel. Data diperoleh dengan membaca novel Ada Syurga di Rumahmu karya Oka Aurora yang bersumber pada kutipan novel yang berisi tentang amanat-amanat sebagai bahan utama dalam penelitian dan membaca beberapa buku penunjang penelitian dan mencatat setiap data yang penting. Hasil peneltian ini menjelaskan aspek sosiolgi karya sastra dalam novel Ada Surga di Rumahmu karya Oka Aurora, yaitu memberi pengetahuan kepada pembaca agar menjadi manusia yang baik. Rasa cintanya terhadap keluarganya, mengantarkannya kepada kesuksesannya. Dalam novel ini, pengarang ingin mengajarkan pembaca, cara berbakti kepada orangtua, mengajarkan kepada wanita bahwa kehormatan adalah hal yang harus dijaga, menjelaskan bahwa kebahagiaan tidak semata-mata didapat di luar rumah. Menciptakan suasana keluarga yang baik menjadi inti dari cerita dalam novel ini, suasana keluarga yang penuh dengan kebahagiaan, rasa saling mengerti antara anak dan orangtua. Taat beragama dan belajar menerima segala sesuatu yang terjadi merupakan hal yang paling penting yang diajarkan orangtua Ramadhan kepada anaknya. Kata Kunci: novel, sosiologi karya sastra  ABSTRACT Novel Ada Surga di Rumahmu by Oka Aurora is a novel that has many useful messages for the community. This study aims to describe the novel Ada Surga di Rumahmu by Oka Aurora based on the sociological aspects of literary works. The method used in this research is the descriptive method, expose the aspect of the sociology of literature on the novel There Heaven in Your House by Oka Aurora based on the mandate in the novel. The data obtained by reading the novel Ada Surga di Rumahmu by Oka Aurora derived from a novel quote containing the mandates as the main ingredients in research and reading some research supporting books and noting any important data. The results of this study explain the sociology aspect of literary works in the novel Ada Surga di Rumahmu by Oka Aurora is, giving knowledge to the reader to become a good human being. His love for his family led him to his success. In this novel, the author wants to teach the reader, how to worship parents, teaches women that honor is a thing to be guarded, explaining that happiness is not solely obtained outside the home. Creating a good family atmosphere is at the heart of the story in this novel, a family atmosphere filled with happiness, mutual understanding between children and parents. Being religious and learning to accept everything that happens is the most important thing that parents teach Ramadan to their children. Keywords: the novel, sociology of literary works
TRANSFORMASI NOVEL SABTU BERSAMA BAPAK KARYA ADITYA MULYA MENJADI FILM SABTU BERSAMA BAPAK KARYA MONTY TIWA: KAJIAN EKRANISASI Carmila, Selly Dwi; Mursalim, Mursalim; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1321

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penciutan, penambahan, perubahan bervariasi pada alur, tokoh, dan latar dalam bentuk novel ke bentuk film Sabtu Bersama Bapak karya Monty Tiwa dan Adhitya Mulya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian struktural. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah novel Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya dan film Sabtu Bersama Bapak karya sutradara Monty Tiwa. Fokus penelitian berupa proses transformasi alur, tokoh, dan latar dalam kajian ekranisasi. Data diperoleh dengan teknik observasi, teknik mencatat, teknik transkripsi dan klasifikasi. Teknik analisis data diperoleh dengan melakukan pembacaan, melakukan pembedahan novel dan film, mengamati film, membandingkan alur, tokoh dan latar pada novel dan film, dan mengamati gejala-gejala atau indikasi transformasi yang terdapat pada novel dan film. Hasil penelitian ini berupa pendeskripsian bentuk penciutan, penambahan, dan perubahan bervariasi dari novel dan film pada alur, tokoh dan latar. Kata kunci: transformation, ekranisasi, novel, film  ABSTRACT This research purpose to describe the form of decrease, addition, varied changes in plot, figure, and background in the form of a novel to the film form together with Monty Tiwa and Adhitya Mulya. The kind of research used is structural research. The research approach used is qualitative descriptive. The source of this research data is the novel of Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya and the film Saturday Bersama Bapak by director Monty Tiwa. The focus of research is the process of transforming the plot, figure, and the background in the study of recrimination. Data were obtained by observation technique, recording technique, transcription technique and classification. Data analysis techniques were obtained by reading, performing novel and film operations, observing films, comparing plots, characters and backgrounds on novels and films, and observing the phenomenons or indications of transformations found in novels and films. The results of this research are descriptions of decrease, addition, and varied changes from novels and films to plot, figure and background. Keywords: transformation, ecranization, novel, film
PEMBENTUKAN HUMOR STAND UP COMEDY ONE-LINER INDRA FRIMAWAN (SUCI 5 KOMPAS TV): TINJAUAN STRUKTUR PRAGMATIK Putra, Pandu Pratama; Mulawarman, Widyatmike Gede; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1464

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan humor Stand Up Comedy One-liner yang dilakukan oleh Indra Frimawan, juara 3 dari kompetisi Stand Up Comedy Indonesia Season 5 (SUCI 5) Kompas TV. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pola pembentukan humor sehingga mudah untuk dipelajari oleh orang awam yang memiliki latar belakang komedi yang minim. Tujuan tersebut didasarkan atas kesadaran bahwa tertawa merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pemaparan deksriptif. Sumber data penelitian ini adalah tuturan humor Indra Frimawan selama berada di kompetisi SUCI 5 Kompas TV. Penelitian ini berlangsung selama 1 Januari ? 30 April 2018. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik sadap, rekam, dan catat. Metode analisis data yang digunakan yaitu metode padan dengan teknik PUP pragmatis. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada dua jenis penyimpangan praanggapan yang digunakan untuk membangun joke, yaitu: penyimpangan praanggapan struktur dan umum. Ragam penyimpangan praanggapan struktur yang ditemukan di dalam pembentukan joke adalah satu kali penyimpangan pada satu tuturan joke, dua kali atau lebih penyimpangan pada satu tuturan joke, penggunaan properti, dan penggunaan act-out. Ragam penyimpangan praanggapan umum yang ditemukan di dalam pembentukan joke dibedakan melalui pengetahuan masyarakat yang disimpangkan mencakup tentang kebiasaan masyarakat, dunia artis, fenomena khusus, iklan, dan lagu. Kata kunci: stand up comedy, one-liner, SUCI 5, pragmatik  ABSTRACTThis research is conducted to know about humor establishment of Stand Up Comedy One-liner which performed by Indra Frimawan as the third champion from Stand Up Comedy Indonesia season 5 (SUCI 5) Kompas TV competition. This research is also conducted to find out pattern of humor establishment to give the knowledge for the people which have low knowledge background about comedy. Those purposes mean that people must realize that laugh is important thing in our life. The research method which is used in this research is qualitative descriptive. The data source of this research is Indra Frimawan?s perform when he was in the competition at SUCI 5 Kompas TV. This research started from 1 January ? 30 April 2018. Data collection method which used in this research are watch, record and taking note.  Data analysis method is equivalent method with PUP pragmatic technique. The result of this research shows that deviance presupposition that is used to establish joke there are two types of, they are structure deviance presupposition and the common one.  Types of structure deviance presupposition that found to make joke is once deviance on an utterances of joke, twice or more deviance on an utterances in joke, using properties and act-out. Types of deviance presupposition in commonly that found in make joke is divided throughout people?s knowledge which have deviance about people?s habit, entertainment, special phenomenon, advertisement, and music. Keywords:  stand up comedy, one-liner, SUCI 5, pragmatic
FEMININITY AS PORTRAYED IN QUENTIN JACOBSEN THE MAIN CHARACTER IN PAPER TOWNS NOVEL Sari, Yuli Eka Purnia; Kuncara, Singgih Daru; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1271

Abstract

ABSTRACT Nowadays, gender issue is one of the issues that often discussed not only in literary works but also in our society. Actually, there are two terms of gender, those are masculinity and femininity. Those two terms are developed into gender stereotype which is structured by environment to differentiate between men and women. By this research, the researcher aimed to analyze the feminine traits of the male character, Quentin Jacobsen in Paper Towns novel and to analyze the supporting factor of Quentin?s feminine traits. This research was qualitative research which used content analysis as the data analysis technique. This research focused on Quentin?s femininity and its influencing factor that was found through the narrations and dialogues in the novel. To analyze Quentin?s femininity this research used Sandra L Bem Sex Role Inventory (BSRI) that was categorized by James L Park Gender-Pattern Chart. Then to reveal the influencing factors of Quentin?s feminine traits, this research used Correlated Factors of Gender Variance by Veale et.al. The result of this research showed that Quentin has nineteen feminine traits according to BSRI such as childlike, feminine, compassionate, sympathetic, shy, affectionate, cheerful, eager to soothe hurt feelings, flatter able, loves children, loyal, sensitive to needs of others, soft spoken, tender, understanding, warm, gentle, gullible, and yielding. Those traits were influenced by parental and abuse factor. Keywords: gender stereotype, femininity, masculinity, influencing factors  ABSTRAK Saat ini, isu tentang gender adalah salah satu isu yang sering dibahas tidak hanya pada karya sastra tetapi juga pada lingkungan sosial kita. Sebenarnya ada dua istilah dalam gender yaitu maskulin dan feminin. Kedua istilah tersebut kemudian menjadi stereotip yang terbentuk dari lingkungan untuk membedakan antara pria dan wanita. Dengan penelitian ini, peneliti bermaksud untuk menganalisa sifat feminin pada karakter laki-laki, Quentin Jacobsen di Paper Towns novel dan untuk menganalisa faktor yang mempengaruhi sifat feminin Quentin. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan konten analisis sebagai teknik analisis data. Penelitian ini fokus pada sifat feminin Quentin dan faktor yang mempengaruhinya yang ditemukan pada narasi dan dialog novel. Untuk menganalisis sifat feminin Quentin, penelitian ini menggunakan teori dari Sandra L Bem, Sex Role Inventory yang dikategorikan lagi berdasarkan Gender-Patter Chart oleh James L Park. Kemudian untuk mengungkap faktor yang mempengaruhi sifat feminin Quentin, penelitian ini menggunakan teori dari Veale dan kawan-kawan yaitu Correlated Factors of Gender Variance. Hasil yang didapat dari penelitian menunjukkan bahwa Quentin memiliki sembilan belas sifat feminin berdasarkan BSRI yaitu kekanak-kanakan, feminin, mudah merasa kasihan, simpatik, pemalu, penuh kasih sayang, periang, penenang, mudah dirayu, penyayang anak-anak, setia, peka, santun, berhati lembut, pengertian, hangat, lemah lembut, mudah dibohongi dan penurut. Sifat-sifat tersebut dipengaruhi oleh faktor orang tua dan faktor kekerasan.  Kata kunci: stereotip gender, feminin, maskulin, faktor yang mempengaruhi
JING-MEI WOO’S HYBRID IDENTITY IN AMY TAN’S THE JOY LUCK CLUB NOVEL Novitasari, Andhini; Sunggingwati, Dyah; Lubis, Indah Sari
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1469

Abstract

ABSTRACT Migration is considered as a massive impact of colonization. It causes a huge number of people from a certain country (a colonized ones) move to another country due to colonization. Starting from this, usually a new society consists of mixed culture, norms, values adjusted to the altering citizens (migrants and non-migrants) that has been created. Yet, an issue of one?s identity appear for those who come from the two cultures as it appeared in Amy Tan?s The Joy Luck Club. Jing-Mei Woo, a Chinese-born American had issue of defining her identity due to the hybridity circumstance she achieved as the daughter of immigrant parents. This research aimed to examine the portrayal of Jing-Mei Woo?s hybridity identity and the way she developed her hybrid identity. This research was a qualitative research for the data were in the form of words from The Joy Luck Club novel. Barry?s theory about hybrid identity was used to answer the research questions towards Jing-Mei Woo character. The result showed that Jing-Mei Woo experienced hybridity as she was unable to define herself whether it was her past-self (Chinese) or present-self (American), felt out of place not knowing exactly her identity form of the two cultures, and having the hybrid identity between Chinese and American cultures. While during the process, Jing-Mei Woo developed her hybrid identity by getting through the four stages: she ignored her origin?s identity as a Chinese woman, denying her Chinese identity by telling her mother most of times that she was not a Chinese and that was the reason she could not understand a bit about her mother?s culture, maintaining the American?s way of thinking as she thought that was her identity despite the fact that she was also a Chinese, and finally realising that in order to define herself, she accepted her Chinese blood and admitted her hybrid identity as a Chinese-American woman. Keywords: migration, hybrid identity  ABSTRAK Migrasi merupakan dampak luar biasa dari kolonisasi. Peristiwa ini (migrasi) menyebabkan perpindahan sekelompok orang dengan jumlah yang banyak dari suatu negara (yang dikuasai atau dikolonisasi) ke negara lain. Biasanya sebagai akibat dari migrasi ini terbentuklah suatu masyarakat baru yang sistem-sistemnya mengandung percampuran budaya, norma-norma, serta nilai-nilai yang telah menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada masyarakatnya yang terdiri dari para migran dan non-migran. Akan tetapi, ada satu masalah yang muncul berkenaan dengan masyarakat baru yang terbentuk ini: permasalahan mengenai identitas diri seseorang yang berasal dari dua budaya berbeda seperti yang ada pada novel Amy Tan, The Joy Luck Club. Jing-Mei Woo, seorang anak perempuan dari orang tua imigran Cina dan memiliki darah Cina tetapi menetap di Amerika, memiliki permasalahan dalam menentukan identitas dirinya yang sebenarnya karena ia hidup di lingkungan hibriditas. Studi ini merupakan studi kualitatif karena menganalisa data yang berupa kata-kata dari novel The Joy Luck Club. Teori dari Barry mengenai identitas hibrida digunakan untuk menjawab pokok-pokok permasalahan pada karakter Jing-Mei Woo. Hasil studi ini memperlihatkan bahwa Jing-Mei Woo mengalami hibriditas karena ia tidak mampu menentukan identitas dirinya, apakah identitas itu adalah dirinya yang dimasa lalu sebagai seorang Cina ataukah dirinya yang sekarang sebagai seorang Amerika, merasa tidak memiliki tempat yang cocok dengan dirinya, dan memiliki identitas hibrida antara budaya Cina dan Amerika. Selama proses Jing-Mei Woo mengembangkan identitas hibridanya, ia melewati empat tahapan yaitu: Jing-Mei Woo mengabaikan identitas aslinya sebagai wanita Cina, menolak identitasnya sebagai seorang Cina dengan selalu mengatakan pada ibunya bahwa ia bukanlah seorang Cina maka wajar jika ia tidak bisa mengerti sedikit pun soal budaya ibunya, menganggap bahwa identitas sebenarnya yaitu dengan mengikuti pola pikir seorang Amerika terlepas dari fakta bahwa ia juga memiliki darah seorang Cina dalam tubuhnya, dan akhirnya Jing-Mei Woo menerima darah Cina dalam tubuhnya dan mengakui identitas hibridanya sebagai seorang keturunan Cina-Amerika, yang membuatnya mampu menentukan identitas dirinya yang sebenarnya.  Kata Kunci: migrasi, identitas hibrida
PENGGUNAAN EUFEMISME PADA TAYANGAN BERITA KRIMINAL PATROLI DI INDOSIAR Qorib, Zubaidillah Fadqul; Mulawarman, Widyatmike Gede; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1551

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi eufemisme pada tuturan berita kriminal Patroli di Indosiar. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan. Teknik penyediaan data yang digunakan adalah teknik sadap dengan teknik simak bebas libat cakap dan catat. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik dari metode agih yang terdiri dari teknik dasar bagi unsur langsung dan teknik ganti sebagai teknik lanjutan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bentuk ungkapan eufemisme antara lain: (1) bentuk singkatan, (2) kata serapan, (3) istilah asing, (4) metafora, dan (5) perifrasis. Adapula fungsi ungkapan yang ditemukan yaitu; (1) sebagai alat untuk menghaluskan ucapan, (2) sebagai alat untuk merahasiakan sesuatu, (3) sebagai alat untuk berdiplomasi, (4) sebagai alat pendidikan, dan (5) sebagai alat penolak bahaya. Kata kunci: eufemisme, bentuk, fungsi, Patroli  ABSTRACT This study aims to describe the form and function of euphemism on Patroli criminal criminal news in Indosiar. The research approach used is a qualitative approach with descriptive methods and is included in the type of library research. The data supply technique used is the tapping technique with competent and free involvement techniques. The data analysis technique used is the technique from the method which consists of basic techniques for direct elements and substitute techniques as advanced techniques. Based on the results of the study, found expressions of euphemism include: (1) abbreviations, (2) absorption words, (3) foreign terms, (4) metaphors, and (5) periphrasis. There is also an expression function found, namely; (1) as a tool for refining speech, (2) as a tool to keep things a secret, (3) as a tool for diplomacy, (4) as an educational tool, and (5) as a hazard repellent. Keywords: euphemism, form, function,Patroli
PORTRAYAL OF A WITCH AS HEROINETHROUGH MALEFICENT CHARACTER IN MALEFICENT MOVIE (2014) Farnush, Jemi; Sili, Surya; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1339

Abstract

ABSTRACT Maleficent movie (2014) a movie directed by Robert Stromberg and written by Linda Woolverton. This movie adapted from Sleeping Beauty animation version in 1959. Maleficent movie tells about the human Kingdom and the Moors Kingdom that have never be peace. This research focused on analyzing a portrayal of a witch as heroine through Maleficent character. The purposes of this research were to analyze kind of witch characteristics portrayed through Maleficent character in Maleficent movie, and to analyze Maleficent character portrayed as a heroine in Maleficent movie. This research was a qualitative research. This research used two theories. The first is witch theory by Julian Goodare and the second one is hero theory by Kendra Cherry. The results of the research showed, that Maleficent character in Maleficent movie (2014) evil and good side. There are four concepts of witch such as demonic, village, folkloric, and envisioned witch. Maleficent movie goes into the folkloric witch category. There are seventh elements of hero, which Maleficent character as a heroine in Maleficent movie. First, people who become heroes tend to be concerned with the well being of others. Second, heroes are good at seeing from the perspective of others. Third, heroes are competent and confident. Fourth, heroes have a strong moral compass. Fifth, heroes have right skills. Sixth, heroes persist even in the face of fear, and keep working on their goals. The second result showed that Maleficent character is a heroine. Keywords: hero, Maleficent, portrayal, witch  ABSTRAK Film Maleficent (2014) adalah sebuah film yang disutradarai oleh Robert Stromberg dan ditulis oleh Linda Woolverton, film ini diadaptasi dari Sleeping Beauty versi animasi pada tahun 1959. Film Maleficent (2014) menceritakan tentang kerajaan Manusia dan kerajaan Moors yang tidak pernah berdamai. Penelitian ini fokus menganalisa penggambaran seorang wanita penyihir sebagai pahlawan melalui karakter Maleficent. Tujuan penelitian ini menganalisa jenis penggambaran karakteristik penyihir melalui karakter Maleficent di dalam film Maleficent. Penelitian ini merupakan penelirian kualitatif. Penelitian ini menggunaka dua teori. Yang pertama teori penyihir oleh Julian Goodare dan yang kedua teori pahlawan oleh Kendra Cheery. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, yang pertama karakter Maleficent dalam film Maleficent (2014) sebagai seorang penyihir yang mempunyai sisi jahat dan baik. Ada empat konsep penyihir seperti demonic, village, folkloric, dan envisioned. Berdasarkan keempat konsep tersebut, film Maleficent masuk dalam kategori penyihir folkloric. Ada tujuh elemen kepahlawanan, dimana karakter Maleficent sebagai seorang pahlawan didalam film Maleficent (2014). Pertama, orang yang menjadi pahlawan cenderung memperhatikan kesejahteraan orang lain. Kedua, pahlawan pandai melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Ketiga, pahlawan percaya diri. Keempat, pahlawan memiliki kompas moral yang kuat. Kelima, memiliki keterampilan. Keenam, pahlawan terus menghadapi ketakutan dan yang ketuju, pahlawan terus mengerjakan tujuan mereka, bahkan setelah menghadapi beberapa kemunduran. Kata kunci: pahlawan, Maleficent, penggambaran, penyihir
AN ANALYSIS OF MAIN CHARACTERS IN WARM BODIES FILM USING JUNG THEORY OF ARCHETYPES Rizakiah, Syarifah; Sili, Surya; Kuncara, Singgih Daru
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1029

Abstract

ABSTRACTThe collective unconscious concept of Jungian critic contains archetypes that are unique part of the theory of human personality. The archetypes can be found in R and Julie character in Warm Bodies film. The purpose of this study is to find out some archetypes based on Jungian critics that related to both characters. Analytical psychology theory by Carl G Jung was used as the main theory to find out the archetypes that related to both characters. This study is categorized as literary criticism since this study is emphasized on the analysis of literary work. The primary data of this study are collected from Jonathan Levine?s Warm Bodies film. The result of this study is showed there were six archetypes found in the film. They were persona, shadow, anima, animus, hero, and self-archetypes. Keywords: Jungian psychoanalysis, archetypes, Warm Bodies film ABSTRAKKonsep kumpulan bawah sadar dari kritik Jung mengandung pola dasar yang merupakan bagian yang unik dari teori kepribadian manusia. Pola dasar ini dapat di temukan di dalam karakter R dan Julie dalam film Warm Bodies. Tujuan dari penelitian ini untuk menemukan beberapa pola dasar bedasarkan dari kritik jung yang terkait dengan kedua karakter. Psikologi analisis teori dari Carl G Jung digunakan sebagai teori utama untuk menemukan pola dasar yang terkait dengan kedua karakter. Penelitian ini di kategorikan sebagai kritik sastra sejak penelitian ini menekankan pada Analisa dari kerja sastra. Data utama dari penelitian ini di kumpulkan dari film Jonathan levine Warm Bodies. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada 6 pola dasar yang ditemukan di dalam film. 6 pola dasar itu adalah persona, shadow, anima, animus, hero, dan pola dasar self. Kata kunci : psikoanalisis Jung, pola dasar, film Warm Bodies
CAMPUR KODE DALAM ACARA KENDURI DI KELURAHAN RAWA MAKMUR KECAMATAN PALARAN KOTA SAMARINDA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Purwanda, Hendra; Rijal, Syamsul; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1550

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk campur kode dalam acara kenduri di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran dan (2) faktor penyebab campur kode dalam acara kenduri di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Data penelitian berupa tuturan lisan masyarakat, sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat yang hadir dalam acara kenduri. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik lanjutan berupa simak bebas libat cakap, simak libat cakap, rekam, dan catat. Metode dan teknik analisis data menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung untuk mendeskripsikan bentuk campur kode. Kemudian, metode padan dengan teknik pilah unsur penentu digunakan untuk mendeskripsikan faktor penyebab campur kode dalam acara kenduri di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bentuk campur kode berupa penyisipan kata, perulangan kata, penyisipan frasa, dan penyisipan klausa. Kemudian faktor penyebab terjadinya peristiwa campur kode dilihat dari faktor ekstralinguistik, yaitu status sosial, sikap penutur, keinginan untuk menjelaskan, dan menyatakan prestise. Faktor intralinguistik, yaitu tidak adanya padanan kata dan kesesuaian maksud. Kata kunci: campur kode, acara kenduri  ABSTRACT The purpose of this research was to describe (1) describe the code-mixing form of kenduri event in Rawa Makmur Village, Palaran Subdistrict and (2) the factor of code-mixing in kenduri event in Rawa Makmur Village, Palaran Subdistrict. The research uses a qualitative approach that is described by descriptively. Research data in the form of oral speech, while the data sources in this study are the people who attended the kenduri event. Methods and techniques of data collection used is a method referred to advanced techniques in the form of free libat ably, the form libat ably, record, and noted. Methods and techniques of data analysis using a distributional method with a technique for direct elements to describe the form of code-mixing. Then, identity method matches the technique of selected the determinant element used to describe the factors caused the code-mixing in kenduri event in Rawa Makmur Village, Palaran Subdistrict. The results showed that there were mixed forms of code in the form of word insertion, word looping, phrase insertion, and clause insertion. Then the factors caused the occurrence of code-mixing events are seen from extralinguistic factors, that is social status, the attitude of the speaker, desire to explain, and express prestige. Intralinguistic factors, namely the absence of the equivalent of words and conformity intent. Keywords: code mixing, Kenduri?s event
ILLOCUTIONARY ACT OF MIRANDA PRIESTLY CHARACTER IN THE DEVIL WEARS PRADA FILM Wonata, Indri Ari Markus; Natsir, M.; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1320

Abstract

ABSTRACT People are more likely to convey their intention implicitly than explicitly. A speaker tends to use implicit message with the expectation that his or her hearer could interpret the real intention within the message. Yet, the real intention itself is not always appear clearly due to the different form of interpretation by each person (both the speaker and hearer). A speaker may convey certain meaning of his utterance then achieved differently by the hearer. This is what so called as ?ambiguity? when an utterance has more than one meaning. This research aimed to identify the illocutionary acts and its types used by Miranda Priestly character in The Devil Wears Prada Film. The design of this research was descriptive qualitative. The writer collected the data from the film dialogues then classified the utterances into the categories based on the theory of illocutionary by Searle. The findings showed there were five types of illocutionary act found in this research: representative (complain, assure, and inform), directive (command and ask), commissive (promise), expressive (deploring, thank and congratulate), and declarative (disapprove and appoint). The most dominant type of illocutionary acts found in this film was directive. In directive illocutionary acts itself, command acts were dominantly used by Miranda Priestly character. Keywords: illocutionary acts, film, character ABSTRAK Pada umumnya maysyarakat cenderung menyampaikan suatu maksud dalam bentuk yang implisit daripada secara eksplisit. Seorang pembicara yang menyampaikan maksudnya secara implicit cenderung mengaharapkan bahwa pendengarnya dapat mengerti maksud implisitnya sesuai dengan apa yang ia maksudkan. Akan tetapi, arti sebenarnya dari ungkapan implisit tidak selalu nampak secara jelas bagi pendengarnya mengingat perbedaan interpretasi dari setiap orang (baik dari pembicara maupun pendengar). Pembicara mengutarakan maksudnya kepada pendengar yang kemudian dapat diartikan berbeda dari maksud asli si pembicara tersebut. Hal inilah yang sering disebut dengan ?keambiguan?dimana suatu ungkapan dapat memiliki lebih dari satu arti. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk ilokusi dan jenis-jenisnya dalam karakter Miranda Priestly difilm The Devil Wears Prada. Bentuk penelitian ini berupa deskripsi kualitatif. Penulis mengumpulkan data penelitian ini dari dialog-dialog  film The Devil Wears Prada dan kemudian mengklasifikasi ungkapan-ungkapannya kedalam teori ilokusi dari Searle. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat lima jenis dari bentuk-bentuk ilokusi dalam karakter Miranda Priestly difilm The Devil Wears Prada: representative (dalam ungkapan keluhan, pemastian, dan menginformasi), directive (dalam umgkapan perintah dan meminta), commissive (dalam ungkapan janji), expressive (dalam ungkapan menyayangkan sesuatu, berterima kasih, dan memberikan ucapan selamat), dan declarative (dalam ungkapan menolak dan memutuskan sesuatu). Jenis ilokusi yang paling mendominasi digunakan oleh karakter Miranda Priestly adalah jenis directive. Didalan ilokusi directive, karakter Miranda Priestly paling sering menggunakan ungkapan perintah.  Kata kunci: bentuk-bentuk ilokusi, film, tokoh

Page 1 of 1 | Total Record : 10