cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017" : 7 Documents clear
PERJUANGAN TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL TANAH TABU KARYA ANINDITA S. THAYF: KAJIAN FEMINISME EKSISTENSIALIS Geleuk, Maria Benga; Mulawarman, Widyatmike Gede; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.673

Abstract

ABSTRACT The purposes of this research were to describe the factual structure and the struggle of female characters in “Tanah Tabu” novel by Anindita S. Thayf in terms of existentialist feminism. The researcher was interested to analyze “Tanah Tabu” novel, because this novel presented female characters that can fight to get freedom. The type of this research was descriptive qualitative method, which obtains the information and the description of the struggle of the female characters in “Tanah Tabu” novel based on existentialist feminism. This research used structural approach. The source of data in the research was from “Tanah Tabu” novel by Anindita S. Thayf. Data collection techniques in this research such as read, corect, and write. Meanwhile, data analysis techniques were provided in three phases such as data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The result of this research shows the factual structure of the “Tanah Tabu” novel by Anindita S. Thayf, consisting of characters characterization, plot, and setting. This novel used flashback plot. The characters in this novel have a role as the main character and additional characters. The setting was in Papua, which shows the life of Papua society. The story time shows the year 2012, 1946, 1956, 1958, and 1960. The struggle of female characters in the “Tanah Tabu” novel by Anindita S. Thayf based on existentialist feminism, consists of awareness as liyan, freedom, and transcendence. Awareness as a liyan occurs in Mabel, Mace, and Mama Helda. These three female characters realized that they have been oppressed. Through the awareness, they choose to fight to get out of the oppression. The freedom is owned by Mabel, Mace, and Mama Helda. They are free to make choices which they hold as true and brave to responsible for their decision. Transcendence is performed by Mabel, Mace, and Mama Helda. They became working women, intellectual women, women of socialist transformation, and women follow dominant groups. Key words: female character, novel, existentialist feminism ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fakta cerita dan perjuangan tokoh perempuan dalam novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf ditinjau dari feminisme eksistensialis. Penulis tertarik mengkaji novel Tanah Tabu, karena novel ini menghadirkan tokoh perempuan yang mampu berjuang mendapatkan kebebasan. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu untuk memperoleh informasi dan gambaran perjuangan tokoh perempuan dalam novel Tanah Tabu berdasarkan feminisme eksistensialis. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural. Sumber data penelitian adalah novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca, simak, dan catat. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa fakta cerita novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf, terdiri atas alur, tokoh penokohan, dan latar. Tokoh dalam novel ini mempunyai peranan sebagai tokoh utama dan tokoh tambahan. Latar berada di Papua dengan latar suasana kehidupan masyarakat Papua. Waktu cerita menunjukan tahun 2012, 1946, 1956, 1958, dan 1960. Novel ini menggunakan alur mundur. Perjuangan tokoh perempuan dalam novel TanahTabu karya Anindita S. Thayf berdasarkan feminisme eksistensialis, terdiri atas kesadaran sebagai liyan, kebebasan, dan transendensi. Kesadaran sebagai liyan terjadi pada Mabel, Mace, dan Mama Helda. Ketiga tokoh ini menyadari telah tertindas. Melalui kesadaran ini pula, mereka memilih berjuang untuk keluar dari ketertindasan. Kebebasan dimiliki oleh Mabel, Mace, dan Mama Helda. Mereka bebas menentukan pilihan yang mereka anggap benar dan berani bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Transendensi dilakukan oleh Mabel, Mace, dan Mama Helda. Mereka menjadi perempuan pekerja, perempuan intelektual, perempuan transformasi sosialis, dan perempuan mengikuti kelompok dominan. Kata kunci: tokoh perempuan, novel, feminisme eksistensialis
WOMEN PORTRAYAL IN PATRIARCHAL SOCIETY THROUGH FEMALE MAIN CHARACTERS IN ZEMECKIS’ BEOWULF FILM (2007) Barli, Christian; Sili, Surya; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.674

Abstract

ABSTRACT Patriarchy system which forms gender stereotypes and its issues, consciously or not is easily found in daily life. Gender stereotypes are strengthened by patriarchy system which includes judgments of surrounding society, and forms two categories; masculinity (men stereotypes) and femininity (women stereotypes) which referred from the different biological characteristics among men and women, to empower men and disempower women in society. The purposes of this research were to analyze the portrayal of patriarchy system which is portrayed in the Zemeckis’ Beowulf film, and to analyze the portrayal of female main characters who break patriarchy system which is portrayed in the film. This research was designed as a qualitative research, and the theory of patriarchy by Allan G. Johnson was used as the ground theory. The results of the research showed that patriarchy system and its four elements such as male dominance, male identification, male centeredness, and obsession with control are promoted in the society which is portrayed in the Zemeckis’ Beowulf film (2007). Although the two female main characters of the film live in a society which is patriarchal, but they do not fall into the patriarchy system and the gender stereotypes that are imposed on them as subordinate women, instead they challenge and break the social systems. Key words: Beowulf film, gender stereotypes, main characters, patriarchy, women portrayal.  ABSTRAK Sistem patriarki yang membentuk stereotip gender dan isu-isu terkait lainnya, mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari secara sadar atau tidak. Stereotip gender dilingkupi dan diperkuat oleh sistem patriarki yang mencakup anggapan-anggapan dalam kehidupan bermasyarakat yang mana membentuk dua kategori, yakni; maskulinitas (stereotip pria) dan feminitas (stereotip wanita). Anggapan-anggapan berdasarkan dua kategori gender tersebut mengacu pada perbedaan karakterisitk pria dan wanita secara biologis demi menguatkan kuasa serta wewenang pria, dan melemahkan peran dan posisi wanita dalam masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penggambaran sistem patriarki yang terdapat di dalam film Zemeckis yang berjudul Beowulf. Penelitian ini bertujuan pula untuk menganalisis penggambaran pemeran-pemeran utama wanita yang mematahkan sistem sosial patriarki yang tergambar di dalam film tersebut. Penelitian ini dirancang sebagai sebuah penelitian yang bersifat kualitatif dengan menggunakan teori patriarki yang dikemukakan oleh Allan G. Johnson sebagai dasar teori. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem patriarki dan keempat elemennya, seperti; dominasi laki-laki, identifikasi pada laki-laki, keterpusatan pada laki-laki, dan obsesi terhadap penguasaan, digalakkan dalam kehidupan bermasyarakat yang tergambar dalam film Beowulf yang disutradarai oleh Zemeckis pada tahun 2007 tersebut. Meskipun kedua pemeran utama perempuan dalam film tersebut hidup di tengah-tengah masyarakat yang menganut paham sosial patriarki, namun mereka tidak jatuh ataupun terpengaruh oleh sistem patriarki dan stereotip gender yang beranggapan bahwa mereka adalah perempuan bawahan yang mestinya tunduk terhadap sistem-sistem sosial tersebut. Malahan mereka menantang dan menghancurkan tatanan sistem-sistem sosial tersebut. Kata kunci: Film Beowulf, stereotip gender, tokoh utama, patriarki, penggambaran perempuan
SLAVERY OF THE MAIN CHARACTER SOLOMON NORTHUP IN THE 12 YEARS A SLAVE MOVIE Alfred, Alfred; Natsir, M; Setyowati, Ririn
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.670

Abstract

ABSTRACT This research revolve around a movie based on real life experience that show us about the two sides of ideology that clash between each other and the result because of it, learning from history is crucial in order to prevent society to commit the same mistake or experience the same tragedy. Descriptive qualitative approach was used in this research. The research focused on two purposes namely to identify the form of slavery that occur in the movie and the effects of slavery toward the main character Solomon Northup`s mental state during his 12 years enslavement. There are five types of slavery that occurred in the movie which are debt bondage, contract slavery, forced labor, human trafficking, and sexual slavery. Solomon showed six kinds of psychological arousal throughout the entire movie which are anger, disappointment, frustration, hate, sad, and happiness and all those emotions were related to his 12 years of enslavement. Furthermore, cognitive label was used to classify those six psychological arousals into three forms. Those three forms of cognitive label are crying, laughing, and screaming. The psychological arousal happiness belonged to both crying and laughing cognitive label. Psychological arousal anger and disappointment belong to cognitive label screaming. Psychological arousal sad and frustration belong to cognitive label crying. Key words: slavery, human rights  ABSTRAK Penelitian ini mengkaji sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Tujuan dari penelitian ini adalah agar masyarakat bisa mengenali sejarah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian ini memiliki dua tujuan yakni mengidentifikasi bentuk-bentuk perbudakan yang terjadi dalam film dan efek perbudakan terhadap karakter Solomon Northup selama 12 tahun perbudakan yang dialaminya. Ada lima jenis perbudakan yang ditunjukkan di film, yakni perbudakan piutang, perbudakan kontrak, kerja paksa, perdagangan manusia, dan perbudakan seksual. Solomon menunjukkan enam macam dorongan psikologi, yakni amarah, kekecewaan, frustasi, benci, sedih dan bahagia, seluruh emosi itu berkaitan dengan perbudakannya selama 12 tahun. Selanjutnya, label kognitif digunakan untung mengklasifikasi keenam dorongan psikologis tersebut menjadi tiga kategori. Ketiga kategori label kognitif tersebut adalah menangis, tertawa, dan berteriak. Dorongan psikologi bahagia masuk di label kognitif menangis dan tertawa. Dorongan psikologis amarah dan kekecewaan masuk di label kognitif berteriak. Dorongan psikologi sedih dan frustasi masuk di label kognitif menangis. Kata kunci: perbudakan, hak asasi manusia
ANALYSIS OF FLOUTING AND VIOLATING TOWARDS MAXIM OF QUALITY IN MY SISTER’S KEEPER NOVEL Noertjahjo, Ester; Arifin, M Bahri; Ariani, Setya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.671

Abstract

ABSTRACT The objectives of this research was to find the expression of flouting and violating towards maxim of quality in My Sister’s Keeper novel through major characters’ utterances and also to find the purposes of using flouting and violating toward maxim of quality. This analysis includes to descriptive qualitative method. This researcher used My Sister’s Keeper novel as the source of data. The data derived from the utterances of major characters containing the elements of flouting and violating towards maxim of quality. From the finding of this analysis, the elements of flouting and violating towards maxim of quality were found in major characters’ utterances through five strategies. They are hyperbole strategy, metaphor strategy, irony strategy, banter strategy, and lie strategy. Metaphor strategy was often used by major characters in this novel. It occurred because through metaphor strategy the characters can emphasize the point of talk to express their opinion clearly. From the analysis of five strategies, it found that there are seven purposes of using flouting and violating towards maxim of quality. Key words:    Flouting the maxim of quality, violating towards maxim of quality, purpose, My Sister’s Keeper ABSTRAK  Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan ucapan dari penyimpangan dan pelanggaran terhadap maksim kualitas dalam novel My Sisters Keeper melalui ujaran karakter utama dan juga menemukan tujuan dari penggunaan penyimpangan dan pelanggaran terhadap maksim kualitas. Analisis ini termasuk dalam metode deskriptif kualitatif. Peneliti ini menggunakan novel My Sisters Keeper sebagai sumber data. Data berasal dari ujaran karakter utama yang mengandung unsur-unsur penyimpangan dan pelanggaran terhadap maksim kualitas. Dari analisis ini, unsur-unsur penyimpangan dan pelanggaran terhadap maksim kualitas ditemukan dalam ujaran karakter utama melalui lima strategi. Diantaranya adalah strategi hiperbola, strategi metafora, strategi ironi, strategi banter, dan strategi kebohongan. Strategi metafora sering digunakan oleh tokoh utama dalam novel ini. Itu terjadi karena melalui strategi metafora para tokoh dapat menekankan poin pembicaraan untuk mengekspresikan pendapat mereka dengan jelas. Dari analisis lima strategi tersebut, ditemukan bahwa terdapat tujuh tujuan dalam penggunaan penyimpangan dan pelanggaran terhadap maksim kualitas.Kata kunci:     Penyimpangan maksim kualitas, Pelanggaran maksim kualitas, Tujuan, My Sister’s Keeper
IDENTITY OF TIMO CRUZ CHARACTER THROUGH NEEDS FULFILLMENT IN THE "COACH CARTER" MOVIE Gunawan, Ryanshan; Kuncara, Singgih Daru; Wati, Erna
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.698

Abstract

ABSTRACT This research aimed to find out how Timo Cruz as the main character in Coach Carter movie obtained his real identity by examining the needs Timo Cruz fulfilled using Abraham Maslows theory of Five Hierarchy of Needs. To begin with, the researcher analyzed the needs that Timo Cruz fulfilled from the first stage to the fifth stage. After analyzing the needs, the researcher then analyzed the four identities from James Marcias theory. Furthermore, the researcher identified what stage of needs that could be linked up to the identity. The method used in this research was qualitative research. The data were analyzed through Abraham Maslows theory about Five Hierarchy of Needs and Four Identity Status by James Marcia. The movie was analyzed by the characters’ conversation and dialogue script. The researcher used some steps to collect the data to be examined. In analyzing the data, the researcher was watching the movie several times, comprehended the dialogues and the pictures of the movie related to needs fulfillment and identity of Timo Cruz character. The researcher found the needs of Timo Cruz character based on the Abraham Maslows theory on five needs; physiological needs, safety needs, social needs, esteem needs and self-actualization needs. The researcher also found the identity of Timo Cruz that focused on four identities; identity foreclosure, diffusion, moratorium and achievement. Afterwards, the researcher explained the most dominant needs like social needs and identity from character Timo Cruz. Key words: needs, identity  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara tokoh utama dalam film Coach Carter, Timo Cruz memperoleh identitas sebenarnya dengan mengkaji berbagai kebutuhan yang telah dipenuhi olehnya melalui teori Hirarki Lima Kebutuhan dari Abraham Maslow. Pada langkah awal, peneliti menganalisa kebutuhan-kebutuhan yang telah dipenuhi oleh Timo Cruz mulai tingkatan pertama sampai pada tingkatan kelima. Selanjutnya peneliti menganalisa empat identitas dari teori James Marcia. Pada langkah ini, peneliti mengidentifikasi tingkatan kebutuhan apa yang memiliki hubungan dengan identitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisa menggunakan teori Hirarki Lima Kebutuhan oleh Abraham Maslow dan teori Empat Identitas oleh James Marcia. Percakapan-percakapan para tokoh serta naskah dialog lah yang dianalisa dari film ini. Peneliti menggunakan beberapa cara dalam mengumpulkan data-data untuk dianalisa selanjutnya. Dalam menganalisa data-data tersebut, peneliti telah menonton film ini beberapa kali, kemudian menghubungkan beberapa dialog dan adegan yang ada dalam film Coach Carter dengan pemenuhan kebutuhan dan identitas dari tokoh Timo Cruz. Peneliti menemukan adanya pemenuhan kebutuhan oleh tokoh Timo Cruz berdasarkan teori Lima Kebutuhan Abraham Maslow; kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan untuk diapresiasi, dan kebutuhan aktualisasi diri. Selain lima kebutuhan tersebut, peneliti juga menemukan identitas Timo Cruz berdasarkan pada empat identitas James Marcia: pengambilan identitas, difusi identitas, penundaan identitas, dan pencapaian identitas. Setelah itu, peneliti menjelaskan kebutuhan yang paling berpengaruh seperti kebutuhan sosial dan identitas dari tokoh Timo Cruz. Kata kunci: kebutuhan, identitas 
WOMEN’S LANGUAGE FEATURES FOUND IN FEMALE CHARACTER’S UTTERANCES IN THE DEVIL WEARS PRADA MOVIE Oktapiani, TIka; Natsir, M; Setyowati, Ririn
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.672

Abstract

ABSTRACT The research entitled women’s language features found in female character’s utterances in The Devil Wears Prada Movie, aims to identify the women’s language features based on Lakoff’s theory and also to identify language functions served by women’s language features found in The Devil Wears Prada movie based on Jakobsen’s theory. This research was conducted by using descriptive qualitative method, while for collecting the data were watching the movie several times, reading script movie and underlining female character’s utterances containing the women’s language features. From ten features of women’s language, the researcher found nine features used by the female character in The Devil Wears Prada Movie. They are lexical hedges or fillers (7), tag question (3), rising intonation on declarative (2), empty adjectives (3), precious color term (1), intensifiers (10), super polite form (4), hypercorrect grammar (0), avoidance of strong swear words (3) and emphatic stress (3). Intensifiers are the most frequent women’s language features used by female characters in The Devil Wears Prada movie because they want to emphasize or strengthen their utterances deeply to attract addressee’s attention using intensifiers. Meanwhile, hypercorrect grammar did not occur in this research because the female characters mostly used informal language in their dialogue to shorten the gap among the characters. Then, there are language functions served by women’s language found in female character’s utterances in The Devil Wears Prada movie. They are expressive function, directive function and metalinguistic function. Key words: women’s language, women’s language features, The Devil Wears Prada  ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fitur-fitur bahasa wanita berdasarkan teori Lakoff dan juga untuk mengidentifikasi fungsi bahasa yang disajikan oleh fitur bahasa wanita yang terdapat dalam film The Devil Wears Prada berdasarkan teori Jakobsen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, sedangkan untuk mengumpulkan data adalah menonton film, membaca naskah film dan menggari bawahi ucapan karakter perempuan yang mengandung fitur-fitur bahasa wanita. Dari sepuluh fitur bahasa wanita, peneliti menemukan sembilan fitur yang digunakan oleh karakter wanita dalam The Devil Wears Prada Movie, lexical hedges atau filler7), tag question (3), rising intonation on declarative (2), empty adjectives (3), precise color term (1), intensifiers (10), super polite form (4), hypercorrect grammar (0), avoidance of strong swear word (3) dan emphatic stress (3). Intensifiers adalah fitur bahasa wanita yang paling sering digunakan oleh karakter wanita dalam film The Devil Wears Prada karena mereka ingin menekankan atau memperkuat ucapan mereka secara mendalam untuk menarik perhatian penerima dengan menggunakan intensifiers. Sementara itu, tata bahasa hypercorrect tidak terjadi dalam penelitian ini karena karakter wanita kebanyakan menggunakan bahasa informal dalam dialog mereka untuk memperpendek jarak antar karakter. Kemudian, ada fungsi bahasa yang disajikan oleh bahasa wanita yang ditemukan dalam ujaran karakter wanita dalam film The Devil Wears Prada. Mereka adalah fungsi ekspresif, fungsi direktif dan fungsi metalinguistik. Kata kunci: bahasa wanita, fitur-fitur bahasa wanita, The Devil Wears Prada
Love and Belongings Needs Represented by Twin Character in The Thirteenth Tale Novel Sabiela, Nur Laili; Kuncara, Singgih Daru; Ariani, Setya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.699

Abstract

ABSTRACT The purpose of the research is to find out the twin character in The Thirteenth Tale Novel, Adeline March and Emmeline March’s character based on Maslow’s Hierarchy of Needs Love and Belongings before they are separated, during the separation period, and after they reunite. This research is categorized as a content analysis research design. This research used hierarchy of needs theory especially love and belongings needs from Abraham Maslow. The result of the research showed that Adeline March and Emmeline March could satisfy the love and belongings needs and have the stable interaction and close relationship before the separation. However, during the separation, their love and belongings needs are interrupted and it causes alteration on their character. In addition, when they finally reunite, Adeline and Emmeline experience different development of the love and belongings needs fulfillment. Adeline is being harsher and Emmeline grows ignorance and independence towards Adeline. Thus, people who are unable to satisfy one of the hierarchy of needs will be experiencing transformation of their character.  Keywords: love, belongings, need, twin ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menemukan karakter tokoh kembar pada novel The Thirteenth Tale, Adeline March dan Emmeline March berdasarkan teori hirarki kebutuhan cinta dan memiliki dari Abraham Maslow sebelum mereka dipisah, selama masa perpisahan dan setelah mereka kembali bersama. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian analisis konten. Penelitian ini menggunakan teori hirarki kebutuhan khususnya kebutuhan cinta dan memiliki dari Abraham Maslow. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Adeline dan Emmeline memenuhi kebutuhan cinta dan memiliki dan memiliki interaksi yang stabil dan hubungan yang erat sebelum perpisahan. Tetapi, selama masa perpisahan, kebutuhan cinta dan memiliki mereka terganggu dan menyebabkan perubahan pada karakter mereka. Sebagai tambahan, ketiks mereka akhirnya kembali bersama, Adeline dan Emmeline mengalami perkembangan pemenuhan kebutuhan cinta dan memiliki yang berbeda. Adeline menjadi lebih kasar dan Emmeline menjadi acuh dan bebas terhadap Adeline. Jadi, orang-orang yang tidak dapat memenuhi satu kebutuhan dari hirarki kebutuhan manusia akan mengalami perubahan pada karakter mereka. Kata kunci: cinta, rasa kepemilikan, kebutuhan, kembar

Page 1 of 1 | Total Record : 7