cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 53 Documents
ILLOCUTIONARY ACT OF GRUG UTTERANCES IN THE CROODS MOVIE Lisnani, Lisnani; Arifin, M Bahri; Ariani, Setya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.798 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.677

Abstract

AbstractIllocutionary act is performing an act by saying something. There were five types of illocutionary act, namely: assertives, directives, commissives, expressives and declaratives. The Croods movie is a story about the journey of a family who wants to find a safer place for them to life. The aims of this research were to find out the types and to know the context of illocutionary act of Grug’s utterances in The Croods movie. This research was conducted by using descriptive qualitative method, because the data of this research were from the utterances containing the types and the context of illocutionary act of Grug’s utterances. The data of this research were taken from 38 sample utterances of Grug’s conversation. From the analysis can be concluded that they were 13 utterances in the form of assertive which can be categorized into stating, concluding and asserting. Thirteen directive utterances in the form of commanding, requesting, ordering, questioning and forbidding. Commissive appeared in six utterances in the form of promising and refusing. The last types of illocutionary act was expressive which appeared in six utterances in the form of thanking, apologizing, praising and stating anger. Key words: The Croods movie, illocutionary act, types, context AbstrakTindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu. Ada lima jenis tindak ilokusi, yaitu: asertif, direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif. Film The Croods adalah kisah tentang perjalanan sebuah keluarga yang ingin mencari tempat yang lebih aman bagi mereka untuk hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan untuk mengetahui konteks tindak ilokusi dari ucapan Grug di film The Croods. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, karena data penelitian ini berasal dari ucapan-ucapan yang berisi jenis tindak ilokusi dan konteks tindak ilokusi dari ucapan Grug. Data penelitian ini diambil dari 38 sampel ujaran percakapan Grug. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat 13 ucapan dalam bentuk asertif yang dapat dikategorikan ke dalam menyatakan, menyimpulkan dan menegaskan. Tiga belas ucapan direktif dalam bentuk memerintah, meminta, pemesanan, mempertanyakan dan melarang. Komisif muncul dalam enam ucapan dalam bentuk menjanjikan dan menolak. Jenis terakhir dari tindakan ilokusi adalah ekspresif yang muncul dalam enam ucapan dalam bentuk berterima kasih, meminta maaf, memuji dan menyatakan kemarahan. Kata Kunci: film The Croods, tindak ilokusi, tipe, konteks
ANALISIS TUTURAN KITAB TAPAL ADAM DALAM PERNIKAHAN DI LOMBOK UTARA Bayu, Gede Krisna; Sulistyowati, Endang Dwi; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.648 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i2.1026

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendiskripsikan tentang fungsi serta nilai-nilai yang terdapat pada tuturan Kitab Tapal Adam. Dari hasil penelitian ini penulis berhrap dapat member gambaran tentang fungsi serta nilai-nilai yang terdapat pada tuturan Kitab Tapal Adam, agar dapat berguna sebagai refrensi atau masukan bagi ilmu budaya, dan sekuarang-kurangnya dapat berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif (kualitatif) metode deskriptif kualitatif yang merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis dalam penelitian menggunakan teknik interaktif, yaitu mengumpulkan data, menabulasi data, dan menganalisa berdasarkan fungsi tuturan, nilai-nilai tuturan dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan, yaitu (1) tuturan Kitab Tapal Adam berfungsi sebagai, fungsi moralitas, fungsi religious dan fungsi sebagai media hiburan, namun fungsi tuturan kitab Tapal Adam lebih dominan terhadap fungsi religious karena lebih mengutamakan tentang ketaatan serta kepatuhan kepada perintah serta larangan Allah. (2) Tuturan Kitab Tapal Adam mengandung nilai religious, nilai filosofi, nilai historis, dan nilai moral. Namun nilai filosofi lebih domoinan karena dalam tuturan Kitab Tapal Adam terdapat rahasia Allah sehingga harus dikaji lebih dalam lagi.Kata Kunci: Tuturan, fungsi tuturan, nilai-nilai tuturan  ABSTRACT This study was conducted with the aim of describing the function and values contained in the speech of the Book of Adams Poultry. From the results of this study the author can memrap member members of the function and values contained in the speech Book of Adams Pardon, in order to be useful as a reference or input for cultural science, and at least can be useful as a contribution of thought to the world of education. The type of research used in this study is descriptive (qualitative) qualitative descriptive method which is a research procedure that produces descriptive data in the form of words written or spoken. Data collection techniques in research using observation techniques, interviews and documentation. Analytical techniques in done to peel aspects of feminism by way of classifying it in two parties; pros and cons of feminism. The type of research that the authors do is qualitative research with descriptive method. This research uses literature feminism approach. The source of data in this research is the drama of RE-work by M. Fachri Ramadhani. Data collection techniques used are research using interactive techniques, namely collecting data, tabulating data, and analyze based on speech functions, speech values and draw conclusions Based on the results of the analysis can be concluded, namely (1) the speech of the Book of Adams Poultice functions as a function of morality, religious function and function as a medium of entertainment, but the function of the speech of the Tapal Adam is more dominant towards religious function because it prefers obedience and obedience to orders and prohibitions God. (2) the speech of the Adamic Book contains religious values, philosophical values, historical value, and moral values. But the value of philosophy is more dominant because in the words of the Book of Adams Poultice there is a secret of God so it must be studied more deeplyKeywords : Speech, speech function, speech values
MANTRA DALAM UPACARA ADAT BELIAN SENTIYU SUKU DAYAK TUNJUNG DI KUTAI BARAT: KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI MANTRA Kristiani, Natalia; Mursalim, Mursalim; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.898

Abstract

ABSTRACT Belian Sentiyu’s traditional ceremony is a series of human efforts aimed at preventing the occurrence of a calamity to humans and the environment, or free themselves from the shackles of disease that always ends in a way abstain. The ceremony has existed since ancient times before the arrival of any religion to the village Sekolaq Joleq. Belian Sentiyu traditional ceremony held at the residence of patients suffering from a disease and intend to be healed through the ceremony of Belian Sentiyu. Belian Sentiyu traditional ceremony led by a Pememang. The purpose of this research is to describe the form and function of spell contained in traditional ceremony of Belian Sentiyu of Dayak Tunjung tribe in Kutai West. The type of research used in this study is descriptive (qualitative). Researchers try to describe and explain about the shape, and function of spell in traditional ceremony of Belian Sentiyu Dayak Tunjung tribe in Kutai West. Data collection techniques used in this study are observation techniques, interviews and notes, summarizes, translations, and instruments. Then, the data obtained from this study is associated with the theory of spell shape, and the spell function. The results of this study show that the form of spell in traditional ceremony Belian Sentiyu can be seen from the form of lines, the temple form, and from the choice of language there are three languages in the traditional ceremony spell Belian Sentiyu, namely Indonesian, Kutai language, and Tunjung Dayak language. Furthermore, the spell function that is found in the spell in Belian Sentiyu traditional ceremony is, as a social controller, as a reminder, as tolerance, and as a means to pray. Keywords: spell, traditional ceremony of Belian Sentiyu, form, function ABSTRAK Upacara Adat Belian Sentiyu merupakan serangkaian usaha manusia yang bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu musibah terhadap manusia dan lingkungan, atau membebaskan diri dari belenggu penyakit yang selalu di akhiri dengan cara berpantang. Upacara adat tersebut telah ada sejak zaman dahulu sebelum datangnya agama apa pun ke Desa Sekolaq Joleq. Upacara adat Belian Sentiyu diadakan di kediaman pasien yang menderita suatu penyakit dan bermaksud ingin disembuhkan melalui upacara adat Belian Sentiyu tersebut. Upacara adat Belian Sentiyu dipimpin oleh seorang Pememang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, dan fungsi mantra yang terdapat dalam upacara adat Belian Sentiyu suku Dayak Tunjung di Kutai Barat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif (kualitatif). Peneliti berusaha menggambarkan dan menjelaskan tentang bentuk, dan fungsi mantra dalam upacara adat Belian Sentiyu suku Dayak Tunjung di Kutai Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik observasi, wawancara dan mencatat, merangkum, penerjemahan, dan instrumen. Kemudian, data-data yang diperoleh dari penelitian ini dikaitkan dengan teori bentuk mantra, dan fungsi mantra. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa bentuk mantra dalam upacara adat Belian Sentiyu dapat dilihat dari bentuk baris, bentuk bait, dan dari pilihan bahasa terdapat tiga bahasa pada mantra upacara adat Belian Sentiyu, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Kutai, dan bahasa Dayak Tunjung. Selanjutnya yaitu fungsi mantra yang terdapat pada mantra dalam upacara adat Belian Sentiyu yaitu, sebagai pengendali sosial, sebagai pengingat, sebagai toleransi, dan sebagai sarana untuk berdoa. Kata kunci: mantra, upacara adat Belian Sentiyu, bentuk, fungsi
ANALISIS TAWAR DARI SUKU KUTAI DI DESA MUARA KEDANG KECAMATAN BONGAN KABUPATEN KUTAI BARAT DITINJAU DARI BENTUK MANTRA Mastikah, Mastikah; Arifin, Syaiful; Pudawari, Pudawari
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 1 (2017): Edisi Januari 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.3 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i1.668

Abstract

Latar belakang penelitian ini yaitu untuk mengangkat dan  menggali kebudayaan khususnya kebudayaan tradisi lisan, karena seiring berkembangnya zaman yang semakin modern maka tradisi-tradisi tersebut sudah semakin punah dan sudah tidak dikenal oleh masyarakat luas. Tujuan penelitian ini dilakukan guna mendokumentasikan salah satu tradisi lisan Suku Kutai yang ada di Kalimantan Timur khususnya yang ada di Desa Muara Kedang Kecamatan Bongan Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi. Penelitian dengan menggunakan metode deskripsi bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis, fakta akurat dan karakteristik mengenai bidang tertentu. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, sadap rekam, penurunan teks cerita dan penerjemahan. Sedangkan teknik analisis data menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu ciri mantra (1) berirama ab-ab, (2) bersifat lisan, sakti atau magis, (3) bersifat asoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius, (4) banyak kata-kata yang kurang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan Tawar dengan masyrarakatnya, (1) kegiatan yang melibatkan dukun, (2) kepatuhan terhadap adat dan upacara yang berlaku, (3) aturan-aturan yang wajib dipenuhi oleh dukun serta masyarakat pendukungnya. Kata Kunci: Tuturan, Tawar Suku Kutai, Mantra
THE HIERARCHY OF NEEDS REFLECTED IN MICHAEL OHER’S CHARACTER IN THE BLIND SIDE MOVIE Sari, Linda; Natsir, M.; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.733 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i4.767

Abstract

ABSTRACT This study is aimed to find how Michael Oher fulfilled his needs and to convey Michael Oher’s character when all his needs have been fulfilled and his dominant character in the movie of The Blind Side. The method that is used by the writer is descriptive qualitative. The data of this study were analyzed with the hierarchy of needs theory by Abraham Maslow. The writer analyzed the dialogue also narration that reflected the needs of the main character and also the changes of his character. The result of this study shows Oher could fulfill all of his needs from the lowest stage that begins with physiological needs, safety needs, love and belonging needs, self-esteem needs, and the last is self-actualization needs. Regarding to all of his needs that had been already fulfilled, his character also changed from a silent boy to a confident character who could express himself in sport and became one of the players that had a big influenced to the team. Last, for the dominant character that appeared in Oher was the protective character which was found in two different needs based on Maslow’s. Keywords: hierarchy of needs, character, characterization, The Blind Side movie  ABSTRAK Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Michael Oher memenuhi kebutuhan hidupnya dan menemukan bagaimana karakter Michael Oher ketika segala kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi. Juga, kajian ini bertujuan untuk mengungkap karakternya yang dominan. Metode yang digunakan penulis adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini dianalisa dengan teori Hierarchy of Needs dari Abraham Maslow. Penulis menganalisa dialog dan juga narasi yang mencerminkan kebutuhan hidup karakter utama dan perubahan karakternya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Oher mampu  memenuhi kebutuhan mulai dari kebutuhan fisiologis, kemanan, sosial, harga diri, dan kebutuhan pencapaian. Berkaitan dengan semua kebutuhan yang sudah terpenuhi, karakternya juga berubah dari lelaki yang pendiam menjadi karakter yang percaya diri dan bisa mengekspresikan dirinya dalam olahraga dan juga menjadi salah satu pemain yang memiliki pengaruh besar bagi timnya. Terakhir, untuk karakter dominan yang terlihat di Oher adalah karakter yang protektif dan di temukan didalam dua kebutuhan berbeda berdasarkan teori dari Maslow.  Kata kunci: hierarchy of needs, karakter, pemeranan, film The Blind Side
MITOS DAN CERITA RAKYAT KUTAI IKAN BAUNG PUTIH DI MUARA KAMAN: KAJIAN STRUKTURALISME Amrah, Rosita; Murtadlo, Akhmad; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.418 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.682

Abstract

 ABSTRACTThis study aimed to describe the structure of folklore Ikan Baung Putih and its relationship with the myth of ikan baung putih growing in Muara Kaman. Relations folklore with myths known weave patterns and functional actants in the analysis of the story. The results showed that the folklore Ikan Baung Putih has a very close relationship with the myth that developed. King Setanyer told never ask for help to the ikan Baung Putih to be saved from the attack earthworms. Ikan Baung Putih accepted the request to propose several measures, among others, King Setanyer and their offspring should not eat the flesh of ikan Baung Putih. If the agreement is violated, then there would be a calamity that comes in the form of itching and scabies on the body. The deal is then a myth that developed in Muara Kaman.Key words: myth, folklore, structuralism, ikan Baung PutihABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur cerita rakyat Ikan Baung Putih dan hubungannya dengan mitos ikan baung putih yang berkembang di Muara Kaman. Hubungan cerita rakyat dengan mitos yang berkembang diketahui dengan menyusun pola aktan dan fungsional dalam analisis cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Ikan Baung Putih memiliki hubungan yang sangat erat dengan mitos yang berkembang. Raja Setanyer dikisahkan pernah meminta pertolongan kepada ikan Baung Putih agar diselamatkan dari serangan cacing tanah. Ikan Baung Putih menerima permintaan itu dengan mengajukan beberapa syarat antara lain, Raja Setanyer dan keturunannya tidak boleh memakan daging ikan Baung Putih. Apabila kesepakatan itu dilanggar, maka akan ada musibah yang datang berupa penyakit gatal-gatal dan kudisan pada tubuh. Kesepakatan inilah yang kemudian menjadi mitos yang berkembang di Muara Kaman. Kata Kunci: mitos, cerita rakyat, strukturalisme, ikan Baung Putih
NILAI DALAM CERITA RAKYAT SUKU DAYAK TUNJUNG TULUR AJI JANGKAT DI KUTAI BARAT: KAJIAN FOLKLOR Syuhada, Syuhada; Murtadlo, Akhmad; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.776 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i2.1093

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur-unsur dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita Tulur Aji Jangkat. Peneliti tertarik mengkaji cerita Tulur Aji Jangkat, karena cerita ini menggambarkan tentang pemimpin pertama yang memimpin kerajaan Suku Dayak  di Kutai Barat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif (kualitatif). Peneliti berusaha menggambarkan dan menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita Tulur Aji Jangkat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, catat, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fakta cerita Tulur Aji Jangkat, terdiri atas tema, alur, tokoh penokohan, latar. Peranan tokoh dalam cerita ini adalah tokoh utama dan tokoh tambahan. Latar berada di Bengkalakng, Lunukng, dan Sendawar dengan suasana perkampungan Dayak dan hutan belantara. Cerita ini menggunakan alur maju. Nilai yang ditemukan dalam cerita Tulur Aji Jangkat berupa nilai budaya, nilai religius, dan nilai moral. Masing-masing nilai diperoleh berdasarkan sikap dan perbuatan tokoh dan kelompok dalam cerita seperti keberanian, bergotong royong, kasih sayang, saling berbagi dan penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kata kunci: Tulur Aji Jangkat, cerita rakyat, nilai  ABSTRACT The purpose of this study described the elements and values which contained in the story Tulur Aji Jangkat. The researcher interested with the story of Tulur Aji Jangkat, because this story described the first leader who led the Dayak tribal kingdom in Kutai Barat. This research used descriptive method (qualitative). Researcher tried to describe and explain the values which contained in the story Tulur Aji Jangkat. The data collection of this research are observation, interview, record, and documentation. Data analysis used the data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The finding of this research showed that the fact of Tulur Aji Jangkats story, consisted of theme, plot, characterization, background. The role of the characters in this story are the main character and additional characters. The setting of this story was in Bengkalakng, Lunukng, and Sendawar with the atmosphere of Dayak village and jungle. This story used a forward flow. The values found in the Tulur Aji Jangkat story were cultural values, religious values, and moral values. Each value derived based on the attitude and actions of characters and groups in stories such as courage, mutual cooperation, compassion, sharing and servitude to Almighty God. Keywords: Tulur Aji Jangkat, folklore, value
PERJUANGAN TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL TANAH TABU KARYA ANINDITA S. THAYF: KAJIAN FEMINISME EKSISTENSIALIS Geleuk, Maria Benga; Mulawarman, Widyatmike Gede; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.74 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.673

Abstract

ABSTRACT The purposes of this research were to describe the factual structure and the struggle of female characters in “Tanah Tabu” novel by Anindita S. Thayf in terms of existentialist feminism. The researcher was interested to analyze “Tanah Tabu” novel, because this novel presented female characters that can fight to get freedom. The type of this research was descriptive qualitative method, which obtains the information and the description of the struggle of the female characters in “Tanah Tabu” novel based on existentialist feminism. This research used structural approach. The source of data in the research was from “Tanah Tabu” novel by Anindita S. Thayf. Data collection techniques in this research such as read, corect, and write. Meanwhile, data analysis techniques were provided in three phases such as data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The result of this research shows the factual structure of the “Tanah Tabu” novel by Anindita S. Thayf, consisting of characters characterization, plot, and setting. This novel used flashback plot. The characters in this novel have a role as the main character and additional characters. The setting was in Papua, which shows the life of Papua society. The story time shows the year 2012, 1946, 1956, 1958, and 1960. The struggle of female characters in the “Tanah Tabu” novel by Anindita S. Thayf based on existentialist feminism, consists of awareness as liyan, freedom, and transcendence. Awareness as a liyan occurs in Mabel, Mace, and Mama Helda. These three female characters realized that they have been oppressed. Through the awareness, they choose to fight to get out of the oppression. The freedom is owned by Mabel, Mace, and Mama Helda. They are free to make choices which they hold as true and brave to responsible for their decision. Transcendence is performed by Mabel, Mace, and Mama Helda. They became working women, intellectual women, women of socialist transformation, and women follow dominant groups. Key words: female character, novel, existentialist feminism ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fakta cerita dan perjuangan tokoh perempuan dalam novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf ditinjau dari feminisme eksistensialis. Penulis tertarik mengkaji novel Tanah Tabu, karena novel ini menghadirkan tokoh perempuan yang mampu berjuang mendapatkan kebebasan. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu untuk memperoleh informasi dan gambaran perjuangan tokoh perempuan dalam novel Tanah Tabu berdasarkan feminisme eksistensialis. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural. Sumber data penelitian adalah novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca, simak, dan catat. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa fakta cerita novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf, terdiri atas alur, tokoh penokohan, dan latar. Tokoh dalam novel ini mempunyai peranan sebagai tokoh utama dan tokoh tambahan. Latar berada di Papua dengan latar suasana kehidupan masyarakat Papua. Waktu cerita menunjukan tahun 2012, 1946, 1956, 1958, dan 1960. Novel ini menggunakan alur mundur. Perjuangan tokoh perempuan dalam novel TanahTabu karya Anindita S. Thayf berdasarkan feminisme eksistensialis, terdiri atas kesadaran sebagai liyan, kebebasan, dan transendensi. Kesadaran sebagai liyan terjadi pada Mabel, Mace, dan Mama Helda. Ketiga tokoh ini menyadari telah tertindas. Melalui kesadaran ini pula, mereka memilih berjuang untuk keluar dari ketertindasan. Kebebasan dimiliki oleh Mabel, Mace, dan Mama Helda. Mereka bebas menentukan pilihan yang mereka anggap benar dan berani bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Transendensi dilakukan oleh Mabel, Mace, dan Mama Helda. Mereka menjadi perempuan pekerja, perempuan intelektual, perempuan transformasi sosialis, dan perempuan mengikuti kelompok dominan. Kata kunci: tokoh perempuan, novel, feminisme eksistensialis
THE FLOUTING OF MAXIM IN THE SE7EN MOVIE SCRIPT Ibrahim, Zulfah; Arifin, M. Bahri; Setyowati, Ririn
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.215 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.1016

Abstract

ABSTRACT This research focused on analyzing flouting of maxims that were flouted by the characters in the Se7en movie script and the motivation of the characters flouted the maxims. This research used qualitative research method. The data of the research were in the form of utterances that contained flouting of maxim. The data were collected by downloading the movie and the script, watching the movie, and collecting the data from the script. The data analysis was conducted by organizing the data into narration, analyzing the data, and drawing the conclusion. The results of the research showed what types of maxim were flouted in the movie and what motivation that led the characters to flout the maxims. There are four flouting of maxims in the Se7en movie script; they are maxim of quantity maxim of quality, maxim of relevance, and maxim of manner. Then, there are three motivations that influenced the characters flouted the maxims; they are competitive, collaborative, and conflictive.                                          Keywords: flouting of maxim, Se7en movie  ABSTRAK Penelitian ini difokuskan pada analisis pelanggaran maksim yang dilakukan oleh karakter dalam naskah film Se7en dan motivasi karakter melanggar maksim tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data penelitian berupa ujaran yang mengandung pelanggaran maksim. Data dikumpulkan dengan cara mengunduh film dan naskahnya, menonton film, dan mengumpulkan data dari naskah. Analisis data dilakukan dengan menyusun data dalam bentuk narasi, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan jenis maksim apa saja yang dilanggar dalam film ini dan motivasi apa yang menyebabkan karakter tersebut melanggarnya. Ada empat maksim yang dilanggar dalam naskah film Se7en, yaitu maxim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Lalu, ada tiga motivasi yang mempengaruhi karakter melanggar keempat maksim tersebut, yaitu kompetitif, kolaboratif,  dan konfliktif. Kata kunci: pelanggaran maksim, film Se7en
PENGEMBANGAN TEKNIK PEMBELAJARAN MENULIS DAN MEMBACA MELALUI GERAKAN LITERASI SEKOLAH Sari, Eka Dewi Lukmana; Mursalim, Mursalim; Murtadlo, Akhmad
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.888 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i4.772

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the planning, implementation, evaluation, and the effectiveness of the development of learning techniques of writing and reading through the School Literacy Program. This research uses research and development method which produce Literation Book development product. The results of the analysis concluded that the planning resulted in the compilation of the GLS program and the Literacy Book material instrument that has been validated by the material and linguist. Implementation of development through initial trials, revisions, and final trials resulted in increased interest in writing and reading talent, evaluation stages with interview triangulation techniques and inquires with peer teachers and students. The effectiveness stage obtained the average value recapitulation 92,5 categories very good or effective. Keywords: learning technique, writing, reading, literacy ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan efektivitas pengembangan teknik pembelajaran menulis dan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang menghasilkan produk pengembangan Buku Literasi. Hasil analisis disimpulkan bahwa perencanaan menghasilkan penyusunan program GLS dan instrumen materi Buku Literasi yang telah divalidasi oleh ahli materi dan ahli kebahasaan. Pelaksanaan pengembangan melalui uji coba awal, revisi, dan uji coba akhir menghasilkan peningkatan minat bakat menulis dan membaca, tahap evaluasi dengan teknik triangulasi wawancara dan angket dengan guru rekan sejawat dan siswa. Tahap efektivitas didapatkan rekapitulasi nilai rata-rata 92,5 kategori sangat baik atau efektif. Kata kunci: teknik pembelajaran, menulis, membaca, literasi