cover
Filter by Year
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Articles
55
Articles
ANALISIS TUTURAN KITAB TAPAL ADAM DALAM PERNIKAHAN DI LOMBOK UTARA

Bayu, Gede Krisna, Sulistyowati, Endang Dwi, Rijal, Syamsul

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendiskripsikan tentang fungsi serta nilai-nilai yang terdapat pada tuturan Kitab Tapal Adam. Dari hasil penelitian ini penulis berhrap dapat member gambaran tentang fungsi serta nilai-nilai yang terdapat pada tuturan Kitab Tapal Adam, agar dapat berguna sebagai refrensi atau masukan bagi ilmu budaya, dan sekuarang-kurangnya dapat berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif (kualitatif) metode deskriptif kualitatif yang merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis dalam penelitian menggunakan teknik interaktif, yaitu mengumpulkan data, menabulasi data, dan menganalisa berdasarkan fungsi tuturan, nilai-nilai tuturan dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan, yaitu (1) tuturan Kitab Tapal Adam berfungsi sebagai, fungsi moralitas, fungsi religious dan fungsi sebagai media hiburan, namun fungsi tuturan kitab Tapal Adam lebih dominan terhadap fungsi religious karena lebih mengutamakan tentang ketaatan serta kepatuhan kepada perintah serta larangan Allah. (2) Tuturan Kitab Tapal Adam mengandung nilai religious, nilai filosofi, nilai historis, dan nilai moral. Namun nilai filosofi lebih domoinan karena dalam tuturan Kitab Tapal Adam terdapat rahasia Allah sehingga harus dikaji lebih dalam lagi.Kata Kunci: Tuturan, fungsi tuturan, nilai-nilai tuturan  ABSTRACT This study was conducted with the aim of describing the function and values contained in the speech of the Book of Adams Poultry. From the results of this study the author can memrap member members of the function and values contained in the speech Book of Adams Pardon, in order to be useful as a reference or input for cultural science, and at least can be useful as a contribution of thought to the world of education. The type of research used in this study is descriptive (qualitative) qualitative descriptive method which is a research procedure that produces descriptive data in the form of words written or spoken. Data collection techniques in research using observation techniques, interviews and documentation. Analytical techniques in done to peel aspects of feminism by way of classifying it in two parties; pros and cons of feminism. The type of research that the authors do is qualitative research with descriptive method. This research uses literature feminism approach. The source of data in this research is the drama of RE-work by M. Fachri Ramadhani. Data collection techniques used are research using interactive techniques, namely collecting data, tabulating data, and analyze based on speech functions, speech values and draw conclusions Based on the results of the analysis can be concluded, namely (1) the speech of the Book of Adams Poultice functions as a function of morality, religious function and function as a medium of entertainment, but the function of the speech of the Tapal Adam is more dominant towards religious function because it prefers obedience and obedience to orders and prohibitions God. (2) the speech of the Adamic Book contains religious values, philosophical values, historical value, and moral values. But the value of philosophy is more dominant because in the words of the Book of Adams Poultice there is a secret of God so it must be studied more deeplyKeywords : Speech, speech function, speech values

NILAI DALAM CERITA RAKYAT SUKU DAYAK TUNJUNG TULUR AJI JANGKAT DI KUTAI BARAT: KAJIAN FOLKLOR

Syuhada, Syuhada, Murtadlo, Akhmad, Rokhmansyah, Alfian

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur-unsur dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita Tulur Aji Jangkat. Peneliti tertarik mengkaji cerita Tulur Aji Jangkat, karena cerita ini menggambarkan tentang pemimpin pertama yang memimpin kerajaan Suku Dayak  di Kutai Barat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif (kualitatif). Peneliti berusaha menggambarkan dan menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita Tulur Aji Jangkat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, catat, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fakta cerita Tulur Aji Jangkat, terdiri atas tema, alur, tokoh penokohan, latar. Peranan tokoh dalam cerita ini adalah tokoh utama dan tokoh tambahan. Latar berada di Bengkalakng, Lunukng, dan Sendawar dengan suasana perkampungan Dayak dan hutan belantara. Cerita ini menggunakan alur maju. Nilai yang ditemukan dalam cerita Tulur Aji Jangkat berupa nilai budaya, nilai religius, dan nilai moral. Masing-masing nilai diperoleh berdasarkan sikap dan perbuatan tokoh dan kelompok dalam cerita seperti keberanian, bergotong royong, kasih sayang, saling berbagi dan penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kata kunci: Tulur Aji Jangkat, cerita rakyat, nilai  ABSTRACT The purpose of this study described the elements and values which contained in the story Tulur Aji Jangkat. The researcher interested with the story of Tulur Aji Jangkat, because this story described the first leader who led the Dayak tribal kingdom in Kutai Barat. This research used descriptive method (qualitative). Researcher tried to describe and explain the values which contained in the story Tulur Aji Jangkat. The data collection of this research are observation, interview, record, and documentation. Data analysis used the data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The finding of this research showed that the fact of Tulur Aji Jangkats story, consisted of theme, plot, characterization, background. The role of the characters in this story are the main character and additional characters. The setting of this story was in Bengkalakng, Lunukng, and Sendawar with the atmosphere of Dayak village and jungle. This story used a forward flow. The values found in the Tulur Aji Jangkat story were cultural values, religious values, and moral values. Each value derived based on the attitude and actions of characters and groups in stories such as courage, mutual cooperation, compassion, sharing and servitude to Almighty God. Keywords: Tulur Aji Jangkat, folklore, value

ANALISIS TUTURAN TARIAN BAMBU GILA DI MALUKU TENGAH DITINJAU DARI BENTUK DAN FUNGSI

Mole, Martia Soa, Mursalim, Mursalim, Rokhmansyah, Alfian

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK Alasan pemilihan judul sebagai bahan penelitian ini, disebabkan keinginan penulis untuk mengetahui bentuk mantra dan fungsi tuturan tarian Bambu Gila di Maluku Tengah. Tujuan utama dari pepelitian ini (1) untuk mengetahui pola tuturan mantra bambu gila (2) untuk mengetahui bentuk tutuan mantra bambu gila (3) mengetahui fungsi tuturan mantra bambu gila. Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Menganalisis bentuk apa saja yang terdapat dalam tuturan mantra tarian bambu gila serta menganalisis pola, dan fungsi tuturan mantra bambu gila. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, perekaman, wawancara, foto dan teknik catat. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa (1) atraksi tarian bambu gila dilaksanakan dengan waktu 30 menit. (2) tuturan bambu gila bentuk mantra berirama abc-abc,abcd-abcd. (3) bersifat lisan, memiliki tujuan tertentu, berhubungan dengan kekuatan dan alam gaib. (4) fungsi tuturan mantra bambu gila yaitu untuk memohon pertolongan para leluhur, pengakuan akan adanya berkah dan kekuasaan tertinggi dari tuhan, membuat roh leluhur dan jin yang dipanggil menguasai bambu dan para pemain, sebagai perintah untuk melaksanakan intruksi pawang, dan sebagai sarana untuk berdoa atau meminta pertolongan. Sedangkan mantra yang dibacakan dalam permainan bambu gila bertujuan untuk berkomunikasi dengan jin.Kata kunci: tuturan bambu gila, bentuk mantra, fungsi  ABSTRACT The reason for choosing the title as the subject of this research, caused by the writer’s desire to know the from of mantra and the speech function of crazy bamboo dance in central maluku. (1) to know spell bamboo mantra spell pattern (2) to know spell bamboo mantra spell from (3) to know the fuction of bamboo crazy speech. The method used in doing this research is qualitative method with descriptive research type. Analyzing what froms are contained in spell bamboo dance mantras and analyzing patterns, and spell bamboo mantra spell function. Data collention techniques used in this research are observation, recording, interview, photo and technique record. The results of the reserch obtained in this study showed that (1) the attraction of crazy bamboo dance was carried out with a time 30 minutes.(2) bamboo spell crazy from of abc-abc rhythmic spell ,abcd-abcd. (3) is verbal, has a specific purpose, relates to power and the occult. (4) the function of spell bamboo mantra spell is to invoke the help of the ancestors, the recognitian of the blessing and the supreme power of God, to make the spirits and the jinn invoked to master the bamboo and the players, as a command to carry out the handler’s instruction, and as a means topray or ask for help. The purpose of mantra generally varies depending on the reader of the mantra. Whereas the mantra that is recited in a crazy bamboo game aims to commonicate with the jin.Keywords: crazy bamboo tutorials, mantra shapes, functions

ANALISIS NASKAH SUREQ MAKELUQNA NABITTAQ

Surahman, Surahman, Arifin, Syaiful, Mursalim, Mursalim

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan kondisi fisik naskah sureq Makelluqna Nabittaq, traslitrasi, menyunting teks dan pemaknaan kandungan isi teks. Dari hasil penelitian ini penulis berharap dapat memberi gambaran bagaimana kondisi dan kandungan isi teks naskah Sureq Makelluqna Nabittaq, agar dapat berguna sebagai sumbangan data  naskah nusantara yang tersebar disuluru Indonesia dan sebagai penerapan ilmu  filologi. Dalam penelitian ini penulis mengunakan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan pencarian naskah, pengecekan naskah, pembacaan teks, traslitrasi standard an terjemahan harafiah. Sedangkan teknik analis data yang digunakan adalah deskripsi naskah dan kritik teks. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui kondisi fisik naskah seperti: judul naska, tempat penyimpanan, jenis teks, tanggal penulisan, tempat penulisan, penyalin, pemilik naskah, bahan naska, cap kertas, warna tinta, jublah halaman, jarak antar baris, jumbla halaman yang di tulis, lembar pelindung, ukuran naskah, ukuran pias, cara pengarisan, jenis huruf, tanda koreksi, sampul naskah, ukuran sampul, pengikat naskah, arah penulisan. Kata kunci: naskah sureq makelluqna nabittaq, filologi  ABSTRACT This study was conducted with the aim of describing the physical condition of Makquqna Nabittaq sureq script, transcripts, text editing and meaningful content of text content. From the results of this study the author hopes to give a picture of how the condition and content of text content Sureq Makelluqna Nabittaq, in order to be us­eful as a contribution of data archipelago script spread over Indonesia and as the application of the science of philology. In this study the authors use this type of descriptive research. Techniques of data collection used the search of manuscripts, checking manuscripts, reading text, traslitrasi standard and literal translation. While the data analyst technique used is the text description and text criticism. Based on this research can be seen the physical condition of the manuscript such as: title naska, storage, type of text, date of writing, place of writing, copying, owner of manuscript, materials nask, paper stamp, color ink, jublah page, distance between lines, jumbla write, protective sheet, manuscript size, pity size, manner of lineing, font type, correction mark, cover of manuscript, cover size, script binder, writing direction. Keywords: script of makelluqna nabittaq sureq, philology

CHARACTER ANALYSIS OF DEXTER MORGAN FROM DEXTER TV SHOW: WITH SPECIAL REFERENCE TO PSYCHOPATH OR SOCIOPATH DISORDERS

Antoko, Sulistyo Dwi, Natsir, Muhammad, Valiantien, Nita Maya

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT Dexter Morgan is the master of horrendous crimes without everyone acknowledgement, he is the master manipulator reflected through each episodes of Dexter TV Show. By using descriptive qualitative method, this study aimed to answer the following questions. The first research question is about the characters of Dexter Morgan, and the second research question is about how he conceals himself from the society. By using theories from Robert Hare’s Psychopathy Checklist –Revised (PCL- R) and Hervey M. Cleckley’sThe Mask of Sanity, the questions are answered in a direct way. The results of the study showed that Dexter Morgan matches 19 from 20 of PCL- R traits from both two factors (Personality and Behavior) such as charming personality, grandiose of self-worth, proneness to boredom, liar, manipulative, lack of remorse, shallow affect, poor and early behavioral problems, promiscuous sexual behavior, lack of realistic goals, impulsive, irresponsible, cannot accept responsibility, short-term relationship, juvenile delinquency, and criminal versatility. The only exception in the trait is from second factor which is revocation of conditional release, because Dexter Morgan never got caught, so he does not need to escape or bail from restraining orders.The result of the second research question showed how psychopath or sociopath lurking around in our peaceful society filled with happiness and joys by faking a smile and superficial charming personality. Psychopath conceals themselves in our everyday lives. Based on the answers of research questions, Dexter Morgan has dominant character as a high functioning psychopath because he can manipulate everyone, undetected serial killer, and act like a wolf in sheep clothes. Keywords: Psychopath, Sociopath, Psychological, Conceals, Dexter Morgan  ABSTRAK Dexter Morgan adalah seorang ahli dalam memanipulasi kehidupan dan juga seorang kriminal tak terdeteksi. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penilitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut. Pertanyaan pertama adalah tentang karakter dari Dexter Morgan, dan yang kedua adalah tentang bagaimana Dexter Morgan menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya di kehidupan sosial. Dengan menggunakan teori dari Robert Hare yang bernama Psychopathy Checklist – Revised (PCL –R) dan Harvey M.Cleckley yang berjudul The Mask of Sanity. Hasil dari penilitian ini adalah Dexter Morgan mampu membuktikan bahwa ia sangat fit dengan 19 dari 20 kriteria PCL –R dari kedua faktor (Kepribadian dan Kebiasaan) seperti kepribadian yang mempesona, kebanggaan berlebihan terhadap diri sendiri, cepat bosan, pembohong, manipulatif, kurangnya perasaan menyesal, kosong, mempunyai masalah kebiasaan sejak dini, kebiasaan seksual yang acak, kurangnya tujuan realistis, bertindak tanpa berfikir, tidak bertanggung jawab, tidak bisa menanggung tanggung jawab terhadap diri sendiri, hubungan jangka pendek, dan lain sebagainya. Satu-satunya kriteria yang tidak dipenuhi Dexter Morgan adalah pembebasan dengan syarat tertentu, karena Dexter Morgan tidak pernah tertangkap oleh pihak berwajib, ia tidak perlu di bebaskan dengan syarat. Sedangkan jawaban dari pertanyaan kedua adalah bagaimana seorang psikopat atau sosiopat menguntit dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan senyuman palsu dan juga keahlian untuk memanipulasi kerabat atau teman-teman di kehidupan sosial.  Berdasarkan jawaban dari kedua pertanyaan, Dexter Morgan sangat dominan dengan sifat psikopat dalam dirinya sehingga ini membuat ia adalah psikopat berkemampuan tinggi, ia hebat memanipulasi dan juga pembunuh tak terdeteksi, ia adalah serigala dalam jubah domba. Kata kunci: Psikopat, Sosiopat, Psikologi, Menyembunyikan, Dexter Morgan.

African American Vernacular English in Shrek Movie

Anggreeni, Devi Indah, Arifin, M. Bahri, Setyowati, Ririn

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract Language is influenced by social differences that appear in society, such as age, gender, religion, power, economic status, and ethnicity. Those social factors produce different kinds of language which is called as variety. Ethnicity as one of the social factors influences the emergence of variety that comes from African American people who lives in United States of America. The variety is called as African American Vernacular English (AAVE). AAVE is often used in literary works to represent African American ethnicity as occurred in Shrek movie through the character of Donkey.This research focused on analyzing the grammatical characteristics of Donkey’s AAVE utterances and the factors underlying them through descriptive qualitative research. The result of this research showed that Donkey’s AAVE utterances have three AAVE’s grammatical features which are verb phrase, negation, and nominal and all four factors which consist of social class, gender, age, and linguistic environment underlying those grammatical characteristics. AAVE grammatical characteristics that appeared in Donkey’s utterances are Copula/Auxiliary Absence, Invariant be, Subject-Verb-Agreement, Other Verb Phrase Structure, ain’t, multiple negation, ain’t with but, and second person plural y’all. Those grammatical characteristics are influenced by Donkey’s working class status, his male gender, teenage age, and his mood when the utterances were taking place whether he was comfortable or not. AAVE grammatical characteristics indicate that Donkey’s character represents African American ethnicity through his utterances and the factors underlying them show that Donkey’s variety is influenced by the social factors that appear in society.Key words: Language, Sociolinguistics, Ethnicity, AAVE, Shrek Movie AbstrakBahasa dipengaruhi oleh perbedaan sosial yang timbul di masyarakat, seperti umur, gender, agama, kekuasaan, status ekonomi, dan etnis. Faktor-faktor sosial tersebut menghasilkan berbagai tipe dari bahasa yang disebut dengan variasi. Etnis sebagai salah satu sosial faktor tersebut mempengaruhi kemunculan sebuah variasi yang berasal dari orang Afrika Amerika yang tinggal di Amerika. Variasi tersebut dinamakan bahasa Inggris Vernakular Afrika Amerika atau AAVE dalam istilah bahasa Inggris. AAVE sering digunakan di karya sastra untuk merepresentasikan etnis Afrika Amerika seperti yang terjadi di film Shrek melalui karakter Donkey.Penelitian ini berfokus pada analisa karakteristik gramatikal dari ujaran AAVE oleh Donkey dan faktor yang mempengaruhi melalui penelitian kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ujaran AAVE Donkey terdiri dari tiga fitur gramatikal, yaitu frasa kata kerja, negasi, dan nominal, dan keempat faktor yang mempengaruhinya, yaitu kelas sosial, gender, umur, dan lingkungan linguistik. Karakteristik gramatikal yang muncul pada ujaran Donkey adalah Ketiadaan Copula/Auxiliary, Invariant be, Subjek-Predikat-Object, Frasa Kata Kerja yang Lain, ain’t, negasi ganda, ain’t dengan but, dan orang kedua jamak y’all. Karakteristik gramatikal tersebut dipengaruhi oleh kelas sosial Donkey yang adalah kelas bawah, gender laki-lakinya, umur remaja, dan suasana hatinya apakah dia merasa nyaman atau tidak ketika sedang berdialog. Karakteristik gramatikal AAVE dalam ujaran Donkey mengindikasikan bahwa karakter Donkey merepresentasikan etnis Afrika Amerika melalui ujarannya dan faktor yang mendasarinya menunjukkan bahwa variasi bahasa Donkey dipengaruhi oleh faktor sosial yang muncul dalam masyarakat. Kata kunci: Bahasa, Sosiolinguistik, Etnis, AAVE, Film Shrek

ANALISIS TUTURAN TRADISI UPACARA LADUNG BIO’ SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DI DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU: KAJIAN FOLKLOR

Daud, Wennita, Arifin, Syaiful, Dahlan, Dahri

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK Penulis tertarik mengajikan Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’ Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau karena Upacara Ladung Bio’ adalah upcara Adat Dayak Kenyah yang sangat penting. Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’  Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau adalah tuturan yang wajib dilakukan oleh Dayak Kenyah Lepo’ Tau pada saat upacara Ladung Bio’. Jenis penelitian ini mengunakan deskriptif dan kualitatif, yang dimana peneliti berusaha mengambarkan dan menjelaskan tentang Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’ Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau. Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’ Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau mengunakan sumber data penelitian adalah Narasumber atas nama Lutang Imang. Teknik pengumpulan data mengunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data mengunakan Reduksi data, Teknik transkripsi, Penyajian data dan Penarik simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Analisis Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’ Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau di Desa Nawang Baru Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Malinau:Kajian Folklor. Adalah Tuturan Tradisi yang ada sejak zaman dulu. Yakni pada saat peperangan antar suku. Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’ ini hanya dimiliki oleh Dayak Kenyah Lepo’ Tau, yang dipandang sebagai sakral, karena didalam upacara Ladung Bio’ ini berbagi petua-petua fungsi melindungi masyarakat Dayak Kenyah Lepo’ Tau dari ancaman sakit penyakit dan dari serangan musuh (ngayau). Kata kunci : Analisis Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’                                                               ABSTRACT The authors are interested in presenting the Tradition Ceremony of Ladung Bio’ Tribe Dayak Kenyah Lepo Tau because Ladung Bio’ Ceremony is a very important Indigenous Dayak Kenyah. Tutorial Tradition of Ladung Bio’ Ceremony Dayak Tribe Kenyah Lepo Tau is a must-do speech by Dayak KenyahLepo Tau at the ceremony of Ladung Bio’. This type of research uses descriptive and qualitative, which is where the researcher tried to describe and explain about the Tradition Tutorial Ladung Bio’ Tribe Dayak Kenyah  Lepo Tau. Tutorial Tradition Ceremony Ladung Bio’ Dayak tribe Kenyah Lepo Tau using the source of research data is a resource on behalf of Lutang Imang. Data collection techniques using observation methods, interviews, documentation. Data analysis techniques use data reduction, transcription technique, Data presentation and Conclusion puller. The result of the research shows that Analysis of Tradition Ladung Bio’ Tribe Dayak KenyahLepo Tau in NawangBaru Village Kayan Hulu Sub-district Malinau District: Folklor Study. Is a Traditional Tutorial that existed since ancient times. That is during the war between tribes. This is only owned by Dayak Kenyah Lepo Tau, which is seen as sacred, because in the Ladung Bio’ ceremony it shares the functions of protecting the Dayak Kenyah Lepo Tau from the threat of illness and from enemy attack (ngayau). Keywords: Analysis of Tradition Tutorial Ladung Bio

ASAL-USUL NAMA PULAU DERAWAN, MARATUA, KAKABAN, DAN SANGALAKI DI KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

Afrianto, Afrianto, Mursalim, Mursalim, Rijal, Syamsul

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKAsal-usul Nama Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki di Kabupaten Berau Kalimantan Timur,  adalah salah satu Sastra daerah yang semakin lama semakin jarang dijumpai dan mulai banyak ditinggalkan, maka seharusnya sastra daerah tetap dilestarikan agar generasi penerus masih mengenal sastra daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang mendeskripsikan terjadinya legenda asal-usul nama pulau Derawan Maratua, Kakaban, dan Sangalaki. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, teknik wawancara, teknik  dokumentasi dan penyajian data tersebut menggunakan teknik catat untuk mengklarifikasi data. Penelitian asal-usul nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki dapat dianalisis secara morfologi dan semantik sehingga ditemukan bentuk kata dan makna nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki di Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki yang terdiri atas satu kata dibahas menurut proses pembentukan kata, makna nama pulau, dan latar belakang pembentukan nama pulau. Kata Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki merupakan kata yang berasal dari bahasa Bajau, yang memiliki kemiripan dari segi makna dalam bahasa Indonesia dengan proses morfologis. Derawan perubahan terjadi pada fonem pe menjadi de, sehingga Derawan (Bajau) menjadi perawan (Indonesia), Maratua perubahan terjadi pada fonem mara menjadi mer, sehingga Maratua (Bajau) menjadi Mertua (Indonesia), Kakaban kemiripan terjadi dari segi bunyi, kata kaka (dalam bahasa Indonesia) mendapat akhiran ban menjadi Kakaban (dalam bahasa Bajau), Sangalaki kemiripan terdapat dari segi bunyi dengan proses pembubuhan, fonem sanga pada laki menjadi Sangalaki (dalam bahasa Bajau), mendapat proses reduplikasi menjadi laki-laki (dalam bahasa Indonesia).Kata Kunci: Asal-Usul, Derawan, Maratua, Kakaban, SangalakiABSTRACTThe origin of the names Derawan Island, Maratua Island, Kakaban Island and Sangalaki Island in Berau East Borneo, are one of the regional literature thats getting rarely encountered and began to abandoned, so as the regional literature need to be preserved so as the next generations still know the regional literature. The used of methods in this research is descriptive methods which describe the origins legend of the name Derawan Island, Maratua, Kakaban and Sangalaki. The technique of data collection is observation technique, interview technique, documentation technique, and presentation of the data using the note technique to clarified the data. Research of origin names Derawan Island, Maratua, Kakaban and Sangalaki can be analyzed by using Morphology and Semantic until founded the words formation and the meaning of the origins names of Derawan Island, Maratua, Kakaban, and Sangalaki in Berau of East Borneo. Names of Derawan Island, Maratua, Kakaban, and Sangalaki that consist of one word explained based on formation words process, the meaning of Island, and background formation of island. The words of Derawan, Maratua, Kakaban, and Sangalaki are one of the words that came from Bajau language, it has similarity from meaning in Indonesia by using Morphology process. Derawan change to the phoneme pe into de, so Derawan (Bajau) became perawan (Indonesia), Maratua change to the phoneme “Mara” into “Mer”, so Maratua (Bajau) became Mertua (Indonesia). Kakaban’s similarity happen from the sound “Kaka” words (in Indonesia) got the suffix “ban” became “Kakaban” (in Bajau), Sangalaki’s similarity can  be found from the sound by affixing process, the “sanga’s” phoneme in laki became Sangalaki (in Bajau), having the reduplication process to be laki-laki (in Indonesia). Keywords: Origins, Derawan, Maratua, Kakaban, Sangalaki.

ILLOCUTIONARY ACT IN THE MAIN CHARACTERS’ UTTERANCES IN MIRROR MIRROR MOVIE

Rahayu, Fita Nur, Arifin, M. Bahri, Ariani, Setya

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT The aims of this research were to find out the types of illocutionary act of the main characters’ utterances in Mirror Mirror movie by Searle’s theory of illocutionary act and to find the context underlying illocutionary act of the main characters by Hymes’ SPEAKING model in Mirror Mirror movie. This research was descriptive qualitative because the data were the utterances of the characters in the Mirror Mirror movie. There were some steps in collecting the data: downloading the movie script, watching the movie several times, reading and observing the dialogue in the movie and selecting Queen and Snow White’s utterances that contain illocutionary act. In the data analysis, the researcher applied Miles and Huberman’s procedures namely data reduction, data display and conclusion drawing/verification. The results of the research show that there are 55 utterances of the main characters that contain illocutionary act. The data were classified into five namely are representatives (4), directives (37), declaratives (0), commissives (2), expressives (12). Of the total 55 illocutionary acts, directives are the most frequent types of illocutionary act because the main characters mostly expressed their utterances in direct way such as by ordering, requesting, asking and commanding. Conversely, the declarative types of illocutionary act were not appeared in this research because the characters that performed the utterance that contain illocutionary act were not selected as the object to analyze. There were eight factors affecting the illocutionary act of the main characters using the context of Hymes’ SPEAKING model. They are setting, participants, ends, act, sequences, key, instrumentalities and genre. Keywords: Speech Act, Illocutionary Act, SPEAKING model by Hymes,Mirror Mirror Movie  ABSTRAK  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari jenis-jenis tindak ilokusi pada tuturan tokoh-tokoh utama dalam film Mirror-Mirror menggunakan teori dari Searle dan untuk menemukan konteks pada tindak ilokusi tokoh-tokoh utama menggunakan SPEAKING model dari Hymes. Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif karena data berupa tuturan tokoh-tokoh di film Mirror Mirror. Ada beberapa langkah dalam mengumpulkan data: mengunggah naskah film, menonton film beberapa kali, membaca dan meneliti percakapan didalam film dan memilih tuturan Snow White dan Queen yang mengandung tindak ilokusi. Didalam data analysis, peneliti menerapkan prosedur Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi/ penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 55 tuturan tokoh-tokoh utama yang mengandung tindak ilokusi. Data diklasifikasikan menjadi lima yaitu representatives (4), directives (37), declaratives (0), commissives (2), expressives (12). Dari total 55 tindak ilokusi, directives adalah jenis tindak ilokusi yang paling sering muncul karena tokoh-tokoh utama sebagian besar mengekspresikan tuturan mereka secara langsung seperti memesan, meminta, bertanya dan menyuruh. Sebaliknya, tindak ilokusi declaratives tidak muncul dalam penelitian ini karena tokoh-tokoh yang melakukan tuturan yang mengandung tindak ilokusi tidak dipilih sebagai objek untuk dianalysis. Ada delapan faktor yang mempengaruhi tindak ilokusi menggunakan teori konteks SPEAKING dari Hymes. Mereka adalah setting, participants, ends, act, sequences, key, instrumentalities and genre. Kata Kunci: Tindak Tutur, Tindak Ilokusi, SPEAKING model oleh Hymes, Film Mirror Mirror

KETIDAKADILAN GENDER TERHADAP TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL GENDUK KARYA SUNDARI MARDJUKI: KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINISME

Astuti, Puji, Mulawarman, Widyatmika Gede, Rokhmansyah, Alfian

Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKAnggapan tersebut telah menjadikan perempuan korban dari perbedaan gender yang menimbulkan diskriminasi. Ketidakadilan atau diskriminasi gender termanifestasikan ke dalam beberapa bentuk yakni, marginalisasi, subordinasi, sterotipe, kekerasan, dan beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki, (2) penyebab ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki. Jenis yang digunakan adalah menggunakan jenis pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pendekatan kualitatif mengacu pada metode deskriptif, yaitu metode yang tertuju pada pemecahan masalah dan bersifat apa adanya. Setelah itu, dapat diperoleh bentuk-bentuk ketidakadilan yang ada dalam novel Genduk yaitu : marginalisasi, masalah Yung yang diusir dari keluarga besar dan tidak mendapat warisan dari ayahnya. Subordinasi, ketika derajat Genduk direndahkan oleh Kaduk dengan memegang tubuh tanpa kerelaan. Stereotipe Yung pada saat harus mendengar omongan masyarakat, suaminya tidak pernah pulang dan tidak ada kabar. Kekerasan seksual, yaitu saat Genduk menemui Kaduk di Tuksari, lalu Kaduk meremas buah dadanya dengan keras. Beban kerja, ketika Yung harus bekerja di rumah dan mencari nafkah. Penyebab ketidakadilan gender pada tokoh Genduk yang mengalami ketidakadilan dari Kaduk memegang atau melecehkan Genduk. Sedangkan tokoh Yung penyebab ketidakadilan yaitu dari ayahnya, karena termarginalkan dengan tidak mendapatkan warisan ladang tembakau, maupun emas permata, dan Yung pergi hanya membawa buntalan yang berisi beberapa helai baju. Kata kunci: ketidakadilan, perempuan, novel, sastra feminisme ABSTRACTThe assumption has made women victims of gender differences that give rise to discrimination. Injustice or gender discrimination is manifested in several forms namely, marginalization, subordination, stereotypes, violence and workloa. This study aims to describe: (1) Form of gender injustice to female characters in Genduk novel by Sundari Mardjuki, (2) Cause of gender injustice to female characters in Genduk novel by Sundari Mardjuki.The type used is using the type of qualitative approach, is research that does not hold calculations. Qualitative approach refers to descriptive method, that is the method that is focused on problem solving and is what it is. After that, can be obtained the forms of injustice that exist in the novel Genduk namely: marginalization, Yung problem that was expelled from large families and did not get inheritance from his father. Subordination experienced by Genduk occurs when its degree is lowered by Kaduk by holding its body without the willingness of Genduk. The stereotype experienced by Yung when she had to listen to the conversation of the community when her husband never came home and there was no word. The violence experienced when Genduk met Kaduk in Tuksari, then Kaduk kissing and squeezing the breasts of Genduk without willingnes.workload when Yung must work at home and earn a living.the cause of gender inequlity in Genduk figures who experience injustice from Kaduk that hold or harass the Genduk. Whereas  Yung’s character causes the injustice of his father, being marginalized by not getting inherited from the tobacco fields, not the gem gold, and Yung goes just carrying a bundle that contains a few strands of clothes.Keywords: injustice, female, novel, literature of feminism