cover
Filter by Year
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi)
ISSN : 22525254     EISSN : -
Jurnal Sosiologi USK (JSU) mengundang para Dosen, Praktisi dan Peneliti untuk mempublikasikan naskahnya pada JSU yang terbit setiap bulan Juni dan Desember setiap tahunnya.
Articles
45
Articles
Identifikasi Permasalahan Anak dalam Rangka Pemenuhan Hak Kesehatan dan Kesejahteraan Anak

Pasca, Ika, Nopianti, Heni, Widiyarti, Diyas

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.844 KB)

Abstract

 This study aims to identify the problems of children healthy areas in the context of the fulfillment of child rights related to the implementation of State program Eligible Children in Gading Cempaka subdistrict, Bengkulu City. The two areas that focused on this research are the Cempaka Permai Village and the Lingkar Barat Village. The results of the study showed that problems were found which involved the fulfillment of facilities such as the ASI corner area. Then the discussion about sexuality is still taboo to discuss so that sexual reproductive health education is still not widely taught at the family level. No smoking areas in the two regions are not yet available as well as the problem of the existence of inadequate environmental sanitation.Keywords: Problem of Children, Rights on child health, Children Friendly City Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan anak dalam rangka pemenuhan hak anak di bidang kesehatan dan kesejahteraan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Identifikasi ini berkaitan dengan adanya implementasi program Kota Layak Anak di Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Hasil penelitian ini menunjukkab bahwa ditemukan persoalan yang menyangkut belum terpenuhinya sarana seperti area pojok ASI.  Kemudian perbincangan mengenai seksualitas masih tabu untuk dibicarakan sehingga pendidikan kesehatan reproduksi seksual masih belum banyak diajarkan di level keluarga. Kawasan bebas rokok di kedua kelurahan tersebut belum tersedia serta persoalan keberadaan sanitasi lingkungan yang belum memadai.Kata Kunci : Permasalahan Anak, Hak Kesehatan pada Anak, Kota Layak Anak

Strategi Pemasaran Sosial Menabung Sampah di Bank Sampah Prabumulih

kurniawan, Rudy, Yusnaini, Yusnaini, Gofur, Abdul, Nurhasan, Nurhasan

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.602 KB)

Abstract

This article aims to analyze the social marketing strategies carried out by Prabumulihs Waste Bank in inviting people to save garbage. This research using a qualitative descriptive approach, informants in this study were all managers of Prabumulihs Waste Bank. The results of this study showed that Prabumulihs Waste Bank does it through three approaches, namely a personal approach, a group approach, and a mass approach. The three approaches are in accordance with the concepts in marketing communication in marketing a product. Sorting out and saving is always delivered by Prabumulih Waste Bank to children and the community as a means of environmental education.Keywords: Social Marketing, Saving Waste, Waste Bank Artikel ini bertujuan menganalisis strategi pemasaran sosial yang dilakukan oleh Bank Sampah Prabumulih dalam mengajak masyarakat untuk menabung sampah. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, informan dalam penelitian ini adalah seluruh pengelola Bank Sampah Prabumulih. Hasil penelitian menujukan bahwa dalam melakukan pemasaran sosial, Bank Sampah Prabumulih melakukannya melalui tiga pendekatan, yaitu pendekatan secara personal, pendekatan secara kelompok, dan pendekatan secara massa. Ketiga pendekatan tersebut sesuai dengan konsep dalam komunikasi pemasaran dalam memasarkan sebuah produk. Pilah dan tabung senantiasa disampaikan Bank Sampah Prabumulih kepada anak-anak dan masyarakat sebagai saranan pendidikan lingkungan hidup.Kata kunci: Pemasaran Sosial, Menabung Sampah, Bank Sampah

Aksi Terorisme: Dari Gerakan Ideologis ke Gerakan Inkostitusional

Suprapto, Suprapto

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.936 KB)

Abstract

 Terrorism has caused unrest at both national and global levels. The terrorist movement triggered conflicts caused disintegration until unconstitutional action. Based on these conditions, this paper explains: 1) the terrorism movement on an ideological basis, 2) the terrorist movement in unconstitutional efforts towards the destination country. As for ideological movements, terrorism has two types, namely; state terrorism and non-state terrorism. ISIS, which is classified as state terrorism, has hegemonized many countries, groups, and even released cadres to several countries. According to the sociological literature, terrorists and counter-terrorists originating from the politics of science, international studies, and law. While in an unconstitutional movement, terrorism has an agenda to bring up state conflicts.Keywords: Terrorism, Ideological Movement, Unconstitutional Movement Terorisme telah menimbulkan keresahan baik di tingkat nasional maupun global. Gerakan terorisme juga memicu konflik yang menyebabkan disintegrasi sampai tindakan inkonstitusional. Berdasarkan kondisi tersebut, tulisan ini menjelaskan tentang: 1) gerakan terorisme dengan basis ideologis, 2) gerakan terorisme dalam upaya-upaya inkonstitusional terhadap negara. Adapun gerakan ideologis, terorisme memiliki dua jenis, yakni; state terorism dan non-state terorism. ISIS yang tergolong state terorism, telah banyak menghegemoni negara, kelompok, hingga pelepasan kader ke beberapa negara. Sesuai literatur sosiologis, teroris dan kontra teroris berawal dari politik sains, studi internasional, dan hukum. Sedang dalam gerakan inkonstitusional, terorisme memiliki agenda untuk memunculkan konflik kenegaraan. Kata Kunci: Terorisme, Gerakan Ideologis, Gerakan Inkonstitusional

Tipologi Kepemimpinan Perempuan Aceh (Studi Gender dan Feminisme)

Ismawardi, Ismawardi

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.279 KB)

Abstract

Womens leadership is nothing new for the Acehnese. In the history of Aceh, some women have emerged as leaders. As time pass by, some Acehnese women are entrusted to occupy several strategic positions ranging from lower to upper levels. To find out more about womens leadership in Aceh, the author seeks to learn the typology of Acehnese women leadership. This study aims to examine the efficacy and achievement of the women in leading governmental institutions by taking into account each type or style of leadership performed and the driving factors of their success. This study uses an interpretive descriptive approach with data collection techniques through interviews, observation, and documentation. The study showed that some factors contributed to the ability of women in leadership such as family, education, and the environmental condition. The types of womens leadership in Aceh are charismatic, democratic, bureaucratic, participatory, transformational, and cultural. There are some other factors that contribute to womens leadership in Aceh; First, the public is confidence and perceives female leaders. Second, their involvement in organizational activities. Third, the familys emotional connection also plays a role in developing their characters.Keywords: Typology, Women’s, Leadership Kepemimpinan perempuan bukanlah hal yang baru di mata masyarakat Aceh. Dalam sejarah kesultanan Aceh, beberapa perempuan telah menjadi pemimpin dan hingga saat ini beberapa perempuan Aceh masih dipercaya untuk menduduki beberapa jabatan strategis, mulai dari level bawah hingga level atas. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kepemimpinan perempuan Aceh, penulis mencoba menelaah melalui sebuah penelitian terkait dengan tipologi kepemimpinan perempuan Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemampuan dan keberhasilan perempuan dalam memimpin sebuah lembaga dengan masing-masing tipe atau gaya kepemimpinan yang dimiliki serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut. Penelitian ini menggunakan menggunakan pendekatan deskriptif interpretatif dengan teknik pengambilan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan kepemimpinan perempuan Aceh dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor keluarga, pendidikan, dan kondisi lingkungan. Adapun tipe kepemimpinan yang dimiliki oleh pemimpin perempuan di Aceh adalah kharismatik, demokratis, birokratis, partisipatif, transformatif, dan kulturalis. Adapun faktor lain yang mempengaruhi adalah, pertama adanya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin perempuan. Kedua, kemampuan memimpin perempuan Aceh juga tidak terlepas dari pengaruh keaktifan perempuan dalam berorganisasi. Ketiga, Kepemimpinan perempuan Aceh juga diwarisi dari hubungan emosional keluarga.Kata Kunci: Tipologi, Kepemimpinan, Perempuan

Eksistensi Dukun di Tanah Gayo

Bakti, Indra Setia, Alwi, Alwi, Saifullah, Saifullah

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.202 KB)

Abstract

 The shamanic phenomenon realized or not, still present in all activities of the community in Central Aceh Regency. The social practice is carried out in a patterned and repetitive manner, continuing to live since the Gayo community is still traditionally patterned until the transition to modernity. Through sociological perspective with a qualitative descriptive approach, this article aims to describe the existence of shamans in Gayo lands people at Central Aceh District. The results of this research show that shamans have a very large role in the lives of the Gayo people. Shaman services are used by some people for various purposes, ranging from political, economic, socio-cultural affairs, security, sports, and especially health/medicine. The habit of going to shamans has become an intersubjective world that is continually maintained by the community. Although the Gayo community is Muslim, the community resistance never manifested in collective action in rejecting the existence of a shaman. Because its has been objectified in societys social life.Keywords: Existence, Shamans, Gayo, Objectivation Fenomena perdukunan selalu hadir dalam segenap aktivitas masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah yang dilakukan secara berpola, berulang, dan terus hidup sejak masyarakat Gayo masih bercorak tradisional hingga transisi menuju modern. Melalui kacamata sosiologis dengan pendekatan deskriptif kualitatif, artikel ini mencoba menggambarkan eksistensi dukun dalam kehidupan masyarakat Gayo. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa dukun masih memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat Gayo. Jasa dukun dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk pelbagai kepentingan, mulai dari urusan politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan, olahraga, dan terutama sekali kesehatan/pengobatan. Kebiasaan masyarakat Gayo pergi ke dukun menjelma menjadi sebuah dunia intersubjektif yang terus dipelihara keberadaannya oleh komunitas masyarakat. Meskipun masyarakat Gayo beragama Islam, dimana ajaran Islam menentang keras praktik perdukunan, resistensi masyarakat tidak pernah mewujud dalam suatu tindakan kolektif menolak eksistensi dukun. Karena dukun dan praktek perdukunan telah terobjektifikasi dalam denyut nadi kehidupan sosial masyarakat.Kata Kunci: Eksistensi, Dukun, Gayo, Objektivikasi

Kearifan Lokal Laut Aceh:Hikmah 60 Hari Pantang Melaut

Nurkhalis, Nurkhalis, Sempena, Iwan Doa

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.959 KB)

Abstract

Being a country which has thousands of island and even as the worlds maritime axis, make Indonesia has abundant marine resources. The marine resource potency is a blessing for local people who work as fishermen. On the other hand, this potency is a disaster due to illegal struggle for excessive looting of marine wealth, exploitation of coral reefs, make the sea to be the easiest route to illegal logging and other criminal practices. This criminalization threatens the sustainability of the marine ecosystem and Indonesian. There have been various policies, government programs from both central and regional to overcome the threats and problems, but the criminals still occur. This study aims to find out what the provisions are of a year from 60 days off without sailing of Aceh local wisdom. As well as what wisdom of 60 days off without sailing of Aceh sea local wisdom. This study uses a descriptive qualitative approach. This article is based on the empirical study, using qualitative perspective by collecting data (in-depth interview and documentation). The study results show that there are 60 days off without sailing such as, on Friday, Eid al-Fitr day, Eid al-Adha day, kenduri laot (sea festival), Independence Day and tsunami day commemoration. In addition, the wisdom of 60 days off without sailing is to provide opportunities for breeding fish and another marine biota, to maintain social relations, to resolve social conflicts, to express of gratitude to God, to remember the services of heroes. It also strengthens faith since Acehnese could practice and maintain a harmonious universe relationship among God the creator, nature and human beings.Keywords: Maritime Axis, Local Wisdom, Aceh Sea, Universe Relations

Dari Pohon Hidup Ke Kayu Mati: Perubahan Pencarian Keselamatan Orang Dayak dalam Kehidupan Desa di Kalimantan Barat

Kamil, Ade Ikhsan

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 1 (2018): Konstruksi dan Evolusi Sosial
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.247 KB)

Abstract

AbstractThe study attempted to show why rituals in Nek Lhans community life were slowly getting lost. The presence of a new religion which is considered paradoxical in faith to Duwata I see as an act of domination by an agency that acts as an intellectual actor. The same thing with new commodities in the economic system Nek Lhan farmers is considered to be contrary to the old economy, namely Ladang and rubber. By using the ethnographic method, I want to show the negotiations made in resolving the contradictions that exist in the religious and economic life of the Nek Lhan community. I concluded that one of the negotiations carried out with the new moral economic was because of the change in the search for safety from the Tree of Life into the form of dead wood, the cross.Keywords: Faith, Agency, Nek Lhan, EconomicAbstrakStudi ini berusaha untuk memperlihatkan mengapa ritual dalam kehidupan masyarakat di Nek Lhan perlahan mulai hilang. Kehadiran agama baru yang dianggap paradoks dengan kepercayaan terhadap Duwata saya lihat sebagai tindakan dominasi oleh agensi yang berperan sebagai aktor intelektual. Hal yang sama dengan komoditas baru dalam sistem ekonomi petani Nek Lhan dianggap bertentangan dengan ekonomi lama yaitu ladang dan karet. Dengan menggunakan metode etnografi saya ingin menunjukkan negosiasi yang dilakukan untuk menyelesaikan pertentangan yang ada dalam kehidupan keagamaan dan ekonomi masyarakat Nek Lhan. Saya berkesimpulan bahwa salah satu negosiasi yang dilakukan dengan aproriasi moral ekonomi baru karena perubahan pencarian keselamatan dari Pohon hidup (tree of life) ke dalam wujud kayu ‘mati’ yaitu salib.Kata Kunci: Kepercayaan, Agensi, Nek Lhan, Ekonomi

Pergeseran Pola Pemberian Nama Anak pada Generasi Millenial dan Post-Millenial

Bakti, Indra Setia, Hamdi, Emir, Nur, M.

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 1 (2018): Konstruksi dan Evolusi Sosial
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.826 KB)

Abstract

 For the Acehnese, "self-name" refers to the self-image of the Acehnese as Muslims. Then the naming of Acehnese is generally inspired by islamic word, or Arabic word. This study tried to describe the change of naming a baby in Acehnese, especially in network society era, where Generation X as the main actor, while Millennial (Generation Y) and Post-Millennial Generation as the object. The research conducted at Faculty of Social and Political Science University of Malikussaleh through documentary studies and unstructured interviews. The results of this study showed that the change of naming a baby in Acehnese occurred through a fairly long process, across time and generation, within the circle of externalization, objectification, and internalization, that ultimately forced a generation to follow the current naming trend. Keywords : Reconstruction, Generation, Knowledge, AcehAbstrakBagi masyarakat Aceh, “nama diri” tidak dapat dilepaskan dari citra diri orang Aceh sebagai pemeluk agama Islam. Maka pemberian nama anak pada masyarakat Aceh pada umumnya terinspirasi dari Al-Qur’an, bahasa Arab, atau nama diri orang Arab. Penelitian ini mencoba menunjukkan adanya pergeseran dalam pola pemberian nama anak pada masyarakat Aceh, terutama pada era masyarakat jaringan dimana generasi X sebagai aktor utamanya serta generasi Millenial (Gen-Y) dan Post-Millenial sebagai objeknya. Penelitian dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh melalui studi dokumentasi dan wawancara tidak terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran pola pemberian nama anak pada masyarakat Aceh terjadi melalui proses yang cukup panjang, lintas waktu dan lintas generasi, yang pada akhirnya “memaksa” suatu generasi untuk mengikuti trend penamaan anak masa kini.Kata Kunci : Rekonstruksi, Generasi, Pengetahuan, Aceh

Inovasi Pendidikan pada Kaum Marginal

Husna, Fathayatul

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 1 (2018): Konstruksi dan Evolusi Sosial
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.07 KB)

Abstract

AbstractChildren should not given loads for seeking more income as beggar, singing beggar and scavenger, especially children who under age. This happened in residence of Gajah Wong river that parents mayority work as scavenger and singing beggar. Uniqely, based on Tim Advokasi Arus Bawah (TAABAH) sympaty together with Ledhok Timoho community developed education innovation for children who stayed in marginal area especially residence of Gajah Wong river which is named as Gajah Wong School. This research used qualitative method and to collect data researcher used interview way, documentation, and literature study. Researcher used diffusion and innovation theory to analysis data. The purpose of this research as an example that quality of education not always spending high price till education looks not balance. Whereas, children who stayed in residence of Gajah Wong river also need good quality of education. The result of this research is Gajah Wong School as one of examplesfor spreading creative and innovative education as sympaty action to children who stayed in marginal arean and balancing educationKeywords: Gajah Wong School, marginal education, diffusion, innovation AbstrakTidak seharusnya anak-anak diberikan beban untuk mencari nafkah di jalanan sebagai pemulung, pengemis dan pengamen, terlebih anak yang masih di bawah umur. Hal ini terjadi di pemukiman warga bantaran Sungai Gajah Wong yang mayoritas para orang tua bekerja sebagai pemulung dan pengamen jalanan. Uniknya, atas dasar kepedulian Tim Advokasi Arus Bawah (TAABAH) bekerjasama dengan komunitas Ledhok Timoho berdirilah inovasi pendidikan yang diperuntukkan untuk penduduk kawasan marginal bertempat di pemukiman warga bantaran Sungai Gajah Wong yang diberi nama Sekolah Gajah Wong. dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dan mengumpulkan data lewat wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Peneliti menggunakan teori difusi inovasi untuk menganalisa data yang telah peneliti peroleh. Tujuan dari penelitian ini sebagai bentuk contoh bahwa tidak selamanya pendidikan harus diimbangin dengan biaya yang tinggi, sehingga pendidikan terkesan tidak merata. Padahal anak-anak di kawasan marginal sangat penting untuk menerima asupan pendidikan yang baik. Hasil dari penelitian ini adalah Sekolah Gajah Wong sebagai salah satu contoh bahwa untuk menyampaikan pendidikan perlu adanya bentuk inovasi dan kreatifitas sebagai wujud peduli pada anak-anak di kawasan marginal dan pemerataan pendidikan.Kata kunci: Sekolah Gajah Wong, pendidikan marginal, difusi, inovasi

Agama di Ruang Publik: Kajian Kritis terhadap Pemikiran Furshet, Casanova, dan Sherkat

Maulidia, Hanifa

Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 12, No 1 (2018): Konstruksi dan Evolusi Sosial
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.4 KB)

Abstract

AbstractReligion has always been an interesting talk of sociologists, both in public and private spaces. This paper discusses the study of religion in the public space are written by Furshet, et al., Casanova, and Sherkat. First, Furseth et al. which explains religion in the five forms of discussion, namely the legal religion in a country, civil religion, religious nationalism, public religion and religious legitimacy, and political power that all take place in the political arena. Secondly, Casanova invites us to be more critical and able to distinguish three meanings of secularization with different connotations, namely secularization as a process of declining beliefs and religious practices in modern society, secularization as a form of privatization of religion, and secularisation as a distinction between the secular space of the state, and knowledge. Third, Sherkat describes religious socialization as an interactive process in which social agents can influence an individuals religious beliefs and religious understanding. These three writings look at religion in the public sphere from a different point of view, which makes us more critical in seeing and understanding a religion.Keywords: Religion, Secular, Public SpaceAbstrakAgama selalu menjadi pembicaraan menarik para sosiolog, baik di ruang publik maupun privat. Tulisan ini membahas tentang kajian agama di ruang publik yang dikemukakan oleh Furshet, dkk., Casanova, dan Sherkat. Pertama, Furseth dkk. yang menjelaskan agama dalam lima bentuk bahasan, yaitu agama legal dalam sebuah negara, civil religion, religious nationalism, agama publik dan legitimasi agama, dan political power yang semuanya berlangsung dalam arena politik. Kedua, Casanova yang mengajak kita untuk lebih kritis dan mampu membedakan tiga makna sekulerisasi dengan konotasi yang berbeda, yaitu sekulerisasi sebagai proses kemunduran keyakinan dan praktek agama dalam masyarakat modern, sekulerisasi sebagai bentuk privatisasi agama, dan sekulerisasi sebagai pembedaan antara ruang sekuler yaitu negara, ekonomi, dan pengetahuan. Ketiga, Sherkat menjelaskan tentang sosialisasi agama yaitu proses interaktif di mana para agen sosial dapat mempengaruhi keyakinan beragama seorang individu dan pemahaman agamanya. Ketiga tulisan tersebut melihat agama di ruang publik dari sudut pandang yang berbeda, yang membuat kita lebih kritis dalam melihat dan memandang sebuah agama.Kata Kunci: Agama, Sekuler, Ruang Publik