cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Hikmah
ISSN : 24079146     EISSN : 25495666     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Al-Hikmah diterbitkan oleh Prodi Perbandingan Agama UMSurabaya dengan konten berisi kajian keagamaan dan sosial agama. Terbit 2 kali dalam setahun. Bulan Januari - Juni dan bulan Juli - Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
Isa Ibnu Maryam Dalam Perspektif Islam dan Protestan Susanti, Evilia; Huda, Sholihul
Al-Hikmah Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.165 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang analisis kisah Isa ibn Maryam dalam perspektif Islam dan Protestan, yang mencakup tiga permasalahan pokok, yaitu: pertama, bagaimana perspektif Isa ibnu Maryam dalam Islam? Kedua, bagaimana perspektif Isa ibnu Maryam dalam Protestan? Ketiga, bagaimana persamaan dan perbedaan Isa ibnu Maryam menurut Islam dan Protestan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut penulis menggunakan studi literer (library research) dengan metode deskriptif, konten analisis dan komparatif yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan data secara kuantitatif. Penelitian pustaka dilakukan dengan membaca dan menginterprestasikan buku-buku dan dokumen yang memiliki kaitan erat, penulis berusaha mensistematisasi berbagai penemuan dari bermacam literature menjadi sebuah kumpulan kalimat atau paparan yang bermakna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, Isa ibnu Maryam dalam agama Islam dianggap sebagai seorang manusia biasa yang diutus oleh Allah sebagai nabi dan rasul. Sedangkan Protestan beranggapan bahwa Isa ibnu Maryam adalah Tuhan Putra, pribadi kedua Tuhan. Mengenai Persamaan Isa ibnu Maryam dalam kedua agama tersebut yaitu Islam dan Protestan, keduanya sepakat bahwa Isa ibnu Maryam lahir dari seorang perawan bernama Maryam (dalam Protestan disebut Maria). Dalam hal ajaran, keduanya juga sepakat bahwa Isa ibnu Maryam mengajarkan tentang hukum-hukum Taurat yang telah lalu, serta membenarkan dan menyempurnakannya. Sedangkan perbedaan Isa ibnu Maryam dalam Perspektif Islam dan Protestan yaitu: Menurut Islam kedudukan Isa ibnu Maryam hanyalah seorang nabi utusan Allah, tidak lebih dari itu yang mengajarkan risalah Tauhid. Sedangkan menurut Protestan, dalam kitab sucinya banyak menyebutkan Isa ibnu Maryam hanyalah utusan Allah, namun mayoritas penganut Protestan meyakini bahwa Isa ibnu Maryam tidak hanya utusan Allah, tetapi Isa ibnu Maryam adalah Tuhan Putra, yaitu salah satu oknum darI Tritunggal, yang mempunyai kedudukan sama dengan Tuhan. Kata kunci : Pernikahan, Islam, Protestan
Gerakan Neomodernisme Islam Di Indonesia Tualeka, M. Wahid Nur
Al-Hikmah Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.606 KB)

Abstract

Neomodernisme ini jika dilacak asal-asulnya bersumber dari paradigma pemikiran Fazlur Rahman, adapun Neomodernisme muncul sebagai respons terhadap berbagai kelemahan yang melekat dalam gerakan pembaruan sebelumnya. Di indonesia terdapat tokoh Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid sebagai intelektual neomodernism. Gerakan pembaruan pemikiran Islam secara umum ditandai dengan pemikiran-pemikiran kritis terhadap modernisasi (Barat). Hasilnya berupa tawaran alternatif-alternatif non-Barat dalam membangun dan rnembangkitkan umat Islam dari ketertinggalannya.
Trends In Islamic Thought Today (Wacana Syariat Islam Sebagai Hukum Positif Di Indonesia) Tualeka Zn, Hamzah
Al-Hikmah Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.366 KB)

Abstract

Lord Meghnad Desai brings three forms of Islamism , Islamism moral , Islamism National and Global Islamism . Islamism moral , is that the Muslim-majority country should act according to the teachings of Islam . National Islamism , is that if there is a Muslim majority , the government should follow the Quran as a guide and Sharia law , and so on . Global Islamism is that Muslims must understand the history of underdevelopment (after glory for seven centuries) and fought reclaiming power.
Studi Kritis Tentang Orientalisme Setiawan, Barza; Muhsinin, Mahmud
Al-Hikmah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.381 KB)

Abstract

Fokus penelitian ini adalah menjawab tiga permasalahan pokok, yaitu: pertama, bagaimana historis timbulnya Orientalisme? Kedua, bagaimana karakteristik dan dinamika perkembangan Orientalisme? Ketiga, bagaimana pandangan Islam terhadap Orientalisme? Penelitian ini merupakan studi literer (library research) dengan model faktual-historikal yaitu fakta sejarah tentang kebradaan Orientalisme, karakteristik dan dinamika serta perspektif Islam terhadap misi dan tujuan kelompok ilmuan Barat tersebut. Di satu sisi, para orientalist memiliki keistimean sebagai tugas misi suci zending berbekal karakteristik khusus, yakni tugas misi keagamaan, imperial, bisnis, politis dan ilmiah, bahwa Islam (doktrin dan umatnya) harus diperdayakan agar menjadi terpuruk. Di sisi lain syarat ilmiah yang diberikan justeru merupakan beban di mana kejujuran hati dan kemurnian obyektifitas yang harus ditegakkan. Buah pikiran para orientalist dan kitab suci Al-Qur’an, keduanya diletakkan sebagai obyek penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, yakni nilai-nilai yang ada di balik kiprah mereka dan kitab suci tersebut. Temuan penelitian ini : pertama, Orientalisme merupakan suatu gerakan para ilmuan Barat yang ahli tentang dunia Islam (agama dan umat Islam), bertujuan mengkacaukan Islam dengan jalan penerbitan dan penyebaran referensi-referensi ilmiah tentang Islam dalam perspektif mereka. Kedua, timbulnya Orientalisme dimotivasi oleh lima hal: keagamaan, imperial, bisnis, politis dan ilmiah, ternyata yang terakhir disebut ini telah membuka mata agar Islam tidak dipandang sebelah mata oleh para oriuentalist. Ketiga, Islam memandang bahwa para Orientalist itu adalah ilmuan (Yahudi dan) Nasrani yang teridentifikasikan dalam Al Qura’an. Rekomendasi penelitian ini adalah bahwa dakwah amar ma’ruf dan nahy munkar menjadi kewajiban di atas pundak setiap insan mukmin untuk dihidup-hidupkan dan jangan pernah berhenti, termasuk kajian komparatif agama yang hendaknya selalu berujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW yang shahih. Wa Allahu A’lam. Kata Kunci: Studi Kritis, Orientalisme, Imperialisme, Al-Qur’an, Islam
Eskatologi dalam Perspektif Islam dan Protestan Iswanto, Deddy Puji; Tualeka, M. Wahid Nur
Al-Hikmah Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.275 KB)

Abstract

Eskatologi merupakan salah satu ilmu dasar di dalam ajaran teologi. Eskatologi diartikan juga sebagai ilmu yang mempelajari tentang akhir zaman seperti hari kiamat, kebangkitan segala manusia dan surga. Masalah yang dirasakan adalah bagaimana ketika salah satu dari ajaran teologi ini dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak urgen untuk dibahas apalagi diimani. Untuk mengatasi hal ini tentunya harus ada penjelasan yang cukup eksplisit kepada setiap umat untuk kembali kepada ajaran teologi mereka dan mengimani kembali tentang peristiwa ini. Desain penulisan ini menggunakan metode studi pustaka dengan cara melakukan penelitian berbagai sumber pustaka dengan mengambil dan membandingkan ajaran eskatologi dari kedua agama yaitu Islam dan Protestan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah agama Islam memiliki perspektif yang sama dengan Potestan dalam hal; definisi, istilah lain hari kiamat dan tanda-tanda kiamat. Selain itu dua agama ini juga memiliki perspektif yang berbeda dalam hal sumber yang memuat definisi hari kiamat, banyaknya jumlah nama hari kiamat, pembagian hari kiamat, banyaknya jumlah tanda hari kiamat dan perihal kedudukan Isa (Yesus) yang akan datang pada akhir zaman. Melihat hasil penelitian ini maka kepercayaan dalam peristiwa hari akhir harus dibangun kembali dan diyakini sebagai ajaran teologi yang tidak dapat terpisahkan dari keimanan. Kata kunci : Eskatologi, Islam dan Protestan
Perubahan Ketuhanan Kristen Huda, Sholihul
Al-Hikmah Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.479 KB)

Abstract

Fokus penelitian ini adalah menjawab tiga permasalahan pokok, yaitu: pertama, bagaimana Ketuhanan Kristen pada masa Isa AS dan duabelas muridnya? Kedua, bagaimana Ketuhanan Kristen pada masa Paulus? Ketiga, bagaimana dinamika perubahan Ketuhanan Kristen pada masa Paulus? Penelitian ini merupakan studi literer (library research) dengan model faktual-historikal yaitu fakta sejarah tentang bagaimana kaum Kristiani bertuhan sesuai dengan ajaran Nabi Isa AS, masih murni, begitu pula pada masa 12 murid dan sahabtnya. Perubahan terjadi di kala pascasahabatnya itu muncul Paulus yang termasuk dominan dalam penetu teologi Kristen. Di sini kaum Kristiani memperdebatkan ketuhanan mereka dan kontroversi pun tak terhindarkan. Ayat-ayat Alkitab, pikiran 12 sahabat Nabi Isa, pandangan Paulus dan berbagai teolog Kristen diletakkan sebagai obyek penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, nilai-nilai yang ada di balik kiprah teolog Kristen dan terutama Alkitab dan pikiran Paulus.. Temuan penelitian ini: : pertama, Kristen termasuk agama samawi yang mengajarkan tentang monotheime, bentuk Tuhan Yang Satu, sama seperti tugas utama para nabi dan rasul yang datang sebelum dan sesudahnya, kemudian diteruskan oleh 12 muridnya. Kedua, Kristen versi Pulus mengajarkan dan menekankan adanya bentuk ketuhanan yang berseberangan dengan pendahulunya. Ketiga, Bagaimana dinamika perubahan ketuhanan Kristen itu terjadi dari masa Nabi AS dan 12 muridnya ke masa Paulus. Rekomendasi dari penelitian ini adalah bahwa hendaknyalah para teolog di masa modern sekarang ini bertindak secara teologis guna memurnikan esensi Ketuhanan yang pernah diajarkan oleh Nabi Isa AS, sebagai tugas mulia yang tiada taranya.Wa Allahu A’lam. Kata kunci: Ketuhanan, Kristen, Isa
Muhammadiyah dan Terorisme Al-Amin, Mukayat; Mujib, Abdul
Al-Hikmah Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.669 KB)

Abstract

Tidak dapat kita pungkiri bahwa isu terorisme di Indonesia masih menjadi isu keagamaan yang santer di bicarakan/di diskusikan, apa lagi ada beberapa tuduhan dan persepsi yang dialamatkan kepada Muhammadiyah yang mendukung terorisme, hal ini di buktikan dengan banyak kader-kadernya yang terlibat dalam beberapa kasus terorisme. Oleh Karena itu Latar belakang dalam Penelitian ini adalah adanya keterlibatan warga Muhammadiyah dalam beberapa aksi terorisme di Indonesia, hal inilah yang menarik untuk diteliti.Penelitian ini berusaha mencari tahuBagaimana pandangan elit dan warga Muhammadiyah Jawa Timur terkait dengan aksi terorisme di Indonesia yang melibatkan kader Muhammadiyah?. Penelitian ini juga berusaha mengkolaborasikan konsep dan teori orientailsme/ other W. Said, dikursus kekuasaan/pengetahuan Foucault dan Samuel P. Huntington dan magnum opusnya “The Class Of Civilitation”. Teori-teori yang diadaptasi ini merupakan dialektika yang secara pragmatik berada pada posisi "chane and contuinity", berubah dan berkesinambungan. Diskursus kekuasaan/pengetahuan Foucault memberi skill analisis bahwa kepentingan tak lepas dari kekuasaan. Sebuah teori yang menjelaskan pola-pola persaingan gagasan, bagaimana sebuah gagasan menjadi dominan sementara yang lain tidak?. Teori Foucault dapat membedakan antara diskursus dominan dan diskursus alternatif yang subversi Ideologi dominan. Dalam rangka untuk penggalian data yang lebih komprehensif penelitian ini dilakukan lokasi yang dijadikan sebagai setting pengambilan data yang digunakan sebagai bahan di dalam Penelitian ini adalah Para Elit Muhammadiyah di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM JATIM), dan warga Muhammadiyah Jawa Timur yang dalam penelitian Prof Munir Mulkhan dikelompokkan sebagai Al-Ikhlas, Ahmad Dahlan, Munu dan Munas.
Eksistensi Kurban dalam Perspektif Islam dan Katolik Yulianto, Rahmad
Al-Hikmah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.071 KB)

Abstract

Skripsi ini mengulas tentang eksistensi kurban dalam prespektif Islam dan Katolik. dalam agama Islam maupun katolik sama sama mengajarkan syari‟ah berkurban. Akan tetapi memiliki cara dan pandangan yang berbeda. Kurban merupakan simbul penghambaan seorang muslim kepada sang kholik dan merupakan tanda kemukminan seorang muslim yang sejati dan bentuk ibadah berdimensi sosial dalam Islam. Kurban juga erat kaitannya dengan soldaritas dan soldaritas adalah salah satu tujuan dari ibadah kurban. Karena dapat menjadi instrumen dan memperkuat kebersamaan. Dalam ajaran agama Islam berkurban merupakan sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt berupa hewan sesembelihan yang di laksanakan pada hari raya Idul Adha, Sebagai bentuk dari rasa syukur seorang hamba kepada Rabbnya. Yang di perintahkan melalui surat Al-kautsar, dan untuk meneladani kisah nabi –nabi sebelumnya yang membuahkan ketaatan dan kecintaan kepadaNya. Adanya syari‟ah kurban dalam Islam merupakan salah satu bentuk dan wujud kesempurnaan Islam sebagai rahmatan lil „alamin. Sebagaimana tertulis dalam kitab perjanjian lama, dalam agama Katolik juga menerangkan tentang syari‟at kurban sebagaimana dalam bible keluaran pasal 8 ayat 2, kurban inilah yang selalu diperingati oleh umat katolik dengan mengurbankan anak domba yang merupakan gambaran dari paska kristus yang menebus umat manusia dari perbudakan dosa oleh kurban salib-Nya. Islam dan Katolik mempunyai pandangan yang berbeda mengenai sejarah kurban, Al-Qur‟an menceritakan bahwa dalam mimpinya, Ibrahim mendapat perintah dari Allah supaya meyembelih putranya Nabi Ismail, sedangkan yang diceritakan dalam Bible putra nabi Ibrahim yang akan disembelih adalah Ishaq. Kesimpulan secara umum adalah bagi umat Islam maupun Katolik yang secara kondisi ekonomi dan mempunyai kemampuan untuk berkurban hendaknya dapat memenuh syari‟at kurban dengan cara dan tujuan yang benar sesuai dengan yang dicontohkan oleh para nabi. Kata kunci : Perbandingan Agama, Kurban
Perkawinan Menurut Islam dan Protestan Moearifah, Noeroel; Al-Amin, Mukayat
Al-Hikmah Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.573 KB)

Abstract

Manusia tidak akan berkembang tanpa adanya perkawinan. Karena perkawinan menyebabkan adanya keturunan dan keturunan yang menimbulkan keluarga yang berkembang menjadi masyarakat, dimana masyarakat adalah suatu wadah dari bentuk kehidupan bersama yang didalamnya individu dan atau kelompok sebagai anggotanya saling mengadakan interaksi untuk kelangsungan hidupnya. Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu actual dan selalu menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia saja, tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur, yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai kehidupan yang luhur. Pemahaman tentang konsep perkawinan di dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang mana pengertian perkawinan menurut Pasal 1 adalah sebagai berikut :“Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan keTuhanan Yang Maha Esa”.“Perkawinan menurut hukun Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.”Perkawinan menurut agama Kristen adalah Perkawinan itu adalah suatu kemitraan yang permanen yang dibuat dengan komitmen diantara seorang wanita dan pria. Adanya perkawinan pasti berhungan juga dengan masalah perceraian atau talak. Talak atau perceraian menurut islam adalah melepaskan ikatan nikah dari pihak suami dengan mengucapkan lafadz tertentu. Perceraian itu sangat dilarang dalam agama Kristen. Dan Allah akan memberi hukuman kepada hambaNya, yang melakukan itu meskipun dalam keadaan terpaksa. Karena apa yang sudah disatukan Allah dalam perkawinan, tidak ada pihak manapun yang bisa memusnahkan seperti pihak ketiga dan pasangan itu sendiri. Adapun sumber data berasal dari buku-buku, Al-Quran, dan wawancara langsung dengan pihak yang berkaitan dengan perkawinan dan perceraian.
Fiqh dan Ushul Fiqh: Perspektif Ibn Taymiyyah Zn, Hamzah Tualeka
Al-Hikmah Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.6 KB)

Abstract

Islam sebagai Agama yang Universal, sudah sepatutnya kita sebagai umat islam menerapkan apa-apa yang di perintahkannya. Dalam penelitian ini Ibn Taymiyyah menggunakan sebuah metode dalam penafsiran Al-Quran yang dipakai sebagai tolak ukur atau dasar dalam pendapat-pendapat nya mengenai sifat-sifat Allah, Akidah, Fiqh dan semua hal yang berhubungan dengan pemikiranI. Disini kita menemukan dan mengetahui bahwa corak pemikiran Ibn Taymiyyah sebagaimana para Ulama Salafi.