cover
Contact Name
Dwi Susanto
Contact Email
jurnalfibuns@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfibuns@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Haluan Sastra Budaya
ISSN : 08520933     EISSN : 25491733     DOI : -
Core Subject : Education, Art,
Haluan Satra Budaya (HSB) is a biannual scientific journal of humanities published by the Faculty of Cultural Sciences, Universitas Sebelas Maret, Indonesia. This journal issues research papers, conceptual frameworks, and case studies are drawn from a wide range of disciplines, Language and Linguistics, Art, Literature, as well as Culture (anthropology, history, and archeology).
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
UPACARA MENANAM PADI DI DESA LAMBEYAN WETAN, KECAMATAN LAMBEYAN, KABUPATEN MAGETAN Ardini, Yollanda Wahyu Novella
Haluan Sastra Budaya Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v2i1.21266

Abstract

Menanam padi merupakan suatu kegiatan bercocok tanam yang dilakukan oleh para petani. Terdapat beberapa urutan dalam proses menanam padi. Pada saat menjelang panen, satu minggu sebelumnya masyarakat akan melakukan ritual yang disebut Methil. Methil merupakan ritual pemotongan padi yang ada dibagian tengah lahan dengan menggendong baskom yang berisi lima takir cok bakal. Lalu membawa hasil potongan padi tersebut ke rumah dan dilakukan upacara selamatan dengan tetangga lalu membungkus lima bungkusan nasi menggunakan daun jati atau daun pisang kemudian diletakkan disetiap sudut tulakan air. bungkusan tersebut boleh diambil oleh warga gunanya sebagai sedekah. Untuk melaksanakan methil mereka akan menghindari hari ringkel. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan wujud rasa syukur terhadap Dewi Sri. Namun, dalam perkembangan zaman dan kebudayaan serta masuknya agam Islam menyebabkan terjadinya banyak pergeseran dalam ritual upacara ini, contohnya saja ritual ini dulunya ditujukan kepada Dewi Sri tetapi sekarang ini hanya berupa syukuran yang ditujukan kepada Tuhan YME sebagai wujud rasa syukur atas berkah yang diberikan kepada mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana suatu budaya masyarakat yang sudah menjadi tradisi turun-menurun mengalami perubahan drastis seiring berkembangnya pengetahuan dan agar kita mengetahui alasan mengapa sebuah tradisi budaya musyarakat berangsur-angsur hilang, khususnya pada budaya tradisi yang bersifat aktivitas.
PEMANFAATAN ASPEK KEBAHASAAN BENTUK KATA TUTURAN HUMOR DALAM KARIKATUR Resticka, Gita Anggria
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i1.4296

Abstract

Pemakaian bahasa dalam masyarakat ditentukan oleh faktor linguistik faktor sosial. Hal ini juga berlaku pada karikatur, karikatur tersebut ditampilkan dengan berbagai gambar yang lucu dan menarik serta diikuti kalimat singkat. Penggunaan bahasa yang khas dalam karikatur menjadikan karikatur sebagai suatu register dalam kebahasaan yang menarik untuk diteliti. Untuk mengetahui maksud karikatur dalam tiap gambar dapat dikaji secara pragmatik. Wijana (2004) mengatakan bahwa karikatur secara sengaja menciptakan tuturan yang menyimpangkan prinsip-prinsip dan parameter pragmatik secara langsung atau lewat perantara tokoh atau tokoh-tokoh rekaannya yang berperan sebagai peserta tindak tutur yang irrasional. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menekankan pada masalah proses dan makna (tindak tutur). Dalam sebuah karikatur untuk sampai pada pemahaman humor yang sebenarnya perlu dilacak berbagai jenis tindak tutur, fungsi pragmatis, implikatur percakapan dan kategorinya yang dikandung oleh berbagai jenis tuturan dalam wacana karikatur tersebut. Kata Kunci: Tuturan Humor, Karikatur, Pragmatik
KAJIAN TERJEMAHAN PENANDA KOHESI PRONOMINA DAN IDEOLOGI PENERJEMAHAN PADA HADITS ARBAIN KE 31-40 KARYA IBNU DAQIQ AL IED KE DALAM BAHASA INDONESIA Mahmudah, Qonitatul; Haq, Ramiz Ansharil; Ridwan, Muhammad
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i2.8570

Abstract

Hadith Arba’in is a collection of the selected 42 hadiths. The name of Arba’in is taken from the amount of hadiths included in the book which is 42 hadiths. The book of hadith Arba’inis considered to be necessarily studied because this book contains the collection of the well know hadiths in islamic community awund the world. This book contains the main hadith that are very important in islamic study, started with hadith about the intention to start doing something, then followed with the basic aqidah, syari’ah, akhlak, and prophet’s advice. This research specifically studies the hadiths from 31-40 because they contain suggestion, forbiddence, excellence, and some of advices about islam. This research is descriptive qualitative research. The method used is (equal/comparison) method. The data in this research are grammatical cohesion marker in the form of pronoun in Arabic language and ideological translation in the 31-40 text of hadith Arba’in written by Ibnu Daqiq Al ‘ied and translated by Muhammad Thalib. The data collection is done by taking the sample or called technique sampling. Technique of presenting data is presented by words and table of data to describe the analysis result. This reaserch investigates cohesion, variasion of translation technique, translation method, and ideological translation used by the translator in translating the expressions in the hadith.Keywords: hadith Arba’in, cohesion, technique, method, ideology.
IDEOLOGI CINTA DALAM CERPEN “DALAM PERJAMUAN CINTA” KARYA TAUFIK AL-HAKIM BERDASARKAN PRESPEKTIF STRUKTURALISME GENETIK Basid, Abdul; Firdaus Imaduddin, Muhammad
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i2.12114

Abstract

Cerpen Dalam Perjamuan Cinta karya Taufik Al-Hakim merupakan cerpen filosofis yang merepresentasikan ideologi-ideologi cinta yang disampaikan dengan gaya bahasa yang indah dan struktur kalimat yang menarik. Ideologi cinta dalam cerpen tersebut diikonstruksikan sebagai mediator yang membentuk relevansi antara struktur karya sastra dan struktur masyarakat sesungguhnya. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif yang menguraikan bentuk-bentuk teks secara interpretatif. Peneliti memanfaatkan teori struturalisme genetik Lucian Goldmann dengan pemaparan lima konsep utama antara lain; fakta-fakta kemanusiaan, subjek kolektif, pandangan dunia pengarang, strukturasi karya sastra, dan dialektika pemahaman-penjelasan. Penelitian ini menghasilkan lima pembahasan utama antara lain: 1) cerpen karya Taufik Al-Hakim ini mengandung dua fakta kemanusiaan yang menjadi pokok terbentuknya ideologi yaitu: a) fakta kemanusiaan kultural yang berada pada permulaan cerita berupa gejolak perasaan cinta yang muncul dari hati para pemuda untuk memiliki gadis tersebut; b) fakta kemanusiaan kultural yang berupa ide atau gagasan dasar yang muncul dari pemikiran gadis berparas cantik, yaitu ide tentang cinta; 2) dalam cerpen tersebut, secara umum tampak menggambarkan representasi dua kelompok besar yang saling beradu argumen. Dua kelompok tersebut adalah kelompok perempuan yang notabennya layaknya kelompok atas (superior) yang tidak mau dikalahkan dan kelompok pemuda yang dalam cerpen memainkan peran inferior; 3) cerpen ini bertolak dari postulasi pandangan dunia mengenai keegoisan dan kemisteriusan kaum perempuan terhadap sesuatu khususnya dalam cerpen digambarkan dengan manifestasi sikap mengenai cinta; 4) relasi antara tokoh dengan tokoh, tokoh dengan objek atau dunia, digambarkan secara implisit yang dapat diamati melalui kontak interaksi antar tokoh dengan objek yang dibahas di awal cerpen yaitu cinta; dan 5) dialektika yang terbentuk dalam cerpen bergerak dari postulasi pandangan dunia mengenai keegoisan dan kemisteriusan kaum perempuan terhadap sesuatu. Pandangan dunia ini digunakan untuk mengurai dan menganalisis struktur karya sastra dengan struktur masyarakat serta dipersepsi sebagai struktur karya sastra yang mengikat unit-unit struktur lebih kecil yang membangun karya sastra.
BAHASA DAN HABITUS KELAS DALAM BUKU AL-ARABIYAH BAYNA YADAIK JILID 2 Nida’uljanah, Hanifah; Ridwan, Muhammad
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i1.4298

Abstract

Penelitian ini membahas habitus kelas dominan dalam wacana buku Al-Arabiyah Bayna Yadaik jilid 2 dan habitus kelas terdominasi di dalamnya. Data utama yang diperlukan untuk penelitian ini adalah data kebahasaan berupa kalimat dalam wacana yang digunakan dalam buku tersebut. Data tersebut dikumpulkan dengan metode simak teknik sadap terhadap buku Al-Arabiyah Bayna Yadaik jilid 2. Teknik sadap dilakukan dengan cara sadap bebas libat cakap, yaitu peneliti memerhatikan dengan cermat tanpa ikut berpartisipasi dalam penggunaan bahasa dalam buku Al-Arabiyah Bayna Yadaik jilid 2. Penelitian dilakukan pendekatan analisis wacana kritis yang dilakukan dengan menemukan kalimat dari wacana buku tersebut yang menunjukkan dan mengisyaratkan suatu habitus kelas sosial tertentu. Hasil penelitian yaitu sosialisasi habitus kelas atas lebih banyak dilakukan dalam buku Al-Arabiyah Bayna Yadaik jilid 2 daripada habitus kelas bawah. Banyak kalimat ditemukan dalam bacaan yang mengindikasikan bahwa pelaku cerita berasal dari kelas atas. Habitus kelas atas ditunjukkan dengan berbagai mekanisme sosialisasi,  berupa kebiasaan, simbolisasi maupun karakter kelas atas, sedangkan habitus kelas bawah hanya ditampakkan dalam pencitraan profil saja. Kata kunci: wacana, kelas sosial, analisis wacana kritis
KEPRIBADIAN TOKOH SENIMAN DAN GADIS MUDA DALAM CERPEN WAJH AL-HAQIQĀH Fatmawati, Nur Intan; Indriyani, Ervina Pradestya; Farhah, Eva
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i2.15552

Abstract

This article aims at describing the personalities of characters in Wajh Al-Haqiqāhshortstory by Taufīq Al-Chakīm based on Carl Gustav Jung’s theory of personality. Data used in this research were obtained from primary and secondary data. Primary data source in this research is Wajh Al-Haqiqāh shortstory by Taufīq Al-Chakīm and secondary data sources are books, journals, and internet sources relevant to this study. The problem analyzed in this research is the personality of each character in Wajh Al-Haqiqāh shortstory by Taufīq Al-Chakīm. When explaining the research problem, the researchers applied Cal Gustav Jung’s theory of personality. The results of analysis show that each character has different personalities. The structure of human’s soul consists of two worlds, consciousness and unconsciousness.
URBAN SPACES, RURAL SPACES, AND "OTHER SPACES" IN INDONESIAN FILM FLYERS (1966–1998) Woodrich, Christopher A.
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i2.11652

Abstract

In this article, I examine some three hundred Indonesian film flyers released between 1966 and 1998. I identify three categories of spatial representation: urban spaces, rural spaces, and what I term "other spaces". Urban spaces utilize depictions of high-rises, landmarks, sexuality, crowds, and/or technology as markers of a (Westernized) modernity. Depictions of rural spaces, conversely, emphasize the beauty or dangers of the natural world, as well as strong emotions and primitivism. These depictions suggest the prioritization of an orderly urbanity over a disorderly rurality, with more orderly rural spaces only being locations for travel. "Other spaces", meanwhile, present and/or combine markers of urban and/or rural space, thus forcing viewers to differentiate between place and space and recognize both the constructed nature of space itself and the possible benefits of disorder. 
MENILIK ASPEK MORAL DALAM LIRIK LAGU CAMPURSARI JAWA TIMUR: SEBUAH KAJIAN SEMIOTIKA Chandra, Afry Adi
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i1.11302

Abstract

Penelitian kualitatif dengan pendekatan semiotika (Ferdinand D. Saussure) ini bertujuan untuk meninjau aspek moral yang terdapat dalam lirik lagu campursari karya musisi Jawa Timur. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dengan semakin berkembangnya teknologi pun cara berpikir masyarakat, saat ini banyak bermunculan lagu campursari karya beberapa seniman lokal Jawa Timur yang krisis akan moral. Karya tersebut lebih mengangkat sisi seksualitas, sikap melawan tataran norma dalam masyarakat (perselingkuhan), poligami, pengangguran, membuka aib seseorang, maupun merendahkan martabat orang lain. Kata kunci: moral, lirik lagu campursari, Jawa Timur, semiotika
SELAMETAN KEMATIAN DI DESA JAWENG KABUPATEN BOYOLALI Sari, Dinia Agustia Artika
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i2.15188

Abstract

 ABSTRAKTradisi merupakan suatu bentuk kegiatan yang dilakukan terus menerus oleh masyarakat, sehingga menjadi suatu kebiasaan  dan pada akhirnya menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat (Agus Riyanto, 2014:1). Tradisi membentuk suatu nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta menjadi suatu kekayaan budaya bagi suatu daerah yang harus dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya. Sampai saat ini, masih  banyak desa-desa di Jawa yang  melakukan  tradisi seperti itu. Desa tersebut adalah Desa Jaweng, Kecamatan Simo, Kabupaten  Boyolali. Salah satu  tradisi yang  masih dilakukan adalah tradisi selametan kematian yang terdapat nilai-nilai Islam di dalam pelaksanaanya seperti adanya ceramah agama Islam atau tausiyah, membaca do’a-do’a, ayat-ayat Al-Qur’an, sholawat, dan berdzikir yang dikenal dengan tahlilan. Tradisi selametan  setelah  kematian  tersebut  sampai sekarang masih banyak dilakukan  masyarakat di Desa Jaweng karena didorong oleh suatu sistem keyakinan dan kepercayaan yang  kuat terhadap sistem nilai dan adat istiadat yang sudah berjalan turun temurun. Tulisan ini bertujuan  agar masyarakat mengetahui bahwa keberadaan tradisi selametan  kematian  di Desa Jaweng tersimpan nilai positif dalam pelaksanaannya. Masyarakat di Desa Jaweng memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam menilai tradisi tersebut. Seperti halnya ada masyarakat yang memiliki keinginan atau termotivasi untuk menghadiri dan mengikuti  kegiatan tersebut dan ada juga yang menilai bahwa kegiatan semacam  itu tidak perlu dilakukan  karena tidak ada hadist yang mendasarinya. Tradisi semacam ini perlu diambil nilai positif yang terkandung oleh masyarakat itu sendiri. Seperti halnya tradisi tersebut untuk silaturrahmi atau sekedar menyambung ikatan saudara dengan masyarakat satu dengan yang lain yang menimbulkan rasa satu kepentingan dan kebersamaan sehingga muncul hubungan sosial yang erat.Kata Kunci: Islam, Jawa, selametan, tradisi  
MOTIVASI TINDAKAN SALMAN FARIS DALAM MEMBANGUN DISKURSUS KARISMA TUAN GURU DI DALAM NOVEL TUAN GURU Fauzan, F.
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i1.4294

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membongkar motivasi tindakan Salman Faris dalam membangun diskursus karisma Tuan Guru di dalam novel Tuan Guru. Data yang digunakan dalam penelitian adalah semua ekspresi bahasa maupun ungkapan-ungkapan yang merupakan diskursus karisma Tuan Guru yang terdapat dalam novel Tuan Guru serta data yang didapatkan melalui hasil wawancara dengan para informan yang dianggap paling representatif. Data yang ada dianalisis dengan teori diskursus oleh Foucault yang digunakan secara eklektik dengan teori simulacra Baudrillard. Hasil analisis menunjukkan bahwa Salman Faris membangun diskursus karisma Tuan Guru atas dasar pengamatan dan interaksi sosial dengan masyarakat Lombok di tengah lingkungan Tuan Guru maupun di luar, sehingga Salman Faris berhasil membongkar motivasi tindakan Tuan Guru di tengah masyarakat Lombok yang memiliki tujuan untuk menjadi penguasa. Tuan Guru merupakan tokoh agama yang paling berpengaruh di Lombok. Kata kunci: Salman Faris, diskursus karisma tuan guru, novel tuan guru

Page 1 of 3 | Total Record : 28