cover
Contact Name
Novita Kamaruddin
Contact Email
novita.trivita@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkp.fkep@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Padjadjaran
ISSN : 23385324     EISSN : 233853246     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Keperawatan Padjadjaran (JKP) or The Padjadjaran Nursing Journal is a peer review journal providing an open access facility for scientific articles published by the principles of allowing free research available for public to support global scientific exchange. Padjadjaran Nursing Journal (JKP) is published three times a year, specifically in April, August, and December.
Arjuna Subject : -
Articles 174 Documents
Hubungan Sumber Informasi dan Usia Remaja Puteri dengan Perilaku Perawatan Diri saat Menstruasi Solehati, Tetti; E, Ermiati; Trisyani, Mira; Hermayanti, Yanti
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1302.366 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i2.452

Abstract

Remaja putri merupakan kelompok rawan terjangkit infeksi saluran reproduksi, salah satunya disebabkan pola perilaku belum mendukung dalam perawatan diri saat menstruasi yang menyebabkan meningkatnya angka keputihan patologis. Pola perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh usia dan informasi. Pada pondok pesantren biasanya guru memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi sesuai dengan ajaran islam yang dirasakan lengkap untuk siswinya sehingga akan berpengaruh pada perilaku kesehatan reproduksi mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sumber informasi dan usia siswi dengan perilaku perawatan diri saat menstruasi. Metode: Desain penelitian deskriptif korelasional. Teknik pengambilan sample total sampling dengan jumlah 100 siswi kelas VIII dan IX. Kegiatan: Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Garut tahun 2016. Instrumen terdiri dari quisioner data sumber informasi dan usia, serta lembar ceklis perilaku perawatan diri saat menstruasi. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya responden berusia 15 tahun (27%), seluruh responden (100%) mendapatkan informasi, hampir seluruh responden (82%) mendapatkan informasi dari ibu, dan hampir seluruh responden (87%) berperilaku tidak mendukung. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa hanya variabel usia yang memiliki nilai signifikan terhadap perilaku perawatan diri saat menstruasi (p = 0,033), sedangkan variabel sumber informasi tidak ada yang memiliki nilai yang signifikan seperti dari; ibu (p = 1,000), koran (p = 0,767), TV (p = 0,338), internet (p = 0,296), guru (p = 0,682), teman (p = 0,675), petugas kesehatan (p = 0,208), dan informasi lainnya (p = 0,780). Kesimpulan terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan perilaku perawatan diri saat menstruasi.Kata kunci: Perawatan diri saat menstruasi, siswi, sumber informasi. The Correlation between Information Source and Age of Adolscent Girls to Self Care Practices of Menstrual Hygiene BehaviorAbstractYoung female are prone to contracting of reproductive tract infections, one of which is due to a behavioral pattern in self-care during menstruation that leads to increase of pathological vaginal discharge. A person’s behavior patterns can be affected by age and information. In the boarding school, usually teachers provide education about reproductive health in accordance with Islamic teachings so that will affect the behavior of their reproductive health. The purpose of this study was to determine the relationship between the source of information and the age of female students with self-care behavior during menstruation. Method: Descriptive correlational research design was used in this study. Sampling technique was total sampling of 100 students of class VIII and IX. Activity: The research was conducted at Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Garut in 2016. The instrument consisted of information questionaire and data of age, as well as checklist of self-care behavior during menstruation. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The results showed that almost half (27%) of respondents aged 15 years, all respondents (100%) received information, almost all respondents (82%) received information from mothers, and almost all respondents (87%) had unsupport behavior. The correlation test results showed that only the variable of age had significant value to the self-care behavior during menstruation (p = 0,033),whereas the variable of information source had not significant value such as from mother (p = 1,000), news paper (p = 0,767), TV (p = 0,338), internet (p = 0.296), teachers (p = 0.682), friends (p = 0,682), health providers (p = 0,208), and other informations (p = 0,780). Conclusion There was a significant relationship between age and self-care behavior during menstruation.Keywords: Self-care during menstruation, student, source of information.
Peripherally Inserted Central Catheterdan Pemberian Terapi Intravena pada Neonatus Setiasih, Yani; Fatimah, Sari; Rahayu, Siti Yuyun
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.361 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v1i2.60

Abstract

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa Peripherally Inserted Central Catheter (PICC) efektif dalam pemberian terapi intravena. Belum banyak penelitian yang membandingkan pemberian terapi intravena antara akses intravena yang biasa dilakukan saat ini. Penelitian ini bertujuan membandingkan antara akses intravena perifer dengan Peripherally Inserted Central Catheter(PICC) terhadap efektivitas pemberian terapi intravena pada neonatus. Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Dengan teknik purposive sampling, 32 neonatus diikutsertakan sebagai subjek yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok dengan akses intravena perifer dengan PICC. Pada kelompok dengan akses intravena perifer (n=16) dan pada kelompok dengan PICC (n=16). Efektivitas akses intravena dinilai dari kesesuaian terapi intravena yang didapat neonatus dengan kebutuhan yang seharusnya selama 24 jam dalam waktu lima hari menggunakan lembar observasi. Data dianalisis menggunakan uji fisher exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian terapi intravena menggunakan PICC lebih efektif dibandingkan pemberian terapi intravena menggunakan akses intravena perifer (ρ=0.00). Perawatan neonatus yang membutuhkan terapi intravena di rumah sakit lebih disarankan menggunakan PICC dibandingkan dengan akses intravena perifer.Kata kunci:Akses intravena perifer, neonatus, Peripherally Inserted Central Catheter(PICC), terapi intravena AbstractPrevious studies have found that peripherally inserted central catheter (PICC) is effective for delivering an intravenous therapy. However, few studies were found to compare the effectiveness of PICC with peripheral intravenous access. The purpose of this study was to compare the effectiveness of intravenous therapy using peripheral intravenous access and PICC in hospitalized neonates. This study was a descriptive comparative. By using a purposive sampling technique, 32 neonates were involved as subjects of peripheral IV access group (n=16) and PICC group (n=16). Data were collected using observation forms for 24 hours within 5 days in a row. A Fisher Exact test was utilized to analyze the data. The results indicated that PICC was more effective than peripheral intravenous access (ρ=0.00) in providing intravenous therapy for neonates. Accordingly, PICC is recommended for neonates requiring intravenous therapy in the hospital. Key words: Intravenous therapy, neonates, peripheral intravenous access, Peripherally Inserted Central Catheter (PICC)
Pengalaman Spiritualitas pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Mailani, Fitri; S, Setiawan; S, Cholina T.
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.32 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v3i1.94

Abstract

Spiritualitas merupakan aspek yang sangat penting bagi pasien yang menderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi spiritualitas pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang yang berasal dari unit hemodialisis RSUP H.Adam Malik dan RSU dr. Pirngadi Medan dengan kriteria partisipan berusia lebih dari 18 tahun, menjalani hemodialisis lebih dari 3 bulan, kesadaran compos mentis dan reguler menjalani hemodialisa 2 kali seminggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan Colaizzi. Dari hasil analisis penelitian di temukan 4 tema yang mencerminkan fenomena yang diteliti. Tema-tema tersebut antara lain adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, dukungan dari orang terdekat, mempunyai harapan besar untuk sembuh, dan menerima dengan ikhlas penyakit yang diderita. Dengan demikian disarankan kepada perawat dialisis untuk membuat program yang mendukung kegiatan spiritualitas secara berkelompok sesuai dengan kepercayaan masing-masing pasien.Kata kunci: Hemodialisis, penyakit ginjal kronik, spiritualitas.Spiritual Experience of Chronic Renal Failure Patient Undergoing HemodialysisAbstractSpirituality is a very important issue in patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis. The purpose of this qualitative study was to explore the spirituality experience of patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis. The design of this study is phenomenology. Data were collected through in-depth interviews that conducted with 10 participants selected from renal unit of RSUP. H. Adam Malik and RSUD dr. Pirngadi Medan hospital based on criteria including age more than 18 years old, undergoing hemodialysis more than 3 months, composmentis and reguler hemodialysis 2 times a week. The collected data were analyzed using Colaizzi apporach to analysis. The results of this study showed four including being closer to God, the support of the people nearby, had great hopes for recovery, and willingly accept the illness. This study suggested the dialysis nurses to create program to support spiritual activity.Key words: Chronic kidney disease, hemodialysis, spirituality.
Pengaruh Frekuensi Vibrasi terhadap Penyembuhan Luka Diabetes Sari, Yunita; Sutrisna, Eman; H, Hartono
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.792 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v4i2.232

Abstract

Penelitian menyatakan bahwa vibrasi 47 Hz dapat meningkatkan penyembuhan luka diabetes. Namun sampai saat ini belum diketahui apakah frekuensi dibawah dan diatas 47 Hz dapat meningkatkan penyembuhan luka diabetes. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek frekuensi vibrasi yang berbeda terhadap penyembuhan luka diabetes. Desain penelitian eksperimen ini melibatkan 5 kelompok tikus putih; kelompok yang mendapatkan vibrasi 40 Hz (frekuensi rendah), kelompok 106 Hz (frekuensi menengah), kelompok 200 Hz (frekuensi tinggi), kelompok 300 Hz (frekuensi sangat tinggi), dan kelompok kontrol (tanpa vibrasi). Induksi diabetes dilakukan dengan Alloxan Monohidrat. Vibrasi diberikan selama 10 menit. Status luka didasarkan pada jaringan nekrotik, ukuran luka, inflamasi, dan reepitelisasi. Analisis histologi dilakukan dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin. Ukuran luka dianalisis dengan uji ANOVA, diikuti oleh tes Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan nekrotik dan intensitas inflamasi paling sedikit pada kelompok 40 Hz, dan paling banyak pada kelompok 300 Hz. Reepitelisasi paling baik pada kelompok 40 Hz, dan paling rusak pada 300 Hz. Ukuran luka di kelompok 40 Hz secara signifikan lebih kecil dibandingkan dengan kelompok lain (p <0.05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vibrasi frekuensi rendah dapat mempercepat penyembuhan luka diabetes, sebaliknya, vibrasi frekuensi tinggi dapat merusak atau memperparah jaringan luka.Kata kunci :Diabetes, penyembuhan, luka, terapi komplementer, vibrasi.The Provision of Different Vibration Frequency to Accelerate Diabetic Wound HealingAbstractStudies have revealed that diabetic wound healing can be accelerated using the vibration therapy of 47 Hz. However, no strong evidence compelled the use of different vibration rates. Thus, this experimental study aimed to examine the effect of different vibration frequencies towards diabetic wound healing. Five groups of white rats were injected using Alloxan Monohydrate within ten minutes before the vibration therapy. The dosage was given categorized as 40 Hz (low), 106 Hz (moderate), 200 Hz (high) and 300 Hz (very high). Control group was created without given vibration therapy. Wound status was evaluated using the presence of necrotic tissues, size, inflammation, and reepithelization where Hematoxicilin and Eosin color-based were used to analyse the histological presentation. Using ANOVA and Tukey test, it was found that the necrotic tissues and the intended inflammation have less developed among low vibration group compared to others. Reepithelization and wound size reduction most experienced by the lower group, but the worst damaged occupied by the highest vibration group. It is suggested that lower vibration frequency enabled to accelerate the wound care healing, but a high-frequency rate can disturb or damage the injured tissues. Keywords:Complementary therapy, diabetes mellitus, wound healing.
Efek Spiritual Emotional Freedom Techniqueterhadap Cemas dan Depresi, Sindrom Koroner Akut Bakara, Derison Marsinova; Ibrahim, Kusman; Sriati, Aat
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.89 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v1i1.51

Abstract

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan penyakit jantung penyebab kematian. Gejala depresi, kecemasan, dan stres meningkat pada pasien SKA. Gejala ini dapat memengaruhi proses pengobatan dan penyembuhan serta menimbulkan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh SEFT terhadap penurunan gejala depresi, kecemasan, dan stres pada pasien SKA yang dirawat di ruang rawat intensif jantung. Rancangan penelitian menggunakan quasi eksperimen, teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling,sebanyak 42 orang. Penetapan jumlah responsden untuk kontrol dan kelompok intervensi menggunakan number ramdom trial, sehingga ditetapkan kelompok intervensi berjumlah 19 responsden dan untuk kelompok kontrol berjumlah 23 responsden. Kelompok intervensi dan kelompok kontrol diukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres mengunakan kuesioner The Depression Anxiety Stres Scales 21(DASS 21) kemudian pada kelompok intervensi diberikan intervensi SEFT satu kali selama 15 menit dan diukur kembali tingkat depresi, kecemasan, dan stres pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Data dianalisis dengan Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil menunjukkan perbedaan yang bermakna antara tingkat depresi, kecemasan, dan stres sebelum dan sesudah intervensi SEFT antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p<0.05). Intervensi SEFT membantu menurunkan depresi, kecemasan, dan stres pada pasien SKA.Kata kunci:Depresi, intervensi SEFT, kecemasan, stres AbstractAcute coronary syndrome (ACS) is a cause of heart disease deaths. Symptoms of depressi on anxiety, and stres is increased in patients with ACS. These symptoms may affect treatment and healing processand cause complications. This study aims to determine the effect of intervention Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) to decrease depression, anxiety, and stres in patients with ACS who were treated in the cardiac intensive care unit. The research design was quasi-experimental, and using consequtive sampling as sampling technique, 42 responsdents were divided into intervention and control groups. Determination the number of responsdents for the control and intervention groups using a number ramdom trial, 19 responsdents intervention group and 23 responsdents the control group. Intervention group and control group measure levels of depression, anxiety, and stres using questionnaires The Depression Anxiety Stres Scales 21 (DASS 21) later in the intervention group was given SEFT intervention once for 15 minutes and measured return rates of depression, anxiety, and stres in the intervention group and the control group. Data were analyzed with the Wilcoxon and Mann Whitney. Results show significant differences between levels of depression, anxiety, and stres before and after the intervention SEFT between the intervention group and the control group (p<0.05). SEFT interventions help reduce depression, anxiety, and stres in patients with ACS. Limitations of this study is the difficulty in controlling the characteristics of the responsdents as a confounding variable. This research benefits that SEFT interventions can be used to reduce depression, anxiety, and stres in patients with ACS, and can be consider as one intervention.Key words: Anxiety, depression, stres, SEFT Intervention
The Effect Of Home Heart Walk On Fatigue Among Heart Failure’s Patients Aritonang, Yanti Anggraini; Widani, Ni Luh; Adyatmaka, Irene
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 6, No 1 (2018): Padjadjaran Nursing Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.101 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i1.310

Abstract

AbstractHeart failure is a physiologic state in which the heart cannot pump enough blood to meet the metabolic needs of the body. Fatigue is a major problem that arises in heart failure patients. One intervention to reduce fatigue is Home Heart Walk (HHW). The aim of this research was to determine the effect of HHW on fatigue among heart failure’s patients. This research used Pretest-Postest Design Pre-experiment design, at RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo & RS PGI Cikini during May-July 2015, involving 50 heart failure patients with functional class 2 & 3.The nurse teached HHW to heart failure patients with a six-minute walking procedure with five meter’s distance in the hospital and then the exercise is continued at home within two days for six weeks. The result obtained majority of the respondents is clasification heart failure’s functional class two (76%). Before & after HHW’s intervention, the majority of normal pulse rate from 90% become 100%.The test results showed there was significant difference in the degree of fatigue before and after HHW‘s intervention (p=0.000) and there is a relationship between respiratory rate on the degree of fatigue (p=0.043). The conclusion is HHW can reduce fatigue in heart failure patients during six weeks. Therefore it is recommended for nurses to teach HHW and motivate patient to have self-exercise.
Emotional Freedom Techniques dan Tingkat Kecemasan Pasien yang akan Menjalani Percutaneous Coronary Intervention Shari, Weni Widya; S, Suryani; Emaliyawati, Etika
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.728 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v2i3.83

Abstract

Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dapat memperparah kondisi penyakit, memengaruhi status hemodinamik, gangguan imunitas dan gangguan metabolisme yang mengakibatkan suplai oksigen dan perfusi jaringan semakin terganggu. Emotional Freedom Techniques (EFT) merupakan salah satu intervensi pilihan, karena berdasarkan beberapa literatur, EFT dapat menurunkan kecemasan, mengatasi kecemasan langsung di bagian korteks serebri serta mengatasi kecemasan berdasarkan akar permasalahannya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi pengaruh intervensi EFT terhadap tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani PCI di RS. X. Peneliti menggunakan metode quasi experimentaldengan rancangan one group pretest dan postest. Jumlah sampel 30 orang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol dengan menggunakan teknik concecutive sampling. Kelompok intervensi diberikan EFT selama 15 menit. Sebelum dan sesudah intervensi diukur tingkat kecemasannya dengan menggunakan kuesioner state trait anxiety inventory(STAI-S). Data dianalisis dengan uji t. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi EFT (p<0.05) dan terdapat perbedaan yang bermakna intensitas kecemasan sesudah intervensi antara kelompok intervensi dan kontrol (p<0.05) . Kesimpulan penelitian yaitu EFT dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani PCI. Penggunaan EFT dalam mengatasi kecemasan pasien di ranah kritis merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan karena berdasarkan bukti empiris, memberikan manfaat, menggunakan teknik yang sederhana, mudah digunakan oleh siapapun, serta tanpa efek samping.Kata kunci: Emotional Freedom Techniques, kecemasan, komplementer, Intervensi Koroner Perkutan AbstractAnxiety that happen before Percutaneous Coronary Intervention (PCI) can aggravate the condition of disease, affecting hemodynamic status, immune disorders and metabolic disorders that result in tissue perfusion and oxygen supply disruption, if. Emotional Freedom Techniques (EFT) is one of the preferred interventions, because based on some literature, EFT can reduce anxiety, overcoming anxiety directly on the cerebral cortex and also address the root causes of anxiety based. The objective of research to determine the effect of EFT intervention on level anxiety of patients undergoing PCI in Hospital X. The research using quasi experimental method to design one group pretest and posttest. 30 people were divided into intervention and control groups by using a concecutive sampling technique. The intervention group received EFT for 15 minutes. Anxiety level is measured before and after intervention using State Trait Anxiety Inventory questionnaire (STAI-S). Data were analyzed by t test. The result showed there were significant differences between anxiety levels before and after the EFT intervention (p<0.05) and significant difference intensity of anxiety after intervention between intervention and control groups (p<0.05). The Conclusion of research is EFT can reduce anxiety levels on patients undergoing PCI. EFT is something that needs to be considered as based on empirical evidence, provide benefits, easy and without side effects. Key words:Emotional Freedom Techniques, anxiety, complementary, Percutaneous Coronary Intervention
Perbandingan Nilai PETCO2 dan PACO2 pada Pasien dengan Pemasangan Ventilasi Mekanik Soetioputro, Baskoro; Susilaningsih, F. Sri; Mulyati, Titin
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.042 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v4i1.134

Abstract

Pasien dengan ventilasi mekanik perlu dilakukan pemantauan CO2 karena berperan penting pada regulasi pernapasan dan keseimbangan asam-basa tubuh. Pemantauan CO2 dapat dilakukan dengan mengukur PaCO2 melalui analisis gas darah arteri. Pengukuran PaCO2 tidak dapat dilakukan secara kontinu sehingga perlu sering dilakukan pengambilan darah arteri yang dapat menimbulkan komplikasi. Pengukuran PETCO2 dapat memantau CO2 secara kontinu dan non invasif. PETCO2 adalah tekanan parsial CO2 ekspirasi yang diukur pada saat akhir volume tidal pernapasan. Penelitian ini bertujuan membandingkan nilai PETCO2 dan PaCO2 pada pasien dengan ventilasi mekanik di ruang GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah prospective cross sectional. Pemilihan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Penelitian dilakukan terhadap 21 pasien yang menggunakan ventilasi mekanik di ruang GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Data PETCO2 dicatat pada saat perawat mengambil sampel darah arteri untuk pemeriksaan analisis gas darah. Didapatkan 122 pasang data nilai PETCO2 dan PaCO2. Data yang diperoleh dianalisis dengan Bland-Altman plot. Hasil penelitian nilai PETCO2 berada pada rentang 14-67 mmHg dan nilai PaCO2 berada pada rentang 17-77 mmHg. Bias nilai PETCO2 dan PaCO2 adalah -4,6475 mmHg lebih rendah daripada estimasi nilai bias ±5 mmHg sehingga bisa diterima secara klinik. Presisi nilai PETCO2 adalah 12,7969 mmHg (limit of agreement= 1,7509; -11,0460) lebih tinggi daripada estimasi nilai presisi ±5 mmHg sehingga tidak bisa diterima secara klinik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengukuran PETCO2 tidak dapat menggantikan pengukuran PaCO2, tetapi pengukuran PETCO2 dapat digunakan untuk memperkirakan nilai PaCO2 pasien dengan ventilasi mekanik.Kata kunci: PETCO2, PaCO2, ventilasi mekanik. Comparison of PETCO2 and PACO2 Values in Patients with Mechanical VentilationAbstractPatients with mechanical ventilation need to be monitored for the CO2 value because it has an important role in regulation of respiration and body acid-base equilibrium. Monitoring of CO2 can be done by measuring PaCO2 through arterial blood gas analysis. Measurement of PaCO2 could not be done continuously so that the arterial blood are needed to be taken quite often which could cause complication. The measurement of PETCO2 can monitor the CO2 continuously and non-invasively. PETCO2 is partial pressure of CO2 expiration that is measured at the end of respiration tidal volume. This study aimed to compare the PETCO2 value and PaCO2 in patients with mechanical ventilation in GICU Dr. Hasan Sadikin Hospital. The research design was prospective cross-sectional using consecutive sampling method. The total sample was 21 patients who used mechanical ventilator in GICU Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. The PETCO2 data were recorded when the patients’ arterial blood sample were taken for blood gas analysis test. The total of 122 pair date of PETCO2 and PaCO2 values were recorded. The data were analyzed using Bland-Altman plot. The results showed that the PETCO2 value ranged from 14 – 67 mmHg and the PaCO2 values ranged from 17 – 77 mmHg. The deviation of PETCO2 and PaCo2 was -4.6475 mmHg, which is lower than the estimation of ± 5 mmHg deviation, therefore the PETCO2 measurement can be accepted clinically. The precision of PETCO2 was 12.7969 mmHg (limit of agreement = 1.7509; -11.0460) which is higher than the estimation of precision value of ±5 mmHg, therefore it cannot be accepted clinically. In conclusion, the PETCO2 measurement could not replace the PaCO2 measurement, however, PETCO2 measurement can be used to predict the value of PaCO2 for patients with mechanical ventilation.Keywords: Mechanical ventilation, PETCO2, PaCO2.
Pengaruh Latihan Kekuatan terhadap Restless Legs Syndrome Pasien Hemodialisis Widianti, Anggriyana Tri; Hermayanti, Yanti; Kurniawan, Titis
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.514 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i1.349

Abstract

Restless legs syndrome (RLS) adalah gangguan sensorimotor yang banyak terjadi pada pasien hemodialisis (HD).Terapi farmakologi merupakan pilihan utama penanganan RLS yang justru berisiko menimbulkan efek samping.Optimalisasi fisik pasien HD melalui latihan kekuatan dinilai berpotensi efektif memperbaiki restless legs syndrome.Belum terdapat penelitian yang mengklarifikasi pengaruh latihan kekuatan terhadap RLS. Penelitian ini bertujuanuntuk mengidentifikasi pengaruh latihan kekuatan terhadap skala RLS pada pasien HD di Unit Hemodialisis di RSMargono Soekardjo dan RSUD Banyumas. Metode quasi eksperimen dengan pre-post test with control group designini menggunakan sampel sebanyak 32 pasien HD (15 pasien intervensi dan 17 pasien kontrol) dengan teknik clusterrandom sampling. Cluster random sampling dalam penelitian ini adalah penggunaan tempat penelitian sebagai kelas,yaitu satu rumah sakit untuk intervensi dan rumah sakit lainnya digunakan untuk kontrol. Latihan kekuatan padaekstremitas atas dan bawah diberikan 2 minggu sekali saat proses hemodialisis berlangsung selama 8 minggu. SkalaRLS diukur menggunakan IRLS Scale. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antar kelompok dari usia, ureum, adekuasi, lama HD, jeniskelamin, penyakit kormobid maupun penggunaan obat. Antar kelompok memperlihatkan terdapat perbedaan nilaiTIBC (p=0,000). Skala RLS kelompok intervensi menunjukan perbaikan dengan selisih mean -1 yang menandakanpenuruan skala, adapun pada kelompok kontrol justru terlihat peningkatan kondisi RLS dengan selisih mean 1,29.Analisis antar kelompok terlihat signifikansi berbeda (p=0,035) yang menunjukkan terdapat pengaruh latihankekuatan terhadap skala RLS. Latihan kekuatan penting sebagai bagian dalam pengelolaan pasien uremik RLS.
Fenomena Pasung dan Dukungan Keluarga terhadap Pasien Gangguan Jiwa Pasca Pasung Yusuf, Ah.; Tristiana, Dian Tristiana
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 5, No 3 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1521.271 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i3.653

Abstract

Indonesia bebas pasung bagi pasien gangguan jiwa merupakan program prioritas yang harus dicapai pemerintah pada tahun 2019. Saat ini upaya bebas pasung telah dilaksanakan dengan baik, permasalahan baru muncul setelah masa pengobatan selesai dan harus kembali kepada keluarga dan masyarakat. Keluarga tidak menghendaki pasien kembali kepada keluarga, diabaikan, kembali kambuh atau menjadi gelandangan psikotik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dukungan keluarga terhadap pasien gangguan jiwa pasca pasung. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif fenomenologi, jumlah partisipan sebesar 9 orang dipilih dengan purposive sampling, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, data dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan dukungan keluarga terhadap pasien gangguan jiwa pasca pasung diperoleh 2 (dua) tema besar yaitu; fenomena pasung terhadap pasien gangguan jiwa dan dukungan keluarga. Fenomena pasung meliputi; alasan, keputusan, metode, pembebasan dan dampak pemasungan. Dukungan keluarga meliputi; dukungan penilaian, instrumental, informasional dan dukungan emosional. Dukungan keluarga dibutuhkan pasien untuk dapat mencapai penyembuhan dan mencegah kekambuhan. Pengetahuan yang kurang terhadap cara perawatan pasien gangguan jiwa pasca pasung menyebabkan dukungan keluarga yang diberikan terhadap pasien tidak optimal. Pandangan keluarga dan masyarakat yang keliru terhadap pasien gangguan jiwa mempengaruhi penanganan yang tepat terhadap pasien gangguan jiwa.Kata kunci: Dukungan keluarga, gangguan jiwa, pasung. AbstractIndonesian free of pasung for mental disorders is a priority program to be achieved by the government in 2019. Currently the effort of free of pasung for mental illness has been well implemented. A new problems arise after the treatment period is over and patients must return to family and community. Families do not want patients to return to then, ignored, relapse or become psychotic homeless. This study aims to obtain a description of pasung phenomenon and family support for patients after having pasung. This research used qualitative phenomenology design, the number of participants for 9 people was chosen by purposive sampling, data collection was done by indepth interview, the data were analyzed by thematic analysis. The result of the research showed two big themes that are; pasung phenomenon and family supports after the patient having pasung. The pasung phenomenon includes; reasons, decisions, methods, exemptions and the effects of deprivation. Family support includes; support assessment, instrumental, informational and emotional support. Family support is needed for patients to achieve healing and prevent recurrence. The lack of knowledge about the way patients care for post pasung mental disorders cause the family support provided to patients is not optimal. Misrepresentation of family and community opinions on psychiatric patients affects the proper treatment of psychiatric patients.Keywords: Family support, mental disorder, pasung.

Page 1 of 18 | Total Record : 174