Jurnal KATA
Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra merupakan jurnal ilmiah yang menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pemikiran dalam bidang Bahasa dan Sastra. KATA menerima ditulis dalam dua bahasa, yaitu: Bahasa Indonesia dan Inggris. KATA terbit dua kali dalam setahun pada bulan Mei dan Oktober. Jurnal ini diterbitkan oleh Kopertis Wilayah X bekerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki bidang Bahasa dan Sastra. Setiap naskah yang dikirim akan melalui proses review oleh mitra bebestari. Berdasarkan penilaian mitra bebestari, penyunting pelaksana akan menentukan apakah naskah akan dimuat atau tidak.
Articles
51
Articles
PERILAKU NONVERBAL JESSICA DALAM SIDANG PERADILAN

Fitri, Nidya ( Stitnu Sakinah Dharmasraya )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Jessica’s nonverbal behavior has been phenomenal in recent years. Media coverage of court room hearing Live and watched by the audience. The role of language is very important in deciding a judge decision. Nonverbal  behavior is a part of language evidence in the court room. This research is aimed at describing and explaining function and meaning of Jessica’s nonverbal behavior. This research used qualitative descriptive method by using observational method and pragmatic approach. The object of this research was court room taken from KPI (Indonesia Broadcasting Commission.). The result of this research showed that two from the five language functions, i.e. representative function and directive function. Based on Jessica’s nonverbal behavior meaning found on from five nonverbal behavior, i.e, the meaning of hand gesture. The function and the meaning of Jessica’s nonverbal behavior was committed Jessica to prove her innocence action. Peradilan Jessica sangat fenomenal beberapa tahun belakangan ini. Media meliput secara live  sidang peradilan dan ditonton khalayak ramai. Peran bahasa sangat penting dalam menentukan sebuah putusan perkara oleh hakim. Perilaku nonverbal merupakan bagian dari bukti lingual bahasa dalam teks peradilan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan fungsi dan makna perilaku nonverbal dilakukan oleh Jessica. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan metode Simak dan metode padan pragmatis. Objek penelitian ini adalah sidang peradilan Jessica diambil dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukannya dua dari lima fungsi bahasa, yaitu fungsi representatif dan fungsi direktif. Berdasarkan makna perilaku nonverbal ditemukan satu dari lima makna, yaitu perilaku nonverbal gerak isyarat tangan. Fungsi dan makna perilaku nonverbal tersebut dilakukan Jessica untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.

YANG TERSEMBUNYI DARI PIDATO POLITIK PERTAMA ANIES BASWEDAN SEBAGAI GUBERNUR DKI JAKARTA: SEBUAH ANALISIS WACANA KRITIS

Sofa, Gagar Asmara ( Universitas Indonesia )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

van Dijk (2009) stated that we need to understand the whole context before understanding a discourse. First context is the internal aspects, which is based on what the speaker said or what was written in the text - from diction and sentence study, to the paragraphs continuity, in creating context of the discourse. Second, based on its social context, which perceived the social situations as part of the discourse. Understanding of the first political speech of the elected governor of DKI Jakarta 2017, Anies Baswedan, is one of the incomprehensive practice of discourse. In addition to causing an incomprehensive understanding, the speech also reaps a controversy driven by mass media toward Anies Baswedan for the misleading meaning of the word pribumi. Therefore, the researcher would like to understand Anies Baswedan political speech using van Dijk critical discourse analysis. The frame and analytical units used in this speech will be based on analysis on the social, social-politics, and social-culture contexts. The analysis result shows that the polarized social situation post-election created a social identity among community, proponent of Anies-Sandi and the political opponent, Ahok-Djarot. Moreover, we can infer that Anies Baswedan is a prominent orator, has the faith to harmony in politics, has affiliation motives, and proper knowledge about the history and culture of Jakarta and its peopleVan Dijk (2009) menyatakan bahwa untuk memahami sebuah praktik wacana perlu dilihat konteks secara keseluruhan. Pertama, dilihat dari konteks internal berupa tuturan penutur wacana atau dari apa yang tertulis di dalam sebuah teks—termasuk studi kata, kalimat, hingga kesinambungan paragraf yang saling mendukung dalam pembentukan konteks suatu wacana. Kedua, konteks sosialnya yang menganggap bahwa situasi sosial adalah bagian dari pewacanaan. Pemahaman terhadap pidato politik pertama Gubernur terpilih DKI Jakarta 2017, Anies Baswedan, merupakan salah satu praktik wacana yang tidak menyeluruh. Selain menyebabkan pemahaman yang tidak komprehensif, pidato tersebut juga menuai banyak kontroversi. Hal itu disebabkan adanya penyempitan makna oleh media massa terkait kata ‘pribumi’ yang terdapat pada pidato Anies Baswedan. Oleh karenanya, peneliti terpicu untuk memahami pidato politik Anies Baswedan dengan menggunakan analisis wacana kritis van Dijk. Kerangka dan unit-unit analisis yang digunakan adalah analisis praktik wacana dalam konteks sosial, sosial-politik, dan sosial-budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa situasi sosial yang masih terpolarisasi pascapemilukada, membentuk identitas sosial masyarakat, yaitu pendukung Anies-Sandi dan pendukung lawan politiknya, Ahok-Djarot. Selain itu, dapat diketahui bahwa Anies Baswedan memiliki keterampilan sebagai orator, memiliki keyakinan terhadap pentingnya harmoni dalam politik, memiliki motif afiliasi, serta memiliki pengetahuan sejarah dan budaya yang cukup mengenai masyarakat dan kota Jakarta.

PARTICIPANT AND PROCESS PREDOMINATE IN JOKO WIDODO’S SPEECH

Mubarak, Zia Hisni ( Universitas Putera Batam )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study is a discourse analysis of one speech from the 7th President of Indonesia Mr. Joko Widodo in an International forum. The aim of this study was to analyze the diction of words and sentences used by Joko Widodo in representing his country in APEC CEO Summit 2014. The diction of words and sentences were seen from the type of participant and process where in participant there where pronoun, noun phrase, adjective, preposition phrase and noun. In process type, there were action, event and attribution. The data to be analyzed was the transcription speech of Joko Widodo. By using descriptive analysis, this study analyzed the type of participant and process predominated in the speech. From the analysis, data were divided as 77 sentences. From those data, it was found type of participant where 23 data were noun participant, 1 data was pronoun participant, 2 data were preposition phrase participant and 6 data were adjective participant. While for process type, it was found 45 type of action process sentence and it was followed by 32 type of attribution process sentence. By the most dominant of 23 noun participant and 45 action process in the speech, it was concluded that Joko Widodo used his power as president to influence the reader and represented his country to the investor in the world forum of APEC CEO Summit 2014.

ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL UHIBBUKA FILLAH (AKU MENCINTAIMU KARENA ALLAH) KARYA RIRIN RAHAYU ASTUTI NINGRUM: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Octaviana, Dwi Warry ( Institut Pendidikan Indonesia )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Educational values are closely related to literary works. Literary works (including novel) always reveal good values that are beneficial to its readers. Educational values can also be referred to a message. The element of message becomes the idea underlying the creation of the literary works. It is expected to be interpreted by the readers to be used as educational values as well as social control that can be used as a guide to interact in real life. Therefore, the aim of the study was to describe the educational values contained in the novel Uhibbuka Fillah (Aku Mencintaimu Karena Allah) by Ririn Rahayu Astuti Ningrum with the approach of literary sociology. Data collection techniques were documentation techniques. The data were analyzed using the content analysis. The results showed that the educational values found in the novel Uhibbuka Fillah (Aku Mencintaimu Karena Allah) by Ririn Rahayu Astuti Ningrum consisted of religious, moral, social, and cultural. (1) The values of religious education, encompassing about loving all things must be due to Allah, having resignation, increasing the knowledge of religion, accustoming to fasting and sunnah prayer, covering aurat, and ghadhdhul bashar (holding sight). (2) The values of moral education, including about obedience to parents, good morals, sincerity and honesty. (3) The values of social education, including about love to orphans, help, and keep promises to others. (4) The value of cultural education is about the palace building that has implied meaning. The findings are very well used as the example in shaping positive values in real life. Nilai-nilai pendidikan sangat erat kaitannya dengan karya sastra. Setiap karya sastra yang baik (termasuk novel) selalu mengungkapkan nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi pembacanya. Nilai-nilai pendidikan dalam karya sastra dapat disebut juga sebagai amanat atau pesan. Unsur amanat atau pesan menjadi gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra tersebut. Hal tersebut diharapkan dapat ditafsirkan oleh pembaca agar bisa dijadikan sebagai ilmu atau nilai pendidikan sekaligus kontrol sosial yang bisa dijadikan pedoman berinteraksi dalam kehidupan yang nyata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Uhibbuka Fillah (Aku Mencintaimu Karena Allah) karya Ririn Rahayu Astuti Ningrum dengan pendekatan sosiologi sastra. Data dalam penelitian kualitatif deskriptif ini berupa kata, kalimat, atau wacana yang bersumber dari novel Uhibbuka Fillah (Aku Mencintaimu Karena Allah) karya Ririn Rahayu Astuti Ningrum. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi, simak, dan catat. Analisis data dilakukan dengan content analysis. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan yang ditemukan dalam novel Uhibbuka Fillah (Aku Mencintaimu Karena Allah) karya Ririn Rahayu Astuti Ningrum terdiri dari nilai pendidikan agama, moral, sosial, dan budaya. (1) Nilai-nilai pendidikan agama, mencakup ajaran untuk mencintai segala sesuatu harus karena Allah, tawakkal hanya kepada Allah, mendalami ilmu agama, membiasakan puasa dan sholat sunnah, menutup aurat, dan ghadhdhul bashar (menundukkan atau menahan pandangan). (2) Nilai-nilai pendidikan moral, mencakup ajaran untuk taat dan patuh kepada orang tua, berakhlak baik, berbuat tulus dan jujur. (3) Nilai-nilai pendidikan sosial, mencakup ajaran untuk mencintai anak yatim, tolong menolong, dan menepati janji kepada orang lain. (4) Nilai pendidikan budaya antaranya mengenai bangunan keraton yang memiliki makna tersirat. Dari keseluruhan nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel ini, sangatlah baik digunakan sebagai contoh dalam membentuk dan menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan nyata

TINDAK TUTUR ASERTIF DALAM GELAR WICARA MATA NAJWA DI METRO TV

Hartati, Yulia Sri ( STKIP PGRI Sumatera Barat )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aims to look at the assertive speech acts contained in the Najwa Eye speech title in Metro TV. The data were collected using the Simak method. At this stage, data is obtained by listening to language usage. The taping begins with the basic technique of Sadap Technique and Record Technique, ie tapping the use of ones language followed by the Technique of Free Libat Cakap. The collected data is then analyzed using the method of padan. The techniques used in this method are divided into basic techniques and advanced techniques. The basic technique used is the Determinant Element Technique, with advanced techniques of Equalization Approach Technique, and Differentiation Technique. After going through the process of data analysis, the study continued with the presentation of the results of the analysis. At this stage, the analysis results are presented using Informal Presentation Method. The results of this study found subtindak said stating, complaining, claiming, and suggesting. An assertive speech acting substance that is not used is boasting. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tindak tutur asertif yg terdapat di dalam gelar wicara Mata Najwa di Metro TV. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode Simak. Pada tahap ini, data diperoleh dengan menyimak penggunaan bahasa. Penyimakan diawali dengan teknik dasar Teknik Sadap dan Teknik Rekam, yakni menyadap penggunaan bahasa seseorang yang dilanjutkan dengan Teknik Simak Bebas Libat Cakap. Data yang sudah terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan metode padan. Teknik yang dipakai dalam metode padan ini terbagi ke dalam teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar yang dipakai adalah teknik Pilah Unsur Penentu, dengan teknik lanjutan Teknik Hubung Banding Menyamakan, dan Teknik Hubung Membedakan. Setelah melalui proses analisis data, penelitian dilanjutkan dengan penyajian hasil analisis. Pada tahap ini, hasil analisis disajikan menggunakan Metode Penyajian Informal. Adapun hasil penelitian ini ditemukan subtindak tutur menyatakan (stating), mengeluh (complaining), mengklaim (claiming), dan menyarankan (suggesting). Subtindak tutur asertif yang tidak dipergunakan adalah membual (boasting).

KESOPANAN BERBAHASA DALAM TEKS PASAMBAHAN TINJAUAN PRAGMATIK

Denafri, Bram ( Pamulang University )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pasambahan is a two party conversation between host (sipangka) and guest (alek) to convey intentions and objectives with respect. This study aimed to reveal the politeness form contained in the text pasambahan of writing Datuek Tonggak Sati. To identify the politeness form in the passage,the theory of politness proposed by Leech was used. Leech divides the principle of politeness into six maxims, namely the Tact Maxim, generosity maxim, approbiation maxim, modesty maxim, agreement maxim, and sympathy maxim. Method of data provision used is identity method. Method of data analysis used is referential identity method and translational identity method. The method of presentation of research results used is the informal method. The results of this study revealed that the Minangkabau public speech in bapasambahan found in many forms of taxt maxim. Because the Minangkabau people in bapasambahan use allegories in communicating with interlocutor said. That Minangkabau people are required to be someone who is wise and prudent. Wise in understanding the speech delivered by his interlocutor in the form of figuratively and prudent in responding to the figurative delivered by his interlocutorPasambahan merupakan percakapan dua pihak yang bersangkutan antara tuan rumah (sipangka) dan tamu (si alek) untuk menyampaikan maksud dan tujuan dengan hormat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bentuk kesopanan yang terdapat pada teks pasambahan. Untuk mengungkapkan bentuk kesopanan dalam pasambahan, digunakan teori kesopanan berbahasa yang dikemukakan oleh Lecch. Leech membagi prinsip kesopanan menjadi 6 maksim, yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Metode penyediaan data yang digunakan adalah metode simak. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan referensial dan translasional. Metode penyajian hasil penelitian yang digunakan adalah metode  informal. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tuturan masyarakat Minangkabau dalam bapasambahan banyak ditemukan dalam bentuk maksim kearifan karena masyarakat Minangkabau dalam bapasambahan menggunakan kiasan dalam berkomunikasi dengan mitra tuturnya. Sehingga masyarakat Minangkabau dituntut untuk menjadi seseorang yang arif dan bijaksana. Arif memahami tuturan yang disampaikan oleh mitra tuturnya dalam bentuk kiasan dan bijaksana dalam merespon kiasan yang disampaikan oleh mitra tuturnya.

TATARAN FONEM PENDERITA STROK PADA MASA TERAPI SUATU KAJIAN NEUROLINGUISTIK

Johan, Mhd ( Universitas Putera Batam ) , Susanto, Alpino ( Universitas Putera Batam )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Communication can happen to everyone. It can not be separated from language, language regardless of caste or disease, with the sick everyone can communicate, even if the person is afflicted by aphasia or stroke patient. This research is intentionally done that useful to bridge the relationship of stroke patients with healthy people. The purpose of this study is to find the phoneme level disorder that was tested by stroke patients during the therapy period. The study used neurolinguistic theory written by Literature. In addition, this theory is also supported by leading neurolinguistic experts. To get this research data, researcher use method refer to record technique, note, participatory option personal methode (SLC). Furthermore, to analyze the data the researcher uses the agih method (distribution), this method is supported by the technique of immediate segmenting constituents technique (ICS) and advanced techniques such as deletion, subtitute, and extension. After that, the results obtained are the process of the splitting of 10 times of delegation, then the process of substitution or there are as many as 16 (sixteen) times, while the process of accreditation or addition there are 4 (four) times Komunikasi dapat terjadi pada setiap orang.  Hal itu tidak dapat dipisahkan dari bahasa, bahasa tidak memandang kasta atau penyakit, dengan orang sakitpun setiap orang dapat berkomunikasi, sekalipun orang itu mengalami gangguan afasia atau menderita strok. Penelitian ini harus dilakukan yang bermaksud untuk menjembatani hubungan penderita strok dengan orang sehat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari gangguan tataran fonem yang diujarkan oleh penderita strok pada masa terapi. Penelitian menggunakan teori neurolinguistik yang ditulis oleh Sastra. Di samping itu, teori ini juga didukung oleh berbagai ahli neurolinguistik terkemuka. Untuk mendapatkan data penelitian ini, peneliti menggunakan metode simak dengan teknik record,  catat, participatory option personal methode atau simak libat cakap (SLC). Selanjutnya, untuk menganalisis data tersebut peneliti menggunakan metode agih (distribution), metode ini didukung oleh teknik immediate segmenting constituents technique dan teknik lanjutan seperti deletion, subtitute, dan extension. Setelah itu, hasil yang didapat adalah proses pelesapan 10 kali pelesapan, kemudian proses pergantian atau subtitute ada sebanyak 16 (enam belas) kali, sedangkan proses ekspansi atau penambahan ada 4 (empat) kali.

PERUBAHAN MAKNA TERHADAP HUMOR DALAM KOMIK DARI TWIT-NYA RADITYA DIKA

Afrinda, Putri Dian ( STKIP PGRI SUMATERA BARAT )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This paper contains a discussion of the changes in meaning that occur in comics written by Raditya Dika. The change of meaning is the transition of meaning that occurs due to various factors such as linguistic factors, history, ones psychology, and others. The method used in data collection of this research is qualitative. Qualitative data used includes several things such as detailed descriptions of situations, activities, or certain events or phenomena; direct opinions from people who have experience, their views, attitudes, beliefs, and way of thinking; snippets of documents, report documents, archives, and history; and a detailed description of a persons attitude and behavior. The source of this research data is written data sources. The data in this study are in the form of speech contained in the comic by Raditya Dika. The results of the study show that the changes in meaning contained in the comic are included in the substitution of meaning in the form of criticism. The criticism made in the form of humor is expected to be conveyed without directly confusing the feelings of the person being criticized Tulisan ini berisi pembahasan tentang perubahan makna yang terjadi pada komik yang ditulis oleh Raditya Dika. Perubahan makna merupakan peralihan makna yang terjadi akibat berbagai faktor seperti faktor kebahasaan, sejarah, psikologi seseorang, dan lain-lain. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah kualitatif. Data kualitatif yang digunakan mencakup beberapa hal seperti deskripsi yang mendetail tentang situasi, kegiatan, atau peristiwa maupun fenomena tertentu; pendapat langsung dari orang-orang yang telah berpengalaman, pandangannya, sikapnya, kepercayaan, dan jalan pikirannya; cuplikan dari dokumen, dokumen laporan, arsip-arsip, dan sejarahnya; dan deskripsi yang mendetail tentang sikap dan tingkah laku seseorang. Sumber data penelitian ini berupa sumber data tulisan. Data dalam penelitian ini berupa tuturan yang terdapat di dalam komik karya Raditya Dika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan makna yang terdapat di dalam komik tersebut termasuk dalam pergantian makna berupa kritikan. Kritikan yang dibuat dalam bentuk humor diharapkan dapat tersampaikan tanpa secara langsung menyingung perasaan orang yang dikritik

TINDAK PENGANCAMAN DAN PENYELAMATAN WAJAH ANIES BASWEDAN DAN BASUKI “AHOK” TJAHAJA PURNAMA

Kasenda, Saiko Rudi ( Universitas Airlangga )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This article is aimed to investigate face threathening acts and face saving acts demonstrated by Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama as the candidates of DKI Jakarta governor during the debate held in April 2017. Face threatening act and face saving act are analyzed because they are able to show not only their positive image but also the negatve one in front of not only to each candidate but also to the audience watching the debate. Politeness theory from Brown and Levinson (1987.) are employed to analyze both candidates’ face threatening acts and saving acts since this theory provides detailed descriptions of a large range of strategies that can be used to deeply understand both face threatening acts and face saving act performed by the candidates. The context surrounding the debate becomes a crucial point to analyze how politeness strategy is applied to show face thratening act and face saving act. Through qualitative method, this study found that 1) Bald on-record is the strategy used by the candidates to show face threatening and they are intended to show contradictions, to disagree, to insult, to interrupt, to speak out-of-topic, to challenge, and to exaggerate. 2) Both candidates use positive and negative strategies to show face saving act intended to show contradictions, to assert common ground, to show agreement, to joke, to apologize, and to avoid disagreement. 3) The face threatening act and saving acts can be considered as the efforts to defend their argumentations and to preserve their positive faces, 4.) The use of the word “kita” and passive voice can be seen as markers in both candidates’ utterances to minimize the imposed face threatening act and to signal solidarity to each candidate and to audience, 5) While Anies is revealed to be the one who more frequently uses face threatening act, Basuki is the candidate who uses face saving act more often during the debate. The study is expected to enrich the study in the field of pragmatics focusing on the use of politeness strategy.  Artikel ini bertujuan untuk menginvestigasi tindak pengancaman muka wajah dan tindak penyelamatan wajah yang ditunjukkan oleh Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama pada Debat Pilkada gubernur provinsi DKI Jakarta 2017. Tindak pengancaman wajah dan penyelamatan wajah diteliti pada makalah ini karena dapat merepresentasikan citra positif maupun citra negatif kandidat pilkada Gubernur DKI tidak hanya dihadapan masing-masing kandidat tetapi juga kepada masyarakat umum yang menyaksikan. Teori kesantunan dari Brown dan Levinson digunakan untuk menganalisis tindak pengancaman muka dan tindak penyelamatan muka kedua kandidat karena teori ini memiliki penjelasan yang komprehensif tentang berbagai strategi yang dapat dipergunakan untuk memahami secara mendalam bagaimana tindak pengancaman dan penyelamatan wajah ditunjukkan oleh kedua kandidiat. Konteks topik debat yang diangkat dipahami untuk dapat menganalisis tindak pengancaman dan penyelamatan wajah oleh Anies dan Basuki.  Melalui metode kualitatif, studi ini menemukan bahwa 1) Bald on-record adalah strategi yang sering digunakan untuk menunjukkan tindak pengancaman muka dan ditujukan untuk menyatakan kontradiksi, menyatakan ketidaksetujuan, menyinggung, menginterupsi, berbicara di luar topik pembicaraan, menantang kandidat lain, dan memberikan pernyataan yang berlebihan. 2) Tindak penyelamatan muka dilakukan dengan strategi kesantunan positif dan negatif seperti menyatakan kontradiksi, menegaskan common ground, memberikan persetujuan, membuat lelucon, meminta maaf, dan menghindari ketidaksetujuan. 3) Tindak pengancaman muka dan penyelamatan muka dapat dianggap sebagai cara untuk mempertahankan argumentasi kedua kandidat dan untuk melindungi wajah positif masing-masing.4) Penggunaan kata “kita” dan kalimat pasif dimaksudkan untuk meminmalisiri ancaman sekaligus sebagai sinya solidaritas.5) Anies ditunjukkan sebagai kandidat yang lebih sering menggunakan tindak pengancaman muka, sedangkan Basuki adalah kandidat yang lebih sering menunjukkan penyelamatan muka selama debat berlangsung. Studi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman di bidang pragmatik khususnya tentang penggunaan strategi kesantunan

KAJIAN STRUKTURAL DAN SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL SEPUTIH HATI YANG TERCABIK

Syarifuddin, Syarifuddin ( Universitas PGRI Palembang )

Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): KATA
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The study aimed to (1) analyze and describe the novel structure, and (2) analyze and explain the sociological aspects in which the main character of the novel. The method of the study was qualitative by using sosiology of literature approach. Literary technique was done by using descriptive analysis. The data was obtained from documents and informants. Data collection technique were conducted through three procedures: (1) reading, (2) finding aspects of literary structure, and (3) finding aspects of sociology of literature. There were three basics to analyze the data. They were data reduction, data presentation, and data withdrawal. Based on the three basics, it can be seen about the life of main character in the novel Seputih Hati yang Tercabik written by Ratu Wardarita, Ida Kusama. The main character was described as a woman who was tough on her household problems that is her failure in marry. Based on data analysis, it is known that the novel talks about the life struggle of the main character accompanying with culture aspect in every place visited by the main character.  Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu : (1) menganalisis dan mendeskripsikan struktur novel, dan (2) menganalisis dan memaparkan aspek sosiologi yang dialami tokoh utama dalam novel. Metode yang digunakan adalah secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Teknik kepustakaan dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Data diperoleh dari dokumen dan informan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga prosedur: (1) membaca, (2) mencari aspek struktur sastra, dan (3) mencari aspek sosiologi sastra. Terdapat tiga dasar untuk menganalisis data yang diperoleh yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan data. Dari ketiga dasar tersebut dapat dihasilkan mengenai keadaan hidup tokoh utama dalam novel Seputih Hati yang Tercabik Karya Ratu Wardarita bernama Ida Kusama. Tokoh utama digambarkan menjadi seorang wanita yang tegar terhadap permasalahan rumah tangganya yaitu berupa kegagalan berumah tangga. Dari analisis data yang dilakukan, diketahui bahwa novel tersebut mengenai perjuangan hidup tokoh utama dengan diiringi aspek budaya yang kental di setiap daerah yang didatangi tokoh utama.