cover
Filter by Year
Jurnal KATA
Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra merupakan jurnal ilmiah yang menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pemikiran dalam bidang Bahasa dan Sastra. KATA menerima ditulis dalam dua bahasa, yaitu: Bahasa Indonesia dan Inggris. KATA terbit dua kali dalam setahun pada bulan Mei dan Oktober. Jurnal ini diterbitkan oleh Kopertis Wilayah X bekerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki bidang Bahasa dan Sastra. Setiap naskah yang dikirim akan melalui proses review oleh mitra bebestari. Berdasarkan penilaian mitra bebestari, penyunting pelaksana akan menentukan apakah naskah akan dimuat atau tidak.
Articles
36
Articles
PRESUPPOSITION STRATEGIES IN DATA INTERPRETATION: CORPUS DATA ANALYSIS

Suhaimi, Mohamad Suhaizi ( Universiti Putra Malaysia ) , Yusof, Maslida ( Universiti Kebangsaan Malaysia )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aims to describe the proses of data interpretation using presupposition strategy. Generally, presupposition refers to what the speaker assumes to be the case before making an utterance (Yule, 1996: 42). This study applies the types of presupposition proposed by Levinson (1983). Levinson had underlined nine presupposition types, which are Existential Presupposition, Factive Presupposition, Lexical Presupposition, Nonfactive Presupposition, Structural Presupposition, Counter Factual Presupposition, Iterative Presupposition, Implicative Presupposition and Temporal Presupposition. In order to emphasize the presupposition types in Malay, this research used a data corpus developed by Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). The results indicated that the nine presupposition types proposed by Levinson (1983) are being used in Malay sentences and speeches. Eventually, this research emphasized that the presuppositions used in communication are able to give a certain understanding to the reader or receiver especially when they get to comprehend the strategies underlined.  

PROSES PENCIPTAAN TARI PUJIAN RUMPUT HIJAU: STUDI KASUS TIM INLA INTERNASIONAL BI CAO

Neolaka, Melki Jemri Edsion ( Universal University Batam )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Dance is like a living organism that is maintained by a pattern of continuous change. The changing from the beginning and ending of its sequencescreate an internal rhythm, structure, space design, and power-breaking as its characteristic in every creations. That creations emerge as a manifestation of the expression of the soul through motion events. The choreography of creative dance comes from imagination and intuition produced to provide aesthetic stimulus that will always be in the audiences memories.This research is qualitative research with Action Research method.Action research is an initial step in the form of a research design that describes, interprets and explains a social situation at the same time by making changes or interventions for the purpose of improvement or participation.This research contributesto practical problem solving for an urgent problematic situation in the development of dance creation methods of INLA International Bicao Team.The five phases of the creative process offered by researchers are the Alma Hawkins Creation Method which consists of; Sensing, Feeling, Imaging, Transforming, and Forming. These five phases are expected to be able to answer the problem of dance creation process in Creativity activities of INLA International Bi Cao Team which is related to the construction of the work of production and the technique of contemporary nuances.Tari seperti organisme hidup yang dipertahankan oleh suatu pola perubahan yang berkeseinambungan. Rentetan awal dan akhir dari perubahan ini menciptakan ritme internal, struktur, desain ruang, dan curahan tenaga yang khas pada setiap karya yang muncul sebagai perwujudan ekspresi jiwa melalui peristiwa-peristiwa gerak.Koreografi tari yang kreatif hadir dari imajinasi dan intuisi yang diproduksi untuk memberikan stimulus estetika yang akan selalu berada dimemori sang penikmat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitan kualitatif dengan metode Action Research. Penelitian tindakan sebagai langkah awal berbentuk rancangan penelitian yang mendeskripsikan, menginterpretasi dan menjelaskan suatu situasi sosial pada waktu yang bersamaan dengan melakukan perubahan atau intervensi dengan tujuan perbaikan atau partisipasi. Dalam hal ini, memberikan andil pada pemecahan masalah praktis dalam situasi problematik yang mendesak dalam pengembangkan metode penciptaan tari di tubuh tari Tim INLA Internasional Bicao. Lima fase dari proses kreatif yang ditawarkan oleh peneliti adalahMetode Penciptaan Alma Hawkins yang terdiri dari ; Sensing, Feeling, Imaging, Transforming, dan Forming yang diharapkan mampu menjawab permasalahan proses penciptaan tari di dalam kegiatan kreativitasTim INLA Internasional Bi Caoyang berkaitan dengan konstruksi produksi karya dan teknik kepenarian dalam nuansa-kontemporer.

PERUBAHAN KATA “TIADA” DALAM TIGA KARYA SASTRA: BUSTAN AS-SALATIN (1640), HIKAYAT SIAK (1855), DAN KETIKA CINTA BERTASBIH 2 (2009)

Suswandi, Irwan ( Universitas Indonesia )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

In the reality, language will always change. One of examples is the change of language that used in Malay literature manuscripts. In this research, researcher analyzed the language change of “tiada” word that occured in three different periods of manuscript. The approaches used in this research were semantic, morphologic, and syntactic approach. In analyzing those approaches, researcher used semantic restrictions from Verhaar (1992), morphologic restriction from Chaer (1994), and syntactic restriction from Kridalaksana (1999). The researcher used descriptive analysis method. The data used in this research were three literary manuscripts with a span of two centuries, Bustan as-Salatin (1640), Hikayat Siak (1855), and Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009).  The analysis of this research resulted information that containing “tiada” which covered all of the language aspects; semantic, morphologic, and syntactic. From the analysis, the researcher got the conclusions that “tiada” in the manuscript at the beginning period had more varied form than the manuscript in the two periods thereafter. Then, in the final period, there were changes of “tiada” that undergoes semantic and morphologic changes from the text of the two previous periods.Dalam kenyataannya, bahasa akan selalu berubah. Salah satu contohnya adalah perubahan bahasa yang digunakan dalam naskah sastra Melayu. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis perubahan bahasa kata "tiada" yang terjadi dalam tiga periode naskah yang berbeda. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semantik, morfologi, dan sintaksis. Dalam menganalisis pendekatan tersebut, peneliti menggunakan batasan semantik dari Verhaar (1992), pembatasan morfologis dari Chaer (1994), dan pembatasan sintaksis dari Kridalaksana (1999). Peneliti menggunakan metode analisis deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tiga naskah sastra dengan rentang waktu dua abad, Bustan as-Salatin (1640), Hikayat Siak (1855), dan Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009). Analisis penelitian ini menghasilkan informasi yang mengandung "tiada" yang mencakup semua aspek bahasa; semantik, morfologis, dan sintaksis. Dari hasil analisis, peneliti mendapatkan kesimpulan bahwa "tiada" dalam naskah pada periode awal memiliki bentuk yang lebih bervariasi daripada manuskrip dalam dua periode sesudahnya. Kemudian, pada periode akhir, terjadi perubahan "tiada" yang mengalami perubahan semantik dan morfologis dari teks dua periode sebelumnya.

Rekonstruksionisme: Metode Komunikatif Dalam Pemerolehan Dan Pembelajaran Bahasa Untuk Mengembangkan Kemampuan Berbahasa

Cahyani, Isah ( Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FPBS Universitas Pendidikan Indonesia ) , Hadianto, Daris ( Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FPBS Universitas Pendidikan Indonesia )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena berbahasa Indonesia pada peserta didik, bagaimana pandangan rekonstruksionisme dan peran metode komunikatif dalam mengembangkan kemampuan berbahasa pada peserta didik. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dilakukan dengan teknik. Adapun hasil dari penelitian ini, yaitu peserta didik masih kesulitan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada situasi formal. Hal ini tidak terlepas dari pemerolehan dan pembelajaran bahasa yang diperoleh peserta didik sebelumnya. Dengan berpijak pada teori rekonstruksionisme dan metode komunikatif, peserta didik dapat memperoleh dan menggunakan suatu bahasa dengan baik jika bahasa itu sering digunakan atau bersifat komunikatif. Hal ini mengimplikasikasikan bahwa seseorang dapat membangun kemampuan berbahasa dari pengalaman-pengalaman yang diperolehnya, artinya peserta didik harus sering mengalami atau menggunakan bahasa tersebut. Adapun peran dari metode komunikatif itu sendiri, yaitu meningkatkan atau mengembangkan kemampuan berbahasa peserta didik. Peran sekolah dan guru adalah mendorong anak untuk menggunakan bahasa-bahasa tersebut dengan mencipatakan situasi-situasi tertentu (situasi komunikatif) agar kemampuan berbahasa peserta didik berkembang dengan baik, baik itu berbahasa Indonesia maupun berbahasa Asing.This study aims to find out the phenomenon of Indonesian language in learners, how the views of reconstructionism and the role of communicative methods in developing language skills in learners. The research method that I use is qualitative research method. Descriptive qualitative research method is done by technique. The results of this study, namely learners are still difficult to use the Indonesian language is good and true in the formal situation. This can not be separated from the acquisition and learning of language obtained by previous learners. Based on the theory of reconstructionism and communicative methods, learners can acquire and use a language well if the language is often used or communicative. This implies that a person can build the language skills of the experiences he / she obtains, meaning that learners should often experience or use the language. The role of the communicative method itself, which is to improve or develop the language skills of learners. The role of schools and teachers is to encourage children to use these languages by creating specific situations (communicative situations) so that the language skills of learners develop well, be it Indonesian-speaking or foreign languages. 

NILAI LUHUR DALAM LAGU-LAGU DAYAK: KAJIAN IMPLIKATUR

Yuni, Brigita ( Universitas Sanata Dharma Yogyakarta )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aims to describe the form and meaning of the noble value in the tribal pop tribe Dayak. Sources of data in this study poetry song pop area Dayak tribe. The data in the study is the lyrics of regional pop songs that allegedly contain noble value implicatures. Techniques of collecting data using references, notes, and interviews. Methods of data analysis using the method padan with basic techniques select the determinants and advanced techniques of appeal. Based on the results of research, the forms and meanings of the noble values are classified into (1) self-related values including (a) responsibility, (b) courage, (c) thinking ahead, and (d) hard work. (2) The values associated with each other include values (a) respect, (b) caring, (c) love of the homeland, and (d) courtesy. (3) The values associated with nature include the value of (a) appreciating natural health, and (b) preserving culture. (4) God-related values include (a) being grateful.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud dan maksud nilai luhur dalam lagu pop daerah suku Dayak. Sumber data dalam penelitian ini syair lagu pop daerah Suku Dayak. Data dalam penelitian adalah lirik lagu pop daerah yang diduga mengandung implikatur nilai luhur. Teknik pengumpulan data menggunakan simak, catat, dan wawancara. Metode analisis data menggunakan metode padan dengan teknik dasar pilih unsur penentu dan teknik lanjutan hubung banding. Berdasarkan hasil penelitian wujud dan maksud nilai luhur diklasifikasikan menjadi (1) nilai yang berhubungan dengan diri sendiri meliputi (a) tanggung jawab, (b) keberanian, (c) berpikir jauh ke depan, dan (d) kerja keras. (2) Nilai yang berhubungan dengan sesama meliputi nilai (a) hormat, (b) peduli, (c) cinta tanah air, dan (d) sopan santun. (3) Nilai yang berhubungan dengan alam meliputi nilai (a) menghargai kesehatan alam, dan (b) melestarikan budaya. (4) Nilai yang berhubungan Tuhan meliputi nilai (a) bersyukur.

KARAKTER TOKOH UTAMA NOVEL SENDALU KARYA CHAVCHAY SYAIFULLAH

Nofrita, Misra ( STKIP Rokania )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aimed to describe: (1) The character of the main character in the novel Sendalu Syafullah Chavchay work; (2) the impact of the example of the character of the main character in the novel Sendalu Syafullah Chavchay work; (3) the effect of exemplary character formation of the main characters in the novel Sendalu Syafullah Chavchay work. The data source of this research is the novel Sendalu Syafullah Chavchay works published by Kompas in Jakarta in 2006. There is no way of collecting data: (1) understand the content of the novel Sendalu; (2) mark each part novel that supports the characters; (3) the recording of data on the character by looking at the problem in a recording format; (4) pengiventarisasian inventory data in accordance with the format. Analyzing descriptively. The final conclusion (1) The main characters are bad characters such as: hipersex, violent, sadistic, cruel and rapists; (2) the impact of the example that given to the main character was the example that is not good, so the characters Lumang be bad; (3) the influence of role models on the formation of visible characters from bad influences, it was due to the influence of exemplary family environment often shows copulation in front of his own son, so there is a desire to imitate what their parents act. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Karakter tokoh utama dalam novel Sendalu karya Chavchay Syafullah; (2) dampak keteladanan terhadap karakter tokoh utama dalam Novel Sendalu karya Chavchay Syafullah; (3) pengaruh keteladanan dalam pembentukan karakter tokoh utama dalam novel Sendalu karya Chavchay Syafullah. Sumber data penelitian ini adalah novel Sendalu karya Chavchay Syafullah yang diterbitkan oleh Kompas di Jakarta tahun 2006. Ada pun cara pengumpulan data yaitu: (1) memahami isi novel Sendalu; (2) menandai setiap bagian novel yang mendukung karakter tokoh; (3) pencatatan data tentang karakter tokoh dengan melihat permasalahan dalam sebuah format pencatatan; (4) pengiventarisasian data sesuai dengan format inventarisasi. Penganalisisan dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian disimpulkan (1) karakter tokoh utama adalah karakter buruk seperti: hipersex, beringas, sadis, kejam dan pemerkosa; (2) dampak keteladanan yang yang diberikan kepada tokoh utama adalah keteladanan yang tidak baik, sehingga karakter Lumang menjadi buruk; (3) pengaruh keteladanan terhadap pembentukan karakter terlihat dari pengaruh yang tidak baik, hal itu disebabkan pengaruh dari keteladanan lingkungan keluarga yang sering memperlihatkan persetubuhan di depan anaknya sendiri, sehingga ada keinginan untuk mencontoh perbuatan yang dilakukan orangtuanya.

Menelusuri Bentang Alam Dalam Karya Sastra Yang Bertema Lingkungan Alam

Lestari, Nanny Sri ( Dosen Tetap Fakultas Ilmupengetahuan Budaya Universitas Indonesia )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sebuah peristiwa, dalam kehidupan manusia, dapat menjadi inspirasi bagi penulisan sebuah cerita. Pengarang, sebagai bagian dari masyarakatnya, mengangkat relung-relung kehidupan manusia, ke dalam sebuah cerita. Namun harus dipahami, bahwa pengalaman pengarang dalam kehidupannya sehari-hari, juga mempengaruhi subjek yang ditulisnya. Saat ini tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa teknologi komunikasi yang sangat canggih, telah mempengaruhi perkembangan karya sastra. Media penulisan karya sastra, tidak lagi melalui media cetak seperti kertas tetapi sudah melalui peralatan modern yang sesuai jamannya. Namun demikian ragam karya sastra prosa, seperti cerita pendek, justru mampu mengisi ruang media kommunikasi tersebut. Dua orang pengarang, yang menulis cerita pendek di media masa, berusaha mengangkat isu tentang lingkungan. Isu yang diangkat, lebih menekankan kepada masalah lingkungan alam dengan mengangkat isu tentang pohon sebagai bagian dari kehidupan manusia. Tujuan penelitian ini, untuk menelusuri struktur cerita pendek yang mengangkat isu lingkungan dalam jalinan ceritanya. Untuk memenuhi tujuan penelitian, langkah awal dari penelitian ini, adalah melakukan pendekatan struktur cerita, yang kemudian dikaitkan dengan pencarian makna cerita tersebut. Sering sekali di balik sebuah cerita ada pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat pembacanya. Bentuk pesan tersebut tersirat, dalam jalinan struktur cerita pendek tersebut. Pesan yang disampaikan, dalam kedua cerita pendek tersebut,  adalah pesan tentang lingkungan alam, yang  saat ini tidak pernah diperhatikan oleh masyarakat. Dengan alasan, kebutuhan ekonomi yang sangat dominan.An event, in human life, can be an inspiration for writing a story. The author, as a part of his society, lifts the niches of human life, into a story. But it must be understood, that the authors experience in everyday life, also affects the subject he wrote. Today it is undeniable, that highly sophisticated communication technology, has influenced the development of literary works. Media writing literature, no longer through print media such as paper but have been through modern equipment that fit his era. However, the variety of prose literary works, such as short stories, is able to fill the media space communications. Two authors, who write short stories in the mass media, try to raise issues about the environment. Issues raised, more emphasis on the issue of the natural environment by raising the issue, about the tree as part of human life. The purpose of this research, is to trace the structure of short stories, which raised environmental issues in the composition of the story. To fulfill the purpose of research, the first step of this research, is to approach the structure of the story, which is then linked with the search for the meaning of the story. Very often, behind a story, there is a message to be conveyed to the readers. The form of the message is implied, in the composition of the short story structure. The message conveyed, in both short stories, is a message about the natural environment, which today is never noticed by society. The message conveyed, in both short stories, is a message about the natural environment, which today is never noticed by society.

ANALISA PENTINGNYA PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA DALAM KELANCARAN BERKOMUNIKASI BAHASA INGGRIS PADA MAHASISWA JURUSAN BAHASA INGGRIS

Yuhendra, Yuhendra, ( STBA HAS Bukittinggi )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

           Penelitian ini membahas tentang pentingnya pemahaman lintas budaya terhadap kelancaran berkomunikasi dalam Bahasa Inggris pada mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana pemahaman budaya barat berperan terhadap kelancaran berkomunikasi dalam bahasa Inggris pada mahasiswa. Teori yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik khususnya Cross Cultural Pragmatics oleh Yule, yang melihat pentingnya pemahaman lintas budaya dalam berkomunikasi. Selanjutnya teori  lintas budaya oleh Hall tentang high vs low context juga digunakan pada penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan responden pada penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Bahasa Inggris yang barasal dari dua Sekolah Tinggi yaitu STBA Prayoga Padang dan STBA Haji Agus Salim Bukittinggi. Total jumlah sampel sebanyak 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki pemahaman yang bagus terhadap budaya Barat memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang bagus dan lancar. Dari total sampel, ada sebanyak 8 orang yang memiliki pemahaman yang bagus dan lancar dalam berkomunikasi. Sebanyak 6 dikategorikan memiliki pemahaman yang kurang bagus atau sedang terhadap budaya barat, sehingga komunikasi dalam bahasa Inggris juga kurang lancar. Selanjutnya, 6 orang hampir tidak memahami budaya barat dan berkomunikasi sangat tidak bagus atau buruk.

Perbandingan Kalimat Yang Mengandung Unsur Metafora Dalam Bahasa Jepang Dan Mandarin Pada Novel Totto-Chan Karya Tetsuko Kuroyanagi

Dharma, Hendy Reginald Cuaca ( Japanese Department Binus University ) , Astami, Timur ( Japanese Department Binus University ) , Rosalin, Kelly ( Chinese Department Binus University )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penulis akan meneliti kalimat bahasa Jepang dan Mandarin yang mengandung unsur metafora/hiyu「比喩」pada novel Totto-chan. Pertama penulis akan mengambil kalimat-kalimat yang mengandung unsur metafora/hiyu pada light novel tersebut. Penulis akan mengumpulkan setidaknya 4 kalimat yang mengandung unsur metafora sebagai korpus data dari penelitian ini. Adapun keempat kalimat tersebut mengandung unsur metafora yang berbeda. Sesuai dengan jenisnya, penulis akan mengumpulkan kalimat-kalimat yang mengandung unsur chokuyu「直喩」/明喻(míngyù) dan inyu「隠喩」/暗喻(ànyù) dalam beberapa kalimat. Penulis akan menganalisis arti dari perumpamaan tersebut dengan teori -teori yang penulis dapatkan dan penulis bandingkan dengan Bahasa Mandarin. Korpus data akan diteliti dan dianalisis menggunakan kajian teori mengenai metafora dan teori makna. Metode yang penulis gunakan adalah metode kepustakaan. Selanjutnya setelah data-data terkumpul, penulis akan memulai penelitian dengan cara menganalisis data menggunakan metode deskriptif analitik. Untuk simpulan sementara adalah meskipun terdapat perbedaan cara baca, tetapi terdapat persamaan fungsi dan pola gaya bahasa metafora yang mirip satu dengan yang lainnya.In this research, I will analysis Japanese and Chinese metaphors texts (hiyu)/「比喩」using Totto-chan novel. Firstly, I will pick up some texts contain metaphors in this light novel, at least 4 sentences. Those sentences will be divided into 2 different metaphors. First is chokuyu直喩」/明喻(míngyù) and the second one is inyu「隠喩」/暗喻 (ànyù). Those Japanese and Chinese metaphors will be compared using Chinese and Japanese language metaphors theories. For that reasons, I will use literature collection method in this research. And after completed the sentences data, those sentences will be analyzed using descriptive analytic. As a conclusion, even though both of the words did not have similar pronunciation, intonation, and character, but both of the metaphor sentences have similar function and metaphor literary style.

THE DISTINCTIVE LINGUISTIC FEATURES IN BLURBS AS FOUND IN NON FICTIONS; A STYLISTIC ANALYSIS

Sari, Mezia Kemala ( West Sumatera Muhammadiyah University )

Jurnal KATA Vol 2, No 1 (2018): KATA
Publisher : Kopertis Wilayah X

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research discusses about the special language style from the comments on the book cover of non fictions based on the using of distinctive linguistic features. The style of language is analyzed from stylistics point of view and put the lexical cohesion, reference and another linguistic elements as the part of distinctive linguistic features to be the analysis focus then reflect it to the function and the effect it brings. The methods are referential and formal. Based on the analyis, it can be found that in the comments of the book cover, generally, include all of the lexical and reference elements. The most significant element that mostly occur is repetition and personal reference. While, another forms such as synonym, general word, super ordinate, collocation, demonstrative and comparative reference occur in less percentage. The purpose of using these elements is in order that the comments of the non fictions‟ book can influence the reader through the choosing features then bring the psychological effect for commercial purposes. Moreover, the effect that it caused for the reader is being influenced the readers‟ thought to be more interested to the book from its dictions or the specific distinctive linguistic features.