Ilmu Gizi Indonesia
ISSN : 2580491x     EISSN : 25987844
Ilmu Gizi Indonesia merupakan jurnal yang dikelola oleh Universitas Respati Yogyakarta. Jurnal ini menerima naskah ilmiah di bidang gizi. Jurnal ini fokus pada bidang gizi klinik, gizi masyarakat, food science, food service, dan gizi olahraga. Ilmu Gizi Indonesia terbit dua kali dalam setahun, yaitu Bulan Agustus dan Februari.
Articles
44
Articles
Status gizi, aktivitas fisik, dan asupan zat gizi makro antara siswa sekolah dasar full day dan half day

Aliyah, Dian Putri, Septriana, Septriana, Prasetyaningrum, Yunita Indah

Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.739 KB)

Abstract

Latar Belakang:  Penyelenggaraan pendidikan formal di Indonesia terdiri dari pendidikan full day dan half day. Perbedaan waktu belajar kedua sistem tersebut tentu akan memengaruhi keadaan fisik dan psikis, termasuk perubahan asupan makan, aktivitas fisik, dan status gizi anak sekolah. Tujuan: Mengetahui perbedaan status gizi, aktivitas fisik, dan asupan gizi makro antara siswa sekolah dasar full day dan half day. Metode:  Jenis penelitian adalah observasional dengan desain cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 112 orang  yang  terdiri  dari  56 siswa sekolah full day dan 56 siswa sekolah half day. Pengambilan sampel menggunakan teknik proporsionate random sampling. Data status gizi anak diukur mengunakan indikator IMT/U, aktivitas fisik diukur dengan kuesioner Physical Activity Questionnaire  (PAQ) dan asupan gizi makro diukur menggunakan kuesioner recall 24 jam sebanyak tiga kali. Analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil: Sebagian besar subjek dari sekolah full day lebih banyak yang gemuk (p=0,001; OR=3,809; 95% CI=1,64–8,84), memiliki aktivitas berat (p=0,000; OR=0,164; 95% CI=0,07–0,38), dan memiliki asupan lemak lebih (p=0,002; OR=3,71; 95% CI=1,57–8,79). Subjek dari sekolah half day lebih banyak yang memiliki asupan karbohidrat yang berlebih (p=0,000; OR=0,144; 95% CI=0,06–0,36). Tidak ada perbedaan bermakna pada asupan energi antara kedua kelompok (p=0,815; OR=0,896; 95% CI=0,358–2,24). Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna pada status gizi, aktivitas fisik, asupan lemak, dan asupan karbohidrat antara siswa sekolah sekolah full day dan half day. Namun, belum ada perbedaan bermakna pada asupan energi antara kedua kelompok.

Asupan zat gizi dan kadar glukosa darah pada vegetarian di Narayana Smrti Ashram Yogyakarta

Lestari, Wayan Sugi, Wahyuningsih, Siti, Puspaningtyas, Desty Ervira

Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.488 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kelompok vegetarian di Indonesia mulai meningkat. Diet vegetarian dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan tekanan darah serta menurunkan risiko hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, kanker prostat, dan kanker kolon. Tujuan: Mengetahui hubungan antara asupan zat gizi dengan kadar glukosa darah pada vegetarian di Narayana Smrti Ashram Yogyakarta. Metode: Desain penelitian ini adalah  cross sectional dengan subjek penelitian semua penghuni asrama yang menerapkan diet vegetarian selama minimal satu tahun di Narayana Smrti Ashram. Variabel bebas adalah asupan zat gizi dan variabel terikat adalah kadar glukosa darah sewaktu (GDS) dan glukosa darah puasa (GDP). Asupan zat gizi didapatkan dengan menggunakan metode food recall 24 jam sebanyak tiga kali. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Rerata asupan energi sebesar 1.367,95±565,98 kcal; protein 51,30±21,22 g; lemak 38,00±15,72 g; karbohidrat 205,19±84,90 g; dan serat 15,01±3,63 g. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, dan serat dengan GDP dan GDS (p>0,05). Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, dan serat dengan kadar glukosa darah pada vegetarian di Narayana Smrti Ashram.

Hubungan body image dengan pola makan dan aktivitas fisik pada mahasiswa obesitas di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta

Ritan, Agnes Felisitas G., Murdhiono, Wahyu Rochdiat, Syafitri, Endang Nurul

Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.304 KB)

Abstract

Latar Belakang: Body image seseorang dapat berubah karena beberapa hal, misalnya perubahan fisik seperti bertambahnya berat badan. Body image yang negatif akan berdampak pada pola makan dan aktivitas fisik sehingga seseorang akan melakukan berbagai cara untuk menurunkan berat badan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 20 Januari 2017 pada mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta, didapatkan hasil 12 orang mengalami obesitas. Enam orang mahasiswa mengatakan membatasi jumlah makan dan dua orang mahasiswa mengatakan melakukan aktivitas yang tinggi untuk mengurangi berat badan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara body image dengan pola makan dan aktivitas fisik pada mahasiswa obesitas.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dan bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel, yaitu purposive sampling dengan jumlah responden 45 orang. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Body Self Relation Questionaire Appearance Scale, Food Frequency Questionnaire, International Physical Activity Questionnaire. Data diolah dan dianalisis menggunakan uji statistik yaitu uji Chi Square dengan CI 95%.  Hasil: Tidak ada hubungan antara body image dengan pola makan pada mahasiswa obesitas dengan nilai p=0,137, dan tidak ada hubungan antara body image dengan aktivitas fisik pada mahasiswa obesitas dengan nilai p=0,999.  Kesimpulan: Tidak ada hubungan signifikan antara body image dengan pola makan dan aktivitas fisik.

Analisis kadar protein dan vitamin C pada cookies substitusi ikan cakalang (Katsuwonus sp.) dan goji berry (Lycium barbarum L.)

Putri, Endah Budi Permana

Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.982 KB)

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi stunting di beberapa kabupaten di Jawa Timur tergolong tinggi. Salah satu upaya untuk mengurangi prevalensi stunting dapat dilakukan dengan memberikan intervensi asupan makanan yang mengandung berbagai macam zat gizi makro dan mikro. Ikan cakalang yang harganya terjangkau memiliki kadar protein yang tinggi sedangkan goji berry merupakan super food dengan kadar vitamin C cukup tinggi. Diharapkan dengan adanya cookies ikan cakalang dan goji berry dapat menjadi alternatif MPASI bagi bayi stunting di bawah dua tahun. Tujuan: Mengetahui perbedaan kadar protein dan vitamin C pada berbagai variasi cookies substitusi ikan cakalang dan goji berry. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional. Cookies dibuat dalam empat variasi  perbandingan ikan cakalang dengan goji berry masing-masing: 0%:0% (kontrol); 20%:10% (cookies A); 20%:20% (cookies B); dan 10%:20% (cookies C). Penelitian dilakukan pada bulan Februari−Maret 2018 di Laboratorium Gizi, Universitas Nahdlatul Ulama, Surabaya. Analisis statistik yang digunakan yaitu uji One Way Annova. Hasil: Ada perbedaan signifikan (p<0,05) pada kadar protein cookies substitusi ikan cakalang dan goji berry. Cookies B memiliki kadar protein tertinggi, dilanjutkan cookies A, cookies C, dan kontrol. Sama halnya dengan kadar protein, kadar vitamin C juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p<0,05) yaitu cookies B memiliki kadar vitamin C tertinggi, selanjutnya adalah cookies C, cookies A, dan kontrol. Kesimpulan: Ada perbedaan kadar protein dan vitamin C pada setiap variasi cookies. Kadar protein dan vitamin C paling tinggi terdapat pada cookies B. Semakin banyak penambahan ikan cakalang dan goji berry maka semakin tinggi kadar protein dan vitamin C di dalam cookies.

Asupan energi, konsumsi suplemen, dan tingkat kebugaran pada atlet sepak bola semi-profesional

Desiplia, Riski, Indra, Eka Novita, Puspaningtyas, Desty Ervira

Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.615 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kebutuhan energi yang berasal dari karbohidrat, protein, dan lemak berperan untuk meningkatkan kesehatan dan stamina dalam permainan sepak bola. Aktivitas latihan pada sepak bola menyebabkan kebutuhan energi atlet mengalami peningkatan. Selain energi, atlet membutuhkan tambahan vitamin dan mineral, baik dari makanan atau dari konsumsi suplemen. Atlet sepak bola profesional memiliki pola latihan yang berbeda dengan atlet sepak bola semi-profesional yang turut berperan dalam perbedaan kebutuhan energi dan konsumsi suplemen.Tujuan: Mengetahui hubungan asupan energi dan konsumsi suplemen dengan tingkat kebugaran atlet sepak bola semi-profesional. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di Klub Guntur FC dan HW UMY pada bulan Maret hingga April 2017. Subjek penelitian ini berjumlah 33 atlet sepak bola. Data asupan energi dan konsumsi suplemen dikumpulkan dengan formulir food recall 24 jam dan kuesioner penggunaan suplemen. Tingkat kebugaran diukur dengan multistage fitness test. Perbedaan proporsi dan rata-rata tingkat kebugaran berdasarkan asupan energi dan konsumsi suplemen dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Independent Sample T-test. Hasil: Lebih dari 50% subjek mengonsumsi suplemen jenis vitamin C, suplemen dalam bentuk cair dengan tingkat konsumsi setiap hari. Tidak terdapat perbedaan proporsi subjek dengan tingkat kebugaran, baik pada kelompok asupan baik dan kurang baik (p=0,331). Terdapat perbedaan proporsi subjek dengan tingkat kebugaran baik pada kelompok frekuensi konsumsi suplemen sering dan selalu (p=0,013). Terdapat perbedaan rata-rata tingkat kebugaran antara kelompok frekuensi konsumsi suplemen sering dan selalu (p<0,001). Kesimpulan: Tidak ada hubungan asupan energi dengan tingkat kebugaran atlet sepak bola. Ada hubungan frekuensi konsumsi suplemen dengan tingkat kebugaran atlet sepak bola.

Kadar serat pangan, proksimat, dan energi pada mie kering substitusi tepung ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L. Poir)

Yolanda, Revy Septa, Dewi, Devillya Puspita, Wijanarka, Agus

Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.957 KB)

Abstract

Latar Belakang: Ubi jalar ungu merupakan salah satu jenis pangan yang pemanfaatannya masih kurang dan merupakan bahan pangan bergizi tinggi dengan kadar serat tinggi. Penggunaan tepung ubi jalar ungu sebagai campuran tepung terigu dalam pembuatan mie kering diharapkan dapat menciptakan produk baru yang dapat diterima oleh masyarakat luas dan menambah nilai gizi. Mie ubi jalar ungu merupakan pangan olahan dalam bentuk mie yang yang disubstitusi dengan tepung ubi jalar ungu. Mie ubi jalar ungu mempunyai nilai gizi tinggi dan berpotensi sebagai pangan fungsional. Tujuan: Mengetahui pengaruh variasi pencampuran tepung ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L. Poir) pada mie kering ditinjau dari serat pangan, kadar proksimat dan energi. Metode: Jenis penelitian ini adalah experimental dengan empat variasi pencampuran tepung ubi jalar ungu yaitu 0% (A), 20% (B), 30% (C), dan 40% (D). Data kadar serat pangan, proksimat, dan energi dianalisis menggunakan uji One Way Annova dan dilanjutkan dengan uji LSD sebagai Post Hoc Test. Hasil: Kadar serat tertinggi yaitu pada mie D (14,37 % b/b), protein pada mie A (12,17% b/b), lemak pada mie A(3,67% b/b), karbohidrat pada mie D (81,99% b/b), abu  pada mie B (1,82% b/b), air pada mie A (10,34% b/b), dan energi pada mie B (409,34 kcal). Kesimpulan: Ada pengaruh variasi pencampuran tepung ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L Poir) pada mie kering terhadap kadar serat, kadar proksimat dan energi.

Pengaruh pemberian jus jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap kadar malondialdehid pada atlet sepak bola

Juliana, Juliana, Afriani, Yuni, Inayah, Inayah

Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.433 KB)

Abstract

Latar Belakang: Performa atlet merupakan salah satu penentu dalam pencapaian prestasi yang dapat dilihat dari tingkat kebugaran jasmani. Latihan fisik secara teratur memberikan banyak manfaat, tetapi latihan fisik berat dapat memberikan pengaruh  negatif  pada  peningkatan  radikal bebas sehingga menyebabkan  terjadinya stres oksidatif yang berdampak pada performa atlet. Jamur tiram putih (Pluerotus ostreatus) adalah salah satu bahan makanan yang mengandung berbagai macam zat gizi dan antioksidan yang dapat memperbaiki stres oksidatif dan mendukung performa atlet sepak bola. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian jus jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap kadar malondialdehid (MDA) pada atlet sepak bola. Metode: Penelitian ini adalah penelitian quasi experimental dengan rancangan pre-posttest without control group. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2017–April 2018 di Lapangan Tamantirta, Klub Guntur FC, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Subjek penelitian adalah delapan atlet sepak bola dari Klub Guntur FC yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Subjek dipilih melalui purposive sampling. Pemberian 300 ml jus jamur tiram putih dilakukan selama 14 hari, atlet diukur kadar MDA sebelum dan sesudah intervensi. Pengukuran kadar MDA dilakukan dengan metode asam thiobarbiturat (TBA). Analisis data menggunakan software statistik dengan Paired T-test. Hasil: Hasil pengukuran kadar MDA pada atlet sepak bola sebelum pemberian jus jamur tiram putih dan setelah pemberian jus jamur tiram putih adalah 5,981±3,150 μmol/l dan 4,019±2,179 μmol/l. Tidak ada perbedaan signifikan pada kadar MDA atlet sepak bola antara sebelum dan sesudah pemberian jus jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) (p>0,05). Kesimpulan: Konsumsi jus jamur tiram putih tidak berpengaruh terhadap kadar MDA atlet sepak bola.

Penentuan indeks glikemiks dan beban glikemik pada cookies tepung beras merah (Oryza nivara) dan biji kecipir (Psophocarpus tetragonolobus. L)

Susanti, Asri, Wijanarka, Agus, Nareswara, Angelina Swaninda

Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.788 KB)

Abstract

Latar Belakang: Bagi penderita diabetes mellitus (DM), dengan mengetahui indeks glikemik (IG) pangan akan mempermudah penderita DM memilih jenis makanan. Faktor yang mempengaruhi IG antara lain kadar serat makanan. Bahan makanan yang mengandung serat antara lain beras merah dan biji kecipir. Tepung beras merah dan tepung biji kecipir dapat dijadikan pengganti terigu dalam pembuatan cookies. Tujuan: Menentukan nilai indeks glikemik dan nilai beban glikemik (BG) cookies tepung beras merah dan biji kecipir. Metode: Jenis penelitian yaitu quasi experimental dengan pembahasan deskriptif yaitu melihat indeks glikemik dan beban glikemik pada cookies. Cookies yang dibuat adalah cookies terigu (kontrol), cookies subsitusi tepung beras merah dan tepung biji kecipir dengan perbandingan 65%:35%. Pengambilan sampel darah dilakukan kepada 10 responden. Hasil: Cookies yang digunakan sebagai cookies uji adalah cookies perbandingan 65%:35%. Perubahan glukosa darah pada glukosa murni lebih tinggi dibanding dengan kedua cookies. Tetapi perubahan glukosa darah cookies kontrol lebih tinggi dibandingkan cookies uji. Cookies kontrol memiliki indeks glikemik 36,82 (IG rendah), sedangkan cookies uji memiliki nilai indeks glikemik lebih rendah yaitu 17,39. Nilai beban glikemik cookies kontrol dan uji dengan jumlah porsi 40 g adalah 8,6 dan 3,5. Keduanya termasuk beban glikemik rendah. Kesimpulan: Kenaikan glukosa darah pada glukosa murni lebih tinggi dibandingkan cookies kontrol dan cookies uji. Cookies dengan perbandingan pencampuran tepung beras merah dan tepung biji kecipir sebanyak 65%:35% memiliki indeks glikemik dan beban glikemik yang rendah.

Asupan protein dan somatotype pada atlet pencak silat di Pembinaan Atlet Berbakat Yogyakarta

Agustin, Yeni, Indra, Eka Novita, Afriani, Yuni

Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Februari
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.648 KB)

Abstract

Latar belakang: Pencak silat sebagai aktivitas jasmani merupakan salah satu cabang olahraga yang populer dan berkembang pesat di Indonesia. Kombinasi latihan yang intensif dan asupan gizi yang tepat dapat membentuk morfologi tubuh atlet menjadi lebih baik. Atlet dengan struktur antropometri atau somatotype dan komposisi tubuh yang sesuai dengan cabang olahraganya cenderung menunjukkan perfoma olahraga yang lebih baik. Pengaturan diet yang tepat dapat meningkatkan performa atlet. Asupan protein yang cukup dapat menunjang performa atlet. Tujuan: Mengetahui gambaran asupan protein dan somatotype pada atlet pencak silat di Pembinaan Atlet Berbakat (PAB) Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian cross-sectional. Subjek pada penelitian ini adalah seluruh atlet pencak silat yang terdaftar dan aktif di PAB Yogyakarta yang berjumlah 40 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah timbangan, microtoice, skinfold caliper, spreading caliper, pita LILA, form recall 3x24 jam, dan informed consent. Data dianalisis menggunakan software statistik secara deskriptif. Hasil: Rata-rata asupan protein pada atlet pencak silat di PAB Yogyakarta adalah 92,89±30,30. Sebanyak 16 orang (40%) kategori kurang, 16 orang (40%) kategori baik dan sebanyak 8 orang (20 %) kategori lebih. Berdasarkan hasil pengukuran somatotype, sebanyak 2 orang (5%) kategori central, 14 orang (35%) kategori balance-ectomorph, 7 orang (17.5%) kategori endomorphic ectomorph, 15 orang (37.5%) kategori ectomorphic endomorph dan 2 orang (5%) kategori mesomorph. Kesimpulan: Sebagian besar atlet pencak silat di PAB Yogyakarta memiliki asupan protein yang belum sesuai dengan kebutuhan. Somatotype atlet sebagian besar memiliki kategori ectomorphic endomorph. Kata kunci: asupan protein; somatotype; atlet; pencak silat

Hubungan rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan lansia perempuan di Kecamatan Sewon

Astriana, Kuntari, Wiboworini, Budiyanti, Kusnandar, Kusnandar

Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Februari
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.975 KB)

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Menjadi tua merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dihindari. Selain masalah penyakit degeneratif seperti osteoporosis, malnutrisi juga merupakan masalah kesehatan lansia saat ini yaitu masalah gizi kurang dan gizi lebih. Penilaian status gizi lansia dapat diukur dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) yaitu perbandingan berat badan dan kuadrat tinggi badan. Tinggi badan (TB) merupakan indikator status gizi sehingga pengukuran tinggi badan seseorang secara akurat sangatlah penting untuk menentukan nilai IMT. Akan tetapi untuk memperoleh pengukuran TB yang tepat pada lansia cukup sulit karena masalah postur tubuh, kerusakan spinal, maupun masalah dalam pergerakan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan rentang lengan, tinggi lutut dan panjang ulna dengan tinggi badan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan bersifat observasional analitik. Responden penelitian ini adalah lansia >60 tahun sebanyak 119 lansia. Hasil: Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan korelasi pearson terdapat hubungan yang bermakna antara rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan. Tingkat keeratan hubungan untuk rentang lengan sebesar 0,779, tinggi lutut sebesar 0,639,dan panjang ulna sebesar 0,488. Rentang lengan, tinggi lutut, dan panjang ulna dapat digunakan untuk memprediksi tinggi badan lansia. Kesimpulan: terdapat hubungan yang bermakna antara rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan Kata kunci: rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna, lansia