cover
Contact Name
Reginaldo Christophori Lake
Contact Email
tarsitekturunwira@gmail.com
Phone
+62
Journal Mail Official
tarsitekturunwira@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira Kampus Teknik, Jl. San Juan, Penfui Timur, Kabupaten Kupang - NTT
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur
ISSN : 25410598     EISSN : 25411217     DOI : -
Core Subject : Engineering,
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur is a medium of scholarly publication published by Architecture Study Program of Universitas Katolik Widya Mandira in collaboration with Indonesian Architect Association. It serves several goals i.e. being a medium of communication, dissemination and exchange of information, and a medium of publishing scholarly research in the field of Architecture.
Articles 85 Documents
Rumah susun modular dengan pemanfaatan papan prafabrikasi cross laminated timber panel (CLT), kasus studi: rumah susun Siwalankerto, Surabaya Sanjaya, Wisnu A. ; Tobing, Rumiati Rosaline
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.70

Abstract

Surabaya adalah kota dengan populasi terpadat kedua di Indonesia. Jumlah populasi yang terus meningkat bersamaan dengan kurangnya jumlah perumahan menengah kebawah menciptakan masalah. Melihat dari pelannya pengadaan bangunan rumah susun di kota diperlukan cara konstruksi yang lebih cepat dan effisien. Dengan menggunakan sistem konstruksi modular, tulisan ini berusahan menganalisa dampak dari pemanfaatan bahan prafabrikasi papan kayu tempel silang CLT (Cross Laminated Timber). CLT menunjukan potensi dalam sustainabilitas bahan dan terhadap lingkungan hidup walau tetap menjaga tingkat kecepatan dan biaya pengerjaan. Rumah susun Siwalankerto dipilih dengan melihat sistem organisasi ruang yang terlihat modular dengan model façade yang dapat disimulasikan dengan bahan bersifat modular prafabrikasi. Lokasi dari tapak yang terletak di Surabaya sangat dekat dengan lokasi pabrik pengerjaan bahan prafabrikasi yang terletak di Gresik. Tulisan ini membatasi penelitian pada effisiensi dan effektifitas konstruksi yang disimulasikan dalam memanfaatkan material prafabrikasi panel CLT terhadap organisasi ruang dalam bangunan. © 2019 Wisnu A. Sanjaya, Rumiati Rosaline Tobing
Tradisi pada rumah adat suku Ngalum Ok di era modernisasi Prasetyo, V. F. Agung Langgeng
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.69

Abstract

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah negara yang terdiri dari beraneka ragam suku, bangsa, budaya, ras dan agama. Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah Suku Ngalum Ok. Suku Ngalum Ok berada di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Suku Ngalum Ok merupakan salah satu suku besar di Papua, yang berdomisili di lembah Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang. Sebagai salah satu suku tradisional yang ada di Papua, Suku Ngalum Ok memiliki nilai-nilai yang tercermin dalam arsitektur dan budayanya. Nilai-nilai tersebut dapat dilihat melalui aspek bentuk, aspek fungsi dan aspek makna yang terdapat pada rumah adat Suku Ngalum Ok. Melihat perkembangan jaman menuju era modernisasi, maka perlu diperhatikan warisan budaya bagi generasi masa sekarang dan masa depan khususnya berkaitan dengan budaya serta arsitektur rumah adat Suku Ngalum Ok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pedekatan deskriptif strukturalisme. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif strukturalisme, maka dapat memberikan gambaran dan uraian secara runtut serta lengkap baik secara makro maupun mikro tentang rumah adat Suku Ngalum Ok. Hasil akhir penelitian ini adalah wujud dari aspek bentuk, aspek fungsi dan aspek makna serta keterkaitannya dengan rumah adat Suku Ngalum Ok sebagai sebuah tradisi dan warisan budaya di era modernisasi bagi masa sekarang dan masa depan. © 2019 V. F. Agung Langgeng Prasetyo
Studi model rancangan hunian vertikal berdasarkan bentuk interaksi warga di bantaran sungai Winogo Yogyakarta Pramudito, Sidhi ; Praptantya, Antonius Lanang Tegar Wicaksana ; Nasir, David Jeffry
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.68

Abstract

Bantaran sungai merupakan salah satu kawasan perkotaan yang sering mengalami penurunan kualitas lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah pemanfaatan bantaran sungai yang tidak seharusnya sebagai ruang bermukim. Sebagai konsekuensi hal tersebut, kualitas hunian yang layak bagi masyarakat menjadi sulit untuk tercapai. Pemerintah telah berupaya melakukan pembangunan rumah susun sebagai salah satu solusi permasalahan tersebut. Namun hal yang terjadi adalah beberapa warga meninggalkan rumah susun karena mereka merasa tidak cocok tinggal pada model hunian vertikal yang formal dan kaku, sehingga terkadang aspek kebersamaan dan interaksi warga tidak dapat ditemui seperti ketika mereka tinggal dalam sebuah lingkungan kampung. Tujuan dari penulisan ini adalah menghasilkan usulan model hunian vertikal berdasarkan bentuk interaksi warga di Kampung Gampingan yang berada di bantaran Sungai Winongo. Hasil dari penulisan ini diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif solusi bagi pemangku kepentingan dalam melakukan perencanaan dan perancangan permukiman khususnya pada kampung di bantaran sungai perkotaan. © 2019 Sidhi Pramudito, Antonius Lanang Tegar Wicaksana Praptantya, David Jeffry Nasir
Pola permukiman di dusun Mantran Weran Magelang dalam bingkai kebudayaan Jawa Refranisa
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.67

Abstract

Dusun Mantran Wetan merupakan dusun yang terletak di kaki Gunung Andong kabupaten Magelang yang mayoritas masyarakatnya berasal dari akulturasi Jawa Islam. Tradisi Jawa berupa ritual komunal masih berlangsung secara tertib dan teratur serta menggunakan ruang – ruang tertentu sehingga membentuk suatu pola permukiman. Penelitian ini bertujuan meningkatkan dan memperdalam pengetahuan ilmiah tentang pola permukiman di Dusun Mantran Wetan Magelang dalam kaitan dengan kebubudayaan Jawa dan memperkuat pelestarian pola permukiman Dusun Mantran Wetan Magelang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian empiris, pengumpulan data menggunakan metode observasi lapangan, wawancara serta diperkuat dengan kajian pustaka khususnya literatur kebudayaan Jawa.  Hasil penelitan adalah pola permukiman di Dusun Mantran Wetan Magelang memiliki dua titik suci dan dua ruang komunal sebagai tempat yang selalu menjadi acuan ritual komunal yang selalau diljalankan oleh masyarakat.  Dapat disimpulkan bahwa aspek yang berpengaruh terhadap pola spermukiman di Dusun Mantran Wetan dibentuk dan dipengaruhi oleh simbolisasi kebudayaan Jawa dari masyarakat setempat yang masih lestari. © 2019 Refranisa  
Perubahan tata guna lahan kampung Prawirotaman kota Yogyakarta sebagai dampak keberadaan kawasan komersial Ardhiansyah, Nino ; Widyastuti, Dhyah Ayu Retno ; Septiari, Elisabet Dita
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.66

Abstract

Kebudayaan memiliki esensi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Nilai yang bermuara dalam kebudayaan seolah menjadi nafas bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Budaya yang berkembang baik yang bisa ditinjau dari aspek fisik maupun non fisik secara turun-temurun diwarisi dalam masyarakat menjadi sebuah tradisi yang memiliki kearifan lokal yang kuat. Namun seiring perkembangannya keberadaannya dapat mengalami pergeseran. Kondisi ini bisa terjadi dengan hadirnya budaya lain baik yang secara sengaja dibawa maupun secara tidak sadar ada bersamaan dengan keberadaan pendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pergeseran nilai budaya masyarakat di Kampung Prawirotaman terutama dalam aspek aktivitas ekonomi masyarakat, melalui tahapan (1) Memetakan perubahan tata ruang hunian di Kampung Prawirotaman; (2) Menggali perubahan aktivitas ekonomi di Kampung Prawirotaman. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya perubahan tata kelola dan alih fungsi lahan di Kampung Prawirotaman. Perubahan ini secara nyata berimplikasi pada aktivitas sosial ekonomi yang secara spesifik dalam unsur budaya yakni terkait dengan sistem perekonomian atau mata pencaharian hidup. © 2019 Nino Ardhiansyah, Dhyah Ayu Retno Widyastuti, Elisabet Dita Septiari
Human, nature, and architecture Widodo, Johannes
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.65

Abstract

Human is the centre of natural exploitation and built environment, a belief that has been existed since the beginning of civilization when human started to adapt into the natural environment and to articulate nature into built-environment. Human as creator and innovator of the built environment put himself at the centre of the universe: geographically is at the middle ground in between the mountain and the waterfront, chronologically is in between the sunrise and the sunset, and ideologically is in between heaven above and underworld beneath the earth. He stands at the middle of circles that define inside and outside and denote sacred and profane. Water is the essence of life. Therefore, the forested hills and mountains that provide steady supply of fresh water are preserved and well protected, spiritually and physically. To ensure the continuous flow of the lifeline, the forests are protected against violations and destructions, through rituals and social rules. The choice of location for the built-up area of the settlement is carefully considered against natural and supra-natural factors, in order to ensure the harmonious relationships between human, nature, and the spirits. In rational sense, it is to ensure the survivability of the community’s existence and its livelihood. © 2019 Johannes Widodo
Pengaruh renovasi terhadap makna rumah tradisional masyarakat Jawa, kasus studi: Kotagede Yogyakarta Sumardiyanto , Bonifasius
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.62

Abstract

Rumah tradisional masyarakat Jawa memiliki makna yang sebagai ekspresi rasa hormat agar tercipta relasi harmonis dengan kesatuan lingkungan numinus (lingkungan adikodrati, lingkungan alam dan lingkungan masyarakat). Hal itu dilakukan agar mencapai keselamatan hidup. Guna mengakomodasi tuntutan perkembangan kebutuhan, khususnya dari aspek ekonomi, beberapa rumah mengalami renovasi berupa penambahan fungsi-fungsi komersial pada rumah tinggal. Sebagai kasus studi dipilih 4 buah rumah yang mengalami renovasi. Penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana renovasi tersebut berpengaruh terhadap makna rumah. Penelitian diawali dengan mengidentifikasi zona masing-masing rumah sebelum dilakukan renovasi. Selanjutnya diidentifikasi zona dari masing-masing ruang sebagai akibat dari renovasi. Dilanjutkan mengidentifikasi kesesuaian zona ruang akibat renovasi terhadap zona awal. Dari kesesuaian ataupun ketidak sesuaian zona kemudian diinterpretasi pengaruh renovasi terhadap makna rumah. Hasilnya menunjukkan bahwa renovasi rumah pada umumnya hanya berpengaruh pada perubahan struktur permukaan dan bukan pada struktur dalam sehingga tidak mengubah maknanya. Semakin luas rumah asli dan semakin banyak penghuninya semakin tinggi kemungkinan perubahan maknanya. © 2019 Bonifasius Sumardiyanto
The interiority of proximity between nature and arhitecture in contemporary and tropically context with cases studies Pradono, Budi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.63

Abstract

The interiority of buildings in tropical countries requires specific characteristics unlike those in countries with four distinct seasons. Buildings in non-tropical climates must protect their inhabitants from extreme weather, meaning that the architecture’s connection with nature is necessarily limited by a boundary which can withstand extreme climatic differences. In tropical countries, on the other hand, the temperature does not fluctuate much throughout the year, so the temperature difference between seasons is not extreme. This characteristic is reflected in traditional Nusantara architecture, which incorporates a breathable wall so that free winds come in, reducing heat. The roof is tilted or saddled-shaped to keep rain water away from the building. The architecture uses organic materials and includes terraces for dialogue with nature. Modern Indonesian architecture, however, particularly in large cities, is mostly closed off, severely limiting the interaction with nature. Since the advent of air conditioning (AC) technology during the 1980’s, architecture has changed to seal the boundaries of the building. Advances in information technology such as Internet and smartphones have made for further changes to architecture in the area; some functional spaces are being discarded, while others are expanded. The relationship between architecture and nature is now constrained by impenetrable materials such as brick, concrete and glass, as opposed to the more traditional, permeable boundary. In contrast to this trend, modern Indonesian society is tempted to form a closer relationship with nature. This paper examines how a relationship between nature and the interior of buildings may be accommodated again, presenting some existing projects by several architects from Europe and Asian countries—including the authors’ own work—as case studies. © 2019 Budi Pradono
Proporsi rumah berarsitektur Cina di tepian sungai Musi Palembang Jaya, Anjuma Perkasa
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.61

Abstract

Sejak jaman Sriwijaya kota Palembang telah didatangi dan ditinggali oleh etnis-etnis dari bangsa lain, diantaranya China, Arab, dan Campa. Kehadiran mereka telah memberi warna bagi perkembangan arsitektur di kota Palembang, karena telah membawa pengaruh arsitektur dari negara asalnya. Keberadaan rumah berarsitektur China di tepian Sungai Musi merupakan salah satu warisan arsitektur dari etnis China yang masih bertahan sampai saat ini. Bentuk bangunan-bangunan rumah tinggal tersebut secara visual memberikan image proporsi yang sama, yang menyiratkan adanya perbandingan ukuran elemen-elemen fisik utama bangunan yang digunakan dalam membangun rumah tinggal tersebut. Hal ini menarik untuk menemukan proporsi fisik (rangka utama) yang ada di bangunan rumah tinggal tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dan analisis data menggunakan metode statistik. Hasil penelitian ditemukan proporsi (rasio) dari elemen fisik (rangka utama) bangunan ini adalah P : L : T =  9,2 : 3,4 : 2,3. Atap paling depan dari bangunan China ini (segmen A) memiliki proporsi tinggi yang lebih rendah dari atap pada segmen B dan C. Hal ini menunjukkan bahwa ruang pada segmen B dan C memiliki nilai ruang yang lebih tinggi yaitu sebagai tempat sembahyang dan ruang aktifitas yang bersifat privat bagi penghuni rumah. © 2019 Anjuma Perkasa Jaya
Koeksistensi alam dan budaya dalam arsitektur Subroto, Tarcicius Yoyok Wahyu
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 3 No 2 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2019 ~ Juni 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v3i2.60

Abstract

Keberadaan bangunan hunian yang terserak di kawasan kepulauan nusantara yang selama berabad abad hadir dan meninggalkan jejak panjang baik secara budaya maupun sosial dan menyatu dengan kehidupan masyarakat pemiliknya memiliki kekayaan nilai kearifan lokal yang luar biasa. Realitas ini membawa pada kesadaran logis para peneliti dan pemerhati hubungan budaya konsep dan budaya material yang tidak saja untuk dikaji dan diungkapkan secara tekstual namun juga penting untuk didokumentasikan dalam rangka menambah kekayaan informasi dan dokumentasi aset budaya dan arsitektur yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi pada misi utamanya yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan Arsitektur. Subroto (2008) menyatakan bahwa pada hakikatnya ilmu pengetahuan digunakan untuk menjelaskan prinsip dasar yang terkandung dalam pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya sebagai unsur penting dari ilmu pengetahuan itu sendiri.