cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
KARAKTERISTIK POLA SPEKTRAL PADA LAHAN TAMBANG TIMAH BERBASIS CITRA Haryani, Nanik Suryo; Fitriana, Hana Listi; Effendy, Iskandar
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2019.21-1.846

Abstract

Obyek yang berada di permukaan bumi mempunyai nilai spektral yang berbeda, sehingga setiap obyek yang terekam dalam citra satelit pada setiap panjang gelombang elektromagnetik akan mempunyai nilai spektral yang berbeda pula. Permasalahan yang muncul pada lahan bekas tambang ini adanya lahan terbuka yang secara visual terlihat adanya beraneka ragam kenampakan. Kondisi ini menarik untuk dilakukan penelitian masalah karakteristik spektral pada obyek tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik spektral pada lahan bekas tambang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan data citra Landsat tahun 2005, 2010, dan 2015, dengan mengkonversi nilai digital menjadi nilai reflektansi, selanjutnya melakukan konversi ke spektral radiansi Top of Atmosphere (ToA), konversi ke reflektansi ToA, dan konversi spektral radiansi ke temperatur kecerahan. Karakteristik pola spektral pada lahan bekas tambang yang dihasilkan berdasarkan reflektansi yang diperoleh dari citra tersebut. Hasil karakteristik pola spektral yang diteliti dari obyek pada lahan bekas tambang yang dikelaskan menjadi 4 kelas yaitu daerah terbuka secara visual berwarna abu-abu, putih terang, coklat dan kolong (bekas lahan tambang berbentuk cekung yang terisi air) yang secara visual berwarna biru. Perbedaan spektral yang terlihat jelas adalah pola spektral pada band 1, band 2, dan band 5, sedangkan band 3 dan band 4 mempunyai pola yang hampir sama. Korelasi antara nilai spektral hasil pengolahan citra terhadap nilai spektral hasil pengukuran di lapangan pada lahan terbuka bekas tambang timah mempunyai nilai korelasi terbesar pada obyek timah coklat dengan nilai korelasi sebesar 83,70%, sedangkan nilai korelasi terkecil pada obyek kolong dengan nilai korelasi sebesar 67,90%.
Preface Globe Vol. 21 No. 1 Jurnal, Pengelola
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2019.21-1.1033

Abstract

PEMETAAN PERKEBUNAN SAWIT RAKYAT DARI FOTO UDARA NON METRIK MENGGUNAKAN ANALISIS BERBASIS OBJEK Syetiawan, Agung; Haidar, Muhammad
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2019.21-1.990

Abstract

Beberapa tahapan penerbitan Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) yang digunakan dalam kegiatan perkebunan sawit dengan luas kurang dari 25 ha yaitu pemeriksaan lapangan dan pemetaan. Penerbitan STD-B harus melampirkan peta sebagai persyaratan dalam pendaftaran STD-B, yaitu peta yang memiliki skala 1:2.000. Untuk itu diperlukan teknologi pemetaan yang mumpuni guna memenuhi kebutuhan pemetaan tersebut. Tujuan penelitian adalah mengkaji kemampuan pemetaan udara menggunakan kamera non-metrik untuk pembuatan peta sawit rakyat. Proses akuisisi pemetaan sawit rakyat dilakukan di daerah Labanan Makmur Kalimantan Timur. Proses pemetaan udara menggunakan wahana tanpa awak (WTA) fixed wing dengan ketinggian terbang 420 meter diatas permukaan tanah menghasilkan 186 foto dengan sidelap dan overlap foto sebesar 70% dan 80%. Proses identifikasi tanaman kelapa sawit rakyat menggunakan pendekatan Object Based Image Analysis (OBIA). Output akhir yaitu menghasilkan foto udara dengan nilai GSD (Ground Sampling Distance) sebesar 13 cm/pix. Proses pengolahan foto udara dilakukan dengan memasukkan GCP dan tanpa menggunakan GCP. Hasil evaluasi geometrik nilai akurasi horisontal dengan menggunakan GCP diperoleh akurasi sebesar 0,250 meter sementara tanpa menggunakan GCP diperoleh akurasi sebesar 4,222 meter. Dari hasil evaluasi geometrik tersebut maka foto udara dengan menggunakan GCP memenuhi ketelitian geometri untuk pembuatan peta pada skala 1: 1.000, sementara foto udara tanpa menggunakan GCP memenuhi pada skala 1: 25.000. Hasil identifikasi sawit rakyat mendapatkan nilai akurasi objek 57,74% untuk wilayah blok 1 dan 69,54% wilayah blok 2. Proses pemetaan foto udara menggunakan kamera non-metrik ditambahkan dengan pengukuran GCP bisa digunakan sebagai acuan yang digunakan untuk membuat peta lampiran pendaftaran STD-B.
APLIKASI WEB MAP DALAM PEMETAAN KESESUAIAN FISIK PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG DI TELUK LAMPUNG Estigade, Andiyanti Putri; Astuti, Ariani Puji; Wicaksono, Arief; Maitela, Tika; Widyatmanti, Wirastuti
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2019.21-1.867

Abstract

Budidaya keramba jaring apung di Provinsi Lampung menjadi salah satu pengembangan budidaya perikanan laut yang potensial dalam meningkatkan produksi pangan. Akan tetapi, penelitian mengenai kesesuaian fisik perairan untuk budidaya perikanan pada wilayah tersebut belum banyak dilakukan karena wilayahnya yang luas dan juga mahalnya biaya analisis kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis spasial untuk menentukan lokasi potensial budidaya keramba jaring apung menggunakan citra Landsat 8 OLI dan SIG; dan menyajikan peta kesesuaian fisik perairan untuk budidaya keramba jaring apung ke dalam Web Map. Lokasi penelitian berada di sebagian Teluk Lampung. Parameter biofisik yang dipertimbangkan untuk kesesuaian keramba jaring apung antara lain kecerahan, suhu, salinitas, pH, kedalaman, material padatan tersuspensi, dan klorofil-α. Pengambilan sampel biofisik di lapangan menggunakan metode sistematis. Model akhir diperoleh dari hasil pembobotan kuantitatif berjenjang tertimbang. Setelah dihasilkan model kesesuaian fisik perairan, selanjutnya peta akhir dan semua data parameter dimasukkan ke dalam ArcGIS Online untuk disajikan ke dalam Web Map. Dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh ArcGIS Online maka informasi mengenai kesesuaian fisik perairan untuk budidaya keramba jaring apung di Teluk Lampung diharapkan dapat tersebar luas dan dimanfaatkan secara umum, khususnya bagi pemerintah, swasta, dan masyarakat yang bekerja dalam bidang perikanan budidaya. Hasil penelitian ini mampu menunjukkan bahwa integrasi antara data penginderaan jauh, sistem informasi geografis, dan teknologi informasi geospasial dapat dimanfaatkan untuk mendukung tercapainya tujuan nomor 14 dari agenda pembangunan keberlanjutan di Indonesia.
PEMANTAUAN POLA PENANAMAN PADI MELALUI ANALISIS HAMBURAN BALIK CITRA ALOS PALSAR SCANSAR Prachmayandini, Reyna; Prachmayandini, Reyna; Trisasongko, Bambang H
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.807 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.138

Abstract

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk pemantauan areal sawah saat ini banyak dikembangkan guna memberikan informasi pemantauan secara spasial maupun temporal. Pemantauan lahan sawah meliputi pola penanaman padi, pola irigasi, maupun produktivitas lahan. Informasi ini penting sebagai masukan bagi pengambilan keputusan dalam pengembangan areal persawahan di Indonesia guna menunjang pemenuhan produksi pangan. Namun demikian, tutupan awan pada citra optik merupakan kendala yang serius di Indonesia. Oleh karena itu, kajian pemantauan lahan sawah dengan menggunakan citra SAR (Synthetic Aperture Radar) ini dikembangkan karena akuisisi citra tidak terkendala pada faktor cuaca maupun tutupan awan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan kemampuan citra ALOS PALSAR ScanSAR untuk mengetahui intensitas/pola penanaman padi serta teknik irigasi pada wilayah persawahan di Jawa Barat dengan melakukan analisis terhadap nilai koefisian hamburan balik yang dihasilkan dari citra ALOS PALSAR ScanSAR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis nilai koefisian hamburan balik mampu memberikan informasi pola penanaman padi. Selain itu, nilai koefisien hamburan balik tersebut sekaligus mampu memberikan informasi terkait kelembaban tanah, yang terkait dengan sistem pengairan (irigasi) di wilayah penelitian.Kata Kunci : Padi, Sawah, Radar, Hamburan Balik, ALOS PALSAR ScanSAR ABSTRACTApplication of remote sensing technology has been developed to enable spatial and temporal monitoring for paddy fields. Paddy field monitoring requires monitoring of seasonal planting patterns, irrigation scheme, as well as land productivity. Those are essential for decision making processes in Indonesia particularly for supporting the fulfillment of food production. However, cloud cover hinders the use of optical remotely sensed imageries for monitoring purposes in Indonesia. For that reason, it is a necessity to develop paddy field monitoring scheme by using SAR (Synthetic Aperture Radar) image, exploiting atmospheric see-through capabilities of the system. This research aims to explore the capability of ALOS PALSAR ScanSAR image for monitoring intensity/plantation pattern of paddy field at broader coverage as well as to seek irrigation design on West Java paddy field areas by analyzing the backscatter coefficients. The result shows that the backscatter coefficients provide invaluable information of planting patterns in addition to planting intensity of paddy fields. It argues that the backscatter was also suitably informative on soil humidity related to irrigation.Keywords : Rice, Paddy Field, Radar, Backscatter, ALOS PALSAR ScanSAR
PERANCANGAN POTENSI LOKASI JEJARING STASIUN PEMANTAU KUALITAS UDARA DI DAERAH URBAN BERBASIS DATA SPASIAL STUDI KASUS DI DKI JAKARTA Riqqi, Akhmad; Fawaid, Ahmad; Driejana, Driejana
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2019.21-1.876

Abstract

Kota besar seperti Jakarta memiliki masalah dalam mengelola kualitas udaranya. Dampak pencemaran udara akan mengakibatkan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat. Dalam rangka pengendalian pencemaran udara diperlukan model jaringan stasiun pemantauan kualitas udara. Penelitian pemodelan jaring stasiun pemantau kualitas udara telah dilakukan untuk mencari lokasi yang potensial bagi stasiun pengamatan kualitas udara yang didasarkan pada model densitas populasi penduduk dan variasi spasial sumber pencemar di wilayah Jakarta. Pemodelan jejaring lokasi berpotensi untuk stasiun pemantauan kualitas udara dilakukan dengan dua pentahapan. Tahapan pertama adalah pemilihan lokasi potensi stasiun. Tahapan kedua adalah penyeleksian lokasi potensi stasiun berdasarkan zonasi, kepadatan penduduk, tutupan lahan sekitar, dan kemudahan akses dan perizinan. Pemodelan jaringan pemantauan kualitas udara menghasilkan luaran zona potensi titik pantau serta 81 titik potensi lokasi pemantauan kualitas udara. Potensi titik-titik tersebut diseleksi dengan mempertimbangkan landuse, jarak antartitik, dan kemudahan perizinan untuk mendapatkan 53 lokasi stasiun pemantauan udara untuk seluruh wilayah DKI Jakarta. Hasil pemodelan ini selanjutnya digunakan untuk menempatkan titik pemantauan kualitas udara pada riset Urban hybriD model for AiR pollution exposure Assessment (UDARA).
ANALISIS IMPLEMENTASI 30% RUANG TERBUKA HIJAU DI DKI JAKARTA Prakoso, Panji; Herdiansyah, Herdis
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2019.21-1.869

Abstract

Pertambahan jumlah penduduk di DKI Jakarta berdampak pada proses pertumbuhan kota. Hal ini identik dengan kegiatan pembangunan kota secara masif yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Akan tetapi terdapat permasalahan dalam pemenuhan syarat tentang keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) karena telah mengalami penurunan kualitas maupun kuantitas, yang seharusnya dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 memiliki luas sebesar 30% dari luas wilayah administrasi. Persyaratan ini belum dapat dipenuhi oleh Pemerintah DKI Jakarta karena keberadaan RTH di DKI Jakarta kurang dari 10%. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kebutuhan RTH DKI Jakarta secara kualitatif melalui pendekatan luas wilayah administrasi dan jumlah penduduk. Penelitian ini juga menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk merumuskan prioritas solusi kebijakan yang lebih tepat untuk dapat dilakukan oleh pengambil kebijakan terkait. Kebutuhan RTH DKI Jakarta melalui pendekatan peraturan perundangan adalah sebesar 198,70 km², sedangan jika dilakukan melalui pendekatan jumlah penduduk kebutuhan RTH sebesar 96,78 km². Berdasarkan hasil perhitungan AHP, prioritas kebijakan yang dapat diimplementasikan adalah dengan mewujudkan kolaborasi antar pemangku kepentingan (57,15%), meningkatkan partisipasi masyarakat (33,72%), dan melakukan penguatan regulasi (9,13%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa upaya memenuhi persyaratan RTH 30% perlu dilakukan perencanaan dan kerja sama dari berbagai pihak, yaitu kolaborasi antar pemangku kepentingan, peningkatan partisipasi masyarakat dan penguatan regulasi yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. RTH sebagai ruang publik juga merupakan tempat berinteraksi yang mampu meningkatkan harmoni sosial sehingga keberadaannya mutlak ada dalam perencanaan tata ruang.
KAJIAN SOSIAL EKONOMI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN DANAU TEMPE Muliawan, Irwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1889.509 KB)

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya danau secara multiguna telah memberi manfaat besar, khususnya bagi masyarakat yang bermukim di sekitar danau. Pola ekstrasi yang digunakan dalam tiap jenis pemanfaatan sumberdaya pun beragam. Sayangnya, tidak semua metode tersebut justru memperparah degradasi lingkungan perairan danau. Dampak terparah akibat menurunnya kualitas lingkungan danau terjadi di subsektor perikanan, berupa penurunan produksi tangkapan. Kajian ini bertujuan mengungkap pengelolaan danau untuk pengembangan perikanan di Danau Tempe. Kajian ini menganalisis nilai manfaat langsung sumberdaya Danau Tempe, kelayakan usaha di danau serta mengurai distribusi manfaat dari masyarakat pemanfaatan sumberdaya tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai ekonomi sumberdaya danau terlihat distribusi manfaat dari subsektor perikanan tidak merata. Penyebabnya adalah dominasi pemanfaatan ruang oleh salah satu metoda penangkapan ikan (bungka toddo). Oleh karena itu regulasi mengenai penangkapan ikan diberlakukan melalui Peraturan Daerah No. 5/2000 oleh Pemerintah Kabupaten Wajo. Kemudian direkomendasikan agar pondasi bungka toddo terbuat dari bahan beton dengan jumlah yang telah ditentukan sesuai aturan yang berlaku.ABSTRACTLake resources have many usages which bring great benefits, especially for the community who live around it. The methods people make use of the resources are varied. However, not all of those methods concern with the sustainability of the resources. Some has contributed direct impact to worsen the lake water environmental degradation. The worst impact of the degradation is the decrease in fishery catch. The objective of this study was to show the lake management for fisheries development in Lake Tempe. This study analyzed direct use value technique, benefit value distribution from the user community of the resource. The study shows that benefit value distribution in fisheries sub sector is not well distributed. lt is caused by the spatial use is dominated by bungka toddo. Therefore, regulation toward fishing technique should be applied through the Local Regulation No.5/2000 by Government of Wajo Regency. Thus, it is proposed that bungka toddo base is made from solid materials and the total number of bungka toddo is restricted based on the regulation.Kata Kunci : Perikanan, Nilai Manfaat Langsung, Distribusi Manfaat Keywords : Fisheries, Direct Use Value, Benefit Distribution
PEMODELAN PENETAPAN LAHAN SAWAH BERKELANJUTAN BERBASIS REGRESI LOGISTIK DAN EVALUASI LAHAN MULTIKRITERIA DI KABUPATEN SUKABUMI Santosa, Sigit; Rustiadi, Ernan; Mulyanto, Budi; Murtilaksono, K; Widiatmaka, Widiatmaka; Rachman, Noer F
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.783 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.65

Abstract

ABSTRAKAlih fungsi sawah terus terjadi di Pulau Jawa sehingga mengancam ketahanan pangan nasional. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) belum mampu mengendalikan alih fungsi sawah. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model penetapan lahan sawah berkelanjutan menggunakan metode regresi logistik dan evaluasi lahan multikriteria. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi yang merupakan wilayah perbukitan di bagian selatan Pulau Jawa dengan luas lahan sawah yang cukup besar dan mendukung ketersediaan pangan nasional. Pemodelan dibangun berdasarkan karakteristik alih fungsi lokal dengan mempertimbangkan konsep pembangunan berkelanjutan. Variabel-variabel penting yang mendukung terjadinya alih fungsi sawah yang dipertimbangkan adalah jarak sawah terhadap jalan, permukiman, dan industri. Hasil regresi logistik selanjutnya menjadi masukan bobot bagi evaluasi lahan multikriteria yang dapat menghasilkan tiga skenario kebijakan perlindungan sawah, yaitu standar, protektif, dan permisif guna kepentingan pembangunan. Melalui pemodelan ini diperoleh sawah-sawah prioritas lindung yang memudahkan pengelolaannya dan sekaligus menjadi penyangga bagi sawah-sawah di belakangnya.Kata Kunci: model perlindungan lahan sawah berkelanjutan, regresi logistik, evaluasi lahan multikriteriaABSTRACTConversion of paddy fields has continuously occurred in Java Islands, thus threatens a national food security. The Regional Spatial Planning and the Policy on Sustainable Food-crop Agricultural programs seem to unable to control paddy field conversion. This research was conducted to develop a sustainable paddy field zone delineation model using logistic regression and multicriteria land evaluation. The research location is in the Sukabumi Regency which is has various morphology and large paddy fields to support national food security. The model is developed by local conversion characteristics and considering the concept of sustainable development. Important variables that contribute to paddy fields conversion are the distance to road, settlements and industrial regions. Results of logistic regression then become the input for weighted criteria to develop three policy scenarios of paddy fields protection; standard, protective, and permissive in order to support regional development. Through this model, we obtain the priority paddy fields to be protected as well as become buffer zones for the surrounding paddy fields.Keywords: paddy fields protection model, logistic regression, multicriteria land evaluation
KESESUAIAN LAHAN FISIK DAN EKONOMI UNTUK PADI SAWAH: STUDI KASUS WILAYAH PERENCANAAN KOTA TERPADU MANDIRI RAWAPITU, PROVINSI LAMPUNG Widiatmaka, Widiatmaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.831 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.76

Abstract

ABSTRAKPengembangan wilayah perlu didukung oleh majunya sistem pertanian dengan pola usaha pokok yang dapatberbeda untuk tiap-tiap wilayah, tergantung potensinya. Evaluasi kesesuaian lahan perlu dilakukan untuk menjaminpengusahaan pola budidaya yang paling sesuai, yang secara biofisik memberikan hasil tertinggi dan secara ekonomismenguntungkan. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi pengembangan Kota Terpadu Mandiri Rawapitu, Kab.Tulangbawang, Provinsi Lampung. Evaluasi kesesuaian lahan fisik dan ekonomi dilakukan menggunakan AutomatedLand Evaluation System (ALES). Analisis dilakukan untuk komoditas padi sawah, yang merupakan komoditas utamawilayah ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah penelitian Rawapitu memiliki kelas kesesuaian lahan fisikaktual untuk padi pada kelas S2 (cukup sesuai) dan S3 (sesuai marginal). Faktor pembatas utamanya adalah bahayabanjir, retensi hara, hara tersedia dan media perakaran. Beberapa karakteristik tanah yang menjadi pembatasdominan, antara lain adalah reaksi tanah yang masam, topografi wilayah yang landai pada ketinggian tempat yangrendah. Hasil analisis kesesuaian lahan ekonomi menunjukkan bahwa baik pada pada lahan kelas S2 maupun kelasS3, pengusahaan tanaman padi masih menguntungkan, ditunjukkan oleh nilai-nilai gross margin maupun rasio B/Cnya.Upaya pengelolaan spesifik lokasi diperlukan untuk meningkatkan kesesuaian fisik, sekaligus meningkatkankeuntungan dan pendapatan petani.Kata Kunci: Automated Land Evaluation System (ALES), Evaluasi Lahan, Karakteristik Lahan, Pohon Keputusan.ABSTRACTRegional development needs to be supported by an advanced agricultural system with its main principalcommodities, which varies among different regions, depending on the potencies. Evaluation of land suitability needs tobe done, to ensure the utilization of the most appropriate commodities which biophysically gave the highest yield andeconomically profitable. The research was conducted at the location of the development of Integrated DevelopmentCity Planning (“Kota Terpadu Mandiri”) of Rawapitu at Tulangbawang Regency, Lampung Province. Physical andeconomical land suitability analysis was done using Automated Land Evaluation System (ALES) for rice field, which isthe main commodity of the region. The result showed that the study area of Rawapitu had actual physical landsuitability classes for rice field in the S2 (suitable) class and S3 (marginally suitable) class. The main limiting factorswere the danger of flooding, nutrient retention, nutrient availability and rooting medium. Some land characteristics thatbecame the dominant limiting factors were soil reactions which are acidic soil and topographic sloping at a low altitude.Economic land suitability analysis results showed that both in the land suitability class of S2 and S3, rice cultivationwas still profitable, indicated by the values of gross margin and the ratio B/C. Site-specific management measures arerequired to improve the physical suitability and at the same time increasing profits and income of farmers.Keyword: Automated Land Evaluation System (ALES), Land Evaluation, Land Characteristics, Decision Tree.

Page 1 of 25 | Total Record : 249