cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Articles 180 Documents
PREFACE GEOMATIKA VOL. 25 NO. 1 Jurnal, Pengelola
GEOMATIKA Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.789 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2019.25-1.1069

Abstract

BLUNDER PENGOLAHAN DATA GPS Syetiawan, Agung
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.836 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.641

Abstract

                                                                                       ABSTRAKPengamatan satelit menghasilkan koordinat posisi berdasarkan pada perjalanan sinyal dari satelit ke antenna yang ada di Bumi. Pada perjalanannya, sinyal satelit tersebut mengalami berbagai macam hambatan yang menyebabkan data hasil posisi menjadi tidak akurat. Selain kesalahan sistematik dari perangkat dan kesalahan yang sudah dihilangkan menggunakan mekanisme tertentu terdapat kesalahan yang seharusnya tidak muncul. Kesalahan ini akibat kekuranghatian pengolah data saat processing data satelit, penyebabnya mungkin bisa jadi kurang berhati-hati atau bahkan pengolah data kurang memiliki pemahaman terkait dengan metode pengolahan data terutama metode pengukuran tinggi alat (Height of Instrument). Kesalahan ini menyebabkan kualitas posisi yang dihasilkan berkurang, kesalahan yang sering terjadi ini dinamakan dengan blunder. Kebanyakan blunder bersumber pada metode yang digunakan untuk mengukur tinggi instrument, perlu diperhatikan juga bahwa pengolahan data sinyal oleh perangkat lunak dilakukan di Antenna Phase Center nya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek blunder pengolahan data GPS terhadap hasil data posisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blunder yang bersumber dari tidak ditentukannya tipe antenna akan mempengaruhi hasil koordinat tinggi sebesar nilai offset dari antenna tersebut yaitu pada penelitian ini sebesar 10 cm dari nilai sebenarnya. Kemudian untuk sumber kesalahan pengolahan dari tidak memasukkan nilai koordinat definitif yaitu pada penelitian ini memiliki kesalahan error sebesar 3,113 m untuk komponen tinggi dan 73 cm dan 32 cm untuk komponen horizontalnya. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kesalahan blunder pada pengolahan data satelit sangat mempengaruhi kualitas data posisi yang dihasilkan, terutama pada koordinat tingginya.                                                                                      ABSTRACTSatellite observations produce coordinate position based on the signals travel from the satellite to the antenna on Earth. On its journey, the satellite signal subjected to various kinds of barriers that cause data to become inaccurate positioning results. In addition to a systematic error of the device and the error has been eliminated using a specific mechanism there is an error that should not appear. This error is due to carelessness of data processor when processing satellite data, the cause might be less cautious or even lack an understanding of data processing associated with data processing methods particularly height measurement methods tool (Height of Instrument). This error causes the quality of the resulting position is reduced, a common mistake is called the error blunder. Most blunder rooted in the methods used to measure the height of the instrument, it should be noted that the data processing by software signal carried on its Antenna Phase Center. This study aimed to determine the effects of blunders on the results of data processing GPS position data. The results showed that the blunder derived from it determines the type of antenna will not affect the outcome of the high amount of the offset coordinates of the antenna is on the study of 10 cm from the actual value. Then to the source of the error of not entering the coordinate value that is definitive in this study had an error of 3.113 m for the vertical components and 73 cm and 32 cm for the horizontal component. From these results it can be concluded that the blunders in satellite data processing greatly affects the quality of the resulting position data, especially at the height coordinates.
UJI AKURASI TRAINING SAMPEL BERBASIS OBJEK CITRA LANDSAT DI KAWASAN HUTAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Noviar, Heru; Carolita, Ita; Cahyono, Joko Santo
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.692 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.190

Abstract

Teknik klasifikasi citra digital telah berkembang, dari berbasis pixel menjadi klasifikasi berbasis objek, dimana citra sebelumnya dibuat dalam bentuk segmentasi/poligon yang bias diatur homogenitasnya. Tetapi dalam proses klasifikasi baik dengan berbasis pixel dengan metode Maximum Likelihood maupun dengan berbasis objek tetap harus ditentukan training sampel untuk mengidentifikasi objek yang akan diklasifikasi. Dalam pengambilan training sampel dengan berbasis pixel, poligon yang dibuat, diambil sehomogen mungkin sedangkan dalam metode berbasis objek, training sampel dibuat berdasarkan poligon-poligon yang sudah terbentuk hasil segmentasi yang dibuat berdasarkan parameter scale, shape, compactness yang telah ditentukan.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji akurasi hasil training sampel yang dibuat berdasarkan polygon hasil segmentasi dengan training sampel yang dibuat berbasis pixel dengan studi kasus kawasan hutan di PLG Kapuas, Kalimantan Tengah dan citra yang digunakan citra Landsat. Akurasi diuji dengan melihat percampuran antar kelas (dengan Scatterplot) dan keterpisahan antar kelas dengan metode Confusion Matrix (nilai overall accuracy dan nilai kappa). Hasil memperlihatkan bahwa uji keakuratan training sampel berbasis objek pada lokasi lebih rendah ini jika dibandingkan dengan training sampel berbasis pixel, terlihat dari nilai Overall Accuracy dan nilai Kappanya. Grafik Scatterplot menunjukkan masih ada ketercampuran antar kelas (hutan, non hutan, non vegetasi dan tubuh air) pada kedua hasil dan lebih banyak terjadi pada training sampel hasil segmentasi.Kata kunci: training sampel, uji keakuratan, segmentasi, klasifikasi berbasis objek dan pixel, hutan dan non hutan, citra Landsat.ABSTRACTDigital image classification techniques have been developed from a pixel-based to an object-based classification, where the previous image is created in the form of segmentation/polygons whose homogenity can be set based on scale, shape, and compactness. However, in the classification process, either using pixel-based or object-based, several training samples still need to be determined in advance to identify objects that will be classified. In the pixel-based, while generating training samples, created polygons were made as homogeneous as possible. On the other hand, in the object-based method, training samples were made based on polygons from the results from segmentation process based on scale, shape, and compactness parameter. The research aim is to test  the accuracy of training samples from the object-based method, which is compared with the ones from the pixel-based method. As the case study was forest areas around PLG Kapuas, Central Kalimantan. Landsat imagery was used as material. The accuracy was tested by looking at the values of inter-class mixture (using scatterplot) and of class-separation (using confusion matrix to gain overall accuracy and kappa value). The results show that the accuracy of pixel-based training samples is better, which can be seen from the Kappa value and Overall AccuracyScatterplot graphic shows that there are mixed-classes (forest, non-forest, non-vegetation, and water bodies) on both samples test result, although there are more in the segmentation process rather than in the training samples made from manual delineationKey words: training samples, test accuracy, segmentation, object and pixel-based classification, forest and non forest, Landsat imagery
FOREST DEGRADATION ASSESSMENT IN KALIMANTAN TROPICAL RAIN FOREST (KTRF) USING PHENOLOGICAL AND GEOMETRICAL SHAPE ANALYSIS Darmawan, Mulyanto
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.13

Abstract

Kalimantan tropical rain forest (KTRF), for many years, has been subject for timber extraction, agriculture and plantation expansion, as well as settlement. Although it has experiencing ever land clearing, forest degradation both in spatial and temporal are poorly studied. Many researchers’ works in the forest field had considered that forest degradation is similar to deforestation. They defined a simple definition of deforestation as “conversion of forest”. When such definition applied, it would create large area of forest degradation. In this study phenological analysis were applied to scale up the understanding of forest degradation in KTRF. In the initial stage, phenological analysis was evaluated using NDVI SPOT Vegetation 10 days composite. Secondly, K-mean classification and Knowledge Base Expert System (KBSE) method were applied to nine phenological metrics (Onset, End, Max, Min, AMP, RtUp, RtDn, and DUR, TIN) to calculate proportion of forest (Pof) and connectivity of forest with other non forest (Cof). Finally, the Geometrical shapes of forest were evaluated to understand forest degradation in Kalimantan forest. Result found that about 46% of Kalimantan forest has been threatened or experience with forest clearance which correspond to plantation and agriculture crops for 26,76% and of 19,24% was patch forest. While the other of 53% was represent natural forest. Of the 53% of the natural forest actually 55% was corresponding to transitional forest, perforated and edge forest at about 8%, 9% and 37% respectively. The critical point found in the phenological analysis mainly to determine the starting point of growing season (Onset) and the end of greenness (End).Keyword: tropical rain forest, deforestation, degradation, phenology analysis, geometrical shapeABSTRAKHutan hujan tropis Kalimantan (KTRF), selama bertahun-tahun, menjadi sumber pengambilan kayu, perluasan pertanian dan perkebunan, termasuk permukiman. Meskipun hutan ini mempunyai sejarah panjang pembukaan lahan (land clearing), informasi tentang degradasi hutan baik secara spasial maupun dan multi waktu sulit didapat. Banyak peneliti di sektor kehutanan menyederhanakan bahwa “degradasi hutan” adalah “deforestasi hutan”. Mereka menetapkan definisi sederhana deforestasi sebagai "konversi hutan". Namun, ketika definisi tersebut diterapkan, akan menghasilkan luasan angka degradasi hutan yang besar. Dalam studi ini phenological analisis dilakukan untuk meningkatkan pemahaman (Scale up) informasi degradasi hutan di KTRF. Pada tahap awal, phenology dievaluasi dengan menggunakan NDVI SPOT Vegetasi 10 hari komposit. Tahap kedua, klasifikasi K-mean dan method Knowledge Base Expert System (KBSE). diterapkan atas sembilan metrik phenologi (Onset, End, MAX,MIN, AMP, End, RtUp, RtDn, dan Dur, TIN) untuk menghitung proporsi hutan (POF) dan konektivitas hutan (COF) dengan hutan non lain (COF). Akhirnya, bentukan geometris (geometris shape of forest) dievaluasi untuk memahami degradasi hutan Kalimantan. Hasil sementara adalah sekitar 46% dari total hutan Kalimantan terancam ataupun mengalami perubahan, akibat adanya pembukaan hutan baik untuk perkebunan atauypun tanaman pertanian masing-masing sebesar 26,76% dan 19,24% diantaranya adalah hutan patch. Sementara hanya 53% wilayah Kalimantan masih merupakan hutan alami (natural forest). Dari 53% dari hutan alami sebenarnya hanya 55%, sementara hutan transisi (transitional forest), hutan perforasi (perforated forest) dan hutan tepi (edge forest) masing-masing sekitar 8%, 9% dan 37% dari ttal forest. Pekerjaan tersulit yang ditemukan dalam analisis phenological ini adalah pada penentukan titik awal musim tanam (Onset) dan akhir kehijauan (O). Setelah kedua metrik tersebut ditentukan, maka metrik yang lain dapat dihitung.Kata Kunci: Hutan hujan tropis, deforestasi, degradasi, phenologi analisis, bentukan geometrik
PENENTUAN LANDAS KONTINEN EKSTENSI BATAS MARITIM INDONESIA-PALAU PADA KEDALAMAN 2500 M ISOBATHS + 100 NM DI SEBELAH UTARA PAPUA MENGGUNAKAN BATIMETRI TURUNAN DATA PENGINDERAAN JAUH Julzarika, Atriyon; Susanto, Susanto
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.18

Abstract

Northern Papua Indonesia is a region that directly adjacent to Palau in Pasific Ocean. This condition allows Indonesia to claim maritime boundary delimitation according to Technical Aspect of the Law of the Sea (TALOS), one of TALOS concept is to determine extended continental shelf in -2500 m depth isobaths + 100 nm in 1% sedimentary rock. This extended continental shelf can be determined by using bathymetry that is derived from altimetry satellite imagery. The establishment of this bathymetry has the same concept with topography in the case of survey mapping and remote sensing. Those bathymetry can be applied to determine another maritime boundary delimitation claims. Besides that, those bathymetry can also be applied to make a 3D model of bathymetry in Pasific Ocean so we can observe the condition of internal waters, medium and depth waters in the northern Papua Indonesia. This bathymetry will be useful for various engineering applications and some other of non engineering applications. This 3D model of bathymetry will be useful for Indonesia in claiming maritime boundary delimitation in Pasific Ocean and to improve marine resources management.Keywords : Bathymetry, Northern Papua, extended continental shelfABSTRAKWilayah Papua utara Indonesia merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan Palau di Samudera Pasifik. Kondisi ini memungkinkan Indonesia dapat mengklaim batas maritim sesuai dengan yang terdapat di Technical Aspect of the Law of the Sea (TALOS). Salah satunya adalah penentuan batas landas kontinen ekstensi pada kedalaman -2500 m isobaths + 100 nm pada sedimentasi 1%. Batas landas kontinen ini dapat ditentukan menggunakan data batimetri yang diturunkan dari citra satelit Altimetri. Pembuatan batimetri ini memiliki konsep yang sama dengan pembuatan topografi secara survei pemetaan maupun secara penginderaan jauh. Batimetri tersebut bisa digunakan untuk penentuan klaim batas maritim lainnya. Selain itu, batimetri tersebut bisa juga digunakan untuk pemodelan 3D perairan di Samudera Pasifik sehingga akan terlihat kondisi perairan dangkal, sedang, dan dalam yang ada di sebelah utara Papua. Batimetri ini akan berguna dalam berbagai aplikasi keteknikan dan non keteknikan lainnya. Pemodelan 3D perairan ini akan berguna bagi Indonesia dalam klaim batas maritim di Samudera Pasifik dan dalam pengelolaan sumber daya alam laut.Kata kunci: Batimetri, Papua Utara, landas kontinen ekstensi
KARAKTERISTIK ARUS LAUT PERAIRAN TELUK BENOA – BALI Tanto, Try Al; Wisha, Ulung Jantama; Kusumah, Gunardi; Pranowo, Widodo S.; Husrin, Semeidi; Ilham, Ilham; Putra, Aprizon
GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2026.553 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.631

Abstract

ABSTRAKPerairan Teluk Benoa merupakan kawasan semi tertutup dengan mulut sempit yang memisahkan antara Pulau Serangan dan Tanjung Benoa. Arus laut perairan Teluk Benoa, yang dekat pantai berperan penting dalam proses transpor sedimen di daerah pantai yang merupakan daerah gelombang mulai pecah hingga ke arah garis pantai. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik arus laut yang terjadi, analisis dari penyajian secara scatter plot dan stic plot, sehingga diketahui faktor dominan pembangkit arus tersebut. Data arus laut diperoleh dari hasil pengukuran pihak swasta menggunakan alat ukur ADCP. Analisis arus laut dengan scatter dan stic plot untuk melihat arah dominan arus, serta melihat hubungan kejadian arus dengan pasang surut air laut, selain itu juga dengan perhitungan kisaran kecepatan arus yang terjadi selama pengukuran. Hasil yang diperoleh adalah arus laut di perairan Teluk Benoa berkisar antara 0,001 - 1,715 m/s (pengamatan bulan Juni - Juli 2015). Kecepatan arus pada mulut teluk lebih besar (maksimal sebesar 1,715 m/s), sedangkan di dalam teluk kecepatan arus lebih rendah (maksimal sebesar 0,883 m/s). Pada saat air pasang, arah arus dominan ke arah dalam teluk dan saat air laut surut arah dominan arus ke arah luar teluk. Kesimpulan yang diperoleh adalah kejadian arus laut di perairan Teluk Benoa lebih dominan berupa arus pasang surut. Saat kondisi bulan purnama kecepatan arus lebih tinggi dari pada saat posisi bulan separuh (kuarter pertama atau ketiga). Pada umumnya, pada mulut teluk memiliki arus yang cukup tinggi sebagai akibat celah sempit, dengan pola yang tidak beraturan akibat pengaruh perlintasan kapal dan aktivitas keluar masuk teluk.Kata kunci: arus laut, karakteristik arus laut, arus pasang surut, Teluk BenoaABSTRACTBenoa Bay waters is a semi-enclosed area with quite a narrow mouth that separates the Serangan Island and Tanjung Benoa. Ocean currents in Benoa Bay, which is close to the beach plays an important role in the process of sediment transport in the beach area where is the waves began to break up towards the shoreline. The research objective was to know the characteristics of ocean currents that occur, from the analysis of the scatter and stic plot, so it’s known that the dominant factor of the current generator. The data of ocean currents obtained from the measurement of private parties using ADCP measuring instrument. Analysis of ocean currents with scatter and stic plot to see the dominant direction of current, and to see the relationship of current occurrence with the tide, besides also with calculation of current velocity. The results obtained are ocean currents in the Benoa Bay waters ranged from 0,001 to 1,715 m/s (observations in June-July 2015). Flow velocity at the mouth of the bay is greater (maximum of 1,715 m/s), while in the lower bay flow speed (maximum of 0,883 m/s). At high tide, the dominant current direction towards the bay and vice versa during low tide predominant direction of flow towards the outside of the bay. The conclusion is the incidence of ocean currents in the Benoa Bay waters is predominantly influenced by the tidal current. When the full moon conditions the current velocity is higher than at half month position. In general, at the mouth of the bay has a current high enough as a result of the narrow gap, with irregular pattern due to the influence and activities of ship crossings in and out of the bay.Keywords: ocean current, characteristics of ocean current, tidal current, Benoa Bay
PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 ETM+ UNTUK PEMETAAN POTENSI ZONA MINERALISASI PADA IJIN USAHA PERTAMBANGAN EKSPLORASI PULAU WETAR Yanuarsyah, Iksal; Hermawan, Erwin
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.200

Abstract

Pemetaan potensi sumber daya geologi pertambangan khususnya potensi mineral perlu dilakukan sebagai awal pengelolaan sumber daya pertambangan. Pemetaan ini perlu dilakukan terutama dalam tahapan eksplorasi pendahuluan, sehingga keberadaan lokasi dari kawasan-kawasan dapat diketahui. Integrasi citra Landsat 8 dan data geologi melalui pemrosesan citra dan SIG telah digunakan untuk pendeteksian area eksplorasi mineral. Penelitian ini berlokasi di Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi PT. Satria Fajar Intim di Pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. IUP Eksplorasi terbagi menjadi 4 lokasi kajian dan masing-masing dibagi menjadi 2 bagian yaitu Bagian Utara dan Bagian Selatan. Kegiatan penelitian dimulai dari pengumpulan data spasial (peta) dan non spasial (tabular) dari lokasi kajian. Secara spesifik, analisis citra Landsat dilakukan dengan menggunakan Crósta Technique untuk menentukan zona ubahan limonitik dan lempung. Analisis ini mengkaji nilai “eigen vector” dari hasil Principal Component Analysis (PCA) untuk kombinasi band 1, 3, 4, dan 5 (ubahan limonitik) dan kombinasi band 1, 4, 5, dan 7 (ubahan lempung). Tahapan selanjutnya adalah menentukan zona mineralisasi yang dilakukan dengan menggunakan penguatan dari hasil identifikasi kelurusan zona lemah (lineament). Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat dan analisis geologi (regional dan lineament, wilayah eksplorasi ini berprospek Emas (Au) yang terbagi masing-masing dalam 17 zona mineralisasi dengan luas mencapai 2.858,70 ha. Peta zona mineralisasi ini akan sangat membantu pihak IUP Eksplorasi dalam menentukan langkah selanjutnya agar rencana perusahaan dalam melakukan kegiatan eksplorasi detil, lebih terarah dan efisien.Kata Kunci: Landsat 8, Teknik Crósta, Analisis Komponen Utama, zona mineralisasiABSTRACTMapping potential geological resources, especially mineral potential, needs to be done because it is the initial of mining resources management. The mapping is important especially during the preliminary stage of exploration in order to identify the location and distribution of the regions. Integration of Landsat 8 ETM+ imageries and geological data through GIS and image processing techniques were used to identify the area on mineral exploration work. This research was located in a Mining Business License (IUP) PT Satria Fajar Intim at Wetar Island, Southwest Maluku Regency, Maluku Province. The exploration area was divided into four study locations, in two different regions - the northern part and the southern part. Analysis of the studies carried out, started from the collection of spatial and non-spatial data from the location of the study. Analysis of Landsat imagery was carried out by using Crósta Technique to determine the limonitics and clays zones. This analysis examines the eigen-vector value of Principal Component Analysis (PCA) for the combination bands 1, 3, 4, and 5 (limonitics) and combination bands 1, 4, 5, and 7 (clays). This process continued by identifying the mineralized zones using the sharpening of weak zone (lineament). Based on Landsat image interpretation supported with geological analysis (regional and lineament), the Exploration IUP area is prospected for Gold (Au) which is divided into 17 individual mineralized zones and covers an area of 2,858.70 ha. The location determination of this mineralized zone will greatly support the IUP Exploration and plays as important consideration so that the company plan can be more focused and efficient, for example in conducting further detailed exploration activities.Keywords: Landsat 8, Crósta Technique, Principal Component Analysis, mineralization zone
TOPOLOGI BATAS MARITIM DI LAUT SULAWESI BERDASARKAN UNCLOS 1982 Silalahi, Florence Elfriede S.
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.28

Abstract

Zonasi batas maritim diatur dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 dan telah diratifikasi oleh sebagian besar negara pantai di dunia, termasuk Indonesia dan Malaysia. Indonesia memiliki batas daratan dengan Malaysia di P. Sebatik dan memiliki batas maritim di Laut Sulawesi. Wilayah yang menjadi cakupan penelitian adalah 01°4653" LU - 04°1010" LU dan 117°54’29” BT - 119°0226" BT. Pengolahan data terdiri dari transformasi koordinat geografis Peta Laut Indonesia, British Admiralty Charts, dan Peta Malaysia 1979 menjadi koordinat mercator, serta digitasi yang dilakukan terhadap peta laut dan memproyeksikan zona maritim sesuai dengan UNCLOS 1982 dan Technical Aspects on the Law of the Sea (TALOS). Proyeksi batas maritim dilakukan dengan metode sama jarak dengan circle three points method dan topology. Analisis data dilakukan secara automatik dengan Caris Lots sebagai software pemetaan batas maritim. Selanjutnya dilakukan plotting  koordinat blok-blok konsesi yaitu Bukat, Ambalat dan East-Ambalat.  Hasil plotting koordinat menunjukkan bahwa konsesi Blok Bukat termasuk dalam laut teritorial Indonesia. Blok Ambalat termasuk dalam Zona Tambahan Indonesia, sedangkan Blok East Ambalat termasuk dalam Zona Tambahan dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang overlapping antara Indonesia dan Malaysia.Kata Kunci: Topologi Batas Maritim, UNCLOS 1982, TALOS, Caris Lots, Laut SulawesiABSTRACTZonation of maritime boundaries be regulated by United Nations Convention on the Law Of the Sea 1982 which has been ratified by most of coastal states, includes Indonesia and Malaysia. Indonesia has land borders with Malaysia on Sebatik Island and also maritime border in The Celebes Sea. Areas of this study is located in 01°4653" N - 04°1010" N and 117°5429" E - 119°0226" E. Data processing consist of transforming geographic coordinates into mercator on Indonesia Marine Chart, British Admiralty Chart, and Malaysia Map 1979. Subsequently, digitized on Marine Chart and projecting maritime boundary accordance with the UNCLOS 1982 and the Technical Aspects on the Law of the Sea (TALOS). Maritime boundary is created by equidistant method using circle three points method and topology. Data analysis automatically carried out by Caris Lots software. Then, plotting of the coordinates of the concession blocks of Bukat, Ambalat and East-Ambalat carried out on the basemap. The results of plotting the coordinates concession, Block of Bukat is within territorial sea of Indonesia. Block of Ambalat is within the territorial sea and Additional Zone for Indonesia, while the conssesion block of East Ambalat is fall within the contiguous zone and Exclusive Economic Zone of Indonesia-Malaysia, which are overlapping.Keywords: Maritime Boundary Topology, UNCLOS 1982, TALOS, Caris Lots, Celebes Sea
ANALISIS DAN ARAHAN PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK MENCAPAI SWASEMBADA PANGAN DI KABUPATEN MUARO JAMBI, PROVINSI JAMBI Kurniawan, Agus; Ardiansyah, Muhammad; Sudadi, Untung
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.205

Abstract

Sebagai wilayah “hinterland”, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi memiliki potensi sumberdaya lahan yang perlu dikembangkan dan diarahkan untuk mendukung penyediaan pangan di tingkat lokal maupun regional. Penelitian ini bertujuan menyusun arahan pengembangan lahan untuk mencapai swasembada pangan di Kabupaten Muaro Jambi. Hasil analisis menunjukkan potensi ketersediaan lahan prioritas untuk pengembangan padi sawah seluas 55.899 ha dengan kelas kesesuaian S3 (sesuai marginal) dan 100.870 ha lahan lainnya diarahkan untuk pertanian pangan lahan kering. Untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2031, Kabupaten Muaro Jambi membutuhkan sawah dan lahan kering masing masing seluas 30.545 ha dan 1.064 ha, sehingga potensi lahan yang tersedia masih dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan Kabupaten Muaro Jambi maupun untuk penggunaan lain. Di sisi lain, dalam Rencana Pola Ruang Kabupaten Muaro Jambi dialokasikan lahan untuk sawah dan pertanian lahan kering masing-masing seluas 6.271 ha dan 65.972 ha. Dari pola ruang lahan pangan tersebut, seluas 1.962 ha sawah dan 18.807 ha pertanian lahan kering tidak sesuai dengan kondisi eksisting. Oleh karena itu, Rencana Pola Ruang ini perlu direvisi.Kata Kunci: arahan pengembangan, swasembada pangan, kesesuaian lahan, ketersediaan lahan, pola ruangABSTRACTAs an hinterland, Muaro Jambi Regency, Jambi Province has potential land resource needs to be developed to support the provision of food both at local as well as regional levels. This research aimed to formulate a land development direction to achieve food self-sufficiency in Muaro Jambi Regency. Results of analyses showed the availability of prioritized land for rice fields development amounted to 55,899 ha with suitability class of S3 (marginally suitable), while another 100,870 ha of the land could be directed for dryland food-crop farming. To achieve the food self-sufficiency in the year 2031, Muaro Jambi Regency needs rice fields and drylands of 30,545 ha and 1,064 ha, respectively. Thus, the potentially available lands still can be developed to meet the food needs in Jambi City or allocated for other land uses as well. On the other hand, in the Spatial Regional Plan of Muaro Jambi Regency, lands allocated for rice field and dryland food-crop farming are 6,271 ha and 65,972 ha, respectively. Of this food-crop spatial pattern, area of 1.962 ha and 18,807 ha that are allocated for rice field and dryland food-crop farming do not match with the existing condition. Therefore, this Spatial Pattern Plan needs to be revised.Keywords: development direction, food self-sufficiency, land availability, land suitability, spatial pattern
PEMANFAATAN TEKNOLOGI ECHOSOUNDING DAN PENGINDERAAN JAUH UNTUK PEMETAAN PETA LINGKUNGAN PANTAI INDONESIA SKALA 1:10.000 Windupranata, W.; Hitoyo, R.M.; Ikhsani, A.
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.33

Abstract

Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah pesisir. Peta LPI saat ini telah diproduksi untuk skala 1:250.000, 1:50:000, dan 1:25.000. Berdasarkan Undang-Undang No.4 Tahun 2011 mengenai Informasi Geospasial, Peta LPI untuk skala 1:10.000 juga perlu diproduksi untuk perencanaan yang membutuhkan detail yang jelas, namun memiliki area cakupan yang cukup luas, sehingga biaya yang dibutuhkan dalam pembuatannya relatif lebih terjangkau. Paper ini menjelaskan peranan teknologi echosounding dan penginderaan jauh untuk pemetaan Peta LPI 1:10.000 dengan mengacu kepada standar internasional untuk survei hidrografi (S.44 International Hydrographic Organization Ed.5 Tahun 2008) pada orde 1a (untuk pemetaan di daerah pelabuhan atau sepanjang alur pelayaran) atau 1b (untuk pemetaan di luar daerah pelabuhan atau di luar alur pelayaran). Teknologi echosounding dengan ketelitian sekitar 5% dari kedalaman yang diukur menggunakan teknologi multibeam echosounder (MBES) orde 1a dan singlebeam echosounder (SBES) untuk orde 1b harus diterapkan untuk memenuhi standar tersebut. Teknologi echosounding ini harus disertai dengan metode penentuan posisi di laut yang baik dengan ketelitian kurang dari 5 m, sehingga metode penentuan posisi yang tepat adalah GPS Differential baik dengan DGPS (Differential GPS) atau RTK (Real Time Kinematic). Sementara teknologi Penginderaan Jauh dapat digunakan untuk penggambaran garis pantai, interpretasi tutupan lahan pesisir ataupun dasar laut, serta pengukuran kedalaman. Resolusi citra satelit yang tepat untuk digunakan pada Peta LPI 1:10.000 adalah citra satelit dengan resolusi spasial lebih kecil dari 5 m, seperti citra satelit IKONOS, Worldview, GeoEye dan QuickBird.Kata kunci: LPI, echosounder, citra satelit, standar, IHO.ABSTRACTMap of Coastal Indonesia (LPI) is a base map that provides information specifically for coastal areas. LPI current map has been produced to scale 1: 250,000, 1: 50: 000, and 1: 25,000. Under Law No. 4 of 2011 on Geospatial Information, Map LPI to scale 1: 10,000 also need to be produced for detailed planning requires a clear but has a fairly wide area coverage, so that the costs involved in making relatively more affordable. This paper describes the role of technology echosounding and remote sensing for mapping LPI Map 1: 10,000 with reference to international standards for hydrographic surveys (S.44 International Hydrographic Organization Ed.5 2008) in order 1a (for mapping in the port area or along the shipping channel ) or 1b (for mapping outside the port area or outside the shipping channel). Echosounding technology with an accuracy of about 5% of the measured depth using multibeam echosounder technology (MBES) Order 1a and singlebeam echosounder (SBES) to order 1b should be applied to meet these standards. This echosounding technology must be accompanied by positioning methods in sea well with accuracy less than 5 m, so that the method of determining the exact position is good with Differential GPS DGPS (Differential GPS) or RTK (Real Time Kinematic). While remote sensing technology can be used for the delineation of the shoreline, coastal or land cover interpretation of the seabed, as well as depth measurements. Resolution satellite imagery appropriate for use on LPI Map 1: 10,000 is the satellite imagery with a spatial resolution of less than 5 m, such as IKONOS satellite imagery, WorldView, GeoEye and QuickBird.Keywords: LPI, echosounder, satellite imagery, standard, IHO.

Page 1 of 18 | Total Record : 180