cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)" : 10 Documents clear
Hubungan Pemberian Asi Eksklusif, Pengetahuan, Pendapatan dan Pola Asuh dengan Tumbuh Kembang Anak Balita di Desa Ilie, Banda Aceh Aramico, Basri; Amin, Fauzi Ali; Novita, Riska
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.547 KB)

Abstract

Latar Belakang: Sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu  mendapat perhatian serius. Berdasarkan data puskesmas Ulee Kareng (2013) diketahui 15.8% balita gizi kurang, 29.3% balita stunted, 7.2% balita kurus, 0.5% balita kurus sekali dan 8.8% gemuk. Hal ini perlu mendapat  perhatian agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya dan mampu bersaing di era global Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita di Desa Ilie Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh berjumlah 226 orang. Sampel penelitian secara proporsional random sampling sebanyak 70 orang. Data analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square (α = 0.05). Data primer melalui observasi langsung dengan pengamatan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui pertumbuhan  dan perkembangan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan persentase anak balita dengan tumbuh kembang yang tidak sesuai pada  balita yang tidak ada diberikan ASI eksklusif sebanyak 45.2%, pengetahuan orang tua kurang sebanyak 60.6%, pendapatan keluarga rendah 71.4% dan pola asuh salah 58.1%. Dari hasil uji statistik dapat disimpulkan ada hubungan antara  pemberian ASI eksklusif (P value 0.006), pengetahuan  (P value 0.002), pendapatan keluarga (P value 0.001) dan pola asuh (P value 0.012) dengan tumbuh kembang anak balita. Saran: Puskesmas Ulee Kareng agar memberikan penyuluhan tentang pentingnya memberikan ASI eksklusif dan melakukan stimulasi perkembangan motorik kasar anak balita. 
Kepuasan Pasien Rawat Inap Wanita terhadap Pelayanan Jaminan Kesehatan Aceh di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh Rozanna, Ayu; Kiflan, Amri
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.876 KB)

Abstract

Latar Belakang: Penelitian ini ditujukan  untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa bagi peserta Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) kota Banda Aceh. Metode: Penelitian lapangan dilaksanakan pada Juli-Agustus 2011 dengan melibatkan semua peserta JKA yang dirawat di ruang rawat inap penyakit dalam wanita RSUD Meuraxa. Populasi penelitian berjumlah 393 orang. Sampel sebanyak 43 responden diperoleh berdasarkan perhitungan dengan rumus Lameshow dan dipilih dengan purposive random sampling. Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Hasil: Penelitian ini mengindikasikan sebanyak 53.5% responden menyatakan kurang puas terhadap pelayanan JKA. Saran: Kepada pengelola RSUD Meuraxa untuk meningkatkan kualitas layanan terutama yang berkaitan dengan visitasi dokter. Kunjungan atau visit dokter telah memberikan dampak positif bagi kesehatan pasien dan merupakan salah satu solusi agar kesehatan pasien selalu dalam pengawasan petugas. 
Perbedaan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap Peserta Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Aceh terhadap Pelayanan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Pemerintah Aceh Hafnidar, Hafnidar; Ichwansyah, Fahmi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.01 KB)

Abstract

Latar Belakang: Isu mengenai buruknya pelayanan di rumah sakit masih sering terdengar, terlebih lagi sikap petugas yang terkesan membeda-bedakan pasien, apalagi pasien yang menggunakan program berobat gratis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kepuasan pasien peserta JAMKESMAS dengan pasien peserta Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) di ruang rawat inap Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) tahun 2010. Metode: Penelitian lapangan telah dilakukan pada 20 Mei - 10 Juni 2011. Penelitian bersifat analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian terdiri dari 899 pasien rawat inap peserta JAMKESMAS  dengan sampel 40 orang dan populasi 1618 peserta JKA dengan sampel 40 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan metode wawancara. Hasil: Dari hasil penelitian diperoleh nilai mean/rata-rata kepuasan pasien JKA lebih tinggi daripada pasien JAMKESMAS terhadap dimensi kualitas mutu tanggapan (15,23 berbanding 15,5), jaminan (18,15 berbanding 15,68), bukti langsung (17,95 berbanding 15,75), sedangkan untuk dimensi kualitas mutu kehandalan antara pasien JAMKESMAS dan pasien JKA memiliki nilai rata-rata yang hampir sama (15,28 berbanding 15,68) dan empati (11,73 berbanding 11,15). Saran: Diharapkan kepada petugas RSIA agar menindaklanjuti aspek-aspek yang dianggap belum memuaskan terutama terhadap aspek tanggapan, jaminan, dan bukti langsung.
Tingkat Pelayanan Terhadap Pasien Peserta Jaminan Kesehatan Aceh di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh Yahya, Satria M; Wardiati, Wardiati; Anwar, Syarifuddin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.466 KB)

Abstract

Latar Belakang: Pelayanan kesehatan dikatakan bermutu apabila pelayanan tersebut memberikan kepuasan kepada pasiennya. Keputusan Gubernur Aceh No. 420/483/2010 yang menyatakan bahwa tingkat kepuasan peserta Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) minimal 75%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelayanan pasien peserta JKA di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa Kota Banda Aceh tahun 2011. Metode: Penelitian ini didisain secara cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap pemegang kartu JKA di ruang rawat inap penyakit dalam pria dan wanita. Berdasarkan data rekam medik 2011 berjumlah 186 pasien. Dengan teknik accidental sampling diperoleh sampel sebanyak 65 orang. Pengumpulan data dilakukan pada 26 Juli - 03 Agustus 2011 dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan diskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Penelitian mendapatkan bahwa tingkat kepuasan terhadap kecepatan pelayanan adalah cepat (53,8%), ketersediaan tenaga adalah cukup (56,9%), fasilitas pelayanan adalah memadai (52,3%) dan empati petugas adalah baik (58,5%) dengan total tingkat pelayanan RSUD Meuraxa oleh pasien JKA adalah dinilai kurang (55.4%) yang bertolak belakang dengan rata-rata sub variabel di atas. Saran: Diharapkan kepada petugas kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dengan memperhatikan aspek-aspek seperti kecepatan pelayanan, ketersediaan tenaga, fasilitas dan empati petugas guna meningkatkan kepuasan pasien peserta JKA dimasa mendatang.
Implikasi Jaminan Kesehatan Aceh terhadap Jumlah Persalinan Pada Rumah Sakit/Rumah Bersalin Swasta dan Rumah Sakit Kesdam di Banda Aceh Khairunnisa, Khairunnisa; Abdullah, Asnawi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.794 KB)

Abstract

Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) kini berimplikasi pada meningkatnya jumlah persalinan pada fasilitas kesehatan milik pemerintah. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengetahui implikasinya pada jumlah persalinan pada fasilitas kesehatan milik swasta dan Rumah Sakit Kesdam. Penelitian ini menganalisis perubahan jumlah persalinan antara sebelum dan sesudah berlakunya JKA pada seluruh rumah sakit dan rumah bersalin non JKA di Banda Aceh. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan data sekunder. Data diperoleh berdasarkan rekam medik enam bulan sebelum dan enam bulan sesudah berlakunya JKA. Sampel penelitian terdiri dari 3 rumah sakit dan 3 rumah bersalin. Analisis data menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan bantuan SPSS 16.0. Hasil: penelitian didapatkan bahwa adanya perbedaan yang bermakna pada jumlah pasien bersalin pada rumah sakit/rumah bersalin swasta yang diteliti sebagai berikut: Rumah Sakit Malahayati (P = 0.028), Rumah Sakit Permata Hati (P = 0.043), Rumah Bersalin Ayu (P = 0.046), Rumah Bersalin Hartini (P = 0.027), Rumah Bersalin Bungong Seulanga (P = 0.027). Sedangkan rumah sakit yang tidak mengalami perbedaan yang bermakna adalah Rumah Sakit Kesdam (P = 0,141). Saran: Oleh karena adanya penurunan yang bermakna pada jumlah pasien bersalin setelah program JKA, maka diperlukan untuk melibatkan rumah sakit swasta dan rumah bersalin sebagai mitra pada program JKA dalam memberikan pelayanan persalinan. 
Editorial: Jagalah Kesehatan Anda versus Jaminan Kesehatan Aceh Ismail, Nizam; Abdullah, Asnawi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagalah Kesehatan Anda! adalah suatu ungkapan yang paling sering kita dengarkan pada hampir semua percakapan yang tujuannya mengingatkan satu sama lain akan pentingnya nilai-nilai kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Merujuk dari World Health Organization (WHO, bahwa kesehatan adalah suatu keadaan yang sejahtera dan sempurna fisik, mental, dan sosial, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan1,2. Kesehatan salah satu indikator kesejahteraan masyarakat setempat, sehingga menjadi bagian dari komoditas ekonomi bisnis, sosial budaya, dan bahkan strategi politik dalam sebuah negara. Mantan Sekjend Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada pertemuan di Afrika tahun 2001 mengatakan bahwa sudah menjadi pertentangan yang mendunia dalam pendapat publik (public opinion)2 dimana tidak dapat diterima lagi pernyataan bahwa kesakitan dan kematian merupakan milik penduduk miskin, karena pelayanan kesehatan dan obat-obatan hanya menjangkau orang-orang kaya saja, lebih jauh dari itu sebagai sebuah sistem, maka kesehatan untuk semua (health for all)7 akan lebih bermakna dalam tatanan kehidupan dunia ke depan. Apalagi dalam era globalisasi saat ini hampir tidak ada perbedaan kejadian penyakit-penyakit menular (communicable diseases)2 dan penyakit-penyakit tidak menular (non-communicable diseases)2 antara negara maju dengan negara berkembang khususnya Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS)1,2. Diketahui ada 136 katagori3 penyakit dan penyebab luka pada semua umur diseluruh dunia, 20 jenis penyebab3 kematian terbesar yang didominasi oleh penyakit jantung ischemic3 dan cerebrovascular3, diikuti oleh infeksi saluran pernafasan bawah termasuk pneumonia3, penyumbatan paru-paru chronic3, diare, HIV/AIDS, sedangkan TB masih sebagai penyebab kematian terbesar yang diperkirakan sekitar 3.5 juta meninggal pada tahun 2004. Tepatnya pada tahun 1978 telah dibuat deklarasi kesehatan dunia yang dikenal dengan deklarasi Alma Ata - menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan di seluruh dunia yang memperjuangkan kesehatan sebagai hak azasi manusia4. Semua pemerintah atau negara harus memperhatikan kesehatan sebagai suatu hak azasi di atas semua kepentingan ekonomi dan politik. Namun demikian hanya beberapa negara maju saja yang mampu mencapai derajat kesehatan yang paripurna seperti Swedia, Canada, Norwegia, dan beberapa negara maju lainnya1,5. Di Amerika Serikat sendiri yang diketahui telah menerapkan Medicare1,5 dan Medicaid1,5 sejak pertengahan tahun 1960an belum berhasil melindungi rakyatnya dari keterpurukan pelayanan kesehatan khususnya kepada kelompok miskin dan rentan penyakit. Sehingga pemerintah Amerika Serikat terus berupaya meningkatkan budget Medicaid menjadi $295.9 billion1 pada tahun 2004 dari $205.7 billion1 pada tahun 2000. Itupun belum mampu menfasilitasi rakyat Amerika Serikat menjadi pelayanan kesehatan yang paripurna. Di Indonesia, pelayanan kesehatan disediakan oleh pemerintah melalui suatu sistem pelayanan kesehatan nasional (SKN). Merupakan penjabaran dari UUD’45 pasal 28 ayat 1 yang memberikan hak kepada penduduk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, dan pasal 34 ayat 2 yang memerintahkan negara untuk membangun Sistim Jaminan Kesehatan Nasional6. Di samping itu pemerintah Indonesia juga sudah menjalankan pelayanan dasar secara langsung kepada masyarakat mulai dari pelayanan bidan di Desa, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, dan Puskesmas secara berjenjang sampai kepada pelayanan lanjutan di tingkat rumah sakit7, yang menerapkan sistem subsidi silang antara pasien mampu kepada pasien kurang mampu. Secara individual tentunya sudah terjadi ketidakadilan di antara masyarakat di mana pasien yang mampu harus menanggung beban pasien tidak mampu. Kita ketahui masa sakit merupakan masa tidak produktif  bagi individu tersebut dan seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara negara. Beruntung bagi pegawai negeri sipil (PNS) - meskipun masih banyak keluhan terhadap mutu pelayanan kesehatan yang diterima melalui Asuransi Kesehatan (ASKES), akan tetapi dapat berlega diri dibandingkan dengan mereka yang bukan PNS. PNS dapat mengakses pelayanan kesehatan sampai pada tingkat tertentu melalui jaminan ASKES8. Banyak debat yang terus berlangsung dari kalangan akademisi maupun politikus membicarakan sistem pelayanan kesehatan, mulai dari penerapan bidan di desa sejak tahun 1990an sampai dengan Asuransi Kesehatan Rakyat Miskin (ASKESKIN), Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS), dan Jaminan Persalinan (JAMPERSAL)9. Ketidaksempurnaan sistem yang diterapkan telah menjadi perdebatan yang tidak habis-habisnya di negara ini yang berimplikasi menjadikannya sebagai ranah politik praktis yang diperdagangkan politisi dalam kampanye pemilihan umum legislatif dan eksekutif pada tingkat pusat dan daerah. Upaya pemerintah menjamin fasilitas kesehatan publik terhadap penduduk miskin dan kurang mampu melalui program JAMKESMAS yang populasinya mencapai 61% penduduk8,9 masih sangat terbatas. Terbatasnya obat-obatan dan layanan yang dijamin membuat penduduk miskin dan kurang mampu masih belum sepenuhnya terbebas dari pengeluaran biaya. Peralihan sistem sentralisasi ke desentralisasi menjadi persoalan baru pemerintah lokal dalam menangani persoalan kesehatan masyarakatnya. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDA)11 2007 mengungkapkan bahwa prevalensi gizi buruk pada balita telah mencapai target Millennium Development Goals11(MDGs) yaitu 18.5% pada tahun 2007. Akan tetapi masih ada 19 daerah11 yang prevalensi gizi buruknya di atas nasional, termasuk salah satunya adalah Aceh, dimana hampir semua prevalensi status kesehatan Aceh berada pada posisi terpuruk dibandingkan nasional. Diperhitungkan karena kondisi konflik Aceh yang berkepanjangan ditambah dengan bencana gempa dan tsunami telah menempatkan Aceh pada posisi yang tidak menyenangkan. Terdapat sekitar 29% penduduk10 Aceh yang tidak memiliki jaminan kesehatan sama sekali, meskipun sebagian dari mereka mampu membayar biaya berobat yang relatif murah terutama untuk rawat jalan, namun sebagian besar mereka tidak sanggup membayar biaya rawat inap yang dapat melampaui kemampuan bayarnya. Menjawab amanat Memorandum of Understanding (MoU)10 Helsinky tahun 2005 telah melahirkan Undang-Undang No. 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh. Salah satu persoalan yang perlu segera ditangani telah tertuang pada Pasal 224, Pasal 225, dan Pasal 226 yaitu kewajiban pemerintah Aceh memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada penduduk Aceh terutama penduduk miskin, fakir miskin, anak yatim dan terlantar. Jaminan Kesehatan Aceh10 (JKA) berguna untuk mendorong terlaksananya sistem penyelenggaraan jaminan kesehatan di Aceh dengan mewujudkan jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk Aceh yang berkeadilan, tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, jenis kelamin dan usia dalam rangka meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan. Hampir semua wilayah kabupaten dan kota di Aceh mempunyai peringkat indek Pembangunan Kesehatan Masyarakat7,8,10,11 (IPKM) rendah, kecuali kota Sabang dan kota Banda Aceh di peringkat 12 dan 76 dari 440 wilayah. Bahkan Aceh Jaya dan Aceh Selatan berada pada peringkat 414 dan 424. Berdasarkan kategorisasi IPKM, dari 23 kabupaten dan kota, terdapat tiga kota (Sabang, Banda Aceh dan Subulussalam) dan lima kabupaten (Aceh Besar, Bireun, Aceh Tengah, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang) yang tidak termasuk daerah bermasalah kesehatan12 (DBK). Dengan adanya program JKA diharapkan dapat meningkatkan indikator kesehatan termasuk dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia10,11 (IPM) di Aceh. Obama telah terpilih sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 2009 karena kegigihannya mengkampanyekan pentingnya jaminan kesehatan bagi rakyat Amerika Serikat. Inspirasi tersebut mengilhami pemerintah Aceh periode 2007 – 2011 untuk menyelenggarakan JKA meskipun tidak berjalan secara efektif dalam pelaksanaannya. Hampir setiap hari media lokal mewartakan keluhan penyelenggaraan JKA dari berbagai aspek. Ada beberapa yang menjadi fokus penilaian efektifitas pelaksanaan12,13 JKA yaitu diantaranya kepesertaan, manfaat pelayanan yang dijamin dan prosedurnya, pendanaan dan sistem pembayaran serta pengorganisasian dan pengawasan. Meskipun belum ada evaluasi yang menyeluruh tentang efektivitas JKA, pemerintah Aceh 2012 – 2017 sebelum terpilih juga kerap kali mengakui pentingnya JKA, dan berjanji akan terus menyelenggarakan JKA dengan berbagai perbaikan untuk mensejahterakan rakyat Aceh. Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Aceh tidak hanya cukup dengan jaminan kesehatan gratis yang bersifat menyembuhkan atau mengobati masyarakat yang sakit. Tetapi juga harus meliputi aspek-aspek yang mampu mencegah masyarakat terjangkit penyakit13. Pendekatan dalam merupakan solusi jangka pendek yang tidak akan dapat menyelesaikan masalah kesehatan dalam jangka panjang. Untuk jangka panjang pemerintah Aceh perlu mengupayakan  peningkatan kesejahteraan masyarakat seperti upaya promosi kesehatan dan penyediaan bahan pokok yang murah12,13 sehingga dapat meningkatkan gizi masyarakat, yang pada akhirnya akan membuat masyarakat lebih sehat dan kebal terhadap penyakit. Jagalah Kesehatan Anda (JKA) bukan hanya dengan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).
Meta-Analisis Faktor Risiko Modifiable Penyakit Kardiovaskular di Asia Tenggara Djafri, Defriman; Hasanah, Sri Ridha
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.653 KB)

Abstract

Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko modifiable penyakit kardiovaskular di Asia Tenggara. Metode: Telaah sistematis dan Meta-analisis dilakukan terhadap penelitian Kohort dan Case-control yang dipublikasikan antara tahun 1980 sampai dengan 2013 pada database PubMed, ProQuest, dan EBSCO. Pooled odds ratio (OR) dihitung dengan fixed- dan random-effect models. Data diolah dengan menggunakan Review Manager 5.2 (RevMan 5.2). Hasil: Penelitian ini mereview sebanyak 6.202 artikel dan memasukkan 18 artikel (8 kohort dan 10 case-control) ke dalam telaah sistematis. Dilanjutkan dengan Meta-Analisis terhadap data yang relevan. Hasil Meta-analisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara merokok dengan Penyakit Jantung Koroner (OR 1.38 95% CI 0.81-2.35). Sebaliknya, hasil membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan penyakit jantung koroner (OR 1.92 95% CI 1.17-3.16). Kesimpulan: Faktor risiko modifiable penyakit jantung koroner pada populasi di Asia Tenggara adalah obesitas. Masyarakat diharapkan untuk memanajemen obesitas yang mereka miliki atau mencegah agar tidak menjadi obesitas sehingga dapat menurunkan risiko menderita penyakit jantung koroner. 
Analisis Determinan Kejadian Nyaris Cedera dan Kejadian Tidak Diharapkan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Azizah, Siti Dharma; Rachmawati, Emma
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.452 KB)

Abstract

Latar Belakang:. Salah satu aspek keselamatan pasien yang penting adalah keamanan makanan (food safety) dalam pelayanan gizi yang diberikan kepada pasien. Dalam pelayanan gizi yang diberikan kepada pasien ini rawan terjadi Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), bahkan bisa berdampak  kematian. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya KNC dan KTD di Instalasi Gizi Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross sectional serta menggunakan data primer dan sekunder yang dianalisis dengan uji Chi Square. Sampel adalah seluruh karyawan di Instalasi Gizi berjumlah 35 orang. Pengambilan data dilakukan pada tahun 2014. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa ada 19 karyawan (34,29 %) yang pernah melakukan  KNC dan KTD di Instalasi Gizi. Adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara variabel pendidikan (Pv=0,030), lama kerja (Pv= 0,030), kepemimpinan (Pv= 0,028), serta kerjasama tim (Pv=0.032). Variabel lainnya yaitu kompetensi, beban kerja, sikap, motivasi, kebijakan dan prosedur, komunikasi pelaporan, peralatan, serta lingkungan kerja tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Saran: Diharapkan kepada Pimpinan Rumah Sakit perlu memberikan peluang untuk meningkatkan pendidikan bagi karyawan Instalasi Gizi, serta meningkatkan peran pimpinan dan kerjasama tim melalui pertemuan rutin internal untuk mencegah terjadinya KNC dan KTD di Instalasi Gizi.
Analisis Kadar Boraks dalam Bakso, Cenil dan Rengginang Nasi di Kota Banda Aceh Santi, Tahara Dilla; Candra, Aditya; Abdurrahman, Faisal
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.843 KB)

Abstract

Latar Belakang: Keracunan boraks dapat terjadi melalui makanan seperti  bakso, cenil dan rengginang nasi. Boraks dilarang untuk digunakan di dalam makanan, tetapi ternyata masih ditemukan dalam beberapa produk makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan boraks pada bakso, cenil dan rengginang nasi di kota Banda Aceh tahun 2014. Metode: Penelitian ini didesain secara deskriptif laboratorik dengan pemeriksaan laboratorium secara kualitatif dengan metode nyala api. Populasi adalah bakso, cenil dan rengginang nasi yang dijual Banda Aceh. Sampel diambil secara purposive sampling dari setiap pedagang bakso, cenil dan rengginang nasi yang ada  Banda Aceh tahun 2014. Hasil: Hasil percobaan identifikasi senyawa boraks pada sampel bakso, cenil dan rengginang nasi dengan metode nyala api, diketahui bahwa sampel yang diuji tidak menghasilkan nyala hijau yang berarti tidak terdeteksi adanya kandungan boraks pada sampel. Tidak dapat dilakukan penelitian kuantitatif untuk mengetahui kadar boraks dari bakso, cenil dan rengginang nasi karena pada penelitian secara kualitatif menghasilkan nilai yang negatif (tidak mengandung boraks). Saran: Bagi petugas kesehatan dan BPOM diharapkan meningkatkan pengetahuan pedagang makanan tentang bahaya boraks dan perlu diadakan pemeriksaan  pada bakso, cenil dan rengginang nasi setiap tahun untuk mendapatkan makanan bebas boraks.
Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Jaminan Kesehatan Aceh di Unit Rawat Inap RSUD Aceh Barat Daya Harisah, Nelli; Abdullah, Asnawi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.794 KB)

Abstract

Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) merupakan program berobat gratis yang dibiayai oleh pemerintah daerah untuk memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat Aceh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien JKA yang berdasarkan tingkat kesesuaian nilai harapan dan nilai kenyataan terhadap dimensi kenyataan (tangible), kehandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy) yang dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Barat Daya (ABDYA). Metode: Penelitian bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah semua pasien rawat inap di RSUD ABDYA tahun 2010 yang menggunakan fasilitas JKA. Sampel diambil sebanyak 51 orang dari total populasi 813 orang dengan menggunakan teknik accidental sampling. Hasil: Dari hasil penelitian diperoleh bahwa nilai rata-rata kepuasan pasien JKA terhadap pelayanan RSUD ABDYA di unit rawat inapnya adalah dengan tingkat kesesuaian 71.8% atau puas. Kesimpulan: Hal ini membuktikan bahwa secara keseluruhan berdasarkan variabel-variabel yang diteliti, rata-rata pasien rawat inap RSUD ABDYA ini puas terhadap pelayanan yang diterimanya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10