cover
Contact Name
Amiruddin
Contact Email
amiruddin14@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkariman@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
KARIMAN: Jurnal Pendidikan dan Keislaman
ISSN : 2303338X     EISSN : 25498487     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman" : 9 Documents clear
MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN Wahyudi, Kacung
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.719 KB)

Abstract

Pada zaman dewasa ini lembaga pendidikan dituntut untuk mampu bersaing dengan baik dalam memenuhi atau bahkan melebihi keinginan dan kebutuhan masyarakat sebagai konsumen jasa pendidikan dengan melakukan perbaikan secara kontinu dalam semua aspek pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, manajemen pemasaran pendidikan harus benar-benar diatur seoptimal mungkin untuk bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya. Dalam manajemen pemasaran pendidikan terdapat bauran (alat) pemasaran jasa pendidikan yaitu: produk, harga, lokasi, promosi, sumber daya manusia, bukti fisik dan proses jasa pendidikan. Sedangkan strategi pemasaran pendidikan yaitu: identifikasi pasar, segmentasi, positioning atau diferensiasi, komunikasi pemasaran dan pelayanan lembaga pendidikan. Model pemasaran pendidikan yaitu: pemasaran eksternal, internal dan interaktif. Indikator keberhasilan pemasaran pendidikan yaitu: kepuasan pelanggan pendidikan, loyalitas pelanggan pendidikan dan opini publik terhadap citra lembaga pendidikan.  
TRADISI SHOLAWATAN SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI MASYARAKAT LENTENG BARAT SUMENEP Shidqiyah, Shidqiyah
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.767 KB)

Abstract

Tradisi  sholawatan merupakan tradisi nenek moyang yang diwariskan turun temurun dari generasi kegenerasi. Tradisi shalawatan adalah pertemuan dua arus yaitu tradisi Islam (ajaran membaca shalawat) dan tradisi setempat yaitu tradisi guyub yang merupakan ciri masyarkat Madura. Secara umum masyarakat desa atau masyarakat agraris adalah masyarakat guyup yang diikat oleh tali tradisi setempat. Tradisi setempat di manapun merupakan artikulasi dari nilai-nilai yang diyakininya yang menyejarah yang pada akhirnya  membentuk sosial order atau ketraturan sosial. Demikian juga masyarakat Lenteng Barat Sumenep yang secara georafis berada di Pedalaman, tapi mereka mampu menafsirkan universalitas Islam (yang berupa ajaran dakwah dan silarurrahmi)  dengan lokalitas yang bernama tradisi kompolan shalawatan. Tradisi kompolan sholawatan merupakan perwujudan dakwah dan silaturrahmi antar warga, karena dalam tradisi sholawatan ini ajaran dan syariat Islam dapat tersampaikan. Selain itu dalam tradisi shalawatan ini juga terjadi silaturrahmi antar warga. Silaturrahmi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja karena sudah menjadi tradisi bagi mereka.  
KORELASI PEMIKIRAN ULAMA TERHADAP PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM Hikmawati, Nisrina
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.383 KB)

Abstract

Persoalan theologis sejak masa awal peradaban umat manusia tak pernah ada titik temu. Satu kelompok dengan kelompok lainnya memiliki pemikiran dengan rumpun konsep yang beraneka. Keanekaragaman pemikiran itu terus berlanjut hingga paruh abad berikutnya. Yaitu, sejak manusia terus mengalami proses kemajuan. Baik kemajuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan relasi-relasi sosial lainnya. Semua pemikiran dengan rumpun konsep yang berbedasatu sama lain adalah warna warni kehidupan. Dan semua itu hal yang wajar dan menjadi hukum alam yang menuntut untuk disikapi dengan arif dan bijaksana. Sikap ini pada prinsipnya akan membentuk miniatur pemikiran yang ada pada setiap generasi akan berbeda-beda. Sehingga, mencoba menelaah pemiiran dari satu dekade terhadap dekade selanjutnya akan membuka ruang lebih dinamis dan harmonis. Pemiiran yang berbeda akan menemukan titik temu dari sisi kesamaan prinsip, teori dan tujuan yang hendak dicapai oleh buah pemikiran tersebut. Termasuk titik temu antara pemikiran para ulama terdahulu dengan pemikir modern.
INTEGRASI AGAMA DAN SAINS Shiddiq, Ahmad
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.942 KB)

Abstract

The dichotomy of education in Indonesia is a problem in constructing a paradigm of integrative education. Pesantren which has been symbolized as an Religion of educational institution, actually is not just a religious education. Pesantren is a place of learning knowledge of the world and the hereafter. Integration of Religion and Science in education Pesantren (Implementation Book Itman dirayah ad-li al-Qurra Annuqayah by Imam Jalaluddin As-Suyuti in pesantren Annuqayah).This article uses two approaches methodology: First, the library reseach (library research), is used to facilitate the course of research-based literature, especially the book of Itman ad-dirayah li al-Qurra Annuqayah by Imam Jalaluddin As-Suyuti as the cornerstone of the conception of knowledge boarding while the second, field research (fieldwork) as a way to obtain data on the implementation of the conception of the book of knowledge boarding Itman dirayah ad-li al-qurra Annuqayah by Imam Jalaluddin as-Suyuti in pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. These two approaches are done for research to be carried out, are Conceptual and Applied. So this research was more holistic and integrative. Imam Jalaluddin Assuyuti view that there are fourteen (14) disciplines / knowledge which includes religious sciences, sciences Arabiyah and general sciences, namely Humanities, Medicine and Anatomy. Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep is an institution of Islamic education has the vision and mission and the foundation of integrative education between science and religion with the 14 knowledge contained in the book Itman ad-dirayah li al-Qurra Annuqayah are then summarized in kitam mandhumatun Annuqayah work Kiai Mahfudh Husaini.
EMANSIPASI DALAM PERSPEKTIF MAZHAB KRITIS Rasuki, Rasuki
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.963 KB)

Abstract

Dalam masyarakat modern, ditandai dengan problem kemanusiaan yang belum teratasi. Problem tersebut semisal dominasi kekuasaan atas mayoritas. Kekuasaan terhadap mayoritas itu mengakibatkan berbagai berbentuk penindasan, perbudakan yang harus diakhiri. Terkait dengan alasan tersebut maka tugas ilmuwan sosial harus bertanggung jawab terhadap berbagai ketimpangan sosial. Tanggung jawab ini adalah melakukan emansipasi terhadap kelompok mayoritas yang berada dalam posisi tersubordinasi oleh dominasi atau ideologi. Dengan emansipasi, masyarakat modern dapat keluar dari belenggu dominasi atau ideologi, yang telah menimbulkan ketimpangan tersebut. Bentuk ketimpangan sosial tersebut relatif sulit terditeksi sebab telah menjadi laten. Dimana ketimpangan itu telah menjadi kesadaran massal. Maka emansipasi yang dimaksud adalah menyadarkan masyarakat akan adanya ketimpangan yang tidak disadari, oleh karena telah menjadi kesadarannya. Agar ketimpangan sosial diketahui, maka posisi subversib cukup penting dilakukan. 
KONSEP MANUSIA PERSPEKTIF FILOSOF MUSLIM Rahmat, Ali
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.948 KB)

Abstract

Kajian tentang konsep manusia kali ini hanya dibatasi pada konsep manusia perspektif Ibn Sina dan al-Ghazali. Ibn Sina mengemukakan bahwa hakikat dari manusia terdiri dari dua unsur yaitu:  jasad dan nafs. Dua unsur ini memiliki perbedaan antara jasad dan nafs yang terdapat pada hewan dan tumbuhan. Kehadiran nafs dalam jasad sebagai penjelmaan baginya. Jasad merupakan alat bagi nafs. Selain itu, terdapat pula hubungan yang kuat antara jasad dan nafs. Nafs tidak akan mencapai tahap fenomenal tanpa adanya jasad. Sedangkan menurut al-Ghaza<li menyatakan bahwa hakikat manusia terdiri dari beberapa unsur, seperti: al-nafs, al-ru<h, al-qalb, dan al-‘aql. Keempat unsur ini memiliki fungsi dan peran masing-masing, namun keempatnya saling melengkapi dalam membentuk manusia yang berkepribadian Insan Kamil. Perbedaan potensi yang dimiliki oleh manusia inilah yang menjadikan manusia itu merupakan makhluk termulia di sisi Allah SWT. Tujuan Hidup Manusia ialah tercapainya kebahagiaan. Sedangkan tujuan akhirnya ialah tercapainya kebahagiaan akhirat yang puncaknya yaitu dekat dengan Allah SWT. Adapun relevansi antara pemikiran Ibn Sina dengan al-Ghazali terdapat pada dimensi nafs. Bagi Ibn Sina nafs manusia itu satu, akan tetapi berbeda dengan nafs perspektif al-Ghazali. Menurut al-Ghazali nafs itu terdiri dari nafs ammarah, mutmainnah, dan nafs lawwamah. Adapun yang menjadi hakikat manusia dalam nafs ini ialah nafs mutmainnah. Kemudian dilengkapi oleh al-Ghazali dengan dimensi lainnya,seperti: ruh, hati, dan akal.
HUMANISME PESANTREN Hadi, Abdul
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.296 KB)

Abstract

Pendidikan ideal adalah pendidikan yang tidak hanya  mampu membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, tetapi pendidikan ideal adalah pendidikan yang mampu membenahi segala aspek kehidupan peseta didik baik dari sisi intelektual maupun moral karena pendidikan ideal bertujuan membantu mengoptimalkan dan mengaktualkan potensi kemanusian. Penyediaan pendidikan ideal akan membentuk manusia yang saling menghormati perbedaan, menjunjung tinggi nilai kesamaan dan kebersamaan serta saling menghormati kesamaan posisi dalam aspek nilai kemanusiaan. Pendidikan ideal tersebut dapat ditemukan pada pola pendidikan islam seperti pesantren yang merupakan tempat tinggal para santri atau anak didik untuk dibenahi kepribadiannya yang selaras dengan tujuan pendidikan pada umumnya yaitu membentuk manusia berintelektual dan bermoral. Karakteristik kehidupan dunia pesantren yaitu kesederhanaan dan kemandirian yang bertujuan membentengi diri dari ideologi luar, pembentukan akhlak dan kepribadian, kebersamaan dan kesamaan yang akan bermuara pada proses berperikemanusiaan yang menganggap tidak ada perbedaan antara manusia, karakteristik tersebut selaras dengan nilai humanisme islam yang merupakan konsep tujuan pedidikan yaitu kebebasan, dalam artian manusia adalah makhluk yang mandiri dan bebas berpikir dengan dilandasi aturan Tuhan, persamaan dan persaudaraan sesuai dengan ajaran islam bahwa yang membedakan antar manusia tidak lain hanya tingkat ketaqwaannya.
PARADIGMA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONTEKS PENDIDIKAN NASIONAL Mukhlis, Mukhlis
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.763 KB)

Abstract

Paradigma merupakan  suatu kepercayaan nilai yang dimiliki oleh semua masyarakat untuk menunjukkan sesuatu yang konkrit agar menjadi dasar terjadinya suatu pemecahan permasalahan. Pendidikan islam yang berkembang saat ini memiliki tujuan agar manusia bisa mengabdikan dirinya pada Allah, yang diujudkan dengan melakukan ritual peribadatan. Pada konteks pendidikan  nasional pendidikan Islam sudah mendapat legalitas pendidikan  berlatar belakang agama yang tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003.
MULTIKULTURALISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLEMENTASINYA DI LEMBAGA PENDIDIKAN Hairiyah, Siti
Jurnal Kariman Vol 4 No 2 (2016): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STIT AL-KARIMIYYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.286 KB)

Abstract

Pendidikan agama Islam multikulturalisme merupakan salah satu pelajaran yang diharapkan agar mampu  mengubah orientasi pendidikan agama yang menekankan aspek sektoral fiqhiyah menjadi pendidikan agama yang berorientasi pada pngembangan aspek Universal Rabbaniyah, sehingga dengan hal tersebut dapat memupuk jiwa toleransi beragama dan membudayakan hidup rukun antar umat beragama, serta dapat meningkatkan pembinaan individu yang mengarah pada terbentuknya pribadi berbudi pekerti luhur. Tekhnik pembelajaran berempati bisa digunakan dalam mengimplementasikan pendidikan agama Islam multikulturalisme di lembaga pendidikan.

Page 1 of 1 | Total Record : 9