cover
Filter by Year
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca
Articles
153
Articles
SIMULASI PRAKIRAAN JUMLAH CURAH HUJAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA PARAMETER CUACA (STUDY KASUS DI KOTA PEKANBARU TAHUN 2012)

Ardhitama, Aristya

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 2 (2013): December 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.708 KB)

Abstract

INTISARISimulasi prakiraan jumlah curah hujan bulanan dengan menggunakan input dapat parameter cuaca di Kota Pekanbaru telah  dilakukan menggunakan model persamaan regresi linear berganda. Untuk memvalidasi kebenaran hasil prakiraan jumlah curah hujan dengan model persamaan regresi linear berganda dihitung nilai Mean absolut Error (MAE) dan nilai uji t student untuk mengetahui kesamaan nilai rata-rata dari jumlah curah hujan prediksi dengan jumlah curah hujan aktualnya. Hasil pengolahan data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa simulasi prediksi curah hujan bulanan tahun 2009 dengan menggunakan data parameter cuaca didapatkan penyimpangan nilai MAE sebesar 32.93 mm/bulan dan dari uji t student terbukti bahwa model regresi linear prediksi curah hujan mempunyai kesamaan dengan nilai rata-rata jumlah curah hujan bulanan aktualnya.

USULAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA DENGAN GROUND-BASED GENERATOR UNTUK MENAMBAH DEBIT ALIRAN SUNGAI MAMASA, SULAWESI

Seto, Tri Handoko, Mulyana, Erwin

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 2 (2013): December 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7259.723 KB)

Abstract

IntisariTelah didesain sebuah usulan pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan ground-based generator (GBG) untuk menambah debit aliran sungai Mamasa di Sulawesi guna meningkatkan produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru. GBG adalah metode alternatif operasi penyemaian awan dari darat menggunakan menara. Penelitian tentang GBG telah selesai dilakukan di kawasan Puncak Bogor yang merupakan bagian dari sistem orografik Gunung Gede-Pangrango. Daerah Aliran Sungai (DAS) Mamasa memiliki kemiringan lereng antara 25%-40%. Topografi dengan kelerengan curam berada di bagian tengah, sebagian kecil di bagian hulu serta di bagian hilir DAS. Faktor orografi sangat dominan dalam pembentukan awan di DAS Mamasa. Uap air yang masuk ke DAS dipaksa naik oleh pebukitan di batas DAS sehingga terjadi pembentukan awan. Bagian tengah DAS sisi sebelah barat (Sikuku dan Sumarorong) memiliki curah hujan paling banyak sedangkan bagian tengah sisi sebelah timur (Rippung, Tabone, Tatoa dan Salembongan) memiliki curah hujan paling rendah. Hasil kajian topografi merekomendasikan wilayah Sikuku, Makuang dan Sumarorong sebagai lokasi menara GBG. Sementara itu,  Polewali direkomendasikan untuk lokasi radar. Karena DAS Mamasa adalah daerah yang rawan longsor maka pembangunan menara GBG disarankan dilakukan pada bulan bulan tidak banyak hujan yaitu pada bulan Juni sampai dengan Agustus.AbstractA proposed use of weather modification technology (TMC) with ground-based generator (GBG) to increase Mamasa river flow in Sulawesi to increase electricity production from Bakaru hydropower was designed. GBG is an alternative method of cloud seeding operations from the ground using towers. Research on GBG has been completed in the area of Puncak, Bogor, which is part of the orographic system Gunung Gede-Pangrango. Mamasa Watershed has a slope of between 25% -40%. Topography with steep slopes are in the middle, a small portion in the upstream and in the downstream of watershed. Orography is very dominant factor in the formation of clouds in the Mamasa watershed. Water vapor that enters the watershed is forced up by the hills in the watershed resulting in the formation of clouds. The middle part of west side (Sikuku and Sumarorong) have the most rainfall, while the central part of the eastern side (Rippung, Tabone, Tatoa and Salembongan) has the lowest rainfall. Results of the assessment of topography recommend the area of Sikuku, Makuang and Sumarorong as GBG tower locations. Meanwhile, Polewali recommended for radar location. Because Mamasa watershed is an area that is prone to landslides, the construction of the GBG tower suggested carried out during June to August.   

KARASTERISTIK CURAH HUJAN DAN ALIRAN DAS LARONA KABUPATEN LUWU TIMUR SULAWESI SELATAN

Syaifullah, Djazim

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 2 (2013): December 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11652.464 KB)

Abstract

IntisariKarasteristik curah hujan dan aliran DAS Larona telah dilakukan dengan menggunakan data curah hujan dan aliran (inflow). Data curah hujan 7 buah stasiun data bulanan dan harian 10 sampai 29 tahun dan 8 buah stasiun penakar otomatis untuk mendapatkan data jam-jaman. Nilai inflow biasanya dihitung berdasarkan data outflow. Hasilnya menunjukkan bahwa daerah di sekitar Mahalona, bagian tenggara Matano dan bagian Barat Laut Towuti mempunyai konsentrasi curah hujan yang paling besar. DAS ini masuk musim kering pada bulan Agustus dan September, sementara bulan bulan yang lain termasuk bulan basah. Curah Hujan bulanan maksimum terjadi pada bulan April dengan nilai sekitar 360 mm, sedangkan curah hujan bulanan minimum terjadi pada bulan September sekitar 105 mm. DAS Larona didominasi oleh hujan ringan (kurang dari 5 mm dalam satu harinya) dengan durasi hujan  dominan kurang dari 1 jam (rata-rata sekitar 47 % dari total kejadian hujan). Dari nilai koefisien aliran yang berkisar 0.6 menunjukkan bahwa DAS Larona masih berada pada kondisi moderate dalam hal sebagai reservoir air  AbstractPrecipitation and flow charasteristics of the Larona watershed was conducted by use of the rainfall and inflow data. There are monthly and daily rainfall data 10 until 29 year long for 78 automatic rainfall stations. The value of inflow was calculated based on outflow.The results show that the region around Mahalona, the southeastern of Matano and part of Northwest of Towuti have the most concentration of rainfall. This Catchment came into rainy season on August until September, while other month in the rainy season. Maximum monthly rainfall occurs in april with the value of around 360 mm, while the minimum monthly rainfall happened in september around 105 mm. The Llarona catchment was dominated by light rain (less than 5 mm/day) with the duration of rainfall less than 1mm/hour. From the value of the stream coefficients shows that Larona Catchment are still at moderate condition in terms as water reservoirs

MODEL SIMULASI PRAKIRAAN CH BULANAN PADA WILAYAH RIAU DENGAN MENGGUNAKAN INPUT DATA SOI, SST, NINO 3.4, DAN IOD

Ardhitama, Aristya, Sholihah, Rias

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 2 (2013): December 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10710.559 KB)

Abstract

INTISARI  Saat ini, kondisi cuaca di Pekanbaru dewasa ini begitu cepat perubahannya sehingga sulit diprediksi. Fenomena ini menuntut  prakiraan untuk meningkatkan kualitas hasil prakiraan sehingga lebih cepat, tepat, dan akurat untuk hasil yang diinginkan tersebut. Simulasi prakiraan jumlah curah hujan dengan menggunakan input data prediktor SOI, SST, Nino 3.4 dan IOD dengan parameter cuaca di Kota Pekanbaru telah  dilakukan menggunakan model persamaan regresi linear berganda. Prediktor tersebut digunakan untuk memprediksi curah hujan (CH) tahun 2011 dan 2012.Selain itu berfungsi untuk mengecek kebenaran hasil prakiraan jumlah curah hujan dengan model persamaan regresi linear berganda menggunakan rumus Root Mean Square Error (RMSE) dan Standar Deviasi (SD).Serta kajian penelitian ini berfungsi untuk membuktikan faktor prediktor (SOI, SST, Nina 3.4 dan IOD) yang paling mempengaruhi kondisi curah hujan di Pekanbaru.Data yang digunakan dalam kajian ini adalah data curah hujan sebaran normal dari tahun 1981-2010 pada stasiun wilayah Pekanbaru-Provinsi Riau. Data jumlah curah hujan tahun 2011 dan 2012 hasil observasi dianggap sebagai pembanding untuk verifikasi dan validasi nilai curah hujan (CH) hasil model output simulasi.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa data dari SOI, SST, Nino 3.4 dan IOD memiliki pengaruh terhadap curah hujan di wilayah Pekanbaru Provinsi Riau.Kondisi cuaca terutama curah hujan untuk wilayah Pekanbaru dipengaruhi oleh factor global, regional dan lokal.Dari hasil penelitian terlihat hubungan yang memiliki tingkat korelasi yang tinggi terhadap curah hujan (CH) adalah prediktor SOI.Selain itu, dengan menggunakan RMSE membuktikan bahwa nilai kebenaran pada tahun 2011 lebih baik dibandingkan pada tahun 2012.  

Evaluasi Hasil Pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca di Jawa Barat Menggunakan Analisis Data Curah Hujan

Harsoyo, Budi, Haryanto, Untung, Seto, Tri Handoko, Tikno, Sunu, Tukiyat, Tukiyat, Bahri, Samsul

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 2 (2013): December 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.272 KB)

Abstract

-

KONDISI CUACA PADA SAAT JATUHNYA KINCIR ANGIN DI BARON TECHNOPARK YOGYAKARTA

Mulyana, Erwin

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 2 (2013): December 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2454.083 KB)

Abstract

Intisari  Pembangkit listrik tenaga angin merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sifatnya ramah lingkungan. Pada tanggal 10 Januari 2013 salah satu kincir angin pembangkit listrik di Baron Technopark jatuh sementara  satu kincir angin yang lainnya baling balingnya patah. Kejadian tersebut terkait dengan adanya siklon tropis Narelle di Samudera Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara. Pada saat kejadian, kecepatan angin di kawasan Baron Technopark mencapai 35 knot pada level ketinggian 850 mb. Intensitas hujan maksimum terjadi pada jam 01 WIB tanggal 10 Januari 2013 dengan intensitas 6 mm/3 jam. Kemungkinan besar pada saat kincir angin jatuh terjadi kecepatan angin sesaat (gust) yang sangat kuat. Diperkirakan kecepatannya mencapai lebih dari 75 knot.Abstract  Wind power is one of the renewable energy sources that are environmentally friendly. On January 10, 2013 one of windmill power plants in the Baron Technopark fall whiles the other windmill blades broken. The incident related to the presence of tropical cyclone Narelle in the Indian Ocean south of Nusa Tenggara. At the time of the incident, the wind speed in the Baron Technopark reached 35 knots at an altitude of 850 mb level. The maximum rainfall intensity occurred at 01 pm on January 10, 2013 with the intensity of 6 mm / 3 hours. Most likely at the time of the windmill wind speed falls occur shortly (gust) is very strong. It is estimated that the speed reached more than 75 knots.

MENGULAS PENYEBAB BANJIR DI WILAYAH DKI JAKARTA DARI SUDUT PANDANG GEOLOGI, GEOMORFOLOGI DAN MORFOMETRI SUNGAI

Harsoyo, Budi

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 1 (2013): June 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.169 KB)

Abstract

IntisariBanjir sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Setiap kali musim hujan tiba, Kota Jakarta seolah tidak pernah terlepas dari pemberitaan seputar kejadian banjir yang melanda wilayahnya. Tulisan ini mengulas faktor-faktor penyebab banjir di wilayah DKI Jakarta, terutama dari sudut pandang geologi, geomorfologi dan morfometri sungai yang mengalir dan melintasi wilayah DKI Jakarta. Penulis mengumpulkan bahan pustaka dari berbagai sumber untuk memberikan ulasan dan sebuah kesimpulan bahwa secara kodrat, Jakarta memang merupakan daerah banjir sehingga bagaimana pun, kejadian banjir akan sangat sulit untuk dihilangkan dari wilayah DKI Jakarta.  AbstractFlood cannot be separated from the life of the people around DKI Jakarta. Everytime rainy season comes, Jakarta was never be apart from the news about flood incidence hit this region. This paper reviews some factors causing the floods especially from geological, geomorphological, and morphometrical point of view of the rivers flow across DKI Jakarta. The author gathered materials from various sources to give an analysis and conclusion that Jakarta, by nature, is flooded area so flood event will be very difficult to be removed.

APLIKASI MOBILE ZAPPELINE SEBAGAI MEDIA TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA (TMC) DAN PENIPISAN POLUTAN UDARA (ASAP)

Purwadi, Purwadi, Sunarto, Faisal, Muttaqin, Alfan, Seto, Tri Handoko

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 15, No 2 (2014): December 2014
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7832.013 KB)

Abstract

IntisariTelah dilakukan kajian aplikasi mobile zappeline sebagai media teknologi modifikasi cuaca (tmc) dan media penipisan polutan udara (asap) pada sebuah truk Mitsubishi Colt Diesel berukuran 5,960 x 1,970 meter. Dengan kendaraan tersebut, direkomendasikan dimensi zappeline berbentuk bangun ruang eliptical dengan jari-jari diagonal a dan b masing-masing 3,25 dan 0,65 meter. Selanjutnya, karakteristik aerodinamik dan fisika dihitung dengan memecahkan beberapa persamaan fisika secara numerik pada kondisi atmosfer standart yaitu internasional standart of atmosphere (ISA). Pada kondisi standart ISA, maksimal beban pada ketinggian 1500 meter (5000 feet) sebesar 5,67 kg dan mampu mencapai ketinggian tersebut dalam waktu 1221.93 sekon (+/- 20 menit). Selanjutnya dilakukan perhitungan drag zappeline relatif terhadap udara yang disajikan dalam sebuah grafik yang dapat digunakan bahan pertimbangan dalam desain pendorong zappeline dan perhitungan kekuatan tali.   AbstractStudies of mobile zeppeline aplication as a medium of weather modification technology and media thinning air pollutants (smoke) on a Mitsubishi Colt Diesel truck with dimensions of 5,960 x 1,970 meters have been done. With these vehicles, an elliptical zappeline shape geometry are recommended with diagonal radii a and b, 3.25 and 0.65 meters, respectively. Then, the aerodynamics and physics characteristic are calculated by solving some physics equations numerically at standard atmospheric conditions of the international standard atmosphere (ISA). In the ISA standard conditions, the maximum load at 1500 meters altitude (5000 feet) is 5.67 kg and it is capable to reach that altitude in 1221.93 seconds (+/- 20 minutes). Furthermore, calculation of the air drag relative are presented in a graph that can be used in the design considerations of driving force zappeline and calculation of rope tension.  

PEMANFAATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA UNTUK REDISTRIBUSI CURAH HUJAN DALAM RANGKA TANGGAP DARURAT BANJIR DI PROVINSI DKI JAKARTA DAN SEKITARNYA

Seto, Tri Handoko, Sutrisno, Sutrisno, Tikno, Sunu, Widodo, F. Heru

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 1 (2013): June 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.765 KB)

Abstract

Intisari  Pelaksanaan operasi TMC untuk redistribusi curah hujan di Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu metode mekanisme proses lompatan (jumping process mechanism) dan metode mekanisme persaingan (competition mechanism). Metode mekanisme proses lompatan (jumping process mechanism) dilakukan dengan proses penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan semai NaCl yang ditaburkan ke dalam awan menggunakan pesawat terbang. Tujuannya untuk mempercepat proses hujan pada awan-awan Cumulus yang berada di daerah upwind, yang dari radar terpantau bergerak masuk ke arah wilayah Jakarta. Sementara itu, metode mekanisme persaingan (competition mechanism) dilakukan dengan cara membakar bahan semai dalam flare menggunakan wahana penyemaian dari darat (GBG: Ground-Based Generator) yang terpasang di sejumlah lokasi di wilayah Jakarta, mulai dari hulu (daerah Puncak, Bogor) hingga hilir (sekitar Teluk Jakarta). Metode ini bertujuan untuk mengganggu mekanisme fisika awan-awan konvektif yang tumbuh di atas wilayah Jakarta dan berpotensi menjadi hujan. Secara umum, pelaksanaan TMC yang berlangsung selama 33 hari sejak tanggal 26 Januari sampai dengan 27 Februari 2013 berhasil mengurangi intensitas curah hujan dan resiko banjir di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Selama berlangsungnya pelaksanaan TMC di Provinsi DKI Jakarta, total telah dilakukan 66 sorti penerbangan penyemaian dengan rincian 44 sorti menggunakan pesawat Hercules A-1323 dan 22 sorti menggunakan CASA 212-200 U-616. Total bahan semai NaCl powder yang ditaburkan sebanyak 201,8 ton, sementara dengan GBG telah melakukan pembakaran 486 batang flare di 14 lokasi, dan GBG sistem larutan di 9 lokasi masingmasing selama 158 jam. Berdasarkan data curah hujan historis dari TRMM, curah hujan aktual dari penakar dan TRMM, serta prediksi curah hujan dari GFS diperoleh hasil perhitungan pengurangan curah hujan selama operasional TMC sebesar 20-50%.  Abstract  Implementation of the TMC operations for the redistribution of rainfall in Jakarta and surrounding areas is done using two methods, namely the jumping process mechanism and the competition mechanism. The jumping process mechanism performed by seeding the clouds using NaCl using aircraft. The goal is to accelerate the process of rain on Cumulus clouds in upwind areas, which is observed (using radar) moving in the direction to Jakarta area. Meanwhile, the competition mechanism is done by burning the material seeding in form of flares using Ground-Based Generator installed in several locations in Jakarta, ranging from upstream (Puncak area, Bogor) to downstream (around the Bay of Jakarta). This method aims to disrupt the cloud physics mechanism for the existence of convective clouds that grow in the area of Jakarta and potential rain.In general, the implementation of the TMC which lasts for 33 days from January 26 until February 27, 2013 managed to reduce the intensity of rainfall and the risk of flooding in areas of Jakarta and its surroundings. During the implementation of the TMC in Jakarta, a total of 66 flight sorties have been carried out with 44 sorties using Hercules aircraft A-1323 and 22 sorties using CASA 212-200 U-616. Total seeding material NaCl powder was 201.8 tons, while the Ground-Base Generators have burned 486 flares in 14 locations, and GBG solution system has operated in 9 locations for 158 hours each. Based on historical rainfall data from TRMM, actual rainfall from raingauge and TRMM, and rainfall predictions obtained by the GFS, rainfall reduction during TMC operation was about 20-50%.

ANALISIS ANGIN ATAS DI WILAYAH JAWA BAGIAN BARAT SELAMA KEGIATAN TMC REDISTRIBUSI CURAH HUJAN

Mulyana, Erwin

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 1 (2013): June 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.679 KB)

Abstract

IntisariTelah dilakukan analisis angin pada berbagai level ketinggian pada saat penerapan TMC yang dilakukan pada tanggal 26 Januari s.d 27 Februari 2013. Data yang digunakan adalah data angin tiga jam-an MERRA (1.25o x 1.25o), data angin harian NCEP (2.5o x 2.5o) serta angin gradient dari BOM Australia. Selama kegiatan, angin baratan mendominasi wilayah Jawa bagian barat. Arah angin di Jawa bagian barat sangat dipengaruhi oleh gangguan tropis yang muncul di Samudera Hindia sebelah selatan Indonesia. Terjadi pembalikan arah angin dari angin baratan menjadi angin timuran akibat pengaruh Siklon Tropis Gino di sebelah barat daya Sumatera. Kecepatan angin pada akhir kegiatan mencapai 20 m/s akibat pengaruh Siklon Tropis Rusty di sebelah barat Australia.AbstractThe Application of weather modification has carried out to redistribute  precipitation over Jakarta and the surrounding on 26 January to 27 February 2013. Data used in this study are 3 hourly MERRA wind data (1.25o x 1.25o), daily NCEP wind data (2.5o x 2.5o), and gradient wind analysis data from BOM Australia. The westerly wind dominated over western part of Java.The wind direction in the western part of Java is strongly influenced by the tropical disturbance in the Indian Ocean south of Indonesia. The Tropical Cyclone Gino over Southwest Sumatera caused easterly wind over west part of Jawa. The wind speed up to 20 m/s due to the effect of Tropical Cyclone Rusty in the west of Australia.