Satya Widya
SATYA WIDYA is presenting diverse, yet still within major themes in education. Especially the study of theoretical education and results of descriptive research, classroom action research, experimental and development research, in the purpose of sustainable professionalism development.
Articles
24
Articles
Pengembangan Pengembangan Pendidikan Karakter Melalui Pelayanan BK di Sekolah

Mafirja, Sulma

Satya Widya Vol 34 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak: Pendidikan karakter merupakan salah satu gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etika), olah rasa (estetika), olah pikiran (literasi), dan olah raga (kinesteti) dengan dukungan melibatkan publik dan kerja sama antar sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sementara layanan bimbingan dan konseling merupakan salah satu program layanan yang turut andil dalam pelaksanaan program di sekolah. Sehingga diharapkan implementasi penguatan pendidikan karakter melalui pelayanan BK di sekolah dapat dilaksanakan dan diterapkan dengan efektif dan efesian, agar dapat mencapai tujuan yang lebih optimal bagi perkembangan nilai-nilai karakter yang ada pada peserta didik.

Pola Asuh Keturunan Bangsawan Lalu-Baiq Budaya Lombok dalam Membentuk Karakteristik Anak melalui Layanan Bimbingan dan Konseling

Majdi, Zuhdi

Satya Widya Vol 34 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Parenting is a process in the family, the interaction of parents and children. The family is where a child is born, the first place a child gets an education, consisting of father, mother and child. The family also became the main central place of character education formation of children. Family education is the fundamental or foundation of subsequent childrens education. In the society of the nobility and in general people Sasak known to have the motto of Lomboq Mirah Sasak Adi meaning Lomboq straight meaning. Mirah is a true gem, an elegant precious metal that is very expensive. Sasak comes from sasa sai, sopo, seke which means one. Adi means something that is very high value. Therefore, the true (mule jati) "straight road" is a very noble path, a very high value, as the only path to be followed by the sasak. and the road is a straight path (siratulmustakim) commanded by Allah SWT contained in the Quran and Al Hadith. In the process of learning guidance and counseling teachers are teachers who are tasked to provide guidance to students who are problematic and who are not problematic if considered important by the teacher guidance and counseling, therefore the role of teachers guidance and counseling in the learning process is needed, because learners have problems are diverse

Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Berbasis pada Psychological Well Being Siswa

Oktavia T, Lyanna, Nisa, Alis Nihlatin

Satya Widya Vol 34 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bimbingan dan Konseling sebagai bagian integral dari pendidikan mengemban tugas untuk memfasilitasi dan memandirikan siswa dalam rangka tercapainya perkembangan yang utuh dan optimal. Konselor perlu ikut andil dalam pendidikan karakter sebagai salah satu urgensi dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah guna mencetak siswa yang tidak hanya cerdas namun juga berbudi pekerti yang baik. Pendidikan karakter berorientasi untuk mengembangkan dan membantu watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Melihat arah orientasi tersebut maka diperlukan suatu psychological well-being yang memandang keberadaan individu dapat berkembang sebagai manusia yang seutuhnya, terpenuhi kebutuhannya, dan memberikan kontribusi pada lingkungannya. Memiliki psychological well-being tinggi akan mengantarkan individu pada pribadi yang menyadari keberadaan dan kebermaknaannya, sehingga bisa mengubah tantangan yang ditemuinya menjadi kesempatan untuknya menunjukkan aktualisasi diri.  

Persepsi Orangtua terhadap Pendidikan Anak Usia Dini

Pratiwi, Dea Sita

Satya Widya Vol 34 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The purpose of this study was to find out how the parents perception of early childhood education in RW 01 Dukuh Krajan, Salatiga. The design is descriptive quantitative with the subject of research that is parents who have children aged 3-5 years, amounting to 58 people. Data on parental perceptions are collected through a questionnaire and then will be classified according to the level of parental education, income level of parents, parents who have sent their children and parents who have not send their children to school in early childhood. The result of questionnaire of parents perception in level of education S1 and S2 in good category (50%), SMA / SMK is in Good category (36,11%) and SMP is in Enough category (50%). The calculation of the value of the questionnaire according to the parents income level (a) in the category of Good (33.33%) and Less (33.33%), income (b) is in Good category (41.67%) and income ( c) is in the category of Very Good (57.14%). Then based on parents who have sent their children to school is in Good category (52,38%), perception of parents who have not yet send their child to PAUD is in Enough category (37,84%).

Upaya Pengasuh dalam Membantu Menerapkan Perilaku Disiplin pada Anak (Studi Kasus di Panti Asuhan Salib Putih Salatiga)

Wulansari, Ika

Satya Widya Vol 34 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aims to find out how caregivers in helping children to develop or build discipline from an early age conducted by 3 caregivers of the Orphanage of the White Cross on the Orphanage Children of the White Cross especially against one early childhood. The type of this research is descriptive qualitative with case study method, data collection by interview and data analysis with qualitative. In this study there are 3 subjects that help one child in building discipline. The results of the study show that the discipline of children is increasing from previously unattended discipline until now already have good discipline, in building discipline. The way in which the subject tends to be different from the other caregivers. Subjects do not use corporal punishment and it is done in a better way. The way the subject tends to be a subtle way with good advice, real stories, habits, good examples, daily schedules made, gift giving to children.  

Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Anak Melalui Metode Role Playing di Kelompok Bermain

duha, refisi

Satya Widya Vol 34 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

            Role playing merupakan cara untuk penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan anak yang berperan sebagai subyek pembelajaran aktif. Kegiatan role playing yang dibahas dalam kajian ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan sosial emosional anak kelompok bermain. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan sosial-emosional anak melalui metode role playing di kelompok bermain Fransiskus Xaverius 78, Salatiga. Subjek penelitian ini adalah anak-anak kelompok bermain dengan usia 3-4 tahun yang berjumlah 12 anak, terdiri dari 6 perempuan dan 6 laki-laki. Objek penelitian adalah kemampuan sosial emosional anak melalui role playing. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus dengan tiga kali pertemuan dalam satu siklus. Pada setiap siklus terdapat 3 tahap yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, dan 3) refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan catatan lapangan. Adapun instrumen penelitian yang penulis gunakan adalah berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia nomor 137 tahun 2014 dalam observasi berupa lembar penilaian. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskripstif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukan bahwa ada peningkatan kemampuan sosial emosional anak kelompok bermain melalui metode role playing di KB/TK Fransiskus Xaverius 78 Salatiga. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan kemampuan sosial emosional anak dimana pada pratindakan sebesar 62.96%, pada siklus I meningkat menjadi 75% dan pada siklus II meningkat menjadi 94.44%.                                      

Memadupadankan antara Kompetensi Konselor aspek Asesmen BK dengan Pengembangan Literasi Siswa di Sekolah

Anni, Catharina Tri, Setyowani, Ninik, Kurniawan, Kusnarto

Satya Widya Vol 34 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The global development of the 21st century demanding students ability to be more critical, analytical and creative, so the school have a role as an instrument to shape that personality. School literacy movement is one effort to answer the demands. Through literacy students are conditioned to intelligently analyze, construct mindsets, which ultimately generate critical and dignified behaviors in the deal with the times changing. Student behavior is formed through the conditioning of school environments involving multiple parties, including guidance and counseling teachers. The guidance and counseling teacher should be able to translate the needs of the students to develop literacy skills through programs designed for students. Guidance and counseling teachers are able to integrated student literacy development procedures in classroom learning with services provided to students, so that the development of this literacy is integrated with guidance and counseling services.

Peningkatan Hasil Belajar Siswa SD pada Pembelajaran Tematik melalui Penerapan Model Pembelajaran Role Playing

Kencana Sari, Fransiska Faberta

Satya Widya Vol 34 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri Kecandran 01 Kecamatan Sidomukti, Salatiga pada pembelajaran tematik tema 8.Daerah tempat tinggalku, subtema 1, pembelajaran ke 4 melalui penerapan model pembelajaran role playing. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan mengadopsi model Stringer dengan pelaksanaan tahap look (melihat), think (berpikir) dan act (bertindak).  Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Kecandran 01 sebanyak 33 siswa yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan melalui penilaian autentik dengan menilai sikap (observasi), pengetahuan (tes), dan keterampilan (penilaian kinerja). Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan kondisi awal sebelum tindakan dengan hasil setelah tindakan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar dalam ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dalam ranah pengetahuan hasil belajar meningkat dari persentase ketuntasan 48% dengan rata-rata kelas 67, menjadi 93% dengan rata-rata kelas 85. Dalam ranah sikap rata-rata siswa mampu mencapai predikat B (Baik) dari predikat C (Cukup). Dalam ranah keterampilan hasil belajar meningkat dari rata-rata 62 menjadi 75. Sehingga dapat disimpulkan penerapan model pembelajaran role playing dapat meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran tematik kerena mampu meningkatkan hasil belajar siswa dalam tiga ranah yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan.  

PENGARUH INTENSITAS BERMAIN GAME TERHADAP TINGKAT KOGNITIF (KECERDASAN LOGIKA-MATEMATIKA) USIA 8-9 TAHUN

Manggena, Theresita Febriane, Putra, Kukuh Pambuka, Elingsetyo Sanubari, Theresia Pratiwi

Satya Widya Vol 33 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

 Perkembangan tekonologi yang semakin canggih dapat memudahkan pekerjaan manusia. Salah satu tekonologi adalah gadget. Gadget tidak hanya digunakan orang dewasa namun juga digunakan anak-anak untuk mengakses game. Games juga digunakan untuk mendukung aspek-aspek perkembangan salah satunya kognitif. Perkembangan kognitif sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan otak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh intensitas bermain game terhadap tingkat kognitif (kecerdasan logika-matematika) anak usia 8-9 tahun. Kecerdasan logika-matematika dapat dinilai atau diwakili dari kemampuan berhitung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan soal tes matematika. Teknik Analisis data menggunakan uji normalitas berupa kolmogrov-smirnov, shapiro-wilk dan uji mann-whitney. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Kristen Satya Wacana Salatiga kelas 3 berjumlah 60 anak. Hasil penelitian Responden dengan nilai kemampuan berhitung < 70 sebanyak 30 anak dengan rata-rata waktu bermain game 4.9 jam per hari dan 4.5 jam per minggu. Responden dengan nilai kemampuan berhitung > 70 sebanyak 30 anak dengan rata-rata waktu bermain game 2.8 jam per hari dan 2.2 jam per minggu. Data ini menunjukkan bahwa nilai ≤ 70 cendrung bermain game lama. Durasi bermain game ≤ 3 jam per hari dan > 3 jam per hari memiliki pengaruh signifikan terhadap kognitif. Durasi bermain game ≤ 21 jam per minggu dan > 21 jam per minggu memiliki pengaruh signifikan terhadap kognitif.  Kata kunci: bermain game, kognitif (Kecerdasa Logika-Matematika), kemampuan otak.AbstractThe advance of technology could ease the people for work. One kind of this is gadget. Gadget is not only used by adult, yet the children too to access the game. The game also used to bolster the aspects of growth, either is cognitive growth. Cognitive growth is required to improve the brain power. The purpose of this research is to find out the effect of the intensity of playing games to cognitive level (Logical-Mathematical Intelegence) for the children aged 8-9 years Logical-Mathematical Intelegence may be valued or represented by the numeracy skills. This research utilize quantitative and descriptive method by using several instrument such as math test and questionnaire. Analysis Data Technique, performed by using the normality test of kolmagrov-smirnov, shapiro-wilk and mann-whitney test. This research done in The Christian Primary School of Satya Wacana to 60 3rd graders pupils. The research to the respondent result that 30 pupils who playing games with average of time 4,9 hours a day and 4,5 hours a week have score of numeracy skills ≤ 70. While theother 30 pupils who playing games with verage of time 2,8 hours a day and 2,2 hours a week have score of numeracy skills >70. This data shows that the score <70 owned by the pupils who play the games longer. Duration of playing games <3 hours or >3 hours a day have a significant impact to cognitive level Likewise, duration of playing games <21 hours or >21 hours a week have a significant impact to cognitive level.Key words : Playing Game, Cognitive (Logical-Mathematical Intelegence ), The ability of the brain.

PENILAIAN FORMATIF PESERTA DIDIK ATAS KOMPETENSI PENDIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Blegur, Jusuf, P. Wasak, M. Rambu, Manu, Lukas

Satya Widya Vol 33 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aims to assess teachers’ competence in learning process.  Research used is quantitative approach designed descriptively.  The research paticipant are 76 studens determined by proportional stratified random sampling technique (class A to F). The data for teaching competency were collected using questionnaire developed by the Ministry of Education and Culture (2015), involving 28 closed-statements with Likert scale model. The questionnaire was responded on a scale of 5 to 1 (very good/very high/always up to not good/very low/never). All data is processed by descriptive analysis using SPSS 20.00 for windows. The result is that the 9 courses which are assessed formatively by the participants indicated that the teaching competence is in the very high category (69%) so that it needs to be maintained and developed continuously.