cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 14, No 27 (2015)" : 7 Documents clear
Filosofi Dakwah Nafsiyah Fahriansyah, Fahriansyah
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 14, No 27 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.08 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v14i27.1227

Abstract

Dakwah Nafsiyah is the dakwah process that occurs in ones self. Dakwah Nafsiyah has personal dimension and should be discussed in the first place in the topics of dakwah. This paper attempts to perform parallelization and comparison briefly to the basic conception Dakwah Nafsiyah with the opinion of the philosophers, which is expected to add to the literature of dakwah studies. This article concludes that Dakwah Nafsiyah can be done with hierarchical, proportional dan eclectic patterns.Dakwah Nafsiyah adalah proses dakwah yang terjadi dalam diri pribadi seseorang. Dakwah Nafsiyah berdimensi personal dan harus menempati posisi awal dalam pembahasan dakwah Islamiyah. Tulisan ini mencoba melakukan paralelisasi, komparasi secara singkat terhadap konsepsi dasar Dakwah Nafsiyah dengan pendapat para filosuf, yang nantinya diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dakwah. Artikel ini menyimpulkan bahwa dakwah nafsiyah dapat dilakukan dengan pola hierarki, proporsional dan eklektis.
Dakwah Retoris Dalam Karya Sastra Novel “Habibie & Ainun” Karya Bj. Habibie Rahmah, Mariyatul Norhidayati
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 14, No 27 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.469 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v14i27.1228

Abstract

There are at least four rhetoric principles in preaching: emotional appeals, that is an act of communication that touches dakwah audience, involving emotions, hope and love; using persuasive, gentle, clear, and easy to understand language; understand the conditions of society that lead to soothing dakwah; and is accompanied by strong arguments. Novels can be used as a medium to convey messages of dakwah. Habibie & Ainun Novel is not only literary and romance, but also cultural, political and dakwah novel. Among the strenght of the novel besides the rhetorical language, it is more than just a story, this novel was written by the author based on personal stories, what happened in his life, a love story of believers that gives amazing inspiration for the reader. Dakwah rhetoric in this novel is reflected in various forms accompanying the journey of life, psyche and emotions of the author, have touched the hearts of dakwah rhetoric, persuasive, giving attention to the dakwah goal and argumentative rhetoric.Prinsif Retorika dalam berdakwah paling tidak mengandung empat hal: emotional appeals (imbauan emosional) yakni sebuah tindak komunikasi dakwah yang menyentuh hati sasaran dakwah, melibatkan emosi, harapan dan kasih sayang; menggunakan bahasa persuasive, lemah lembut, jelas, dan mudah dipahami; memahami kondisi masyarakat sehingga mengarah pada dakwah yang menyejukkan hati; dan disertai dengan argumentasi yang kuat. Novel dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Novel Habibie & Ainun, bukan hanya novel sastra dan novel cinta, tetapi juga novel budaya, politik dan novel dakwah. Dan keistimewaan Novel Habibie & Ainun ini disamping bahasanya yang retoris, adalah lebih dari sekedar sebuah cerita, novel ini ditulis oleh pengarangnya berdasarkan kisah pribadi, apa yang terjadi dalam hidupnya, sebuah kisah cinta insan beriman yang memberi insprirasi yang luar biasa bagi pembaca. Dakwah retoris dalam novel ini terpancar dalam berbagai bentuk mengiringi situasi perjalanan hidup, kejiwaan dan emosi sang penulis, ada dakwah retoris menyentuh hati, persuasive, memperhatikan kondisi sasaran dakwah hingga retorika argumentative.
Strategi Dakwah Lewat Iklan Produk Halal di Media Armiah, Armiah
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 14, No 27 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.969 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v14i27.1223

Abstract

Doing dakwah can be customized with media that is currently developing in the community. Preachers can utilize a variety of media that exist in preaching, so the dakwah can reach wide audience, even covers the whole world. We can see today dakwah inserted through advertisements with a wide range of industrial products, food, clothing, cosmetics, and all kinds of needs of life. Islamic messages inserted using Islamic symbols are already known by the public. One of them is halal products on television.Berdakwah bisa menyesuaikan dengan media yang saat ini berkembang di masyarakat. Pendakwah dapat memanfaatkan berbagai media yang ada dalam berdakwah, sehingga jangkauan dakwah menjadi luas, bahkan bisa mencakup seluruh dunia. Dakwah Islam yang disisipkan melalui iklan-iklan dengan berbagai macam produk industri, makanan, pakaian, kosmetik dan segala macam kebutuhan hidup masyarakat, bisa kita saksikan saat ini. Pesan-pesan dakwah Islam yang disisipkan dengan menggunakan simbol-simbol Islam ini sudah mulai dikenal oleh masyarakat. Salah satunya adalah produk halal yang ada di televisi. 
Urgensi Interpersonal Skill Dalam Dakwah Persuasif Sakdiah, Halimatus
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 14, No 27 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.822 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v14i27.1229

Abstract

As social beings, each individual will always interact with others. Dakwah is one form of social interaction. It required the ability to understand, respond, get to know other people and convey the desired message and purpose. Interpersonal skills are basic skills that should be owned by individuals so that interactions can go smoothly, including the implementation of dakwah. Interpersonal skills help preachers to understand and respect other people, which in turn can lead to success in the implementation of persuasive dakwah. This paper specifically explores the importance of interpersonal skills for a preacher in the implementation of persuasive dakwah.Sebagai makhluk sosial, setiap individu akan senantiasa berinteraksi dengan individu lainnya. Dakwah merupakan salah satu bentuk kegiatan interaksi sosial. Untuk itu diperlukan kemampuan memahami, merespon, mengenal orang lain dan menyampaikan pesan dan maksud yang diinginkan. Interpersonal skill merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki individu agar interaksi dapat berjalan lancar, termasuk dalam pelaksanaan dakwah. Keterampilan interpersonal membantu da’i dalam memahami dan menghargai orang lain, yang pada akhirnya dapat membawa kesuksesan dalam pelaksanaan dakwah persuasif. Tulisan ini secara khusus mengupas tentang pentingnya interpersonal skill bagi seorang da’i dalam pelaksanaan dakwah persuasif.
Dakwah Bil-Hal: Prospek Dan Tantangan Da’i Sagir, Akhmad
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 14, No 27 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.826 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v14i27.1224

Abstract

There is a statement that we are experiencing a crisis of leadership that led to the crisis of confidence, both to certain institutions and individuals. It leads to a moral decadence and degradation. Social reality proves the number of murders in cold blood, caused by trivial issues or because they do not want to be responsible for their amoral behavior. These events involve Muslims as the majority of people in this country, both as victims even as the culprit. This is a challenge to dakwah, which makes preachers as a central point. Therefore, this article is presented to provide an overview of the role of preachers in making their daily lives as role models for the surrounding community in which they talk or interact. In Islamic term, it is called Uswah hasanah.Ada pernyataan bahwa kita mengalami krisis kepemimpinan yang membawa pada krisis kepercayaan, baik terhadap lembaga tertentu maupun perorangan. Muaranya adalah dekadensi dan degradasi moral. Realitas sosial membuktikan banyaknya terjadi pembunuhan dengan sadis, yang disebabkan persoalan sepele atau karena tidak mau bertanggung jawab atas prilaku a moral mereka. Eronisnya kejadiankejadian tersebut banyak melibatkan umat Islam sebagai umat mayoritas di negara ini, baik sebagai korban bahkan sebagai pelakunya. Hal ini menjadi tantangan dakwah Islamiyah, yang menjadikan Da’i sebagai titik sentralnya. Oleh karena ini tulisan ini dihadirkan untuk memberikan gambaran tentang peran da’i dalam menjadikan kehidupan kesehariannya sebagai contoh teladan bagi masyarakat sekitarnya dimana dia menyampaikan atau berinteraksi. Dalam term agama disebut Uswah hasanah.
Efektivitas Komunikasi Dakwah Melalui Radio Surianor, Surianor
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 14, No 27 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.616 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v14i27.1225

Abstract

The problems discussed in this paper is about the nature of dakwah and communication and point of contact between the two, the position of radio as a medium of communication to convey messages of dakwah, as well as the effectiveness of the delivery of dakwah messages through radio. This paper concludes, effective dakwah messages delivered via radio, supported by radio producer with the announcers who are capable of processing dakwah material efficiently and effectively, educative, sensitive, and entertaining. The message should be the needs of the listener, at a minimum be able to attract them. The language used should be thoroughly understood by the listener with sound quality that is clear and effective. Given public radio listeners cannot be limited, dakwah radio need to pay attention to diversity of listeners in terms of ethnicity, religion, race and class. The dakwah messages is inclusive, soothing and able to provide solutions to the problems of public life as a characteristic of Islam that rahmatan lil Alamin important to be used as broadcast. From here it is possible that dakwah over radio will be favored so as to encourage more people to accept and practice the teachings of Islam.Permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini adalah mengenai hakikat dakwah dan komunikasi dan titik singgung antara keduanya, kedudukan radio sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan dakwah, serta efektivitas penyampaian pesan dakwah melalui radio. Tulisan ini menyimpulkan, pesan-pesan dakwah efektif disampaikan melalui radio, dengan didukung produser radio bersama para penyiarnya yang mampu mengolah bahan siaran dakwah secara efisien dan efektif, mendidik, menyadarkan, sekaligus menghibur. Pesan tersebut harus menjadi kebutuhan pendengar, minimal mampu menarik minat mereka. Bahasa yang digunakan harus benar-benar dipahami oleh pendengar dengan kualitas suara yang jelas dan efektif. Mengingat masyarakat pendengar radio tidak bisa dibatasi, radio dakwah perlu memperhatikan keragaman pendengarnya baik di segi suku, agama, ras dan golongan. Pesan-pesan dakwah yang bersifat inklusif, menyejukkan hati dan mampu memberikan solusi terhadap problema kehidupan masyarakat sebagai ciri khas agama Islam yang rahmatan lil ’alamin penting untuk dijadikan bahan siaran. Dari sini tidak mustahil dakwah melalui radio akan disenangi sehingga mendorong orang untuk lebih menerima dan mengamalkan ajaran Islam.
Komodifikasi Berita Penyelenggaran Ibadah Haji di SKH Republika Hadi, Syaipul
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 14, No 27 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.016 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v14i27.1226

Abstract

This paper reviewed the fact that many news stories about the Hajj that is always repeated every year, without being able to reveal how to parse problems that always accompany the implementation of the pilgrimage. Viewed from the standpoint of political economy, the news on Hajj is an economic commodity that is profitable for media owners. Therefore, the news about the Hajj continues to be exploited in order to improve the rating or newspaper circulation. It was concluded that the commodification of news on Hajj in Republika daily newspaper was part of the commodification of Islam. Commodification is done with a lot of news coverage of the Hajj which contains information about the Hajj. Commodification is also associated with an audience of many Republika’s readers thus attracting advertisers to advertise in the daily.Makalah ini mengulas tentang fakta banyaknya berita-berita tentang haji yang selalu berulang-ulang setiap tahun, tanpa dapat mengungkapkan bagaimana mengurai masalah yang selalu menyertai pelaksanaan ibadah haji. Dilihat dari sudut pandang ekonomi politik, pemberitaan haji merupakan komoditas ekonomi yang menguntungkan bagi pemilik media. Karena itu, berita-berita tentang haji terus dieksploitasi guna meningkatkan rating berita atau oplah surat kabar. Disimpulkan bahwa komodifikasi berita haji di SKH Republika merupakan bagian dari komodifikasi Islam. Komodifikasi dilakukan dengan banyak memuat berita liputan haji yang berisi informasi tentang haji. Komodifikasi juga terkait dengan khalayak pembaca Republika yang jumlahnya banyak sehingga menarik pengiklan untuk beriklan di harian Republika.

Page 1 of 1 | Total Record : 7