cover
Filter by Year
EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar
Articles
186
Articles
PENINGKATAN ECOLITERACY SISWA TERHADAP SAMPAH ORGANIK DAN ANORGANIK MELALUI GROUP INVESTIGATION PADA PEMBELAJARAN IPS

Kurniasari, Ria

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract:. This research was motivated by the low of students’ ecoliteracy. The low of ecoliteracy could be seen from the students attitudes toward school environment indifference shown by the behavior of many students still waste rubbish everywhere. Such situation has been a concern of researchers and do a study that aims to improve students’ ecoliteracy in sorting organic and inorganic waste. Therefore, to overcome this problem researcher applied group investigation model, which was one type of model of cooperative learning. The research subjects were students in grade V SDN Sindang I. The method used a Class Action Research (PTK) using Kemmis design and Taggart. The instruments used were observation sheet, student conscience questionnaire sheets, interview sheets and evaluation sheets. Overall implementation group investigation brought positive results to the learning activities and students’ ecoliteracy. Based on the research findings from the data that had been obtained showing that students’ ecoliteracy increased from cycle I to III. Increasing ecoliteracy could be seen from the increasing in the percentage level of achievement of various aspects, namely knowledge, conscience, and also the application. It could be concluded that group investigation could improve students’ ecoliteracy in sorting organic and inorganic waste. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya ecoliteracy siswa. Rendahnya ecoliteracy tersebut dapat dilihat dari sikap ketidakpedulian siswa terhadap lingkungan sekolah yang ditunjukkan dengan perilaku masih banyaknya siswa yang membuang sampah sembarangan. Keadaan yang demikian telah menjadi kekhawatiran peneliti dan melakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan ecoliteracy siswa dalam memilah sampah organik dan anorganik. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut peneliti menerapkan model pembelajaran group investigation yang merupakan salah satu tipe model cooperative learning. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas V SDN Sindang I. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan desain Kemmis dan Taggart. Adapun instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi, lembar angket kesadaran siswa, lembar wawancara, dan lembar evaluasi. Secara keseluruhan penerapan group investigation ini membawa hasil yang positif terhadap aktivitas belajar dan ecoliteracy siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian dari data-data yang telah diperoleh menunjukkan bahwa ecoliteracy siswa meningkat dari siklus I sampai dengan Siklus III. Peningkatan ecoliteracy dapat dilihat dari kenaikan persentase tingkat pencapaian dari berbagai aspek, yaitu aspek pengetahuan, conscience, dan juga aplikasi/tindakan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa group investigation dapat meningkatkan ecoliteracy siswa dalam memilah sampah organik dan anorganik.

INFLUENCE OF CONCRETE-PICTORIAL-ABSTRACT (CPA) APPROACH TOWARDS THE ENHANCEMENT OF MATHEMATICAL CONNECTION ABILITY OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS

Putri, Hafiziani Eka, Misnarti, Misnarti, Saptini, Ria Dewi

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract:. The study aims to examine the influence of CPA learning approach towards the enhancement of mathematical connection ability of elementary school students. The present research is a quasi experiment using pretest and posttest design controls in Mathematics applied to 39 elementary school students in Purwakarta, West Java, Indonesia. The results of the study show that mathematical connection ability of elementary school students who were taught using CPA learning approach is enhanced than the elementary school students who were taught using conventional learning as a whole group of high and low achiever students according to their mathematical prior ability. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pendekatan pembelajaran CPA terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematika siswa sekolah dasar. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan menggunakan kontrol desain pretest dan posttest dalam Matematika diterapkan kepada 39 siswa sekolah dasar di Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan koneksi matematika siswa sekolah dasar yang diajarkan menggunakan pendekatan pembelajaran CPA lebih meningkat daripada siswa sekolah dasar yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional secara keseluruhan dalam kelompok siswa berprestasi tinggi dan rendah sesuai dengan kemampuan matematika mereka sebelumnya.

CHARACTER EDUCATION DESIGNED BY KI HADJAR DEWANTARA

Wijayanti, Dwi

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract:. Modern technology makes human life style also changesduring the development of the era. The exchange of information from one place to another becomes easier not only for national scoped but also the international scope. Moreover, it makes the foreign culture can easily enter Indonesia, imitated by society and then give impact to the life style of the society including human’s behaviour. It can be said that there is a moral swing in Indonesia nowadays. Many young people are not really enthusiastic in keeping their own culture. They tend to imitate other cultures, behave inappropriately, use illegal drugs, do free sex, bully each other, make genk, scuffle, and even kill people. One of the reasons of this morality crisis is the exemplary crisis. Adults who are supposed to be role models for the younger generation even provide bad examples such as doing corruption, being selfish and do individualist practices of corruption, collusion and nepotism, mutual checks, doing violence such as grabbing, punching and other crimes.Therefore, the government makes effort to overcome the moral crisis through character education or Budi pekerti education. Basically character education is not new concept, Ki Hajdar Dewantara has designed character education since a long time through its principles, foundations, concepts and teachings about Tamansiswa. The principles and teaching can be implemented to toddlers, children, and adolescents until adults. Through the method of literature analysis, this paper seeks to examine and explore more deeply about the character education which designed according to the teaching of Ki HadjarDewantara. Character education designed according to Ki Hadjar Dewantara applied through basic and teaching of Tamansiswa. Basic Tamansiswa includes Panca Dharma that is Nature of universe, Independence, Culture, Nationality and Humanity. While Tamansiswa teaching includes Tri Ngo (ngerti, ngroso, lan nglakoni), Tri N (niteni, niroke, nambahi), Tri Hayu) and most importantly the Trilogi Kepemimpinan (ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani), all of them are implemented in Tri Pusat Pendidikan  (family, school and community). Abstrak: Teknologi modern membuat gaya hidup manusia juga berubah selama perkembangan zaman. Pertukaran informasi dari satu tempat ke tempat lain menjadi lebih mudah tidak hanya untuk lingkup nasional tetapi juga ruang lingkup internasional. Selain itu, membuat budaya asing dapat dengan mudah masuk ke Indonesia, ditiru oleh masyarakat dan kemudian memberi dampak pada gaya hidup masyarakat termasuk perilaku manusia. Dapat dikatakan bahwa ada ayunan moral di Indonesia saat ini. Banyak anak muda tidak benar-benar antusias dalam menjaga budaya mereka sendiri. Mereka cenderung meniru budaya lain, berperilaku tidak semestinya, menggunakan obat-obatan terlarang, melakukan seks bebas, saling menggertak, membuat genk, perkelahian, dan bahkan membunuh orang. Salah satu alasan krisis moralitas ini adalah krisis yang patut dicontoh. Orang dewasa yang seharusnya menjadi panutan bagi generasi muda bahkan memberikan contoh buruk seperti melakukan korupsi, menjadi egois dan melakukan praktik individualis korupsi, kolusi dan nepotisme, saling memeriksa, melakukan kekerasan seperti menyambar, meninju dan kejahatan lainnya. Oleh karena itu, pemerintah berupaya mengatasi krisis moral melalui pendidikan karakter atau pendidikan Budi pekerti. Pada dasarnya pendidikan karakter bukanlah konsep baru, Ki Hajdar Dewantara telah merancang pendidikan karakter sejak lama melalui prinsip-prinsipnya, yayasan, konsep dan ajaran tentang Tamansiswa. Prinsip-prinsip dan pengajaran dapat diimplementasikan untuk balita, anak-anak, dan remaja sampai dewasa. Melalui metode analisis pustaka, makalah ini berusaha untuk meneliti dan menggali lebih dalam tentang pendidikan karakter yang dirancang sesuai dengan ajaran Ki HadjarDewantara. Pendidikan karakter dirancang sesuai dengan Ki Hadjar Dewantara yang diterapkan melalui dasar dan pengajaran Tamansiswa. Tamansiswa Dasar meliputi Panca Dharma yaitu Alam semesta, Kemerdekaan, Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan. Sementara ajaran Tamansiswa mencakup Tri Ngo (ngerti, ngroso, lan nglakoni), Tri N (niteni, niroke, nambahi), Tri Hayu) dan yang paling penting Trilogi Kepemimpinan (ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani), semua dari mereka diimplementasikan di Tri Pusat Pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat).

DEVELOPING STUDENTS’ CRITICAL WRITING SKILLS OF ELEMENTARY SCHOOL BY USING VOCABULARY CHART

Valentin, Cindy Febilia, Muliasari, Desiani Natalina, Ananthia, Winti

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract:. This article is part of a classroom action research. The paper aims to describe how vocabulary chart is implemented in the writing learning process to develop elementary school students’ English as a Foreign Language (EFL) critical writing skills. The subject of the study is 28 primary school students grade 3 in one of the public schools in Bandung. The Classroom Action Research was employed in the study. The vocabulary chart was used in a 3-cycle lesson consisting of 9 meetings. This paper focuses on the implementation of vocabulary chart in the first cycle. This research is a qualitative research which used classroom observation, documentation, field note and student interview as the instrument of collecting data. After that the obtained data were discussed and processed to be  described, analyzed, and reflected. The data that has been described is then analyzed to  get the findings. In conclusion, the application of the vocabulary chart to develop elementary school students’ EFL critical writing skill can be implemented in two stages, namely: 1) the vocabulary chart delivery, and  2) the using of vocabulary chart in the students’ critical thinking. The study reveals that the vocabulary chart can develop elementary school students’ EFL critical writing skills.Abstrak: Artikel ini adalah bagian dari penelitian tindakan kelas. Makalah ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana bagan kosakata diimplementasikan dalam proses pembelajaran menulis untuk mengembangkan kemampuan menulis kritis bahasa Inggris siswa sebagai Bahasa Asing (EFL). Subyek penelitian adalah 28 siswa sekolah dasar di kelas 3 di salah satu sekolah umum di Bandung. Penelitian Tindakan Kelas digunakan dalam penelitian ini. Bagan kosakata digunakan dalam pelajaran 3-siklus yang terdiri dari 9 pertemuan. Makalah ini berfokus pada penerapan grafik kosakata dalam siklus pertama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan observasi kelas, dokumentasi, catatan lapangan dan wawancara siswa. Setelah itu data didiskusikan dan diproses dengan cara yang dijelaskan, dianalisis, dan dipantulkan. Data yang telah dijelaskan dianalisis untuk melepaskan temuan. Dalam pengiriman grafik kosakata, dan 2) penggunaan grafik kosakata dalam pemikiran kritis siswa. Studi ini mengungkapkan bahwa grafik kosakata dapat mengembangkan keterampilan menulis kritis EFL siswa sekolah dasar.

RE-INTERPRETASI DAN RE-ORIENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF

Herawati, Nenden Ineu

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: The understanding of inclusive education is still inaccurate, so the interpretation and orientation towards that implementation are not appropriate as it should be. Nowadays, be found in the field that term of inclusive education is only limited to children with special needs learned together with general children in regular schools. Whereas, the term of inclusive education refer to provide the possible opportunity or access widely for all children in order to obtain the quality of education and in accordance with the needs without discrimination. Therefore, schools that enroll in inclusive education are required to adjust in terms of curriculum, facilities, the infrastructure of education, and learning systems as well that adjusted with the needs of children with special needs. In the other hand, children with special needs are those with temporary or permanent special needs that require more intense educational services. If children are required to receive an education service that is appropriate to their needs and existence through an inclusive education program, it will provide the possible opportunity widely for all children with special needs to get a proper education according to their needs. Moreover, it can create an education system that respects to diversity, non-discrimination and friendly in learning. Thus, it can implement the mandate of the Constitution of 1945, article 31, paragraph 1, Law of 2003 No. 20 regarding National Education System on article 5, paragraph 1, and Law of 2002 No 23 regarding The Right and Protection of Children in article 51. Abstrak: Pemahaman terhadap pendidikan Inklusif masih belum tepat, sehingga in terpretasi dan o-rientasi pelaksanaannya pun belum sesuai  sebagaimana seharusnya yang sekarang dijumpai di lapangan bahwa yang dinamakan pendidikan inklusif adalah hanya sebatas anak kebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak-anak normal di sekolah reguler.Padahal yang dinamakan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada semua anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan tanpa diskriminasi, oleh karena itu sekolah yang menyeleggarakan pendidikan inklusif dituntut harus menyesuaikan baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan maupun sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik yang berkebutuhan khusus. Sedangkan yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang memiliki kebutuhan khusus sementara atau permanen yang membutuhkan pelayanan pendidikan yang lebih intens. Jika anak berkebutuhan mendapat layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan keberadaannya melalui program pemdidikan inklusif, maka akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua anak berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan kebutuhannya. Serta dapat menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminasi serta ramah terhadap pembelajaran sehingga dapat mengamalkan amanat Undang-Undang-Undang 1945 pasal 31 ayat 1 juga undang-undang  No 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1 dan Undang-Undang no 23 tahun 2002 tentang hak dan perlindungan anak pasal 51.

ANALISIS KESULITAN SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR DALAM MENYELESAIKAN SOAL PEMECAHAN MASALAH

Saja’ah, Ummu Fauzi

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract:. One of the goals of mathematical education is for students to have the ability to solve problems that include the ability to understand problems, design math models, complete the model and interpret the solutions obtained. So that students are expected to solve the problems that they encounter in their daily lives. However, difficulties can not be avoided when students are faced with the problems they encountered. The purpose of this study is to explain 1) Student difficulties in completing problem-solving question based on Polyas approach; 2) The cause of student difficulty in completing problem solving. Research method used is descriptive qualitative research method. The subject of this research is the fourth grade students in one elementary school in West Bandung Regency with a total of 30 students. Once analyzed, the results obtained are that students are having difficulty at 1) Determining the way in which the solution should be done to solve the problem; 2) Perform correct count operation 3) Conclude from result obtained. Abstrak: Salah satu dari tujuan pendidikan matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Sehingga siswa diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kesulitan-kesulitan tidak dapat dihindari ketika siswa dihadapkan pada persoalan yang ia temui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan 1) Kesulitan-kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah berdasarkan langkah menurut Polya; 2) Penyebab kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas IV di salah satu SD di Kabupaten Bandung Barat dengan jumlah siswa 30 orang. Setelah dianalisis, hasil yang diperoleh bahwa siswa mengalami kesulitan pada 1) Menentukan cara penyelesaian yang seharusnya dilakukan untuk menyelesaikan soal tersebut; 2) Melakukan operasi hitung secara benar 3) Membuat kesimpulan dari hasil yang telah diperoleh.

KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIK MAHASISWA PGSD DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER

Yuniawatika, Yuniawatika

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract:. The ability of connections is a capability that students need to possess because it will help master the understanding of concepts and help in solving problems through interrelationships between mathematical concepts, interdisciplinary, and with everyday life. This study aims to determine differences in mathematical connection ability of male and female PGSD students. This research is a research with quantitative approach type of comparative research. The data collection is done by giving the students the ability to test mathematical connection in the form of essay that has been valid and reliable. The total number of students who worked on connection ability test were 63 male and female students who had taken basic mathematics, basic arithmetic, and measurement geometry. The result of the research shows that there is difference of problem solving ability of mathematic problem of PGSD student from gender difference. This means that the mathematical connection ability of male and female PGSD students is different. Abstrak: Kemampuan koneksi merupakan kemampuan yang perlu dimiliki oleh mahasiswa karena akan membantu penguasaan pemahaman konsep dan membantu dalam menyelesaikan masalah melalui keterkaitan antar konsep matematika, antar disiplin ilmu, dan dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan koneksi matematik mahasiswa PGSD laki-laki dan perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif tipe penelitian komparatif. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan mahasiswa tes kemampuan koneksi matematik berbentuk essay yang telah valid dan reliabel. Total mahasiswa yang mengerjakan tes kemampuan koneksi adalah 63 mahasiswa laki-laki dan perempuan yang telah mengambil mata kuliah matematika dasar, aritmetika dasar, dan geometri pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematik mahasiswa PGSD ditinjau dari perbedaan gender. Artinya kemampuan koneksi matematik mahasiswa PGSD laki-laki dan perempuan berbeda.

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN PENGUASAAN KONSEP IPA SISWA SD DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

Nugraha, Widdy Sukma

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract:. The study reported an increase in critical thinking skill and mastery of science concept in Cisomang 2 primary schools through Problem Based Learning Model.  critical thinking skills Indicators that are used in this study refers to a theory that developed by Ennis, while the  Bloom categorization is used as an indicator of mastery of science concepts. This study uses pretest value and postest value to see the comparison. Data analysis performed in this study is calculate the n-gain increase. From the research results, there is an increased critical thinking skills and mastery sciece concepts after using model Problem Based Learning. Based on research result, there are the increase of critical thinking average after the problem based learning model gived to student and the result is30.70,while the mastery science concept 32,17. Abstrak: Penelitian ini melaporkan  peningkatan kemampuan berpikir kritis dan penguasaan konsep IPA peserta didik di SD Negeri Cisomang 2 dengan menggunakan model Problem Based Learning. Indikator kemampuan berpikir kritis yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada teori yang dikembangkan oleh Ennis, sedangkan kategorisasi Bloom digunakan sebagai indikator penguasaan konsep IPA. Penelitian ini menggunakan nilai pretest (sebelum pembelajaran) dan nilai posttest (setelah pembelajaran) untuk melihat perbandingan kemampuan berpikir kritis dan penguasaan konsep peserta didik.  Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah melihat peningkatan N-gain dari hasil instrumen yang sebelumnya dilakukan uji homogenitas dan uji-t dengan program SPSS 18. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil peningkatan kemampuan berpikir kritis setelah pembelajaran dengan rata-rata peningkatan 30,70 sementara untuk hasil tes penguasaan konsep terjadi peningkatan dengan rata-rata 32,17. Baik kemampuan berpikir kritis maupun penguasaan konsep terjadi peningkatan yang signifikan.

PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PEMBELAJARAN MENYIMAK DONGENG DI ERA DIGITAL

Nurani, Riga Zahara, Nugraha, Fajar, Sidik, Geri Syahril

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Learning in the 21st century is inseparable from the influence of digital technology. Learning listening of fairy tale with conventional method (teachers read a fairy tale in front of the class) is no longer suitable to be applied for the students in this digital era, so that a new breakthrough in the use of learning media is needed. Learning listening of fairy tale by using an audio visual media can be one of alternatives used by teachers. Research used an audio visual media in learning listening of fairy tale was conducted in SDN 6 Singaparna. Research method used is descriptive qualitative method. The enthusiasm of students in learning listening of fairy tale by using audio visual media is better than learning listening of fairy tale read by the teacher. This is seen from the average score of listening ability of student’s fairy tales. The average listening ability of student’s fairy tale using audio visual media is 84,53, while the average listening ability of student’s fairy tale before the research  was 67,20. In addition to making the average listening ability of student’s fairy tale increased was by the use of audio visual media that also made students more active in the learning process. This is seen when the teacher asked a few questions when the fairy tale has been played, most students responded well to the questions given by the teacher. Abstrak: Pembelajaran di abad ke-21 ini tidak terlepas dari pengaruh teknologi digital. Pembelajaran menyimak dongeng dengan cara konvensional (guru membacakan dongeng di depan kelas) dirasa sudah tidak cocok lagi diterapkan pada siswa di era digital ini, sehingga diperlukan adanya terobosan baru dalam penggunaan media pembelajaran. Pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media audio visual dapat menjadi salah satu alternatif yang bisa digunakan oleh guru. Penelitian tentang penggunaan media audio visual dalam pembelajaran menyimak dongeng dilakukan di SDN 6 Singaparna. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif.  Antusiasme siswa dalam pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media audio visual lebih baik daripada pembelajaran menyimak dongeng yang dibacakan langsung oleh gurunya. Hal ini terlihat dari rata-rata kemampuan menyimak dongeng siswa. Rata-rata kemampuan menyimak dongeng siswa setelah menggunakan media audio visual adalah 84,53, sedangkan rata-rata kemampuan menyimak dongeng sebelumnya hanya 67,20. Selain membuat rata-rata kemampuan menyimak dongeng siswa meningkat, penggunaan media audio visual juga membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat saat guru mengajukan beberapa pertanyaan saat dongeng telah diputar, sebagian besar siswa merespon dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru.

MENINGKATAKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA SISWA YANG MEMILIKI KECENDERUNGAN ADIKSI SITUS JEJARING SOSIAL.

Dewi, Vivit Puspita

EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 10, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract:. The purpose of the research is to find out and prove empirically about the effectiveness of sosiodrama techniques to improve interpersonal communication skills in students. The main problem of the research was "what is the interpersonal communication skills of students who have a tendency of social networking adiksi can be upgraded through the technique of sosiodrama?", to see the effectiveness will be conducted by uses comparing students with groups of students who have low skills and has a tendency adiksi social networking with students who have only a low skills but dont have the tendency of adiksi social networking. The method of research used quasi experimental design i.e. nonequivalent (Pre test and Post test) Control-Group Design (pre test and post test on two groups), a group of experiments (groups A1 and A2) and control group (group B1 and B2). Sample research consist of 24 students based on the standards of the ideal group with the number of members in each group of 5 members. The sosiodrama technique to be tested had a good influence, that generate a significant increase in overall score changes no students who decline to interpersonal and communication skills to score adiksi the social networking trend decline. Research recommendations are indicated to the supervising teacher (1); and (2) researchers. Abstrak: Tujuan penelitian adalah mengetahui dan membuktikan secara  empiris tentang efektivitas teknik sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal pada siswa.  Masalah utama penelitian adalah “Apakah keterampilan komunikasi interpersonal siswa yang memiliki kecenderungan adiksi jejaring sosial dapat ditingkatkan melalui teknik sosiodrama?”, untuk melihat keefektifan akan dilakukan dengan cara membandingkan siswa dengan kelompok siswa yang memiliki keterampilan rendah dan memiliki kecenderungan adiksi jejaring sosial dengan siswa yang hanya memiliki keterampilan rendah tetapi tidak memiliki kecenderungan adiksi jejaring sosial. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimen kuasi dengan desain nonequivalent (Pre-test and Post-test) Control-Group Design (pre-test dan post-test pada dua kelompok), yaitu kelompok eksperimen (kelompok A1 dan kelompok A2) dan kelompok kontrol (kelompok B1 dan kelomoik B2). Sampel penelitian sebanyak 24 siswa berdasarkan standar kelompok ideal dengan jumlah anggota pada setiap kelompok 5 anggota. Teknik sosiodrama yang diujikan memiliki daya pengaruh baik, yaitu menghasilkan peningkatan yang signifikan perubahan skor secara keseluruhan tidak ada siswa yang mengalami penurunan untuk keterampilan komunikasi interpersonal dan untuk skor kecenderungan adiksi jejaring sosial mengalami penurunan. Rekomendasi penelitian ditunjukkan kepada (1) guru pembimbing; dan (2) peneliti selanjutnya.