cover
Filter by Year

Analysis
Jurnal Jalan-Jembatan
Jurnal Jalan-Jembatan adalah wadah informasi bidang Jalan dan Jembatan berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait yang meliputi Bidang Bahan dan Perkerasan Jalan, Geoteknik Jalan, Transportasi dan Teknik Lalu-Lintas serta Lingkungan Jalan, Jembatan dan Bangunan Pelengkap Jalan. Terbit pertama kali tahun 1984, dengan frekuensi terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. Mulai tahun 2016 terbit dengan frekuensi dua kali setahun, edisi Januari - Juni dan edisi Juli - Desember, dalam versi cetak dan versi elektronik.
Articles
181
Articles
KARAKTERISTIK BITUMEN ASBUTON BUTIR UNTUK CAMPURAN BERASPAL PANAS

Affandi, Furqon

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 25 No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Indonesia saat ini masih melakukan import asphalt dari beberapa negara lain guna memenuhi kebutuhan aspal bagi pembangunan dan pemeliharaan jalan setiap tahunnya. Sementara itu di pulau Buton, provinsi Sulawesi Tenggara terdapat aspal alam yang dikenal dengan asbuton yang sudah diproduksi sejak tahun 1926. Produk asbuton sampai tahun 1987 berupa asbuton butir konvensional dengan ukuran butir maksimum 12,5 mm, dimana kinerja perkerasan yang menggunakan asbuton butir konvensi oanal ini kurang memuaskan, sehingga tahun 1987 produksi Asbuton praktis terhenti. Pada awal tahun 1990 sampai sekarang diproduksi lagi asbuton butir yang mempunyai ukuran butir maksimum lebih kecil, dengan pengiriman yang dikemas dalam karung plastik tahan air, yang digunkan untuk campuran beraspal panas maupun dingin. Tulisan ini menguraikan hasil pengkajian di laboratorium tentang karakteristik bitumen asbuton butir untuk campuran beraspal panas, ditinjau dari fungsinya bitumen asbuton butir dalam campuran, bentuk keruntuhan benda uji campuran beraspal dengan asbuton butir dengan alat uji Marshall, analisa gradasi agregat akibat dari penambahan asbuton butir dalam campuran dan analisa durability dengan metoda Cantabrian. Hasil percobaan dan pengkajian menunjukkan bitumen yang ada dalam asbuton butir sangat sulit untuk memisahkan diri dari mineralnya, sehingga tidak bisa menyelimuti dan mengikat antar agregat yang ada. Dari percobaan kelarutan bitumen asbuton butir dengan minyak tanah yang dipanaskan pada 90ºC selama satu jam, hanya sekitar 55% bitumennya yang larut. Dengan demikian bitumen asbuton butir tersebut tidak bisa bekerja efektif pada campuran beraspal sebagaimana halnya aspal keras.Hal ini ditunjukkan oleh bentuk keruntuhan campuran beraspal dengan asbuton butir pada pengujian stabilitas dengan alat Marshall yang terbelah menjadi dua bagian. Hal ini mempengaruhi kinerja campuran beraspal dan perkerasan tersebut dan perlu segera diatasi diantaranya melalui penggunaan produk asbuton ekstraksi, agar kinerja campuran beraspal dengan asbuton lebih baik serta pemanfaatan kekayaan alam berupa asbuton lebih efektif.     Kata Kunci: Asbuton butir, Campuran beraspal, Pengujian Marshall, Ekstraksi, Stabilitas

POLUSI UDARA DI RUAS JALAN PERKOTAAN

Gunawan, Gugun

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Transportasi di kota-kota besar merupakan sumber pencemaran udara yang terbesar, dimana 70% pencemaran udara diperkotaan disebabkan oleh aktivitas kendaraan bermotor. Selain faktor bahan bakar dan jenis kendaraan, yang berpengaruh terhadap tingkat pencemaran udara, termasuk juga kondisi topografi daerah, faktor meteorologi dan reaktifitas kimia setiap parameter. Hasil monitoring tingkat pencemaran udara di ruas-ruas jalan kota besar seperti : Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar (Bali), dan Serang (Banten), serta kota kota yang dilalui Jalur Pantura tingkat pencemaran udara sudah dan/atau hampir melampaui standar kualitas udara ambient khususnya untuk parameter oksida nitrogen (NOx), partikel (SPM10) dan hidrokarbon (HC).  Bila dilakukan evaluasi dengan Indek Standar Pencemaran Udara (ISPU) sesuai Kepmen Lingkungan Hidup No. 45 tahun 1997, kondisinya sudah termasuk kategori â€sedang” dengan penjelasan bahwa tingkat kualitas udara tersebut tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan sensitif. Beberapa strategi pengelolaan kualitas udara di lingkungan jalan yang mungkin diterapkan dalam upaya-upaya pengelolaan lingkungan jalan adalah : a. Pertimbangan dan penerapan kebijakan serta aturan dibidang lingkungan menjadi satu hal yang penting untuk dilaksanakan dalam seluruh siklus tahap pembangunan/peningkatan jalan. b. Penyertaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, baik pemilik kendaraan, dan pengguna jalan serta masyarakat sekitar lingkungan jalan. c. Penggunaan bahan bakar dan kendaraan yang ramah lingkungan. d. Penataan dan penerapan teknologi pereduksi polusi udara diantaranya : penataan land-scape diruas-ruas jalan dengan tanaman pereduksi polusi udara.     Kata kunci : Polusi Udara, Pengendalian, Perkotaan, Peran Masyarakat

PENINGKATAN KINERJA CAMPURAN BERASPAL DENGAN KARET ALAM DAN KARET SINTETIS.

Suroso, Tjitjik Wasiah

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatnya mutu aspal agar perkerasan dapat tahan terhadap terjadinya deformasi adalah dengan menambahkan karet kedalam aspal.Terdapat dua macam karet yaitu karet alam dan karet sintetis. Karet alam banyak terdapat diperkebunan- perkebunan Indonesia, dengan demikian penggunaanya baik karet alam maupun karet sintetis dapat tepat guna dan sesuai sasaran dalam mengurangi dampak akibat beban lalu lintas yang berat yang saat ini sering ditemui di perkerasan-perkerasan jalan yang ada didaerah-daerah tertentu di Indonesia.  Penggunaan karet alam telah banyak digunakan, namun karet alam adalah bahan organic yang mudah teroksidasi dan terpolimerisasi oleh sinar ultra violet, sehingga mengurangi sifat elastis dari karet alam. Sedangkan karet sintetis adalah karet buatan yang mengurangi sifat negatif dari karet alam, yaitu ketahanannya terhadap oksidasi dan pengaruh cuaca karet sintetis lebih baik dari karet alam.  Makalah ini merupakan hasil penelitian pengaruh penambahan karet alam dan karet sintetis terhadap mutu aspal dan kinerja campuran beraspal dengan pengujian Marshall, Modulus Resilien dengan alat UMATTA dan Stabilitas Dinamis serta kecepatan Deformasi dengan alat Wheel Tracking Machine. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan karet sintetis pada aspal memberikan sifat-sifat yang lebih baik dibandingkan penambahan karet alam terhadap aspal, khususnya ketahanan terhadap pelapukan, titik lembek, Stabilitas Dinamis dan kecepatan deformasi. Sedangkan pada sifat Modulus resilien campuran beraspal, dengan penambahan karet sintetis mempunyai ketahanan terhadap temperatur yang lebih rendah  Dengan demikian aspal plus karet sintetis lebih cocok/ sesuai digunakan pada lalu lintas padat dan berat dibandingkan dengan aspal yang ditambah karet alam ditinjau dari ketahanan terhadap deformasi permanen.     Kata Kunci,: Aspal, karet alam, Karet sintetis, Stabilitas Dinamis, Kecepatan deformasi, Modulus resilien

KAJIAN KARAKTERISTIK LEMPUNG BOBONARO DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Fernandez, G.J. Winston

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Lempung Bobonaro yang tersebar di sepanjang jalan nasional pulau Timor di provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai sifat plastisitas tinggi dan mengandung mineral Montmorillonite, sehingga berpotensi tinggi untuk mengembang dan menyusut pada musim hujan dan kemarau. Pada kondisi jenuh air, parameter kuat geser termasuk kemampuan daya dukung tanah lempung Bobo naro ini menurun cukup signifikan, sehingga tidak akan mampu mendukung beban rencana yang bekerja. Kerusakan yang terjadi pada perkerasan aspal seperti retak- retak memanjang, permukaan bergelombang dan amblesan pada ruas jalan nasional antara Kupang–Atambua diprediksi terjadi akibat karakteristik tanah lempung Bobonaro tersebut.     Kata kunci : Lempung Bobonaro, Tanah ekspansif, Menyusut, Mengembang

UNDERSTANDING TRUCK OVERLOADING BEHAVIOUR AND ITS CONTROL

Gunarta, IGW Samsi

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pelanggaran muatan di jalan raya tidak hanya terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Laporan dari berbagai negara menyebutkan terjadinya persoalan yang mirip di beberapa negara maju, bahkan Amerika Serikat. Penyelesaian persoalan ini banyak dilakukan tanpa melihat latar belakang terjadinya pelanggaran beban lebih dan umumnya dilakukan secara pragmatis tanpa menyentuh persoalan pokoknya.  Paper ini merupakan studi pendahuluan terhadap pelanggaran beban yang diambil dari berbagai pengalaman dalam negeri dan mancanegara. Dari berbagai studi ini ditemukan bahwa penyelesaian masalah pelanggaran beban lebih selama ini lebih memihak pada penyedia infrastruktur dari pada berupaya menyelesaikan masalah secara komprehensif. Masih banyak celah yang ada dalam riset pelanggaran beban lebih terutama berkaitan dengan alasan dibalik perilaku pelanggaran beban.     Kata Kunci : Beban lebih, Angkutan barang, Penegakan peraturan beban, Dampak beban.

CONCERNS ON USING COAL SPOIL DUMPS (COLLIERY SPOILS) AS SUB-STANDARD MATERIALS FOR CONSTRUCTION MATERIALS

Sunaryo, M. Eddie

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Meningkatnya pembangunan sektor infrastruktur karena permintaan kebutuhan berimbas pada kenaikan biaya konstruksi serta berkaitan erat dengan penggunaan material standar yang juga cenderung menjadi mahal dan ini akan berlangsung terus pada masa mendatang. Penggunaan material sub-standar sebagai pengganti keberadaan material standar saat ini sangat di rekomendasikan sebagai penyelesaian meskipun tidak dapat di uji dengan metode test yang telah dikenal karena umumnya memberikan hasil yang berbeda-beda karena mengalami perubahan perilaku di lapangan. Penggunaan material sub-standar sedang gencar disarankan sehubungan dengan peraturan untuk menjaga kesimbangan lingkungan, dengan demikian penggunaan material standar yang umumnya digunakan sudah dibatasi. Selanjutnya, untuk menjaga kualitas lingkungan, seperti kontaminasi lahan, beberapa Pemerintah dari beberapa Negara telah pula menyarankan agar menggunakan material sub-standar (material local) meskipun akan mengalami perubahan karakteristik baik fisik maupun kimia karena kontak dengan bahan lain seperti teroksidasi dengan udara atau kontak dengan air. Limbah Batubara yang masih segar atau belum terkontaminasi dengan bahan lain sebagai material sub standar lebih sering dijumpai dari pada yang sudah terkontaminasi dapat digunakan sebagai material konstruksi seperti ‘bahan timbunan’, ‘lapis pondasi bawah’ dan ‘lapis pondasi atas’ pada konstruksi pekerjaan jalan setelah beberapa rekomendasi penggunaannya dipertimbangkan seperti membuang dan melindungi atau meningkatkan material yang mudah terkontaminasi, meningkatkan ketahanannya dengan pemanasan temperatur tertentu pada material yang belum terkontaminasi untuk memperoleh material dengan kualitas baik, melakukan pengujian terhadap tingkat pencemaran serta mengkaji secara ekonomi untuk mendapatkan gambaran biaya produksinya bila digunakan sebagai material konstruksi.     Kata kunci : Bahan sub - standar, Produk industri dan buatan manusia, Limbah batu bara, Bahan bangunan dan solusi pemanfaatan.

PENCEMARAN UDARA DAN MANAJEMEN LALU LINTAS DI INDONESIA

Kusminingrum, Nanny

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bagi banyak daerah perkotaan, terutama kota-kota besar, permasalahan pencemaran udara telah menjadi satu permasalahan yang akut. Kualitas udara di perkotaan, tanpa disadari sebenarnya telah menurunkan kualitas hidup masyarakatnya sendiri. Setiap manusia bernafas dan udara yang dihirup, jika tercemar oleh bahan berbahaya dan beracun, akan berdampak serius pada kesehatan manusia. Ada tujuh pencemar utama dalam pencemaran udara, yaitu Partikulat (partikel debu), Sulfur Dioksida (SO2), Ozone Troposferik, Karbon monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO2), Hidrokarbo (HC) dan Timbal (Pb). Sumber utama pencemaran itu terutama berasal dari gas buang kendaraan bermotor. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kemacetan di kota-kota besar di Indonesia, sementara kondisi terburuk emisi gas buangan kendaraan adalah pada saat mesin kendaraan hidup, namun kendaraan berhenti. Kadar emisi gas buangan pada saat berhenti dapat mencapai dua kali lipat dibandingkan emisi gas buangan pada saat kendaraan berjalan normal. Tulisan ini mencoba menguraikan alternatif-alternatif strategi manajemen yang dapat digunakan untuk menekan tingkat pencemaran udara dari kendaraan bermotor, termasuk untuk mencegah atau mengurangi titik-titik kemacetan di pusat-pusat kegiatan di kota-kota besar. Salah satu strategi manajemen yang diperlukan adalah manajemen lalu lintas. Secara garis besar, strategi manajemen lalu lintas yang ditawarkan dalam tulisan ini akan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu strategi yang mempengaruhi arus lalu lintas atau jumlah kendaraan bermotor di kawasan tertentu, dan strategi yang mempengaruhi perubahan / peralihan moda transportasi masyarakat. Tawaran-tawaran strategi manajemen yang disampaikan dalam tulisan ini bukanlah sesuatu yang bersifat kaku maupun terlepas satu sama lain. Variasi, penyesuaian, maupun sinergi antar strategi merupakan sebuah keniscayaan, disesuaikan dengan perbedaan karakteristik kota-kota dimana strategi itu diterapkan.     Kata Kunci : Pencemaran udara, Gas buang, Kendaraan bermotor, Kemacetan, Manajemen lalu lintas.

JALUR KHUSUS SEPEDA MOTOR

Iskandar, Hikmat

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kejadian kecelakaan lalu-lintas di Indonesia sudah sering diberitakan dimedia masa, laporan kepolisian tahun 2003 mengindikasikan setiap tahun tercatat kurang lebih 14000 kejadian kecelakaan. Dari jumlah tersebut, sekitar 80% melibatkan sepeda motor, Porsi keterlibatan sepeda motor yang tinggi tersebut menuntut penanganan yang nyata. Salah satu bentuk penanganan yang sudah diimplementasikan dibeberapa negara tetangga adalah pemisahan sepeda motor dari arus lalu-lintas kendaraan bermotor lainnya, dikenal Lajur Khusus Sepeda Motor (LKSM). Pemisahan seperti ini di beberapa kota di Indonesia pun telah ada yang dicoba, sekalipun masih bersifat lokal, bukan merupakan jalan yang standar.  Baik di dalam UU No. 38-2004 tentang jalan maupun PP No.34-2006 yang melengkapinya, tidak mengatur fasilitas khusus untuk sepeda motor. demikian juga dalam tatacara perencanaan geometri jalan. Bentuk LKSM yang telah diimplementasikan diantaranya berupa: a) pemanfaatan bahu jalan yang diperbaiki untuk LKSM (inklusif); b) pengkhususan lajur paling kiri pada jalan multi lajur untuk sepeda motor; dan c) melengkapi LKSM yang terpisah dari lalu-lintas utama dengan geometrik yang di sesuaikan dengan kebutuhan sepeda motor (ekslusif). Makalah ini membahas kemungkinan penerapan LKSM di jalan-jalan umum Indonesia yang meliputi dasar hukum, perlunya kajian karakteristik aliran lalu-lintas sepeda motor, geometrik LKSM, tata cara berlaku lintas, kampanye dan penegakan hukum.     Kata kunci : Geometri Jalan, Lajur Sepeda Motor

SIFAT CAMPURAN ASPAL KERAS YANG MENGANDUNG BITUMEN ASBUTON UNTUK KONSTRUKSI CAMPURAN BERASPAL

Affandi, Furqon

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Aspal mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam suatu campuran beraspal, karenanya penentuan grade aspal perlu disesuaikan dengan temperatur dimana aspal tersebut akan digunakan. Jenis aspal yang umum digunakan di Indonesia ialah aspal keras pen 60 disamping aspal lainnya seperti aspal polimer, atau aspal yang dimodifikasi. Tulisan ini mengemukakan aspal keras pen 60 yang dimodifikasi dengan bitumen asbuton yang sudah tidak mengandung mineralnya lagi, mengingat asbuton merupakan kekayaan alam Indonesia dengan deposit yang cukup besar. Hasil pengkajian menunjukkan penambahan bitumen asbuton bisa menjadikan aspal lebih keras, lebih tahan terhadap temperatur tinggi yang ditunjukkan dengan nilai titik lembeknya yang meningkat serta menjadi lebih kuat terhadap perubahan temperatur. Dengan melakukan pengujian DynamicShear Rheometer (DSR) padacampuran aspal dengan berbagai kadar bitumen asbuton, didapat suatu rentang temperatur penggunaan aspal yang sesuai untuk setiap campuran aspal yang mengandung bitumen asbuton, berkaitandengan ketahanan terhadap deformasipermanen dan ketahanan terhadap retak fatigue (lelah). Aspalyang mengandung bitumen asbuton mempunyai ketahanan terhadap deformasi dan retak pada temperatur yang lebih tinggi dibanding aspal keras tanpa bitumen asbuton, sehingga campuran aspal dengan bitumen asbuton cocok untuk iklim tropis sepertiIndonesia.     Kata Kunci : Bitumen asbuton, penetrasi, titik lembek, Dynamic Shear Rheometer, deformasi, retak

PENGGUNAAN FOAM BITUMEN UNTUK DAUR ULANG PERKERASAN JALAN

Yamin, R. Anwar, Widayat, Djoko

Jurnal Jalan-Jembatan Vol 25 No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pada struktur perkerasan yang telah mengalami kegagalan, umumnya perbaikan dilakukan adalah dengan memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan meningkatkan daya dukung struktur  perkerasan tersebut dengan jalan memberikan lapis tambah baru (overlay) atau membongkar lapisan beraspal lama yang diikuti dengan perbaikan dan penambahan lapis pondasi serta memberikan lapis beraspal baru sebagai lapis penutupnya. Semua pekerjaan tersebut memerlukan material baru dan menyebabkan perubahan elevasi muka jalan. Perbaikan dan peningkatan daya dukung struktur perkarasan jalan dengan pemanfaatan kembali (daur ulang) material yang telah digunakan pada struktur jalan existing mungkin merupakan suatu solusi yang dapat dilakukan. Banyak jenis bahan yang dapat digunakan untuk memperbaiki ataupun untuk meningkatkan mutu bahan yang akan didaur ulang, salah satu diantaranya adalah foam bitumen. Foam bitumen adalah campuran antara udara, air dan bitumen yang dicampur dengan komposisi tertentu. Foam bitumen dihasilkan dengan cara menginjeksikan air ke aspal panas di dalam foaming chamber. Foam bitumen dapat digunakan sebagai bahan penstabilisasi hampir untuk semua jenis material termasuk material hasil daur ulang perkerasan jalan. Penggunaan foam bitumen harus diikuti dengan penambahan filler aktif (semen/kapur) pada material yang akan didaur ulang. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembuatan dan keberhasilan daur ulang dengan menggunakan foam bitumen ini. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran mengenai sifat foam bitumen, faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan foam bitumen, jenis bahan yang dapat didaur ulang dan kinerja laboratorium serta lapangan campuran yang distabilisasi dengan foam bitumen.     Kata Kunci : Foam bitumen, bahan penstabilisasi, daur ulang, kinerja laboratorium, kinerja lapangan.