Jurnal Biodjati
Articles
46
Articles
Eksplorasi Jenis dan Potensi DNA Barcode Anggrek Thrixspermum Secara In Silico

Rohimah, Siti, Mukarramah, Luluk, Sindiya, Vita, S., Veren Yuliana,, K., Gita Ayu,, Su’udi, Mukhamad

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Thrixspermum merupakan anggrek yang memiliki ciri khas berbunga dalam waktu yang singkat. Akibatnya, dalam pengklasifikasian menggunakan morfologi cenderung sulit untuk dilakukan. Sehingga perlu adanya pengklasifikasian menggunakan cara alternatif misalnya dengan marka molekuler menggunakan DNA. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari barkode DNA dari beberapa spesies Thrixspermum yang ada pada GenBank NCBI. Berdasarkan data dari NCBI, hanya terdapat 19 spesies dari genus Thrixspermum yang telah diteliti sekuennya. Dari total 19 spesies tersebut, setelah dilakukan pensejajaran sekuen menunjukkan bahwa pada lokus matK dan rbcL memiliki tingkat homologi yang tinggi, sementara pada lokus ITS menunjukkan lebih banyak variasi genetik. Terdapat dua spesies yakni T. annamense dan T. marguense yang berpotensi memiliki barcode pada lokus ITS. Selain itu, didapatkan pohon filogenetik dari 19 spesies Thrixspermum yang telah diketahui senkuennya pada NCBI.  

Keragaman Jenis Burung Pada Berbagai Komunitas di Pulau Sangiang, Provinsi Banten

Fikriyanti, Mariana, Wulandari, Wulandari, Fauzi, Irpan, Rahmat, Ade

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Burung merupakan satwa liar yang banyak ditemukan diberbagai tipe habitat. Indonesia sendiri merupakan rumah bagi 17%  spesies burung yang ada di muka bumi. Keragaman jenis burung pada suatu komunitas juga dapat menjadi indikator lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis burung pada berbagai tipe komunitas yang terdapat di Pulau Sangiang, Banten. Komunitas yang diamati yaitu komunitas hutan dataran rendah, kebun dan hutan mangrove. Metode yang digunakan adalah metode Point Count, dimana pada tiap komunitas ditentukan sebanyak enam titik hitung yang mempunyai jarak sekitar 200 m tiap titik hitungnya. Berdasarkan penelitian ini didapatkan 52 spesies burung dari 31 famili yang tersebar di masing-masing ekosistem. Dari ketiga komunitas, indeks keanekaragaman tertinggi dijumpai pada ekosistem kebun yaitu senilai 2.76, ekosistem mangrove dengan nilai 2,61 dan indeks keanekaragaman paling rendah terdapat pada ekosistem dataran rendah dengan nilai indeks keanekaragaman 2.56. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa persebaran jenis burung pada tiap komunitas merata yang ditunjukkan oleh indeks kemerataan pada masing-masing tipe komunitas yang nilainya mendekati satu.

Optimalisasi Penggunaan Pupuk Majemuk Sintesis NPK 15-15-15 dengan Pupuk Hayati Trichoderma sp. untuk Tanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum)

Fatchullah, Deden, Masnenah, Endeh, Rahman, Ramdani Abdul

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pupuk NPK mempunyai peranan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta hasil umbi bawang merah. Salah satu cara memperbaiki hasil dan kualitas umbi bawang merah, yaitu dengan aplikasi pupuk NPK 15-15-15 dan pupuk hayati Trichoderma. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan kombinasi aplikasi pupuk NPK 15-15-15 dan pupuk hayati Trichoderma sp yang sesuai untuk meningkatkan hasil dan kualitas umbi bawang merah. Penelitian dilakukan di bawah naungan plastik Balai Penelitian Tanaman sayuran, Lembang (1.250 m dpl) dari Juli – Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial 3x3 dengan 3 ulangan. Faktor I adalah dosis pupuk NPK 15-15-15 yang terdiri dari 3 taraf yaitu: 0 kg/ha, 250 kg/ha dan 500 kg/ha. Faktor II adalah pupuk hayati yang terdiri dari 3 taraf yaitu: Trichoderma, Trichoderma + Aspergillus dan Trichoderma+ Penicillum, masing-masing dengan dosis 1010. Parameter yang diamati meliputi; tinggi tanaman, luas daun, dan bobot kering tanaman 40 hst, analisis tanaman pada 40 hst (kandungan unsur hara N, P, dan K tanaman), hasil umbi benih saat panen (jumlah umbi anakan, bobot individu umbi, bobot umbi per tanaman dan bobot umbi total), kandungan bahan kering umbi saat dipanen, analisis bobot akar (segar) bobot akar kering setelah umbi dipanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk NPK 15-15-15 dosis 250 kg/ha yang dikombinasikan dengan pupuk hayati Trichoderma + Aspergillus meningkatkan persentase akar bawang merah dengan bobot kering akar bawang merah tertinggi  didapat pada perlakuan aplikasi NPK 15-15-15 dosis 250 kg/ha + pupuk hayati Trichoderma yakni 13,67. Hasil umbi bawang merah nyata meningkat dengan aplikasi pupuk hayati Trichoderma, yaitu bobot individu umbi (8,58 g), bobot umbi per rumpun tanaman (40,97 g/tanaman) dan bobot total umbi (10,24 t/ha)..

Study of Mud Clam Polymesoda erosa (Bivalvia) Conservation Strategy Based on Landscape Character and Anthropogenic Activity

Kadarsah, Anang, Krisdianto, Krisdianto, Susilawati, Ika Oksi

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Information on landscape character and anthropogenic activity is necessary to develop conservation strategy, especially for mud clam (Polymesoda erosa) sustainability harvesting. The purpose of this study is to identify the landscape character and anthropogenic activity that influence mud clam conservation strategy in the coast of Tabanio Village, Takisung Sub-District in Tanah Laut Regency. The research discovered seven types of landscape in the coastal area of Tabanio namely human settlements, rice fields, plantations, cemetery abandoned land, offices, and other public infrastructures. Landscape, landscaping, abandoned land and settlements provide the largest contribution (96 %t) in the formation of coastal characters. Related to changes in landscape structure, environmental pollution activity in the form of waste disposal to the landscape is the most frequent activity (91.4 %) related to changes in landscape structure. Destructing collecting, cutting down  and destroying plants and animals in and from the region (87.7%) are the most frequent anthropogenic activities related to the conservation of mud clam in the coast of Tabanio Village. The landscape zonation consists of four i.e : recreation zone, mangrove forest zone, economic zone and distribution zone. The position of each zone tends to clump primarily for the economic zone behind the recreation zone. The core zone  of the landscape design at Tabanio Coast , Takisung District is concentrated in the recreation zone which functions as a meeting place for various communities (fishermen, traders and visitors) and the government workers (village officials and TNI-Polri). Furthermore, the recreation zone also facilitates activities that support coastal economy and tourism. Community assistance programs are required to build the capacity of fishermen and farmers as an effort to achieve a successful mud clam conservation and management in Tabanio Village, Takisung District.

The Effect of Seed Coating with Trichoderma sp. and Application of Bokashi Fertilizer to the Quality of Soybean (Glycine max. L) Seed

Umadi, Sarah Sakinah, Sumadi, Sumadi, Sobarna, Denny Sobardini

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The decrease of soybean productivity was caused by low quality of seed. To improve the quality of seed, soybean seed were coated  with Trichoderma sp. and adding bokashi organic fertilizer. This research aimed at finding the best dose combination of Trichoderma sp.  and bokashi fertilizer to improve the quality of soybeans. The research was conducted in the experiment field and Laboratory of Seed Technology at Padjadjaran University in April - August 2017. The experimental design in this research was Randomized Block Design (RBD). The treatments were the combination  of four dose values of coating the seed by Trichoderma sp. (0g/100 seeds, 1g/100 seeds, 2g/100 seeds, and 3g/100 seeds) and three dose  of bokashi (0g/polybag, 300g/polybag, and 600g/polybag) and each treatment was replicated three times. The experiment result showed that all treatments on soybean seeds did not affect the germination percentange, vigor index, and conductivity value, but affected the seed quantityof 600g/polybag of bokashi and without seed coating with Trichoderma sp.  on 100 seed mass and seed weight per plant.

Growth of Rice (Oryza sativa) Varieties: Mendawak, Inpari 34, Ciherang, and Bangir in Ciganjeng Village, Pangandaran District

Prayoga, Muhamad Khais, Rostini, Neni, Simarmata, Tualar, Setiawati, Mieke Rochimi, Stoeber, Silke, Adinata, Kustiwa

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Type of rice varieties is one of the important factors that affecting rice production. For countries, rice breeders of Indonesia can take advantage of specific environmental potential in determining the distribution policy of superior varieties. The purpose of this study was to observe the appearance of plant height and the number of tillers of four rice varieties in Ciganjeng Village, namely Mendawak, Inpari 34, Ciherang, and Bangir. The design used completely randomized block design and repeated three times. Observations were carried out eight times in the vegetative phase, started from 14 days to 63 days after planting. This research was participatory and involved farmers. Farmers roled as observers to measure and record observation. All data analyzed by ANOVA with tukey’s HSD test as post hoc test. The results showed that both Inpari 34 and Bangir variety had the highest average plant height growth while Mendawak and Bangir has the highest average number of tillers.

Antibakteri dari Bulu Babi (Diadema setosum) Terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

Indrawati, Ida, Hidayat, Tri Rahayu, Rossiana, Nia

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bulu babi (Diadema setosum) merupakan biota perairan yang memiliki nilai gizi tinggi. Senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh bulu babi memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai senyawa antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aktivitas antibakteri dari ekstrak duri, badan dan gonad Bulu Babi. Metode penelitian yaitu metode eksploratif dan dianalisis secara deskriptif, melalui tahapan ekstraksi dengan pelarut etanol dan uji sensitivitas dengan metode difusi Kirby-bauer. Bulu babi diperoleh dari Pantai Barat Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Dari ketiga ekstrak bulu babi, ekstrak gonad memiliki aktivitas antibakteri tertinggi pada konsentrasi 80% dengan zona hambat 8,5 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan konsentrasi 80% dengan zona hambat 14 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus, dan didapatkan 3 isolat  bakteri dari duri bulu babi dan isolat  yang didapatkan adalah koloni putih kekuningan termasuk basil gram positif, koloni putih termasuk basil gram positif dan basil gram negatif serta koloni kekuningan yang termasuk basil pendek gram positif. Isolat 1 lebih efektif  terhadap S. aureus dengan zona hambat 11 mm. Isolat 2 lebih efektif terhadap E. coli dengan zona hambat 11 mm. Isolat 3 memiliki zona hambat yang hampir sama antara kedua bakteri uji.

Uji Aktivitas Bakteriofage Litik dari Limbah Rumah Tangga Terhadap Salmonella Typhi

Jatmiko, Yoga Dwi, Purwanto, Agung Putra, Ardyati, Tri

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Salmonella Typhi merupakan salah satu bakteri yang menjadi agen penyakit bawaan makanan. Bakteriofage sebagai alternatif penggunaan antibiotika telah digunakan untuk mengendalikan bakteri tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan isolat bakteriofage litik yang mampu melisis beberapa bakteri patogen yang diujikan dan mengetahui pengaruh aktivitas bakteriofage litik terhadap pertumbuhan SalmonellaTyphi. Bakteriofage diisolasi dari limbah rumah tangga. Selanjutnya penentuan host range bakteriofage terhadap bakteri patogen lain dilakukan dengan metode spot test. Uji aktivitas bakteriofage terhadap SalmonellaTyphi dilakukan menggunakan metode bacterial challenge test. Berdasarkan hasil isolasi, didapat enam isolat bakteriofage, yaitu B2-St, B3-St, S1-St, S2-St, SL1-St, dan SL3-St. Semua isolat bakteriofage mampu melisiskan sel bakteri Escherichia coli dan Salmonella Typhimurium namun tidak mampu melisiskan Bacillus cereus, Staphylococcus aureus dan Shigella disentriae.Tiga isolat bakteriofagetelah terpilih berdasarkan densitas plaque terbanyak yaitu B2-St, SL3-St dan S2-St. Kemampuan isolat bakteriofage B2-St dalam melisiskan sel Salmonella Typhi lebih tinggi (6,81 ± 0,35 log sel/mL) daripada isolat bakteriofage SL3-St (7,39 ± 0,31 log sel/mL) dan S2-St (7,60 ± 0,27 log sel/mL). Penurunan densitas sel inang terendah oleh ketiga isolat bakteriofage terjadi pada jam ke-4. Bakteriofage B2-St merupakan bakteriofage terbaik dan berpotensi sebagai agen biokontrol Salmonella  Typhi. 

Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Sambiloto Terhadap Jumlah dan Motilitas Spermatozoa Mencit Jantan

Susilo, Susilo, Akbar, Budhi, Pratinaningsih, Ika

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Ness.) di Indonesia dikenal sebagai salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun sambiloto terhadap jumlah dan motilitas spermaozoa mencit (Mus musculus L.) jantan galur DDY. Sebanyak 24 ekor mencit jantan dengan berat antara 100-125 g yang dibagi menjadi empat kelompok perlakuan, diberikan ekstrak etanol secara oral selama 15 hari. Kelompok mencit pada perlakuan satu (P1) diberikan ekstrak etanol daun sambiloto 84 mg/kg bb. Kelompok mencit pada perlakuan dua (P2) dan tiga (P3) masing-masing diberikan ekstrak etanol daun sambiloto 140 mg/kg bb dan 196 mg/kg bb. Sedangkan kelompok kontrol (P0) tidak diberi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan P3 (196 mg/kg bb) menunjukkan jumlah spermatozoa terbanyak yaitu 7,33 juta/ml, mengalami penurunan sebesar 78,86% terhadap kontrol.  Kandungan senyawa andrografolid dan flavonoid pada ekstrak sambiloto diduga kuat menjadi penyebab penurunan jumlah dan motilitas spermatozoa mencit. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa pemberian ekstrak etanol daun sambiloto berpengaruh terhadap jumlah dan motilitas spermatozoa mencit jantan.

Condition of Food Sanitation and Hygiene in East Bandung, West Java

Paujiah, Epa, Solikha, Maratus, Suryani, Yani

Jurnal Biodjati Vol 3, No 2 (2018): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Food security is one of the health problems in Indonesia which is related to the lack of knowledge of how the production process, the hygiene and health of the food. This study aims to describe the sanitary and hygienic conditions of food sold by merchant in Cibiru, Bandung City, West Java. The study was conducted in May-June 2017 by determining five sampling location based on the number of merchant in Cibiru. Data was obtained through questionnaire filling of 40 respondents at each sampling point which was then analyzed to find out the characteristics of social-demographic of the respondents, personal hygiene, and support of environmental sanitation. The results shows that the sanitation and hygiene of food in the aspect of knowledge of personal hygiene showed that the food handler was experienced food processors (88%) and 12% had no experience even though their last education was not linear with their trading profession. In addition, respondents knowledge of individual hygiene shows that out of the nine aspects observed, 33% are in the high category, 11% are moderate and 56% are in the low category. Aspects of environmental sanitation and other support of food sanitation show that the conditions are in the clean and adequate category. All of these aspects can be used as a basic consideration in further counseling about food hygiene and food processing so that it can avoid unpredictable outbreaks.