cover
Filter by Year

Analysis
JURNAL WALENNAE
Articles
271
Articles
GEOARKEOLOGI KARST SAROLANGUN, JAMBI

Intan, Fadhlan Syuaib

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sarolangun Karst belongs to the Sarolangun Regency, preserving the cultural remains of the mesolithic period, which has not been too concerned by environmental researchers, especially geoarchaeology. This is the issue that covers general geological conditions. The purpose of this research is to mapping the surface geology in general as an effort to present geological information related to archeological site. The aim is to know the geomorphological, stratigraphic aspects of the archaeological sites. The research method is done through literature review, survey, field data analysis and interpretation. Environmental observations provide information on the landscape of the study area consisting of terrestrial morphology units, weak wavy morphology, strong corrugated morphology units, and karst morphology units. The rivers are dendritic and rectangular, along with the mature-old river, the Old River, Periodic/Permanent River and the Episodic/Intermittent River. The rocks of prehistoric cave compilers are limestones. The geologic structure is a fracture of the shear fault type. Exploration at Sarolangun Karst has listed 6 cave sites. From the classification of petrology, litik tools made of jasper, chert, basalt and andesite rocks. Rock as a raw material litik, found around caves in both the outcrop and boulder. For obsidian sources are located in Bukit Hulu Simpang and Bukit Legal Tinggi.Karst Sarolangun termasuk wilayah Kabupaten Sarolangun, menyimpan tinggalan budaya yang berasal dari masa mesolitik, yang selama ini belum terlalu diperhatikan oleh peneliti lingkungan, khususnya geoarkeologi. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan yang mencakup kondisi geologi secara umum. Adapun maksud penelitian ini adalah melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya menyajikan informasi geologi terkait dengan situs arkeologi. Tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi di situs-situs arkeologi. Metode penelitian dilakukan melalui kajian pustaka, survei, analisis data lapangan dan interpretasi. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alam daerah penelitian yang terdiri dari satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, satuan morfologi bergelombang kuat, dan satuan morfologi karst. Sungainya berpola aliran dendritik dan rektangular, berstadia Sungai Dewasa-Tua, Sungai Tua, Sungai Periodik/Permanen, dan Sungai Episodik/Intermittent. Batuan penyusun gua prasejarah adalah batugamping. Struktur geologi berupa patahan dari jenis patahan geser. Eksplorasi di Karst Sarolangun telah mendata 6 situs gua. Dari klasifikasi petrologi, alat-alat litik terbuat dari batuan jasper, chert, basal dan andesit. Batuan sebagai bahan baku alat litik, banyak ditemukan di sekitar gua-gua baik dalam bentuk singkapan maupun boulder. Untuk sumber obsidian terdapat di Bukit Hulu Simpang dan Bukit Legal Tinggi.

ARKEOFAUNA KAWASAN KARST BONTOCANI KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN

Fakhri, nfn

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aims to provide a description of the fauna that once interacted with a human in the Bontocani karst Area in Bone District. Of the few excavated sites providing data availability of bone fragments that can be analyzed by conducting comparative studies with existing faunal composition of the fauna. The method of data collection is by excavation at some sites in this Karst Area. The results of this study document a wide range of vertebrates in the Balang Metti fauna including fish, frogs/toads, lizards, snakes, birds, Strigocuscus, Ailurops ursinus, insectivorous bats, Sulawesi monkeys, rats, Sulawesi pigs, babirusa and Anoa. In some layers of culture, the absence of anoa, indicates the environmental change from the environment of the fields and the weeds to the wet rain forest environment around the site, along with the extinction of this fauna. Based on the identified fauna bone analysis, it is illustrated that past habitats and environments in Bontocani Karst area have not changed much. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran secara lebih jelas tentang fauna-fauna yang pernah berinteraksi dengan manusia pendukung kebudayaan yang ada di Kawasan Karst Bontocani di Kabupaten Bone. Beberapa situs yang telah diekskavasi memberikan ketersediaan data berupa fragmen tulang yang dapat dianalisis dengan melakukan studi komparasi dengan komposisi tulang fauna yang ada saat ini. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan ekskavasi di beberapa situs yang ada di Kawasan Karst ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar jenis fauna yang ditemukan di situs ini adalah fauna bertulang belakang antara lain: ikan, kodok/katak, kadal, ular, burung, strigocuscus, Ailurops ursinus, kelelawar pemakan serangga, monyet sulawesi, tikus, babi sulawesi, babi russa dan anoa. Pada beberapa lapisan budaya, tidak adanya temuan fauna anoa, menunjukkan perubahan lingkungan dari lingkungan padang dan ilalang menjadi lingkungan hutan hujan basah di sekitar situs, seiring dengan punahnya fauna ini. Berdasarkan analisis tulang fauna yang berhasil diidentifikasi digambarkan bahwa habitat dan lingkungan masa lampau di Kawasan Karst Bontocani tidak banyak mengalami perubahan.

Biodata Penulis

Redaksi, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

TRANSFORMASI BENTUK MAKAM RAJA-RAJA TANETE DARI ABAD KE-17 HINGGA ABAD KE-20

Nur, Muhammad

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Our understanding of the cultural transformation phase of the Islamic grave in South Sulawesi is still limited to the study of its territorial scope, not specific to a particular locality or kingdom. This study aims to determine the stage of transformation of Islamic shape tomb in Tanete Kingdom, Barru and its causal factors. The research used artefactual data which are four complex of King Tanete tomb, interview data and historical data. The methods used are survey, interview, literature study, identification, and interpretation. The study concludes three stages of transformation shape tomb at Tanete, the first transformation of the early seventeenth century characterized by tombstone, both occurring in the mid-18th century to the beginning of the nineteenth century characterized by decorative and inscribed tombs, and the third occurred beginning of the 20th century with the characteristic of European architecture. The cause of the three stages of the transformation of the tomb is the external factor, the first stage of the Gowa kingdom, the second stage of Malay culture, and the third stage is the influence of political relations with the Dutch Government. Pemahaman kita tentang fase transformasi budaya kubur Islam di Sulawesi Selatan masih terbatas pada kajian yang sifatnya wilayah, belum spesifik pada satu lokalitas atau kerajaan tertentu. Penelitian ini bertujuan mengetahui tahapan tranformasi bentuk makam Islam di Kerajaan Tanete, Barru dan faktor penyebabnya. Data yang digunakan adalah data artefaktual yaitu empat kompleks makam Raja Tanete, data wawancara dan data sejarah. Metode yang digunakan adalah survei, wawancara, studi literatur, identifikasi dan interpretasi. Penelitian ini menyimpulkan tiga tahap transformasi bentuk makam di Tanete, transformasi pertama pada awal abad ke-17 yang dicirikan oleh makam bercungkup, kedua terjadi pada pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-19 yang dicirikan oleh makam dekoratif dan berinskripsi, dan ketiga terjadi awal abad ke-20 dengan ciri arsitektur Eropa. Penyebab tiga tahap transformasi bentuk makam tersebut adalah faktor eksternal, tahap pertama dari kerajaan Gowa, tahap kedua dari budaya Melayu, dan tahap ketiga adalah pengaruh hubungan politik dengan Pemerintah Belanda.

Preface

Redaksi, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

PERANG PASIFIK DI PULAU MOROTAI: Rekonstruksi Infrastruktur dan Strategi Perang

Handoko, Wuri, Godlief, Arsthen P., Alputila, Cheviano E.

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pacific war in Morotai is an important historical event in Indonesia as well as in the world. The Pacific war involving two major powers, the Allies and Japan, left a trail of archaeological studies examined to record a very important historical event in the Pacific region of Morotai Island. Based on the concept of military archaeology, this study uses archaeological data to reconstruct infrastructure and allied strategies in combat against Japan. Investigation of these remains proceeded through studying textual and photographic records on the Allies occupation of Morotai Island, and examination of modern-day aerial photographs of the terrain where the Allies built their infrastructure, followed by archaeological survey and through interviewing local residents to describe traces of the Pacific war infrastructure. The results explain that the preparation of good infrastructure by the allies is part of the war strategy, which determines the win for the allies against the Japanese.Perang pasifik di Morotai merupakan peristiwa sejarah yang penting di Indonesia dan juga di dunia. Perang Pasifik yang melibatkan dua kekuatan besar, Sekutu dan Jepang, meninggalkan jejak arkeologi peperangan yang dikaji untuk merekam peristiwa sejarah yang sangat penting di kawasan pasifik di Pulau Morotai. Berdasarkan konsep military archaeology, penelitian ini menggunakan data arkeologi untuk merekonstruksi infrastruktur dan strategi sekutu dalam pertempuran melawan Jepang. Investigasi arkeologi dilakukan dengan mempelajari catatan tekstual dan fotografis tentang pendudukan Pulau Morotai oleh Sekutu, dan pemeriksaan foto-foto udara modern di daerah Sekutu membangun infrastruktur, dan selanjutnya melakukan survei arkeologi dan wawancara penduduk setempat untuk menggambarkan jejak infrastrukutr perang pasifik. Hasil penelitian menjelaskan bahwa penyiapan insfrastruktur dengan baik oleh pihak sekutu merupakan bagian dari strategi perang, yang menentukan kemenangan bagi pihak sekutu dalam melawan Jepang.

Panduan Penulisan

Redaksi, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Cover

Redaksi, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Reviewer Acknowledgement

Redaksi, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

MEMAKNAI LUKISAN GUA UHALIE: PENDEKATAN STRUKTURALISME LÉVI STRAUSS

Saiful, Andi Muhammad

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

South Sulawesi is an area that has many prehistoric painting sites. Research on the meaning of the painting is still very limited. Therefore this paper attempts to examine the meaning contained the Uhalie Cave site by Lévi Strauss structuralism approach. The issues raised in this paper are how the meaning of Uhalie Cave paintings and why anoa and pigs became the object of paintings in the Uhalie Cave. The answer obtained from the issues will explain the behavior of a group of painters located in the village. The methods used in this study are collecting secondary data of Uhalie Cave Research, then doing analysis of painting classiffication, finding the pattern of painting in the cave, finding sintagmatic, paradigmatic, transformation, determining signified-signifer, and distinctive feature. The result of this study explain that the happines and grief manifestation of Uhalie Cave human in hunting.Sulawesi Selatan merupakan wilayah yang memiliki banyak situs lukisan prasejarah. Penelitian terhadap makna lukisan tersebut masih sangat terbatas, oleh karena itu karya tulis ini mencoba mengkaji makna yang terkandung pada situs Gua Uhalie dengan menggunakan pendekatan strukturalisme Lévi Strauss. Masalah yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana makna lukisan Gua Uhalie dan mengapa anoa dan babi menjadi objek lukis di Gua Uhalie. Jawaban yang didapatkan dari permasalahan tersebut akan menjelaskan tingkahlaku kelompok pelukis yang terletak di daerah pedalaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengumpulkan data sekunder hasil penelitian Gua Uhalie kemudian melakukan analisis klasifikasi lukisan, menemukan pola keletakannya, menetukan tanda-penanda (signified-signifer), sintagmatik, paradigmatik dan transformasi, serta menentukan ciri pembedanya (distictive feature). Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa lukisan tersebut merupakan perwujudan suka duka manusia pendukung Gua Uhalie dalam melakukan perburuan.