cover
Filter by Year
JURNAL WALENNAE
Articles
212
Articles
​
MANGNGADE: CIRI TRADISI MEGALITIK DI DESA WANUAWARU, MALLAWA, MAROS

Saiful, Andi Muhammad

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Mangngade or ‘performing custom’ is a common activity in Wanuawaru Village, Mallawa District, Maros Regency, which is conducted in December and January. The problem in this research is how Wanuawaru villagers doing it and how position Manggade to Wanuawaru Villagers. There are three stages during the Mangngade procession namely visiting salo, gathering in Saoraja, and gathering in Bulu Posso. In Mangngade, the community performs prayers related to agriculture to avoid natural disasters, to beg for peace, safety, and success of personal life. The methods of data collection are ethnographic method and archaeological data recording. The results of data recording are then analyzed using concept in megalithic culture. Based on those data, it is finally concluded that Mangngade is the character of a megalithic tradition that is still carried out by the Wanuawaru villagers from generation to generation for confession about their community.Mangngade atau ‘menjalankan adat’ merupakan kegiatan masyarakat di Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang dilakukan pada bulan Desember dan Januari. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu bagaimana proses acara Mangngade dan kedudukannya dalam masyarakat Desa Wanuawaru. Terdapat tiga tahap saat prosesi Mangngade, yaitu mengunjungi salo, berkumpul di Saoraja, dan berkumpul di Bulu Posso. Dalam Mangngade, masyarakat melakukan doa-doa yang berkaitan dengan pertanian, terhindar dari bencana alam, kedamaian, keselamatan dan kesuksesan kehidupan pribadi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu, metode etnografi dan perekaman data arkeologi. Hasil perekaman data kemudian dianalisis dengan menggunakan konsep dalam kebudayaan megalitik. Berdasarkan data tersebut akhirnya disimpulkan bahwa Mangngade merupakan ciri tradisi megalitik yang masih dijalankan masyarakat Desa Wanuawaru secara turun temurun dari leluhurnya dalam membangun pengakuan keberadaan kelompoknya.

AWAL PERADABAN DI DAERAH MAMASA: KAJIAN BUDAYA AUSTRONESIA DI SITUS DAMBU DAN MATTI

Hasanuddin, Hasanuddin

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Archaeological research in Mamasa District, West Sulawesi, aims to capture artefact data that can describe human civilization in the area. One problem that has never been answered, is when did civilization begin in the Mamasa area. In this study, a survey and excavation method was used on the sites mentioned by the local community as the initial settlement location in Mamasa such as the Dambu Site and the Matti Site. Interview method used to obtain information about the historical setting of these sites. The results of surveys and excavations carried out at the Dambu and Matti sites found stone flake artefacts and Austronesian-style pottery fragments, as evidence of the early forms of civilization in the area. In their oral culture, mentioning a number of toponyms as the oldest settlements in the area, and it is evident that Dambu and Matti are old settlements. The similarity of cultural features in the form of pottery found in the West Sulawesi region also shows migration flows that are thought to originate from the Karama River (Mamuju). Penelitian arkeologi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, bertujuan untuk menjaring data artefaktual yang dapat menggambarkan mengenai peradaban manusia di daerah tersebut. Salah satu masalah yang belum pernah dijawab, adalah sejak kapan mulai peradaban di daerah Mamasa. Dalam penelitian ini digunakan metode survei, dan ekskavasi pada situs-situs yang yang disebutkan oleh masyarakat setempat sebagai lokasi permukiman awal di Mamasa seperti Situs Dambu dan Situs Matti. Metode wawancara juga digunakan untuk memperoleh informasi tentang latar sejarah kedua situs tersebut. Hasil survei dan ekskavasi yang telah dilakukan di situs Dambu dan Matti ditemukan artefak batu serpih dan fragmen tembikar berciri Austronesia, sebagai bukti bentuk peradaban awal di daerah tersebut. Tradisi tutur mereka, menyebutkan beberapa toponim sebagai perkampungan tertua di daerah tersebut, dan terbukti bahwa Dambu dan Matti merupakan perkampungan tua. Kesamaan ciri budaya, khususnya temuan tembikar di kawasan Sulawesi Barat juga menunjukkan arus migrasi yang diduga berasal dari aliran Sungai Karama (Mamuju).

INDIKASI PENGARUH KEBUDAYAAN PERSIA DI SULAWESI SELATAN: KAJIAN ARKEOLOGI ISLAM

AS, Chalid

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

transformation of Islamic teachings is one part of the historical phase in South Sulawesi. With various lines of arrival and a series of processes of Islamic socialization, it has implications for the acculturation and assimilation of culture. Persia as one of the cultural bases that played a role in the Islamization the process helped influence and colour the culture of Islamic societies in South Sulawesi. Archaeologically, the indication is illustrated by observing the attributes of Persian culture that attached to several steps of the tomb, headstone, and flag buildings in South Sulawesi. The method used forms analysis to obtain attributes of attributes, then the historical analysis is used to measure aspects of the similarity of ideas contained in these relics. Archaeologically, the indications and effects (transformation) of Persian culture in South Sulawesi is illustrated in (1) the tradition of establishing vaulted tomb buildings in people who are considered to have an important role in the sociological and religious aspects, the use of attributes in the form of lion embodiments in gravestones flags to represent the values (attitudes) of heroes, brave men, warriors, warfare, the use of figurative decorations on tombs as an attempt to demonstrate sociological conditions and personal values as a past inspiration in relation to maintaining the collective memory of society from time to time future.Transformasi ajaran Islam adalah salah satu bagian dalam fase sejarah di Sulawesi Selatan. Dengan berbagai alur kedatangan dan rangkaian proses sosialisasi Islam, memberikan implikasi terjadinya akulturasi dan asimilasi budaya. Persia sebagai salah satu basis budaya yang berperan dalam proses Islamisasi, turut memberi pengaruh dan mewarnai kebudayaan masyarakat Islam di Sulawesi Selatan.Secara arkeologis indikasi tersebuttergambar dengan mengamamati atribut kebudayaan Persia yang melekat pada beberapa peniggalan bangunan makam, nisan, dan bendera yang ada di Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan adalah analisis bentuk untuk memperoleh unsur kesamaan wujud atribut, kemudiandigunakan analisis historis dalam menakar aspek kesamaan gagasan yang terkandungpada peninggalan tersebut. Secara arkeologis, bentuk-bentuk indikasi dan pengaruh (tranformasi) budaya Persia di Sulawesi Selatan tergambar pada (1) tradisi mendirikan bangunan makam berkubah pada orang yang dianggap memiliki peranan penting pada aspek sosiologi dan keagamaan, adanya penggunaan atribut berupa penggunaan perwujudan singa pada nisan dan bendera untuk merepresentasikan nilai (sikap) kepahlawan, pemberani, laki-laki, prajurit, peperangan, penggunaan ragam hias figuratif pada makam sebagai upaya dalam mendemostrasikan kondisi-kondisi sosiologis dan nilai kepribadian sebagai suatu inspirasi masa lalu dalam hubungannya menjaga ingatan kolektif masyarakat dari masa ke masa.

SEBARAN SITUS PALEOLITIK DI TEPI ALIRAN SUNGAI WALENNAE, DI WILAYAH BONE BARAT, SULAWESI SELATAN

Hakim, Budianto

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Almost all the palaeolithic sites in Cabbenge, Soppeng are on the banks of the Walennae River, both located on ancient river terraces as well as those that exist today. Considering the Walennae River is located in Bone District (Bontocani region), it is very possible in the Bone region connected to the Walennae River, there are palaeolithic sites that contemporary with the oldest occupancy in Soppeng District. This has been guided by the results of the thesis study of Archaeology Departement of Hasanuddin University students, in 1990 of Mallinrung area, Libureng, Bone, which reported the first time that lithic artefacts were found in the area, including those with the characteristics of palaeolithic technology. In the framework of expanding the potential area of palaeolithic archaeological remains on the banks of the Walennae River, this study focused on the Bone West region, including Bengo, Lamuru, Lappariaja, Kahu and Libureng Districts. Exploration surveys are intended to obtain information on the distribution of sites related to palaeolithic potential in the region. The results of the study showed the development of the technology of the palaeolithic stone tools, including flakes, hand-held axes, impact axes, and axe axes. Technological developments in stone tools and palaeolithic culture in the Bone West region, as well as showing palaeolithic cultural connectivity both in the Soppeng region and in the Old Walennae depressed regions, especially in the Bone West region. Hampir semua situs paleolitik di Cabbenge, Soppeng berada di tepi Sungai Walennae, baik yang terletak di teras sungai purba maupun yang ada sekarang ini. Mengingat Sungai Walennae berhulu di Kabupaten Bone (wilayah Bontocani), maka sangat memungkinkan  di wilayah Bone yang terkoneksi dengan Sungai Walennae, terdapat situs-situs paleolitik yang sejaman dengan masa hunian tertua di wialayah Kabupaten Soppeng. Hal ini telah dipandu oleh hasil penelitian skripsi mahasiswa arekeologi, Unhas tahun 1990 di wilayah Mallinrung, Libureng, Bone yang melaporkan pertama kali bahwa di daerah tersebut ditemukan artefak litik, termasuk yang memiliki ciri teknologi paleolitik. Dalam kerangka memperluas area potensi tinggalan arkeologi jaman paleolitik di tepi Sungai Walennae, penelitian ini  difokuskan pada wilayah Bone Barat, meliputi Kecamatan Bengo, Lamuru, Lappariaja, Kahu dan Libureng. Survei eksploratif dimaksudkan untuk memperoleh informasi sebaran situs terkait potensi paleolitik di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan teknologi alat batu paeolitik, diantaranya: alat serpih, kapak genggam, kapak perimbas, dan kapak penetak. Perkembangan teknologi alat batu dan budaya paleolitik di wilayah Bone Barat, sekaligus menunjukkan konektivitas budaya paleolitik baik di wilayah Soppeng maupun wilayah-wilayah depresi Walennae Purba khususnya di wilayah Bone Barat.

SITUS-SITUS MEGALITIK DI KABUPATEN BONE: KAJIAN SEBARAN DAN KRONOLOGI

AKW, Bernadeta

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Megalithic culture research at Labuaja Site, Kahu sub-district and other sites in Bone Regency aims to determine the distribution and chronology. This research doing by survey and excavation techniques. Archaeological data found from megalithic sites in Bone Regency are presented in descriptive analysis. In addition, C14 analysis was also carried out with charcoal in Beta Analytic Inc. Miami, Florida, USA to find out its absolute date. The results showed that megalithic sites in Bone had a fairly even distribution and occupy the slope to hilltops with a height of 28 - 218 meters above sea level. The results of radiocarbon dating indicate that the age of the site and megalithic culture in Labuaja, Bone ranges from 400 - 190 BP (around the 15th-17th century AD). Based on that date, the megalithic culture in Labuaja began in the golden age of the kingdom of Bone. Megalithic culture in Bone has associations with natural resources such as rivers and rice fields which are very supportive in the activities of human life that depend on agricultural resources. With the exploitation of agricultural resources, thus produce the social system and ideology adopted by the people who reach the Islamic period.  Penelitian kebudayaan megalitik pada situs Labuaja, Kecamatan Kahu dan situs-situs yang lainnya di Kabupaten Bone bertujuan untuk mengetahui sebaran dan menentukan kronologinya. Penelitian ini dilakukan dengan teknik survei dan ekskavasi. Data arkeologis yang ditemukan dari situs situs megalitik di Kabupaten Bone disajikan dalam bentuk deskriptif analisis. Selain itu, dilakukan pula analisis C14 dengan bahan arang di Beta Analytic Inc Miami Florida, USA untuk mengetahui pertanggalan absolutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs-situs megalitik di Bone memiliki sebaran yang cukup merata dan menempati wilayah lereng hingga puncak bukit dengan ketinggian antara 28 – 218 meter di atas permukaan laut. Hasil pertanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa umur situs dan kebudayaan megalitik di Labuaja, Bone berkisar antara 400 – 190 BP (sekitar abad ke-15–17 Masehi). Berdasarkan pertanggalan tersebut, kebudayaan megalitik di Labuaja berawal pada zaman keemasan kerajaan Bone. Kebudayaan megalitik di Bone memiliki asosiasi dengan sumber-sumber alam seperti sungai dan persawahan yang sangat menunjang dalam aktivitas kehidupan manusia yang bergantung pada sumber sumber pertanian. Dengan kegiatan eksploitasi sumber pertanian, sehingga melahirkan sistem sosial dan ideologi yang dianut oleh masyarakat yang menjangkau periode Islam.

Indeks

Editor, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Cover

Editor, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Biodata Penulis

Editor, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Panduan Penulisan

Editor, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Indeks Penulis

Editor, Tim

WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract