cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Keperawatan BSI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Masyarakat Pangandaran Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Mirwanti, Ristina
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.949 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.3840

Abstract

ABSTRAKInsidensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) di Indonesia semakin meningkat. Hal ini berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat tentang pencegahan PJK masih kurang termasuk faktor risiko PJK yang mungkin dimilikinya. Pangandaran merupakan daerah pesisir pantai di Jawa Barat yang belum memiliki pelayanan yang memadai sehingga deteksi dini faktor risiko PJK pada masyarakatnya belum maksimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko PJK pada masyarakat pangandaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study yang dilakukan pada 87 masyarakat Pangandaran dengan mengkaji faktor risiko PJK seperti riwayat penyakit sebelumnya, tingkat aktivitas, usia, pekerjaan, pemeriksaan gula darah, kadar kolesterol, pengukuran lingkar perut dan body Mass Index (BMI). Berdasarkan hasil deteksi dini tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar masyarakat Desa Pangandaran berada pada status nutrisi overweight (47,1%) dan memiliki lingkar perut yang kelebihan ringan (36,8%), tidak berolahraga (64%), memiliki kadar gula darah normal (69%), dan kadar kolesterol tinggi (74,7%). Sedangkan tekanan darah sebagian besar masyarakat desa Pangandaran adalah normal (60,9%). Masyarakat Pangandaran memiliki faktor risiko PJKdiantaranya overweight, kelebihan lingkar perut, kurang beraktivitas, dan hiperkolesterolemia. Oleh karena itu, petugas kesehatan diharapkan dapat memberikan pendidikan kesehatan mengenai pencegahan PJK terutama untuk mengatasi hiperkolesterolemia, overweight dan kelebihan lingkar perut yaitu dengan beraktivitas yang cukup dan menjaga pola diet.Kata kunci: Faktor risiko, Pangandaran, Penyakit Jantung Koroner.  ABSTRACTIncidence of Coronary Heart Disease (CHD) in Indonesia has increased. This relates to the level of public awareness on the prevention of CHD is still less including CHD risk factors that may be held. Pangandaran is a coastal area in West Java that has not had adequate services so that early detection of risk factors for CHD in the community has not been maximized. This study was conducted to identify risk factors of CHD in Pangandaran society. This research is a quantitative descriptive research with cross sectional study approach conducted on 87 Pangandaran community by examining CHD risk factors such as previous disease history, activity level, age, occupation, blood glucose examination, cholesterol level, measurement of abdominal circumference and body mass index (BMI). Based on the results of early detection it can be seen that most of the people of Pangandaran Village are in overweight nutritional status (47.1%) and have abdominal circumferences that are overweight (36.8%), not exercised (64%), have normal blood glucose (69%), and high cholesterol (74.7%). While the blood pressure of most people in Pangandaran village is normal (60.9%). Pangandaran community has risk factors for CHD including overweight, excess abdominal circumference, lack of activity, and hypercholesterolaemia. Therefore, health workers are expected to provide health education on the prevention of CHD, especially to overcome hypercholesterolemia, overweight and excess abdominal circumference that is with enough activity and maintain diet patterns.Keywords: Coronary Heart Disease, Pangandaran, Risk factors
Penggunaan Acceptance And Commitment Therapy (ACT) Terhadap Kecemasan Narapidana Wanita: Systematic Review Tania, Mery; Suryani, Suryani; Hernawaty, Tati
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.222 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.3695

Abstract

ABSTRAKGangguan kecemasan diperkirakan diidap 1 dari 10 orang. Menurut data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut. Banyak terapi yang dapat digunakan dalam menangani kecemasan diantaranya Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Tujuan dari penelitian dengan menggunakan pendekatan systematic review ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang lebh tentang seberapa efektif pelaksanaan Acceptance and Commitnment Therapy dalam mengurangi kecemasan. Pencarian literature dilakukan pada search engine, electronic database cEBSCOHOST, Proquest, dan Google Scholar. Kata kunci yang dimasukan ke dalam search engine atau database antara lain “Effectivity Acceptance and Commitment Therapy” And “ Anxiety”. Setelah membaca artikel dan menyeleksinya dengan menggunakan critical appraisal tools crowe 2011 didapatkan 5 artikel yang sesuai. tahapan dalam pelaksanaan Acceptance and Commitment Therapy dalam pelaksanaan ACT terdapat 6 sesi yakni Acceptance, Cognitive Difusion, Mindfullness, Observing self, Value dan Commitment. Narapidana yang dalam keadaan cemas membutuhkan terapy yang tepat dalam menangani kecemasannya diantaranya penggunaan Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Acceptance and Commitment Theapy efektif dalam mengurangi gejala kecemasan di kalangan remaja atau pun orang dewasa. Kesimpulan dalam penurunan kecemasan penggunaan terapi yang tepat dapat mempengaruhi, penggunaan ACT efektif dalam penurunan kecemasan pada rentang usia remaja sampai dewasa lanjut.Kata Kunci : Efektivitas Acceptance And Commitment Therapy, Kecemasan, Narapidana ABSTRACTAnxiety disorders are estimated to be 1 in 10 people. According to data from the National Institute of Mental Health (2005) in the United States there are 40 million people suffering from anxiety disorders at the age of 18 years to old age. Many therapies that can be used in dealing with anxiety include Acceptance and Commitment Therapy (ACT). The purpose of this study by using systematic review approach is to gain a better understanding of how effective the implementation of Acceptance and Commitment Therapy in reducing anxiety. The literature search is done on search engines, electronic database cEBSCOHOST, Proquest, and Google Scholar. Keywords included in search engines or databases include "Effectivity Acceptance and Commitment Therapy" And "Anxiety". After reading the article and selecting it using critical appraisal tools crowe 2011 got 5 articles accordingly. stages in the implementation of Acceptance and Commitment Therapy in the implementation of ACT there are 6 sessions namely Acceptance, Cognitive Difusion, Mindfullness, Observing self, Value and Commitment. Prisoners who are in anxious state need the right therapies in dealing with their anxiety such as the use of Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Acceptance and Commitment Theapy is effective in reducing the anxiety symptoms among teenagers or adults. Conclusions in anxiety reduction in appropriate therapeutic use may affect, ACT use is effective in decreasing anxiety in adolescent to advanced adult age range.Keywords: Effectiveness of Acceptance And Commitment Therapy, Anxiety, Prisoners
Pengaruh Terapi Relaksasi Autogenik Terhadap Depresi Pada Lansia Di BPS Tresna Werdha Ciparay Hutabarat, Evangeline Miliani; Supriadi, Dedi; Pramesti P, Vidya
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.089 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4795

Abstract

ABSTRAKDepresi merupakan kasus yang sering terjadi pada lansia. Prevalensi depresi pada lansia di Indonesia cukup tinggi. Menurut hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan di Balai Perlindungan Sosial TresnaWerdha Ciparay Bandung, dimana ada 5 lansia yang menderita depresi, depresi ini dapat menyebabkan beberapa masalah fisik dan perubahan dalam keterlibatan kegiatan sosial. Depresi dapat diatasi dengan memberikan terapi nonfarmakologi seperti terapi relaksasi autogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi relaksasi autogenik terhadap depresi pada lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan rancangan One-Group Pretest Posttest. Sebanyak 31 responden lansia telah ikut berpartisipasi dalam penelitian ini, dengan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling, serta menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang diperoleh di analisis dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat T Test. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi relaksasi autogenik terhadap depresi pada lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Bandung dengan p Value 0,001 (α 0,05). Dari hasil penelitian ini juga didapatkan bahwa setelah menyelesaikan seluruh proses terapi, responden mengatakan merasa lebih nyaman dengan diri mereka sendiri dan lingkungan mereka. Sementara responden lainnya mengatakan bahwa mereka mulai ikut berperan dan turut serta dalam aktivitas di panti. Disarankan untuk perawat yang bekerja di panti jompo untuk mengembangkan dan menerapkan terapi nonfarmakologi untuk mengurangi dan mencegah depresi pada lansia.Kata kunci: Depresi, Lanjut usia, Terapi Relaksasi Autogenik ABSTRACTDepression is common among elderly. Prevalence of depression among elderly in Indonesia is high. According to preliminary study that has done in BalaiPerlindunganSosialTresnaWerdhaCiparay Bandung, there where 5 elderly who suffer from depression, which can lead to physical problems and alteration in social activity involvement as well. Depression could be diminished with applying nonfarmacology nursing intervention such as autogenic relaxation theraphy. This study aimed to analyze the influence of autogenic relaxation theraphy on depression among elderly in Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Bandung.Method used in this research was quasi experiment with one group pre testpost test design. 31 respondents has participated in this research, that has collected with concecutive sampling technique, using inclusive and exclusive criterias. Data obtained was analyzed with univariate and bivariate T Test. From this research can be concluded that there is influence of autogenic relaxation theraphy on depression among elderly in Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Bandung with p Value 0,001 (CI, 0,05).It is also reported after finishing the theraphy sessions, the respondents felt more comfortable with themselves and their environment. While other respondents told that they involved more in activities in the nursing home.It is suggested for nurse who work in nursing home to develop and apply a nonfarmacology nursing intervension in order to alleviate and prevent the depression among elderly Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Bandung.Keywords: Depression, Elderly, Autogenic Relaxation Therapy.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Masyarakat Tentang Diabetes Mellitus Tipe II Irawan, Erna
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.383 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4316

Abstract

ABSTRAKPrevalensi diabetes mellitus terutama DM tipe II merupakan salah satu masalah kesehatan global. Komplikasi akibat diabetes merupakan penyebab kematian ketiga di Indonesia. Diabetes Mellitus adalah kondisi kronik, dan berhubungan dengan komplikasi seperti neurophathy, nephropathy, retinophaty, dan kaki diabetik yang merupakan kondisi isu berbahaya dalam masalah kesehatan. Pengetahuan tentang diabetes sangat penting di dalam manajemen diabetes. Pengetahuan yang kurang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes dan pengeluaran  yang lebih tinggi pada penderita diabetes. Resiko dari diabetes sangat tinggi sehingga pengetahuan sangat penting ukan hanya penderita dan keluarga tapi juga masyarakat. Menurut penelitian sebelumnya faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan terdiri dari pendidikan, usia, pekerjaan, keluarga dengan diabetes, dan pengalaman penyakit diabetes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan masyarakat mengenai diabetes mellitus tipe II. Metode penelitian ini adalah cross sectional dengan teknik korelasional, respoden berjumlah 66 orang secara accidental. Analisis data menggunakan rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan pengetahuan masyarakat tentang diabetes mellitus adalah usia (p-val=0.03) dan pengalaman menjadi penderita DM tipe II (p-val=0.04). Hasil menunjukkan masih banyak responden yang memiliki pengetahuan kurang baik, sehingga perlu ada intervensi seperti pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar pengetahuan menjadi baik dan mencegah terjadinya komplikasi diabetes.Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe II, Faktor-Faktor, Pengetahuan ABSTRACTThe prevalence of diabetes mellitus, especially type II DM, is one of the global health problems. Complications due to diabetes are the third leading cause of death in Indonesia. Diabetes Mellitus is a chronic condition, and is associated with complications such as neurophathy, nephropathy, retinophaty, and diabetic foot which are conditions of dangerous issues in health problems. Knowledge about diabetes is very important in diabetes management. Poor knowledge can increase the likelihood of complications of diabetes and higher spending on diabetics. The risk of diabetes is very high so knowledge is very important not only sufferers and families but also society. According to previous research the factors that influence knowledge consist of education, age, occupation, family with diabetes, and experience of diabetes. The purpose of this study was to determine the factors related to public knowledge about type II diabetes mellitus. This research method is cross sectional with correlational techniques, respondents number 66 people by accidental. Data analysis uses rank spearman. The results showed that factors related to people's knowledge about diabetes mellitus were age (p-val = 0.03) and the experience of being type II DM patients (p-val = 0.04). The results show that there are still many respondents who have poor knowledge, so there needs to be interventions such as health education for the community so that knowledge becomes good and prevents diabetes complications.Keywords: Type II Diabetes Mellitus, Factors, Knowledge
Sikap Masyarakat Terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa di Desa Kersamanah Kabupaten Garut Islamiati, Restu; Widianti, Efri; Suhendar, Iwan
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.028 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4107

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya angka kekambuhan sebanyak 12% yang terjadi pada orang dengan gangguan jiwa selama 3 bulan terakhir di desa kersamanah yang dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu faktor dari masyarakat. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung dapat meningkatkan frekuensi kekambuhan orang dengan gangguan jiwa. Faktor dari masyarakat itu sendiri belum banyak diteliti dan belum ada yang meneliti di Kecamatan Kersamanah itu sendiri.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa di Desa Kersamanah Kabupaten Garut. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal disekitar orang dengan gangguan jiwa. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 93 responden. Sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa diukur menggunakan kuesioner Community Attitude Towards Mental ill (CAMI). Data yang didapatkan dianalisis menggunakan mean, median dan standar deviasi.  Hasil penelitian menunjukan bahwa sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa pada aspek authoritarianism dan benevolence nilai skornya sama yaitu 30  4, berdasarkan aspek social restrictiveness dengan nilai  27  3 dan berdasarkan aspek community mental health ideology dengan nilai 32  4. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa  sikap yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah community mental health ideology yang artinya bahwa masyarakat menerima pelayanan kesehatan mental dan orang dengan gangguan jiwa di masyarakat akan tetapi tidak dilingkungan mereka dan Hal ini perlu ditindak lanjuti pada setiap aspek-aspek yang ada. Saran untuk penelitian ini yaitu dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang orang dengan gangguan jiwa yang berada dilingkungan masyarakat.Kata Kunci: Gangguan Jiwa, ODGJ, Sikap Masyarakat                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             ABSTRACT There is an increase in relapse case with the rate of 12% on people with mental illness during the last 3 months in Kersamanah village influenced by several factors and one of the factors is community. An unsupported community environment can increase the relapse frequency of people with mental illness. In Kersamanah, community factor has not been studied and there are still none who studies it. The purpose of this research is to find out the community's attitude towards people with mental illness in Kersamanah Village, Garut. The method used on this research is quantitative descriptive. The population is community who live around people with mental illness. The sample is taken by purposive sampling technique and it is obtained 93 respondents. Community’s attitude towards people with mental illness is measured by Community Attitude towards Mental ill (CAMI) questionnaire. The data obtained, analyzed by using mean, median, and deviation standard. The result of the research showed that the score of society attitude towards people with mental illness based on authoritarianism and benevolence aspects are the same; 30  4, based on social restrictiveness aspect; 27  3 and based on community mental health ideology aspect; 32  4. Based on the result of the research, it was found out that the most common attitude used by the society was community mental health ideology, which means that the society accepts both mental health treatment and people with mental illness but not on their environment. This issue should be followed up on other existed aspects. Suggestions for this study are by educating the public about people mental illness who are in the community.Keywords: Community attitude, Mental illness, ODGJ.
Efektivitas Terapi Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Pada Remaja Di Bandung Maidartati, Maidartati; Hayati, Sri; Hasanah, Afifah Permata
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.431 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4357

Abstract

ABSTRAKMenstruasi merupakan salah satu tanda remaja putri mengalami pubertas. Menstruasi seringkali menimbulkan nyeri pada remaja putri, terutama dibagian perut yang menjalar hingga ke paha, rasa nyeri ini disebut dismenore. Hal tersebut dapat membuat konsentrasi belajar remaja putri berkurang sehingga dismenore perlu diatasi. Cara mengatasi dismenore ada 2 yaitu secara farmakologis (menggunakan obat-obatan) dan secara non farmakologis, salah satunya kompres hangat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kompres hangat terhadap dismenore pada remaja putri. Desain penelitian ini berupa Pra-Eksperimen dengan menggunakan pendekatan One-Group Pra test- Post test Design. Sampel remaja putri kelas VII dan VIII yang mengalami dismenore sebanyak 47 siswi pada bulan Juli - Agustus tahun 2017. Teknik sampling penelitian ini adalah Purposive Sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan thermometer air, lembar observasi skala nyeri dismenore Numerik Rating Scale (NRS) dan lembar informed consent. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diketahui bahwa sebelum dilakukannya intervensi (pemberian kompres hangat) tingkat dismenore (nyeri haid) sebagian dikategorikan nyeri sedang yaitu 23 orang (48.9%), sebagian kecil dikategorikan nyeri ringan 14 orang (29,8%), dan nyeri berat 10 orang (21,3%), serta tidak satupun yang dikategorikan tidak nyeri & nyeri sangat berat. Setelah dilakukan terapi kompres hangat, sebagian besar yang mengalami nyeri ringan yaitu 33 orang (70.2%), sebagian kecil dikategorikan nyeri sedang 13 orang (27.7%), dan sangat sedikit dikategorikan tidak nyeri 1 orang (2,1%). Setelah di Uji Wilcoxon Signed Ranks. Hasil penelitian ini menunjukkan P-value = 0,000 dimana P-value < 0,05, sehingga Ho ditolak, artinya terdapat efektivitas pemberian kompres hangat penurunan nyeri haid (dismenore) pada remaja usia 13-15 Kota Bandung.Kata Kunci: Dismenore, Efektivitas kompres hangat, Remaja putri  ABSTRACTMenstruation is one of the signs of adolescent girls experiencing puberty. Menstruation often causes pain in young women, especially in the abdomen that spreads to the thighs, this pain is called dysmenorrhea. This can make the concentration of learning teenage daughter is reduced so that dysmenorrhea needs to be overcome. How to overcome dysmenorrhea there are 2 that is pharmacologically (using drugs) and non pharmacologically, one of them warm compress. This study aims to determine the effectiveness of warm compresses against dysmenorrhea in young women. The design of this research is Pre-Experiment using One-Group Pre-test-Post Test Design approach. Samples of girls of grade VII and VIII who experienced dysmenorrhea as many as 47 female students in July - August 2017. Sampling technique of this research is Purposive Sampling. The instrument used was water thermometer, observation scale of dismenorrhizal pain Numeric Rating Scale (NRS) and informed consent sheet. Based on the results of the frequency distribution it is known that prior to the intervention (warm compress) the dysmenorrhea rate was partially categorized as moderate pain, ie 23 people (48.9%), a minority was categorized as mild pain 14 people (29.8%), and severe pain 10 people (21.3%), and none of which are categorized as not painful and very severe pain. After a warm compress therapy, most of those with mild pain were 33 (70.2%), some were moderately painful 13 people (27.7%), and very few were categorized as painless 1 person (2.1%). After the Wilcoxon Signed Ranks Test the results of this study show P-value = 0,000 where P-value <0.05, so Ho is rejected, meaning there is effectiveness of warm compresses decrease menstrual pain (dysmenorrhea) in adolescents aged 13-15 years.Keywords: Effectiveness warm compress, dysmenorrhea
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan TBC Pada Anak Dikabupaten Garut Yani, Desy Indra; Fauzia, Nuris Azril; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.111 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4172

Abstract

ABSTRAKPenyakit Tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan di seluruh negara. Indonesia merupakan lima negara terbesar dengan kasus Tuberkulosis. Garut merupakan penyumbang penyakit TBC dengan 3.078 kasus, khususnya sebanyak 218 kasus TBC anak. Resiko penularan TBC tidak hanya pada dewasa, namun juga pada anak. Penularan ini diakibatkan oleh faktor-faktor baik eksternal ataupun internal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan TBC pada anak di Kabupaten Garut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Case Control. Jumlah sampel 92 anak yang terdiri dari 46 kasus dan 46 kontrol. Analisa data yang digunakan adalah deskriptif dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara variabel status gizi (p:0,000 OR= 0,11), riwayat kontak TBC (p: 0,000 OR= 0,15), usia imunisasi BCG (p: 0,002 OR= 0,11), ASI eksklusif (p: 0,000 OR= 0,13), keberadaan perokok (p: 0,000 OR= 0,05), sanitasi lingkungan: jenis tempat tinggal (p: 0,030 OR= 0,16), kepadatan hunian (p: 0,000 OR=0,10) dan ventilasi rumah (p: 0,000 OR= 0,13) dengan TBC pada anak. Kesimpulan. Faktor resiko TBC pada anak diantaranya adalah status gizi, riwayat kontak TBC, usia imunisasi BCG, ASI eksklusif, keberadaan perokok dan sanitasi lingkungan. TBC pada anak dapat dicegah dengan penanganan lebih lanjut kesehatan pada anak, perilaku keluarga dan lingkungan.Kata Kunci: Anak; Faktor Resiko; Tuberkulosis. ABSTRACTTuberculosis a disease that is a health problem throughout all the country in the world. Indonesia include in five largest countries with Tuberculosis cases. Garut is a contributor to TB disease with 3,078 cases, especially as many as 218 cases of tuberculosis in children. The risk of TB transmission not only in adults, but also in children. This transmission is caused by both external and internal factors. The purpose of this study was to determine the risk factors of TBC in children in Garut district. This research is done by using Case Control approach. The sample size was 92 children consisting of 46 cases and 46 controls. Data analysis used is descriptive and odds ratio. The results showed that there was a significant correlation between nutritional status (p:0,000 OR = 0,11), contact history of tuberculosis (p:0,000 OR= 0,15), BCG immunization age (p:0,002 OR= 0,11), exclusive breastfeeding (p:0,000 OR= 0,13), the presence of smokers (p:0,000 OR= 0.05), environmental sanitation: type of residence (p:0,030 OR= 0.16), occupancy density (p:0,000 OR= 0.10) and home ventilation (p:0,000 OR= 0.13) with tuberculosis in children. Conclusion. Risk factors for tuberculosis in children are nutritional status, history of TB contacts, BCG immunization age, exclusive breastfeeding, presence of smokers and environment sanitation. TB in children can be prevented by further treatment of child health, family behavior and the environment.Keywords: Children; Risk Factors; Tuberculosis.
Pengetahuan Penderita Tentang Pencegahan Penularan Tuberculosis di Bandung Rahmi, Upik
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.072 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4137

Abstract

ABSTRAKTuberculosis  (TB) paru adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium Tuberculosis Sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. Pencegahan penyebaran TB paru didukung oleh berbagai faktor diantaranya lingkungan rumah, perilaku batuk, ketuntasan pengobatan dan tingkat pengetahuan. penderita yang akan mendorong kepada suatu perilaku yang mendukung terhadap upaya pencegahan penularan penyakit TBC paru atas dasar kesadaran sendiri.  Tujuan Penelitian: Mengetahui pengetahuan penderita tentang pencegahan penularan penyakit TB Paru di   Kabupaten Bandung. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, Populasi sebanyak 30 orang dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden, menggunakan Teknik Total Sampling.  Hasil Penelitian: Hasil analisis statistik usia responden terbagi kedalam usia lansia sebanyak 15 responden (50%), usia dewasa sebanyak 11 responden (36,7%) dan usia dewasa muda sebanyak 4 responden (13,3%). Pendidikan responden pendidikan dasar 16 (53,3%), pendidikan menengah  14 (46,7%).  Status pekerjaan 24 (80%) tidak bekerja, 6 (20%) yang bekerja. Keterpaparan informasi sebagian besar responden terpapar 25 (83,3%), 5 responden (16,7%) mengaku tidak terpapar informasi tentang Tuberculosis paru. Lingkungan sebanyak 15 responden (50%) memiliki lingkungan yang tidak mendukung dan sebanyak 15 responden (50%) memiliki lingkungan yang mendukung. Pengetahuan responden  16 responden (55,3%) memiliki tingkat pengetahuan cukup, 9 responden (30%) memiliki tingkat pengetahuan baik dan 5 responden (16,7%) yang memiliki tingkat pengetahuan kurang. Pembahasan: Karakteristik (usia, pendidikan, pekerjaan, keterpaparan informasi dan lingkungan) yang dimiliki oleh responden akan berdampak  pada pengetahuan, pola pikir dan perilaku dalam menyikapi informasi tentang pencegahan penularan TB paru. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting yang sangat diperlukan dalam mengembangkan diri, karena semakin tinggi pengetahuan maka semakin mudah dalam mengembangkan dan menerima informasi yang datang dari luar. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan. Simpulan:  Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting yang sangat diperlukan dalam mengembangkan diri, karena semakin tinggi pengetahuan maka semakin mudah dalam mengembangkan dan menerima informasi yang datang dari luar.Kata Kunci: Tuberculosis, Pencegahan penularan, Pengetahuan  ABSTRACTTuberculosis (TB) of the lung is a disease caused by infection with the bacteria Mycobacterium Tuberculosis Systemik so that it can affect almost all organs of the body with the most locations in the lung which is usually the location of primary infection. Prevention of pulmonary TB spread is supported by various factors including home environment, cough behavior, treatment completeness and level of knowledge. sufferers who will encourage to a behavior that supports the efforts to prevent transmission of pulmonary TB disease on the basis of self awareness. Objectives: Knowing the knowledge of patients about prevention of transmission of pulmonary TB disease in Bandung regency. Methodologi: The type of research used is quantitative research, population of 30 people with a total sample of 30 respondents, using Total Sampling Technique. Result : The result of statistical analysis of age of respondents is divided into elderly age as many as 15 respondents (50%), adult age 11 respondents (36.7%) and young adult age 4 respondents (13.3%). Primary education respondents 16 (53.3%), secondary education 14 (46.7%). Job status 24 (80%) not working, 6 (20%) working. Exposure information most of the respondents exposed 25 (83.3%), 5 respondents (16.7%) admitted not exposed information about pulmonary tuberculosis. Environment as many as 15 respondents (50%) have a non-supportive environment and as many as 15 respondents (50%) have a supportive environment. Knowledge of respondents 16 respondents (55.3%) have enough knowledge level, 9 respondents (30%) have good knowledge level and 5 respondents (16,7%) who have less knowledge level. Discussion: The characteristics (age, education, occupation, exposure of information and environment) owned by respondents will have an impact on knowledge, mindset and behavior in addressing information about prevention of pulmonary tuberculosis transmission. Knowledge is one important factor that is necessary in developing yourself, because the higher the knowledge the easier it will be in developing and receiving information coming from outside. Knowledge is a factor that strongly supports the needs of health services. Conclusion: Knowledge is one important factor that is necessary in developing yourself, because the higher the knowledge the easier it will be in developing and receiving information coming from outside.Keywords: Tuberculosis, Prevention, Knowledge
Terapi Dingin Pada Nyeri Sternotomy Pasien Post Coronary Arthery Bypass Graft (CABG) Iklima, Nurul; Maulana, Danar Lingga
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.742 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4121

Abstract

Masih banyaknya kasus penyakit jantung membuat pelayanan kesehatan bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Operasi Coronary Artery Bypass Graft (CABG) menjadi salah satu intervensi yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Keluhan nyeri yang terjadi pada pasien post operasi CABG akan menghambat pernafasan normal sehingga dapat menyebabkan disfungsi pernafasan. Manajemen nyeri terbagi menjadi manajemen nyeri farmakologi dan nonfarmakologi. Terapi dingin adalah salah satu terapi non-farmakologi yang bisa dikombinasikan dengan terapi farmakologi. Artikel ini bertujuan ntuk melihat keefektifan intervensi non-farmakologi terapi dingin untuk mengurangi nyeri sternotomy pada pasien post CABG. Metode yang digunakan adalah mengulas literatur keperawatan, kedokteran, dan kesehatan masyarakat dari tahun1994 sampai 2017 dengan menggunakan 9 artikel terkait manajemen nyeri post operasi CABG dan terapi non farmakologi (teraoi dingin)  sebagai referensi. Hasil ulasan literatur menunjukan bahwa terapi dingin efektif terhadap nyeri sternotomy saat melakukan deep breathing exercise pada pasien post CABG. Kesimpulan yang didapatkan adalah terapi dingin memberikan efek yang signifikan untuk menurunkan nyeri sternotomy saat melakukan deep breathing exercise pada pasien post CABG. Hampir seluruh penelitian yang ditelusuri menunjukkan bahwa metode terapi dingin menjadi salah satu intervensi yang mudah dilakukan oleh perawat dan  tidak membutuhkan biaya yang mahal.Kata Kunci : Batuk efektif, Nyeri sternotomy, Terapi dingin
Gambaran Tingkat Kecemasan Tentang Kematian Pada Lansia Di BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung Ningrum, Tita Puspita; Okatiranti, Okatiranti; Nurhayati, Shanti
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.245 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4361

Abstract

ABSTRAKKecemasan kematian lansia merupakan suatu kondisi emosional yang dirasakan ketika suatu hal yang tidak menyenangkan dialami oleh seseorang manakala memikirkan kematian. Seseorang yang mengalami kecemasan terhadap kematian memiliki kekhawatiran, kesusahan, ketidaknyamanan, ketegangan, kegelisahan dan mereka disibukkan dengan memikirkan proses sekarat, kemusnahan, kejadian apa yang terjadi setelah kematian. Jika perasaan cemas tersebut terus-menerus dialami lansia maka kondisi itu dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan lansia baik fisik maupun mental, bahkan dapat menimbulkan penyakit-penyakit fisik sehingga akan mengganggu kegiatan sehari-hari. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi Bagaimanakah Gambaran Tingkat Kecemasan Tentang Kematian Pada Lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) Ciparay Kabupaten Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang berusia lebih dari 60 tahun dengan jumlah 150 orang. Pengambilan sampel  menggunakan teknik Purposive sampling dengan kriteria inklusi eklusi, sehingga diperoleh 79 orang. Data diambil dengan menggunakan intrumen Death axiety Scale (DAS) kemudian dianalisa menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 41(51.9%) mengalami kecemasan kematian yang tinggi dan hampir setengah dari responden sebanyak 38(48.1%) mengalami kecemasan kematian yang rendah. Penting bagi  perawat sebagai konselor dalam mengatasi kecemasan akan kematian lansia dengan memberikan dukungan untuk membantu meningkatkan mekanisme koping lansia menjadi lebih adaptif.Kata kunci: Kecemasan kematian, Lansia ABSTRACTThe death anxiety in elderly is an emotional state that is felt when something unpleasant by someone when thinking of death, a person who experiences anxiety over death has feelings, distress, discomfort, feeling, anxiety and they are preoccupied with the process of dying, annihilation, what happened after death If the feelings of death anxiety are constantly alert the elderly, then the condition could have adverse effects on the health of the elderly both physically and mentally, and even can bargain physical diseases that will interfere with daily activities in the elderly. The purpose of the study was to prevention how does Anxiety Level Matter of Death in Elderly in BPSTW Ciparay Bandung. This research used descriptive quantitative research. The population in this study is elderly people aged over 60 years with the number of 150 people. A total of 79 respondents was taken using purposive sampling with inclusion and exclusion criteria. In addition, all data were analyzed using distribution frequency. Results showed more than half of respondents, 41 (51.9%) experienced high death anxiety. It could be caused by inadecuate coping mechanism in elderly. It is important for nurses as a counselor to prevent of death anxiety and provide support for helping an elderly to increase coping mechanism became more adaptif.Keywords: Death Anxiety, Elderly

Page 1 of 11 | Total Record : 110