cover
Filter by Year
Jurnal Ledalero
ISSN : -     EISSN : -
Articles
95
Articles
JEN IN CONFUCIUS’S ANALECTS

Chang, William

Jurnal Ledalero Vol 10, No 2 (2011): RELIGIOSITAS POPULER
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.449 KB)

Abstract

Penulis menjelaskan sentralitas konsep ‘Jen’ dalam filsafat moral Konfusius dan menguraikan sejumlah besar pemahaman konsep ini agar bisa memahami maknanya yang sebenarnya dalam Analects Konfusius. Selanjutnya, konsep ‘Jen’ dibandingkan dengan dengan paham ‘cinta kasih’ dalam Injil Yohanes. Kemudian, penulis mengupas arti ‘Jen’ dalam relasinya dengan konsep ‘Li’ dan konsep ‘Chun-tzu’. Penulis mengambil kesimpulan bahwa ‘Jen’ adalah satu kebijakan universal yang inklusif dan yang dapat mengantar orang kepada kesempurnaan moral. Realisasi Jen, yang berakar dalam cinta, adalah selalu dalam relasi dengan orang lain. Keywords: Confucius, Moral Philosophy, Jen, Li, Chun-Tzu, love.

RITUS HODE ILU DALAM MASYARAKAT LEWOINGU: ANTARA TINDAKAN SUPERSTISI DAN REALITAS NUMINUS

Hayong, Bernard Subang

Jurnal Ledalero Vol 10, No 2 (2011): RELIGIOSITAS POPULER
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.302 KB)

Abstract

The human propensity of openness to the transcendent can be seen as a fundamental predisposition. It is also a need. We encounter such a need in numerous traditions and cultures, including in postmodern societies. In the Hode Ilu ritual, the people of the Lewoingu domain of Eastern Flores (Kabupaten Flores Timur, NTT), express the inseparableness of cosmic reality (humans and their world) with transcendent reality. They experience nature as numinus with supernatural power. This power enables people to submit in awe and act out the heritage of the ancestors in an artistic performance expressing people’s relationship with others, nature, oneself, and with the Divine. This ritual performance is called “artistic” because it is a self expression of the community through ritual that emphasises a fundamental cosmic harmony which is both religious (transcendent) and ethical (in the here and now). When the tradition expresses a form of faith in the transcendent in ritual, then the sharing of human experiences, including relationships of people with the Transcendent, with the cosmos, with others, and with oneself, is not wrong. Also, in such ritual performances, we see a change of perspective and a change in human action regarding oneself, others, nature (with its powers), and with the Divine.

MEMAHAMI PEMIKIRAN IDEOLOGIS DALAM ISLAMISME RADIKAL | UNDERSTANDING IDEOLOGICAL THOUGHT IN RADICAL ISLAMISM

Daven, Mathias

Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.954 KB)

Abstract

Abstrak: Islamisme atau fundamentalisme Islam merupakan ideologi yang memperjuangkan moralisasi politik berdasarkan keunggulan moral agama Islam. Istilah “Islamisme” dan “fundamentalisme Islam” menggambarkan fenomen politisasi agama dan sakralisasi politik. Moralisasi politik berdasarkan kebenaran iman suatu agama selalu berbahaya, sebab ia menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan masyarakat yang heterogen. Namun Islamisme radikal lebih dari sekedar Fundamentalisme Islam. Islamisme radikal selalu bercorak fundamentalis, tetapi tidak semua fundamentalisme Islam bersifat radikal. Keradikalan dalam Islamisme terletak dalam usaha memperjuangkan moralisasi politik berdasarkan ajaran Islam baik dengan cara legal, maupun dengan menggunakan sarana teror atau kekerasan. Itulah sebabnya Islamisme radikal selalu dikaitkan dengan terorisme internasional; artinya terorisme internasional tidak bisa dipikirkan tanpa Islamisme radikal. Salah satu jalan untuk menyikapinya ialah diskursus kritis terbuka yang bertujuan menyingkapkan dan mengkritik pemikiran ideologis yang terkandung di dalamnya serta meningkatkan kewaspadaan akan konsekuensi praktis dari sebuah jenis pemikiran ideologis. Usaha bersama untuk memahami struktur pemikiran ideologis dan melawan radikalisasi agama menjadi penting dan urgen jika semua komponen bangsa masih berkepentingan merawat negara Pancasila sebagai “rumah bersama” bagi semua warga dengan aneka latar belakang agama, suku, dan bahasa yang berbeda. Kata-kata Kunci: Islamisme radikal, fundamentalisme agama, ideologi, totaliter, kebenaran, dan politik.

POPULISME, KRISIS DEMOKRASI, DAN ANTAGONISME | POPULISM, THE CRISIS OF DEMOCRACY, AND ANTAGONISM

Madung, Otto Gusti

Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.871 KB)

Abstract

Abstract: Populism generally expresses the conflict between the majority of the people who are “out of power” versus the powerful small elites. The competition is the response to the perpetuating social divisiveness between the small elites and the marginalized majority. Hence, populism can be described as a social and political protest of the citizens against the failures of elitically and pro establishment oriented representative democracy. In this case, the democracy tends to leave the people behind who are the primary goal of the the democracy itself. This essay tries to pose some criticism against the practices of the liberal democracy tranformed into a consensus machine and in this way ignores the dissensual or conflictual aspect of the democracy. The dissensus democracy emphasizes the unlimited conflictual dimension of the democratic discourse. From the point of view of the dissensual democracy, populism can appear as social transformative forces that bring back the democracy to its original meaning as an expression of the people’s sovereignity. However, this can only be realized in a pluralistic millieu and populism can be transformed into an antagonistic democracy. Finally, the essay argues that the practices of populisme in Indonesia fail to be an alternative and antagonistic power to the practices of the Indonesian democracy coopted by the predatory oligarchy. The reason is that the populistic leaders in Indonesia including the Jokowi regime fail to transform the populistic ideas into the new democratic institutions independent from the domination of the oligarchic political parties inherited by the New Order regime. Keywords: Populism, Democracy, Antagonism, Dissensus, Indonesia Abstrak: Secara umum populisme mengungkapkan pertentangan antara rakyat kebanyakan (the people) yang tidak berkuasa versus segelintir kecil elite yang berkuasa. Pertarungan tersebut merupakan tanggapan atas persoalan kesenjangan sosial berkepanjangan antara elite penguasa versus mayoritas masyarakat yang berada di luar kekuasaan. Oleh karena itu, populisme dapat diartikan sebagai ekspresi protes warga masyarakat terhadap sejumlah kegagalan demokrasi representatif yang cenderung elitis dan pro establishment dan melupakan masyarakat umum yang menjadi tujuan awal dari demokrasi. Di dalam artikel ini dikemukakan sejumlah kritik terhadap praktik demokrasi liberal yang sudah bertransformasi menjadi mesin konsensus dan mengabaikan aspek disensus. Demokrasi disensus menekankan aspek pertentangan yang tak terselesaikan secara argumentatif dalam proses demokrasi. Dalam kaca mata demokrasi disensus, populisme dapat tampil sebagai kekuatan transformatif dan mengembalikan makna demokrasi kepada kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Namun, untuk maksud itu, populisme harus menanggalkan corak antipluralisme dan menjadi demokrasi antagonistis. Pada bagian akhir tulisan ini diuraikan juga bahwa di Indonesia politik populisme gagal menjadi kekuatan antagonistik dan emansipatoris terhadap demokrasi yang terkooptasi kekuatan oligarkis. Alasannya, para pemimpin populis termasuk rezim Jokowi gagal menginstitusionalisasikan ide-ide populis dalam institusi demokratis baru yang terlepas dan bebas dari cengkeraman partai-partai politik oligarkis warisan Orde Baru. Kata-kata Kunci: Populisme, Demokrasi, Antagonsme, Disensus, Indonesia

NARASI RADIKALISME DAN KETAKUTAN | RADICALISM NARRATION AND FEAR

Wejak, Justin L

Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.033 KB)

Abstract

Abstract: Indonesian history has been filled with many radical ideas and movements aiming to bring about radical changes in the direction of the nation state. Yet radicalism has created fear and angst amongst communities. This paper examines the narrative of radicalism and fear as constructed in an Indonesian Catholic document published in 1967. The document narrates the historical and political events from Indonesia’s independence to the early years of Suharto’s New Order regime, with a particular focus on the Madiun incident of 1948 and the Crocodile Hole tragedy of 1965. The paper argues that the document scrutinized is nothing but a fear text, and the fear narrative as constructed in the text is related to radicalism – namely the leftist radicalism represented by the Indonesian communists pre-1965, and the rightist radicalism represented by religious (Muslim) radicals post-1965. This main argument is explained with reference to Martin Heidegger’s philosophy of fear, and it concludes that the fear experiences concerning the communist past is paralelled with the experiences of fear in recent times in relation to religious (Islamic) radicalism. Keywords: radicalism, fear, communists, Muslims, Catholics, Heidegger Abstrak: Sejarah Indonesia dililiti banyak ide dan gerakan radikal yang bertujuan untuk membawa perubahan radikal ke arah negara bangsa. Namun radikalisme telah menciptakan ketakutan dan kecemasan di antara masyarakat. Makalah ini mengkaji narasi radikalisme dan ketakutan yang dibangun dalam dokumen Katolik Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1967. Dokumen tersebut menceritakan peristiwa sejarah dan politik dari kemerdekaan Indonesia hingga tahun-tahun awal rezim Orde Baru Suharto, dengan fokus khusus pada insiden Madiun dari 1948 dan tragedi Lubang Buaya 1965. Makalah ini berpendapat bahwa dokumen yang diteliti tidak lain adalah teks ketakutan, dan narasi rasa takut yang terkonstruksi dalam teks ini terkait dengan radikalisme - yaitu radikalisme kiri yang diwakili oleh komunis Indonesia pra-1965, dan radikalisme kanan yang diwakili oleh radikal agama (Muslim) pasca-1965. Argumen utama ini dijelaskan dengan mengacu pada filosofi rasa takut Martin Heidegger, dan disimpulkan pengalaman-pengalaman ketakutan mengenai masa lalu komunis dilumpuhkan dengan pengalaman-pengalaman ketakutan belakangan ini dalam kaitannya dengan radikalisme agama (Islam). Kata-kata Kunci: radikalisme, ketakutan, komunis, Muslim, Katolik, Heidegger

PROBLEMATIK KEKERASAN DALAM PANDANGAN AGAMA KRISTIANI | THE PROBLEM OF VIOLENCE IN THE VIEW OF THE CHRISTIAN RELIGION

Kirchberger, George Ludwig

Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.952 KB)

Abstract

Abstract : This article intends to consider the relationship between violence and the sacred, using as a starting point a theory espoused by Rene Girard. According to this theory, Girard demonstrates that violence happens because human beings imitate others in determining a desired object. Because of that imitation, a conflict arises between those who possess the same object. This conflict is calmed-down by transferring the reciprical aggression onto a specific group that becomes the scape-goat, to be sacrificed. The ritual of sacrifice is institutionalised in religion. In this way, religion can channel aggression, but it can also hide human violence, by exoressing violence towards the person of God. Following on, Christian revelation is pictured as being a process, in which God reveals Godself in a true attitude, and demonstrates that the violence expressed is between human beings and not towards God. In summary, the Christian religion can be a religion of salvation when it truly studies and proclaims a picture of God as revealed in Judeo-Christian revelation, climaxed in the person of Jesus of Nazareth. Keywords: Rene Girard, scape-goat; Jesus as the universal scape-goat; Christian revelation; violence and religion. Abstrak : Artikel ini mau meneliti relasi antara kekerasan dan kekeramatan dengan bertolak dari satu teori yang diciptakan oleh René Girard. Dalam teori itu Girard memperlihatkan kekerasan terjadi, karena manusia meniru orang lain dalam menentukan objek yang diinginkan. Karena peniruan itu, terjadilah konflik antara orang yang memilih objek yang sama. Konflik itu diredakan dengan mengalihkan semua agresi timbal balik dalam suatu kelompok kepada satu kambing hitam yang menjadi korban. Ritual korban itu diinstitusionalisasi dalam agama. Dengan demikian agama bisa menyalurkan agresi, tetapi juga menyembunyikan agresi antara manusia dalam kekerasan pada diri Allah. Selanjutnya wahyu kristiani digambarkan sebagai proses, di dalamnya Allah memperkenalkan diri dalam sikap yang benar dan memperlihatkan, agresi itu ada di antara manusia dan bukan dalam diri Allah. Kesimpulannya, agama kristiani bisa menjadi agama penyelamatan bila secara sungguh mempelajari dan mewartakan gambaran tentang Allah yang dinyatakan dalam wahyu Yahudi-Kristen dengan puncaknya dalam diri Yesus dari Nazaret. Kata kunci: René Girard; teori kambing hitam; Yesus sebagai kambing hitam universal; wahyu kristiani; kekerasan dan agama

KOSMOPOLITANISME SEBAGAI JALAN KELUAR ATAS TEGANGAN ABADI ANTARA NEOKOLONIALISME, RADIKALISME AGAMA, DAN MULTIKULTURALISME | COSMOPOLITANISM AS A SOLUTION TO THE ETERNAL TENSION BETWEEN NEO-COLONIALISM, RELIGIOUS RADICALISM, AND MULTICULTURALISM

Wattimena, Reza A.A

Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.869 KB)

Abstract

Abstract: This writing offers allternative point of view on the debate between universalism and particularism. This debate becomes the tension between neocolonialism, multiculturalism and religious radicalism in 21st century. The method of the writing is critical textual analysis with clear definitions of universalism, particularism, multiculturalism and religious radicalism, and then cosmopolitanism as an alternative point of view. As a conceptual approach, cosmopolitanism has impacts in various areas of life. This impact will also be elaborated in this writing. Key Words: Universalism, Particularism, Neocolonialism, Religious Radicalism, Multiculturalism, Cosmopolitanism. Abstrak: Tulisan ini hendak mengajukan jalan keluar teoretis untuk perdebatan universalisme dan partikularisme. Perdebatan ini berkembang menjadi tegangan antara neokolonialisme, multikulturalisme dan radikalisme agama di abad XXI. Metode yang digunakan adalah analisis tekstual kritis dengan terlebih dahulu memberikan definisi tentang universalisme, partikularisme, multikulturalisme, dan radikalisme agama. Artikel berakhir dengan jalan keluar yang diajukan, yakni kosmopolitanisme. Sebagai sebuah pendekatan, kosmopolitanisme juga memiliki dampak luas di berbagai bidang. Dampak ini juga akan menjadi bagian dari tulisan. Kata-kata Kunci: Universalisme, Partikularisme, Neokolonialisme, Radikalisme Agama, Multikulturalisme, Kosmopolitanisme.

KAMPANYE STRATEGIS MELAWAN RADIKALISME: MERANCANG MODEL PENDIDIKAN MULTIKULTURAL | A STRATEGIC CAMPAIGN AGAINST RADICALISM: A PLANNING MODEL FOR MULTICULTURAL EDUCATION

Koten, Yosef Keladu

Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.133 KB)

Abstract

Abstract: Radicalism seriously threatens modern pluralistic communities. In recent times, many national states have put in place strategic plans to fight against radicalism, or to lessen the impact of radical ideas or behaviour. This is known as the process of de-radicalisation. This isn’t an easy process there are many reasons behind the growth of radicalism. One of these is the simple acceptance of differences without trying to understand those differences and the similarities of the people of a country. This can be signified by, and caused by a process of uniformity, which can be seen in the system of education. With this in mind, this article proposes a strategic, effective campaign against radicalism, beginning with a model of multicultural education. Multicultural education promotes the principle of inclusiveness, diversity, democracy and critical thinking which is appropriate for a pluralistic country which enables the education of people to live in a multicultural community. Keywords: Radicalism, inability to think, diversity, ideology, multiculturalism, multicultural education. Abstrak: Radikalisme menyebarkan ancaman serius terhadap komunitas pluralistis modern. Selama beberapa dekade terakhir, banyak negara di dunia menetapkan rencana-rencana strategis untuk berperang melawan radikalisme atau untuk mengurangi ide-ide atau perilaku radikal. Yang terakhir ini disebut dengan proses de-radikalisasi. Proses seperti ini tidak gampang karena banyaknya alasan di balik munculnya radikalisme dan salah satunya ialah karena adanya perilaku menerima begitu saja perbedaan tanpa ada upaya untuk memahami perbedaan dan kesamaan semua anggota dari sebuah negara. Hal ini ditengarai, disebabkan salah satunya oleh proses penyeragaman, termasuk dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu, artikel ini menganjurkan sebuah kampanye strategis yang efektik untuk melawan radikalisme yaitu dimulai dengan merancang sebuah model pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural mempromosikan prinsip inklusi, diversitas, demokrasi, dan pemikiran kritis yang cocok untuk sebuah negara plural yang memampukan peserta didik untuk hidup dalam sebuah komunitas multikultural. Kata-kata Kunci: radikalisme, ketidakmampuan berpikir, kebhinekaan, ideologi, multikulturalisme, pendidikan multikultural

PERSOALAN SAMPAH DALAM TERANG PEMIKIRAN ISLAM (Sebuah Catatan Evaluatif terhadap Status Manusia sebagai Abdi Allah dan Khalifah) | THE PROBLEM OF GARBAGE IN THE LIGHT OF ISLAMIC THOUGHT (Notes on the Status of Men and Women as Servants of God and as Caliphs)

Maku, Hendrikus

Jurnal Ledalero Vol 16, No 2 (2017): SAMPAH
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: The problem of garbage is the issue of how human beings understand and bring alive the concept of himself or herself. Islam as a Gospel of Action has a certain perspective about human beings and the environment. Human beings, as written in some letters and hadith, are the most perfect part of God’s creation (kāmil) to whom two status are attributed, namely servant of God and Caliph. As servant of God and as Caliph, human beings are God’s chosen creation who are entrusted to take care of the universe. If so, then the problem of garbage which arises from the brutality of humans is a provocation attacking the status of human beings as the servant of God and Caliph. Keywords: Garbage, Islam, God, the servant of God, Caliph, human beings. Abstrak: Persoalan sampah adalah persoalan tentang bagaimana manusia memahami dan menghidupi konsep tentang dirinya. Islam sebagai agama amal memiliki perspektif tertentu mengenai manusia dan lingkungannya. Manusia, sebagaimana tersurat dalam beberapa surat dan hadit adalah ciptaan Allah yang paling sempurna (kāmil), padanya diatributkan status sebagai Abdi Allah dan Khalifah. Sebagai Abdi Allah dan Khalifah, manusia adalah ciptaan pilihan Allah yang dipercayakan untuk merawat alam semesta. Kalau demikian, maka persoalan sampah yang lahir dari rahim kebiadaban manusia adalah sebuah gugatan terhadap jati diri manusia sebagai Abdi Allah dan Khalifah. Kata-kata kunci: sampah, Islam, Allah, abdi Allah, Khalifah, lingkungan hidup, manusia.

DAMPAK REFORMASI TERHADAP PERPECAHAN GEREJA DAN MAKNANYA BAGI UPAYA PENYATUAN GEREJA | IMPACT OF THE REFORMATION ON CHURCH DIVISION AND ITS MEANING FOR THE EFFORT TO UNITE THE CHURCHES

Aritonang, Jan S.

Jurnal Ledalero Vol 16, No 2 (2017): SAMPAH
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: There are at least two general impressions about Church Reform that took place 500 years ago, namely (1) the Reformation sought - and to some extent succeeded – in renewing the doctrine and life of the Church; and (2) the Reformation caused divisions within the Church. This article will examine whether and to what extent these two impressions are correct, and what impact and significance this is for the Church today, especially in Indonesia. To discuss these issues thoroughly, we certainly need more deep and detailed research. This paper is limited to several aspects and examples, while including several other points. Keywords: reformation, Church, theology, controversy of theology, base color, ecumenical, ecumenical movement. Abstrak: Sekurang-kurangnya ada dua kesan umum tentang Reformasi Gereja yang terjadi sejak 500 tahun yang lalu, yaitu (1) Reformasi itu berupaya – dan pada batas tertentu berhasil – membarui ajaran dan kehidupan gereja; dan (2) Reformasi itu menimbulkan perpecahan di dalam Gereja. Artikel ini akan mengkaji apakah dan sejauh mana kedua kesan itu benar, serta apa dampak dan maknanya bagi Gereja pada masa kini, khususnya di Indonesia. Untuk membahasnya secara tuntas, tentu dibutuhkan penelitian dan penulisan yang mendalam, panjang, dan rinci. Tulisan ini terbatas pada beberapa aspek dan contoh, sembari dikaitkan dengan beberapa aspek lain. Kata-kata kunci: reformation, Gereja, teologi, kontroversi teologi, warna dasar, ekumene, gerakan ekumene.