cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015" : 9 Documents clear
SINONIMI ADJEKTIVA DALAM BAHASA BALI Budiasa, I Nengah
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.494 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.181.151-170

Abstract

Dalam bahasa Bali tidak pernah ditemukan ada dua kata bersinonim memiliki kesamaan makna yang mutlak. Sebagai satuan leksikal, setiap kata memiliki relasi semantis yang berbeda-beda dalam membangun struktur kalimat. Perbedaan tersebut meyebabkan sebuah kata tidak memiliki kemungkinan yang sama untuk berdampingan dengan kata lain dalam satu bangun kalimat. Terkait dengan hal itu, masalah yang dibahas dalam kajian ini ada dua macam, yaitu (1) berapa macamkah  pasangan sinonim adjektiva yang dapat dianalisis  dalam bahasa Bali dan (2) bagaimanakah hubungan makna kata-kata yang menjadi pasangan sinonim adjektiva dalam bahasa Bali. Tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan jumlah pasangan sinonim yang dapat dianalisis dan hubungan makna adjektiva-adjektiva yang menjadi pasangan sinonim dalam bahasa Bali. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode simak dan teknik catat. Artinya, pemerolehan data di lapangan dilakukan dengan cara menyimak pemakaian bahasa Bali, baik dalam bentuk tulisan maupun bentuk lisan. Berdasarkan  analisis data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa sifat hubungan pasangan sinonim adjektiva yang ada dalam bahasa Bali dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ragam, tingkat tutur, dan nilai rasa. 
ASESMEN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN SASTRA: SUATU KAJIAN PUSTAKA Adhi, Made Kerta
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.558 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.186.217-227

Abstract

Sastra yang diajarkan secara terpadu dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, petanda bahwa sastra dikerdilkan. Hal ini tampak pada proses pembelajaran bahkan asesmennya yang tersurat dalam kurikulum. Perlakuan sastra seperti ini, menjadikan perannya relatif kecil dalam membangun karakter pebelajar, lambat laun bisa kurang dikenali bahkan asing dalam kehidupan pebelajar, dan akhirnya sastra akan hilang. Nilai-nilai sastra sangat berkonstribusi dalam pembentukan karakter. Bertolak dari pendapat tersebut, pembelajaran sastra mestinya diberi perlakuan sama dengan mata pelajaran lainnya. Namun, kenyataannya terdiskriminasikan bahkan termarginalkan. Sementara ini, asesmen pembelajaran sastra dominan dilakukan dengan menilai kemampuan siswa sebatas domain kognitif. Hal ini tampak pada soal-soal ujian sekolah dan ujian nasional. Taksonomi Bloom, mengisyaratkan agar proses penilaian dilakukan secara akumulatif-proporsional pada domain kognitif, afektif dan psikomotor. Legalitas formal model asemen ini, antara lain tersurat dalam kurikulum 2013, yakni asesmen otentik. Model asesmen otentik, menuntut agar guru melakukan penilaian pada pembelajaran sastra senyatanya dengan cara melakukan penilaian secara holistik, mencakup aspek pengetahuan (melalui tes lisan, tertulis, dan penugasan); sikap (melalui observasi, self assessment, peer assessment, dan jurnal); serta aspek keterampilan ( melalui penilaian praktik, proyek, dan portofolio). 
TIPE KLAUSA DAN PERILAKU UNSURNYA DALAM BAHASA SASAK Aridawati, Ida Ayu Putu
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.429 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.182.171-183

Abstract

Kajian tentang tipe klausa bahasa Sasak, tidak dapat dipisahkan antaraspek-aspek pendukungnya, seperti konstruksi, fungsi dan peran. Perilaku unsur-unsurnya akan dapat memberi petunjuk tentang jati diri (identitas) klausa bahasa Sasak. Relasi unsur-unsurnya terikat satu sama lain sehingga diketahui pelbagai tipenya, serta fungsi dan perannya. Masalah yang dibahas, yaitu (1) tipe klausa berdasarkan fungsi unsur-unsurnya, (2) kategori kata/frasa yang mampu menduduki fungsi predikat, dan (3) ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik mengingkarkan predikat. Tujuan penelitian ini memperoleh deskripsi yang rinci tentang (1) tipe klausa berdasarkan fungsi unsur-unsurnya, (2) kategori kata/frasa yang mampu menduduki fungsi predikat, dan (3) ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik mengingkarkan predikat. Manfaat penelitian ini, turut memberi andil dalam memperkaya khazanah ilmu bahasa, khususnya bidang struktur. Teori yang dipergunakan adalah teori linguistik struktural. Metode yang dipergunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak dan metode cakap. Metode simak dibantu dengan teknik dasar dan teknik lanjutan. Dalam analisis data dipergunakan metode distribusional yang terjabar dalam teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar metode ini adalah teknik bagi unsur langsung. Adapun teknik lanjutan yang diterapkan, yaitu teknik lesap, teknik ganti, teknik balik, teknik sisip, dan teknik perluasan. Dalam penyajian hasil analisis data digunakan metode formal dan informal, dibantu dengan teknik induktif dan deduktif. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan, ada tiga hal pokok yang menjadi dasar pembentukan tipe klausa bahasa Sasak jika ditinjau dari perilaku unsurnya, yaitu: berdasarkan fungsi unsur-unsurnya, berdasarkan kategori kata/frasa yang mampu menduduki fungsi predikat, dan berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik mengingkarkan predikat. 
NILAI EDUKATIF CERITA “BE JELEG TRESNA TELAGA”: MEMPERKUAT PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA Sukrawati, Cokorda Istri
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.902 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.187.229-241

Abstract

Penelitian ini membicarakan nilai-nilai edukatif dalam cerita “Be Jeleg Tresna Telaga” sebagai salah satu upaya memperkuat karakter bangsa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam salah satu cerita rakyat Bali, yaitu “Be Jeleg Tresna Telaga”. Kajian nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam cerita itu dianalisis dengan teori pragmatik. Pendekatan pragmatik memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Selain itu, pendekatan pragmatik  juga mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatik, di antaranya berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik sebagai pembaca eksplisit maupun implisit dan secara sinkronis maupun diakronis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perpustakaan karena teks yang diteliti telah didokumentasikan dalam bentuk sebuah buku, yaitu kumpulan buku cerita rakyat Bali karya Suparta, berjudul Satua Bali. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terdapat empat penerapan nilai edukatif yang diperoleh dalam cerita rakyat tersebut, yaitu cinta tanah air, demokratis, religius, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut bersifat universal sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam mewujudkan generasi muda yang berkarakter kuat sehingga mampu menghadapi berbagai pengaruh dalam kehidupan dalam era globa saat ini.
ANALISIS NARATIF PERSONAL LISAN SISWA SEKOLAH DASAR Budiwiyanto, Adi
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.146 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.183.185-193

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat konsep sederhana atau kompleks struktur bercerita siswa sekolah dasar. Permasalahan ini menjawab tiga pertanyaan, yaitu (1) struktur naratif personal lisan siswa sekolah dasar; (2) perbedaan struktur naratif personal antara siswa pria dan perempuan; dan (3) fitur-fitur kebahahasaan apakah yang muncul dalam naratif personal siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis struktural dan teori sosiolinguistik sebagai dasar pijakan membahas struktur naratif. Hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan bagi guru dalam mengembangkan metode naratif dalam pemelajaran. Pertimbangan lainnya adalah melihat bahwa narasi atau pengisahan adalah metode yang sangat baik untuk diterapkan untuk meningkatkan daya imajinasi, kemampuan verbal, dan kepercayaan diri siswa.
ALIH KODE PADA PENTAS SENI PERTUNJUKAN WAYANG KULIT ”JOBLAR” LAKON I TUALEN DADI CARU Sumalia, I Made
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.018 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.179.%p

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan alih kode pada pentas seni pertunjukan wayang kulit Joblar lakon I Tualen Dadi Caru. Analisisnya dititikberatkan pada masalah-masalah alih kode dan latar belakang alih kode tersebut. Metode yang dipakai adalah studi pustaka, observasi, dan wawancara. Dalam penjaringan data digunakan teknik catat dan rekam. Data dianalisis secara kualitatif melalui empat proses, yaitu (1) mentranskripsi data, (2) mereduksi data, (3) menyusun data, dan (4) menarik suatu simpulan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan adanya peristiwa alih kode yang dilakukan oleh Dalang Joblar (DJ) dalam pementasan wayangnya. Sebagai seorang bilingual, DJ menggunakan dua bahasa atau lebih dalam dialog pertunjukannya. Bahasa-bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali sebagai bahasa utama, sedangkan bahasa Jawa Kuno, bahasa Sanskerta, bahasa Jawa, bahasa Inggris, dan bahasa Arab sebagai bahasa kedua. Hasil analisis menunjukkan adanya fenomena alih kode ke luar dan alih kode ke dalam sebagai faktor penyebab terjadinya alih kode.
PANDANGAN DUNIA MOCHTAR LUBIS DALAM NOVEL SENJA DI JAKARTA Saptawuryandari, Nurweni
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.852 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.184.195-206

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pandangan dunia Mochtar Lubis sebagai penulis Senja di Jakarta, dengan cara mendeskripsikan hubungan isi  novel itu  dengan keadaan masyarakat pada saat  novel tersebut ditulis oleh  pengarangnya.  Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang memaparkan tulisan berdasarkan isi karya sastra dan buku-buku yang menggambarkan keadaan masyarakat Jakarta pada saat karya sastra (novel) itu ditulis, yaitu pada tahun lima puluhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Senja di Jakarta menggambarkan suasana atau keadaan yang tidak jauh berbeda dengan keadaan Jakarta pada tahun lima puluhan sehingga dapat diketahui pandangan dunia pengarang novel Senja di Jakarta.
KONJUNGSI SUBORDINATIF DALAM TEKS BUKU PELAJARAN SLTA: ANALISIS BENTUK, DISTRIBUSI, DAN MAKNA Purwiati, Ida Ayu Mirah
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.052 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.180.133-150

Abstract

Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih dan klausa itu tidak memiliki status yang sama. Pengamatan terhadap teks bahan ajar SLTA memperlihatkan bahwa terdapat cukup banyak pemakaian kalimat dengan konjungsi subordinatif seperti kata jika, sebelum, walaupun, atau bahwa. Sebagai konjungsi subordinatif, kata-kata itu  selalu mengawali klausa yang berfungsi sebagai anak kalimat. Dari hal itu tampak distribusi konjungsi tersebut, yakni di awal dan di tengah kalimat. Adapun makna yang dimunculkan oleh konjungsi itu bervariasi, antara lain menyatakan waktu, tujuan, dan pengandaian.  
REPRESENTASI PEREMPUAN BERGELAR NYAI DALAM CERITA RAKYAT KALIMANTAN TENGAH Wijanarti, Titik
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.45 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.185.207-215

Abstract

Kalimantan Tengah memiliki kekayaan sastra lisan yang tidak terhitung jumlahnya.  Salah satu bentuk sastra lisan Kalimantan Tengah adalah cerita rakyat.  Penelitian ini menganalisis dua cerita rakyat Kalimantan Tengah yang bercerita tentang perempuan yang memiliki gelar nyai.  Bagaimanakah perempuan bergelar nyai digambarkan dalam kedua cerita rakyat tersebut dan bagaimanakah posisi nyai dalam konstruksi sosial budaya masyarakat dayak Kalimantan Tengah merupakan permasalahan dalam penelitian ini.  Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perempuan yang bergelar nyai dalam cerita rakyat Kalimantan Tengah adalah perempuan yang cantik secara fisik dan cerdas secara intelektual. Gelar nyai dapat diperoleh bukan karena keturunan melainkan karena kemampuan dan kecerdasan seorang perempuan.  

Page 1 of 1 | Total Record : 9