cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014" : 9 Documents clear
MITOS UKULLEK ORANG HUBULA DI LEMBAH BALIEM, PAPUA: SEBUAH TELAAH TEORI STRUKTUR A.J GREIMAS Lestari, Ummu Fatimah Ria
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1598.73 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.147.87-98

Abstract

Penelitian ini mengkaji struktur mitos Ukullek masyarakat Hubula di Lembah Baliem, Papua dalam teori Struktur Aktan dan Fungsional Greimas. Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana struktur mitos Ukullek masyarakat Hubula di Lembah Baliem, Papua dalam teori Struktur Aktan dan Fungsional Greimas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode deskriptif-analitik. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi. Selanjutnya fakta/data yang ditemukan dianalisis berdasarkan metode analitik. Penelitian ini menganalisis struktur aktan dan fungsional berdasarkan teori Struktur A.J. Greimas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur aktan terdiri atas (1) pengirim, (2) objek, (3) penerima, (4) subjek, dan (5) pembantu dalam mitos tersebut. Struktur fungsional dibedakan menjadi (1) situasi awal; (2) transformasi, yakni (a) tahap uji kecakapan, (b) tahap utama, (c) tahap kegemilangan; dan (3) situasi akhir terdapat di dalamnya. Selain itu, ditemukan adanya relevansiantara mitos dan masyarakat Hubula di Lembah Baliem, Papua.
PENERJEMAHAN KONJUNGTOR TOKORO SEBAGAI PENANDA KLAUSA KONSESIF DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Astuti, Windi
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2198.269 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.145.67-74

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan makna kalimat yangberkonjungtor tokoro sebagai penanda klausa konsesif dalam kalimat bahasa Jepang dan penerjemahannya dalam bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan metode simak dan catat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konjungtor tokoro sebagai penanda klausa konsesif memiliki hubungan konsesif yang terdapat dalam sebuah kalimat yang klausa subordinatnya memuat pernyataan yang tidak akan mengubah apa yang dinyatakan dalam klausa induk, subordinator yang digunakan antara lain walaupun, meski(pun), kalaupun, andaipun, dan lain-lain.
MODALITAS EPISTEMIK PENGUNGKAP PERKIRAAN (SHI) SOUDA DAN PADANANNYA DALAM BAHASA INDONESIA: KAJIAN SINTAKSIS DAN SEMANTIK Nurfitri, Nurfitri; Risagarniwa, Yuyu Yohana; Kadir, Puspa Mirani
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2420.232 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.144.57-66

Abstract

Konstruksi kalimat bahasa Jepang terdiri atas proposisi medai) dan modalitas( modariti). Modalitas epistemik adalah semua yang menunjukkan sikapepistemik pembicara terhadap informasi atau peristiwa (proposisi). Verba bantu (shi) souda adalah bentuk yang termasuk ke dalam modalitas epistemik dan melekat pada kata dasar (/goki) verba dan ajektiva sehingga bekerja dalam kalimat predikatif ( /jutsugo bun). Secara semantis, verba bantu (shi) souda digunakan untuk mengungkapkan perkiraan pembicara berdasarkan tanda. Verba bantu ini dipadankan dengan adverbia kelihatannya, tampaknya, dan sepertinya dalam bahasa Indonesia. Padanan verba bantu (shi) souda dalam bahasa Indonesia mengalami transposisi karena perbedaan tipologi bahasa. Secara sintaksis, verba bantu (shi) souda berada di belakang proposisi, sedangkan adverbia kelihatannya, tampaknya dan sepertinya dapat berpindah posisi dalam bahasa Indonesia. Secara semantis, verba bantu (shi)souda dengan adverbia kelihatannya, tampaknya, dan sepertinya memiliki kesamaan makna semantis. Verba bantu (shi) souda menunjukkan perkiraan berdasarkan tanda, sedangkan adverbia kelihatannya, tampaknya, dan sepertinya menunjukkan keteramalan inferensial. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari novel Norwegian Wood, Botchan, Shin Suikoden, dan novel karya Kicchin.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMOTIVASI MASYARAKAT DI KOTA TABANAN, BALI UNTUK MENGGUNAKAN ALIH KODE Sukayana, I Nengah
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1532.881 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.140.15-23

Abstract

Masyarakat di kota Tabanan mayoritas tergolong dwibahasawan karena setidak-tidaknya mereka menguasai bahasa Bali (sebagai bahasa ibu) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua yang didapatkan melalui pendidikan formal di sekolah. Sebagai dwibahasawan, dalam berkomunikasi mereka akan menyesuaikan diri dengan topik, situasi, serta lawan bicaranya untuk memilih bahasa yang cocok atau pantas digunakan. Tentunya sebagai dwibahasawan, mereka akan lebih leluasa untuk memilih bahasa yang lebih sesuai bila dibandingkan dengan seorang yang ekabahasawan. Dari kajian yang dilakukan, ternyata masyarakat di kota Tabanan telah melakukan alih kode dalam berkomunikasi, baik antarwarga Tabanan maupun dengan warga di luar Tabanan. Adapun faktor-faktor yang memotivasi mereka untuk beralih kode sebagai berikut. (a) Kehadiran orang ketiga yang tidak mengenal atautidak mengerti bahasa Bali. (b) Adanya pergantian topik untuk menonjolkan suasana kebalian. (c) Adanya peralihan suasana dari suasana santai ke suasana formal. (d) Adanya pengutipan kode yang digunakan dalam teks.
MAKNA VERBA MAJEMUK ~KIRU DALAM BAHASA JEPANG: KAJIAN STRUKTUR DAN SEMANTIS Taqdir, Taqdir; Sunarni, Nani; Suryadimulya, Agus
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1790.253 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.143.47-56

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur verba majemuk (V + V) dalam bahasa Jepang. Struktur tersebut meliputi pembentukan zenkoudoushi (verba awal) dengan koukoudoushi (verba akhir). Verba akhir (koukoudoushi) yang menjadi objek dalam makalah ini adalah verba ~kiru. Sementara itu, zenkoudoushi (verba awal) dalam pembahasan ini meliputi joutai doushi ‘verba statis’, keizoku doushi ‘verba kontuinitas’, shunkan doushi ‘verba fungtual’ dan daiyonshu doushi ‘verba bagian ke empat’. Pengklasifikasi ini mengacu pada pengklasifikasian verba Kindaichi. Kiru sebagai verba tunggal bermakna memotong, mengirisi, memutuskan, dan mematikan. Kiru pada saat digabungkan dengan verba lain akan membentuk sebuah verba majemuk yang mempunyai beberapa arti. Secara garis besar verba gabung kiru memiliki dua makna, yakni makna dari segi leksikal dan makna dari segi sintaksis.Secara leksikal verba gabung ~kiru bermakna setsudan ‘pemotongan’ dan shuketsu ‘selesai/berkahir’, sedangkan dari segi sintaksis memiliki makna kyokudo ‘luar biasa / tak terhingga’ dan makna kansui ‘perfektif’. Verba gabung ~kiru yang melekat pada verba kontuinitas (keizokudoushi) akan bermakna setsudan setsudan ‘pemotongan’, shuketsu ‘selesai/berkahir’, dan kansui ‘perfektif’, sedangkan apabila melekat pada verba fungtual (shunkandoushi) akan bermakna kyokudo ‘luar biasa/tak terhingga’. 
PEMBELAJARAN MENULIS KREATIF BERBASIS METODE QUANTUM WRITING PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI D-4 (S-1 TERAPAN) MANAJEMEN BISNIS PARIWISATA, JURUSAN PARIWISATA, POLITEKNIK NEGERI BALI Sutarma, I Gusti Putu; Adnyana, Ida Bagus Artha
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1531.984 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.146.75-85

Abstract

Penelitian ini didasari oleh masalah kurangnya kemampuan mahasiswa dalammenulis. Hal itu disebabkan oleh materi pembelajaran menulis kreatif belum adapada materi pembelajaran bahasa Indonesia. Di samping itu, rendahnya minatbaca mahasiswa juga menjadi pemicunya. Sehubungan dengan kondisi itu, dalam penelitian ini dibahas masalah pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing terhadap kemampuan menulis mahasiswa. Untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan tiga kegiatan. Kegiatan tersebut meliputi prates, pemberian materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing, dan postes. Prates dilakukan untuk mengetahui kemampuan menulis mahasiswa sebelum diberikan materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing, sedangkan postes diberikan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa setelah diberikan materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing. Hasil prates dan postes menunjukkan bahwa pemberian materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing dapat meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa. Oleh karena itu, materi pembelajaran menulis kreatif berbasis metode quantum writing akan ditambahkan pada buku ajar Bahasa Indonesia pada Program Studi D-4 (S-1 Terapan) Manajemen Bisnis Pariwisata.
ANEKA PERPADUAN LEKSIKAL SEBAGAI PENANDA KOHESI ANTARKALIMAT DALAM WACANA BAHASA BALI Candrawati, Ni Luh Komang
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1494.062 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.139.1-14

Abstract

Secara umum, penelitian ini bertujuan mengungkap aneka perpaduan leksikal sebagai penanda kohesi antarkalimat dalam wacana bahasa Bali. Secara khusus, penelitian ini bertujuan memecahkan masalah aneka perpaduan leksikal apa saja sebagai penanda kohesi antarkalimat dalam wacana bahasa Bali. Teori yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini adalah teori kohesi yang dikembangkan oleh M.A.K. Halliday dan R. Hasan. Buah pikiran mereka tertuang dalam sebuah buku berjudul Cohesion in English (1976). Beberapa konsep dasar yang dapat dipetik dari teori tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut. Disebutkan kohesi adalah alat bahasa untuk menyatakan adanya kepaduan di dalam sebuah wacana, dan wacana merupakan tataran di atas kalimat. Halliday dan Hasan (1976:1) mengemukakan bahwa teks adalah pemakaian bahasa baik lisan maupun tulisan, dalam bentuk prosa maupun puisi, dalam bentuk dialog maupun monolog, yang membentuk satu kesatuan gagasan. Teks inilah yang sering disebut dengan wacana. Kohesi muncul jika penafsiran unsur tertentu di dalam sebuah teks tergantung pada penafsiran unsur yang lain di dalam teks yang sama. Penelitian ini bermaksud membahas penanda hubungan leksikal. Dalam penelitian ini, dipaparkan sekadar pengertian dari aneka perpaduan leksikal disertai dengan beberapa contohnya. Pembicaraan aneka perpaduan leksikal itu meliputi: (1) repetisi, (2) sinonim, (3) kata generik, (4) kolokasi, dan (5) superordinat.
PEMILIHAN BAHASA WALSA-BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR ASLI BAHASA WALSA: STUDI KASUS PADA MASYARAKAT PUND Suharyanto, Suharyanto
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1510.247 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.142.35-45

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemilihan bahasa Walsa-bahasaIndonesia pada ranah keluarga oleh penutur asli bahasa Walsa pada masyarakatPund, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Secara lebih khusus,penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel umur berpengaruh secara signifikan terhadap pilihan bahasa mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan metode kuantitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa pada ranah keluarga semakin muda usia responden maka semakin besar pemakaian bahasa Indonesia mereka. Fenomena ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pergeseran pemakaian bahasa antargenerasi dalam masyarakat Pund. Adanya pengaruh variabel umur responden terhadap pilihan bahasa ini ditunjukkan oleh hasil anova pada setiap situasi pemakaian bahasa yang memperlihatkan bahwa nilai F selalu berada jauh di atas nilai F tabel. Hasil anova ini semakin diperkuat oleh hasil pengelompokan Duncan yang memperlihatkan adanya perbedaan kelompok pemilih bahasa yangditandai oleh perbedaan besarnya nilai rata-rata (mean) pilihan bahasa setiapkelompok tersebut. Hasil pengelompokan Duncan ini secara tegas memperlihatkan perbedaan kelompok pemilih bahasa sebagai akibat perbedaan variabel umur tersebut.
VERBA PENGALAM BAHASA BALI Indrawati, Ni Luh Ketut Mas
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1524.875 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.141.25-33

Abstract

Verba pengalam adalah verba yang mengungkapkan gejala psikologis yang berkaitan dengan kognisi, emosi, sensasi, atau komunikasi. Verba ini mengikat dua atau tiga kasus: agen (A), objek (O), dan pengalam (P). Karya tulis ini bertujuan untuk menganalisis verba pengalam bahasa Bali (yang selanjutnya disingkat BB). Teori yang diterapkan untuk membahas verba pengalam BB adalah teori kasus yang digagas oleh Fillmore (1968), dimodifikasi dan dikembangkan oleh Chafe (1970) dan Cook (1979). Hasil analisis menunjukkan bahwa verba pengalam BB secara semantis dibedakan menjadi Verba pengalam keadaan, verba pengalam proses, dan verba pengalam aksi. Verba pengalam BB memiliki kasus inti dan kasus non-inti. Kasus inti yang diikat oleh verba ini berupa kasus proporsional yang meliputi kasus A, P, Ok (objek keadaan), dan O. Kasus inti dalam struktur lahir bisa berupa kasus teraga dan kasus tidak teraga. Kasus non-inti dalam verba pengalam BB berupa; kasus lokasi, kasus tujuan, dan kasus waktu dan kasus ini tidak diikutkan pada kerangka kasus. Pada verba pengalam BB juga ditemukan: kasus terkandung, yaitu kasus inti yang tidak teraga dalam struktur lahir tetapi terkandung dalam verbanya, kasus dileksikalisasi yaitu kasus inti yang pada struktur lahir terleksikalisasi pada verba, dan kasus koreferensial yaitu kasus yang mengacu pada kasus yang sama.

Page 1 of 1 | Total Record : 9