cover
Filter by Year

Analysis
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Articles
120
Articles
APPENDIX

wa, wa

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.494 KB)

Abstract

PRESERVASI DAN REVITALISASI BAHASA DAN SASTRA NAFRI, PAPUA: SEBUAH BAHASA HAMPIR PUNAH

Mujizah, Mujizah

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.673 KB)

Abstract

Indonesia adalah bangsa yang beragam. Keberagaman  itu terlihat dari kekayaan bahasa dan sastra. Kekayaan bahasa mencapai 700-an bahasa dan satu di antara bahasa dan sastra suku Nafri, di Papua. Bahasa Nafri diklasifikasi sebagai bahasa hampir punah. Bahasa ini hanya dikuasai beberapa penduduk di atas 50 tahun. Tahun 2015 bahasa ini belum diajarkan kepada generasi muda. Padahal dalam bahasa itu terdapat beragam pengetahuan yang menjadi identitas lokal. Kekayaan suku Nafri ini jika tidak dipreservasi daya hidupnya akan menurun. Masalah yang dibahas dalam tulisan ini bagaimana cara meningkatkan daya hidup bahasa Nafri. Tujuannya menemukan cara dalam meningkatkan daya hidup bahasa dan sastra Nafri. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dan studi lapangan melalui survei, observasi, wawancara, dokumentasi, dan pembelajaran. Hasilnya untuk meningkatkan daya hidup bahasa dan sastra Nafr, bahasa dan sastra itu harus diteliti, didokumentasi,  dan direvitalisasi. Penelitian sistem bahasa Nafri sudah dilakukan oleh pakar bahasa. Perekaman dalam berbagai ranah kehidupan perlu didokumentasi. Pembelajaran bahasa dan sastra dirancang dalam bentuk revitalisasi yang berbasis komunitas atau keluarga. Ketiga kegiatan itu mendapat dukungan dari masyarakat suku Nafri dan para pemangku kepentingan. Dengan dukungan itu bahasa dan sastra Nafri dapat meningkat daya hidupnya, apalagi masyarakat menggunakannya dalam ranah kehidupan. Kesimpulannya preservasi dalam bentuk penelitian, dokumentasi dan revitalisasi bahasa dan sastra Nafri dapat meningkatan daya hidup bahasa dan sastra.Program itu dapat menjadi salah satu model dalam penyelamatan bahasa dari kepunahan.

VERBA "MEMASAK" DALAM BAHASA BALI: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI (MSA)

Parwati, Sang Ayu Putu Eny

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.559 KB)

Abstract

AbstrakBahasa merupakan sumber daya yang mampu mengungkap sebuah misteri budaya dan budaya hanya dapat diungkapan dengan bahasa. Bahasa dan budaya Bali adalah sebuah cermin jatidiri penuturnya. Bahasa dan budaya ‘memasak’ dalam masyarakat Bali memiliki makna tersendiri yang dapat diungkapkan melalui kajian Metabahasa Semantik Alami (MSA), seperti pada verba ngengseb, ngnyatnyat, dan nambus.  Teori MSA ini dirancang untuk mengeksplikasi semua makna, baik makna leksikal, makna ilokusi, maupun makna gramatikal. Verba ‘memasak’ dalam bahasa Bali termasuk dalam kategori verba tindakan (perbuatan) dan verba proses. Dalam verba tersebut terjadi polisemi takkomposisi antara MELAKUKAN dan TERJADI sehingga pengalam memiliki eksponen: “X melakukan sesuatu pada Y, dan karena itu sesuatu terjadi pada Y”. Dengan metode simak libat cakap dan teknik catat, diperoleh sebanyak 12 leksikon data yang terkumpul, selanjutnya dieksplikasikan untuk merepresentasikan makna aslinya. Berdasarkan metode, sarana, dan entitas yang digunakan dalam ‘memasak’, lesksikon verba ini terbagi dalam tiga kelompok, yaitu (1) ‘memasak’ dengan sarana air: nyakan, nepeng, ngukus, ngengseb, nglablab, ngnyatnyat (2) ‘memasak’ dengan sarana api: nunu, manggang, nambus, dan nguling, (3) ‘memasak’ dengan sarana minyak dan tanpa minyak: ngoreng dan ngenyahnyah. Semua leksikon yang memiliki makna memasak di atas berpola sintaksis MSA: X melakukan sesuatu pada Y dan Y masak/matang (termasak). 

OTORITAS TUBUH ANTARA SAKRAL DAN PROFAN DALAM PUISI KARYA PENYAIR BALI TAHUN 1970—2016

Hardiningtyas, Puji Retno, Putra, I Nyoman Darma, Kusuma, I Nyoman Weda, Triadnyani, I Gusti Ayu Agung Mas

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.389 KB)

Abstract

Persoalan tubuh dan jiwa perempuan dijadikan subjek inferior dan eksploitasi atas tubuhnya sendiri menjadi ruang yang paradoksal muncul dalam karya-karya puisi Indonesia sejak tahun 1960--2016. Rumusan masalah penelitian ini adalah wacana otoritas tubuh, baik sakral maupun profan sebagai representasi citra ruang manusia; konsep ruang dan konstruksi tubuh dalam pertarungan kehidupan dalam puisi-puisi penyair di Bali. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca catat. Analisis data menggunakan metode analitik deskriptif dengan teknik hermeneutika dan interpretatif. Teori penelitian ini adalah poskolonial Sara Upstone dengan mempraktikkan ruang tubuh dan konstruksi keberadaan eksistensi manusia itu sendiri. Hasil dan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa otoritas tubuh mengalami ironi dengan peristiwa yang dialami manusia, yaitu tubuh sebagai jasmaniah, tubuh sebagai simbol agama, dan tubuh sebagai kekuatan perempuan dalam menghadapi pertarungan kehidupan. Konstruksi yang terjadi dalam tubuh pada akhirnya menjadi diri yang dibongkar/dibalikkan oleh penyair yang secara ontologis dikuliti sendiri. Tubuh dihancurkan dalam kebudayaan, kefaanaan, sedangkan jiwa sebagai Tuhan yang diidealkan dalam keutuhan. Dengan demikian, konstruksi dan ruang tubuh antara profan dan sakral adalah ruang paradoksal antara jasmani dan rohani yang didekonstruksi oleh penyairnya menjadi sebuah ironi semata.

PEMBELAJARAN AKSARA JAWA UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BOARD GAME

Avianto, Yovita Febriana, Prasida, T. Arie Setiawan

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.415 KB)

Abstract

Bahasa Jawa merupakan salah satu dari sekian banyak bahasa daerah di Indonesia yang memiliki sistem keaksaraan khusus, yaitu aksara Jawa. Meski aksara Jawa tersebar di seluruh provinsi di Pulau Jawa, namun belum banyak kalangan masyarakat di Pulau Jawa yang paham dengan aksara Jawa, termasuk para siswa yang mendapatkan mata pelajaran aksara Jawa sekalipun. Aksara Jawa dinilai sebagai pelajaran yang sulit bagi siswa. Penelitian ini membahas tentang pembelajaran aksara Jawa untuk siswa Sekolah Dasar menggunakan media board game. Tujuan penelitian ini adalah merancang board game “Tepok Aksara” sebagai media belajar dan penumbuhan minat terhadap aksara Jawa. Metode deskriptif, pendekatan kombinasi, dan strategi linear digunakan dalam penelitian ini. Didapatkan hasil bahwa siswa menjadi lebih menguasai dan berminat terhadap aksara Jawa setelah memainkan board game “Tepok Aksara”.  

FRONT COVER

wa, wa wa

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.291 KB)

Abstract

CERPEN "MATINYA SEORANG PENARI TELANJANG" KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA DALAM PERSPEKTIF SLAVOJ ŽIŽEK

Zamzuri, Ahmad

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.583 KB)

Abstract

AbstrakMasalah penelitian ini berkaitan dengan subjek. Tujuan penelitian ini mengetahui pergerakan subjek dalam cerita pendek Matinya Seorang Penari Telanjang karya Seno Gumira Ajidarma. Penelitian ini menggunakan teori subjek Slavoj Žižek. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan, antar lain 1) penentuan objek material dan objek formal penelitian. Objek material penelitian ini adalah cerita pendek Matinya Seorang Penari Telanjang karya Seno Gumira Ajidarma. Sementara, objek formal penelitian berkaitan dengan subjek Žižekian; 2) melakukan pengumpulan data melalui tahapan membaca cerita pendek secara berulang-ulang untuk memahami cerita, mengumpulkan data dengan model simak terhadap kata, kalimat, dan paragraf, yang berkaitan dengan subjek Žižekian; Setelah tahap pengumpulan data, tahap berikutnya adalah analisis data. Pada tahap analisis, data akan dianalisis menggunakan metode analisis wacana kritis (critical discourse analysis), yakni analisis dengan menggunakan seluruh perangkat kebahasaan dan menghubungkan data temuan dengan kerangka teoritik Slavoj Žižek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek melakukan tindakan radikal berupa menjadi stripper (penari telanjang) yang secara common sense itu melawan dimensi simbolik atau sosial. Selanjutnya, subjek mengalami lack dan mengejar yang imajiner sehingga subjek mengalamai sinis, yaitu tahu begitu salah, tetapi pura-pura tidak tahu bahwa itu salah, dan kynicism, yaitu menolak simbolik kampungan melalui ironi dan sarkasme. Terakhir, subjek pada akhirnya tidak mampu melawan yang simbolik.

PENERJEMAHAN REPETISI LEKSIKAL DALAM THE OLD MAN AND THE SEA DAN DUA VERSI TERJEMAHANNYA

Prasetyo, Arif Bagus, Yadnya, Ida Bagus Putra, Malini, Ni Luh Nyoman Seri

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.243 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas penerjemahan repetisi leksikal dengan mengacu pada novel The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway dan dua versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Pengkajian dilakukan terhadap cara yang digunakan oleh masing-masing penerjemah novel tersebut, Sapardi Djoko Damono dan Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat, untuk menangani repetisi leksikal dalam teks sumber, serta pergeseran terjemahan yang ditimbulkannya. Dalam kajian ini terungkap bahwa kedua penerjemah telah mereduksi gaya bahasa repetisi Hemingway. Reduksi menyebabkan kedua teks terjemahan mengalami pergeseran yang substansial dari teks orisinal, baik secara sintaktis maupun semantis.  

BACK COVER

wa, wa

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.377 KB)

Abstract

ARUS KESADARAN DALAM AGAMA KETUJUH

Wahyuni, Dessy

Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.316 KB)

Abstract

Agama Ketujuh: Sebuah Prosa merupakan sebuah prosa pendek karangan Romi Zarman. Dalam prosa pendek ini, pengarang ingin mengungkap budaya matrilineal yang terdapat dalam masyarakat Minangkabau. Dalam menyajikan cerita, pengarang tidak menyampaikan informasi secara lugas, tetapi ia melakukannya dengan menghidupkan kembali para tokoh dalam roman legendaris, seperti Midun, Kacak, dan Tuanku Laras dalam Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati); Ramah, Musa, dan Mamak dalam Dijemput Mamaknya (Hamka); Samsul Bahri, Siti Nurbaya, dan ayahnya dalam Sitti Nurbaya (Marah Rusli); Poniem, Leman, serta keluarga matrilinealnya dalam Merantau ke Deli (Hamka); dan Hanafi dalam Salah Asuhan (Abdul Muis). Agama Ketujuh ini memperlihatkan kegelisahan Romi Zarman terhadap budaya matrilineal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Melalui kajian dengan teknik arus kesadaran, terlihat tokoh dan karakterisasinya yang disajikan pengarang. Dengan penelusuran karakterisasi tokoh yang menggunakan teknik kolase melalui pendekatan psikologi sastra, peran mamak dalam budaya matrilineal dapat terkuak. Kajian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi pustaka ini memperlihatkan bahwa pengarang menggunakan dua cara atau metode untuk menyajikan karakter (watak) para tokoh dalam karyanya. Metode pertama adalah metode langsung (telling) dan metode kedua adalah metode tidak langsung (showing). Simpulan dari kajian ini menunjukkan bahwa kedudukan adat dan budaya dalam masyarakat Minangkabau sangat kuat dan tidak bisa ditentang.