cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
ARISTO
ISSN : 23385162     EISSN : 25278444     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Journal of ARISTO (Social, Politics, Humanities) Is one Open Journal System (OJS) managed by Social and Political Department, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, starting from 2013. from start migrate to Jornal Online In 2015. ARISTO Journal published 2 (Two) Times in 1 (One) year, January and July.
Arjuna Subject : -
Articles 122 Documents
Model Penguatan Kapasitas Pemerintah Desa dalam Menjalankan Fungsi Pemerintahan Berbasis Electronic Government (E-Government) menuju Pembangunan Desa Berdaya Saing Sulismadi, Sulismadi; Wahyudi, Wahyudi; Muslimin, Muslimin
ARISTO Vol 5, No 2 (2017): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.03 KB) | DOI: 10.24269/aristo.v/2.2016.2

Abstract

One aspect that needs to be studied more deeply about the village administration in the era of village autonomy is the ability of the human resources in the management of village government in accordance village governance objectives and the demands of, “Undang – undang no 06 Tahun 2014 about the village. The capacity of the village government deemed not qualified to run the authority possessed by law the village. Weak capacity of rural government impact on law implementation failure that led to the poor rural village development. This study examines these issues. This study used qualitative research methods. The unit of analysis of this research that the village government Landungsari Dau District of Malang, East Java. This study was conducted over three years (2016, 2017, 2018). The findings of the research during the last four months in the first year of the study is Landungsari village administration showed a good performance in governance at the village of village autonomy era (the era of the Village Law. The village government is able to carry out rural development planning, village administrative governance, and the financial management of the village properly. Nevertheless, the village government also faces serious problems is the lack of human resource capacity of the village administration, village very less quantity, and village officials do not understand the duties of each. To address these issues, the village government seeks to organize village governance based on information technology (e-government), but the effort has not worked well because the village government does not have a human resources professional in the field of information technology and the village government does not have enough budget to develop the e-government program. Therefore, the research team conducting FGD on the development of e-government program. FGD village government resulted in an agreement in cooperation with governmental science labs and e-government program APBDes budgeted in fiscal year 2017. Step next phase is the research team conducting FGD Phase II to design e-government as a means of governance villages effective and efficient, to disseminate the e-government, and publishes scientific articles on the model of governance based rural e-government in the Journal of Politics and Government Muhammadiyah University of Yogyakarta. Our advice as a researcher is a village government should make regulations governing Internet-based mechanism of public services (e-government). The regulation is to encourage villagers Landungsari to get used to using services based on the Internet, the district government of Malang should provide support to the village government to make innovations in governance, and the central government should support the village government to strengthen rural government institutions such as the addition of the village
IMPLEMENTASI AKTIFITAS SOSIAL HUMANIORA DAN KEAGAMAAN DALAM MASYARAKAT Saputro, Anip Dwi; Rois, Adib Khusnul
ARISTO Vol 4, No 1 (2016): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v4i1.176

Abstract

AbstrakDalam kehidupan didunia ini kita harus mengakui bahwa manusia merupakan mahluk sosial, karena manusia tidak bisa hidup tanpa berhubungan dengan manusia yang lain bahkan untuk urusan sekecil apapun kita tetap membutuhkan orang lain  untuk membantu kita. Ilmu sosial humaniora merupakan ilmu yang mempelajari manusia dalam hubungannya dengan manusialainnya. Cara kerja ilmu – ilmu sosial humaniora bisa dirangkum dalam prinsip - prinsip, antara lain, gejala sosial – humaniora bersifat non - fisik, hidup dan dinamis, Obyek penelitian tak bisa diulang, Pengamatan relative lebih sulit dan kompleks, Subyek pengamat juga sebagai bagian integral dari obyek yang diamati. Memiliki daya prediktif yang relative lebih sulit dan tak terkontrol. Ilmu agama secara umum adalah ilmu yang mempelajari segala tentang yang berhubungan dengan cara – cara penghambaan kepada Tuhan. Sedangkan cara kerja dari ilmu agama adalah memadukan antara ilmu dengan agama, sehingga dalam memahami agama tetaplah menggunakan ilmu yang dapat dijadikan landasan rasional. Dalam ilmu agama tidak dikenal dikotomi ilmu, karena semua ilmu memiliki keterkaitan untuk saling menunjang ilmu yang lainnya. Implementasi sosial humaniora dan keagamaan dalam bermasyarakat, Pada intinya manusia tidak bisa lepas dari aspek sosial Humaniora dan keagamaan keduanya saling bersinergi, sebagaimana perilaku sosial humaniora untuk berhubungan dengan sesama manusia untuk menjalan fitrah sebagai mahluk sosial dan agama menjadi kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan menjalankan perintah sebagai hamba Tuhan. Sejatinya manusia tidak bisa melepaskan agama, karena agama juga memiliki nilai-nilai untuk bersosial humaniora.Kata kunci: Sosial Humaniora, Keagamaan dan Masyarakat.
POLA KAMPANYE PILKADA 2015 (Analisis isi media Kedaulatan Rakyat tentang kampanye pemilihan kepala daerah di DIY, tahun 2015) HH, Setio Budi; Rismayanti, Rebekka
ARISTO Vol 4, No 2 (2016): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.989 KB) | DOI: 10.24269/ars.v4i2.192

Abstract

AbstraksiPILKADA serentak tahun 2015 merupakan bagian proses demokrasi di Indonesia, untuk memilih kepala daerah tingkat propinsi (gubenur) dan kepala daerah tingkat II (bupati walikota). Penggunaan istilah serentak merupakan gagasan untuk menyederhanakan, sekaligus efisiensi anggaran, setelah pada waktu sebelumnya jadwal pilkada tersebut sangat bervariasi (waktu). Sebagaimana pada umumnya sebuah pesta demokrasi yang biasa dilakukan di Indonesia, baik ditingkat kabupaten/kota atau propinsi, partai dan para kandidat berkompetisi ketat untuk memenangkan jabatan gubenur dan bupati/walikota tersebut. Para kandidat berlomba untuk menggunakan segala sumber daya dan sumber dana untuk mempengaruhi pemilih. Kegiatan kampanye merupakan bentuk standar yang dilakukan, baik dalam konteks program yang secara langsung menyentuh konstituen dan atau calon pemilih, maupun lewat berbagai media. Variasi kegiatan kampanye baik yang bersifat langsung – tatap muka sampai yang menggunakan media menjadi bagian dari pertarungan mesin-mesin politik tim pemenangan masing-masing pasangan calon bupati di Bantul, Sleman dan Gunung Kidul, DIY. Sebagaimana yang biasa muncul, sebagai suatu pola, di setiap kegiatan kampanye pemilu, pilpres ataupun pilkada sebelumnya. Pertanyaanya adalah variasi pola pola kampanye peserta apakah efektif dalam pencapaian target kemenangan pada pilkada.Kata Kunci: Pilkada, Kampanye, Pemasaran Politik.
OPINI PUBLIK TERHADAP PERAN MEDIA DALAM MELESTARIKAN BUDAYA (Studi pada Program Acara Budaya di Radio Gema Surya Dan Radio Duta Nusantara Ponorogo) Purwati, Eli
ARISTO Vol 3, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.899 KB) | DOI: 10.24269/ars.v3i1.10

Abstract

Radio siaran diberi julukanThe Fifth Estate disebabkan daya kekuatan nya dalam mempengaruhi masa khalayak. Ini disebabkan beberapa factor, yakni: Daya langsung adalahuntuk mencapai sasarannya pendengar, isi program yang akan disampaikan tidaklahmengalami proses yang komplek. Daya tembus factor lain yang menyebabkan radio dianggapmemiliki kekuatan kelima ialah daya tembus radio siaran, dalam arti kata tidak mengenaljarak dan rintangan.Radio Gema Surya dan Radio Duta Nusantara merupakan radio yangsudah terdaftar di PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesai) memilikitanggung jawab yang besar terhadap masyarakat dengan program yang disajikan. Opinipendengar merupakan kekuatan pada diri pendengar untuk memberikan perhatian pada suatuobjek dan suatu aktifitas yang di munculkan dalam siaran (Dan Nimmo, 1998: 12). Dan yangmenjadi pengaruh cukup besar terhadap opini pendengar pada siaran radio adalah kesukaanpendengar.Dari pemaparan diatas maka peneliti mengambil judul OPINI PUBLIKTERHADAP PERAN MEDIA DALAM MELESTARIKAN BUDAYA (Studi Pada ProgramAcara Budaya di Radio Gema Surya Dan Radio Duta Nusantara Ponorogo) denganmenggunakan metode Deskriptif Kualitatif. Menggunakan rumus nya Yamane dalammenggali Data. Opini pendengar merupakan kekuatan pada diri pendengar untuk memberikan perhatian pada suatu objek dan suatu aktifitas yang di munculkan dalam siaran (Dan Nimmo, 1998: 12). Dan yang menjadi pengaruh cukup besar terhadap opini pendengar pada siaran radio adalah kesukaan pendengar. Kesukaan dapat berupa dari kepercayaan, perasaan maupun tindakan terhadap program acara Budaya.
Kepemimpinan perempuan dan pilkada serentak Saputra, Inggar; Asih, Nisa Wening
ARISTO Vol 5, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.232 KB) | DOI: 10.24269/ars.v5i1.424

Abstract

Women who run in local elections (constituencies) are still considered minimal. This condition is very apprehensive because the constitution has mandated the quota of 30 percent of women who must be filled political parties. But the quota has not been met due to the lack of political participation of women in the struggle for power in politics. Participation is low due to gender discrimination that shaped the social and psychological environment of women itself, thus narrowing womens political opportunities. Therefore, political parties are expected to seriously encourage the participation and political education of women.
Membangun Sistem Rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil Pada Era Otonomi Daerah Iqbal, Mahathir Muhammad
ARISTO Vol 5, No 2 (2017): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.81 KB) | DOI: 10.24269/aristo.v/2.2016.7

Abstract

The concept of decentralization which manifests the concept of local autonomy has implications for efforts to strengthen regional governance based on local potential, including strengthening resource management apparatus is characterized by the process and implementation of personnel management started from procurement personnel consisting of; planning, formation, recruitment and selection, development, promotion, remuneration, discipline, and dismissal or retirement. Procedures and implementation of recruitment candidates for Civil Servants (CPNS) from internal sources (Workers Honorary) and from external sources (the general public) or a common path, and potentially very susceptible to spoil the practice of system and Nepo system. One of the efforts that must be made to minimize all forms of deviation in the framework of the process of recruitment and implementation is to implement a merit system, as the antithesis of giving jobs on the basis of race, ethnicity, religion, political award, gender discrimination, personal favoritism, or the selection of equipment valid.
IMPLEMENTASI QANUN MAISIR (JUDI) TERHADAP MASYARAKAT SUKU PAK—PAK DI KOTA SUBULUSSALAM – ACEH Berutu, Ali Geno
ARISTO Vol 4, No 2 (2016): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.854 KB) | DOI: 10.24269/ars.v4i2.187

Abstract

AbstrakQanun No. 13 Tahun 2003 Tentang Maisir disahkan pada awal penerapan syariat Islam di Aceh sebagai qanun dalam bidang jinayat. Pemilihan qanun ini sekurang-kurangnya memiliki dua alasan, alasan yang pertama, jenis perbuatan tersebut merupakan bentuk maksiat (haram) dalam syariat Islam dan sangat meresakan masyarakat namun belum tertangani dengan baik. Kedua, adanya euforia di dalam lapisan masyarakat dalam bentuk “peradilan rakyat” terhadap jenis yang diatur dalam qanun No. 13 ini, guna untuk menghindari main hakim sendiri ditengah-tengah masyarakat, maka disahkan Qanun Maisir sebagai bentuk antisipasi terhadap berbagai kekacauan ditengah-tengah lapisan masyarakat Aceh. Dalam perjalanannya, penerapan qanun yang berbasis jinayatdi Aceh tidak semua daerah berjalan dengan baik, banyak masalah dan kendala yang dihadapi dilapangan, baik dari pelaksananya (pemerintah) maupun masyarakat sebagai objek hukum penerapan syariat Islam itu sendiri. Kata Kunci: Aceh, Syariat Islam, Jinayat,  Qanun, Maisir
HEGEMONI PEMERINTAH DAERAH DALAM PENYELENGGARAAN GREBEG SURO MASYARAKAT PONOROGO Wahjuni, Ekapti
ARISTO Vol 3, No 2 (2015): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.53 KB) | DOI: 10.24269/ars.v3i2.5

Abstract

Perayaan Grebeg Suro merupakan sebuah agenda rutin tahunan yangdiselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo dan mendapatkan perhatianserta dinantikan oleh masyarakat Ponorogo yang berdomisili di kota Ponorogo maupun dikota lain, termasuk para turis dari manca negara. Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogomerespon dengan baik dengan menyusun berbagai agenda kegiatan untuk mewarnaikemeriahan Perayaan Grebeg Suro. Berbagai acara yang digelar dalam Perayaan GrebegSuro, mulai acara Malam Pembukaan Grebeg Suro, Festival Reyog Nasional, Kirab Pusaka,Malam Penutupan Grebeg Suro, Larung Risallah Doa, dan berbagai acara lainnya yangmampu menarik penonton atau pengunjung yang sangat besar. Pusat Keramaian berada diAloon-Aloon Ponorogo, mulai dari sebelum pembukaan sampai dengan penutupan acaraPerayaaan Grebeg Suro, bahkan sampai beberapa hari setelah acara penutupan, tidakpernah sepi dari pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan HegemoniPemerintah Daerah dalam Penyelenggaraan Grebeg Suro Masyarakat Ponorogo.Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatoris, dengan menggunakan metodepengamatan secara langsung serta melakukan wawancara. Metode analisis data penelitiandengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dan dilakukan analisis data secara naratif.Penyelenggaraan perayaan Grebek Suro telah terhegemoni oleh Pemerintah Daerah, karena semua kegiatan peringatan 1 Muharram yang biasanya dilakukan oleh masyarakat secara sporadis, telah dilembagakan dengan aturan Pemerintah Daerah. Hal ini tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat, karena masyarakat lebih bisa menerima agenda-agenda yang telah diprogramkan oleh pemerintah. Kegiatan Grebek Suro terbukti mampu memberikan dampak saling menguntungkan bagi pelaku bisnis besar (misalnya rumah makan dan hotel), pelaku bisnis menengah ke bawah, usaha ekonomi kecil yang berada di aloon-aloon Ponorogo dan sekitarnya. Disamping itu, pelaksanaan Perayaan Grebeg Suro dapat digunakan sebagai sarana mempromosikan produk dan hasil alam unggulan serta bidang pariwisata Kabupaten Ponorogo.
Pembingkaian Berita Pada Media Lokal (Analisis Framing Pemberitaan Calon Bupati Malang Pada Harian Radar Malang Tanggal 1-7 Oktober 2015) Rahadi, Rahadi
ARISTO Vol 5, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.214 KB) | DOI: 10.24269/ars.v5i1.401

Abstract

This research were focused on the news in the newspapers Radar Malang, about construction news regent and deputy regent candidate Malang October 1-7, 2015. There were three candidates for the election of the Regent and Vice Regent 2015-202 period, namely: the candidate regent Malang; (1) Nurcholis Muhammad Mufid of independent elements, (2) Renda Krishna and M Sanusi of coalition Madep Manteb Mantep (PKB, NasDem, Golkar, Gerindra, Democrat), (3) Dewanti Rumpoko and Masrifah Hadi from PDIP. Researchers used the theory of hierarchy levels to understand, how the framing of information on the three pairs of candidates. In this study, researchers used the analytical model and the framing of Zhongdang Pan Geraald Konsicki. The model uses four structural framing is Syntactically, Scripts, Thematic and Rhetoric.Based on study results, the news displayed by Radar Malang less balanced. This is evident from the Renda Krishna as the incumbent is given the space and the number of reports that more than any other potential mates. And their special news column titled Coming 5 Years Madep Manteb. Plus on the first page is kept up Radar Malang given space to direct the reader linked to column 5 Years Ahead Madep Manteb along with the headline raised. Associated with the theory of hierarchy levels, from internal factors, namely the level of the organizational level, and the level of media routines is clear that extremely pro Radar Malang Renda Krishna. This is evidenced by the news that tends to be positive.
REYOG PONOROGO DALAM PERSPEKTIF HIGH/LOW CONTEXT CULTURE: STUDI KASUS REYOG OBYOGAN DAN REYOG FESTIVAL Nugroho, Oki Cahyo
ARISTO Vol 1, No 2 (2013): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1510.877 KB) | DOI: 10.24269/ars.v1i2.25

Abstract

Perbedaan-perbedaan dalam format pertunjukkan, perangkat yang dipakai, motivasi dalam pertunjukkan, interkasi dengan penonton, interkasi dengan pemain lain dan improvisasi dalam pementasan secara tidak langsung menimbulkan sebuah gaya dan karakteristik dalam komunikasi yang pada akhirnya membentuk karakter masing-masing pertunjukkan.Kekuatan dalam memegang idelogi atau kepercayaan terhadap seni Reyog yang berbeda inilah yang selanjutnya menjadi sebuah karakteristik dalam proses komunikasi yang bisa kita jumpai dalam setiap pementasan baik dalam format Reyog obyog maupun Reyog dalam versi festival atau panggung. Hal inilah yang menyebabkan dalam setiap pertunjukan reyog baik dalam format obyog atau dalam versi festival selalu mempunyai ciri khas dan keunikan sendiri-sendiri dalam setiap pementasan. Dalam setiap pementasan yang berlangsung, secara langsung akan memproduksi simbol-simbol tertentu yang membuat atau mengajak penonton untuk saling berkomunikasi. Lebih detil dan terlihat perbedaan dapat dilihat dari perbandingan foto-foto pementasan Reyog obyogan dan Reyog dalam format festival. dalam menjelaskan fenomena ini, penelitian ini menggunakan perspektif dari Edward Hall yang mengkategorisasikan budaya berdasarkan high / low culture context.

Page 2 of 13 | Total Record : 122